Anda di halaman 1dari 4

TUGAS BAHASA INDONESIA

“Analisis Paragraf pada Artikel Ekonomi”

Dosen Pengampu :

Drs. Rusdian Noor Dermawan, M.Hum

Disusun Oleh :

Indriastuti Kusumaningtyas (141150144)

PRODI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
Desember 2017
Pertamina Kehilangan Pendapatan US$ 1,2 M

PT Pertamina (Persero) mencatat kehilangan pendapatan sebesar US$ 1,2 miliar atau
sekitar Rp 16,11 triliun (asumsi kurs Rp 13.520 per dolar Amerika Serikat), akibat keputusan
pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak jenis Premium dan solar bersubsidi
sepanjang 2017.

Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik menegaskan, Pertamina tidak mengalami
kerugian karena harga Premium dan solar subsidi tidak naik sepanjang 2017. Akan tetapi,
kehilangan pendapatan mencapai US$ 1,2 miliar.

"Pertamina seharusnya mendapat tambahan revenue US$ 1,2 miliar, jadi bukan rugi
tapi kehilangan pendapatan, karena pemerintah memang sebagai pemilik Pertamina tidak
mengizinkan kenaikan harga," kata Elia, saat rapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR
Jakarta, Senin (4/12/2017).

Elia mengungkapkan, saat ini harga minyak dunia sudah meningkat 30 persen, sejak
ditetapkannya harga Premium Rp 6.450 dan Solar bersubsidi Rp 5.150 per liter. Namun,
kenaikan harga minyak ini tidak diimbangi dengan kenaikan harga kedua jenis BBM tersebut.

"Harga crude ini naik 30 persen, itulah yang tadi masuk mekanisme kenaikan harga," tutur dia.

Elia menuturkan, sebenarnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
dan Pertamina telah menyepakati formula sebagai pembentukan harga Premium dan Solar
bersubsidi, dengan mengacu pada harga minyak dunia. Jika harga minyak dunia berubah,
harusnya harga Premium dan Solar subsidi disesuaikan.

"Kalau dilihat kami di Pertamina sudah memberlakukan satu formula harga yang
disepakati Pertamina dan ESDM. Itu berdasarkan SK menteri, kami menghitung
harga crude memang harga patokan transparan, kami menghitung berdasarkan formula," tutur
Elia
Analisis Artikel

 Artikel diatas mengangkat topik mengenai “PT Pertamina” dengan Tema “Efek dari Tidak
Naiknya Harga BBM”. Artikel tersebut berjudul “Pertamina Kehilangan Pendapatan US$ 1,2
M”, yang bersumber pada http://bisnis.liputan6.com
 Artikel tersebut terdiri dari 7 paragraf.
 Penulisannya menjorok kedalam dengan lima ketukan (1 tab), huruf pertama pada ketukan
keenam.
 Paragraf pertama menggunakan pola sebab-akibat, hal tersebut terlihat dari kalimat berikut:
Sebab : “keputusan pemerintah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak jenis Premium
dan solar bersubsidi sepanjang 2017”
Akibat : “PT Pertamina (Persero) mencatat kehilangan pendapatan sebesar US$ 1,2 miliar
atau sekitar Rp 16,11 triliun (asumsi kurs Rp 13.520 per dolar Amerika Serikat).”
 Paragraf kedua terdapat kalimat tidak langsung yang ditulis berdasarkan ujaran Elia Massa
Manik. Terlihat dari kalimat :
Kalimat tidak langsung : “Direktur Utama Pertamina Elia Massa Manik menegaskan,
Pertamina tidak mengalami kerugian karena harga Premium dan solar subsidi tidak naik
sepanjang 2017. Akan tetapi, kehilangan pendapatan mencapai US$ 1,2 miliar”
 Pada paragraf ketiga, terdapat kalimat langsung, yang dikutip dari Ibu Elia Massa Manik,
dikatakan kalimat langsung karena kalimat tersebut diiringi tanda petik. Terlihat dari
kalimat : " Pertamina seharusnya mendapat tambahan revenue US$ 1,2 miliar, jadi bukan
rugi tapi kehilangan pendapatan, karena pemerintah memang sebagai pemilik Pertamina
tidak mengizinkan kenaikan harga ."
 Paragraf keempat terdapat kalimat tidak langsung yang ditulis berdasarkan ungkapan Elia
Massa Manik. Terlihat dari kalimat :
Kalimat tidak langsung : “Elia mengungkapkan, saat ini harga minyak dunia sudah
meningkat 30 persen, sejak ditetapkannya harga Premium Rp 6.450 dan Solar bersubsidi Rp
5.150 per liter. Namun, kenaikan harga minyak ini tidak diimbangi dengan kenaikan harga
kedua jenis BBM tersebut.”
 Pada paragraf kelima, terdapat kalimat langsung, yang dikutip dari Ibu Elia Massa Manik,
dikatakan kalimat langsung karena kalimat tersebut diiringi tanda petik. Terlihat dari
kalimat : " Harga crude ini naik 30 persen, itulah yang tadi masuk mekanisme kenaikan
harga,"
 Paragraf keenam terdapat kalimat tidak langsung yang ditulis berdasarkan penuturan Elia
Massa Manik. Terlihat dari kalimat :
Kalimat tidak langsung : “Elia menuturkan, sebenarnya Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) dan Pertamina telah menyepakati formula sebagai pembentukan
harga Premium dan Solar bersubsidi, dengan mengacu pada harga minyak dunia. Jika harga
minyak dunia berubah, harusnya harga Premium dan Solar subsidi disesuaikan.”
 Pada paragraf ketujuh, terdapat kalimat langsung, yang dikutip dari Ibu Elia Massa Manik,
dikatakan kalimat langsung karena kalimat tersebut diiringi tanda petik. Terlihat dari
kalimat : " Kalau dilihat kami di Pertamina sudah memberlakukan satu formula harga yang
disepakati Pertamina dan ESDM. Itu berdasarkan SK menteri, kami menghitung
harga crude memang harga patokan transparan, kami menghitung berdasarkan formula,"