Anda di halaman 1dari 6

Pertanyaan :

Hukum Menggunakan Sertifikat Tanah Orangtua untuk Jaminan Bank


Selamat sore, Saya ingin menanyakan apabila seorang anak menggunakan sertifikat atas nama
orang tuanya untuk jaminan bank apakah memerlukan persetujuan tertulis dari saudara-saudara
anak tersebut? Dan apabila di kemudian hari ternyata orang tua yang namanya tertera dalam
sertifikat tersebut meninggal dunia (namun kredit di bank belum selesai) kedudukan hukumnya
bagaimana? Mohon penjelasannya.

Jawaban :
Dalam hal ini, kami berasumsi bahwa sertifikat yang Anda maksud adalah sertifikat tanah milik si orang
tua dan sertifikat tanah tersebut dijaminkan pada saat orang tua tersebut masih hidup (melihat pada
uraian pertanyaan yang menanyakan “apabila di kemudian hari ternyata orang tua yang namanya tertera
dalam sertifikat tersebut meninggal dunia”).
Sertifikat tanah yang sudah terdaftar pada dasarnya dijaminkan dengan hak tanggungan, sebagaimana
terdapat dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas
Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah (“UU Hak Tanggungan”):

“Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, yang selanjutnya
disebut Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,
berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu
terhadap kreditor-kreditor lain.”
Mengenai sertifikat tanah atas nama orang tua, maka dalam hal ini orang tua tersebut bertindak sebagai
“pihak ketiga pemberi hak tanggungan”. Sebagaimana kami sarikan dari J. Satrio dalam bukunya Hukum
Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan, Hak Tanggungan, Buku 1 (hal. 245-246), pemberi hak tanggungan
adalah pemilik persil, yang dengan sepakatnya dibebani dengan hak tanggungan sampai sejumlah uang
tertentu, untuk menjamin suatu perikatan/utang. Sedangkan, pihak ketiga pemberi hak tanggungan
adalah pihak ketiga (orang lain) yang menjamin utangnya debitur dengan persil miliknya.
Dalam hal orang tua tersebut ingin menjaminkan tanahnya untuk utang salah satu anaknya, orang tua
tersebut sebagai pemilik dari tanah tersebut tidak perlu meminta persetujuan dari anak-anaknya yang
lain. Begitu juga anak yang memiliki utang tidak perlu meminta izin dari saudara-saudaranya karena
dalam hal ini yang berhak melakukan tindakan kepemilikan (salah satunya menjaminkan) atas tanah itu
adalah si orang tua.
Ini karena pada dasarnya setiap orang yang mempunyai hak milik atas suatu benda, berhak untuk
melakukan tindakan apapun atas benda tersebut. Berdasarkan Pasal 570 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (“KUHPer”), hak milik adalah hak untuk menikmati suatu barang secara lebih leluasa
dan untuk berbuat terhadap barang itu secara bebas sepenuhnya, asalkan tidak bertentangan dengan
undang-undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh kuasa yang berwenang dan asal tidak
mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu tidak mengurangi kemungkinan pencabutan hak demi
kepentingan umum dan penggantian kerugian yang pantas, berdasarkan ketentuan-ketentuan
perundang-undangan.
Mengenai pengaturan hak milik dalam Pasal 570 KUHPer, menurut Ny. Hj. Frieda Husni Hasbullah,
S.H. dalam bukunya yang berjudul Hukum Kebendaan Perdata: Hak-Hak Yang Memberi Kenikmatan(hal.
87), yang dimaksud dengan penguasaan dan penggunaan suatu benda dengan sebebas-bebasnya,
diartikan sebagai:
1. Dapat melakukan perbuatan hukum misalnya mengalihkan, membebani, menyewakan, dan lain-lain.
2. Dapat melakukan perbuatan materiil misalnya memetik buahnya, memakai, memelihara, bahkan
merusak.
Jadi, tidak perlu ada persetujuan apapun dari anak-anak orang tua tersebut atau saudara-saudara si
anak yang berutang.
Jika kemudian orang tua yang namanya tertera dalam sertifikat tersebut meninggal dunia, maka jaminan
tersebut tidak semerta-merta gugur. Jaminan hak tanggungan atas tanah tersebut tetap ada. Ini karena
hak tanggungan yang merupakan hak kebendaan juga didasarkan pada asas droit de suite. Asas droit
de suite berarti hak kebendaan tersebut mengikuti bendanya ke dalam tangan siapapun benda tersebut
berpindah. Asas ini terlihat dari ketentuan dalam Pasal 7 UU Hak Tanggungan, yang menyatakan:
“Hak Tanggungan tetap mengikuti obyeknya dalam tangan siapa pun obyek tersebut berada.”
Jadi, walaupun berdasarkan hukum waris, yang memiliki tanah itu setelah orang tua tersebut meninggal
dunia adalah para ahli warisnya, perubahan pemilik tidak mengakibatkan hapusnya hak tanggungan. Hak
tanggungan tersebut tetap melekat pada tanah tersebut.
Selain itu, dapat juga dilihat dari hal-hal yang menyebabkan hapusnya hak tanggungan pada Pasal 18
ayat (1) UU Hak Tanggungan, yang mana beralihnya kepemilikan tanah bukan merupakan salah satu
hal yang menyebabkan hapusnya hak tanggungan.
Pasal 18 ayat (1) UU Hak Tanggungan
1) Hak Tanggungan hapus karena hal-hal sebagai berikut:
a. hapusnya utang yang dijamin dengan Hak Tanggungan;
b. dilepaskannya Hak Tanggungan oleh pemegang Hak Tanggungan;
c. pembersihan Hak Tanggungan berdasarkan penetapan peringkat oleh Ketua Pengadilan Negeri;
d. hapusnya hak atas tanah yang dibebani Hak Tanggungan.

Jadi, jika kemudian orang tua yang menjaminkan sertifikat tanahnya meninggal dunia, jaminan tersebut
masih ada dan dapat dieksekusi oleh bank jika debitur (anaknya) wanprestasi.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
2. Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang
Berkaitan Dengan Tanah.
2 Contoh Surat Kuasa Pengambilan Sertifikat (rumah, tanah)
2 Contoh Surat Kuasa Pengambilan Sertifikat – Berikut ini adalah Contoh Surat Kuasa
Pengambilan Sertifikat yang bisa digunakan untuk pengambilan sertifikat tanah atau rumah baik
itu di bank karena sebagai jaminan pinjaman yang sudah bisa diambil karena sudah lunas atau
di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN).
SURAT KUASA
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Mujiono
Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 17 Agustus 1963
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil
Alamat : Jl. Contoh Surat Resmi No. 99, Cibinong Bogor
Selanjutnya sebagai “Pemberi Kuasa”.
Pemberi Kuasa dengan ini memberikan kuasa kepada:
Nama : Sulamun
Tempat/Tgl. Lahir : Bandung, 17 Agustus 1963
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Contoh Surat Kuasa No. 214, Cibinong Bogor
Selanjutnya sebagai “Penerima Kuasa”.
Pemberi kuasa memberikan kuasa kepada Penerima Kuasa untuk mewakili atau bertindak untuk
dan atas nama Pemberi Kuasa untuk tujuan pengambilan sertifikat Tanah dan Bangunan Asli atas
nama Pemberi Kuasa yang jaminkan di Bank ABC Cabang Cibinong kota Bogor.
Demikian Surat Kuasa ini dibuat, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
SURAT KUASA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Mujiono
Alamat : Jl. Contoh Surat Resmi No. 99, Cibinong Bogor
No. KTP : 0123456789
Selanjutnya sebagai “Pemberi Kuasa”.
Pemberi Kuasa dengan ini memberikan kuasa kepada:
Nama : Sulamun
Alamat : Jl. Contoh Surat Kuasa No. 214, Cibinong Bogor
No. KTP : 9876543210
Selanjutnya sebagai “Penerima Kuasa”.

———————– KHUSUS ————————–

Untuk mengambil Sertifikat Tanah Asli di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) kota Bogor
atas sebidang tanah dengan atas nama Pemberi Kuasa yang terletak di Cibinong kota Bogor.
Selanjutnya, untuk dan atas nama Pemberi Kuasa, Penerima Kuasa berhak untuk menerima
Sertifikat Tanah Asli Pemberi Kuasa, menandatangani bukti penerimaannya, serta melakukan
tindakan lain yang dianggap perlu dan patut sehubungan dengan diberikannya kuasa ini.
Demikian Surat Kuasa ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Sertifikat Jaminan Tidak Kunjung Dikembalikan,
Nasabah Protes Danamon

Taliwang, Gaung NTB – Khaiwil W Zakariah, seorang nasabah Bank Danamon


Kantor Cabang Pembantu (KCP) Taliwang, memperotes bank dimaksud karena
sampai berbulan-bulan belum juga mengembalikan sertifikat jaminan atas
pinjaman yang telah dilunasinya.
Kepada Gaung NTB, Kamis (1/5), Ia mengungkapkan pernah melakukan
pinjaman sejak bulan April 2013 sebesar Rp 105 juta dengan jaminan sertifikat
rumah milik orang tuanya yang berdomisili di Sumbawa Besar, dengan jangka
waktu pinjaman selama 5 tahun.
Karena merasa pinjaman ini memberatkannya, Khairil pun pada bulan Februari
2014 lalu, memutuskan untuk melunasi pinjamannya, walau baru berjalan 10
bulan dan mendapat pinalti untuk dua bulan angsuran dan resiko membayar
pelunasan jauh lebih besar dari jumlah pinjaman yang didapat.
Namun, tanda-tanda pihak bank akan mempersulitnya mulai terlihat sejak Ia
menyampaikan niat melunasi pinjaman itu ke staf Bank Danamon, pada tanggal
19 februari 2014 lalu (angsuran bulanan pinjaman jatuh tempo setiap tanggal
19).
Saat itu, staf Danamon beralasan pimpinannya sedang ikut training di Bali jadi
pelunasan tidak bisa diproses. Satu minggu kemudian, ia kembali lagi dan
bertemu langsung dengan Pimpinan Bank Danamon Taliwang, Wahyu, untuk
menyampaikan niat pelunasan tersebut.
“Baru saja saya duduk pimpinan bank langsung mengajukan pertanyaan
dengan nada tidak bersahabat, darimana dapat uang untuk pelunasan. Saya
jelas tersinggung, karena dari manapun uang tersebut, itu bukan urusan bank.
Masa sekelas pimpinan bank seperti dia tidak tahu etika menghadapi nasabah,”
cetusnya.
Kesan dipersulit semakin kentara ketika pimpinan bank tersebut
menyatakan bahwa untuk nasabah lancar atau tidak pernah lewat membayar
angsuran dari tanggal jatuh tempo setiap bulan seperti Khairil, proses
pelunasan pinjaman memang butuh proses panjang.
Itu pun nasabah diwajibkan menyetor uang pelunasan dimuka, dengan bunga
pinjaman tetap dihitung selama permohonan pelunasan belum disetujui pihak
bank, sementara untuk nasabah bermasalah prosesnya cepat.
“Ini kan aneh, masa nasabah lancar dipersulit, sedangkan nasabah bermasalah
langsung disetujui,” sesalnya. Meskipun merasa kesal, Khairil akhirnya setuju
dengan syarat tersebut dan menyetorkan uang untuk pelunasan sebesar Rp 104
juta pada tanggal 24 februari 2014. Tetapi pimpinan Danamon Taliwang
menyatakan permohonan pelunasan itu baru bisa diproses pada awal bulan dan
bunga pinjaman tetap dihitung. Pelunasan akhirnya baru disetujui pada
tanggal 5 maret 2014 dengan nilai pelunasan sebesar Rp.103 juta lebih.
Persoalan ternyata tidak selesai sampai disitu, karena meski telah melunasi
semua kewajibannya kepada Bank, sertifikat rumah yang dijadikan jaminan
sampai sekarang belum dikembalikan Danamon. Khairil menyatakan saat
pelunasan disetujui, staff bank tersebut berjanji paling lama sertifikat sudah
dikembalikan dalam jangka waktu 10 hari karena prosesnya harus melalui
notaris dan lokasi jaminan berada di Sumbawa. Selang 10 hari kemudian,
ketika kembali mendatangi Danamon, staff bank berdalih sertifikat itu belum
bisa dikembalikan karena masih diurus pihak notaris. Staff dimaksud meminta
Khairil kembali satu minggu lagi dengan alasan sertifikat itu masih diproses di
BPN (Badan Pertanahan Nasional) Sumbawa. “Tetapi satu minggu kemudian
alasannya masih tetap sama, sertifikat masih diproses di BPN dan kepala BPN
sedang cuti. Sampai lebih dari satu bulan alasannya tetap sama, saya juga
sempat diminta bicara langsung dengan staf notaris untuk memperkuat alasan
itu,” bebernya.
Terakhir, Khairil mendatangi Danamon Taliwang pada pertengahan april lalu
dan bertemu langsung dengan Dessy, pimpinan Danamon Taliwang pengganti
Wahyu yang telah dimutasi. Dessy lagi-lagi berjanji bahwa sertifikat itu segera
dikembalikan paling lama 1 April dengan alasan masih diurus di BPN Sumbawa,
mengingat kepala BPN masih tidak berada di ditempat, karena baru dimutasi.
Tetapi janji tersebut lagi-lagi tidak ditepati. “Kalau kepala BPN setahun tidak
berada di tempat berarti setahun juga sertifikat itu tidak diproses ? dimana
tanggungjawab Danamon terhadap nasabah ?,” ujarnya.
Ia mendesak Danamon untuk segera mengembalikan sertifikat dimaksud dan
menghimbau masayarakat untuk selektif dan berhati-hati memilih jika ingin
berurusan dengan bank.
“Saya akan melaporkan masalah ini ke lembaga perlindungan konsumen,
karena Danamon tidak menghargai dan mempermainkan nasabah. Seolah-olah
setelah mendapat keuntungan berlipat ganda, kepentingan nasabah diabaikan,”
tandasnya.

Anda mungkin juga menyukai