Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

DESAIN PESAN PEMBELAJARAN


PRINSIP-PRINSIP DESAIN PESAN MULTIMEDIA

Sebagai Tugas Mata Kuliah

Dosen Pengampu
Dr. Ali Muhtadi

Disusun oleh:
A.A. Gede Puja Wiguna
17707251015

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBELAJARAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulisan makalah yang berjudul:
“Prinsip-Prinsip Desain Pesan Multimedia” dapat diselesaikan tepat waktu
Makalah ini disusun sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Desain Pesan
Pembelajaran. Ucapan terima kasih disampaikan dengan hormat kepada Dr. Ali Muhtadi.
selaku dosen pengampu yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengkaji
pokok materi ini. Dan juga kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam
menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah masih banyak kekurangan
baik isi maupun penulisan. Oleh sebab itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dalam penyempurnaan makalah selanjutnya.

Yogyakarta, Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii

DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2

C. Tujuan ............................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Multimedia ................................................................................. 3

B. Perkembangan Pemanfaatan Multimedia ...................................................... 3

C. Strategi Pendayagunaan Multimedia ............................................................. 5

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN .......................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 9


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah multimedia membawa dampak yang luas dalam kehidupan manusia. Seiring
dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat, istilah multimedia
semakin populer. Istilah itu tidak saja merujuk pada topik, materi, mata pejalaran di sekolah dan
mata kuliah di perguruan tinggi, tetapi lebih dari itu juga merujuk pada bidang keahlian, profesi
dan bahkan merujuk pada perangkat untuk memainkan program tersebut. Oleh karena itu, tak
bisa dipungkiri bahwa istilah itu kini banyak digunakan di masyarakat.
Definisi multimedia secara terminologis adalah kombinasi berbagai media seperti teks,
gambar, suara, animasi, video dan lain-lain secara terpadu dan sinergis melalui komputer atau
peralatan elektronik lain untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pengertian ini terdapat dua kata
kunci yakni terpadu dan sinergis. Hal ini menunjukkan bahwa komponen-komponen multimedia
haruslah terpadu atau terintegrasi dan satu sama lain harus saling mendukung secara sinergis
untuk mencapai tujuan tertentu. Di samping itu, dalam pengertian tersebut mengandung makna
bahwa tiap komponen multimedia harus diolah dan dimanipulasi serta dipadukan secara digital
menggunakan perangkat komputer atau sejenisnya.
Dalam multimedia tidak harus berisi semua aspek media tersebut, tetapi paling tidak
berisi dua jenis media misalnya teks dan gambar. Namun yang penting adalah bahwa masing-
masing jenis media tersebut harus terpadu dan saling sinergis. Misalnya untuk menyampaikan
suatu pesan pembelajaran tertentu, kita bisa menggunakan multimedia berupa perpaduan teks
dan gambar yang saling berhubungan (terpadu) serta saling menguatkan (sinergis).
Multimedia dibuat untuk tujuan tertentu tergantung pemanfaatannya. Multimedia yang
digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami pesan dalam pembelajaran sehingga
mencapai tujuan pembelajaran tertentu sering disebut dengan multimedia pembelajaran.
(Herman, 2017)
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumusan masalah yang akan di kaji yakni:
1. Apa pengertian multimedia ?
2. Bagaimana perkembangan dan pemanfaatan multimedia ?
3. Bagaimana strategi pendayagunaan multimedia ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dalam yang hedak dicapai dalam penulisa makalah ini ialah:
1. Memahami pengertian multimedia.
2. Memahami perkembangan dan pemanfaatan multimedia.
3. Memahami strategi pendayagunaan multimedia.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Multimedia
Perkembangan teknologi komunikasi yang berlangsung sangat pesat telah mengubah
cara pandang terhadap proses pembelajaran. Berlangsungnya proses pembelajaran tidak lagi
mutlak bergantung kepada tersedianya narasumber, tempat dan waktu belajar. Ketersediaan
beragam media, baik berupa perangkat lunak maupun perangkat keras, telah memungkinkan
proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan kebutuhan individu (learner). Akses terhadap
infomasi dan ilmu pengetahuan menjadi semakin meluas bersamaan dengan berkembangnya
teknologi komunikasi. Program multimedia interaktif modern memberikan perpaduan yang
lebih baik antara kontrol pelajar dan program. Selain itu, strategi instruksional dan kontrol
pengguna semakin didasarkan pada kebutuhan dan perbedaan individual. (Alessi and Trollip,
2001)
Ada empat model interaksi pembelajaran yang menggambarkan pemanfaatan medium
sebagaimana dikemukakan oleh Jonassen. dkk. (l991), sebagai berikut; model 1. proses
pembelajaran pada tempat dan waktu yang sama (same lime/same place instruction). model
2, proses pembelajaran pada waktu yang sama namun pada tempat yang berbeda (same
time/different instruction), model 3, proses pembelajaran pada waktu yang berbeda namun
berada pada tempat yang sama (different link/same place instruction), model 4, Proses
pembelajaran berlangsung pada waktu dan tempat yang berbeda (different time/different
place instruction).
Media merupakan kata jamak dari kata medium berarti “perantara”, merupakan
sarana komunikasi yang memudahkan penggunanya dalam belajar (Sharon, Deborah dan
James, 2011). Dalam proses pembelajaran media dapat diartikan sebagai “Anything that
carries information between a source and receiver” (heinich, dkk., I986). J. Kemp (1986)
mengemukakan klasifikasi media pembelajaran sebagai berikut:

a. Media cetak (printed media)


b. Media pameran (display media)
c. Overhead transparancies
d. Rekaman pita audio ( audiotape recordings)
e. Slide series dan filmstrips
f. Presentasi multi gambar (multi image presentation)
g. Rekaman video dan film (video recordings and motion picture film)
h. Pembelajaran berdasaskan komputer (computer based instruction)

B. Perkembangan dan Pemanfaatan Multimedia

Media atau teknologi pembelajaran telah berkembang dari yang sederhana sampai yang canggih.
Perkembangannya dapat dilihat sebagai berikut:

1. Media audio

Pilihan media interaktif yang sederhana adalah telepon. Sebagai media komunikasi telepon
dapat dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan dan belajar. Pada awalnya memang aneh belajar
lewat telepon namun lama kelamaan cara baru ini, baik perorangan maupun kelompok lewat
konperensi audio mulai memasyarakat khususnya di negara maju. Perlu ditambahkan juga,
pemanfaatan teknologi audio dapat juga berbentuk kaset audio, siaran radio dan CD.

2. Media audio dan data

Salah satu kelemahan konperensi audio adalah tidak adanya visual dalam proses belajar
tersebut. Perpaduan kemampuan audio dari telepon dan kemampuan data komputer telah
melahirkan aplikasi belajar jarak jauh yang disebut audiografis. Di sini telepon digunakan untuk
interaksi suara dua arah sedangkan komputer digunakan untuk berbagi bahan grafis dan
memungkinkan dilaksanakannya kerja bersama di antara siswa.

Paling tidak ada tiga teknologi penunjang komunikasi audiografis, yaitu peralatan callback,
voice mail. dan fax. Seringkali pula teknologi, telepon dipadukan dengan sistem video satu arah
yang memungkinkan dilakukan interaksi. Peralatan callback memungkinkan siswa menerima
pelajaran melalui video satu arah dan melayangkan tanggapan ke penyelenggara pendidikan atau
berinteraksi dengan siswa yang lain. Voice mail memungkinkan pernbicara telepon
meninggalkan pesan yang dapat ditelusuri ulang oleh siswa. Voice mail juga dapat dimanfaatkan
sebagai alat belajar mengajar yang efektif terutama bila dipadukan dengan teknologi
penyampaian yang lain. Faksimili memungkinkan pertukaran pesan tertulis antara warga belajar
dengan pengelola lembaga pendidikan tersebut.

3. Media video

Teknologi yang masuk dalam kategori ini adalah kaset video, siaran video satu arah, Video
On Demand, Video dan CBT, video dua arah, siaran TV, Lasser Disk dan VCD. Kita telah tahu
bahwa kaset video memiliki keluwesan dalam penggunaannya baik untuk tujuan pembelajaran
maupun untuk komunikasi manajemen. Program video tersebut dapat juga disiarkan secara satu
arah untuk mengkomunikasikan kebijakan pengelola lembaga pendidikan maupun untuk
menunjang proses pembelajaran. Nilai siaran ini akan makin tinggi apabila tokoh yang ada di
program tersebut memiliki reputasi tinggi di bidangnya.

Pada mulanya Video On demand (VOD) dimaksudkan untuk melayani orang yang ingin
menonton film tanpa harus memiliki VCR atau kasetnya, tetapi cukup dengan menghubungi
penyelenggara. Kini telah banyak hotel yang memberikan layanan VOD ini. Teknologi inipun
dapat digunakan untuk tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Untuk memperkuat pola komunikasi program video bisa dipadukan dengan teknologi yang
lain. Video, Computer Based Training (CBT) dan sumber-sumber data dapat memungkinkan
siswa memperoleh pengalaman belajar yang kaya. Penyajian satu arah video diperkaya unsur
komunikasi dua arah CBT walaupun sifat interaksinya terprogram.

Video dua arah memungkinkan diselenggarakan konperensi video antara penyelenggara


pendidikan atau staf pengajar dengan para siswanya. Dengan perlengkapan kamera, monitor, dan
mikropon, hubungan titik ke titik atau hubungan banyak titik memungkinkan staf pengajar dan
warga belajar bisa melihat dan mendengar satu sama lain.

4. Computer Based Training (CBT)

Pendidikan dan pelatihan berbasis komputer adalah bentuk lain dari aplikasi teknologi untuk
pendidikan yang menggunakan komputer sebagai alat untuk menyampaikan pelajaran atau
mengelola pengalaman belajar siswa. Bentuknya bisa Computer Asstssted Instruction (CAI) atau
Computer Managed instruction (CMI). Pada CAI fokusnya adalah penyampaian pelajaran
dengan menggunakan komputer sebagai sarana penyajian, sedangkan pada CMI komputer
terutama dimaksudkan untuk mengelola pembelajaran siswa, secara otomatis dapat menyimpan
dan menemukan data siswa, pendaftaran, pengujian, bimbingan siswa serta untuk mendiagnosa
keperluan belajar siswa secara orang perorang. Secara singkat CMI memungkinkan staf pengajar
mengelola pemberian layanan bantuan belajar secara individual kepada banyak siswa.

5. Konperensi komputer.

Computer Conferencing adalah istilah umum yang digunakan untuk memayungi berbagai
kegiatan penerapan teknologi komputer untuk menunjang komunikasi antar manusia. Yang
paling lazim dalam kelompok konperensi berbasis komputer ini adalah surat elektronik (e-mail),
sistem konperensi kelompok (group conferencing system) dan sistem penyampaian pesan
interaktif (interactive messaging system).

Surat elektronik yang paling sederhana melibatkan dua pengguna komputer yang bisa
berhubungan secara langsung dan pribadi tanpa mengenal batas waktu, ruang (tempat, kota,
negara, dll) dan birokrasi. Seperti halnya voice-mail penggunaan teknologi ini dalam
pembelajaran memungkinkan siswa meninggalkan pertanyaan kepada pengajar untuk dijawab
atau sebaliknya. Jawaban juga dapat disimpan untuk dibuka sewaktu-waktu. Keluwesan
merupakan salah satu kekuatan teknologi ini. Kelebihannya dibanding dengan voice-mail adalah
siswa lain juga dapat mengakses tanya-jawab tersebut.

Kemampuan surat elektronik ini diperluas dengan sistem konperensi kelompok yang melibatkan
lebih banyak peserta didik pada waktu yang sama. Pada umumnya konperensi komputer bersifat
tunda waktu namun beberapa sistem konperensi telah memungkinkan interaksi dua arah
dilakukan pada saat yang sama.

6. Pendidikan dan pelatihan di internet.

Dalam situasi yang berkembang dan berubah cepat seperti dewasa ini diperlukan tersedianya
sumber -sumber belajar yang aktual, kaya dan mudah dijangkau. Internet adalah teknologi yang
memberikan landasan kuat bagi penciptaan lingkungan belajar yang kaya dan luwes serta mampu
memenuhi kebutuhan pendidikan dan latihan. Sebagaimana jaringan telepon internasional yang
mengkomunikasikan suara, internet mengkomunikasikan data.
Surat elektronik sebenarnya juga merupakan aplikasi dari internet. Aplikasi lainnya adalah
Mailing List. Newsgroup, File Transfer Protokol (FTP), dan World Wide Web (WWW). Dengan
Mailing List penggunaan surat elektronik untuk mengadakan diskusi elektronik dapat dilakukan
biasanya pada kelas-kelas jarak jauh. Pada tahun 1996 saja telah ada sekitar 1000-2000 mailing
list elektronik dari berbagai bidang di internet. Dengan newsgroup konperensi elektronik dapat
dilakukan untuk kelas jarak jauh. Lebih dari 30.000 newsgroup dari berbagai bidang dapat kita
lihat di internet Sementara itu FTP memungkinkan pengambilan arsip file secara elektronik.
Berbagai laporan studi dapat diambil dan disebarluaskan menggunakan fasilitas ini. Data base
yang sifatnya terdistribusi, maupun infomasi-infomasi lain secara elektronik dapat diakses
dengan menggunakan fasilitas Web.

Dengan berkembangnya teknologi Web maka aplikasi internet untuk pendidikan semakin
beragam berkat kemampuan-web untuk mengirimkan tulisan, gambar, dan suara secara
bersamaan. Contoh aplikasi Web tersebut dapat kita lihat pada Virtual University, perpustakaan,
ensiklopedia, junal ilmiah, dan majalah sekolah di internet. Virtual Class. virtual campus, virtual
university, adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut proses pendidikan dan
pembelajaran yang dilakukan secara elektronik dengan menggunakan internet. sering pula kita
dengar istilah lain yang kurang lebih mengarah ke hal yang sama yaitu on-line courses atau on-
Iine campus. Jumlah perguruan tinggi maya ini makin bertambah banyak dari waktu ke waktu.
Perpustakaan elektronik di intemet juga merupakan aplikasi lainnya. Konsep perpustakaan yang
selama ini dikaitkan dengan gedung megah dengan banyak lantai dan ribuan koleksi pustaka
mulai bergeser ke perpustakaan maya yang mengandalkan kekuatan jaringan. Perpustakaan
menjadi lebih agresif berinteraksi dengan penggunanya. Perpustakaan terbesar seperti The
Library of Congress sebagian dari informasinya dapat diakses dengan melalui internet, Masih
banyak perpustakaan lain yang serupa. Kita juga dapat menjelajahi ensiklopedia di internet.
Ensiklopedia Britanika adalah salah satu contoh ensiklopedi yang pertama ada di internet,
kemudian disusul oleh ensiklopedia-ensiklopedia lainnya.

Akses ke jurnal ilmiah bagi dunia pendidikan di lndonesia merupakan masalah tersendiri,
sebagian karena keterbatasan dana yang ada. Dengan adanya jurnal ilmiah di internet kita bisa
mengakses informasi ilmiah terakhir dari seluruh pelosok dunia dengan biaya yang relatif murah.
Dengan menggunakan search engine kita dapat juga mendapatkan artikel yang kita minati.
Kecuali jurnal dapat juga kita baca majalah atau terbitan periodik di internet. Dengan media ini
lembaga pendidikan dapat memberi fasilitas berekspresi diri para siswanya, komunikasi antar
alumni dan dengan pengelola lembaga pendidikan. Telpon genggam serba guna juga dapat
digunakan sebagai mobile multimedia. Alat komunikasi ini telah terbukti pula bermanfaat untuk
menunjang kegiatan belajar dan pendidikan karena dengan multimedia ini bisa mengakses bukan
saja suara tetapi juga gambar dan video.

Di manapun berada seseorang dapat berperan serta dalam video conference atau mengirim
pesan dan gambar-gambar ke penerima pesan yang diinginkan. Dengan mobile multimedia ini
dapat mengakses virtual shops atau digital library atau ensiklopedia di internet. Dari uraian di
atas dapat dirasakan betapa teknologi komunikasi dan informasi telah memberikan sumbangan
yang begitu besar pada penyelenggaraan pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Aplikasi
teknologi komunikasi dan infomasi telah memungkinkan terciptanya lingkungan belajar global
yang terhubungkan dengan jaringan. Kondisi ini benar-benar telah menempatkan diri siswa atau
peserta belajar di tengah-tengah proses pembelajaran yang dikelilingi oleh berbagai sumber
belajar dan layanan belajar elektronik, mulai dari staf pengajar dan tutor, layanan informasi dan
dukungan siswa baik yang bersifat administratif maupun akademis. Sistem pendidikan
konvensional sudah saatnya untuk tidak bersifat “angkuh” dan seharusnya menunjukkan sikap
yang “bersahabat” dengan alternatif cara belajar yang baru yang saarat dengan teknologi ini.

Keluhan para guru selama ini karena saratnya target kurikulum yang harus dicapai,
sementara terbatasnya jam pelajaran yang tersedia di sekolah telah terbukti dapat diatasi bila
mereka rela menyerahkan sebagian tugasnya kepada sumber-sumber belajar baru dan siswa mau
berinteraksi sendiri di luar jam sekolah dengan sumber-sumber belajar tersebut. Kecenderungan
akan adanya sekolah atau kelas tanpa dinding sudah bukan lagi omong kosong karena sudah
tampak di depan mata kita. Pagar-pagar birokrasi yang secara tradisional dibangun dengan kuat
nampaknya perlu mulai dibuka untuk menerima kenyataan yang ada.

Konvergensi antara kedua model, pendidikan ini sudah menjadi tuntutan jaman apabila kita
benar-benar mau berpacu dengan waktu menyongsong era persaingan bebas yang sudah mulai
berlangsung. Sudah barang tentu mutu yang berstandar global harus tetap menjadi acuan dalam
mendaya gunakan media dan teknologi ini. Untuk itu pengelola pendidikan baik di tingkat
lembaga maupun tingkat departemen hendaknya secara bijak menyikapi perkembangan ini.
C. Strategi Pendayagunaan Multimedia

Tidak perlu diragukan lagi sumbangan teknologi khususnya media komunikasi dan infomasi
bagi pendidikan. Namun ada baiknya berhati-hati dalam mendayagunakan teknologi / media
untuk pendidikan. Beberapa isu perlu diperhatikan, antara lain:

1. Media tepat guna.

Kata tepat guna (appropriate) adalah kunci keberhasilan pendayagunaan teknologi untuk
memecahkan masalah pendidikan. Yang penting bukanlah seberapa canggih teknologi yang
digunakan tetapi seberapa sesuaikah teknologi tersebut dengan kebutuhan, masalah dan kondisi
yang ada. Teknologi tidak akan mendatangkan perbaikan dengan sendirinya namun sangat
tergantung pada orang yang mengembangkan dan memanfaatkannya. Potensi teknologi hanya
akan tinggal sebagai potensi apabila tidak didayagunakan dengan sengaja, terencana dan
sistematis.

2. Kebudayaan.

Media/teknologi adalah bagian dari kebudayaan tetapi tidak selalu sesuai satu sama lain.
Seringkali ada pertentangan kepentingan. Teknologi bersifat moral dan tidak memihak. Moralitas
teknologi terletak pada bagaimana ia digunakan. Bukan perangkat keras yang menjadi masalah,
tetapi bagaimana program atau perangkat lunak pesan-pesan dirancang dan disajikan lewat
perangkat keras tersebut.

3. Teknologi dan pemerataan.

Ada kecenderungan teknologi memperlebar kesenjangan antara yang maju dan yang
terbelakang, yang kaya dan yang miskin, kota dan desa. Teknologi seharusnya juga memeratakan
kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu seluas-luasnya.

4. Bahaya salesman.

Sering kali teknologi mahal digunakan semata-mata karena diberi secara cumacuma oleh
perusahaan besar atau dengan harga murah. Pemasar teknologi biasanya cenderung berbicara
tentang kehebatan, perangkat keras dan kurang memberikan perhatian pada konsep bahan
belajar, strategi belajar mengajar, masalah akses dan tenaga. Dalam banyak kasus sering kali
teknologi yang menggiring arah pendidikan, bukannya kebutuhan atau permasalahan pendidikan
yang ada.

5. Over expectation.

Banyak orang berpikir bahwa teknologi adalah obat mujarab yang dapat memecahkan semua
masalah (termasuk pendidikan). Kita tidak boleh terlalu berharap karena teknologi tidak
selamanya menjadi solusi yang dapat menjamin terlaksananya proses belajar yang baik.
Teknologi hanyalah alat yang dapat menunjang pendidikan dan pembelajaran.

6. Rate of adoption.

Adopsi teknologi merupakan permasalahan tersendiri. Pemanfaatan teknologi dalam


pendidikan jarak jauh relatif lebih cepat dan maju dibandingkan dengan pendidikan
konvensional. Pendidikan dalam kenyataannya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pasar
(market driven) dan relatif lamban mengadopsi teknologi. Berbeda dengan sektor swasta,
penerapan teknologi di bidang pendidikan tidak dipandang sebagai masalah hidup mati tetapi
lebih banyak sebagai simbol kemajuan.

7. Efektivitas biaya.

Efektivitas biaya juga menjadi isu yang sering dipersoalkan. Ini bisa dipahami karena pada
dasarnya teknologi harus memenuhi prinsip efisiensi dan efektivitas. Pendayagunaan teknologi
dalam pendidikan tidak selamanya berjalan dengan baik dan lancar. Semuanya bergantung pada
proses alih teknologi baik hardware maupun sofiwarenya. Seringkali alih teknologi
menimbulkan masalah lain. Kegagalan terjadi kemungkinan disebabkan oleh hal-hal seperti:

a. Tidak sesuai dengan tuntutan kebutuhan.


b. Kurang kesungguhan dalam penerapannya.
c. Kurang dana pendukung.
d. Terlalu memusatkan perhatian pada perangkat keras.
e. Kurang terkaitnya perangkat lunak dengan tuntutan kurikulum.
f. Ketidakpuasan akan status quo (mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti
keadaan sebelumnya).
g. Sumber daya manusia yang mendukung.
h. Dukungan sumber.
i. Ganjaran dan hukuman dalam pendayagunaan teknologi.
j. Komitmen dan peran serta semua pihak.
k. Kepemimpinan.
l. Cukup waktu pemasyarakatannya.
BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

Media merupakan kata jamak dari kata medium yang berarti “perantara”. Dalam proses
pembelajaran media dapat diartikan sebagai pembawa informasi diantara sumber dan penerima.
Media atau teknologi pembelajaran telah berkembang dari mulai yang sederhana hingga yang
paling mutakhir. Perkembangannya menyebar dari mulai audio, audio dan data, video, computer
based training, konperensi computer, pendidikan dan latihan di internet.

Dalam menggunakan multimedia perlu memerhatikan beberapa isu yang berkaitan


dengan penggunaan media tepat guna, kebudayaan, pemerataan teknologi, bahaya selesman, over
expectation, rate of adoption, dan efektivitas biaya. Sedangkan kegagalan dalam
mengaplikasikan multimedia seringkali terjadi disebabkan oleh hal-hal seperti; tidak sesuai
dengan tuntutan kebutuhan, kurang bersungguh-sungguh dalam penerapannya, kurang dana
pendukung, terlalu berfokus pada perangkat kerasnya saja, kurang terkaitya perangkat lunak
dengan tuntutan kurikulum, ketidakpuasan akan status quo, sumber daya manusia yang
mendukung, dukungan sumber, ganjaran dan hukuman dalam pendayagunaan teknologi,
komitmen dan peran serta semua pihak, kepemimpinan, serta kurangnya pemasyarakatan.
DAFTAR PUSTAKA

Alessi, S.M., Trollip, S.R. 2001. Multimedia for Learning: Method and Development.
USA: Pearson Education Company.

Budiningsih, Asri. 2003. Desain Pesan Pembelajaran. Sleman: FIP UNY (kalangan
sendiri).

Herman, D.S. 2017. Ultimedia Pembelajaran Interaktif: Konsep dan Pengembangan.


Yogyakarta: UNY Press.

Sharon, E.S., Deborah L. L., James D. R. 2011. Instructional Technology & Media for
Learning. Jakarta: Kencana.