Anda di halaman 1dari 10

Sabar Budi Raharjo, Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

Sabar Budi Raharjo


Sekretariat Balitbang Kemdiknas e-mail: raharjo2sbr@yahoo.co.id

Abstrak: Pendidikan pada dasarnya adalah upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia
supaya dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Berdasarkan hal tersebut,
yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah apakah pendidikan karakter dapat mewujudkan
akhlak mulia? Dari rumusan masalah tersebut, tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
pendidikan karakter dapat mempengaruhi akhlak mulia. Membangun karakter dan watak bangsa melalui
pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda. Pendidikan karakter dapat berjalan efektif dan
berhasil apabila dilakukan secara integral dimulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
Karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik di antaranya adalah; cinta kepada Allah dan alam
semesta beserta isinya, tanggungjawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang,
peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan
kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan. Sedangkan akhlak mulia
adalah keseluruhan kebiasaan manusia yang berasal dalam diri yang di dorong keinginan secara sadar
dan dicerminkan dalam perbuatan yang baik. Dengan demikian apabila karakter-karakter yang luhur
tertanam dalam diri peserta didik maka akhlak mulia secara otomatis akan tercermin dalam perilaku
peserta didik dalam kehidupan keseharian.

Kata kunci: Pendidikan karakter, akhlak mulia

Abstract: Education is basically an effort to improve human resource capacity in order to become a man
with characters and live independently. Based on this, the main problem in this study is whether moral
education can realize the noble morality? From the formulation of the problem, the purpose of this study
is to determine how education can affect noble morality. Building the national character through education
is absolutely necessary, even can not be postponed. Character education can be effective and successful
if performed integrally starting from the home environment, schools and communities. Characters that
should be instilled to students include: love of God and the universe and its contents, responsibility,
discipline and self-reliant, honest, respectful and well mannered, affectionate, caring, and cooperation,
confidence, creative, hard work and do not give up easily, fair and has a character of a leader, nice and
humble, and tolerance, love peace and unity. While the noble morality is the overall human habit comes
from within encouraged by conscious desire and reflected by good deeds. Thus, if the noble characters
embedded in the learners themselves, noble character will automatically be reflected in the behavior of
students in their daily life.

Key words: character education, and noble morallity

Latar Belakang tatanan pemenuhan kebutuhan secara mendasar


Globalisasi serta perkembangan ilmu pengetahu- sesuai dengan karakteristiknya yang mobile, plural,
an dan teknologi yang luar biasa telah membuat dan kompetitif.
dunia serba terbuka. Ketika terjadi peningkatan Selain itu, revolusi informasi, revolusi ilmu
aktivitas lintas-batas dan komunikasi secara maya pengetahuan, interdependensi antaranggota/
(virtual) ke seluruh penjuru dunia dalam waktu kelompok masyarakat, persoalan HAM, persoalan
singkat serta majunya teknologi dan komunikasi lingkungan hidup, akan menjadi tantangan masa
maka hanya mereka yang siap yang bisa meraih depan bagi umat manusia di muka bumi ini.
kesempatan. Globalisasi akan memicu perubahan Keadaan ini akan membuat kondisi masyarakat

229
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 3, Mei 2010

mengalami metamorfosis menuju open society/ berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir
masyarakat terbuka. ini cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan
Strategi dan implementasi yang tepat dalam dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang
merespon tantangan tersebut adalah peranan umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada
pendi di kan. Pendi di kan untuk me mb angun setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi
masyarakat yang lebih dewasa (memecahkan hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan
konflik atau perbedaan pendapat dengan cara kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain
damai, berhenti mencari kambing hitam, dan mau dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan,
belajar mengatur diri sendiri). Pendidikan merupa- tetapi buta pada keadilan. Lebih lanjut ia sampai-
kan sarana untuk membangun masyarakat dan kan bahwa sepertinya karakter masyarakat
bukan untuk saling menutup diri, saling menga- Indones ia yang santun d alam ber pe rila ku,
singkan diri, bukan untuk saling mencerca, serta musyawarah mufakat dalam menyelesaikan
belajar untuk menemukan platform bersama di masalah, lo cal wisdom yang kaya d engan
tengah-tengah perbedaan. Pendidikan merupa- pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah
kan sarana membangun semangat ke-KITA-an dan berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-
bukan mengagungkan semangat ke-KAMI-an. kelompok baru yang saling mengalahkan. Apakah
Pendidikan juga perlu diarahkan untuk me- pendidikan telah kehilangan sebagian fungsi
ningkatkan kepercayaan diri bangsa dan bukan utamanya? Berkaca pada kondisi ini, sudah
untuk menghancurkan harga diri dengan terus- sepantasnya jika kita bertanya secara kritis, inikah
menerus mencerca diri sendiri. hasil dari proses pendidikan yang seharusnya
menjadi alat t ransfo rmas i ni lai-nilai luhur
Sementara itu, konstitusi bangsa Indonesia
peradaban? Jangan-jangan pendidikan telah
UUD Pasal 31 tentang Pendidikan dan Kebudaya-
teredusir menjadi alat yang secara mekanik
an pada ayat 3 secara tegas menyebutkan
hanya menciptakan anak did ik yang pintar
bahwa pemerintah mengusahakan dan menye-
menguasai bahan ajar untuk sekedar lulus ujian
lenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang
nasional. Kalau betul begitu, pendidikan sedang
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta
memperlihatkan sisi gelapnya.
akhlak mulia dala m ra ngka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Kemudian dijabarkan dalam Kalau diperhatikan hal tersebut di atas, fakta
Undang-Undang Nomor 20, Tahun 2003 tentang tersebut benar terjadi dan dapat dirasakan serta
Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa dilihat di dalam tayangan media masa baik
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana elektronik maupun cetak yang banyak disajikan
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses setiap hari. Apabila disimak bersama bahwa
pembelajaran agar peserta didik secara aktif pendidikan merupakan pro ses yang pal ing
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki bertanggung jawab dalam melahirkan warga
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, negara Indonesia yang memiliki karakter kuat
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta sebagai modal dalam membangun peradaban
keterampilan yang diperlukan dirinya, masya- tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat
rakat, bangsa dan negara. Demikian juga dalam merupakan produk dari pendidikan yang bagus.
penyusuna n Standa r Nasi onal Pendidikan Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat,
disebutkan dalam salah satu fungsinya adalah positif, tangguh peradaban yang tinggi maka
bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional peradaban dapat dibangun dengan baik dan
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter
dan membentuk watak serta peradaban bangsa masyarakat negatif, karakter negatif dan lemah
yang bermartabat. Jelas bahwa arah dari tujuan mengakibatkan peradaban yang dibangun pun
penyelenggaraan pendidikan sangat luhur dalam menjadi l emah sebab peradaban t ersebut
kei ng inannya mewujudkan manus ia yang dibangun dalam pondasi yang amat lemah.
bermartabat yang memiliki karakter yang mulia. Karakter bangsa adalah modal dasar membangun
Namun, ka lau di pe rhatikan fakta yang peradaban tingkat tinggi, masyarakat yang
dikemukakan oleh Aan Hasanah (2009) adanya memiliki sifat jujur, mandiri, bekerja sama, patuh

230
Sabar Budi Raharjo, Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

pada peraturan, bisa dipercaya, tangguh dan suatu proses di mana suatu bangsa atau negara
memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan membina dan mengembangkan kesadaran diri di
sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. antara individu-individu. Jadi, pendidikan pada
Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai dasarnya adalah upaya meningkatkan kemampu-
bentuk tindak kriminal, kekerasan, terorisme dan an sumber daya manusia supaya dapat menjadi
lain-lain. Kemudian bagaimana peran pendidikan manusia yang mandiri serta dapat berkontribusi
dalam membentuk tatanan kehidupan yang penuh terhadap masyarakat dan bangsanya.
peradaban yang saling kasih sayang, tolong Memperhatikan hal tersebut bahwa dunia
menolong, saling menghargai satu sama lain dan pendidikan mempunyai peranan yang sangat
masih banyak peran yang menjadikan tatanan penting, dalam menciptakan kemandirian bagi
kehidupan yang lebih baik. generasi muda untuk menjadi penerus dan
Berdasarkan uraian tersebut di atas, yang pelaksana pembangunan di segala bidang. Usaha
menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah mewujudkan pendidikan tersebut salah satu di
apakah pendidikan karakter dapat mewujudkan antaranya dilaksanakan melalui jalur pendidikan
akhlak mulia? Berangkat dari rumusan masalah sekolah. Sekolah sebagai institusi pendidikan
te rse but akan diba has ap a dan bagaimana pada dasarnya bertujuan mempersiapkan peserta
pendidikan karakter dalam mempengaruhi akhlah didik untuk dapat memecahkan masalah ke-
mulia. hidupan pada masa sekarang dan di masa yang
akan datang, dengan mengembangkan potensi-
Kajian Pustaka dan Pembahasan potensi yang dimili kinya. Oleh karena itu,
pendidikan mempunyai fungsi dalam membentuk
Hakikat Pendidikan Karakter
karakter peserta didik. Dengan kata lain, bahwa
Berangkat dari pemahaman pendidikan seperti
melalui proses pendidikan yang profesional maka
dalam Undang-Undang Nomor 20, Tahun 2003
akan dapat membentuk karakter peserta didik.
tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan
Karakter akan dapat dimiliki apabila kita miliki
bahwa pendidi ka n adal ah usaha sadar d an
integritas. Menurut McCain (2009), yang dimaksud
terencana untuk mewujudkan suasana belajar
int egritas ad alah keset iaan pada nurani,
dan proses pembelajaran agar peserta didik
kejujuran pada diri sendiri, sehingga akan mem-
secara aktif mengembangkan potensi dirinya
bentuk karakter. Memperhatikan hal tersebut,
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
bahwa inti dari integritas adalah kejujuran pada
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
diri sendiri maupun kepada orang lain. Lebih lanjut
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
dikemukakan oleh McCain bahwa prinsip tersebut
masyarakat, bangsa dan negara. Sejalan dengan
merupakan harta milik yang terpenting. Bukan
hal tersebut, Sudardja (1994) menyatakan bahwa
penampilan, kemampuan, bakat, kenyamanan
pendidikan adalah upaya untuk mempersiapkan
peserta didik agar mampu hidup dengan baik atau kenikmatan, pekerjaan, rumah, mobil,

dalam masyarakatnya, mampu meningkatkan dan mainan, berapa banyak teman yang mereka miliki,
mengembangkan kualitas hidupnya sendiri, serta atau berapa banyak uang yang mereka hasilkan
berkontribusi secara bermakna dalam mengem- namun kejujuran merupakan harta yang tidak
bangkan dan meningkatkan secara bermakna ternilai yang dapat memberikan ketenangan hidup.
dal am menge mbangkan dan maningkatka n Oleh karena itu, McCain dalam bukunya “Karakter-
kualitas hidup mas yara kat dan bangsanya. karakter yang Menggugah Dunia” mengisahkan
Sementara itu, Azyumardi Azra (2002) mem- individu yang memiliki karakter istimewa yang
berikan pengertian bahwa “pendidikan” adalah membawa hidup dan dunia mereka lebih baik.
merupakan suatu proses di mana suatu bangsa Karakter tersebut membawa keteguhan dalam
mempersia pkan generasi mudanya untuk menjalani kehidupan yang penuh tantangan,
menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi penuh semangat yang tinggi dan tidak mengenal
tujuan hidup secara efektif dan efisien. Bahkan, lelah untuk mencapai cita-citanya. Semua kisah
ia menegaskan, bahwa pendidikan lebih sekedar sukses tokoh-tokoh pasti mereka memiliki karakter
pengajaran, artinya bahwa pendidikan adalah yang istimewa dalam mengatasi permasalahan

231
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 3, Mei 2010

yang ada pada dirinya. Karakter-karakter tersebut Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur,
se pe rti kej ujuran, rasa hormat, kesetiaan, suka meno long, te ntulah o rang t ersebut
martabat, idealisme, berbudi luhur, kepatuhan, memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah
tanggung jawab, kerja sama, keberanian, kendali karakter erat kaitannya dengan ‘personality’.
diri, kepercayaan diri, kelenturan, penuh harapan, Se seorang baru bis a dise but ‘orang yang
cinta kasih, belas kasih, toleransi, pengampunan, berkarakter’ (a person of character) apabila tingkah
kemurahan hati, keadilan, merendahkan diri, lakunya sesuai kaidah moral.”
penuh syukur, humor, kesantunan, cita-cita, Memperhatikan beberapa pengertian di atas,
kei ng intahuan, antusiasme, keunggulan, yang menjadi pertanyaan adalah apakah hakikat
mencintai orang lain tanpa pamrih dan kepuasan dari pendidikan karakter? Menurut Yudi Latif
hidup. (2009) yang dimaksud pendidikan karakter adalah
Pengertian karakter menurut Hasanah (2009) suatu payung istilah yang menjelaskan berbagai
merupakan s tandar-sta ndar bat in yang aspek p engajaran dan pe mbel ajaran bagi
terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas perkembangan personal. Beberapa di bawah
diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara payung meliputi “penalaran moral/pengembangan
berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan kognitif; pembelajaran sosial dan emosional,
pendi di kan ke bi jakan mo ral, pendidika n
terwujud di dalam perilaku. Sementara itu,
keterampilan hidup, pendidikan kesehatan,
Indonesia Heritage Foundation yang dikutip
pencegahan kekerasan, resolusi konflik dan
Hasanah merumuskan beberapa bentuk karakter
filsafat etik moral. Lebih lanjut dikemukakan bahwa
yang harus ada dalam setiap individu bangsa
pendidikan karakter adalah suatu pendekatan
Indonesia di antaranya; cinta kepada Allah dan
holistik yang menghubungkan dimensi moral
alam semesta beserta isinya, tanggung jawab,
dengan ranah sosial dan sipil dari kehidupan
disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun,
peserta didik. Pendidikan moral menitikberatkan
kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri,
dimensi etis dari individu dan masyarakat serta
kreatif, kerja keras dan pantang menyerah,
memeriksa bagaimana standar kebenaran dan
keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, kesalahan dikembangkan. Pendidikan kewarga-
dan to le ra nsi, c inta damai dan persatuan. negaraan (civic education) memberikan ke-
Sementara itu, character counts di Amerika sempatan bagi keterlibatan aktif dalam proses-
mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter proses demokrasi yang berlangsung di sekolah
yang menjadi pilar adalah; dapat dipercaya dan komunitas. Memperhatikan hal tersebut,
(trustzoorthiness), rasa hormat dan perhatian bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak
(respect), tanggung jawab (responsibility), jujur hanya sebatas mentransfer ilmu melainkan dapat
(fairness), peduli (caring), kewarganegaraan mengubah atau membentuk karakter dan watak
(citizenship), ketul us an (honesty), berani seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan
(courage), tekun (diligence) dan integritas. dalam tataran etika maupun estetika maupun
Lebih lanjut dikemukakan bahwa karakter perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
masyarakat Indonesia yang dimiliki adalah Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
karakter santun dalam berperilaku, musyawarah adalah meletakkan dasar kecerdasan, penge-
mufakat dalam menyelesaikan masalah, local tahuan, kepribadi an, akhlak mulia, serta
wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
gotong royong. Istilah karakter diambil dari pendidikan lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut,
bahasa Yunani yang berarti ‘to mark’ (menandai),” tujuan penyele nggaraan pendidikan adal ah
menurut Megawangi (2010). “Istilah ini lebih fokus sangat luhur yaitu meletakkan landasan yang kuat
pada tindakan atau tingkah laku. Mengutip dari bagi peserta didik untuk menjadi manusia yang
Wynne bahwa a da dua penge rt ian tentang memiliki kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup
seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang mandiri. Oleh karena itu, proses pendidikan yang
berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah dilakukan harus dapat mewujudkan karakter
orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. peserta didik yang lebih baik dan bermartabat.

232
Sabar Budi Raharjo, Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

Jadi, pendidikan karakter adalah proses al-khuluq adalah merupakan sifat yang terpatri
pendidikan secara holistik yang menghubungkan dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-
dimensi mo ral de ng an ranah s osial dalam perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan
kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi merenung terlebih dahulu. Jika sifat yang
terbentuknya generasi yang berkualitas yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan baik dan
mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu terpuji menurut rasio dan syariat maka sifat
kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. tersebut dinamakan akhlak yang baik. Jika yang
terlahir adalah perbuatan buruk maka sifat
Hakikat Akhlak Mulia tersebut dinamakan dengan ahklak yang buruk.
Dengan memperhatikan Undang-Undang Nomor Sedangkan menurut Ahmad bin Musthafa yang
20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan dikutip oleh Halim (2004) akhlak didefinisikan
Nasional salah satu dari tujuan pendidikan adalah sebagi ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-
mewujudkan akhlak mulia. Pertanyaannya apa jenis keut amaan. Keutamaan itu a dala h
yang dimaksud dengan akhlak mulia? Bagaimana terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatan,
untuk mewujudkan akhlak mulia? Hal tersebut yaitu kekuatan berpikir, kekuatan marah, dan
menjadi persoalan dari bangsa kita yang sampai kekuatan syahwat. Lebih lanjut, dikemukakan oleh
saat ini dipertanyakan sudahkah terwujud akhlak Halim yang mengutip para pakar ilmu-ilmu sosial
mulia dalam diri generasi muda kita yang telah mendefinisikan akhlak atau moral mempunyai
mengenyam pendidikan? Fakta menunjukkan empat makna yaitu 1) moral adalah sekumpulan
banyak dijumpai perilaku para anak didik yang kaidah bagi perilaku yang diterima dalam satu
kurang sopan, bahkan lebih ironis lagi sudah tidak zaman atau sekelompok orang, 2) moral adalah
menghormati orang tua, baik guru maupun sekumpulan kaidah perilaku yang dianggap baik
sesama. Banyak kalangan yang mengatakan berdasarkan kelayakan bukan berdasarkan
bahwa “watak” dengan “watuk” (batuk) sangat syarat, 3) moral adalah teori akal tentang
kebaikan dan keburukan, menurut filsafat dan 4)
tipis perbedaannya. Apabila “watak” bisa terjadi
tujuan-tujuan kehidupan yang mempunyai warna
karena sudah dari sononya atau bisa juga karena
humanisme yang kental yang tercipta dengan
faktor bawaan yang sulit untuk diubah, namun
adanya hubungan-hubungan sosial. Sementara
apabila “watuk” = batuk, mudah disembuhkan
itu, Semiawan (1997) mengutip pendapat Khatena
dengan minum obat batuk. Mengapa hal ini bisa
moral adalah akibat dari adanya interaksi potensi
terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya
individual dan pengaruh sosiokultural dengan
perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan
kajian tertentu. Lebih lanjut dikemukakan
teknologi serta informasi yang mengglobal,
meskipun dalam perkembangan moral kemampu-
bahkan sud ah t idak mengenal batas-batas
an intelektual dan kemampuan me mproses
negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi
masukan ikut menentukan perkembangan itu,
kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlu
perilaku yang diwarnai dimensi moral pada diri
diwujudkan dalam diri peserta didik adalah seseorang memegang peranan penting. Dikata-
adanya akhlak mulia yang menjadi landasan kan bahwa perkembangan moral berkorelasi
pribadi peserta didik. dengan kehidupan individu dalam kelompok
Pengertian akhlak atau moral menurut Halim te rt entu. Jadi , akhl ak adalah ke seluruha n
(2004) adalah sebuah sistem yang lengkap yang kebiasaan manusia yang berasal dalam diri yang
terdiri dari karakteristik-karakteristik akal atau didorong keinginan secara sadar dan dicerminkan
tingkah laku yang membuat seseorang menjadi dalam perbuatan yang baik. Akhlak merupakan
istimewa. Kara kteris tik-karakt eris tik ini pondasi yang kokoh bagi terciptanya hubungan
membentuk kerangka psikologi seseorang dan baik antara al-Kholiq sebagai pencipta dan
membuatnya berperilaku sesuai dengan dirinya manusia sebagai ciptaan-Nya.
dan nilai yang cocok dengan dirinya dalam kondisi Dengan demikian, yang dimaksud akhlak
yang berbeda-beda. Pengertian akhlak menurut mulia adalah sifat yang terpatri dalam jiwa, yang
Imam Abu Hamid al-Ghazali yang dikutip oleh darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan
Halim (2004) bahwa yang dimaksud akhlak atau mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih

233
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 3, Mei 2010

dahulu. Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir thought), tanpa ada tekanan dan paksaan dari
perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan berbagai pihak dan kreatif untuk menghasilkan
syariat maka sifat tersebut dinamakan akhlak gagasan-gagasan baru dalam mendekati suatu
yang baik. Akhlak yang baik atau mulia tentunya realitas, inovatif dalam mencari solusi per-
akhlak yang tidak bertentangan dengan kaidah masalahan. Disini, pembentukan masyarakat yang
agama, adat dan hukum yang diterima oleh kritis terhadap perkembangan zaman, korektif
masyarakat. Akhlak mulia tersebut dapat berupa terhadap penyimpangan yang terjadi dalam
rasa tanggung jawab atas semua yang diucapkan masyarakat dan yang lebih penting adalah sikap
atau dikerjakan. Kemauan untuk menuntut ilmu, konstruktif yang mencoba memperbaiki keadaan
menghormati akal mendorong untuk meneliti dan sebagai suatu konsekuensi dari sikap yang kritis
merenung, memilih kebenaran dan kebaikan, dan korektif.
saling memberi nasehat, bersabar, dan beramal.
Secara umum, proses perbaikan tentunya
Masih banyak akhlak mulia yang bisa diterapkan
harus bisa direalisasikan dalam jangka waktu yang
namun pada dasarnya adalah semua perbuatan
singkat. Tentunya perbaikan dilakukan dalam
dan perilaku yang dapat mengangkat harkat dan
setiap aspek kehidupan secara menyeluruh lewat
martabat sebagai manusia yang dimuliakan.
tahapan-tahapan yang dibuat. Dalam jangka
Akhlak mulia tersebut dapat tertanam dalam
waktu perbaikan ini, aktualisasi terhadap kondisi-
setiap pribadi apabila sejak dini sudah mendapat-
kondisi terbaru harus dijadikan sebagai aspek
kan pembelajaran dari keluarga dan lingkungan
operasional dalam bergerak sehingga tidak ada
masyarakat yang mendukung terciptanya akhlak
ketimpangan pemikiran atau pun gerak antara
mulia. Dengan demikian, peran keluarga dan
perbaikan dan aktualisasi.
lingkungan sangat strategis dalam membentuk
akhlak anak yang akan berkembang kepribadian Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat
secara alami dalam pergaulan dengan teman diperlukan dalam mewujudkan peserta didik
maupun dengan masyarakat lainnya. memiliki prinsip-prisip kebenaran yang saling
menghargai dan kasih sayang antara sesama.
Pembahasan Seperti uraian di atas, pendidikan karakter adalah
Dalam penyelenggaraan sistem pendidikan salah suatu proses pendidikan secara holistik yang
satu unsur pendidikan yang penting dan berperan menghubungkan dimensi moral dengan ranah
adalah seorang guru. Dalam pelaksanaan proses sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai
belajar mengajar peran guru dalam mengarahkan fo ndasi bagi t erbentuknya generasi yang
dan membentuk situasi belajar siswa sangat berkualitas yang mampu hidup mandiri dan
menentukan keberhasilan penyelenggaraan memiliki prinsip suatu kebenaran yang dapat
pendidikan. Hal tersebut karena guru berfungsi dipert anggungjawabkan. Adapun kara kt er-
sebagai motivator peserta didik untuk mendorong karakter yang harus dikembangkan adalah cinta
siswa agar belajar lebih rajin dan berhasil atas kepada Allah dan alam semesta beserta isinya,
kesadarannya sendiri. Proses pendidikan tersebut tanggung jawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat
terjadi di lingkungan sekolah peserta didik tidak dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama,
berhasil dalam prestasi belajarnya namun juga percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang
harus memiliki karakter yang tangguh untuk menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan
mencapai cita-cita menjadi manusia sukses yang rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan
bermanfaat untuk dirinya dan orang lain serta persatuan. Karakter tersebut ditanamkan kepada
memiliki kesadaran menghargai orang lain. peserta didik melalui proses pendidikan dalam
Pendidikan sejatinya pertama-tama adalah se tiap mata pelajaran. Art inya pendidika n
proses untuk menanamkan sikap menghargai karakter tidak perlu berdiri sendiri namun dalam
perbedaan warna kulit, suku, ras yang mana setiap mata pelajaran mengandung unsur-unsur
perbedaan tersebut harus diterima sebagai suatu karakter yang mulia yang harus dipahami dan
hal yang taken for granted. Pendidikan juga diamalkan oleh setiap peserta didik.
bertujuan untuk membentuk nilai budaya yang Oleh karena itu, guru sebagai agen perubah-
menyangkut cara berpikir bebas (freedom of an dalam lembaga sekolah perannya sangat

234
Sabar Budi Raharjo, Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

strategis dalam mewujudkan karakter peserta sikap, (3) perubahan perilaku, dan (4) perubahan
didik. Guru sebagai tokoh sentral tentunya prestasi kelompok atau organisasi. Hal tersebut
dituntut terlebih dulu harus dapat memerankan dapat digambarkan pada Bagan 1.
karakter-karakter yang mulia tersebut sehingga
Menurut Harsey (1995) perubahan penge-
guru dapat menjadi anutan dan teladan yang
tahuan paling mudah dilakukan, diikuti dengan
dapat di contoh setiap saat di lingkungan sekolah.
perubahan sikap. Struktur sikap berbeda dengan
Perilaku yang setiap saat diperhatikan peserta
struktur pengetahuan dalam arti bahwa struktur
didik adalah bagaimana guru berpenampilan, cara
sikap dibebankan secara emosional dalam cara
bicara, berperilaku, sikap guru terhadap ilmu dan
positif atau negatif. Perubahan perilaku secara
komitmen guru terhadap apa yang ia katakan.
signifikan lebih sukar dan memakan waktu lama
Apabila hal tersebut dapat diperankan oleh guru
dibandingkan dengan level-level sebelumnya.
dengan baik maka akan mengimbas pada peserta
Namun, impl ementasi perubahan prest asi
didik. Dengan demikian peserta didik akan tumbuh
kelompok barangkali merupakan yang paling sukar
menjadi pribadi yang memiliki akhlak mulia.
dan memerlukan waktu yang lebih lama.
Akhlak mulia merupakan sifat yang terpatri
Memperhatikan proses perubahan tersebut,
dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-
bagaimana pendidikan karakter dilaksanakan
perbuat an mudah tanpa memikir ka n da n
untuk mencapai suatu perubahan pada diri dan
merenung terle bih da hulu. Dari sifat yang
tertanam tersebut terlahir perbuatan baik dan masyarakat sebagai suatu kelompok dalam
terpuji menurut rasio dan syariat maka sifat pergaulan. Perubahan harus dimulai dari
tersebut dinamakan akhlak yang baik. Oleh karena memberikan pemahaman tentang nilai-nilai
itu, dengan tertanamnya karakter-karakter mulia karakter yang harus dimiliki oleh peserta didik. Oleh
tersebut maka akan muncul akhlak mulia pada saat karena itu, guru harus dapat menyampaikan
anak menghadapi pergaulan di lingkunga n pendidikan karakter secara tepat kepada peserta
sekolah maupun masyarakat dalam kehidupan didik sehingga akan di dapat perubahan secara
sehari-hari. Perubahan perilaku dari individu signifikan terhadap perilaku peserta didik. Untuk
sampai perubahan kelompok tidak terjadi secara itu, penilaian pendidikan karakter harus dilakukan
sekaligus namun ada tahapan yang harus dilalui. dengan empat cara.
Tentunya perubahan yang mendasar adalah Pertama, jika fungsi penilaian pendidikan
perubahan dari individu tersebut dalam memahami karakter untuk mengarahkan tingkah laku maka
pengetahuan yang diserap dalam berinteraksi seorang pendidik harus dapat menunjukkan
sosial dengan lingkungannya di mana dia berada. bahwa ia mengajar sesuai dengan prinsip yang
Perubahan sebagaimana yang dikemukakan dianutnya dan bukan hanya sebagai ucapan ( lip-
oleh Harsey dan Blanchard (1995) bahwa dalam service). Kedua, jika penilaian pendidikan karakter
diri orang-orang terdapat empat level perubahan lebih bersifat preskriptif daripada deskriptif maka
yaitu (1) perubahan pengetahuan, (2) perubahan anak-anak harus diajarkan bahwa pendidikan

tinggi Perilaku Kelompok

Perilaku individu
Tingkat
kesukaran Sikap

Pengetahuan
rendah
(singkat) waktu yang diperlukan (lama)

Bagan 1. Empat Level Perubahan

235
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 3, Mei 2010

karakter bukan hanya penilaian yang diucapkan Model pengembangan pendidikan karakter
tetapi merupakan pilihan prinsip yang harus yang dapat dikembangkan berdasarkan uraian di
dite ntukan, agar dapat mengarahkan cara atas kalau diformulasikan dalam bentuk model
hidupnya. Ketiga, jika penilaian pendidikan seperti disajikan pada Bagan 2.

Karakter yang
ditanamkan:
cinta kepada Allah
dan alam semesta
beserta isinya, Keluarga
tanggung jawab,
disiplin dan
mandiri, jujur,
hormat dan santun,
kasih sayang,
peduli, dan kerja
Sekolah Ahklak Mulia
sama, percaya diri, Peserta Didik
Guru/Kepala
kreatif, kerja keras
sekolah
dan pantang
menyerah, keadilan
dan kepemimpinan,
baik dan rendah
hati, dan toleransi,
cinta damai dan Masyarkat/
persatuan Lingkungan

Bagan 2. Model pengembangan pendidikan karakter untuk menciptakan akhlak mulia

karakter berhubungan dalam menguniversalkan Simpulan dan Saran


preskriptif seseorang maka pendidikan karakter Simpulan
harus dapat mengajarkan anak bagaimana Pe ndi dikan yang mengembangkan karakt er
mereka dapat menyesuaikan diri dengan orang adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu
lain; se hi ngga hal ini a kan me mbut uhkan mengembangkan sikap etika, moral dan tanggung
kemampuan untuk memahami perasaan orang jawab, memberikan kasih sayang kepada anak
lain. Keempat, jika keuniversalan berarti bahwa didik dengan menunjukkan dan mengajarkan
agen pendidikan karakter tidak dapat menerima karakter yang bagus. Hal itu memberikan solusi
keinginan dirinya terhadap orang lain maka jangka panjang yang mengarah pada isu-isu
pendidikan karakter harus mengajarkan anak- moral, etika dan akademis yang merupakan
anak untuk saling mencintai perhatian dan sekaligus kekhawatiran yang terus
Berdasarkan bahasan di atas maka pendidik- meningkat di dalam masyarakat. Anak didik bisa
an karakter apabila dilakukan dengan prinsip- menilai mana yang benar, sangat memedulikan
prinsip tertentu, komitmen yang kuat dari guru, tentang yang benar, dan melakukan apa yang
dan lingkungan masyarakat yang mendukung mereka yakini sebagai yang benar walaupun ada
tercipta lingkungan yang baik akan dapat tekanan dari luar dan godaan dari dalam.
mempengaruhi akhlak mulia peserta didik. Oleh Pendidikan akan secara efektif mengembangkan
karena pendidikan karakter harus dilakukan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika
secara seksama maka adanya keterlibatan orang dijadikan sebagai basis pendidikan, menggunakan
tua, guru, kepala sekolah, masyarakat dan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif dalam
lingkungan yang mendukung akan tercipta membangun dan mengembangkan karakter anak
karakter peserta didik. Hal tersebut sejalan didik serta menciptakan komunitas yang peduli,
dengan apa yang dikemukakan Doni (2010) baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat
bahwa jika pendidikan karakter ingin efektif dan sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung
utuh mesti menyertakan tiga basis desain dalam jawab untuk pendidikan yang mengembangkan
pemrogramannya yaitu berbasis kelas, sekolah karakter setia dan konsisten kepada nilai dasar
dan komunitas atau masyarakat. yang diusung bersama-sama.

236
Sabar Budi Raharjo, Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

Pendidikan karakter dapat mempengaruhi Saran


akhlak mulia peserta didik apabila dilakukan Berdasarkan simpulan dalam kajian ini dapat
secara integral dan secara simultan di keluarga, disarankan sebagai berikut.
kelas, lingkungan sekolah, dan masyarakat.
Pertama, keluarga perlu membe rikan
Pertama di lingkungan keluarga, orang tua perhatian dalam membentuk karakter anak
dalam hal ini memiliki peran untuk menanamkan dimulai dari anak masih dalam kandungan. Para
nilai karakter yang menjadi kebiasaan anak untuk calon orang tua hendaknya sudah memberikan
berperilaku baik sesuai norma agama maupun perhatian dalam menyiapkan karakter anak
norma perilaku yang dapat menghargai dirinya dengan menjaga perilaku orang tua mulai dari
dan orang lain. Kedua, pendidikan karakter ucapan, tingkah laku, makanan yang dikonsumsi
berbasis kelas. Guru sebagai pendidik dan siswa ibu berasal dari yang halal dan bergizi serta
sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pengamalan agama yang lebih baik. Demikian
pendidikan karakter adalah proses relasional juga ketika anak sudah lahir para orang tua juga
komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. tetap menanamkan nilai-nilai dengan contoh
Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melain- perilaku orang tua sehari-hari dengan akhlak
kan dialog dengan banyak arah sebab komunitas mulia.
kelas terdiri dari guru dan siswa yang sama-sama
Kedua, sekolah sebagai tempat kedua dari
berinteraksi de ngan mater i. Memberikan
lingkungan keluarga juga perlu menciptakan
pemahaman dan pengertian akan keutamaan
kondisi yang lebih baik dalam memberikan
yang benar terjadi dalam konteks pengajaran ini,
pembentukan karakter peserta didik. Sekolah
terma suk di dalamnya pula adalah ranah
perlu menci pt akan hubungan yang denga n
noninstruksional, seperti manajemen kelas,
peserta didik dengan memperlakukan lemah
konsensus kelas, dan lain-lain, yang membantu
lembut tetapi tetap dalam kondisi disiplin kepada
terciptanya suasana belajar yang nyaman. Ketiga,
peserta didik. Sekolah memberikan dorongan
pendidikan karakter berbasis kultur sekolah.
anak untuk tetap berkreasi tanpa ada tekanan
Desain ini mencoba membangun kultur sekolah
dan memberikan penghargaan bagi peserta didik
yang mampu membentuk karakter anak didik
yang berprestasi sebaliknya bagi peserta didik
dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai
yang melanggar tata tertib sekolah perlu dikena-
tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri
kan sanksi yang dapat memberikan pembelajaran
siswa. Untuk menanamkan nilai kejujuran tidak
supaya peserta didik mengerti bahwa apa yang
cukup dengan memberikan pesan-pesan moral
dilakukan tidak benar. Keteladanan guru perlu
kepada anak didik melainkan juga moral ini mesti
diciptakan karena gurulah sebagai tokoh sentral
diperkuat dengan penciptaan kultur kejujuran
yang setiap saat di sekolah menjadi perhatian
melalui pembuatan tata peraturan sekolah yang
peserta didik sehingga perilaku guru mulai dari
tegas dan konsisten terhadap setiap perilaku
ucap an, penampil an sel alu te rjaga dalam
ketidakjujuran. Keempat, pendidikan karakter
membentuk karakter peserta didik.
berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas
sekolah tidak berjuang sendirian. Masyarakat di Ketiga, pendidikan karakter perlu juga keter-
luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, libatan semua komponen bangsa dalam hal ini
masyarakat umum, dan negara, juga memiliki masyarakat dimana lingkungan anak tersebut
tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan berada. Arti nya pe rl u adanya peran dari
pembentukan karakter dalam konteks kehidupan masyarakat lingkungan, media masa, dalam
mereka. Ketika lembaga negara lemah dalam membentuk karakter anak sehingga semua
penegakan hukum, ketika mereka yang bersalah komponen bangsa ikut bertanggung jawab dalam
tidak pernah mendapatkan sanksi yang setimpal, membentuk karakter anak untuk bisa mandiri
negara telah mendidik masyarakatnya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya,
menjadi manusia yang tidak menghargai makna keluarga dan bangsanya.
tatanan sosial bersama.

237
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 3, Mei 2010

Pustaka Acuan
Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstuksi dan Demokratisasi, publisher:
kompas, Jakarta.
Doni, Koesoema. 2010. Pendidikan Karakter Integral. http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/
05145318/
Halim, Ali Abdul. 2004. Akhlak Mulia terjemah Abdul Mayyie Al Kattani, Jakarta: Gema Insani
Hasanah, Aan. 2009. Pendidikan Berbasis Karakter. http://bataviase.co.id/detailberita-10399688.html
Hersey, Paul & Ken Blanchard. 1995. Manajemen Perilaku Organisasi, terjemahan Agus Dharma,
Jakarta: Penerbit Erlangga,
Latif, Yudi. 2009. Menyemai Karakter Bangsa Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan, publisher:
Kompas Jakarta.
Megawangi, Ratna, http://www.mizan.com/index.php? =emagazine&id=87
McCain, John & Mark Salter. 2009. Karakter-karakter yang Menggugah Dunia, terjemah T. Hermaya,
Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Jakarta, PT Gramedia.
Sudardja, Adiwikarta. 1994. Kovensi Nasional Pendidikan Indonesia II, Kurikulum untuk Abad ke 21,
Jakarta: PT Gramedia.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

238