Anda di halaman 1dari 14

Hubungan Dengan Cewek Misterius

Cerita Dewasa Panas Hubungan Dengan Cewek Misterius ini dimulai pada bulan
April 2000, aku sedang bertugas di kota Malang untuk menyelesaikan auditing sebuah
perusahaan di sana. Aku menginap di sebuah hotel di jantung kota bersama 2 rekanku,
Andrey dan Erik.

2 hari di kota itu, pekerjaan kami sudah selesai, waktu masih sehari lagi. Maka kami
sepakat untuk menghabiskan waktu di kota dingin itu. Seperti layaknya anak muda lain,
waktu malam yang sepi dan dingin kami berminat membooking cewek-cewek nakal
Malang yang amat terkenal.

Hubungan Dengan Cewek Misterius


Namun malam itu aku tak ada niat untuk berfoya-foya, sebab hatiku sedang gundah
memikirkan nasib dan masa depanku. 3 kali pacaran gagal terus dan semuanya gara-gara
cewekku selingkuh dengan cowok lain. Karena di Malang banyak tempat untuk tirakat,
maka aku ingin memanfaatkan malam terakhir di kota itu untuk nyepi dan bersemedi.
Keinginan itu kuutarakan kepada teman-temanku. Semula mereka memang tidak setuju,
sebab mereka ingin bersenang-senang.

“Ya kalian bersenang-senanglah,” kataku sambil tertawa.

“Biar aku yang memanfaatkan malam terakhir ini untuk menyatukan jiwaku dengan
alam.” kataku lagi.
Kini gantian mereka yang tertawa, menertawakan kebodohanku.

“Kamu mau nyepi dimana Son?” tanya Andrey.

“Besok kita kembali ke Surabaya jam 6 pagi lho!” timpal Erik.

“Tak masalah, aku akan ada di sini jam 5 pagi, OK,” jawabku sambil mengenakan jaket
kulitku. Terus aku pergi sambil tertawa.

Dengan menggunakan jasa angkutan umum aku mencapai wilayah Kecamatan Singosari
hanya dalam waktu 30 menit. Sebelum melintas rel kereta api sebagai tanda memasuki
kota kecil itu, aku pun turun persis di depan pos polantas. Dari situ aku berjalan sedikit
dan kemudian membelok mengikuti arah rel kereta api. Tak lama kemudian sampailah
aku di sebuah pemandian alam di Desa Watugede. Konon, kolam itu dulu merupakan
tempat mandi Ken Dedes, janda kembang Akuwu Tunggul Ametung yang kemudian
dinikahi oleh Ken Arok.

Aku langsung mendatangi pemandian itu dan minta ijin kepada juru kunci untuk bisa
semedi di tepi pemandian barang semalam. Pada awalnya si juru kunci keberatan, namun
setelah kukeluarkan selembar uang 20-ribuan, dengan wajah berseri-seri aku diijinkan
masuk.

Pemandian itu tidak terlalu lebar bahkan terkesan sempit, tetapi airnya sangat jernih dan
dingin seperti es. Tepinya terbuat dari batu kuno yang ditata rapi. Ada beberapa patung
Kala yang mengeluarkan air dari mulutnya. Juga terdapat beberapa peninggalan lama
seperti lingga dan yoni, namun kondisinya sudah rusak. Di sekeliling pemandian terdapat
pepohonan rindang dan semak yang menambah kesan angker.

Malam yang gelap dan hanya diterangi lampu 25 watt yang bergantung di sisi rumah si
juru kunci. Aku pun mengambil tempat di ujung selatan pemandian dan duduk bersila di
sana. Si juru kunci meminjamkan selembar tikar plastik untuk duduk. Ketika dia
menawarkan kopi dan makanan kecil terpaksa kutolak. Mana ada orang nyepi sambil
minum kopi panas dan makan pisang goreng apalagi kalau ditambah nonton film BF
he..he..he..

Suasana amat sepi dan sunyi. Semakin malam terasa semakin sepi. Hanya sekali-sekali
terdengar deru kereta api lewat, itu pun hanya dua kali. Deru mobil di jalan raya tak
terdengar lagi dari pemandian itu, meski jaraknya tak begitu jauh. Kulihat beberapa kali
juru kunci keluar Rumah Mewah dan melongok ke tempatku semedi, sesudah itu ia
masuk lagi. Lepas tengah malam, suasana semakin sepi dan juru kunci tidak keluar lagi.

Udara terasa semakin dingin menggigit tulang, aku pun mulai berhening diri, mencoba
menyatukan jiwa, raga dan nuraniku dalam satu genggaman batin. Doa-doa mulai kubaca
dan perlahan-lahan menutup sembilan lubang pada diri manusia.

Biasanya, dalam melakukan semedi begitu, konsentrasiku bisa penuh dan bertahan
sampai pagi hari. Namun kali ini konsentrasiku tidak bisa total. Seolah-olah ada suara-
suara yang selalu menggangguku, ada perasaan-perasaan yang tidak konstan dan
akhirnya aku merasa gagal.

Kunjungi Juga Cerita Pelacur Cilik

Ketika jam menunjukkan pukul 02:30 WIB, kusudahi semediku dan kuanggap gagal.
Entah kenapa jiwaku begitu labil dan konsentrasiku terpecah. Aku pun bangkit dan
menunggalkan tempat itu tanpa pamit kepada juru kunci yang mungkin saat itu sedang
ngorok di samping istrinya.

Karena perut terasa lapar, aku pun berjalan ke pasar Singosari yang jaraknya hanya
sekitar 300 meter. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa pick-up pedagang
sayuran yang datang dan bernegosiasi dengan para pedagang setempat. Ada beberapa
warung yang masih atau baru aja dibuka. Maka aku pun memasuki sebuah tenda
berwarna biru yang menjual kopi “R&B” dan nasi soto “Balapan”.

Ada beberapa orang nongkrong di warung itu sambil bercanda membicarakan politik
negara, presiden yang lucu, menteri yang sering diganti sampai DPR dan MPR yang
mereka nilai ceroboh dan bertindak di luar konstitusi.

Saat aku hampir selesai menikmati soto ayam kesukaanku, tiba-tiba seorang wanita
cantik masuk dan duduk di seberangku. Busananya sangat sederhana, blus biru dengan
bawahan rok semi mini juga berwarna biru. Baik di leher maupun pergelangan tangannya
tak ada asesoris. Ia hanya membawa sebuah tas tangan kecil warna biru.

Ia memesan segelas teh manis dan soto. Sementara menunggu pesanan ia cuma
menunduk saja. Namun ketika menerima teh manis dari pemilik warung dengan tak
sengaja matanya memandang ke arahku. Aku kaget sebab sejak tadi aku mencuri
pandang ke arahnya dan tiba-tiba ia memandangku. Tentu saja aku jadi malu. Pandangan
itu begitu tajam dan langsung memasuki relung jantungku. Mata itu sungguh indah.

Satu persatu orang meninggalkan warung dan tinggal kami berdua. Meski mangkok
sotoku sudah kering dan kopiku yang sudah habis, aku masih menyempatkan diri duduk
manis disitu sambil sesekali mataku melirik ke arah cewek cantik itu. Sesekali mata kami
bertatapan dan ia menunduk.

Karena tak betah, sifat usilku muncul. Aku pun pindah duduk di dekatnya dan langsung
kusapa.

“Koq pagi-pagi begini sudah bangun, mau belanja ya?” sapaku nakal.

Wanita itu memandangku tersenyum dan mengangguk tanpa menjawab. Aku semakin
penasaran.

“Nama saya Sony,” kataku memperkenalkan diri. “Mbak siapa?”

“Lasmini, Mas..” jawabnya perlahan. Suaranya merdu sekali di telingaku.


“Asalnya dari mana Mbak?” tanyaku lagi.

“Dari sini saja Mas..” jawabnya perlahan.

“Mbak mau kemana pagi-pagi begini?”

“Mau pulang Mas..”

“Lho, pagi-pagi darimana?” tanyaku.

Dia diam dan cuma tersenyum lalu menunduk. Dibukanya tas tangannya dan berniat
mengambil uang untuk membayar soto dan teh manis yang dipesannya. Cepat-cepat aku
merogoh saku dan mengeluarkan selembar 20 ribuan dan kuberikan kepada pemilik
warung.

“Semua Pak.. sama punya Mbak ini!” kataku.

“Ah jangan Mas.. banyak lho!” katanya malu-malu, tetapi tangannya berhenti dan tidak
jadi mengeluarkan uang dari dalam tas miliknya.

“Tidak apa Mbak, kita kan udah kenal berarti Mbak sudah menjadi teman Sony,” kataku
menggoda.

“Mbak rumahnya dimana?”

“Di desa sebelah sana, Mas..” katanya sambil menunjuk arah seberang rel.

“Dekat Pemandian Watugede, pemandiannya Kanjeng Ratu Pradnyaparamita.”

“Siapa dia Mbak?” tanyaku pura-pura nggak tahu.

“Dia adalah Ken Dedes dan nama tadi itu nama kebesarannya,” katanya menjelaskan.

“Mbak koq tahu banyak tentang dia, bagaimana bisa?” tanyaku penasaran.

Dia diam dan cuma tersenyum lalu menunduk.

“Mari Sony antar Mbak pulang,” kataku.

“Boleh saja.. kalau Mas Sony mau,” jawabnya sambil tersenyum.

Dan kami pun meninggalkan warung kembali ke arah darimana tadi aku datang. Namun
dalam perjalanan timbul keinginan nakalku untuk membawa gadis cantik itu pulang ke
hotel. Waktu masih menunjukkan pukul 03:00 WIB. Masih banyak waktu untuk bersuka
ria. Siapa tahu dia mau! Ya nggak pembaca.

“Mbak mau kalau Sony ajak jalan-jalan dulu?” aku mulai memancing.
“Kemana Mas, pagi-pagi begini?” jawabnya malu-malu.

“Ke Malang..”

“Ke Malang, mau apa?”

“Sony kan nginap dan tidur di hotel. Bagaimana kalau Mbak menemani Sony di sana?”

Dia diam dan cuma tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

Tak disangka dan tak dinyana, ternyata Lasmini mau kuajak dia ke hotel. Wah, ini jelas
dia bukan cewek baik-baik. Tetapi tak apalah, cewek baik mana mungkin bisa kudapatkan
di warung soto di pagi buta begini?

Maka, dengan mencarter angkota kubawa cewek cantik itu ke hotel. Melewati meja
resepsionis aku cuma mengangguk dan kedua penjaga itu tersenyum. Mereka pasti
maklum sebab mereka juga masih muda dan terbiasa melihat hal semacam itu.

Mungkin mendengar aku datang dan membuka pintu, Cerita Sex Anak Teman Andrey
dan Erik yang kamarnya berseberangan dengan kamarku membuka pintu dan melongok
keluar. Tapi aku tidak peduli. Aku cepat-cepat mengangkat tubuhnya dan kugendong
masuk ke kamar. Mbak Lasmini yang terkejut namun dengan sigap merangkul leherku.
Lalu, kujatuhkan ia ke ranjang dan aku berlutut mengangkangi tubuhnya, melepaskan
semua kancing kemejanya. Kulepas bajunya dan kuloloskan tali BH-nya dari kedua
lengannya, lalu kutarik BH-nya hingga terlepas dari buah dadanya yang besar
merangsang itu.

Sementara itu, Mbak Lasmini sendiri menyibukkan diri melepas sabuk dan kancing
celanaku dan menarik reitsleting celanaku hingga celanaku merosot ke pahaku. Celana
dalamku tampak menonjol dengan penis yang telah membesar dan mengeras. Aku berdiri
melepas celana dan kemejaku sementara Mbak Lasmini melepas kait BH-nya dan
melempar BH-nya ke lantai.

Aku berdiri telanjang mengangkangi tubuhnya yang tergeletak hanya memakai rok.
Kupandangi seluruh tubuh Mbak Lasmini yang menggairahkan itu, berakhir di matanya
yang menatap penisku yang mengacung ke atas itu dengan pandangan penuh birahi. Aku
tahu apa yang ia inginkan, maka aku pun berlutut mengangkangi dadanya dan ia
menaikkan kepalanya menyambut penisku dengan mulutnya.

“Ngghh.. nngghh.. Hhh.. Ooohh.. Mbak.. Mini.. sayaanghh.. ohh..” Aku mengerang
menikmati hisapan Mbak Lasmini yang maut pada penisku.

Di dalam mulutnya ia memainkan penisku dengan lidahnya membuat bola mataku


berputar ke belakang penuh kenikmatan. Perlahan-lahan kumaju-mundurkan pantatku
sehingga penisku keluar-masuk mulutnya sementara jempol dan telunjuk Mbak Lasmini
melingkari pangkal penisku, memberi pijatan dan gesekan nikmat pada batang penisku.
“Oh..Mbak, Sony nggak tahan..”

Mbak Lasmini seperti tak peduli pada pekikanku yang memberi tanda-tanda nyata bahwa
aku hampir mencapai orgasme, ia terus memainkan lidahnya menyambut penisku yang
semakin cepat “mengentot” mulutnya. Bahkan kedua jarinya ikut semakin cepat
mereMas dan mengocok batang penisku. “Mbaakk.. aahh..” kenikmatan meledak dalam
tubuhku dan aku pun memuncratkan maniku dalam mulut Mbak Lasmini yang tanpa
ampun menghisap penisku dengan bernafsu.

Lututku terasa lemas dan aku pun jatuh terlentang di sisi Mbak Lasmini. Ia tersenyum
sambil memainkan sedikit sisa air mani di bibirnya dengan jarinya. Tak ada setitik pun
bekas air mani di tempat lain, bahkan di penisku yang mulai melemas. Rupanya Mbak
Lasmini menelan semuanya. Aku tidak menyangka Mbak Lasmini begitu liar dan ganas
sekali. Ia membersihkan bibirnya dengan menghisapnya sambil membelai-belai
rambutku.

Matanya memancarkan birahi. Aku mengatur napasku yang tersengal-sengal lalu bangkit
berlutut di atas tubuhnya mengangkangi pinggangnya. Sambil bertelekan pada siku, aku
kembali menghisap bibir dan lidahnya yang disambut dengan pagutan bernafsu dari
cewek cantik ini. Sebelah tanganku mulai meraba-raba buah dada dan putingnya,
sementara ia menjilati telinga dan leherku.

Aku lalu melepas kancing roknya dan melorotkan rok sekaligus CD-nya hingga Mbak
Lasmini kini benar-benar telanjang bulat. Tubuhku kembali naik hingga kini mulutku
tepat berada di atas buah dadanya. Kujilati kedua buah dada dan putingnya bergantian
dengan lembut dan basah, semakin lama semakin cepat dan liar, sementara penisku yang
Masih lemas menggesek-gesek bulu kemaluannya yang lebat.

“Ohh, Mas Sony.. ahh..” ujarnya tersengal-sengal penuh birahi sambil tangannya
menuntun sebelah tanganku ke selangkangannya.

Jari tengahku pun mulai bermain di bibir vagina Mbak Lasmini yang telah basah
berlendir itu sementara lidah dan bibirku terus menggetarkan putingnya yang
merangsang itu.

“Aagghh.. aahh.. Maahhss..” erangnya sambil menjambak rambutku dan memaju-


mundurkan pantatnya seirama gesekan jariku pada bibir vaginanya.

“Maahhss.. ohh, Mahhss.. masukin dong.. Maass..” erangnya memohon. Maka kuselipkan
jari tengahku ke dalam liang vaginanya yang hangat berlendir itu dan kukeluar-masukkan
perlahan-lahan.

“Akhh.. ohh..!” Mbak Lasmini menggoyangkan badannya sehingga mempercepat keluar-


masuknya jariku dengan gerakan pantatnya maju-mundur dengan penuh nafsu sambil
kulihat ia menggigit bibirnya.
Kulepaskan mulutku dari putingnya dan jariku dari vaginanya. Ia tersentak kaget seakan
tak ingin sedetik pun melepaskan kenikmatan ini. Maka dengan cepat aku berpindah
posisi sehingga kepalaku tepat berada di kedua pahanya yang telah lebar mengangkang
dengan pantatnya yang seakan menantangku. Kujilat seluruh vaginanya dari bawah ke
atas, lalu dengan lembut kumainkan bibir vaginanya dengan ujung lidahku, lalu kembali
kujilat dari bawah ke atas.

“Ohh.. teruss.. Maass..” desahnya nikmat.

Kuangkat pantatnya dan kuremas dengan kedua tanganku, sambil lidahku menjilati
lubang pantatnya, lalu bergerak menyapu vaginanya, lalu dengan lembut dan nakal,
kujilati klitorisnya yang telah mengacung.

“Aaaggaahh.. Maass.. teruss.. Maass..” Erangan tak henti ini membuatku semakin
bernafsu dan semakin liar menjilati klitoris dan vaginanya.

Menjawab permohonannya, kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya dan kugerakkan


menari dengan liar di dalam vaginanya sambil mulutku menghisap bibir vaginanya dan
klitorisnya. Mbak Lasmini pun menjawab keganasan lidahku dengan semakin cepat dan
bernafsu memaju-mundurkan pantatnya membuat vaginanya menghantam wajahku.
Sungguh liar dan nakal cewek cantik ini.

“Ohh.. ohh.. ohh.. Mas.. oohh..”

Semakin liar Mbak Lasmini mengerang dan menghantamkan vaginanya pada mulutku,
semakin bernafsu aku memainkan vaginanya dengan lidahku, sementara gairahku yang
terus terpancing membuat penisku kembali menegang keras.

“Ah.. ah.. ah.. Mass.. aakkhh!”

Mendadak tubuhnya menggelinjang hebat dan jeritan keras menyertai sentakan terakhir
pantatnya maju menancapkan vaginanya pada mulutku yang menghisap lendir orgasme
yang meleleh dari vagina Mbak Lasmini, sementara pahanya kaku menjepit kepalaku
dengan erat dan kedua tangannya yang menahan posisi tubuhnya mencengkeram sprei
dengan erat. Manis dan nikmat kurasakan lendir orgasmenya.

“Nnngghh.. nikmat..ohh..” dia mengerang sambil terus mempertahankan jepitan kakinya


pada kepalaku dan tekanan vaginanya pada mulutku yang terus menghisap bibir vagina
dan klitorisnya.

“Ohh..Mass..” mendadak tubuhnya melemas dan jatuh di kasur, melepas kepalaku dari
jepitannya.

Aku memanjat tubuhnya dan mengecup bibirnya dengan lembut yang disambut dengan
pagutan liar lidah dan bibir bernafsu. Kami berciuman dan saling melilit lidah beberapa
saat hingga akhirnya ia melepas bibirku dengan napas terengah-engah dan kami
berpelukan erat.
“Hhh, Mas Sonyy.. nikmat, Mas..”

Kami berpelukan beberapa saat, sambil


aku dengan lembut dan perlahan-lahan
mulai menggesekkan penisku yang telah
kembali menegang. Ia lalu melepaskan
pelukannya dan turun dari ranjang. Aku
melihat tubuhnya yang indah dengan
rambutnya yang panjang dan tubuhnya
yang putih dan sexy. Tak lama dia
kembali membawa sebotol air dingin
dan sebuah gelas. Ia mengisi gelas dan
memberikannya padaku.

“Ayo Mas Son, airnya diminum, dengan


air ini Mas akan menjadi kekasihku
selamanya. Di manapun Mas berada,
saya akan di samping Mas. Mas cukup
panggil namaku maka saya akan
datang.. ingat itu ya Mas..” katanya agak
sedikit aneh tapi tidak kuhiraukan.

Kuambil gelas dari tangannya lalu


meminum air dingin itu. Kutarik tubuh
Mbak Lasmini hingga berbaring, lalu
kutempel bibirnya dengan bibirku. Ia
membuka mulutnya dan kugigit
lidahnya yang menjulur ke mulutku. Ia
terkejut, namun ia tersenyum,

“Mas Sony nakal ah..” Wajahku masih di atas wajahnya, dan dengan nakal kuteteskan air
liurku ke bibirnya.

Ia kembali tersentak, namun dengan nakal menerima air liurku dan mempermainkannya
dengan lidahnya sebelum menghisap seluruhnya ke dalam mulutnya.

Cerita Sex Bergairah - Nakal nih! Bikin saya tambah terangsang aja!” katanya sambil
mencubit hidungku.

Kami sama-sama tersenyum, lalu kembali saling berciuman beberapa saat hingga ia
membuka kakinya hingga terkangkang sambil meraba-raba penisku yang sudah tegang
itu di depan selangkangannya.

“Mas, ayo dong.. Masukin lagi.. nggak tahan nich..”

“Oke.. sayang..”
Sambil berkata begitu, kutekan penisku yang dituntun oleh tangannya ke bibir vaginanya
yang ternyata telah kembali basah oleh lendirnya.

“Ssllpp..” dengan mudah seluruh penisku masuk tertelan oleh liang vaginanya.

Kugerakkan pantatku maju-mundur perlahan sambil menikmati gesekan dinding


vaginanya yang basah berlendir itu.

“Hhh.. mmhh.. Mini sayang.. hhmm..”

“Ohh, Mas Sony.. mmhh..”

Sambil terus menggerakkan pantat maju-mundur seirama sehingga kenikmatan


persetubuhan terasa dengan lembut oleh kami berdua, kami pun berciuman dengan
lembut dan tidak liar seperti tadi. Kecupan dan hisapan pada bibirnya benar-benar
kunikmati dengan lembut seirama dengan sodokan lembut penisku pada vaginanya.

“Hhh. hh. hh..”

“Mmmhh.. Mbak, I Love You, ohh..”

“Ohh, Mas.. ohh, Minii.. juuggaa.. ohh.. teerruuss.. Maass..”

“Oh Mbak.. ohh.. hngk.. hngk.. hngk..”

“Oh Sayanghh.. sayanghh.. terus sayangghh.. ohh..”

Semakin lama, semakin liar kami saling menyerang satu sama lain. Pantat kami sama-
sama maju-mundur semakin cepat dan keras. Kuremas buah dadanya dan kujilati sekali-
sekali sementara dia menjambak rambutku. Kedua kakinya melingkari pahaku seakan
ingin membantu gerakan pantatku agar sodokan penisku menancap semakin keras dan
dalam pada vaginanya.

“Ohh.. Mass.. teruuss.. ohh..”

“Ohh.. ”

Gerakan pantat kami sudah semakin liar dan cepat, dan tubuhnya pun terbanting-
banting lepas kendali di atas kasur dengan mata terpejam rapat. Mendadak ia menggigit
bibir sesaat lalu melepasnya dengan sebuah pekikan kecil.

“Akhh! Maass.. Minii.. ngghhaak tahh.. aahh.. aahh!” Kembali jeritan panjangnya
menyertai sentakan pantatnya yang liar dan keras menancapkan penisku sedalam-
dalamnya pada vaginanya, sementara tubuhnya dengan liar tersentak bangkit dari posisi
tidur menjadi setengah duduk dan tangannya menarik pantatku sekuat tenaga hingga
penisku benar-benar menancap sedalam-dalamnya di dalam vaginanya yang
berkontraksi dengan liar beberapa detik sebelum akhirnya meledakkan orgasme hebat
yang melepas tumpahan demi tumpahan lendir orgasme.

“Aaahh..” Tubuh Mbak Lasmini mengejang hebat dan kepalanya terlempar ke belakang
dengan liar sementara tangannya yang kiri meremas pantatku dengan keras hingga
kukunya menancap di pantatku.

Tanpa tersadar dia menggigit dadaku hingga keluar darah sedikit.

“Mass.. Sonn.. ohh..”

Pemandangan liar menggairahkan di depan mataku ini memancing ledakan kenikmatan


dalam tubuhku yang menyerbu ke batang penisku yang seakan tersumbat itu.

“Ohh.. akhh..” dan pertahananku pun jebol juga.

“Crraatt.. Crriitt.. Crroott..” semprotan demi semprotan air mani kental dan panas
kembali muncrat dari penisku, memenuhi vaginanya hingga begitu penuh dan meleleh
keluar membasahi paha kami berdua.

Aku memeluk erat tubuhnya yang telah basah kuyup oleh keringat kami berdua dan
kuhisap dadanya dengan tak terkendali sehingga kembali tercetak cupang membiru di
atas putingnya.

“Crraatt!” Dengan muncratan terakhirku, aku pun melemas dan kami ambruk bersama-
sama di atas kasur.

Aku terasa sangat lemas, sehingga aku pun menjatuhkan diri di samping Mbak Lasmini
yang juga telah tergolek lemas.

Kami diam tergeletak beberapa saat dengan napas tersengal-sengal. Lalu aku
memandang Mbak Lasmini yang menggairahkan itu dan membelai-belai rambutnya. Dia
pun menoleh memandangku dan kami sama-sama tersenyum bahagia. Lalu, kami pun
berbaring berpelukan.

Sekilas kulihat jam dinding menunjukkan waktu pukul 04:30 WIB. aku hanya punya
waktu sedikit lagi untuk tidur. Kupeluk erat-erat tubuh Mbak Lasmini dan kulihat dia
tidur pulas di sampingku. Tak terasa, aku pun tertidur.

Namun baru sekelumit, pintu diketok dari luar. Aku segera bangkit dan turun dari
ranjang dan membuka pintu. Aku sudah tahu, pastilah si Andrey atau Erik yang mengetuk
pintu, sebab hari sudah pagi dan kami harus bergegas pulang. Ternyata memang si
Andrey yang mengetuk pintu.

“Sudah jam setengah lima Son, cepetan siap-siap..” katanya.

“Sorry, aku masih ada tamu..” kataku tersenyum.


“Biar kubangunkan dulu..” kataku lagi.

“Tamu?” tanya Andrey sambil melongok ke dalam ke kamar.

“Mana?”

Aku pun menoleh dan menunjukkan dengan jariku ke ranjang. Tetapi alangkah kagetku
ketika melihat ranjang sudah kosong. Tak ada tubuh Mbak Lasmini yang telanjang, tak
ada BH dan CD serta pakaiannya yang berserakan di lantai, tak ada sandalnya, tak ada
siapa-siapa. Bagaimana mungkin Mbak Lasmini begitu cepat pergi? Kulihat jam dinding
menunjukkan waktu pukul 04:40 WIB. Bagaimana mungkin dalam waktu cuma 10 menit
Mbak Lasmini pergi dengan membawa semua pakaiannya yang berserakan? Ah, mungkin
dia malu dan sembunyi di kamar mandi.

Maka, aku pun segera melihat ke kamar mandi, sementara si Andrey melangkah masuk
sambil melihat ke segala sudut kamar tidur. Ternyata kamar mandi juga kosong. Aku
benar-benar kaget dan ketakutan. Lantas kemana perginya Mbak Lasmini?

“Mana tamunya Son?” tanya Andrey.

“Kamu ini ada-ada saja lha wong tadi kamu datang dan masuk ke kamar sendirian gitu
lho!”

“Aku tadi sama cewek cantik namanya Lasmini, Ndrey..” kataku setengah takut.

“Aku tadi melihat masuk kamar sendiri Son. Aku nggak lihat ada cewek bersamamu.”
katanya.

“Tidak Ndrey.. aku bawa teman cewek tadi. Lihat ini di sebelah atas dadaku ini ada bekas
gigitannya masih ada..!” aku ngotot.

“Lantas dimana dia sekarang koq nggak ada?” desak Andrey.

“Kalau tidak percaya.. ayo kita tanya sama resepsionis,” ajakku sambil mengenakan
sarung.

Kami pun lalu ke loby dan kebetulan resepsionis yang tugas semalam belum pulang. Aku
segera menghampirinya dan bertanya, apakah tadi pagi aku pulang sendirian atau
membawa teman cewek? Dengan santai kedua resepsionis itu menjawab bahwa aku
pulang sendirian. Ah Masa?

“Iya Pak, anda tadi pulang sendirian.. Masak kami bohong?” jawab keduanya.

“Jadi saya tidak membawa wanita tadi?” desakku kurang percaya.

“Tidak Pak, anda sendirian tadi..”


Saat itu Erik yang sudah selesai mengatur tas di bagasi mobil Masuk. Dia bertanya ada
apa dan aku mencoba menjelaskan. Erik tertawa, “Kamu ini ada-ada saja Son,” katanya.
“Wong aku lihat kamu Masuk kamar sendirian koq..”

Semula disangkanya aku mengada-ada dan kedua temanku itu menanggapinya dengan
seloroh pula. Namun setelah aku bersumpah “pocong” dan bicara serius, keduanya ikut
ketakutan. Menurut mereka aku telah bercinta dengan hantu penunggu pemandian
Watugede yang berubah wujud jadi cewek cantik.

“Makanya jangan suka keluyuran di tempat-tempat begitu,” kata Erik.

“Kalau mau nyepi ya sungguh-sungguh bersih, jangan ngawur, ada cewek cantik di jalan
diembat saja.” katanya lagi.

“Kapok!!”

Baca Juga Cerita Sex Ibu Kost Montok

Aku tak berani kembali sendiri ke kamarku. Ketika aku berkemas, kusuruh Andrey dan
Erik duduk di ranjang. Aku benar-benar takut dan tak habis mengerti bagaimana hal itu
bisa terjadi pada diriku. Melihat ranjang yang masih lusuh itu aku jadi ngeri. Apalagi
ketika kulihat bekas spermaku membasahai sprei dan guling.. hii.. ternyata aku telah
bercinta dengan hantu! Tapi enak lho pembaca.. upss.

Persis jam enam kami meninggalkan hotel untuk ke Surabaya. Mobil berjalan santai di
tangan Andrey yang memang bertugas sebagai sopir kami. Tapi pas melewati “Patung
Ken Dedes”, aku kaget minta ampun di depan duduk bersila Mbak Lasmini dengan
pakaian kerajaan kuno dia tersenyum padaku.

“Jangann.. ohh.. tidakk..” teriakku.

“Ada apa Son, koq teriak-teriak..?” tanya Erik.

“Itu.. dia ada di depan patung itu..” kataku sambil menunjuk ke arah patung.

“Ah.. kamu ada-ada saja. Wong nggak ada siapa-siapa disitu,” kata Erik.

“Sudahlah.. nggak usah bicara itu lagi. Sebaiknya loe tidur aja Son.. ya,” kata Andrey.

Kurang dari setengah jam kami sudah mendekati tapal batas Singosari. Erik dan Andrey
menepikan kendaraan di sebelah kanan untuk membeli apel Batu di pasar buah
Mandoroko. Karena masih diselimuti rasa takut dan resah, aku tidak ikut turun. Aku titip
saja 5 kilo rambutan Aceh dan 5 kilo apel manalagi.

Duduk diam memandang kesibukan para pedagang buah dan orang-orang kaya yang
membelinya, hatiku sedikit tenteram. Kucoba menghilangkan bayangan Mbak Lasmini
dari mataku. Cewek itu sungguh luar biasa dalam ngeseks tadi malam. Mungkin karena
dia bukan manusia maka dia bisa melakukannya dengan sangat baik. Tetapi, apakah
nanti tidak ada efeknya pada diriku karena telah bersetubuh dengan hantu cantik?

Ketika aku sedang merenung itulah tiba-tiba mataku melihat sesosok tubuh ramping di
seberang jalan, di depan pompa bensin. aku benar-benar terkejut sampai terlonjak dari
tempat dudukku. Mbak Lasmini berdiri di sana sambil memandang ke arahku. Bibirnya
tersenyum dan wajahnya ceria sekali. aku ketakutan sampai berkeringat. dan mataku
melotot ke arah seberang jalan.

“Hah.. kenapa lagi kamu Son?” teriak Erik sambil memegang keningku.

“Keringatmu dingin dan banyak sekali!”

“Ada apa lagi sih Son?” tanya Andrey.

Aku tak bisa menjawab karena takut. Aku berusaha menyebut nama Mbak Lasmini, tetapi
tak ada suara yang keluar dari mulutku yang cuma bisa komat-kamit. Namun aku berhasil
mengangkat tangan dan menunjuk ke seberang jalan. Kedua temanku segera mengikuti
arah yang kutunjuk.

“Ada Son? Pompa bensin?” tanya Andrey heran.

“Bensinnya sudah diisi koq!”

“Las.. Lasm.. mini!”

Akhirnya nama itu meluncur juga dari mulutku meski terucap amat perlahan.

“Mana?” Erik ikut melihat ke seberang jalan.

“Itu!” jariku tetap menunjuk ke seberang jalan sebab Lasmini memang masih berdiri
tegak di sana dengan masih menggunakan pakaian kerajaan kuno.

Dia memang cantik sekali bagai dewi dari kahyangan. Mungkin bila dia ikut pemilihan
“Miss Universe” dia akan keluar sebagai juara. Lalu, dia kini melambai-lambaikan tangan
ke arahku. Namun kedua rekanku tetap saja menyatakan tidak melihat siapa-siapa. Meski
aku ketakutan setengah mati, kedua rekanku santai-santai saja. Andrey segera menstater
mobil meluncur kembali di jalan raya dengan cepatnya.

Mataku tak lepas memandangi Lasmini yang masih berdiri disana sambil melambaikan
tangan. aku sampai membalikkan tubuh dan memandangnya terus sampai hilang di
kejauhan. Aku tidak pura-pura, tidak mengada-ada. Yang kulihat itu benar-benar
Lasmini, cewek cantik yang dini hari tadi bercinta denganku! Semua tak percaya, tetapi
itulah yang kualami dan Tuhan pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi! Oh.. nasibku.-
Cerita Sex, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Dewasa, Cerita Panas, Cerita Seks, Cerita Hot,
Cerita Ngentot, Cerita Bokep, Cerita Dewasa, Cerita Eksebionis, Cerita Mesum, Cerita
Selingkuh, Cerita Sex, Cerita Skandal, Hubungan Dengan Cewek Misterius