Anda di halaman 1dari 16

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................i

DAFTAR ISI................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1

A. Latar Belakang....................................................................................................1

B. Tujuan Praktikum...............................................................................................1

BAB II DASAR TEORI..............................................................................................2

BAB III METODE KERJA........................................................................................6

A. Alat dan Bahan...................................................................................................6

B. Cara Kerja...........................................................................................................6

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.....................................................................9

A. Hasil....................................................................................................................9

B. Pembahasan......................................................................................................10

BAB V PENUTUP.....................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................15
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Laporan praktikum ini dibuat untuk memenuhi tugas Praktikum
Biokimia Klinis. Dalam praktikum ini membahas tentang Metabolisme –
Glikolisis Anaerob (Peragian). Metabolisme adalah suatu proses kimiawi yang
terjadi di dalam tubuh semua makhluk hidup, proses ini merupakan pertukaran
zat ataupun suatu organisme dengan lingkungannya.
Metabolisme makhluk hidup dapat terjadi secara aerob dan anaerob.
Dalam praktikum ini akan dibahas mengenai metabolisme karbohidrat secara
anaerob. Salah satu metabolisme karbohidrat secara anaerob dapat dilakukan
melalui glikolisis anaerob. Glikolisis adalah serangkaian reaksi biokimia
dimana glukosa dioksidasi menjadi molekul asam piruvat. Glikolisis anaerob
terjadi dalam keadaan tanpa oksigen. Proses glikolisis anaerob sendiri
menghasilkan lebih sedikit energi per molekul glukosa dibandingkan dengan
oksidasi aerobik yang sempurna. Dengan mempelajari proses glikolisis
anaerob diharapkan mahasiswa dapat memahami reaksi yang berlangsung
selama proses glikolisis anaerob.

B. Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui reaksi oksidasi karbohidrat oleh sel ragi
menghasilkan CO2 dan etanol dalam keadaan anaerob (glikolisis anaerob).

BAB II

LANDASAN TEORI

1
Metabolisme adalah serangkaian proses kimia yang terjadi dalam tubuh
untuk mendukung segala proses biologis dalam menyokong kehidupan suatu
individu. Proses ini mencakup anabolisme dan katabolisme. Anabolisme
merupakan reaksi yang merangkai senyawa organik dari molekul-molekul tertentu,
untuk diserap oleh sel tubuh dengan kata lain reaksi pembentukan senyawa yang
lebih besar yang berasal dari senyawa sederhana. Katabolisme merupakan reaksi
penguraian senyawa untuk mendapatkan energi.

Sumber energi terbesar manusia berasal dari karbohidrat, karena konsumsi


karbohidrat manusia rata-rata menempati porsi tertinggi dari sumber pangan
lainnya seperti protein dan lemak. Metabolisme karbohidrat dalam tubuh melalui
proses yang disebut glikolisis. Glikolisis dapat terjadi secara aerob (prosesnya
melibatkan oksigen) maupun anaerob (prosesnya tanpa ada oksigen). Glikolisis
aerob terjadi di mitokondria, sedagkan glikolisis anaerob terjadi di sitosol.

Gambar 1. Letak Glikolisis Aerob dan Anaerob

Glikolisis anaerob dibagi menjadi 2 yaitu glikolisis anaerob alkohol


(fermentasi) dan glikolisis anaerob asam laktat. Fermentasi terjadi pada tumbuhan
atau sel yang berasal dari tumbuhan, sedangkan glikolisis anaerob asam laktat
terjadi pada hewan atau sel hewan. Glukosa dengan proses glikolisis diubah
menjadi 2 asam piruvat. Pada glikolisis aerob, asam piruvat akan masuk ke tahap
selanjutnya yaitu proses dekarboksilasi oksidatif yang akan menghasilkan 2 asetil
Co-A dengan produk samping 2 NADH dan 2 CO 2. Asetil Co-A kemudian akan
masuk ke dalam siklus asam sitrat atau yang sering dikenal dengan siklus krebs
yang kemudian menghasilkan 6 NADH, 2 ATP, 4 CO 2, dan 2 FADH2. Pada
glikolisis anaerob yang terjadi di sel hewan, asam piruvat akan diubah menjadi
asam laktat dengan mereduksi NADH jadi NAD-. Sedangkan pada proses
fermentasi, Asam piruvat hasi glikolisis akan diubah menjadi 2 molekul
Asetaldehid dengan produk sampingan 2CO2 , kemudian asetaldehid akan diubah
menjadi 2 molekul alkohol dengan proses reduksi NADH2. Sehingga pada proses
fermentasi menghasilkan alkohol dan gas CO2 yang dapat teramati dengan
mengenali bau khas alkohol pada hasil fermentasi dan adanya gelembung-
gelembung udara yang dihasilkan.

Gambar 2. Proses Glikolisis Anaerob

Glukosa adalah gula yang umumnya sebagai substrat awal untuk proses
fermentasi. Karena glukosa melalui jalur glikolisis bisa langsung diubah menjadi
asam piruvat yang nantinya akan menjadi substrat untuk reaksi fermentasi, maka
glukosa merupakan gula yang paling mudah untuk difermentasi. Selain itu juga
glukosa terdapat dalam jumlah banyak bila dibandingkan dengan monosakarida
lain (Anna Poedjiadi, 1994). Namun bukan hanya glukosa yang dapat melalui
proses fermentasi, monosakarida lain seperti manosa, fruktosa, dan galaktosa pun
dapat difermentasi namun prosesnya tidak langsung. Melainkan harus melalui
beberapa proses pengubahan monosakarida tersebut oleh beberapa enzim yang
berperan untuk menjadi bentuk glukosa. Enzim galaktokinase digunakan pada
reaksi pengubahan galaktosa menjadi galaktosa-1-fosfat – yang kemudian diubah
menjadi uridin difosfat galaktosa (UDP-galaktosa) oleh enzim UDP
galaktosapirofosforilase yang terdapat di dalam hati orang dewasa. Selanjutnya
UDP galaktosa diubah menjadi UDP glukosa oleh enzim UDP glukosa epimerase
(Anna Poedjiadi, 1994).

Pada abad ke-19, Pasteur mengemukakan bahwa alkohol yang dihasilkan


dalam proses pembuatan minuman keras berasal dari mikroorganisme bersel satu
yang disebut dengan ragi (Saccharomyces). Sel-sel ragi merupakan
mikroorganisme yang mendapatkan energi yang dibutuhkan dengan cara respirasi
anaerob. Tahapan fermentasi alkohol juga menggunakan enzim sebagai
biokatalisator, enzim yang terlibat sebagai katalisator yaitu enzim-enzim maltasi
dan sukrase yang dimiliki oleh sel-sel ragi.

Dengan demikian, proses fermentasi membutuhkan enzim yang berbeda-


beda untuk memfermentasi gula. Sehingga proses fermentasi biasanya dibantu
oleh ragi yang mengandung mikroorganisme penghasil enzim tertentu untuk dapat
melakukan proses fermentasi sesuai substratnya. Contohnya Saccharomyces
cereviceae yang efektif digunakan sebagai m.o agen peragi untuk glukosa karena
mengandung enzim amilase.

Selain fermentasi alkohol, respirasi anaerob juga mencakup fermentasi


asam laktat. Fermentasi asam laktat terjadi pada oto manusia saat manusia tersebut
melakukan kerja keras dan persediaan oksigen kurang mencukupi. Berikut ini
adlah contoh reaksi yang terlibat dalam proses fermenatsi asam laktat. Proses
fermentasi asam laktat ini dapat terjadi oleh bantuan enzim laktase dan dengan
bantuan bakteri laktobacillus yang terdapat pada susu.

C6H12O6 → 2CH3CHOH.COOH + 28 Kal

Penimbunan laktat di dalam tubuh dapat menjadi masalah mendasar dalam


kinerja fisik, karena dapat menimbulkan kelelahan yang krnis dan menurunkan
kinerja fisik (Ahmaidi, 1996). Mekanisme pemulihan laktat dari darah dan otot
sangat dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan setelah aktivitas maksimalnya.
Hal ini akan mempengaruhi mekanisme keluarnya laktat dari otot ke darah,
meningkatnya aliran darah, ambilan laktat oleh hati, jantung dan otot rangka
(Weltman, 1998). Frementasi asam laktat dapat terjadi ketika kita melakukan
latihan anaerobik. Latihan anaerobik adalah latihan yang menggunakan energi
dengan sistem ATP-TC dan glikolisis anaerobik, dan latihan anaerobik adalah
latihan yang menggunakan sistem energi glikolisis anaerobik.

Sistem anaerobik selain dari resintesis ATP di dalam otot, adalah glikolisis
anaerobik, yang melibatkan pemecahan tidak sempurna dari salah satu bahan
makanan yaitu karbohidrat (gula), menjadi asam laktat. Di dalam tubuh, semua
karbohidrat dikonversi menjadi gula sederhana (glukosa) dan di simpan di dalam
hati dan otot dalam bentuk glikogen lalu diperguakan. Asam laktat adalah hasil
dari glikolisis anaerobik (Junusul Hairy, 1989).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


Sacharomyces Cereviseae ( Ragi )
Larutan Glukosa
Larutan Laktosa
Larutan Sukrosa
Lar NaOH
Beaker glass
Tabung Peragian
Gelas ukur
Batang pengaduk

B. Cara Kerja

No. Cara Kerja Hasil dan gambar


1. Timbang 1 gram ragi

2.  Masukan 1 gram ragi


pada 25 ml Glukosa
dalam Beaker glass
 Masukan 1 gram ragi
pada 25 ml Sukrosa
dalam Beaker glass
 Masukan 1 gram Ragi
pada 25 ml Laktosa
dalam Beaker glass
3. Aduk masing Beaker hingga
benar benar larut. Pastikan tidak
ada yang menempel pada
beaker glass dan batang
pengaduk
4. Masukan ke dalam tabung
peragian hingga ujung tutupnya
terpenuhi suspensi ragi
(Dibolak-balik 3 kali) untuk
memastikan suspensi ragi benar
benar memenuhi tutup tabung
peragian.

5. Diamkan selama 15 menit (bisa


lebih) hingga terbentuk
gelembung-gelembung udara
(CO2) dalam tabung peragian.

6. Ukur Tinggi kolom udara dalam


tabung peragian
7. Tambahkan 1 ml NaOH pada
tabung peragian

6. Pengujian dengan uji bau dan


Uji hisapan pada ibu jari.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Pengukuran Tinggi Kolom Udara dan Hisapan Pada Ibu Jari

Kel/karbohidrat Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3


Tinggi Hisapan Tinggi Hisapan Tinggi Hisapan
Kolom pada ibu Kolom pada ibu Kolom pada
udara (cm) jari udara (cm) jari udara (cm) ibu jari
Glukosa 3,95 +++ 4,5 + 6,7 +++
Sukrosa 7,2 ++ 9 + 8 +
Laktosa - - 0,1 - - -
Kelompok 4 Kelompok 5
Kel/karbohidrat
Tinggi Hisapan Tinggi Kolom Hisapan
Kolom pada udara (cm) pada ibu
udara (cm) ibu jari jari
Glukosa 5,8 + 6,5 ++
Sukrosa 9 + 7,5 ++
Laktosa 0,2 - 0,2 -

Keterangan :
+++ = sangat kuat + = sedang
++ = kuat - = tidak ada tarikan

2. Bau yang Timbul Pada Ketiga Tabung

Karbohidrat Bau tercium


Glukosa Berbau tape (seperti etanol)
Sukrosa Berbau tape (seperti etanol)
Laktosa Berbau tape (seperti etanol)
B. Pembahasan

1. Tabung 1 (Glukosa)
Metabolisme merupakan suatu proses reaksi kimia yang terjadi di
dalam tubuh makhluk hidup guna memperoleh energi untuk kelangsungan
hidupnya. Metabolisme terbagi menjadi anabolisme (proses
pembentukkan suatu senyawa dari yang sederhana menjadi kompleks) dan
kataboliseme (proses pemecahan senyawa dari yang kompleks menjadi
sederhana). Metabolism glikolisis terbagi menjadi likolisis aerob dan
glikolisis anaerob. Glikolisis aerob merupakan salah satu proses
katabolisme yang membutuhkan suasana aerobic sehingga dibutuhkan
oksigen dan reaksi ini menghasilkan energi dalam jumlah besar. Glikolisis
anaerob merupakan salah satu proses katabolisme yang tidak mampu
menggunakan oksigen bebas.
Pada praktikum glikolisis anaerob kali ini, dilakukan pengujian untuk
mengetahui reaksi oksidasi karbohidrat oleh sel ragi dalam kondisi
anaerob. Reaksi ini disebut juga reaksi glikolisis akohol. Dalam kondisi
anaerob, karbohidrat seperti glukosa dan sukrosa akan diuraikan oleh
enzim-enzim pada sel ragi menjadi etanol dan CO 2 sebagai produk atau
hasil akhir.
Glukosa + 2 Pi + 2 ADP → 2 etanol + 2 CO2 + 2 ATP + 2 ATP
Percobaan ini bertujuan membandingkan perbedaan hasil reaksi
oksidasi yang terjadi antara monosakarida glukosa dan disakarida yaitu
sukrosa dan laktosa. Ragi yang dipakai pada saat percobaan adalah ragi
roti (Saccharomyces cerevisiae). Percobaan didahului dengan pembuatan
suspensi ragi, dengan cara melarutkan 1 gram ragi roti dalam 25 ml
larutan glukosa 2%. Setelah semua ragi larut sempurna, suspensi ragi
dimasukkan ke dalam tabung peragian, lalu tabung dibolak-balik sebanyak
tiga kali sampai ujung tertutup tabung peragian dipenuhi suspensi ragi.
Hal ini sebisa mungkin dilakukan dengan cepat, tujuannya untuk
meminimalisir kontak antara oksigen dari lingkungan luar dengan
suspensi ragi, karena diharapkan proses glikolisis alkohol yang terjadi
adalah secara anaerob (tanpa adanya oksigen). Kemudian tabung
diberdirikan dan didiamkan selama ±15 menit, dan diamati tinggi kolom
udara yang terbentuk. Kolom udara terbentuk akibat adanya gas CO 2 yang
dihasilkan dari proses glikolisis anaerob ini. Semakin banyak CO 2 yang
terbentuk artinya semakin besar pula tekanan yang ada di dalam tabung
sehingga kolom udara terlihat lebih tinggi. Kemudian ditambahkan 1 ml
NaOH yang berfungsi untuk menambah kebasaan dari produk akhir, yaitu
etanol dan CO2. Selain diamati tinggi kolom udara yang terbentuk amati
pula ada atau tidaknya hisapan ketika ujung ibujari dipakai untuk menutup
ujung terbuka tabung peragian segera setelah penambahan NaOH. Adanya
hisapan pada ibu jari menandakan adanya gas CO2 yang dihasilkan yang
kemudian bereaksi dengan kulit ibu jari dan bau yang diharapkan adalah
bau khas dari etanol.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami (kelompok 5) diperoleh
tinggi kolom udara pada tabung peragian yang berisi glukosa, sukrosa, dan
laktosa secara berturut-turut 6,5 cm, 7,5 cm, dan 0,2 cm. Hasil ini
menunjukkan bahwa tinggi kolom udara pada tabung peragian yang berisi
glukosa lebih tinggi dari pada laktosa, namun lebih rendah dari pada
sukrosa. Hasil yang seperti ini juga terjadi pada keempat kelompok
penguji lainnya. Tinggi kolom udara glukosa, sukrosa, laktosa secara
berturut-turut untuk kelompok 1 yaitu 3,95 cm, 7,2 cm, 0 cm; kelompok 2
yaitu 4,5 cm, 9 cm, 0,1 cm; kelompok 3 6,7 cm, 8 cm, 0 cm; dan
kelompok 4 yaitu 5,8 cm, 9 cm, 0 cm. Seharusnya diantara glukosa,
sukrosa dan laktosa yang menghasilkan tinggi kolom udara yang paling
tinggi adalah glukosa. Bau etanol yang tercium juga sangat jelas pada
tabung peragian yang berisi glukosa.
Pada tabung peragian yang berisi glukosa reaksi pertama yang terjadi
adalah piruvat dihasilkan dari pemecahan glukosa yang kehilangan gugus
karboksilnya oleh kerja piruvat dekarboksilase. Reaksi ini merupakan
dekarboksilasi sederhana dan tidak melibatkan oksidasi total piruvat.
Kemudian dengan penambahan H+ piruvat diubah menjadi asetaldehida.
Dan pada tahap akhir, asetaldehida direduksi menjadi etanol dengan
NADH yang diberikan dehidrogenasi gliseraldehida 3-fosfat, yang
menghasilkan tenaga pereduksi ini melalui kerja alkohol dehidrogenase.
Produk akhirnya adalah etanol dan CO2. Sehingga pada tabung peragian ini
tercium bau etanol yang cukup kuat dan tinggi kolom udara yang
terbentuk pada tabung juga cukup tinggi. Adanya CO2 juga dibuktikan
dengan adanya tarikan yang cukup kuat ketika menempelkan ibu jari ke
ujung terbuka tabung peragian.

2. Tabung 2 (Sukrosa)
Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa pada tabung kedua terbentuk
kolom udara dan adanya hisapan ibu jari yang mengindikasikan
terbentuknya CO2 dan terdapat bau seperti tape yang mengindikasikan
adanya etanol. Namun dari data yang ada pada tabung kedua menunjukkan
bahwa tinggi kolom udara hasil glikolisis anaerob berupa gas CO2 yang
terbentuk lebih tinggi dari glukosa, hal ini pun terlihat dari data semua
kelompok. Seharusnya kolom udara yang terbentuk oleh substrat glukosa
lebih tinggi hal ini dikarenakan glukosa adalah monosakarida sedangkan
sukrosa adalah disakarida yang tersusun atas glukosa dan fruktosa yang
terikat pada ikatan 1,2 -(alfa) dan membutuhkan enzim untuk
memecahnya menjadi gula sederhana, namun gugus anomerik (karbon
karbonil monosakarida) pada glukosa dan fruktosa tidak digunakan untuk
berikatan dalam air sehingga kedunya tidak memiliki gugus hemiasetal
sehingga proses penguraiannya lebih seserhana. Setelah proses pemecahan
terjadi terpisahlah antara molekul glukosa dan molekul fruktosa, glukosa
inilah yang digunakan oleh sel ragi untuk diubah menjadi CO2 dan etanol
namun karena sukrosa terbentuk atas glukosa dan fruktosa seharusnya
CO2 yang di hasilkan lebih sedikit karena molekul glukosa pada sukrosa
memiliki kadar yang lebih sedikit dibandingkan dengan molekul glukosa
murni.

3. Tabung 3 (Laktosa)
Pada sampel laktosa, berdasarkan hasil percobaan yang telah
dilakukan oleh kelompok 1, 2, 3, 4 dan 5 menunjukkan bahwa pengukuran
tinggi kolom udara pada laktosa cenderung tidak ada dan juga tidak ada
tarikan pada hisapan ibu jari. Hal ini dikarenakan pada laktosa tidak
menghasilkan CO2 dan disebabkan juga karena enzim yang bekerja tidak
sensitif (spesifik) terhadap laktosa. Pada percobaan ini, enzim yang
dihasilkan adalah enzim amilase dalam ragi roti (dari bakteri
Saccaromyces cerevisiae), sedangkan laktosa merupakan substrat alami
Lactobacillus bulgaricus, bakteri ini mempunyai enzim laktase yang biasa
digunakan untuk memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa
(Martoharsono, 2006). Laktosa adalah bentuk disakarida dari karbohidrat
yang dapat dipecah menjadi bentuk lebih sederhana yaitu galaktosa dan
glukosa. Laktosa ada di dalam kandungan susu, dan merupakan 2-8 persen
bobot susu keseluruhan. Sifat enzim laktase ialah spesifik pada satu
substrat saja, yaitu laktosa dan bekerja memutuskan ikatan glikosida pada
laktosa. (Gaman & Sherrington, 1994).

BAB V

PENUTUP

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa :


1. Glukosa memiliki tinggi kolom udara yang paling tinggi dan memiliki bau
etanol yang paling kuat diantara sukrosa dan laktosa. Sehingga urutannya
adalah Glukosa, Sukrosa, Laktosa.
2. Hal ini disebabkan karena, Glukosa adalah monosakarida sedangkan Sukrosa
adalah disakarida yang tersusun atas glukosa dan fruktosa yang terikat pada
ikatan 1,2 -(alfa) dan membutuhkan enzim untuk memecahnya menjadi gula
sederhana, namun gugus anomerik (karbon karbonil monosakarida) pada
glukosa dan fruktosa tidak digunakan untuk berikatan dalam air sehingga
kedunya tidak memiliki gugus hemiasetal sehingga proses penguraiannya
lebih sederhana. Sedangkan pada Laktosa tidak menghasilkan CO2 dan
disebabkan juga karena enzim yang bekerja tidak sensitif (spesifik) terhadap
laktosa. Pada percobaan ini, enzim yang dihasilkan adalah enzim amilase
dalam ragi roti (dari bakteri Saccaromyces cerevisiae), sedangkan laktosa
merupakan substrat alami Lactobacillus bulgaricus, bakteri ini mempunyai
enzim laktase yang biasa digunakan untuk memecah laktosa menjadi glukosa
dan galaktosa

DAFTAR PUSTAKA

Ahmaidi S. 1996. Effect of Active Recovery on Plasma Lactate and Anaerobic Power
Following Repeated Intensive Exercise. Med Sci Sport Exercise.
Anonim. TT. Fermentasi. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Fermentasi pada
tanggal 03 Oktober 2017.

Aryulina, Diah., dkk. 2007. Biologi SMA dan MA untuk Kelas XII. Erlangga.

Azhari, Muhammad Alwin dkk. 2015. “Fermentasi”. Diakses dari


http://www.academia.edu/
17199643/Laporan_Praktikum_Metabolisme_Fermentasi (1 Oktober 2017)

Gaman, P.M. dan KB Sherrington. 1994. Ilmu Pangan Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi
dan Mikrobiologi. Yogyakarta: UGM Press.

Harahap, Fauziyah. 2012. Fisiologi Tumbuhan : Suatu Pengantar. Medan : Unimed

Press.

Junusul Hairy. 1989. Fisiologi Olahraga. Jakarta : Dirjen Dikti.

Kristiyanto, Sidan. 2013. Buku Paten Biologi SMA. Yogyakarta : Laksana.

Martoharsono, S. 2006. Biokimia. Gajah Mada University Press: Jakarta.

Meiyanto, Edy. 2009. “VIII Glikolisis”. Diakses dari


edymei.blog.ugm.ac.id/files/2009/03/viii- (1 Oktober 2017)

Poedjiadi Anna, Titin Supriyanti. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit


Universitas Indonesia

Priani, Ninuk. 2003. Metabolisme Bakteri. Medan : Universitas Sumatera Utara.

Weltman A. 1998. Repeated Bouts of Exercise Alter the Blood Lactate RPE Relation.
Medical Science Sport Exercise.

Widiyanto. Latihan Fisik dan Laktat. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.