Anda di halaman 1dari 23

FILSAFAT KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

DALAM DISIPLIN ILMU BIDANG REPRODUKSI

Oleh :
EVI EFRIANI
NPM : 17420018

PROGRAM MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2018
I. PENDAHULUAN
A. DUNIA KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Kedokteran (Inggris: medicine) adalah suatu ilmu dan seni yang
mempelajari tentang penyakit dan cara-cara penyembuhannya. Ilmu kedokteran
adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari tentang cara mempertahankan
kesehatan manusia dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan
memberikan pengobatan pada penyakit dan cedera. Ilmu ini meliputi pengetahuan
tentang sistem tubuh manusia dan penyakit serta pengobatannya, dan penerapan
dari pengetahuan tersebut.
Salah satu ciri khas manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu tentang
sesuatu hal. Rasa ingin tahu ini tidak hanya terbatas sekedar apa yang ada pada
dirinya, tpi menyangkut juga rasa ingin tahu tentang lingkungan sekitar, bahkan
sekarang ini rasa ingin tahu berkembang ke arah dunia luar.
Rasa ingin tahu ini tidak dibatasi oleh peradaban dan ilmu pengetahuan.
Semua umat manusia di dunia ini punya rasa ingin tahu walaupun variasinya
berbeda-beda. Orang yang tinggal di tempat peradaban yang masih terbelakang,
punya rasa ingin tahu yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tinggal di
tempat yang sudah maju.
Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitarnya
dapat bersifat sederhana dan juga dapat bersifat kompleks. Rasa ingin tahu yang
bersifat sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (ontologi),
sedangkan rasa ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi bagaimana peristiwa
tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (epistemologi), serta
untuk apa peristiwa tersebut dipelajari (aksiologi).
Sistem kedokteran dan praktek perawatan kesehatan telah berkembang
dalam berbagai masyarakat manusia, sedikitnya sejak awal sejarah tercatatnya
manusia. Sistem-sistem ini telah berkembang dalam berbagai cara dan berbagai
budaya serta daerah yang berbeda.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan ilmu kedokteran modern pada
umumnya adalah tradisi kedokteran yang berkembang di dunia Barat sejak awal
zaman modern.

1
Berbagai tindakan pengobatan dan kesehatan tradisional masih
dipraktekkan di seluruh dunia, di mana sebagian besar dianggap terpisah dan
berbeda dari kedokteran Barat, yang juga disebut biomedis atau tradisi
Hippokrates.
Sistem ilmu kedokteran yang paling berkembang selain sistem Barat
adalah tradisi Ayurveda dari India dan pengobatan tradisional Tionghoa. Berbagai
tradisi perawatan kesehatan non konvensional juga dikembangkan di dunia Barat
yang berbeda dari ilmu kedokteran pada umumnya.
Di berbagai tempat, sistem kedokteran Barat seringkali dipraktekkan
bersama-sama dengan sistem kedokteran tradisional setempat atau sistem
kedokteran lainnya, meskipun juga dianggap saling bersaing atau bahkan
bertentangan.
Menurut kamus Webster New World Dictionary, kata science berasal dari
kata latin, scire yang artinya mengetahui. Secara bahasa science berarti “keadaan
atau fakta mengetahui dan sering diambil dalam arti pengetahuan (knowledge)
yang dikontraskan melalui intuisi atau kepercayaan. Namun kata ini mengalami
perkembangan dan perubahan makna sehingga berarti pengetahuan yang
sistematis yang berasal dari observasi, kajian, dan percobaan-percobaan yang
dilakukan untuk menetukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji. Sedangkan
dalam bahasa Arab, ilmu (ilm) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui.
Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal dari
kata scire.

B. SEJARAH ILMU KEDOKTERAN


Pada awalnya, sebagian besar kebudayaan dalam masyarakat awal
menggunakan tumbuh-tumbuhan herbal dan hewan untuk tindakan pengobatan.
Ini sesuai dengan kepercayaan magis mereka yakni animisme, sihir, dan dewa-
dewi. Dalam tatanan ini masyarakat animisme percaya bahwa benda mati pun
memiliki roh atau mempunyai hubungan dengan roh leluhur.
Ilmu kedokteran berangsur-angsur berkembang di berbagai tempat terpisah
yakni Mesir kuno, Tiongkok kuno, India kuno, Yunani kuno, Persia, dan lainnya.

2
Sekitar tahun 1400-an terjadi sebuah perubahan besar yakni pendekatan ilmu
kedokteran terhadap sains.
Hal ini mulai timbul dengan penolakan–karena tidak sesuai dengan fakta
yang ada–terhadap berbagai hal yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh pada masa
lalu (bandingkan dengan penolakan Copernicus pada teori astronomi Ptolomeus.
Beberapa tokoh baru seperti Vesalius (seorang ahli anatomi) membuka jalan
penolakan terhadap teori-teori besar kedokteran kuno seperti teori Galen,
Hippokrates, dan Avicenna. Diperkirakan hal ini terjadi akibat semakin lemahnya
kekuatan gereja dalam masyarakat pada masa itu.

C. PERKEMBANGAN PENELITAN KEDOKTERAN DAN KESEHATAN


Bagi tenaga kesehatan dan yang berkecimpung dalam bidang kedokteran
dan kesehatan, penelitian pada umumnya bertujuan untuk mengumpulkan
informasi atau data yang diperlukan untuk perencanaan kegiatan medis-klinis atau
medis-sosial, atau untuk mengembangkan ilmu kedokteran itu sendiri, yang pada
gilirannya akan berguna bagi kesejahteraan manusia.
Tingkat penelitian ini dalam bidang ilmu kedokteran atau kesehatan dapat
dibagi ke dalam 2 golongan besar, yakni penelitian yang bersifat deskriptif dan
analitik.
Dalam penelitian deskriptif peneliti mengadakan eksplorasi fenomena
kedokteran tanpa berusaha mencari hubungan antar variabel di dalam fenomena
tersebut. Dalam penelitian analitik, peneliti dapat hanya mengukur fenomena
alamiah yang ada tanpa melakukan intervensi terhadap variabel (bersifat analitik
observasional), akan tetapi ia dapat pula melakukan intervensi terhadap variabel
bebas dan menilai efek intervensi atau manipilasi ini terhadap variabel tergantung
(penelitian eksperimental atau intervensional).
Suatu hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak selalu penelitian
deskriptif (yang secara metodolagi penelitian yang dapat disebut desainnya
sederhana) nilainya rendah atau lebih rendah dari penelitian analitik atau
eksperimental. Banyak penerima nobel dari penelitian secara deskriptif saja.

3
Penelitian dilakukan sejalan dengan sifat dasar manusia yang senantiasa
ingin tahu terhadap pelbagai fenomena di sekelilingnya. Tujuan seseorang
melakukan penelitian pada umumnya adalah: (1) untuk mengetahui deskripsi
pelbagai fenomena alamiah; (2) Untuk menerangkan hubungan antara pelbagai
kejadian; (3)untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan; (4)
untuk memperlihatkan efek tertentu.
Perkembangan dunia kedokteran mempengaruhi tingkat kesehatan dan
kehidupan masyarakat di suatu negara. Semakin tinggi tingkat ilmu pengetahuan
di bidang kedokteran, semakin tinggi pula kualitas hidup masyarakat di
sekitarnya. Demikian pula sebaliknya, tingkat perkembangan bidang kedokteran
yang rendah akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat.5

D. MAKNA KESEHATAN MENURUT FILSAFAT


Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional
diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan,dan kemampuan untuk hidup
sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal. Dan kesehatan yang demikian yang menjadi dambaan setiap orang
sepanjang hidupnya. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang tidak bisa
ditolak meskipun kadang-kadang bisa dicegah atau dihindari.
Pada masa lalu, sebagian besar individu dan masyarakat memandang sehat
dan sakit sebagai sesuatu Hitam atau Putih. Dimana kesehatan merupakan kondisi
kebalikan dari penyakit atau kondisi yang terbebas dari penyakit.
Anggapan atau sikap yang sederhana ini tentu dapat diterapkan dengan
mudah, akan tetapi mengabaikan adanya rentang sehat-sakit. Pendekatan yang
digunakan pada abad ke-21, sehat dipandang dengan perspektif yang lebih luas.
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena
ada faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama
faktor sosial budaya.
Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya
dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi,
antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah

4
mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari
masing-masing disiplin ilmu.
Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan
kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik
secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan
sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

1. Sehat Menurut Filsafat


Pada zaman klasik Ilmu kedokteran berdasarkan pada filsafat alam yang
berkembang pada waktu itu. Contohnya ilmu kedokteran Cina yang mendasarkan
fenomena sehat dan sakit pada filsafat pergerakan lima unsur di alam.
Namun demikian cukup banyak pula penemuan berdasarkan pengalaman
dan percobaan yang banyak manfaatnya dalam ilmu pengobatan. Menurut ajaran
filsafat dari Cina/Taoisme, sehat adalah gejala ketidakseimbangan antara unsur
yin dan yang, baik antara manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta
(makrokosmos), maupun unsur-unsur yang ada pada kehidupan di dalam tubuh
manusia sendiri.
Dalam ajaran Taoisme, ditegaskan bahwa semua isi alam raya dan sifat-
sifatnya bisa digolongkan ke dalam dua kelompok yang disebut kelompok yin
(sifatnya mendekati air) dan kelompok yang (sifatnya mendekati api).
Sifat yin dan yang saling berlawanan, saling menghidupi, saling
mengendalikan, saling mempengaruhi tetapi membentuk sebuah kesatuan yang
dinamis (harmonisasi). Contohnya, lelaki-perempuan, panas-dingin, terang-gelap,
aktif-pasif, dan seterusnya.
Seseorang akan dikatakan sakit jika tejadi ketidak seimbangan antara yin
dan yang. Sebenarnya, dalam filsafat-filsafat kuno, atau perenialisme modern, ruh,
pikiran dan raga tak pernah dilihat sebagai dua hal yang terpisah. Istilahnya, yang

5
sekarang kembali lagi populer, holistik (belakangan, sebagai alternatif terhadap
kedokteran modern yang bersifat mekanistik-ragawi, orang mulai
memperkenalkan kembali istilah kedokteran, atau penyembuhan (healing) holistik
(holistic medicine).
Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang fisika dan biologi pada akhir
abad XX ini, terutama penemuan-penemuan tentang teori relatifitas, teori
kuantum, dan biomolekuler telah mempengaruhi paradigma kelimuan yang
ditegakkan oleh Newton dan Rene Descartes pada zaman renaissance.
Dalam bidang ilmu kedokteran, pandangan terhadap manusia yang terlalu
mekanistik, dan dikhotomik yang memisahkan antara fisik dan psikhis, telah
bergeser menjadi lebih bersifat spiritual dan memandang manusia secara holistik
dan seimbang, akan mempengaruhi perkembangan ilmu kedokteran, khususnya
bioetika. Kecenderungan bioetika sebelumnya yang lebih bersifat sekuler, otonom
dan pluralistik akan lebih disesuaikan dengan prinsip etika yang lebih
memperhatikan perspektif spiritualitas dan holistik. Dengan adanya penemuan
berbagai jenis kecerdasan pada manusia, seperti kecerdasan emosional dan
spiritual disamping kecerdasan intelektual mendorong pendekatan pandangan
tentang existensi manusia.

2. Definisi Sehat
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit
akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek
fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu
keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya
bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat
meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi ling¬kungan internal dan
eksternal.

6
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup
produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan
sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis
dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan
fisik, sosial, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

3. Konsep Baru Tentang Makna Sehat


Konsep sakit-sehat senantiasa berubah sejalan dengan pengalaman kita
tentang nilai, peran penghargaan dan pemahaman kita terhadap kesehatan.
Dimulai pada zaman keemasan yunani bahwa sehat itu sebagai sesuatu yang
dibanggakan sedang sakit sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Filosofi yang
berkembang pada saat ini adalah filosofi Cartesian yang verorientasi pada
kesehatan fisik semata-mata yang menyatakan bahwa seseorang disebut sehat bila
tidak ditemukan disfungsi alat tubuh. Mental dan roh bukan urusan dokter-dokter
melainkan urusan agama. Setelah ditemukan kuman penyebab penyakit batasan
sehat juga berubah. Seseorang disebut sehat apabila setelah diadakan pemeriksaan
secara seksama tidak ditemukan penyebab penyakit.
Tahun lima puluhan kemudian definisi sehat WHO mengalami perubahan
seperti yang tertera dalam UU kesehatan RI No.23 tahun 1992 telah dimasukkan
unsur hidup produktif sosial dan ekonomi.
Definisi terkini yang dianut di beberapa negara maju seperti Canada yang
mengutamakan konsep sehat produktif. Sehat adalah sarana atau alat untuk hidup
sehari-hari secara produktif. Setelah tahun 1974 terjadi penemuan bermakna
dalam konsep sehat serta memiliki makna tersendiri bagi para ahli kesehatan
masyarakat di dunia tahun 1994 dianggap sebagai pertanda dimulainya era
kebangkitan kesehatan masyarakt baru, karena sejak tahun 1974 terjadi diskusi

7
intensif yang berskala nasional dan internasional tentang karakteristik, konsep dan
metode untuk meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Sistem Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar menurut Deklarasi Alma Ata (
1978 )
1. Kesehatan adalah keadaan sempurna dalam aspek fisik, mental dan sosial serta
bebas dari penyakit atau kecacatan merupakan hak azasi manusia yang
fundamental
2. Ketidak seimbangan status kesehatan antara negara dan antar daerah dalam
suatu negara diakui dan disadari oleh semua negara
3. Pemerintah bertanggung jawab atas kesehatan masyarakatnya dan masyarakat
berhak dan terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaanya
4. Agar dalam tahun 2000 status kesehatan masyarakat di setiap negara
memungkinkan setiap penduduk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

E. ILMU KEDOKTERAN REPRODUKSI


Dewasa ini, keinginan untuk memiliki keturunan adalah suatu kondisi
yang alami dimiliki oleh hampir seluruh pasangan manusia di dunia. Seiring itu,
kesadaran dan perhatian akan arti penting aspek kesehatan reproduksi ikut
meningkat. Bagi sekitar lima belas persen pasangan suami-istri, masalah
kesuburan dari organ reproduksi telah menjadi masalah utama dalam hidup. Tidak
mengherankan, kalau ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran terutama di
bidang upaya bantuan reproduksi mulai berkembang dengan pesat.
Hampir setiap orang pernah menghadapi permasalahan yang berkaitan
dengan seksualitas. Hal ini dikarenakan seksualitas menjadi bagian terpenting dan
menarik perhatian dalam kehidupan pasangan manusia terutama bagi yang sudah
memasuki jenjang berumah tangga. Di satu sisi sebenarnya dorongan seks adalah
fungsi biologis yang normal dan alamiah selayaknya keinginan untuk makan-
minum. Akan tetapi di sisi lain, aspek seksualitas memiliki kekuatan lebih yang
bisa untuk mengubah hidup dan hingga menentukan perilaku seseorang.
Setiap insani memiliki perasaan, sikap dan keyakinan mengenai fungsi
seksualnya, tetapi pengalaman setiap orang bersifat unik karena mengalami

8
proses pembelajaran yang spesifik dan melalui perspektif pribadi yang kuat.
Sehingga tidaklah mudah untuk mengerti dan memahami aspek seksualitas dan
reproduksi manusia, tanpa didahului mengenali sifat yang multidimensional. Pada
dasarnya, seksualitas telah merangsang dan turut membimbing masing-masing
individu dalam perjalanan hidupnya mulai dari bayi hingga menjadikannya sosok
orang tua dengan sifat kedewasaan, menentukan orientasinya dan membangun
peradaban manusia dari zaman purba sampai saat ini.
Pengetahuan akan seksualitas dan reproduksi yang benar akan dapat
menuntun kita kearah perilaku yang rasional dan bertanggung jawab, dan dapat
membantu membuat keputusan pribadi yang penting. Sayang, pembahasan dan
pendidikan yang relevan mengenai reproduksi dan seksualitas sebagai ilmu masih
relatif sedikit. Padahal fakta beberapa survei sederhana menyatakan rendahnya
wawasan dan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap seluk-beluk informasi
reproduksi dan seksualitas.
Secara umum di Indonesia, kita mengenal bahwa kata reproduksi dan
seksualitas adalah bermakna sama. Cukup lama kita mempertahankan persepsi
yang kurang tepat itu, kemungkinan akibat paham budaya yang condong
ketimuran sehingga masih memandang tabu membicarakan perihal reproduksi,
apalagi hingga menyinggung kearah seksualitas, yang notabene dianggap sensitif.
Sebenarnya jika dikaji kembali lebih dalam, ternyata kata reproduksi dan
seksualitas adalah berbeda, walaupun sangat berhubungan. Reproduksi lebih
menelaah mengenai upaya untuk menghasilkan keturunan, sedangkan seksualitas
dapat berarti jenis atau organ kelamin.
Kita pun menjadi semakin miris dengan beredarnya berbagai mitos dan
informasi yang sesat mengenai reproduksi maupun seksualitas. Banyak produk,
layanan kesehatan dan obat-obatan yang muncul dan terkesan tidak bertanggung
jawab hingga merugikan para klien. Coba saja tengok di beberapa media cetak
maupun media elektronik, seperti radio maupun televisi. Hanya demi keuntungan
finansial sesaat, dengan gampangnya membantu dan mewadahi info-info
kesehatan (kedokteran) reproduksi dan seksualitas yang jelas-jelas salah dan tidak

9
ilmiah, membodohi hingga mengorbankan masyarakat kita yang cenderung
permisif ini.
Sebaliknya masih sedikit perhatian pemerintah maupun institusi
pendidikan yang terkait untuk membantu pengembangan ilmu kedokteran
reproduksi termasuk seksologi. Salah satu alasan yang sering didengungkan
bahwa ilmu reproduksi dan seksualitas adalah milik orang dewasa dan tidak perlu
diajarkan, karena spontan akan diketahui sendiri. Sudah pasti pernyataan itu salah
besar, mengingat makin maraknya kasus infeksi menular seksual (IMS), termasuk
epidemi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome
(HIV/AIDS), gangguan fungsi seksual, disorientasi seksual, kehamilan tidak
diinginkan, hubungan seksual pranikah yang bebas dan tidak bertanggung jawab,
kriminalitas dari aborsi dan lainnya.
Maka perlu suatu tinjauan sederhana dari sudut pandang filsafat ilmu yang
membahas ilmu kedokteran reproduksi sebagai sebuah pengetahuan ilmiah, dalam
hal ini mewakili aspek reproduksi dan seksualitas manusia. Dengan harapan dapat
membantu menjawab pentingnya ilmu kedokteran reproduksi bagi kehidupan
manusia, berusaha mencari kebenaran mengenai apa hakekatnya, bagaimana
prosesnya, manfaat secara etika dan nilai estetikanya, dan menelusuri jejak-jejak
penalarannya dari suatu pemikiran filsafat, menjadi pengetahuan dan berakhir
sebagai suatu ilmu (sains) yang ilmiah.

II. TINJAUAN FILSAFAT


A. PENGERTIAN FILSAFAT
Secara epistimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia, dan
terdiri dari kata Philos yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan
kata Sophia yang berarti kebijaksanaan.
Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap
kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi kebijaksanaan). Namun
pertanyaan kita selanjutnya adalah bagaimana kita mendefinisi filsafat itu sendiri?
Hamersma (1981: 10) mengatakan bahwa Filsafat merupakan pengetahuan
metodis, sistematis, dan koheren tentang seluruh kenyataan Jadi, dari definisi ini

10
nampak bahwa kajian filsafat itu sendiri adalah realitas hidup manusia yang
dijelaskan secara ilmiah guna memperoleh pemaknaan menuju “hakikat
kebenaran”.
Sebenarnya, pengertian tentang filsafat cukup beragam. Titus et.al (dalam
Muntasyir&Munir, 2002: 3) memberikan klasifikasi pengertian tentang filsafat,
sebagai berikut :
1. Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan
alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
2. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan
sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal).
3. Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya
filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermacam-macam sains dan
pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang
alam (arti spekulatif)
4. Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan
konsep. Corak filsafat yang demikian ini dinamakan juga logosentris.
5. Filsafat adalah sekumpulan problema yang langsung, yang mendapat perhatian
dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.

B. CIRI-CIRI BERPIKIR DALAM FILSAFAT


Dalam memahami suatu permasalahan, ada perbedaan tentang
karakteristik dalam berfikir antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain. Mudhofir dalam
Muntasyir&Munir (2002: 4-5) mengatakan bahwa ciri-ciri berfikir kefilsafatan
sebagai berikut :
1. Radikal, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya, hingga sampai pada hakikat
atau substansi yang dipikirkan.
2. Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia.
Kekhususan berpikir kefilsafatan menurut Jespers terletak pada aspek
keumumannya.
3. Konseptual, artinya merupakan hasil generalisasi dan abstraksi pengalaman
manusia. Misalnya : Apakah Kebebasan itu ?

11
4. Koheren atau konsisten (runtut). Koheren artinya sesuai dengan kaidah-kaidah
berpikir logis. Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
5. Sistematik, artinya pendapat yang merupakan uraian kefilsafatan itu harus
saling berhubungan secara teratur dan terkandung adanya maksud atau tujuan
tertentu.
6. Komprehensif, artinya mencakup atau menyeluruh. Berpikir secara
kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara
keseluruhan.
7. Bebas, artinya sampai batas-batas yang luas, pemikiran filsafati boleh
dikatakan merupakan hasil pemikiran yang bebas, yakni bebas dari prasangka-
prasangka sosial, historis, kultural, bahkan relijius.
8. Bertanggungjawab, artinya seseorang yang berfilsafat adalah orang-orang
yang berpikir sekaligus bertanggungjawab terhadap hasil pemikirannya, paling
tidak terhadap hati nuraninya sendiri.

C. FILSAFAT ILMU
Menurut Beerling (1985; 1-2) filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang
ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata
lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan suatu penyelidikan lanjutan. Dia
merupakan suatu bentuk pemikiran secara mendalam yang bersifat lanjutan atau
secondary reflexion.
Refleksi sekunder seperti itu merupakan syarat mutlak untuk menentang
bahaya yang menjurus kepada keadaan cerai berai serta pertumbuhan yang tidak
seimbang dari ilmu-ilmu yang ada.
Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat.
Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang
sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy
mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk
pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang
di antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan
keilmuan.

12
D. HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan metodis, sistematis, dan koheren
(“bertalian”) tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan. Antara definisi filsafat
dan ilmu pengetahuan memang mirip namun kalau kita menyimak bahwa di
dalam definisi ilmu pengetahuan lebih menyoroti kenyataan tertentu yang menjadi
kompetensi bidang ilmu pengetahuan masing-masing.
Sedangkan filsafat lebih merefleksikan kenyataan secara umum yang
belum dibicarakan di dalam ilmu pengetahuan (Muntasyir&Munir,2000: 10).
Walaupun demikian, ilmu pengetahuan tetap berasal dari filsafat sebagai induk
dari semua ilmu pengetahuan yang berdasarkan kekaguman atau keheranan yang
mendorong rasa ingin tahu untuk menyelidikinya, kesangsian, dan kesadaran akan
keterbatasan.
Sebelum penjabaran tentang perbedaan pengetahuan dan ilmu
pengetahuan, perlu diuraikan tentang pengertian pengetahuan dan ilmu
pengetahuan. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam mendalami perbedaan
antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

1. PENGETAHUAN (KNOWLEDGE)
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu
knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa difinisi
pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Sedangkan secara terminologi definisi pengetahuan dipahami dan di
definisikan secara beraga. Berikut ini beberapa definisi tentang pengetahuan.
1. Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan
tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.
Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian
pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
2. Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung
dari kesadarannya sendiri. Dalam hal ini yang mengetahui (subjek) memiliki
yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga

13
yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam
kesatuan aktif.
3. Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek
tertentu, termasuk didalamnya ilmu, seni dan agama. Pengetahuan ini
merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung dan tak langsung
memperkaya kehidupan kita.

2. ILMU (SCIENCE)
Pada prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan
mensitematisasikan sesuatu. Sesuatu tersebut dapat diperoleh dari pengalaman dan
pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sesuatu itu dilanjutkan dengan
pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu
adalah pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus
memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek
material dan objek formal. Setiap bidang ilmu baik itu ilmu khusus maupun ilmu
filsafat harus memenuhi ke dua objek tersebut. Ilmu merupakan suatu bentuk
aktiva yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu lebih lengkap
dan lebih cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian serta suatu
kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya.
Ada tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dasar
ontology ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca
indera manusia. Jadi masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat
empiris. Objek empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai,
tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri.
Berdasarkan skema di atas terlihat bahwa ilmu melingkupi tiga bidang pokok
yaitu ilmu pengetahuan abstrak, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan
humanis. Ilmu pengetahuan abstrak meliputi metafisika, logika, dan matematika.
Ilmu pengetahuan alam meliputi Fisika, kimia, biologi, kedokteran, geografi, dan
lain sebagainya.

14
III. FILSAFAT KEDOKTERAN DALAM DISIPLIN ILMU REPRODUKSI
A. FILSAFAT DUNIA KEDOKTERAN
Dalam filsafat ilmu, suatu disiplin ilmu dapat dinyatakan sebagai
pengetahuan, jika memenuhi criteria ontology yang mencakup apa/hakikat
ilmu/kebenaran/ilmiah, epistemology mencakup metode dan paradigm serta
aksiology mencakup tujuan/nilai-nilai imperative/sikap (attitude).
Filsafat ilmu berkembang dari dua cabang utama meliputi filsafat alam dan
filsafat moral. Filsafat alam menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences).
Sedangkan filsafat moral menjadi rumpun ilmu-ilmu sosial (social sciences).
Selanjutnya kelompok ilmu-ilmu alam mempunyai cabang utama ilmu
alam (physical sciences). Cabang ilmu-ilmu alam menunjukkan ilmu kedokteran
dan kesehatan berada pada garis cabang keilmuan hayat.
Salah satu ciri khas dari manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu
tentang berbagai hal. Rasa ingin tahu ini tidak terbatas yang ada pada dirinya,
tetapi juga ingin tahu tentang lingkungan sekitarnya, bahkan sekarang ini rasa
ingin tahu berkembang ke arah dunia luar.
Rasa ingin tahu ini tidak dibatasi oleh peradaban dan muncul sejak
manusia lahir di muka bumi ini. Semua umat manusia yang hidup di dunia
mempunyai rasa ingin tahu walaupun variasi dan takaran keingintahuannya
berbeda-beda. Orang tinggal di tempat peradaban yang masih terbelakang
memiliki rasa ingin yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tinggal di
tempat maju.
Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam sekitar
terkadang bersifat sederhana dan juga kompleks. Rasa ingin tahu yang bersifat
sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (Ontologis), sedangkan rasa
ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi kelanjutan pemikiran tentang
bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi
(Epistemologis), serta manfaat apa yang didapat dari mempelajari peristiwa
tersebut (Aksiologis).
Ketiga landasan utama filsafat ilmu di atas, yaitu Ontologis, Epistemologis
dan Aksiologis merupakan ciri spesifik dalam penyusunan pengetahuan yang

15
menjelaskan keilmiahan ilmu tersebut. Ketiga landasan ini saling terkait satu sama
lain dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Berbagai usaha
spekulatif yang bersistem, mendasar dan menyeluruh dilaksanakan untuk
mencapai atau memecahkan peristiwa yang terjadi di alam dan di lingkungan
sekitar. Bila usaha tersebut berhasil dicapai, maka diperoleh apa yang kita katakan
sebagai ilmu dan pengetahuan.
Sama halnya ketika meninjau Ilmu Kedokteran Reproduksi sebagai sebuah
ilmu yang ilmiah dan membedakannya dengan pengetahuan-pengetahuan yang
didapatkan melalui cara lain.
Beberapa akademisi dan masyarakat awam di Indonesia memang masih
kurang familiar terhadap eksistensi ilmu kedokteran reproduksi terutama karena
kajian dan wacana akademis yang sangat terbatas dan kurang terintegrasi. Namun
sebagai suatu ilmu yang telah diakui secara luas, ilmu kedokteran reproduksi
berkembang seiring kompleksitas permasalahan yang ada dengan ketertarikan-
ketertarikan ilmiah yang mulai bergairah dan perlahan menunjukkan eksistensi
ilmu ini ke arah kemapanan.
Secara garis besar, pengertian reproduksi lebih berkaitan dengan aktifitas
manusia untuk mendapatkan keturunan, tetapi untuk itu tentu saja diperlukan
organ kelamin dan dorongan seksual juga. Sedangkan seksualitas atau seks berarti
jenis kelamin yang merupakan dimensi lain dari reproduksi manusia yang jauh
lebih luas karena meliputi semua aspek nilai, sikap, orientasi dan perilaku yang
bersifat pribadi dan tidaklah sama dengan kemampuan seseorang untuk sekedar
memberikan reaksi erotik.
Perkembangan Ilmu Kedokteran sendiri sebagai induk Ilmu Kedokteran
Reproduksi tidak lepas dari sosok Hippocrates yang dikenal sebagai Bapak Ilmu
Kedokteran Modern. Hippocrates menjadi sangat berjasa karena “Sumpah”-nya
yang sampai saat ini menjadi dasar Sumpah Kedokteran di seluruh dunia.
Hippocrates adalah gambaran sosok filsuf yang mengabdikan seluruh hidupnya
bagi usaha kemanusiaan, berkelana menuntut ilmu sambil melakukan pengabdian
kepada sesamanya di bidang pengobatan.

16
Karya-karya ilmiah Hippocrates dalam bidang kesehatan masih menjadi
rujukan saat ini. Hippocrates mengubah paradigma ilmu pengobatan yang dahulu
berbasis supranatural (tradisional) menjadi ilmu yang berbasis ilmiah (evidence
based medicine). Hippocrates berhasil menggabungkan ilmu filsafat dengan ilmu
kedokteran, dan Hippocrates pula yang mengatakan bahwa ilmu kedokteran
adalah suatu seni.

B. ONTOLOGIS ILMU KEDOKTERAN


Kajian ontologis spesifik menjawab hakekat suatu ilmu dan membahas
tentang “apa” itu yang ingin diketahui. Ontologis berperan dalam perbincangan
mengenai pengembangan ilmu, asumsi dasar ilmu dan konsekuensi penerapan
ilmu. Ontologis merupakan sarana ilmiah untuk menemukan jalan penanganan
masalah secara ilmiah. Ontologis berperan dalam proses konsistensi ekstensif dan
intensif dalam pengembangan ilmu.
Ontologis merupakan salah satu obyek lapangan penelitian kefilsafatan
yang paling kuno. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang
menjadi obyek penelaahan ilmu, ciri esensial obyek yang berlaku umum.
Ontologis ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh indera
manusia. Jadi kajian ontologis masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau
obyeknya bersifat empiris dapat berupa material, seperti ide-ide, nilai, tumbuhan,
binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri .
Ilmu Kedokteran Reproduksi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari
aspek reproduksi dan seksualitas manusia ditinjau dari sisi kedokteran. Ilmu ini
menjadikan organ reproduksi dan seksual manusia sebagai obyek utama dalam
pembelajarannya. Secara empiris, berbagai gejala yang dapat diamati indera,
kondisi klinis yang normal maupun abnormal (penyakit) dan pengalaman pada
fungsi organ reproduksi dan seksual manusia, semuanya akan ditelaah seutuhnya
dalam ilmu kedokteran reproduksim, baik yang terlihat jelas (organ kelamin),
berukuran mikros (sel sperma dan telur) dan psikososial (gangguan psikis), dan
bukan mengkaji benda jasmani saja.

17
Bagaimana tatanan dan struktur dari obyek yang dipelajari ilmu
kedokteran reproduksi sebagai doktrin berpendekatan holistik, hendaknya terlebih
dahulu memandang aspek reproduksi manusia sebagai suatu sistem keseluruhan
yang membentuk manusia selaku obyek sekaligus juga subyek. Tidak lupa untuk
tetap memperhatikan keadaan lingkungan sebagai variabel bebas yang secara
tidak langsung turut serta mempengaruhi kondisi kejiwaan manusia sebagai
obyek.
Wujud hakiki dari obyek yang ditelaah ilmu kedokteran reproduksi adalah
berbagai kondisi pada organ reproduksi dan seksual manusia terutama
permasalahan-permasalahan yang dapat diamati dan dirasakan indera, dan
penyakit ataupun gangguan yang mempengaruhi status kesehatan umum.
Abstraksi wujud dari obyek tersebut haruslah dapat dinilai, apakah dalam keadaan
normal atau sakit, dan bagaimana pengaruhnya pada produktifitas individu
manusia secara keseluruhan. Gangguan apa yang terjadi pada sistem reproduksi
maupun seksual. Solusi kongkrit apa saja, guna menanggulangi kemungkinan
turunnya produktifitas manusia yang bersangkutan.
Sedangkan hubungan wujud obyek telaah ilmu kedokteran reproduksi
dengan daya tangkap manusia adalah bersifat sebab-akibat dan linear. Suatu
kondisi bisa memperburuk fungsi organ reproduksi dan seksual, seperti terjadinya
proses penuaan, perilaku yang beresiko, munculnya keganasan sel, kriminalitas
biologi, ketimpangan gender, buruknya higienis pribadi dan rendahnya sanitasi
lingkungan dan lainnya. Sebaliknya dengan menerapkan pola hidup yang bersih
dan sehat, menghindari penyebaran infeksi, menjaga kebugaran tubuh,
memperbaiki higienis dan sanitasi, serta menghormati hak asasi bisa menjadi
pilihan ampuh untuk kondisi kesehatan yang lebih baik.

C. EPISTEMOLOGIS ILMU KEDOKTERAN


Telaah epistemologis merupakan cabang dari filsafat ilmu yang berurusan
dengan hakikat, teori dan ruang lingkup “bagaimana” proses menjadi ilmu.
Meliputi pengandaian-pengandaian dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban
atas pertanyaan mengenai ilmu pengetahuan yang dimiliki. Epistemologis

18
membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk
memperoleh ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan metode
keilmiahan dan sistematika isi dari berbagai ilmu termasuk ilmu kedokteran
reproduksi.
Metode keilmuan merupakan suatu prosedur wajib yang mencakup
berbagai tindakan, pemikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk
memperoleh ilmu pengetahuan yang baru atau sebaliknya mengembangkan
wawasan yang telah ada. Sedangkan sistematisasi isi ilmu dalam hal ini berkaitan
dengan batang tubuh dari ilmu pengetahuan, letak peta dasar, pengembangan ilmu
pokok dan cabang ilmu yang akan dibahas di sini.
Salah satu ciri yang patut mendapat perhatian dalam epistemologis dari
perkembangan ilmu pada masa modern adalah munculnya pandangan baru
mengenai ilmu pengetahuan. Pandangan itu merupakan kritik terhadap pandangan
Aristoteles, yaitu bahwa ilmu pengetahuan yang sempurna tidak boleh mencari
keuntungan, namun haruslah bersikap kontemplatif. Diganti dengan pandangan
bahwa ilmu pengetahuan justru harus mencari untung yang artinya dipakai untuk
memperkuat kemampuan manusia di bumi ini.
Guna menjawab bagaimana proses umum menimba ilmu pengetahuan
khususnya ilmu kedokteran reproduksi, maka selayaknya didahului dengan
pemikiran sederhana yang bersumber dari pengalaman empiris manusia. Berbagai
fenomena yang terjadi, faktual di seputar organ reproduksi dan seksual, seperti
gangguan fungsi seksual, sikap pro-kontra terhadap kontrasepsi, epidemi IMS dan
lainnya. Kemudian akan dirangkum, dibuatkan suatu karya penelitian dengan
metode tertentu yang rasional untuk mencari dan menjawab teori secara ilmiah,
apakah ilmu tersebut dapat diterima atau tidak.

D. AKSIOLOGIS ILMU KEDOKTERAN


Dasar aksiologis berarti nilai yang berkaitan dengan “kegunaan” dari suatu
ilmu pengetahuan yang telah diperoleh, seberapa besar sumbangan ilmu tersebut
bagi kebutuhan umat manusia. Merupakan fase yang paling penting bagi manusia

19
karena dengan adanya ilmu, maka segala keperluan dan kebutuhan manusia
menjadi terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah (Purnomo, 2007).
Aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari
pengetahuan yang dipelajarinya. Bila persoalan value free dan value bound ilmu
yang mendominasi fokus perhatian aksiologis pada umumnya, maka dalam hal
pengembangan ilmu yang relatif baru seperti ilmu kedokteran reproduksi ini,
dimensi aksiologis akan diperluas lagi sehingga secara inheren mencakup dimensi
nilai kehidupan manusia, seperti etika, estetika, religius (sisi dalam) dan juga
interelasi ilmu dengan aspek-aspek kehidupan manusia dalam sosialitasnya (sisi
luar). Kedua sisi merupakan aspek penting dari permasalahan transfer ilmu
pengetahuan .
Berdasarkan aksiologis, terlihat jelas bahwa permasalahan utama dari ilmu
berkaitan dengan nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki
manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori
tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika
mengandung dua arti, yaitu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap
perbuatan manusia dan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan antara hal,
perbuatan atau manusia lainnya. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai
tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan
dan fenomena disekelilingnya.
Berkaitan dengan ilmu kedokteran reproduksi sebagai sebuah ilmu, maka
tentu perlu dikaji mengenai aspek aksiologisnya. Sebagai cabang ilmu kedokteran
yang baru, maka ilmu kedokteran reproduksi memiliki banyak manfaat yang
positif bagi kehidupan manusia baik nilai etika maupun estetika (Subratha, 2007).
Adapun beberapa manfaat yang sekiranya bisa didapat dari mengamalkan ilmu
kedokteran reproduksi, yaitu :
1. Memiliki kemampuan guna mengidentifikasi dan menganalisis berbagai
masalah di lingkup kesehatan reproduksi dan seksual yang menghambat
terwujudnya keluarga atau individu manusia yang bahagia dan sejahtera.

20
2. Memiliki kemampuan untuk memecahkan dan menangani berbagai masalah
kesehatan reproduksi dan seksual sehingga dapat membantu masyarakat dalam
mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera.
3. Memiliki kemampuan untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi
dan seksual kepada masyarakat sehingga terhindar dari perilaku yang
merugikan, dan selanjutnya mampu membentuk keluarga atau individu
manusia yang bahagia dan sejahtera.
4. Mendapatkan keterampilan untuk melakukan penelitian demi memperoleh dan
atau memperbaiki teori, cara, teknik atau bahan yang bermanfaat untuk
mengatasi masalah kesehatan reproduksi dan seksual.
Terkait dengan kaidah dan pilihan moral dalam ilmu kedokteran
reproduksi, maka ilmu tersebut juga mengandung esensi etika yang harus diiringi
dengan tanggung jawab sosial sebagai seorang dokter, paramedis maupun
konselor. Wajib pula dibaluti prosedur atau metode ilmiah dengan pola pikir yang
rasional dan pendekatan secara deduktif atau induktif. Berbagai keterampilan
dengan status gelar yang didapat setelah menyelesaikan pendidikan ilmu
kedokteran reproduksi akan menjadi bekal untuk mendapatkan penghasilan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Zulkarnain,SKM,M.KES. Perkembangan kesehatan masyarakat,Penerbit


CV.BERKAH UTAMI,Makasar, 2012
I Nengah Kerta Besung, Perbedaan Ilmu dengan Pengetahuan ditinjau Dari
Filsafat Ilmu,2006
Jujun S Suriasumantri, 1996. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta
Pustaka Sinar Harapan,
Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Binarupa
Aksara; Jakarta;1995.
Dunia Kedokteran Indonesia, Available at : www. Anneahira.com/
Ilmu Kedokteran Reproduksi ; Perspektif Filsafat Ilmu, Available at :
http://pramareola14.wordpress.com/2010/
Filsafat Hukum Ekonomi dan Kedokteran, http://diachs-an-
nur.blogspot.com/2012/05/filsafat-hukum-ekonomi-kedokteran-dan.html
Beerling, et.al. 1997. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta. Tiara Wacana.
Farida M, Tinjauan Filsafat Kesehatan Reproduksi, Departemen Biostatistik dan
Ilmu Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia,dalam : jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol.3,No.3,
Desember 2008
I Nengah Kerta Besung, Perbedaan Ilmu dengan Pengetahuan ditinjau Dari
Filsafat Ilmu,2006

22