Anda di halaman 1dari 50

SKOR :

Critical Book Review (CBR)


Oleh :

Nama : Syamsah Fitri


NIM : 8176171034
Kelas : A1 / Pasca Pendidikan Matematika
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Pendidikan
Matematika
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Edi Syahputra, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A. 2017 / 2018
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT. Karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya saya dapat
menyelesaikan Tugas ini dengan tapat waktu. Saya memohon maaf apabila kepenulisan
dalam tugas saya masih jauh dari kata sempurna. Saya mengucapkan terima kasih
kepada Bapak Prof. Dr. Edi Syahputra, M.Pd selaku dosen Metodologi Penelitian
Pendidikan Matematika yang memberi arahan dalam mengerjakan tugas Critical Book
Review dengan Judul buku pertama Penelitian Pendidikan Matematika dengan
pengarang Prof. Dr. H. M. Wahyudin Zarkasyi, CPA.
Judul buka kedua Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Metods
Approaches: Third Edition dengan pengarang John W. Creswell. Judul buku ketiga
Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik dengan pengarang Prof. Dr. Suharsimi
Arikunto, dan judul buku keempat Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D dengan pengerang Prof. Dr. Sugiyono.
Saya berharap tugas ini dapat menambah wawasan kita mengenai materi yang
diangkat menjadi topik utama dalam tugas Critical Book Review , serta dapat menjadi
referensi yang bermanfaat bagi para pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan tugas ini dengan penuh rasa terima kasih dan
harapan semoga tugas saya bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Medan, 19 Februari 2018

Syamsah Fitri

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar belakang 1
1.2 Tujuan 2
1.3 Manfaat 2
BAB II RINGKASAN BUKU 3
BAB III PEMBAHASAN ANALISIS 43
3.1 Pembahasan Isi Buku 43
3.2 Kelebihan dan Kelemahan Buku 46
BAB IV PENUTUP 49
3.1. Kesimpulam 49
3.2 Saran 49
DAFTAR PUSTAKA 50

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu tugas mata kuliah metode penelitian pendidikan matematika Critical
Book Review yang diberikan dengan pembahasan untuk membandingkan isi buku
dari tiga buku nasional dan satu buku internsional dengan cara menganalisis temuan
utama, keunggulan dan kelemahan yang ada dalam buku tersebut dan
membandingkannya dengan buku lainnya. Untuk melengkapi tugas yang diberikan
saya mencoba mereview buku dengan identitas sebagai berikut:

Identitas buku
Buku pertama
Penulis : Prof. Dr. H. M. Wahyudin Zarkasyi, CPA
Penerbit : Refika Aditama
Cetakan : cetakan pertama desember 2015
Kota : Bandung
Tebal : 377 halaman, 30 cm
ISBN : 978-602-7948-87-7

Buku Kedua
Judul Buku : Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Metods
Approaches: Third Edition
Pengarang : John W. Creswell
Penerbit : Sage Publications, Incp
Tahun Terbit : 2009
Tempat Terbit : California
Tebal Buku : 289 halaman

Buku Ketiga
Judul Buku : Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik
Penulis : Prof. Dr. Suharsimi Arikunto
Penerbit : Rineka Cipta

1
Cetakan : cetakan ke – 15 Oktober 2013
Kota : Jakarta
Tebal : 413 halaman, 23,5 cm
ISBN : 978-979-518-998-5

Buku Keempat
Judul Buku : Metpde Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D
Penulis : Prof. Dr. Sugiyono
Penerbit : Alfabeta
Cetakan : cetakan ke - 16 Februari 2013
Kota : Bandung
Tebal : 458 halaman, 16 x 24 cm
ISBN : 979-8433-71-8

1.2. Tujuan
Critical book review ini bertujuan untuk:
1. Mengulas isi buku yang akan direview.
2. Mencari dan mengetahui informasi mengenai metode penelitian pendidikan
matematika yang ada didalam 4 buku
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang ada pada buku.

1.3. Manfaat
Critical book review ini bemanfaat untuk:
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan
Matematika
b. Untuk menambah pengetahuan tentang Metodologi Penelitian Pendidikan
Matematika dengan 4 buka yang akan direview.

BAB II
2
RINGKASAN
b.1. Ringkasan Isi Buku
Bab I. Langkah Awal Penelitian
A. Gambaran Umum Penelitian Pendidikan
Penelitian adalah suatu cara mencari kebenaran melalui metode ilmiah, yaitu studi
mengenai teori hasil penelitian dimasa lampau yang berkenan dengan permasalahan yang
dikaji, bila perlu dirumuskan praduga-praduga atau hipotesis-hipotesis, mengumpulkan data,
mengelolah data, dan mengambil kesimpulan (Ruseffendi , 2005).
Setiap penelitian mempunyai tujuan kegunaan tertentu. Secara umum, tujuan
penelitian ada tiga , yaitu untuk menemukan imformasi atau pengetahuan yang baru atau
belum pernah diketahui sebelumnya, membuktikan keragu-raguan terhadap pengetahuan
tertentu, dan mengembangkan pengetahuan yang sudah ada ssehingga menjadi lebih dalam
dan luas.
Penelitian pendidikan yang bertujuan untuk menentukan, misalnya menemukan model
pembelajaran yang efektif, efesien, dan menyenangkan.Penelitin yang bertujuan untuk
membuktikan,misalnya menentukan apa model pembelajaran yang efektif diterapkan
dinegara lain dapat efektip pula jika diterapkn di Indonesia .
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penelitian pendidikan dapat diartikan sebagai
serangkaian kegiatan mencari kebenaran melalui metode ilmiah yang dilakukan dalam
bidang pendidikan.
1. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yng berlandaskan pada filsafat positivism , digunakan
untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya
dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan intrumen penelitian, analisis data
bersifat kuantitatif/stastistik dengan tujuan untuk menguji hipotes yang telah digunakan
Sugiono, 2006)
2. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme,
digunakan pada kondisi objek yang alamiah, dimana penenliti adalah instrument kunci,
pengambilan data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data
dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat inductive/kualitatif, dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankaan makna daripada generalisasi (Sugiona, 2006).
3. Penelitian Kombinasi (Mixed Methods)
Penelitian kombinasi (mixed methods) merupakan pendekatan penelitian yang
mengombinasikan atau mengasosiasikan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.

3
B. LANGKAH AWAL PENELITIAN
Beberapa thapan yang perlu dilakukan sesorang peneliti sebagai langkah awal dalam
melakukan penelitian, diantaranya sebagai berikut.
1. Mengidentifkasi Masalah
Dalam penelitian penelitian kuantitatif, masalah yang dipecahkan melalui penelitian
harus jelas, spesifik, tunggal, pasial, dan dianggap tidak berubah sehingga peneliti dapat
menentukan variable-variabel yang akan diteliti dan arah penelitian sejak awal. Dalam
penelitian kualitatif, masalah yang akan diteliti masih belum jelas, masih bersifat sementara ,
tentative, kompleks, dinamis (dapat berkembang atau berubah atau berubah setelah peneliti
berada dilapangan dan bersifal holistic (menyeluruh dan tidak dapat dipisahkan ) sehingga
peneliti tidak hanya menetapkan penelitinya berdasarakan variable penelitian, tetapi juga
bedasarkan keseluruhan situasi sosial yang diteliti melipusti aspek tempat, perilaku, dan
aktifitas yang berintraksi secara sinergis. Dalam penelitin kombinasi, masalah yang diteliti
dapat dikaji dengan memperioritasikan salah satu diantara pendekatan kuantitatif atau
pendekatan kualitatif yang mencerminkan perioritas dari penelitian tersebut.
2. Menyusun Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah dimaaksudkan untuk menjelaskan alas an mengapa masalah tersebut
diteliti, pentingnya masalah itu diteliti, dan pendekatan untuk mengatasi masalah tersebut,
baik dari sisi teoretis praktis.
3. Pembatasan Masalah
Mengingat adanya keterbatasan, waktu, dana, tenaga dan teori-teori, maka tidak semua
masalah yang telah diidentifikasi akan diteliti. Pembatasan maslah dalam penelitian
kuantitatif lebih berdasarkan pada tingkat kepentingan, urgensi, dan feasebilita masalah yang
akan dipecahkan selain juga fakor keterbatasan tenaga, dana, dan waktu.
4. Merumuskan Masalah
Masalah yang akan diteliti perlu dirumuskan secara lebih sefesifik agar maalah dapat
terjawab dengn akurat. Dalam penelitian kuantitatif rumusan masalah terkait dengan
variabelpenelit sehingga rumusan masalah penelitin sangat sefesifik dsan akan digunakan
sebagai panduan bagi peneliti. Dalam peneliti kualitatif rumusan masalah merupakan pokus
peneliti yang masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk
lapangan atau situasi sosial tertentu.
5. Menentukan Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian terdiri atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum
menggambarkan secara singkat apa yang ingin dicapai melalui penelitian yang dinyatakan

4
dalam satu kaliamat. Rumus tujuan harus kosisten dengan rumusan masalah dan harus
mencerminkan peroses penelitiannya.
6. Menjelaskan Definisi Oprasional atau Penjelasan Istilah
Definisi oprasional adalah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat
diopservasi dari apa yang sedang didefinisikan atau mengubah konsep-konsep yang berupa
konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atu gejalah yang dapat diamati ,
diuji, dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain (Young, 1982).
7. Melakukan Tinjauan Pustaka
Tujauan pustaka sangat penting dalam karya ilmiah karena menunjukan kedudukan suatu
penelitian di tengah perkembangan ilmu dalam bidang yang diteliti.
8. Merumuskan Hipotesis
Pada penelitian kuantitatif, hipotesis perlu dirumuskan , sedangakan pada penelitian
kuaantitatif hipotesiis tidak dirumus kan , tetapi justru diharapkan dapat ditemukan
hipotesis.
a. Bentuk Hipotesis Berdasarkan Bentuk Rumusan Masalah
Berdasarkan bentuk rumusan masalahnya , hipotesis deskriptif, hipotesis komparatif,
hipotesis asosiatif, dan hipotesis kompratif-asosiatif.
1. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif yaitu yang
berkenan dengan variable mandiri.
Rumusan Masalah Deskriptif Hipotesis Deskriptif
Bagaimanakah pencapaian kemampuan Pencapaian kemampuan koneksi matematis
koneksi matematis siswa SMP dikot A ? siswa SMP di kota A sebesar 75% dari
keriteria ideal yang ditetapkan
2. Hipotesis Komparatif
Hipotesis koparatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah koparatif,
yaitu menyatakan perbandingan dua variable atau lebih.
Rumusan Masalah Koparatif Hipotesis Koparatif
Apakah terdapat perbedaan peningkatan Terdapat perbedaan peningktan
kemmpuan komunikasi matematis antara kemampuan komunikasi matematis antara
siswa yang memperoleh pembelajaran A siswa yang memperoleh pembelajaran A
dengan siswa yang memperoleh pembelajarn dengan siswa yang memperoleh
B? pemblajaran.
3. Hipotesis Asosiatif

5
Hipotesis asosiatif merupkan jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu
yang menyatakan hubungan bentuk asosiatif simetris, asosiatif kausal,dan asosiatif
resiprokal.
Bentuk Rumusan Rumusan Masalah Koparatif Hipotesis komparatif
Asosiatif Simetris Apakah terdapat hubugan antara Terdapat hubunagan positif
kemampuan penalaran antara kemampuan penalaran
matematis dengan kemampuan matematis dengan kemampuan
berpikir kritis matematis siswa ? berpikir keritis matematis siswa.
Asosiatif Kausal Apakah terdapat pengaruh Terdapat pengaruh yng positif
penerapan model pembelajaran A penerapan model pembelajaran
terhadap kemampuan A terhadap kemampuan
penyelesaiaan masalah penyelesaian masalah natematis
matematis siswa ? siswa.
Asosiatif Resiprokal Apakah terdapat hubungan Terdapat hubunagn yang
antara motivasi dan prestasi interaktif antara motivasi dan
belajar matematika siswa? prestasi belajar matematika
siswa.
3. Hipotesis Koparatif-Asosiatif
Hipotesis koparatit merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah koparatif-
asosiatif, yaitu yang menyatakan perbandingan dan hubunagan variable atau lebih .
Rumusan Masalah Koparatif-Asosiatif Hipotesis Koparatif-Asosiatif
Apakah terdapat perbedaan korelasi Terdapat perbedaan korelasi kecemasan
kecemasan belajar terhadap prestasi belajar belajar terhadap pertasi belajar matematika
matematika atara siswa dikelas A dengan antara siswa di kelas A dengan kelas B
kelas B ?
Bab II. Model-Model Pembelajaran Matematika
Model pembelajajaran adalah satu pola intraksi antar siswa dan guru didalam
kelas yang terdiri dari strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembeljaran yang
diterapakan dalam pelakasanaan kegiatan pembelajaran di kelas. Strategi
pembelajaran adalah perencanaan yang meliputi sifat dan kiat yang sengaja dibuat
oleh guru berkenan dengan persoalan pembelajaran, agar pelajaran berjalan sesuai
dengan tujuan . Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran adalah cara menyajikan materi yang bersifat
umum. Teknik pembelajaran adalah cara yang dilakukan sesorang dalam
mengimplementasikan suatumetode secara sepesifik. Media pembelajaran adalah
semua benda yang menjadi perantara dalam pembelajaran.

6
Selanjutnya akan dilakukan pembahasan mengenai beberapa model
pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai alternative penerapan pembelajaran di
kelas
1. Direct Intrution (DI)
2. Contextual Teaching and Learning (CTL)
3. Realistic Mathematics Edukation (RME)
4. Open-Ended Approach
5. Problem Based Learning (PBL)
6. Cooperative Learning
7. Number Head Together (NTH)
8. Student Team Achievement Division (STAD)
9. Teams Game Turnament (TGT)
10. Jigsaw
11. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
12. Team Assisted IndividuALIZTION (TAI)
13. Grup Investigation (GI)
14. Two Stay – Two Stray (TS-TS)
15. Think Pair Share (TPS)
16. Coneting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE)
17. Script
18. Co-op Co-op
19. Think-Talk-Write (TTW)
20. Pembelajaran Bersiklus
21. Somatic, Auditory, Visualization, Intelellectuallly (SAVI)
22. Visualization, Auditory, Kinesthetic (VAK)
23. Auditory, Intellectually, Reptition (AIR)
24. Survey, Question, Read, Review (SQ3R)
25. Survey, Question, Read, Recite, Review, Reflect (SQ4R)
26. Pembelajaran Improve
27. Brain-based Learning (Bbl)
28. Projeck-based Learning (Pbl)
C. ASPEK KOGNITIF DALAM PEMBELAJARANMATEMATIKA

7
Aspek kognitif dalam pembelajaran matematika mencakup perilaku-perilaku
yang menekankan aspek intelektual seperti kemampuan matematis (mathematical
abilities), yaitu pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk dapt
melakuan manipulasi matematika dan kemampuan berpikir dalam matematika .
Kemampuan matematis tersebut antara lain;
1. Kemampuan Pengetahuan Matematis (Knowing)
2. Kemampuan Pemahaman Matematis (Understanding)
3. Kemampuan Penalaran Matematis ( Reasoning)
4. Kemampuan Koneksi Matematis (Connecting)
5. Kemampuan Komunikasi Matematis ( Communication)
6. Kemampuan Representasi Matematis ( Representation)
7. Kemampuan Penyelesaiaan Masalah ( Problem Solving)
8. Kemampuan Spasial Matematis
9. Kemampuan Observasi Matematis (Observation)
10. Kemampuan Investigasi Matematis (Investigation)
11. Kompetensi Eksplorasi Matematis (Exploration)
12. Kemampuan Elaborasi Matematis (Elaboration)
13. Kompetensi Inkuiri Matematis (Inquiry)
14. Kemampuan Konjektur Matematis ( Conjecture)
15. Kemampuan Hipotesis Matematis ( Hypothesis)
16. Kemampuan Analisis Matematis
17. Kemampuan Sintesis Matematis
18. Kemampuan Evaluasi Matematis
19. Kemampuan Pembuktian Matematis
20. Kemampuan Analogi Matematis
21. Kemampuan Generalisasi Matematis ( Generalization)
22. Kemampuan Berpikir Kereatif Matematis
23. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis
24. Kemampuan Berpikir Logis
25. Kemampuan Berpikir Reflektif Matematis
26. Kemampuan Berpikir Metafora ( Metaphorical Thinking)
27. Kelancaran Prosedural Matematis ( Mathematics Procedural Fluency)

8
28. Kompentesi Strategis Matematis ( Strategic Competence)
29. Penalaran Adaptif Matematis ( Adaptif Reasoning)
D. Aspek Afektif dalam Pembelajaran Matematika
1. Disposisi Matematis
Sumarmo (2010) mengemukakan bahwa disposisi matematis adalah keinginan,
kesadaran, kecenderungan, dan dedikasi yang kuat pada diri siswa untuk berpikir dan
berbuat secara matematis.
Indikator disposisi matematis adalah
a. Rasa percaya diri dalam pembelajaran matematika
b. Fleksibilitas
c. Tekun dalam mengerjakan tugas
d. Memiliki minat, rasa ingin tahu dan memiliki daya temu dalam matematika.
e. Memonitor dan merefleksikan
f. Mampu mengaitkan ke situasi lain
2. Productive Disposition
Kilpatrik et al. (2001) mengemukakan bahwa productive disposition adalah suatu
sikap positif serta kebiasaan untuk melihat matematika sebagai sesuatu yang logis
dan berguna bagi kehidupan. Indicator productive disposition yaitu:
a. Antusias dalam belajar
b. Penuh perhatian
c. Gigih dan tekun
d. Penuh percaya diri
e. Bersikap luwes dan terbuka
f. Memiliki rasa inging tahu yang tinggi
g. Kemampuan berbagi pendapat.
3. Sikap
Sikap merupakan kecenderungan perasaan terhadap suatu objek, situasi, konsep,
orang lain ataupun dirinya sendiri, akibat hasil dari proses belajar atau pengalaman
yang menyatakan sikap positif atau sikap negative. Adapun indicator sikap adalah :
a. Menerima atau tidak menerima stimulus yang diberikan
b. Menunjukkan kesenangan atau tidak kesenangan
c. Merespon atau tidak merespon stimulus
d. Menunjukkan kesungguhan atau tidak kesungguhan
e. Menghargai atau tidak menghargai stimulus
f. Bertanggung jawab atau tidak bertanggung jawab.
4. Respon
Respon adalah suatu sikap yang menunjukkan adanya partisipasi aktif untuk
melibatkan diri dalam suatu kegiatan (pembelajaran). Indicator respon adalah :
9
a. Kepuasan merespon
b. Berpartisipasi aktif
5. Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah suatu daya, dorongan baik yang dating dari diri sendiri
maupun dari luar yang mendorong peserta didik untuk belajar. Indikato motivasi
belajar yaitu :
a. Adanya dorongan dan kebutuhan belajar
b. Menunjukkan perhatian dan minat
c. Tekun menghadapi tugas
d. Ulet menghadapi masalah
e. Adanya hasrat dan keinginan berhasil
6. Minat Belajar
Guilford (1969) minat belajar adalah dorongan – dorongan dari dalam diri peserta
didik secara psikis dalam mempelajari sesuatu dengan penuh kesadaran, ketenangan
dan kedisiplinan sehingga menyebabkan individu secara aktif dan senang untuk
melakukannya. Indicator minat belajar di antaranya:
a. Perasaan senang
b. Ketertarikan untuk belajar
c. Menunjukkan perhatian saat belajar
d. Keterlibatan dalam belajar.
7. Kecerdasan Emosional (Emotional Intellegence)
Goleman (1996) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah
kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga
kesalarasan emosi dan pengungkapannya melalui ketrampilan kesadaran diri,
pengendalian diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan social. Indicator dari
kecerdasaan emosional yaitu :
a. Mengenali emosi diri maupun emosi orang lain
b. Mengelola emosi
c. Memotivasi diri sendiri
d. Membina hubungan
8. Metakognitif
Menurut Flavell (1985) metakognitif yaitu pengetahuan dan regulasi pada suatu
aktivitas kognitif seseorang dalam proses belajarnya. Adapun kemampuan
metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif diri sendiri, bagaimana kognitif
diri bekerja serta bagaimana mengaturnya. Indicator-indikator kemampuan
metakognitif yaitu :

10
a. Mengindentifikasi tugas
b. Mengawasi kemajuan tugas nya
c. Mengevaluasi kemajuan
d. Memprediksi hasil yang akan diperoleh.
9. Self-regulated Learning
Self-regulated Learning atau kemandirian belajar adalah kemampuan memonitor,
meregulasi, mengontrol aspek kognisi, motivasi dan perilaku diri sendiri dalam
belajar. Adapun indicator kemandirian belajar yaitu :
a. Inisiatif belajar
b. Mampu menentukan nasib sendiri
c. Mendiagnosis kebutuhan belajar
d. Kreatif dan inisiatif
e. Memonitor, mengatur dan mengontrol
f. Mampu menahan diri dan mengatasi masalah.
10. Self- Concept
Burns (1979) , menyatakan bahwa self- concept merupakan suatu bentuk atau
susunan yang teratur tentang persepsi-persepsi diri. Indicator dari self-concept
diantaranya yaitu :
a. Memiliki kemampuan mengenali dan menilai diri sendiri
b. Memiliki gambaran yang ideal untuk masa depan
c. Memiliki standar kehidupan.
11. Self- Confidence
Self – confidence adalah suatu sikap yakin akan kemampuan diri sendiri dan
memandang diri sendiri sebagai pribadi yang utuh dengan mengacu pada konsep diri.
Indicator self confidence adalah :
a. Percaya pada kemampuan diri sendiri
b. Bertindak mandiri dan berani
c. Memiliki konsep diri yang positif.
12. Self – Efficacy
Self – Eficacy dapat diartikan sebagai suatu sikap menilai atau
mempertimbangkan kemampuan diri sendiri dalam menyelesaikan tugas yang
spesifik. Indicator self-eficacy adalah :
a. Keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri dalam mengahadapi masalah
maupun tantangan yang baru
b. Keyakinnan terhadap kemampuan menyesuaikan dengan tugas- tugas.
13. Self – Esteem

11
Self-esteem dapat diartikan juga sebagai suatu sikap kesadaran dalam menghargai
diri sendiri. Indicator self –esteem di antaranya :
a. Kesadaran akan rasa aman
b. Kesadaran tentang identitas diri
c. Kesadaran akan dibutuhkan orang lain
d. Kesadaran untuk mencapai tujuan
e. Kesadaran untuk kemampuan dan usahanya.
14. Self-directed Learning
Self- directed dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana seseorang memiliki
inisiatif dalam menyadari kebutuhan belajar., merumuskan tujuan belajar,
mengidentifikasi sumber belajar, memilih dan menerapkan strategi belajar dan
mengevaluasi hasil belajar. Indicator self-directed learning adalah :
a. Mengontrol pengelaman
b. Merencanakan aktivitas
c. Mengubah diri dan memanejemen
d. Mengevaluasi diri.
15. Kecemasan Matematis
Menurut Holmes (1991), kecemasan matematis adalah reaksi kognitif yang
negative dari seseorang ketika dihadapkan pada saat belajar matematika. Indicator
kecemasan belajar meliputi empat komponen yaitu:
a. Mood ditandai dengan perasaan tegang, was-was dan merasa takut.
b. Motorik dengan gemetaran dan sikap terburu-buru.
c. Kognitif ditandai dengan dulit berkonsentrasi.
d. Somatic ditandai dengan jantung berdebar dan mudah berkeringat.
16. Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar adalah suatu wujud ketidakmampuan atau kurang berhasil
dalam menguasi konsep, prinsip, atau algoritma walaupun telah berusaha
mempelajarinya. Indicator kesulitan belajar adalah :
a. Ketidakmampuan mengingat nama-nama secara teknis dan satu kondisi
b. Ketidakmampuan menyatakan arti dari konsep
c. Ketidakmampuan mengingat syarat cukup untuk suatu objek
d. Ketidakmampuan memberikan contoh dan bukan contoh
e. Ketidakmampuan menyimpulkan informasi.
17. Prokastinasi
Prokastinasi adalah kecenderungan untuk menunda dalam mengerjakan suatu
pekerjaan atau kegagalan untuk menyelesaikan tugas pada tepaat waktunya. Indicator
prokastinasi adalah :

12
a. Kegagalan mengumpulkan dan menyelesaikan tugas pada tepat waktunya
b. Perasaan cemas sehingga menunda tugas
c. Keragu-raguan tehadap kemampuan yang dimiliki.
E. Aspek Psikomotor dalam Pembelajaran Matematika
1. Tanggapan
Tanggapan yaitu penggunaan indra untuk menghasilkan isyarat yang diperlukan
pada aktivitas gerakan terarah. Indicator dari tanggapan di antaranya :
a. Sensory simulation, menerjemahkan terhadap ransangan panca indera
b. Cue selection, memilih isyarat dengan mengidentifikasi isyarat – isyarat
relevan
c. Translation, menghubungkan isyarat panca indera pada saat melakukan aksi
gerakan.
2. Kesiapan (set)
Kesiapan yaitu kesiapan dalam melakukan suatu tindakan. Indikatornya adalah :
a. Kesiapan mental untuk melakukan tindakan
b. Kesiapan fisik
c. Kesiapan emosional.
3. Kerja Sama
Kerja sama adalah keterlibatan mental dan emosional seseorang didalam situasi
kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan
kelompok atau berbagi tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Indicator
kerja sama yaitu :
a. Tanggung jawab secara bersama-sama
b. Memberikan bantuan pada orang lain
c. Menghargai pendapat orang lain dan bertukar pikiran
d. Melakukan pembagian kelompok
e. Saling berkontribusi dan menunjukkan kekompakan.
4. Respon Terarah (Guided Responses)\
Respon terarah yaitu suatu tindakan yang sesuai arahan suatu pedoman atau
model. Indikatornya adalah :
a. Imination, menirukan atau mencontohkan orang lain
b. Trial and error, mencoba-coba berbagai tindakan dan memperoleh tindakan
yang benar.
5. Manipulasi
Manipulasi adalah kemampuan dalam melakukan suatu tindakan serta memilih
apa yang diperlukan dari apa yang diajarkan. Indikatornya adalah :

13
a. Mendemonstrasikan
b. Merancang
c. Memperagakan
d. Melatih
e. Memperbaiki.
6. keaktifan Belajar
Keaktifan belajar merupakan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran
dengan tujuan agar memeliki keberhasilan dalam belajar. Indikatornya adalah:
a. Menyatakan pendapat
b. Mengajukan pertanyaan
c. Menanggapi pendapat orang lain
d. Mengerjakan tugas dengan baik
e. Turur serta dalam melaksanakan tugas belajarnya
f. Terlibat dalam kegiatan penyelesaian masalah
g. Melaksanakan diskusi kelompok
h. Berani tampil di depan kelas.
BAB III. Metodologi Penilitian
A. Populasi dan Sampel
1. Pengertian populasi dan sampel
Dalam penilitian kuantitatif, populasi adalah keseluruhan objek/subjek didalam
penilitian. Sugiyono (2006) menyatakan, bahwa populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan peniliti, kemudian ditarik kesimpulannya.. sedangkan
sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
2. Ukuran Sampel (Saample Size)
Suatu sampel dikatakan ideal jika dapat mewakili atau menggambarkan
keadaan populasinya (respentatif). Makin besar ukuran sampel mendekati populasi,
maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaiknya makin kecil ukuran
sampel menjauhi populasi, maka semakin besar kesalahan generalisasi.
Jika sampel ditentukan secara random, maka terdapat dua pendekatan yang
dapat dilakukan untuk menentukan besarnya ukuran sampel yaitu rumus kekeliruan
menggunakan pendekatan rata-rata populasi dan rumus kekeliruan menggunakan
pendekatan proporsi populasi.
B. Teknik Sampling

14
Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Secara umum, teknik yang
digunakan untuk menentukan sampel dalam penilitian terbagi menjadi dua yaitu
probability sampling dan nonprobability sampling.
Dalam penilitian kuantitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah
cluster random sampling/area random sampling yaitu pengacakan sampel daerah.
Meskipun teknik keacakan sampelnya kurang baik, tetapi teknik ini sering kali jauh
lebih mungkin dapat dilaksanakan jika dibandingkan dengan teknik simple random
sampling dan proportionate stratified random sampling.
Sementara itu, dalam penilitian kualitatif, tekning sampling yang sering
digunakan adalah purposive sampling dan snowball sampling. Penentuan sampel
dalam penilitian kualitatif tidak didasarkan perhitungan statistic.
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan
peluang yang sama bagi setiap unsur/ anggota populasi untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Teknik sampling ini dapat dilakukan dalam beberapa teknik sebagai
berikut :
a. Simple Random Sampling
Teknik ini merupakan teknik pengambilan sampel yang sederhana karena
pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi. . Hal tersebut dapat dilakukan jika
populasi dianggap homogeny (relative homogen).
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan jika populasi mempunyai unsure (anggota) yang tidak
homogeny dan berstrata proporsional.
c. Disproportionate Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, jika populasi berstrata
tetapi kurang proporsional.
d. Cluster Random Sampling/ Area Random Sampling
Teknik sampling daerah ini digunakan untuk menentukan sampel jika objek/
subjek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya siswa dari suatu
Negara, provinsi atau kabupaten. Teknik ini biasanya dilakukan secara bertahap
dengan menentukan daerah mana yang akan dijadikan sebagai sampel secara acak.

15
2. Non Probability Sampling
Non Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberikan peluang yang sama bagi setiap unsure/anggota populasi untuk dipilih
menjadi anggota sampel. Teknik sampling ini dapat dilakukan dalam beberapa teknik
sebagai berikut:
a. Sampling Sistematis
Sampling sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari
anggota populasi yang telah diberi nomor urut.
b. Sampling Kuota
Sampling kuota adalah teknik sampling untuk menentukan sampel dari populasi
yang meempuyai cirri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
c. Sampling Incidental
Sampling incidental adalah teknik penentuan sampel secara incidental
(kebetulan) yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ insedential bertemu dengan
peniliti dapat digunakan sebagai sampel jika orang yang kebetulan ditemui itu
dipandang cocok sebagai sumber data.
d. Purpose Sampling
Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Dengan demikian, pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan dalam
teknik purposive sampling ini bisa beragam dan bergantung pada kebutuhan dari
penilitian yang akan dilakukan.
e. Sampling Jenuh
Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relative kecil,
kurang dari 30 orang atau penilitian yang ingin membuat generalisasi dengan
kesalahan yang snagat kecil. Istilah lain, sampel jenuh adalah sensus, dimana semua
anggota populasi dijadikan sampel.
f. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penetuan sampel yang mula-mula jumlahnya
kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama
menjadi besar.
C. METODE PENILITIAN

16
Metode penelitian adalah cara alamiah untuk memperoleh data dengan
kegunaan dan tujuan tertentu. Terdapat berbagai macam metode penelitian,
diantaranya :
1. Eksperimen
Metode eksperimen adalah suatu metode penilitian yang berusaha mencari
hubungan variable tertentu terhadap variable lain dalam kondisi yang terkontrol
secara ketat (Sugiyono, 2003). Sementara itu, Arikunto (2006) mengemukakan bahwa
metode eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat
(hubungan kausal) antara dua factor yang sengaja ditimbulkan oleh peniliti dengan
mengeliminasi atau mengurangi atau menyisihkan factor-faktor lain yang menggangu.
Secara umum, terdapat tiga karakteristik penilitian eksperimen yang membedakan
metode penilitian tersebut dengan metode penilitian tersebut dengan metode
penilitian lainnya yaitu:
a. Manipulasi
Peneliti memanipulasi variable bebas (independent) dengan memberikan
perlakuan. Perlakuan tersebut bertujuan agar apa yang diharapkan peniliti dalam
penilitian dapat tercapai.
b. Pengendalian atau Kontrol
Pengendalian atau control dilakukan dengan menambahkan factor lain atau
mengabaikan (menghilangkan) factor lain yang tidak di inginkan peniliti dari variabek
yang diteliti. factor lain tersebut disebut juga sebagi variebel control. Variable control
sering digunakam oleh peniliti, bila akan melakukan penilitian yang bersifat
membandingkan.
c. Pengamatan
Setelah perlakuan diberikan selama kurun waktu tertentu, peniliti melakukan
pengamatan atau pengukuran untuk mengetahui pengaruh dari manipulasi/
perlakuan ynag diberikan terhadap variable yang diteliti. pengamatan dilakukan
melalui pengumpulan data baik tes maupun nontes.
2. Expost Facto
Metode expost facto yaitu metode penemuan empiris yang dilakukan secara
sistematis, peniliti tidak melakukan control terhadap variable-variabel bebas karena
manifestasinya sudah terjadi atau variable – variebel tersebut secara inheren tidak

17
dapat dimanupulasi (Kerlinger, 1993). Pada penilitian ini, keterikatan antara variable
bebas dan variable bebas, ataupun antara variable bebas dan variable terikat sudah
terjadi secara alami.
Metode expost facto dapat dilakukan jika peniliti telah yakin, bahwa perlakuan
variable bebas telah terjadi sebelumnya. Metode ini banyak dilakukan dalam bidang
pendidikan sebab tidak semua masalah pendidikan dapat diteliti dengan metode
eksperimen.
3. Survey
Metode survey merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang dilakukan
denga cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden. Kerlinger
(1973) mengatakan, bahwa penilitian survey adalah penilitian yang dilakukan pada
populsi besar ataupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data sampel yang
diambil dari populasi tersebut sehingga ditemukan kejadian relative, distribusi dan
hubungan-hubungan antarvariabel sosiologis ataupun psikologis.
Pada umumnya, penilitian survey dilakukan untk mengambil suatu generalisasi
dari pengamatan yang tidak mendalam. Dalam penelitian survey, peneliti menentukan
sumber data sesuai dengan tujuan penilitian, membuat kuesioner atau melakukan
wawancara untuk mengumpulkan data.
4. Naturalistik
Metode penelitian naturalistik adalah metode yang dilakukan pada kondisi yang
alamiah (natural setting) dengan melakukan observasi menyeluruh pada sebuah
latar tertentu tanpa mengubahnya sedikit pun. Penilitian ini juga dikenal dengan
penilitian kualitatif. Penelitian naturalistic menuntut peneliti untuk terjun lansung ke
lapangan berdasarkan emapat unsure yaitu menetapkan sampel secara purposive,
mengadakan analisis data secara kualitatif, mengembangkan Grounded Theory secara
induktif dan mengembangkan desain penilitian.
Tujuan penilitian naturalistic adalah untuk mengetahui aktualitas, realitas social
dan persepsi manusia melalui pengakuan yang mungkin tidak dapt diungkap melalui
pengukuran formal atau pertanyaan penilitian yang telah dipersiapkan terlebih
dahulu.
5. Policy Research

18
Policy research (penilitian kebijakan) adalah metode penilitian tindakan yang
dimulai Karena adanya masalah. Majchrzak (Sugiyono, 2003) mendefinisikan policy
research adalah suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis terhadap
masalah-masalah social yang mendasar sehingga temuannya dapat direkomendasikan
kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan
masalah.
Tujuan dari metode policy research ini adalah menghasilkan rekomendasi
kebijakan yang akan dijadikan landasan pengambila keputusan untuk menentukan
kebijakan. Kebijakan dilakukan sejak perencanaan hingga evaluasi pelaksanaan.
6. Action Research
Action research atau penilitian tindakan merupakan salah satu bentuk
rancangan penilitian, dimana dalam penilitian ini peneliti mendeskripsikan,
menginterprestasikan dan menjelaskan situasi social pada waktu yang bersamaan
dengan melakukan perubahan atau interverensi dengan tujuan perbaikan atau
partisipasi.
Action research ditujukan untuk memberikan andil pada penyelasaian masalah
praktis dalam situasi problematic yang mendesak. Proses penilitian bersifat dari
waktu ke waktu, antara finding pada saat penilitian dan action learning. dengan
demikian, action research menghubungkan antara teori dan praktik. Action research
termasuk penilitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisasaja bersifat
kuantitatif.
D. DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab
pertanyaan penlitian dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul
selama proses penelitian. Hal ini penting karena desain penilitian merupakan strategi
untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis atau
untuk menjawab pertnyaan penilitian, dan sebagai alat untuk mengontrol variable
yang berpengaruh dalam penilitian (Sugiyono, 2010).
1. Desain Penilitian Kuantitatif
a. Pre Experimental
Dikatakan pre experimental design karena desain ini belum merupakan
eksperimen yang sungguh-sungguh. Hal tersebut dikarenakan masih terdapat
variable luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuk nya variable dependen.
19
Pre Experimental design disebut juga sebagai poor experimental s=desain.
Desain ini lemah karena tidak memiliki variable control sehingga memungkinkan
munculnya variable lain yang dapat menjadi ancaman terhadap validitas internal.
Terdapat beberapa bentuk desain pre –experimental yaitu the one-shot case
study design, the one-group pretest-postest design, the static- group comparison
design, dan the static-group-pretest-postest design.
b. True Experimental
Dikatakan true experimental karena desain ini, peniliti dapat mengontrol
semua variable luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian,
validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penilitian) dapat menjadi tinggi.
Cirri utama dari true experimental adalah sampel yang digunakann, baik untuk
eksperimen maupun sebagai kelompok control diambil secara acak (random) dari
populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok control dan sampel dipilih
secara acak )random).
Bentuk desain true experimental diantaranya yaitu the randomized posttest
only control design, the randomized pretest-posttest control group design, the
randomized Solomon four-group design, the randomized posttest only control group
using mathed subject design, dan the randomized pretest-posttest control group
using mathed subject design.
c. Quasi Experimental
Bentuk desain eksperimen ini merupakan pengembangan dari true
experimental design yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai kelompok
control, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya mengontrol variable-variabel luar
yang mempengaruhi ekspermen. Walaupun demikian, desain ini lenih baik dari pada
pre-experimental design.
Dalam penilitian khususnya pendidikan /pembelajaran, desain ini merupakan
desain yang paling mungki untuk dilakukan, mengingat terdapat berbagai macam
kendala dalam menerapkan true experimental seperti telah dikemukakan
sebelumnya. Bentuk quasi experimental diantaranya yaitu the nonequivalent
posttest-only control group design, the nonequivalen pretest-posttest control group
design, the matching-only posttest-only control group design, the matching only

20
pretest-posttest control group design, a three treatment counterbalanced design, dan
basic time-series design.
d. Factorial Eksperimental
Desain factorial merupakan modifikasi dari desain true experimental yaitu
dengan memperhatikan adanya variable moderator yang mempengaruhi suatu
perlakuan (variable independen). Pada desain ini, semua kelompok dipilih secara
random, kemudian masing-masing di pretest sebelum perlakuan dan posttest setelah
perlakuan. Dalam hal ini, variable moderatornya adalah Y 1 dan Y2. Teknik sampling
yang cocok digunakan untuk desain adalah simple ramdom sampling.
2. Desain Penilitian Kualitatif
Pada penilitian kualitatif, bentuk desain penilitian dimungkinkan bervariasi,
fleksibel atau dimungkinkan untuk diubah guna menyesuaikan dari rencana yang
telah dibuat, dengan gejala yang ada pada tempat penilitian yang sebenarnya. Tidak
ada pola baku tetang format desain penilitian kualitatif sebab : 1) instrument utama
penilitian kualitatif adalah peniliti sendiri sehingga tiap-tiap orang bisa memiliki
model desain sendiri sesuai seleranya; 2) proses penilitian kualitatif bersifat siklus
sehingga sulit untuk dirumuskan format yang baku ; dan 3) umumnya penilitian
kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu sehingga sulit untuk
dirumuska format desain yang baku.
3. Desain Penilitian Kombinasi (Mixed Methods)
Terdapat dua desain dalam penilitian kombinasi,yaitu sequential design dan
concurrent design. Sequential design terdiri dari tiga macam yaitu sequential
explanatory design, sequential exploratory design dan sequential transformative
design. Sedangkan concurrent design terdiri dari concurrent triangulation design,
concurrent embedded design dan concurrent transformative design.
a. Sequential Design
Penilitian kombinasi (mixed methods) dengan desain sequential adalah suatu
prosedur penilitian dimana peniliti mengelaborasikan atau mengembangkan hasil
penilitian dari satu metode dengan metode yang lain.
Cirri khas dari desain sequential adalah peniliti mengombinasikan pendekatan
kuantitatif dan pendekatan kualitatif dalam penelitiannya secara bertahap
(berurutan).

21
b. Concurrent Design
Penilitian kombinasi (mixed methods) dengan desain concurrent merupakan
prosedur penilitian dimana peneliti mengabungkan data kuantitatif dan kualitatif
agar diperoleh analisis yang komperehensif guna menjawab masalah penilitian.
Cirri khas deain concurrent adalah peneliti mengombinasikan pendelakatan
kuantitatof dan pendekatan kualitatif dengan melakukannya dalam waktu bersamaan.
BAB IV. Instrumen Penelitian
A. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk
mmengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data tersebut dibutuhkan untuk
menjawab rumusan masalah/ pertanyaan penelitian. Dalam bidang pendidikan
mate,atika, instrument penelitian digunakan untuk mngukur prestasi belajar siswa,
kemampuan matematis tertentu, factor-faktor yang diduga mempunyai hubungan
atau berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, keberhasilan proses belajar mengajar,
atau keberhasilan pencapaian suatu program tertentu.
Berdasarkan fungsinya, instrument dalam penelitian ini digolongkan ke dalam
dua kelompok yaitu instrument utama dan instrument penunjang penilitian.
1. Instrument Utama
Instrument utama dalam penelitian merupakan instrument atau alat yang digunakan
untuk memperoleh data yang diperlukan untuk menjawab rumusan
masalah/pertanyaan penelitian, pada penelitian kuantitatif, instrument utama dapat
berupa instrument tes dan non tes. Sementara pada penelitian kualitatif yang menjadi
instrument utama adalah peneliti itu sendiri, sementara instrument lainnya bertindak
sebagai instrument penujang. Sedangkan pada penilitian kombinasi ynag menjadi
instrument utama bergantung pada pendekatan mana yang diprioritaskan.
a. Instrument Tes
Instrument tes adalah alat yang digunakan dalam rangka pengukuran dan
penilaian, biasanya berupa sejumlah pertanyaan/soal yang diberikan untuk dijawab
oleh subjek yang diteliti (siswa/guru).
Berdasarkan bentuknya, instrument tes dibedakan menjadi dua tipe yaitu tes
subjektif dan tes objektif.
1) Tes Subjektif

22
Tes subjektif merupakan tes yang berbentuk soal uraian (essay). Melalui tes ini,
siswa dituntut untuk menyusun jawaban secara terurai dan menjelaskan atau
mengekspersikan gagasannya melalui bahasa tulisan secara lengkap dan jelas.
Dengan demikian selain harus menguasai materi yang diteskan, siswa juga dituntut
untuk dapat mengungkapkan jawbannya dalam bahasa tulisan baik.
Pada umumnya, tipe tes subjektif menggunakan kata tanya/kata perintah,
seperti jelaskan, tentukan, selesaikan, uraikan, carilah, hitunglah dan buktikan.
2) Tes Objektif
Tes objek merupakan tes yang berbentuk jawban singkat (short answer test).
Tes ini hanya memerlukan jawaban singkat, tetapi tepat. Terdapat berbagai variasi
berbentuk tes objektif, di antara nya: bentuk benar-salah (true-false), pilihan
berganda (multiple choise), isian singkat dan menjodohkan.
b. Instrumen Non Tes
Dalam penelitian pendidikan matematika, instrument non tes biasanya
digunkan sebagai alat untuk mengukur aspek afektif dan psikomotorik. Aspek afektif
yang diukur misalnya respon, sikap, minat, motivasi belajar atau disposisi matematis.
Sementara aspek psikomotorik yang diukur misalnya keaktifan, kerja sama, aktivitas
guru dan siswa atau ketrampilan matematis tertentu. Terdapat berbagai macam
instrument non tes yang dapat digunakan dalam penelitian, diantaranya:
1) Angket
Angket adalah instrument non tes yang berupa daftar pertanyaan yang harus
dijawab oleh orang yang menjadi subjek dalam penelitian (responden). Dalam
penelitian pendidikan, orang yang menjadi subjek dalam penelitian adalah siswa,
guru, kepala sekolah atau tenaga pendidik dan kependidikan lainnya.
Bentuk pertanyaan dapat bersifat terbuka, terstruktur atau tertutup. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam penyusunan angket antara lain: 1. kemukakan petunjuk
pengisian/pengantar yag didalamnya yang berisi maksud, jaminana kerahasian
jawaban dan ucapan terimakasih 2. Rumuskan setiap butir pertanyaan secara jelas
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak bermakna ganda (ambigu)
dan 3. Sediakan tempat untu menuliskan komentar responden pertanyaan yang
bersifat terbuka.
2) Pedoman Wawancara

23
Pedoman wawancara merupakan instrument non tes yang berupa serangakaian
pertanyaan yang dipakai sebagai acuan untuk mendapatkan data/informasi tertentu
tentang keadaan responden dengan cara Tanya- jawab. Dalam penelitian pendidikan,
pedoman wawancara biasanya digunakan untuk memperoleh informasi mengenai
suatu variable atau fenomena yag sedang diteliti. pertanyaan yang disusun dalam
pedoman wawancara berisi point penting saja, sementara pada saat wawancara
berlangsung pertanyaan yang telah disusun tesebut mungkin saja masih bisa
berkembang dan mengerucut, guna menggali dan memperoleh data/informasi yang
mungkin tidak bisa didapatkan dari hasil pengukuran/perhitungan.
3) Lembar Observasi
Lembar observasi adalah instrument non tes yang berupa kerangka kerja
kegiatan penelitian yang dikembangkan dalam bentuk skala nilai atau berupa catatan
temuan hasil penelitian. Lembar observasi digunakan untuk mengamati dan
memperoleh data/informasi tentang aspek kognitif, aspek afektif dan aspek
psikomotorik yang mungkin tidak bisa diperoleh atau diukur melalui hasil
perhitungan. Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian pendidikan
biasanya berupa lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi catatan
perkembangan siswa, dan catatan temuan hasil hasil penelitian.
4) Jurnal Harian
Jurnal harian merupakan instrument non tes yang terdiri dari beberapa
pertanyaan yang besifat terbuka. Dalam penelitian pendidikan terkait pelaksanaan
pembelajara, jurnal harian biasanya digunakan untuk memperoleh data/informasi
harn tentang sikap, pendapat, dan perasaan siswa terhadap proses penyelenggaran
pembelajaran yang baru saja dilakukann. Data tersebut selanjutnya digunakan
sebagai bahan refleksi bagi guru untuk merencanakan perbaikan kegiatan
pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
2. Instrumen Penunjang
Instrument penunjang merupakan instrument atau alat yang digunakan untuk
menunjang pelaksanaan penelitian atau memperoleh data yang dapat dijadikan
sebagai informasi tambahan terhadap hasil penelitian. Instrument penunjang dalam
penelitian pendidikan berisi seperangkat baham ajar dan perangkat pembelajaran
yang terdiri atas kalender pendidikan, program tahunan, dan program semester,

24
silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), materi ajar, dan lembar kerja siswa
(LKS).
a. Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan disebut juga kalender akademik yaitu pengaturan waktu
untuk kegiatan pembelajaran siswa selama satu tahun pelajaran. Kalender pendidikan
mencakup permulaan tahun ajaran, minggu afektif belajar, waktu pembelajaran
efektif, dan hari libur.
b. Program Tahunan dan Program Semester
Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk
mencapai tujuan (standar kompetensi dan kompetensi dasar) yang telah ditetapkan.
Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam
kurikulum dapat dicapai seluruhnya oleh siswa. Penentuan alokasi waktu ditentukan
pada jumlah jam pelajaran sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku serta
keluasan materi yang harus dikuasai oleh siswa.
Sementara itu, program semester adalah program yang berisikan garis-garis
besar mengenai hal-hal yang akan dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut.
Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan yang berisikan
tentang bulan, pokok bahasan yang akan disampaikan, waktu yang direncanakan dan
keterangan.
c. Silabus
Silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan tetang kegiatan
pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar yang disusun secara
sistematis. Silabus merupakan penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang bertujuan agar peneliti mempunyai acuan yang jelas dalam melakukan
penelitian (member perlakuan dalam pembelajaran) karena disusun berdasarkan
prinsip yang berorientasi pada pencapaian kompetensi.
d. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan
prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasr
yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Dengan kata lain,
RPP merupakan rencana operasional kegiatan pembelajaran suatu kompetensi dasar
dalam setiap tatap muka dikelas. Lingkup RPP paling luas mencakup satu kompetensi

25
dasar yang terdiri atas satu atau beberapa indicator untuk satu kali pertemuan atau
lebih.
e. Materi Ajar
Materi ajar merupakan seperangkat materi/substansi pelajaran yang disusun
secara sistematis dan menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai
siswa dalam kegiatan pembelajaran. Adanya materi ajar memungkinkan siswa dapat
mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis
yang secara akumulatif mencakup penguasaan semua kompetensi secara utuh dan
terpadu.
f. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Lembar kerja siswa merupakan bahan ajar yang berupa lembaran berisi tugass
yang harus dikerjakan oleh siswa. LKS biasanya berupa petunjuk atau langkah untuk
mengerjakan suatu tugas. Suatu tugas yang diperintahkan dalam LKS harus jelas
kompetensi dasar yang akan dicapainya. (Depdiknas, 2004).
LKS dirancang, disusun dan dikembangkan untuk keperluan penelitian
disesuaikan dengan indicator variable yang diteliti dan tujuan pembelajaran pada
pokok bahasan yang diamati. Pengerjaan LKS dapat dilakukan, baik secara individu
maupun kelompok disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan penelitian.
B. PENYUSUNAN INSTRUMEN PENELITIAN
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menyusun instrument
penelitian yaitu 1) masalah, variable, dan indicator variable dalam penelitian harus
jelas agar dapat dengan mudah menetpkan jenis instrument apa yang diperlukan. 2)
jenis data yang diharapkan dari penggunaan instrument harus jelas sehingga peneliti
dapat memperkirakan cara menganalisis data tersebut guna menjawab rumusan
masalah/ pertanyaan penelitian dan menyelesaikan permasalahn dalam penelitian; 3)
sumber data (Subjek penelitian) harus diketahui dengan pasti, baik dari segi
kuantitas, karakteristik, maupun keragamannya sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan isi (konten), bahasa dan struktur ite instrument penelitian.
Adapun langkah-langkah penyusunan instrument dalam penelitian pendidikan
sebagai berikut :
1. Menentukan Indikator dari Variabel yang Diteliti dalam Penelitian

26
Indicator dari variable yang diteliti dapat ditentukan berdasarkan teori para ahli
dan hasil penelitian terdahulu atau diturunkan dari definisi operasional variable
tersebut. Indicator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata
kerja operasional. Penentuan indicator tersebut bertujuan untuk memudahkan
peneliti dalam melakukan pengamatan, pengukuran dan penilaian terhadap variable
yang diteliti.
Variable yang diteliti dalam penelitian bidang pendidikan matematika dapat
berupa: 1) aspek kognitif seperti prestasi belajar, hasil belajar atau kemampuan
matematis tertentu; 2) aspek afektif seperti minat, motivasi belajar atau disposisi
matematis; dan 3) aspek psikomotorik seperti aktivitas, kemahiran, kerja sama atau
ketrampilan matematis tertentu.
2. Menyusun Kisi-Kisi Instrumen
Kisi-kisi instrument adalah suatu acuan yang berisi pokok-pokok materi yang
akan disajikan dalam instrument. Penyusunan kisi-kisi dilakukan untuk mendapatkan
suatu instrument yang representative dalam mencerminkan indicator dari variable
yang diteliti.
Kisi-kisi instrument tes dituangkan dalam bentuk blue print atau lay out yang
berisi materi yang diteskan, komoetensi dasar, indicator kemampuan yang diukur,
jenjang kognitif, indeks kesukaran, butir soal, kunci jawaban dan skor/bobot soal.
Semenstar kisi-kisi instrument non tes berisi indicator variable yang diukur,
banyaknya pertanyaan, jenis pertanyaan atau pernyataan, an nomor pertanyaan atau
pernyataan.
3. Menentukan Kriteria Penskoran/ Penilaian
Criteria penskoran adalah suatu pedoman yang digunakan untuk memebrikan
skor/penilaian terhadap hasil jawaban siswa. Dengan adanya criteria penskoran,
pemeriksaan hasil jawaban siswa akan lebih mudah, terukur dengan jelas dan tingkat
subjektivitas pemeriksa dapat dihindari/dikurangi.
Criteria penskoran/ penilaian suatu instrument tes dapat ditentukan
menggunakan rubric penskoran atau dengan memberikan skor/bobot pada butir soal
bervariasi, bergantung pada tingkat kesukaran soal, pertimbangan peneliti, atau
pertimbangan lainnya.

27
Secara umum terdapat dua macam rubric penskoran holistic dan rubric
penskoran analitik. Rubric penskoran holistic merupakan rubric penskoran yang
bersifat umum dan menyeluruh, sedangkan rubric penskoran analitik merupakan
rubric penskoran yang bersifat khusus dan spesifik.
4. Merumuskan Item-item Pertanyaan atau Pernyataan
Item-item pertanyaan atau pernyataan dirumuskan berdasarkan kisi-kisi yang
telah disusun yang mencerminkan indicator dari variable yang diteliti. item-item
pertanyaan atau pernyataan tersebut, kemudian disusun sehingga diperoleh suatu
instrument dengan bentuk tertentu (tes atau non tes).
5. Melakukan Uji Coba Instrumen
Agar instrument yang tekah disusun terjamin kualitasnya, mak instrument
tersebut perlu di ujicobakan terlebih dahulu sebelum akhirnya digunakan dalam
penelitian. Uji coba dilakukan pada subjek yang menjadi bagian dari anggota populasi
dalam penelitian dan sekurang-kurngnya setingkat lebih daripada subjek yang
dijadikan sampel dalam penelitian atau pada subjek yang pernah mendapatkan/
mengetahui materi yang akan diteskan/diteliti.
6. Memberikan Penskoran/Penilaian
Hasil jawaban siswa yang diperoleh dari uji coba instrument dikumpulkan,
kemudian dikoreksi/diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan
skor/nilai sesuai kriteris penskoran/penilaian yang telah ditentukan sebelumnya.
Pemberian skor/nilai dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam menganalisis
kualitas instrument yang akan digunakan dalam penelitian.
7. Melakukan Analisis Hasil Uji Coba Instrumen
Analisis hasil uji coba instrument dilakukan dengan melihat kualitas instrument
berdasarkan criteria tertentu. Criteria tersebut di antaranya validitas, reliabilitas,
daya pembeda, indeks kesukaran, efektivitas option, daya pengecoh, objektivitas,
praktikabilitas dan efisiensi.
8. Menentukan Instrumen yang akan Digunakan dalam Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ditentukan berdasarkan hasil
analisis uji coba instrument. Dengan demikian, instrument yang digunakan dalam
penelitian terjamin secara kualitasnya dan representasi dalam mengukur variable
yang diteliti dalam penelitian.

28
C. Kualitas instrument Penelitian
Kualitas instrument penelitian mempengaruhi kualitas hasil penelitian. Oleh
karena itu, untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik diperlukan kualitas
instrument yang baik pula. Kualitas instrument penelitan dalam penelitian
kuantitatif ditentukan bedasarkan kriteria tertentu. Kriteria tersebut diantaranya
validitas, reliabilitas, daya pembeda, indeks kesukaran, efektivitas option, daya
pengecoh, objektifitas, praktikabilitas dan efisiensi. Sementara dalam penelitian
kualitatif, yang menjadi instrument penelitian adalah peneliti itu sendiri. Sedangkan
dalam penelitian kombinasi, kualitas instrument ditentukan berdasarkan gabungan
dari keduanya.
Berikut ini penjelasan mengenai kriteria instrument penelitian yang baik:
1. Validitas
Menurut Anderson (Arikunto, 2005), sebuah tes dikatakan valid apabila tes
tersebt mengukur apa yang hendak diukur. Dengan kata lain, validitas suatu
instrument merupakan tingkat ketepatan suatu instrument untuk mengukur
sesuatu yang harus diukur.
a. Validitas logis
- Validitas isi
- Validitas muka
- Validitas konstruksi psikologis
b. Validitas empiris
- Koefisien korelasi product moment pearson

Keterangan :

= koefisien korelasi antara skor butir soal (X) dan total skor (Y)

N = banyk subjek
X = skor butit sol atau skor item pertanyaan/pernyataan
Y = total skor

- koefisien korelssi Rank Spearman

Keterangan :

29
P = koefiien korelai rank spearman
n = banyaknya ukuran sampel

= jumlah kuadrat dari selisih rank variabel X, dan rank variabel

2. Reliabilitas
Realiabilitas sutu instrument adalah kejegan atau kekonsistenan instrumen
tersebut bnila diberikan pada subjek yang sama meskipun oleh orang yang
berbeda, waktu yang berbeda, atau tempat yang berbeda, maka akan memberikan
hasil yang sama atau relatif sama (tidak berbeda secara signifikan). Tinggi
rendahnya derajat reliaabilitas suatu instrument ditentukan oleh nilai koefisien
korelassi antara butir soal atau bitem pertnyaan/pertanyaan dlm instrumen
tersebut yang dinotasikn dengn r.
a. Reliabilitas Instrument Tes Tipe Subjektif atau Instrument Non Tes

Keterangan:
r = koefisien reliabilitas
n = banyak butir soal

= variansi butir sol ke-i

= variansi skor total

b. Reliabilitas Instrument Tes Tipe Objektif

Keterangan :
r = koefisien relibilitas
n = bnyk butir sol
pi = proporsi banyaknya subjek yang menjawab benar pada butir soal ke-i
qi = proporsi banyaknya subjek yang menjawab salah pada butir soal ke-i

= variansi skor total

3. Daya Pembeda

30
Daya pembeda dari satu butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir
sol tersebut membedakan antara siswa yang dapat menjawab soal dengan tepat
dan siswa yang tidak dapat menjawab soal tersebut dengan tepat . dengan kata
lain, daya pembeda dari sebuah butir soal adalah kemampuan butir oal tersebut
membedakan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, kemampuan sedang,
dengan siswa yang berkemampuan rendah. Tinggi atau rendahnya tingkat daya
pembeda suatu butir oal dinyatakan dengan indeks daya pembeda (DP).
a. Daya pembeda ijnstrumen te tipe ubjektif atau intrumen non tes

Keterangan:
DP = indeks daya pembeda butir soal

= rata-rata skor jawaban siswa kelompok atas

= rata-rata kor jawaban siswa kelompok bawah

SMI = skor maksimum ideal


b. Daya pembeda intrumen te tipe objektif

Keterangan:
DP = indeks daya pembeda butir soal
nA = banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
nB = banyaknya iswa kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar

= banyaknya siswa kelompok atas

= banyaknya siswa kelompok bawah

4. Indeks Kesukaran
Indeks kesukaran adalah suatu bilangan yang menyatakan derajat kesukaran
suatu butir soal. Indek kesukaran sangat erat kaitannya dengan daya pembeda,
jika soal terlalu ssulit atau terlalu mudah, maka daya pembeda oal tersebut
menjadi buruk karena baik siswa kelompok atas maupun bawah akan dapat
menjawab soal tersebut dengan tepat atau tidak dapat menjawab soal tersebut
dengan tepat. Akibatnya, butir oal tersebut tidak akan mampu membedakan

31
siswa berdasarkan kemampuannya. Oleh karena itu, suatu butir soal dikatakan
memiliki indeks kesukaran yang baik jika soal tersebut tidak terlalu mudah dan
tidak terlalu sukar.
5. Eektivitas Option
Pada intrument tes tipe objektif, suatu option (pilihan jawaban) diktakan efektif
jika sesuai dengan fungsi dari option tersebut. Suatu option dalam suatu soal
dapat berfungsi sebagai option kunci atau option pengecoh. Kriteria suatu soal
memiliki option yang efektif adalah jika setiap option pada soal tersebut memiliki
kemungkinan yang sama untuk dipilih oleh siswa yang menjawab soal tersebut
dengan menerka-nerka.
6. Objektivitas
Besarnya skor yang diberikan pada siswa menunjukkan sejauh mana tingkat
penguasaan materi yang dimiliki siswa tersebut. Gambaran penguaaan materi
yang dimiliki siswa dinyatakan dengan kor yang hendaknya diberikan secara
objektif. Suatu instrumen tes dikatakan objektif jika memberiikan hasil yang
sama meskipun diperiksa oleh orang yang berlainan.
7. Praktikabilitas
Tes yang baik harus bersifat praktis, dalam arti mudah dilaksana dan efisien dari
segi biaya dan tenaga. Dalam penyusunan instrumen tes pun hendaknya biaya
yang diperlukan tidak terlalu tinggi, namun maih memenuhi kriteria instrumen
yang baik. Sebuah tes juga dikatakan praktis jika pemeriksaannya mudah dan
dapat dianalisis dalam waktu yang singkat.
BAB 5. Teknik Pengumpulan Data Dan Prosedur Penelitian
A. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan uatu kegiatan mencari data dilapangan yang
akan digunakan untuk menjawab permaalah penelitian. Dalampenelitian kualitatif,
pengumpulan data umumnya dilakukan pada setting alamiah sedangkan dalam
penelitian kuantitatif, pengumpulan data umumnya dilakukan pada setting yang
terkontrol dengan ketat seperti laboratorium atau ruang kelas. Dalam penelitian
pendidikan yang menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, teknik
pebngumpulan data biasanya dilakukan dengan teknik tes, sedangkan teknik
pengumpulan data dengan pendekatan penalitian kualitatif, umumnya menggunakan
teknik observasi, wawancara yang mendalam, dan dokumentasi.
1. Teknik Tes
Data yang dihasilkan dari teknik tes:
a. Data kemampuan awal matematis (KAM)
b. Data pengetahuan awal matematis (PAM)
32
c. Data pretes
d. Data postes
e. Data Gain dan N-gain
2. Teknik Non Tes
a. Kuesioner
b. Interview (wawancara)
c. Observasi
B. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian adalah tahapan kegiatan yang dilakukan selama proses
penelitian berlangsung. Secara garis besar, penelitian dilakukan melalui empat
tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan
2. Tahap pelaksanaan
3. Tahap analisis data
4. Tahap penarikan kesimpulan
BAB 6. Teknik Pengolahan Dan Analisis Data
A. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Dari Instrumen Tes
1. Pengolahan dan Analisis Data Statistik Deskriptif
Pengolahan dan analisis data statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis
data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat generalisasi.
Pengolahan data dilakukan dengan menentukan ukuran pemusatan data dan
penyebaran data, seperti nilai rata-rata, median, modus, nilai maksimum, nilai
minimum, jangkauan, simpangan baku, dan variansi data.
2. Pengolahan dan Analisis Data Statistik Inferensial
Pengolahan dan analisis data statistik inferensial dimaksudkan untuk
menganalisis data dengan membuat generalisasi pada data sampel agar hasilnya
dapat diberlakukan pada populasi.
a. Uji Normalitas
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah sebaran data berdistribusi
normal atau tidak. Langkah pengujian normalitas ; merumuskan hipotesis,
menentukan nilai uji statistik, menentukan nilai kritis, menentukan kriteria
pengujian hipotesis, memberikan kesimpulan.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenita dilakukan untuk mengetahui apakah variansi data dari sampel
yang dianalisis homogen atau tidak. Pengujian homogenitas dapat dilakukan
dengan uji F, Levene’ss tes, uji bartlet, uji F hartley, dan uji scheffe.
1) Pengolahan dan analisis data untuk hipotesis deskriptif
Teknik analisis statistik yang dilakukan adalah; uji z untuk satu sampel, uji t
untuk satu sampel, uji median untuk satu sampel.
33
2) Pengolahan dan analisis data statistik untuk hipotesis komprasional
a) Analisis terhadap dua sampel dependen
Sampel dip-enden diartikan sebagai sampel dengan subjek yang sama, namun
mengalami dua perlakuan atau dua pengukuran yang berbeda. Teknik yang
dilkukan ; uji z untuk dua sampel dependen, uji t untuk dua sampel dependen,
uji wilcoxon.
b) Analisis terhadap dua sampel independen
Sampel independen diartikan sebagai sampel dengan subjek yang berbeda dan
mengalami dua perlakuan atau dua pengukuran yang berbeda. Teknik analisis
yang dilakukan; uji t untuk dua sampel independen, uji mann whitney U.
c) Analisis terhadap tiga atau lebih sampel independen
Analisis data statistik terhadap tiga sampel atau lebih digunakan untuk
menguji hipotesis mengenai perbandingan 3 rata-rata atau lebih pada sampel
yang independen. Teknik analisis yng digunakan; ANOVA satu arah, Kruskal
Wallis H, ANOVA dua arah.
3) Pengolahan dan analisis data statistik untuk hipotesis Asosiatif
a) Analisis Korelasi
Analisis korelsi bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar
variabel, besar-kecilnya keeratan hubungn antar variabel, arah hubungan antar
variabel, dan menguji keberartian hubungan antar variabel.
Untuk mengetahui tingkat keeratan dua variabel yang memiliki skala pengukuran
minimal interval dapat menggunakan rumus product moment coefficient dari
pearson:

b) Analisis Regresi Linier Sederhana


Analisis regresi bertujun untuk menganalisis hubungan antara dua variabel atau
lebih, terutama untuk menelusuri pola hubungan yang modelnya belum
diketahui dengan sempurna, atau untuk mengetahui bagaimana variasi dari
beberapa variabel terhadap variabel yang lain dalam suatu fenomena yang
kompleks.
B. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Dari Instrumen Non Tes
Data yang diperoleh dari dari instrumen non tes umumnya berupa data kualittif
yang diolah dengan cara dikuantifikasi dan dianalisis secara deskriptif.
1. Pengolahan dan analisis data angket
Analisis data angket dapat dilakukan dengan cara menentukan persentase
jawbn responden untuk masing-masing item pernyataan/pertanyaan dalam

34
angket yang selanjutnya dianalisis secara deskriprtif atau dengan cara
mentransformasikan data kedalam skala sikap, seperti skala Likert,
Thurstone, dan Gutmann yang kemudian dianalisis secara kuantitatif.

Keterangan:
P = persentase jawaban
f = frekuensi jawaban
n = banyak responden

2. Pengolahan dan analisis data pedoman wawancara


Data hasil wawancara diolah dan dianalisis secara deskriptif. Temuan-temuan
hasil wawancara diuraikan secara sistematis guna menjawab permasalahan
dalam penelitian.
3. Pengolahan dan analisis data lembar observasi
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian pendidikan biasanya
biasanya berupa lembar observasi aktivitas guru dan siswa, lembar observasi
catatan perkembangan siswa, dan catatan temuan hasil penelitian. Data hasil
observasi dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui aktivita guru dan
siswa, perkembangan kemampuan siswa atau temuan hasil penelitian yang
mungkin tidak bisa diperoleh atau diukur melalui hassil tes.
4. Pengolahan dan analisis data jurnal harian
Dalam penelitian pendidikan terkait pelakanaan pembelajaran, jurnal harian
biasanya digunakan untuk memperoleh data/informasi harian tentang sikap,
pendapat, dan perasaan siswa terhadap proses penyelenggaraan
pembelajaran yang baru saja dilakukan.
BAB 7. Teknik Penulisan Laporan Penelitian
A. Teknik Pengetikan
Adapun aturan-aturan yang telah ditentukan adalah sebagai berikut:
1. Laporan penelitian diketik menggunakan komputer, dengan jenis huruf Times
New Roman ukuran 12pt.
2. Isi bab dan judul pada daftar isi diketik dalam dua spasi
3. Untuk batas tulisan; margin kiri 4 cm. Margin atas 4 cm, margin kanan 3 cm,
margin bawah 3 cm.
4. Pengetikan paragraf baru dimulai dengan awal kalimat yang menjorok kedlm
dengan lima huruf (1 tab)
5. Penulisan judul bab dan subbab menggunakan huruf kapital, tanpa garis bawah
dan tanpa titik. Nomor bab menggunakan angka romawi.
6. Cara penomoran dapat menggunakaan salah satu cara dari kedua cara berikut:
Pertama : I., A., 1., a., 1), a), (1), (a)

35
Kedua : I., 1., 1.1, 1.1.1, dst
7. Perpindahan dari satu butir ke butir berikutnya tidak harus menjorok
8. Penggunaan nomor urut sebaiknya dibatasi dan jangan berlebihan
9. Judul tabel ditulis disebelah atas tabel, sedangkan judul untuk bagan, diagram,
atau gambar ditulis disebelah bawah.
A. Sampul Luar
Sampul luar laporan penelitian berisi: 1. Judul dicetk dengan huruf kapital dan
tidak boleh menggunakan singkatan, jika ada subjudul, maka yang ditulis dengan
huruf besar hanya awal dari setiap kata; 2. Maksud penulisan laporan penelitian;
3. Logo universitas atau lembaga; 4. Nama penulis, 5. Nomor induk, nomor
pegawai, 6. Nama/sekolah/universitas/lembaga/; dan 7. Tahun penulisan.
B. Cara Menulis Kutipan dan Sumber Kutipan
Cara penulisan laporan penelitian menggunakan sistem Harvard adalah sebagai
berikut:
1. Kutipan ditulis dengan menggunakan “dua tnda petik” jika kutipan ini merupakan
kutipan pertama atau dikutip dari penulisnya. Jika kutipan berasal dari kutipan
orang lain maka ditulis dengan menggunakan ‘satu tanda petik’.
2. Jika kalimat yang dikutip terdiri dari tiga baris atau kurang, kutipan ditulius
dengan menggunakan tanda petik, dan penulisnyaa digabung kedalam paragraf
yang ditulis oleh pengutip dan diketik dengan jarak dua spasi.
3. Jika kalaimat yang dikutip terdiri atas empat baris atau lebih, maka kutipan
ditulis tanpa tanda kutip dan ditik dengan jrak satu spasi. Baris pertama diketik
mulai pada pukulan keenam dan baris kedua diketik mulai pukulan keempat.
4. Jika bagian dari yang dikutip ada bgaian yang dihilangkan, maka penulisan bagian
itu diganti dengan tiga buah titik.
5. Penulisan sumber kutipan ada beberapa alternatif sebagai berikut:
a. Jika sumber kutipan mendahului kutipan, cara penulissannya adalah nama
penulis diikuti dengan tahujn terbit, dan nomor halaman yang dikutip yang
keduanya diletakkan didalam kurung.
b. Jika sumber kutipan ditulis setelah kutipan, makaa nma penulis, tahun terbit, dan
nomor halaman yang dikutip semuanya diletakkan didalam kurung.
c. Jika sumber kutipan merujuk pada sumber lain atass bagian yang dikutip, maka
sumber kutipan yang ditulis tetap sumber kutipan yang digunakan pengutip, tapi
dengan menyebut siapa yang mengemukakan pendapat tersebut.
d. Jika penulis terdiri ata dua orang, maka nama keluarga kedua penulis tersebut
harus disebutkan.
e. Jika suatu masalah dibahas oleh beberapa orang dalam sumber yang berbeda,
maka cara penulisan sumber kutipan itu adalah sebagai berikut: Beberapa studi

36
tentang anak-anak yang mengalami keulitan belajar (Dunkey, 1972; Miggs, 1979;
Parmenter, 1976) menunjukkan bahwa (tulis inti sari rumusan yang dipadukan
dari ketiga sumber tersebut)
f. Jika sumber kutipan itu adalh beberapa karya tuliss dari penulisan yang sama
pada tahun yang sama maka cara penulisannya adalah dengan menambah huruf
a, b, dan seterusnya pada tahun terbit.
g. Jika sumber kutipan itu tanpa nama, maka penulisannya adalah (Tn. 1972:18)
h. Jika yang diutarakan pokok-pokok pikiran seorang penulis, tidak perlu ada
kutipan langsung, cukup dengan menyebut sumbernya.
C. Cara Menulis Angka
Cara menulis angka dalam suatu kalimat adalah sebagai berikut:
1. Ditulis dengan kata-kata apabila angka tersebut kurang dari 10.
2. Ditulis dengan angka arab apabila angka tersebut 10 atau lebih.
3. Untuk simbol kimia, matematika, statistika, dan seterusnya, penulisannya
dilakukan sesuai dengan kelaziman dalam bidang yang bersangkutan.
D. Cara Menuliss Singkatan
Penulisan singkatan mengikuti aturan sebagai berikut:
1. Untuk penulisan pertama kali suatu nama harus ditulis lengkap dan diikuti
singkatan resminya didalam kurung.
2. Untuk penulisan berikutnya, singkatan resmi yang terdapat didalam kurung
digunakan tanpa perlu menuliskan kepanjangannya.
3. Singkatan yang tidak resmi tidak boleh digunakan.
E. Cara Menuliss Daftar Pustaka
Komponen-komponen yang harus dicantumkan dalam daftar pustaka adalah
sebagai berikut:
1. Disusun secara lfabetis. Jika huruf awal sama maka huruf kedua dari nama
penulis itu menjadi dasar urutan demikian seterusnya.
2. Nama penulis, dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama belakang, kemudian
nama depan disingkat. Hal ini berlaku untuk semua nama, baik nama asing
maupun nama indonesia.
3. Tahun terbit, judul sumber tertulis yanag bersangkutan dengan digaris bawahi
atau dicetak miring, kota tempat penerbit berada, dan nama penerbit.
4. Baris pertama ditik mulai pukulan pertaama dan baris kedua, dan seterusnya
diketrik mulai pukulan kelima atau satu bab dalam komputer. Jarak antara barais
satu dan baris berikutnya adalah satu spasi, sedangkan jark antar sumber stu dan
sumber berikutnyaa adalah dua spasi.
F. Cara Menulis Daftar Pustaka Berdasarkan Jenis Sumber Yang Digunakan
1. Sumbernya Jurnal
Penulisan jurnal dalam daftar pustaka mengikuti urutan: nma belakang penulis,
nama depan penulis (disingkat), tahun terbit (dalam tanda kurung), judul artikel
37
(ditulis diantara tanda petik), judul jurnal ditulis dengan huruf
miring/digarisbawahi dan ditulis penuh, nomor volume dengan angka Arab dan
digarisbawahi tanpa didahului dengan singkatan “vol”, nomor penerbitan (jika
ada) dengan angka Arab dan ditulis diantara tanda kurung, nomor halaman dari
nomor halaman pertama sampai dengan nomor halaman terakhir tanpa
didahului singkatan “pp” atau “h”.
Contoh :
Haji, S. (2011). “Mengembangkn Kemmpuan Berpikir Asli Melalui
Pembelajaran Generative dengan Pendekatan Open-Ended”. Pasundan Journal
of Mathematics Education. 1, (1), 50-60.
1. Sumbernya Buku
Kalau sumbernya berupa buku, urutan-urutan penulisannya adalah : nama
belakang penulis, nama depan (dapat disingkat), tahun terbit, judul buku
digarisbawahi atau dimiringkan, edisi, kota asal, dan penerbit.
a. Jika buku ditulis oleh seorang saja:
Staton, T.F. (1978). Cara Mengajar Dengan Hasil Yang Baik. Bandung: CV
Diponegoro
b. Jika buku ditulis oleh dua atau tiga orang, maka semua nama ditulis:
Dunkin, M.J. dan Biddle, B.J. (1974). The Study of Teaching. New York: Holt
Rinehart and Winsston.
1. Sumbernya Diluar Jurnal dan Buku
a. Berupa skripsi, tesis, atau disertasi
Yudhanegara, M.R. (2013). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terbuka pada
Kemampuan Representasi Beragam Matematis Siswa SMP. Tesis Magister pada
Fakultas Pascasarjana UNPAS: tidak diterbitkan
b. Berupa Publikasi Departemen
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1998). Petunjuk Pelaksanaan Beasiswa
dan Dana Bantuan Operasional. Jakarta: Depdikbud
a. Berupa Dokumen
Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. (1983). Laporn Penilaian Proyek
Pengembangan Pendidikan Guru. Jakarta: Depdikbud
b. Berupa Makalah
Lestari, K.E. (1989). “Penelitian Pendidikan Mtematika: Penelitian Kualitatif,
Kuantitatif, dan Campuran”. Makalah pada seminar Pendidikan Matematik UNSIKA,
Karawang
c. Berupa Surat Kabar
Sanusi, A. (1986).” Menyimak Mutu Pendidikan dengan Konsep Takwa dan
Kecerdasan, Meluruskan Konsep Belajar daalam Arti Kualitatif”. Pikiran Rakyat (8
September 1986).

38
1. Sumbernya Dari Internet
a. Bila karya perorangan
Pengrang/penyunting. (tahun). Judul (Edisi), [jenis medium]. Tersedia: alamat di
internet. [tanggal diakses]
b. Bila bagaian dari karya kolektif
Pengarang/penyunting. (Tahun). Dalam sumber (edisi), [jenis media]. Penerbit.
Tersedia: alamat di internet. [tanggal diakses]
c. Bila artikel dalam jurnal
Pengarang.(Tahun). Judul. Nama Jurnal [Jenis Media], volume (terbitan), jumlah
halaman. Tersedia: alamat di internet [taanggal diakses]
d. Bila artikel dalam majalah
Pengarang. (Tahun, tanggal, bulan). Judul. Nama Majalah [Jenis Media], volume,
nomor halaman. Tersedia: alamat di internet [tanggal diakses]
e. Bila artikekl di surat kabar
Pengarang. (Tahun, tanggal, bulan). Judul. Nama surat kabar [jenis media], nomor
halaman. Tersedia : alamat di internet [tanggal diakses]
f. Bila pesan dari email
Pengirim (alamat email pengirim). (Tahun, tanggal, bulan). Judul Pesan. Email kepada
penerima [alamat email penerima]

39
BAB III
PEMBAHASAN ANALISIS
3.1. Pembahasan Isi Buku
A. Pembahasan Bab I
Pembahasan bab I tentang langkah awal penelitian di dalam buku utama
menjelaskan pembagian penelitian pendidikan yang terdiri dari :
1. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif adalah penelitian yng berlandaskan pada filsafat positivism , digunakan
untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya
dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan intrumen penelitian, analisis data
bersifat kuantitatif/stastistik dengan tujuan untuk menguji hipotes yang telah digunakan
Sugiono, 2006).
2. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme,
digunakan pada kondisi objek yang alamiah, dimana penenliti adalah instrument kunci,
pengambilan data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik pengumpulan data
dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat inductive/kualitatif, dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankaan makna daripada generalisasi (Sugiona, 2006).
3. Penelitian Kombinasi (Mixed Methods)
Penelitian kombinasi (mixed methods) merupakan pendekatan penelitian yang
mengombinasikan atau mengasosiasikan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
Bab I ini juga membahas tentang langkah awal untuk penelitian yang terdiri dari
mengindetifikasi masalah, menyusun latar belakang masalah, pembatasan masalah,
merumuskan masalah, menentukan tujuan dan manfaat penelitian, menjelaskan definisi
opersional, melakukan tinjauan pustaka, dan merumuskan hipotesis
Didalam buku kedua terdapat di Bab 1. Memilih Desain Penelitian pembahasannya
buku tersebut lebih terperinci tentang perbedaan Penelitian Kuantitatif, Penelitian Kualitatif,
dan Penelitian Kombinasi (Mixed Methods).
Sedangkan dibuku ketiga pembahasan di Bab I Kegiatan Penelitian hanya menjelaskan
5 jenis penelitian yaitu : penelitian deskriptif murni atau survei, penelitian korelasi,

40
penelitian komparasi, penelitian pelacakan , dan penelitian evaluasi di bab ini tidak menjelas
tentang Penelitian Kuantitatif, Penelitian Kualitatif, dan Penelitian Kombinasi (Mixed
Methods), dan di buku keempat terdapat pada Bab I Perspektif Metode Penelitian Pendidikan
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, R & D) sangat jelas dari judul bab buku ini sangat detail
menjelas tentang Penelitian Kuantitatif, Penelitian Kualitatif beserta perbedaannya.
B. Pembahasan Bab II
Pembahasan bab II tentang Bidang Kajian Penelitian Pendidikan Matematika di
dalam buku utama membahas lima bagian
a. Landasan Teori Belajar
b. Model – model Pembelajarn Matematika
c. Aspek Kognitif dalam Pembelajaran Matematika
d. Aspek Afektif dalam Pembelajaran Matematika
e. Aspek Psikomotor dalam Pembelajaran Matematika
Didalam buku kedua, ketiga dan keempat tidak ada yang membahas tentang
Kajian Penelitian Pendidikan Matematika, maka dapat disimpulkan keempat buku
tersebut kurang lengkap karena isi bab II dari buku utama sangat dibutuhkan bagi
semua peneliti terutama dibidang pendidikan.
C. Pembahasan Bab III
Pembahasan bab III di buku utama tentang Metodologi Penelitian di dalam buku
utama terbagi dari empat bagian yaitu : Populasi dan Sampel, Teknik Sampling,
Metode Penelitian, dan Desain Penelitian. Penjelasan didalamnya sangat terperinci
untuk kebutuhan penelitian
Didalam buku kedua Bab 3. Penggunaan Teori dibuku ini berisi hanya tentang jenis
– jenis variabel jadi pembahasan tentang variabel sangat jelas tapi dibanding dengan buku
utama pembahasan buku kedua sangat sempit.
Buku ketiga dengan pembahasan yang sama dengan buku utama berada di bab yang
berbeda seperti bab XI membahas menentukan variabel, bab XII membahas Menentukan
sumber data di dalamnya berisi tentang populasi dan sampel.
Buku keempat bab II Proses penelitian, masalah, varibel, dan padarigma, dengan
pembahasan yang sama di buku utama yang terletak di bab II di buku keempat.
Pembahasannya hampir sama persis dengan buku utama, hanya saya buku ketiga memeliki
pembahasan yang lebih terperinci di bab – bab yang lain seperti desain penelitian terdapat
di bab IV.
D. Pembahasan Bab IV

41
Pembahasan bab IV di buku utama tentang Instrumen Penelitian di dalam
membahas : instrumen penelitian, penyusunan instrumen penelitian, dan kualitas
instrumen penelitian. Pembahasan di buku utama sangat jelas untuk dipahami.
Di buku kedua tidak ada pembahasan instrumen penelitian. Di buku ketiga
dengan pembahsan yang sama dengan buku utama terdapat pada bab XIII tentang
menentukan dan menyusun instrumen. Pembahasan isi buku cukup lengkap beserta
dengan rumus – rumus dan contoh soal.
Di buku keempat dengan pembahasan yang sama terdapat pada bab VI tentang
Skala Pengukuran dan Instrumen Penelitian .
E. Pembahasan Bab V
Pembahasan bab V di buku utama tentang Teknik Pengumpulan Data dan
Prosedur Penelitian di dalam membahas : teknik pengumpulan data dan prosedur
penelitian. Pembahasan di buku utama sangat jelas untuk dipahami.
Di buku kedua tidak ada pembahasan Teknik Pengumpulan Data dan
pembahasan tentang Prosedur Penelitian terdapat di bab VIII Metode – metode
kuantitatif.
Di buku ketiga dengan pembahsan yang sama dengan buku utama terdapat pada
bab XIV tentang pengumpulan data . Pembahasan isi buku hanya membahas jenis –
jenis tes dan fungsi masing masing tes. Pembahsa prosedur penelitiab terdapat pada
bab II alur dan ragam penelitian.
Di buku keempat dengan pembahasan yang sama terdapat pada bab VII tentang
Tentang Pengumpulan Data . Jenis jenis tes yang di bahas di buku keempat ada tiga
cara pengumpulan data dengan interview, kuesioner dan observasi. Buku ini tidak
menjelas jenis – jenis tes.
F. Pembahasan Bab VI
Pembahasan bab VI di buku utama tentang Teknik Pengolahan dan analisis data
di dalam membahas : teknik pengolahan dan analisis data dari instumen tes dan
teknik pengolahan dan analisis data dari instumen. Pembahasan di buku utama
sangat jelas untuk dipahami. Cara pengolahan data di jabarkan menggunakan gambar
dari penggunaan aplikasi seperti Exsel da SPSS dari tahap demi tahap
Di buku kedua tidak ada pembahasan Teknik Pengolahan dan analisis data .
Di buku ketiga dengan pembahsan yang sama dengan buku utama terdapat pada
bab XV tentang analisis data . Pembahasan isi buku menjabar dengan menghitung
secara manual untuk pengolahan data.
Di buku keempat dengan pembahasan yang sama tidak terdapat pembahasan
tentang teknik pengolahan data baik secara manual atau menggunakan aplikasi

42
komputer. Di bab 8 hanya terdapat analisis data . di buku lebih membahas tentang
desain penelitian yang berkaintan dengan judul penelitian.
G. Pembahasan Bab VII
Pembahasan bab VII di buku utama tentang Teknik Penulisan laporan Penelitian
di dalam membahas : teknik pengetikan, sampul luar, cara menuliskan kutipan dan
sumber kutipan, cara menulis angka cara menulis singkatan, dan cara menulis daftar
pustaka. Pembahasan di buku utama sangat jelas untuk dipahami. Buku ini sangat
membantu penulis dalam menulis karya ilmiah, karena tidak semua buku
menjelaskan seperti walaupun terlihat sepele tapi sangat penting.
Di buku kedua Bab IV tentang Strategi-strategi menulis dan pertimbangan-
pertimbangan etis. Buku ini lebih menjelaskan tentang kerangka karya ilmiah atau langkah
langkah menyusun laporan penelitian,
Di buku ketiga dengan pembahsan yang sama dengan buku utama terdapat pada
terakhir bab XVII tentang menulis laporan. Sama hal dengan buku kedua buku ini juga
hanya membahas tentang format laporan.
Di buku keempat dengan pembahasan yang sama terdapat pada bab XV tentang
Penyusunan proposal penelitian. Sangat jelas dari judul babnya isinya berisi format
laporan.

3.2. Kelebihan dan Kelemahan Buku


Kelebihan Buku pertama
Buku pertama memiliki kelebihan dengan pembahasan materi yang cukup luas
disetiap babnya. Di dalam buku ini juga pembahasannya melampirkan sintaks pada
setiap model pembelajaran yang dipaparkan oleh penulis, sehingga mudah untuk
diterapkan dalam pembelajaran. Buku ini sangat terperinci penjelasan sehinggi untuk
pembaca yang pemula untuk menulis karya ilmiah terasa lebih mudah untuk menjadi
panduan. Bahasa sangat mudah untuk dipahami secara mandiri. Contoh – contoh
yang relevan

Kelebihan Buku kedua


1. Buku kedua ini memiliki kelebihan dalam buku ini Creswell memberikan contoh-
contoh untuk memperjelas penjelasannya tentang suatu materi. Misalnya pada saat
menjelaskan tentang tujuan penelitian, Creswell memberikan contoh tujuan penelitian
dalam penelitian kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Tidak hanya cntoh tujuan

43
penelitian kualitatif yang diberikan, tetapi Creswell juga memberikan contoh tujuan
penelitian untuk setiap jenis penelitian kualitatif, kuantitatif, dan campuran.
2. Penjelasan yang rinci untuk setiap materi juga merupakan salah satu keunggulan
dalam buku ini. Peneliti menggambarkan secara detail langkah-langkah apa yang
harus dilakukan oleh seorang peneliti misalnya dalam membuat tinjauan pustaka,
merumuskan masalah penelitian, dan lain-lain.
3. Di setiap akhir bab, penulis memberikan rangkuman tentang apa yang telah dipelajari
dalam bab tersebut.
Kelemahan Buku kedua
Kekurangan dalam buku kedua ialah :
Tidak adanya penjelasan tentang bagaimana pengolahan data dalam metode penelitian
kuantitatif dalam buku ini mungkin akan sedikit menyulitkan pembaca yang tertarik dalam
melakukan penelitian kuantitatif. Jika memang pembaca tertarik untuk melakukan
penelitian kuantitatif, maka pembaca harus memiliki buku lain yang menjelaskan tentang
pengolahan data dalam penelitian kuantitatif. Misalnya seperti buku “Introduction to
Research in Education” oleh Donald Ary dkkPembahasan materi tentang model-model
kooperatif lebih sedikit pembahasannya dibanding buku pertama walaupun di dalam
buku tersebut juga membahas materi tentang problem based lerning (PBL).
1. Setiap pembahasan model kooperatif hanya 2 model yang melampirkan sintaks
pembelajaran .

Kelebihan Buku Ketiga


Buku ketiga ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya :
1. Pembahasan buku ketiga ini sangat mudah dipahami oleh pembaca. Kalimat yang
digunakan oleh penulis tidak bertele-tele untuk mencapai inti materi yang ingin
dijelaskan.
2. Pembahasan materi selalu disertakan contoh agar pembaca merasa lebih
terbantu.
3. Setiap langkah langkah penlitian dijelas per bab sehinggi lebih jelas .

Kelemahan Buku Ketiga

44
Buku ketiga ini memiliki kelemahan penghitungan data atau pengolahan hanya
dengan cara yang manual, seharusnya dengan perkembangan zaman sudah
mencatumkan penghitungan menggunakan aplikasi
Kelebihan Buku Keempat
Buku keempat ini memiliki beberapa kelebihan di antaranya :
1. Pembahasan buku keempat mudah dipahami oleh pembaca. Bahasa yang
digunakan oleh penulis sangat simpel tapi langsung pada intinya.
2. Pembahasan materi di jabarkan secara spesifik seperti penelitian kuantitatif,
kualitatif , dan R &D.
Kelemahan Buku Keeempat
Buku keempat ini memiliki kelemahan pembahsan buku yang kurang lengkap di
banding buku metodologi yang lain. Sehingga pembaca akan meraba untuk mencari
sumber lain yang tidak didaptkan di buku ini.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Buku pertama, kedua, ketiga dan keempat ini sudah bisa menjadi referensi
bagi pembaca yang mempelajari metodologi penelitian pendidikan matematika.
Kelebihan dari buku pertama didalam pembahasannya sudah melampirkan sintaks
pada setiap model pembelajran yang dipaparkan oleh penulis, sehingga mudah untuk

45
diterapkan dalam pembelajaran, memberikan contoh-contoh pada setiap
pembahasan. Begitu juga dengan buku kedua ketiga dan keempat. Buku kedua
memiliki kelebihan dengan mencantumkan langkah langkah penelitian pada setiap
babnya. Buku ketiga memiliki pembahasan yang bagus, contoh yang diberikan sangat
membantu dengan rumus beserta keterangan dan contoh menghitungnya. Buku
keempat pembahasan lebih terfokus pada penelitian kuantitatif, kualitatif, R & D.

4.2. Saran
Penulisan buku pertama, kedua, ketiga dan keempat sudah baik dari
pembahasannya materi metode penelitian pendidikan. Meskipun begitu bahkan
seorang ahli pun tetap memerlukan kritik dan saran yang membangun untuk
kepenulisan buku berikutnya. Menurut saya sebagai pembaca, buku ini akan lebih
bagus lagi jika setiap setiap pembahasan diberikan contoh untuk lebih mudah
memahaminya. Untuk keeempat buka juga sebaiknya mencantumkan dukungan
teoritis dan empiris dari para ahli dari segi pisikologi pembelajaran kooperatif untuk
memperkuat dasar metodelogi penelitian pendidikan.
Penulis banyak berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan
saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini dan
penulisan karya-karya tulis ilmia di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga
tugas ini berguna bagi penulis dan khususnya juga bagi para pembaca

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi, 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka


Cipta. Jakarta
Creswell John W. , 2009. Research Design Qualitative, Quantitative, and Mixed Metods
Approaches: Third Edition. Sage Publications, Inc. California

46
Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R & D. Alfabeta. Bandung.
Zarkasyi Wahyudin, 2015. Penelitian Pendidikan Matematika. Refika Aditama.
Bandung

47

Anda mungkin juga menyukai