Anda di halaman 1dari 13

1.

DEFINISI

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) adalah penyakit infeksi saluran nafas
yang disesbakan oleh virus corona dengan sekumpulan gejala klinis yang sangat berat (Chen
&Rumende, 2006).

SARS adalah sindrom pernapasan akut berat yang merupakan penyakitinfeksi pada
jaringan paru manusia yang penyebabnya adalah Coronavirus (Poutanen et al .,2003).

Menurut literatur lain, SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) adalah


sekumpulan gejala sakit pernapasan yang mendadak dan berat atau disebut juga penyakit
infeksisaluran pernafasan yang disebabkan oleh virus Corona Family Paramyxovirus (Zhang
et al.,2006).

SARS (severe acute respiratory syndrome) adalah suatu jenis kegagalan paru- paru
dengan berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan di
paru-paru (edema paru). (Svoboda. 2006).
2. PATOFISIOLOGI

SARS secara klinis lebih melibatkan saluran nafas baian bawah dibandingkan
dengan saluran nafas dibagian atas. Pada saluran nafas bagian bawah, sel-sel asinus adalah
sasaran yang lebih banyak terkena dibandingkan trakea maupun bronkus. Patogenesis SARS
terdiri dari 2 macam fase (Chen danRumende, 2006),

2.1.6.1 Fasa Pertama

Terjadi selama 10 hari pertama penyakit, pada fase ini melibatkan proses akut yang
mengakibatkan diffuse alveolar damage (DAD) yang eksudatif. Fasa inidicirikan dengan
adanya infiltrasi dari sel-sel inflamasi serta edema dan pembentukan membran hialin.

Membran hialin ini terbentuk dari endapan protein plasma serta debris nucleus
dan sitoplasma sel-sel epitel paru (pneumosit) yang rusak. Dengan adanya nekrosis sel-sel
epitel paru maka barrier antara sirkulasi darah dan jalan udara menjadi hilang sehingga cairan
yang berasal dari pembuluh darah dapat masuk ke dalam ruang alveolus (efusi). Namun masih
belum dapat dibuktikan apakah kerusakan sel-sel paru tersebut diakibatkan karena efek toksik
dari virus tersebut secara langsung atau kerusakan tersebut terjadi karena perantara sistem
imun. Pada saat fase eksudatif ini dapat diamati dan diidentifikasi RNA dan antigen virus yang
terdapat pada makrofag alveolar.

2.1.6.2 Fasa kedua

Fasa ini dimulai tepat setelah fase pertama selesai (setelah 10 hari). Fasa iniditandai dengan
perubahan pada DAD eksudatif menjadi DAD yang terorganisir.Pada periode ini didapati
metaplasia sel epitel skuamosa bronchial, bertambahnyaragam sel dan fibrosis pada dinding
lumen alveolus. Pada fase ini juga tampak dominasi pneumosit tipe 2 dengan perbesaran
nucleus dan nucleoli yang eosinofilik.

Selanjutnya juga ditemukan adanya sel raksasa dengan banyak nucleus (multinucleated giant
cell) dalam rongga alveoli. Sel raksasa tersebut didugamerupakan akibat langsung dari COV
SARS, namun sumber lain mengatakan bahwa hal tersebut bukan karena COV SARS namun
disebabkan karena prosesinflamasi yang berat pada tahap DAD eksudatif.
3. INCIDENT AND PREVALENCE OF DISEASE.

3.1 INCIDENT.

WHO mengumumkan kesepakatan bahwa coronavirus yang baru teridentifikasi adalah


mayoritas agen penyebab SARS. Coronavirus berasal dari kata Corona yang berasal dari
bahasa Latin yang artinya mahkota. Ini sesuai dengan bentuk Coronavirus itu sendiri yang
kalau dilihat dengan mikroskop nampak seperti mahkota.

Penyebabnya lain bisa karena penyakit apapun, yang secara langsung ataupun tidak langsung
yang melukai paru-paru, diantaranya :

a) Pneumonia.

b) Tekanan darah yang sangat rendah (syok).

c) Terhirupnya makanan ke dalam paru (menghirup muntahan dari lambung).

d) Beberapa kerana transfusi darah.

e) Kerusakan paru-paru karena menghirup oksigen konsentrasi tinggi.

f) Emboli paru.

g) Cedera pada dada.

h) Overdosis obat seperti heroin, metadon, propoksifen atau aspirin.

i) Trauma hebat.

j) Transfusi darah (terutama dalam jumlah yang sangat banyak).


3.2 PREVALENCE

SARS diduga berasal dari Propinsi Guangdong di Cina daratan, muncul dan
menyerang manusia sekitar bulan November 2002. Namun pertama kali dikenal pada bulan
Februari 2003. Penyebabnya adalah coronavirus. Penyakit dengan gejala infeksi
saluran pernafasan berat disertai dengan gejala saluran pencernaan.Pada bulan Juli 2003 Out
break (KLB) terjadi di 6 wilayah yaitu Kanada, Cina daratan (yang berasal dari Guangdong
kemudian menyebar ke beberapakota besar, Taiwan dan Hongkong), Singapura dan Vietnam.
4. MANIFESTASI KLINIKAL.

Meskipun SARS merupakan virus yang menyerang system pernafasan namun beberapa khusus
ditemukan penderita dengan gejala multiorgan.

Manifestasi Pernafasan

Penyakit paru adalah gejala klinis utama dari penderita SARS, gejala- gejala utama yang timbul
antara lain :

1. Batuk kering

2. Sesak nafas

Pada tahap awal infeksi, gejala tersebut seperti pada Infeksi saluran nafaspada umumnya,
namun gejala tersebut mengalami perburuakan pada awal minggukedua. Dimana gejala sesak
makin lama akan semakin berat dan mulai membatasi aktifitas fisik pasien.

Sebanyak 20-25% pasien SARS mengalami progresi buruk kearah acute respiratory distress
syndrome (ARDS) akibat kerusakan pada pneumosit tipe 2 yang memproduksi surfaktan.

Gejala lain yang mungkin timbul adalah pneumotoraks dan penumomedistinum,yang


diakibatkan karena udara yang terjebak dalam ringga dada, hal ini dilaporkan sebanyak 12%
terjadi secara spontan dan 20% timbul setelah pengunaan ventilator di ICU (Chen & Rumende,
2006).

Penyebab kematian tersering pada SARS adalah dikarenakan oleh ARDS berat,kegagalan
multiorgan, infeksi sekunder, septicemia, serta komplikasitromboembolik.
5. KOMPLIKASI
6. STRATEGI DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT
7. STRATEGI DALAM KAWALAN PENYAKIT
8. STRATEGI DALAM REHABILITASI

Strategi rehabilitatif atau pemulihan perlu dilakukan terhadap pesakit yang dijangkiti penyakit
SARS. Antara strategi rehabilitatif yang dapat diambil ialah memberi sokongan kepada pesakit.
Ahli keluarga pesakit perlulah memberi sokongan moral dan semangat kepada pesakit agar
pulih dengan segera. Penolong Pegawai Perubatan juga perlu memberi kaunseling kepada
pesakit agar dapat membantu pesakit memulihkan kesihatan dan berfungsi kembali dalam
menjalani kehidupan setelah sembuh sepenuhnya. Selain itu, PPP perlulah merujuk kepada
jabatan atau sektor yang berkaitan seperti NGO untuk membantu pesakit pulih. Seterusnya,
memberi pendidikan kesihatan juga perlu dilakukan terhadap pesakit-pesakit yang dijangkiti
penyakit SARS agar dapat mengurangkan stigma.
9. PERANAN PENOLONG PEGAWAI PERUBATAN

Sebagai penolong pegawai perubatan (ppp), peranan dalam program kawalan dan pencegahan
SARS (severe acute respiratory system) adalah sangat memainkan peranan. Peranan PPP
adalah untuk memberi perkhidmatan pencegahan, kuratif dan pemulihan pada tahap yang
bersesuaian dalam perkhidmatan Perubatan dan Kesihatan di bawah pengawasan Penolong
Pegawai Perubatan.

Terdapat 3 peringkat yang dapat diambil dalam peranan penolong pegawai perubatan dalam
kawalan dan pencegahan SARS. Pertama ialah peringkat primer, iaitu untuk kawalan dan
pencegahan awal sebelum penyakit SARS berlaku. Yang kedua ialah peringkat sekunder, iaitu
untuk kawalan dan pencegahan semasa penyakit SARS berlaku. Yang ketiga pula ialah
peringkat tertiari, iaitu untuk kawalan dan pencegahan selepas berlakunya penyakit SARS
berlaku.

Peranan penolong pegawai kesihatan dalam peringkat primer ialah pengesanan kes. Pengesan
kes dilakukan dengan melakukan pengambilan spesimen darah untuk melakukan ujian darah
seperti BUSE. Selain itu, menjalankan aktiviti pendidikan kesihatan oleh Penolong Pegawai
Perubatan juga perlu dilakukan kepada masyarakat. Hal ini bertujuan untuk menyedarkan
masyarakat bahawa bahayanya penyakit SARS jika berlaku di Negara kita. Pendidikan
kesihatan yang dijalankan boleh melalui media massa seperti siaran radio dan siaran iklan
semasa.

Peranan penolong pegawai perubatan dalam peringkat sekunder pula ialah notifikasi kes.
Notifikasi kes ini bertujuan untuk notifikasi kes sebenar dan kes yang disyaki. Apabila adanya
pengesahan kes, item notifikasi individu yang positif dijangkiti penyakit SARS perlu diambil
agar dapat mengawal penyebaran penyakit SARS yang berlaku. Contoh item notifikasi yang
diambil ialah tarikh pengesanan, alamat pesakit, umur dan tanda-tanda yang ketara akibat
penyakit SARS. Seterusnya ialah PPP juga perlu melakukan pengasingan terhadap individu
yang dijangkiti SARS agar tidak menular dan merebak terhadap individu-individu lain.
Penolong Pegawai Perubatan perlu mengamalkan universal precaution seperti pencucian
tangan,penggunaan sarung tangan dan penggunaan mask sangat penting terutama pada darah
dan cecair badan yang lain.

Peranan penolong pegawai perubatan dalam peringkat tertier pula ialah membuat laporan kes
SARS yang berlaku. Laporan tersebut digunakan untuk membuat kajian dan penyelidikan serta
merujuk kes SARS yang berlaku ke hospital yang terdekat. Seterusnya, kes-kes SARS yang
berlaku dapat dirujuk untuk rehabilitatif.
10. PENUTUP.

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) adalah penyakit infeksi saluran nafas
yang disesbakan oleh virus corona dengan sekumpulan gejala klinis yang sangat berat (Chen
&Rumende, 2006).

SARS ini pertama kali terjadi di Guandong, Cina pada tahun 2002, dan penyebar ke
berbagai Negara disekitarnya, dan menyebabkan kasus mortalitas yang tinggi.

WHO mengumumkan kesepakatan bahwa coronavirus yang baru teridentifikasi adalah


mayoritas agen penyebab SARS. Penyebabnya lain bisa karena penyakit apapun, yang secara
langsung ataupun tidak langsung yang melukai paru-paru.

Tanda dan gejala dari penyakit SARS ini meliputi Demam > 380C, sesak
nafas, myalgia, menggigil, rasa kaku ditubuh, batuk non produktif, nyeri kepala dan
pusing, malaise.

SARS dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu suspect SARS dan probable SARS, yang
keduanya memiliki penanganan yang berbeza.

Diharapkan kepada seluruh masyarakat dan tenaga kesihatan untuk lebih berhati-hati
dan selalu waspada dalam menangani pasien atau klien yang terkena penyakit SARS. Karena
SARS dapat menular melalui contact langsung, terutama kepada tenaga kesihatan mempunyai
risiko paling tinggi untuk menular SARS.
11. RUJUKAN.

1. Anonym. 2003. Pedoman Surveilans Epidemiologi penyakit SARS.

2. Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume3, EGC,
Jakarta

3. Capernito, Linda juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC