Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB)

Disusun Oleh
KELOMPOK 6

1. PUJI PRASTYANING AMINI


2. SUCI SUSMIATI
3. IKA PUTRI AGUSTINA
4. ACHMAD LUTFI CHAKIM
5. MUHAMMAD RIZAL NOVIANTO
6. DEWI PUJI ERNAWATI
7. HERU CAHYO SUSILO
8. HENDRO MULYANTO
9. LENI PURTIYANINGSIH
10. ZUNAIDI MAHFUD

PROGRAM KHUSUS KELAS BLORA


STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2016
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB)

A. PENGERTIAN

Abnormal Uterine Bleeding/ Perdarahan Uterus Abnormal merupakan


perdarahan yang terjadi diluar siklus menstruasi yang dianggap normal.
Perdarahan Uterus Abnormal dapat disebabkan oleh faktor hormonal, berbagai
komplikasi kehamilan, penyakit sistemik, kelainan endometrium (polip),
masalah-masalah serviks / uterus (leiomioma) / kanker. Namun pola
perdarahan abnormal seringkali sangat membantu dalam menegakkan diagnosa
secara individual. (Ralph. C Benson, 2009).
Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) digunakan untuk menunjukan semua
keadaan perdarahan melalui vagina yang abnormal.DUB disini didefenisikan
sebagai perdarahan vagina yang terjadi didalam siklus <20 hari / >40 hari,
berlangsung >8 hari mengakibatkan kehilang darah > 80 mL & anemia. Ini
merupakan diagnosis penyingkiran dimana penyakit lokal & sistemik harus
disingkirkan. Sekitar 50 % dari pasien ini sekurang-kurangnya berumur 40 th &
20 % yang lain adalah remaja, karena merupakan saat siklus anovulatori lebih
sering ditemukan. (Rudolph,A. 2006).

B. ETIOLOGI
Etiologi dan Evaluasi Perdarahan Uterus Abnormal
Sebelum menarche
 Keganasan
 Trauma
 Kekerasan seksual
Pemeriksaan panggul (dengan anestesi ) harus dilakukan mengingat
bahwa 54% kasus disebabkan oleh adanya lesi traktus genitalis dan 21%
diantaranya bersifat ganas.
Perdarahan uterus disfungsional dapat terjadi pada setiap umur antara
menarche dan menopause. Tetapi, kelainan ini lebih sering dijumpai pada masa
permulaan dan pada masa akhir fungsi ovarium. Pada usia perimenars,
penyebab paling mungkin adalah faktor pembekuan darah dan gangguan psikis.
Pada masa pubertas sesudah menarche, perdarahan tidak normal
disebabkan oleh gangguan atau terlambat proses maturasi pada hipotalamus,
dengan akibat bahwa pembuatan releasing factor dan hormon gonadotropin tidak
sempurna. Pada wanita dalam masa
premenopasuse proses terhentinya proses ovarium tidak selalu berjalan lancar
Perdarahan Uterus Disfungsional dapat dibedakan menjadi penyebab dengan
siklus Ovulasi dan penyebab yang berhubungan dengan siklus anovulasi.
Namun ada beberapa kondisi yang dikaitkan dengan perdarahan rahim
disfungsional, antara lain:
 Kegemukan (obesitas)
 Faktor kejiwaan
 Alat kontrasepsi hormonal
 Alat kontrasepsi dalam rahim (intra uterine devices)
 Beberapa penyakit dihubungkan dengan perdarahan rahim (DUB),
misalnya: trombositopenia (kekurangan trombosit atau faktor pembekuan
darah), Kencing Manis (diabetus mellitus), dan lain-lain
 Walaupun jarang, perdarahan rahim dapat terjadi karena: tumor organ
reproduksi, kista ovarium (polycystic ovary disease), infeksi vagina, dan
lain-lain.

C. Patofisiologi
Pasien dengan perdarahan uterus disfungsional telah kehilangan siklus
endometrialnya yang disebabkan oleh gangguan pada siklus ovulasinya. Sebagai
hasilnya pasien mendapatkan siklus estrogen yang tidak teratur yang dapat
menstimulasi pertumbuhan endometrium, berproliferasi terus menerus sehingga
perdarahan yang periodik tidak terjadi.
Schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada uterus dan
ovarium pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan
perdarahan yang dinamakan metropatia hemoragika terjadi karena persistensi
folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan korpus
luteum. Akibatnya, terjadilah hiperplasi endometrium karena
stimulasiestrogen yang berlebihan dan terus-menerus.
Penelitian lain menunjukkan pula bahwa perdarahan disfungsional dapat
ditemukan bersamaan dengan berbagai jenis endometrium, yaitu endometrium
atrofik, hiperplastik, proliferatif dan sekretoris, dengan endometrium jenis non
sekresi merupakan bagian terbesar. Pembagian endometrium menjadi
endomettrium sekresi dan non sekresi penting artinya, karena dengan demikian
dapat dibedakan perdarahan ovulatoar dari yang anovulatoar. Klasifikasi ini
memiliki nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini memiliki
dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda. Pada
perdarahan disfungsional yang ovulatoar gangguan dianggap berasal dari faktor-
faktor neuromuskular, hematologi dan vasomotorik, yang mekanismenya belum
seberapa dimengerti, sedang perdarahan anovulatoar biasanya dianggap
bersumber pada gangguan endokrin

D. Tanda Gejala
Perdarahan rahim yang dapat terjadi tiap saat dalam siklus menstruasi. Jumlah
perdarahan bisa sedikit-sedikit dan terus menerus atau banyak dan berulang.
Pada siklus ovulasi biasanya perdarahan bersifat spontan, teratur dan lebih bisa
diramalkan serta seringkali disertai rasa tidak nyaman sedangkan pada anovulasi
merupakan kebalikannya.1Selain itu gejala yang yang dapat timbul diantaranya
seperti mood ayunan, kekeringan atau kelembutan Vagina serta juga dapat
menimbulkan rasa lelah yang berlebih.

Pada siklus ovulasi


Karakteristik PUD bervariasi, mulai dari perdarahan banyak tapi jarang, hingga
spotting atau perdarahan yang terus menerus.
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional
dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk
menegakan diagnosis perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati
haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur sehingga siklus haid
tidal lagi dikenali maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat
menolong.
Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi
tanpa ada sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologi :
1. korpus luteum persistens : dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang
bersamaan dengan ovarium membesar. Dapat juga menyebabkan pelepasan
endometrium tidak teratur.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia atau polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron
disebabkan oleh gangguan LH releasing faktor. Diagnosis dibuat, apabila
hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran
endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri: pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan darah seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan
dalam mekanisme pembekuan darah.

Pada siklus tanpa ovulasi (anovulation)


Perdarahan tidak terjadi bersamaan. Permukaan dinding rahim di satu bagian
baru sembuh lantas diikuti perdarahan di permukaan lainnya. Jadilah perdarahan
rahim berkepanjangan.
Perdarahan ovulatoar
Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional
dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk
menegakkan diagnosis perdarahan ovulatoar, perlu dilakukan kerokan pada masa
mendekati haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur siklus haid
tidak dikenali lagi, maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat
menolong. Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium
tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai
etiologiya :
1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-
kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan
dari kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan
panggul sering menunjukkan banyak persamaan antara keduanya. Korpus
luteum persisten dapat pula menyebabkan pelepasan endometrium tidak
teratur (irregular shedding). Diagnosa irregular shedding dibuat dengan
kerokan yang tepat pada waktunya, yakni menurut Mc Lennon pada hari ke-
4 mulainya perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe
sekresi disamping tipe nonsekresi.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia atau polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi
progesteron disebabkan oleh gangguan LH releasing factor. Diagnosis
dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok
dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus
yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri; pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan
dalam mekanisme pembekuan darah.

Perdarahan anovulatoar
Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan
menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang
kadang-kadang bersifat siklis, kadang-kadang tidak teratur sama sekali.
Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut-pautnya dengan jumlah folikel yang pada
suatu waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum
mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel-folikel baru. Endometrium
dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan dari endometrium yang mula-
mula proliferatif dapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik. Jika
gambaran itu dijumpai pada sediaan yang diperoleh dengan kerokan, dapat
diambil kesimpulan bahwa perdarahan bersifat anovulatoar.
Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap waktu
dalam kehidupan menstrual seorang wanita, tapi paling sering pada masa
pubertas dan masa premenopause. Bila pada masa pubertas kemungkinan
keganasan kecil sekali dan ada harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi
normal dan siklus haid menjadi ovulatoar, pada seorang wanita dewasa terutama
dalam masa premenopasue dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan
kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas.
Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita
dengan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum
yang menahun, tumor-tumor ovarium dan sebagainya. Disamping itu stress dan
pemberian obat penenang juga dapat menyebabkan perdarahan anovulatoar yang
bisanya bersifat sementara.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan umum dinilai adanya hipo/hipertiroid dan gangguan
homeostasis seperti ptekie, selain itu perlu diperhatikan tanda-tanda yang
menunjuk kearah kemungkinan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit
menahun dan lain-lain.
Pada pemeriksaan ginekologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan-
kelainan organik, yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor,
kehamilan terganggu).

E. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah biopsi endometrium
(pada wanita yang sudah menikah), laboratorium darah dan hemostasis, USG,
serta radio immuno assay
Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam
pemeriksaan pasien. Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya
penyakit sistemik, maka penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan.
Abnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus diperiksa dengan USG dan
laparoskopi jika diperlukan.
Perdarahan siklik (reguler) didahului oleh tanda premenstruasi (mastalgia,
kenaikan berat badan karena meningkatnya cairan tubuh, perubahan mood, atau
kram abdomen ) lebih cenderung bersifat ovulatori. Sedangkan, perdarahan lama
yang terjadi dengan interval tidak teratur setelah mengalami amenore berbulan –
bulan, kemungkinan bersifat anovulatori.
Peningkatan suhu basal tubuh ( 0,3 – 0,6 C ), peningkatan kadar progesteron
serum ( > 3 ng/ ml ) dan atau perubahan sekretorik pada endometrium yang
terlihat pada biopsi yang dilakukan saat onset perdarahan, semuannya
merupakan bukti ovulasi.
Pemeriksaan penunjang:
1) Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid , dan kadar HCG,
FSH, LH, Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining
gangguan perdarahan jika ada tampilan yang mengarah kesana.
2) Deteksi patologi endometrium melalui (a) dilatasi dan kuretase dan (b)
histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda
dengan perdarahan tidak teratur atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang
gagal berespon terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah
pemeriksaan endometrium. Penyakit organik traktus genitalia mungkin
terlewatkan bahkan saat kuretase. Maka penting untuk melakukan
kuretase ulang dan investigasi lain yang sesuai pada seluruh kasus
perdarahan uterus abnormal berulang atau berat. Pada wanita yang
memerlukan investigasi, histeroskopi lebih sensitif dibandingkan dilatasi
dan kuretase dalam mendeteksi abnormalitas endometrium.
3) Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang tidak berhasil
dalam uji coba terapeutik.
4) Pemeriksaan abdomen
Inspeksi & palpasi misalnya menunjukkan kehamilan / iritasi peritoneum.
Uterus yang membesar menandakan adanya kehamilan ektopik maupun
missed abortion, uterus yang lebih besar (dari ukuran kehamilan bila
dilihat dari HPHT) kemungkinan menandakan kehamilan mola,
kehamilan ganda / kehamilan dalam suatu uterus fibroid.
5) Pemeriksaan pelvis
Spekulum digunakan untuk memeriksa kuantitas darah & sumber
perdarahan, laserasi vagina, lesi servik, perdarahan ostium uteri, benda
asing. Bimanual digunakan untuk pemeriksaan patologis.
6) Data Diagnostik Tambahan
a. Biopsi endometrium atau kuretase yang dapat memberikan
suatu diagnosis histologi spesifik
b. Biopsi vulva, vagina atau serviks, lesi harus dibiopsi kecuali jika
lesi khas untuk penyakit trofoblastik metastatik dan dapat
berdarah hebat bila dibiopsi.
c. Cairan serviks untuk perwarnaan gram terutama jika
dicurigai
adanya infeksi.
d. Tes kehamilan terhadap hCG. Tes positif kuat mengesankan
adanya
jaringan trofoblastik baik intra maupun ekstrauterin.
f. Tes koagulasi dapat dilakukan bila dicurigai adanya
kelainan
koagulasi.
g. Tes fungsi tiroid dapat diindikasikan sewaktu evaluasi lanjut

F. Penatalaksaaan
Tujuan penanganan perdarahan uterus disfungsional adalah untuk
mengontrol perdarahan yang keluar, mencegah komplikasi, memperbaiki
keadaan umum pasien, memelihara fertilitas dan menginduksi ovulasi bagi
pasien yang menginginkan anak
Terkadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak.
Sehingga penderita harus bed rest dan diberi transfusi darah. Pada usia
premenars, pengobatan hormonal perlu bila tidak dijumpai kelainan organik
maupun kelainan darah, gangguan terjadi selama 6 bulan atau 2 tahun setelah
menarche belum dijumpai siklus haid yang berovulasi, perdarahan yang terjadi
sampai mebuat keadaan umum memburuk.
Setelah pemeriksaan ginekologik menunjukkan bahwa perdarahan
berasal dari uterus dan tidak ada abortus inkomplitus, perdarahan untuk
sementara waktu dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan :
a. Estrogen dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan
perdarahan
berhenti. Dapat diberikan estradiol dipropionat 2,5mg atau estradiol benzoat
1,5mg secara intramuskular. Kekurangan terapi ini adalah setelah suntikan
dihentikan, perdarah timbul lagi.
b. Progesteron, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar perdarahan
fungsional bersifat anovulatoar, sehingga pemberian progesteron
mengimbangi pengaruh estrogen terhadap endometrium. Dapat diberikan
kaproas hidroksi-progesteron 125mg, secara intamuskular atau dapat
diberikan peroral sehari norethindrone 15mg atau medroksi-progesteron
asetat (provera) 10mg, yang dapat diulangi. Terapi ini berguna pada wanita
masa puberas.
Androgen berefek baik terhadap perdarahan disebabkan oleh hiperplasia
endomentirum. Terapi ini tidak boleh diberikan terlalu lama, karena bahaya
virilisasi. Dapat diberikan testosteron propionat 50 mg intramuskular yang
dapat diulangi 6 jam kemudian. Pemberian metiltestosteron peroral kurang
dapat efeknya. Androgen berguna pada perdarahan disfungsional berulang,
dapat diberikan metil testosteron 5 mg sehari. Erapi oral lebih baik dari pada
suntikan, dengan pedoman pemberian dosis sekecil-kecilnya dan sependek
mungkin.
Kecuali pada masa pubertas, terapi paling baik adalah dilatase kuretae.
Tindakan ini penting untuk diagnosis dan terapi, agar perdarahan tidak
berulang. Bila ada penyakit lain maka harus ditangani pula.
Apabila setelah dilakukan kerokan perdarahan disfungsional timbul lagi,
dapat diusahakan terapi hormonal. Pemberian estrogen saja kurang
bermanfaat karena sebagian besar perdarahan disfungsional disebabkan oleh
hiperestrenisme. Pemberian progesteron saja berguna apabila produksi
estrogen secara endogen cukup. Dalam hubungan hal-hal tersebut diatas,
pemberian estrogen dan progesteron dalam kombinasi dapat dianjurkan,
untuk keperluan ini pil-pil kontrasepsi dapat digunakan. Terapi ini dpat
dilakukan mulai hari ke-5 perdrahan terus untuk 21 hari. Dapat pula
diberikan progeseteron untuk 7 hari, mulai hari ke ke-21 siklus haid.
Pil kontrasepsi dapat menekan pertumbuhan endometrium, mengontrol sifat
perdarahan, menurunkan perdarahan terus-menerus dan menurunkan resiko
anemia defesiensi besi3.
Bila setelah dialakukan kerokan masih timbul perdarahan disfungsional,
dapat diberikan terapi hormonal. Pemberian kombinasi estrogen dan
progestron, seperti pemberian pil kontrasepsi dapat digunakan. Terapi ini
dapat dilakukan mulai hari ke 5 perdarahan sampai 21 hari. Dapat diberikan
progesteron untuk 7 hari, mulai hari ke 21 siklus haid.,
Sebagai tindakan terakhir pada wanita dengan peredarahan disfungsional
terus-menerus (meski telah kuretase) adala histerektomi.
Setelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai
kemungkinan kelainan organ, teryata tidak ditemukan penyakit lainnya,
maka langkah selanjutnya adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan
sebagai berikut:
1. Menghentikan perdarahan.
2. Mengatur menstruasi agar kembali normal
3. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%.
PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSI YANG ANOVULATOIR
Pil kontrasepsi oral digunakan untuk mengatur siklus haid dan
kontrasepsi. Pada penderita dengan siklus haid tidak teratur akibat anovulasi
kronik (oligo ovulasi), pemberian pil kontrasepsi mencegah resiko yang
berkaitan dengan stimulasi estrogen berkepanjangan terhadap endometrium yang
tidak diimbangi dengan progesteron (“unopposed estrogen stimulation of the
endometrium”). Pil kontrasepsi secara efektif dapat mengendalikan perdarahan
anovulatoir pada penderita pre dan perimenopause. Bila terdapat kontraindikasi
pemberian pil kontrasepsi ( perokok berat atau resiko tromboflebitis) maka dapat
diberikan terapi dengan progestin secara siklis selama 5 – 12 hari setiap bulan
sebagai alternatif.

PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSI OVULATOIR


Terapi medikamentosa untuk kasus menoragia terutama adalah NSAID
(asam mefenamat) dan AKDR-levonorgesterel (Mirena)
Efektivitas asam mefenamat, pil kontrasepsi, naproxen, danazol terhadap
menoragia adalah setara.
Efek samping dan harga dari androgen (Danazol atau GnRH agonis)
membatasi penggunaannya bagi kasus menoragia, namun obat-obat ini dapat
digunakan dalam jangka pendek untuk menipiskan endometrium sebelum
dikerjakan tindakan ablasi endometrium.
Obat antifibrinolitik secara bermakna mengurangi jumlah perdarahan,
namun obat ini jarang digunakan dengan alasan yang menyangkut keamanan (
potensi menyebabkan tromboembol

G. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, agama dan alamat, serta data penanggung jawab
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit klien merasa nyeri pada daerah
perut & terasa ada massa di daerah abdomen, menstruasi yg tidak
berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang Keluhan yang dirasakan klien
adalah nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan
pada daerah
perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan
muntah.
b. Riwayat kesehatan keluarga kaji riwayat keluarga dlm
kelainan ginekologi
4. Riwayat kehamilan dan persalinan Dengan kehamilan dan
persalinan/tidak
5. Riwayat menstruasi kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan
sampai amenorhea. menarche, lama, siklus, jumlah, warna dan bau
6. Pemeriksaan Fisik Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas
bawah secara sistematis.
a. Abdomen Nyeri tekan pada abdomen, Teraba massa pada
abdomen.
b. Ekstremitas Nyeri panggul saat beraktivitas, Tidak ada
kelemahan.
c. Eliminasi, urinasi Adanya konstipasi, Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomi kaji golongan masyarakat dan tingkat umur, baik
sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8. Data Psikologis Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi
wanita, dimana ovarium sebagai penghasil ovum, mengingat fungsi dari
ovarium tersebut sementara pada klien dengan perdarahan abnormal
pervaginam hal ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil
9. Pola kebiasaan Sehari-hari Biasanya klien mengalami gangguan dalam
aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
10. Pemeriksaan Penunjang
a. Data laboratorium pemeriksaan darah lengkap (NB, HT, SDP)
b. Pemeriksaan fisiki ada tidaknya benjolan dan ukuran benjolan

B. DIAGNOSA
1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otot, system saraf &
gangguan sirkulasi darah
2. Resiko Infeksi berhubungan dengan kerusakan otot
3. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan
perdarahan pervaginam berlebihan

C. INTERVENSI
1. Nyeri akut b.d kerusakan jaringan otot, system saraf & gangguan
sirkulasi darah
Defines :
Yaitu sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman
emosional yang muncul secara aktual/ potensial kerusakan jaringan
menggambarkan adanya kerusakan, intensitasnya dari ringan sampai
berat yang dapat diprediksi dan durasi kurang dari 6 bulan.

NOC
Setelah dilakukan perawatan 1 x 24 jam klien mampu mencapai
level nyaman, dengan indikotor:
1. Klien mampu melaporkan secara fisik sehat
2. Klien dapat mengontrol nyeri
3. Pesien melaporkan secara psikologis baik
4. Dapat mengekspresikan puas dengan fisiknya
5. Mengekspresikan puas dengan hubungan sosial
6. Mengekspresikan puas secara spiritual
7. Melaporkan puas dengan kemandiriannya
8. Puas terhadap kemampuan mengontrol nyeri
Intervensi
 Kaji riwayat nyeri, misal: lokasi nyeri, frekuensi, durasi
dan intensitas (kala0-10) dan tindakan pengurangan yang
dilakukan.
 Bantu pasien mengatur posisi senyaman mungkin (posisi
fowler atau posisi datar atau miring kesalah satusisi)
 Kaji tanda vital : tachicardi, hipertensi, pernafasan cepat.
 Ajarkan pasien penggunaan keterampilan manajemen
nyeri m dengan teknik relaksasi, tertawa, mendengarkan
musik dan sentuhan terapeutik.
 Evaluasi/ kontrol pengurangan nyeri
 Ciptakan suasana lingkungan tenang dan nyaman.
 Kolaborasi untuk pemberian analgetik sesuai indikasi.
 Laksanakan pengobatan sesuai indikasi seperti
analgesik intravena.
 Observasi efek analgetik (narkotik)
 Kolaborasi: anjurkan dilakukannya pembedahan
 Motivasi klien untuk mobilisasi dini setelah pembedahan
bila sudah diperbolehkan.

2. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan otot


Definisi :
Keadaan dimana terjadi peningkatan resiko terpapar
mikroorganisme pathogen.
NOC
Selama perawatan dan proses penyembuhan diharapkan pasien
tidak mengalami infeksi, dengan indikator:
 Klien mampu mencegah status infeksi
 Tidak mengalami nyeri saat berkemih
 Tidak demam
 Tidak menggigil/ kedinginan
 Tidak mengalami gangguan kognitif

Intervensi :
 Observasi tanda-tanda infeksi
 Monitor dan catat pemeriksaan terutama leukosit
 Lakukan semua tindakan invasive perawatan luka
 Perawatan alat medis invasive dengan prinsip steril
 Beri penjelasan pada klien dan keluarga cara pengontrolan
 Infeksi termasuk cuci tangan, faktor resiko, cara mencegah
infeksi
 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotic

3. Resiko kekurangan volume cairan Berhubungan dengan perdarahan


pervaginam berlebihan
Definisi :
Resiko mengalami dehidrasi vaskuler, seluler dan intrasel
Faktor resiko :
 Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan (status
hipermetabolik)
 Pengobatan deuritik
 Kehilangan cairan melalui jalur abnormal
 Kurangnya pengetahuan tentang volume cairan
 Banyaknya kehilangan cairan melalui jalur normal
 Usia lanjut

NOC :
Setelah menjalani perawatan selama di rumah sakit, diharapkan
Cairan intrasel dan ekstrasel dalam tubuh klien seimbang.
Dengan kriteria hasil :
 Keseimbangan cairan
 TD
 Tekanan Arteri rata-rata IER.
 Tekanan vena sentral IER.
 BB stabil.
 Tidak ada edema, peridetal.
 Tidak terjadi kebisingan
 Hidrasi kulit

Intervensi :
 Manajemen elektrolit
 Monitor elektrolit sebelum abnormal
 Monitor manifestasi keseimbangan cairan
 Berikan cairan
 Pertahankan keakuratan intake dan output
 Berikan elektrolit tindakan tambahan (oral, NGT, 10)
sesuai resep
 Ajarkan pasien dengan keluarga tentang tipe, penyebab,
treamorit dalam keseimbangan cairan.
 Manajemen cairan
 Naikkan masukan obat oral
 Cairan intravena
 Berikan cairan IV temperatur ruang
 Monitor