Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker payudara merupakan penyakit neoplasma yang bersifat ganas dimana sel

payudara mengalami proliferasi, diferensiasi abnormal dan tumbuh secara autonom yang

menyebabkan infiltrasi ke jaringan sekitar diambil merusak serta menyebar ke bagian

tubuh yang lain (Artanti, 2011). Gejala permulaan kanker payudara sering tidak disadari

atau dirasakan dengan jelas oleh penderita sehingga banyak penderita yang berobat dalam

keadaan lanjut. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian kanker tersebut.

Padahal, pada stadium dini kematian akibat kanker masih dapat dicegah. Kanker pada

dasarnya berkembang sangat lambat dalam waktu belasan,bahkan puluhan tahun. Namun,

efek atau gejala yang bisa dirasakan atau dilihat pengidapnya baru muncul setelah ia

mengalami perkembangan cukup luas dan tidak bisa dihentikan dengan cara-cara

sederhana. Kemajuan dalam bidang terapi dan diagnostik memberikan dampak dalam

penemuan dini terhadap penyakit kanker terutama kanker payudara. Namun yang paling

penting dari semua kemajuan teknologi yang ada adalah bagaimana seorang wanita

mampu menyadari adanya perubahan awal dari organ tubuhnya sehingga kanker

payudara dapat diidentifikasi sejak dini sebelum memasuki stadium lanjut (Nurcahyo,

2010).

Kanker payudara merupakan penyebab kematian kedua akibat kanker pada wanita

setelah kanker mulut rahim dan merupakan kanker yang paling banyak terjadi pada

wanita (Kemenkes, 2010). Tingginya angka kematian akibat kanker payudara

dikarenakan para penderita datang ke pelayanan kesehatan sudah dalam stadium lanjut

atau sudah sulit disembuhkan, padahal pemeriksaan secara dini terhadap kemungkinan

1
adanya gejala kanker payudara dapat dilakukan sendiri dan tanpa biaya (Rasjidi, 2009).

Kanker payudara yang termasuk penyakit tidak menular, saat ini menjadi masalah

kesehatan utama baik di dunia maupun di Indonesia. Menurut WHO (2012) kejadian

kanker payudara sebanyak 1.677.000 kasus.Kanker payudara merupakan kanker yang

paling banyak di derita oleh kaum wanita dengan jumlah 883.000 kasus. Di negara

berkembang dan terdapat 794.000 kasus. Kanker payudara merupakan penyebab

kematian pada wanita di negara berkembang sebanyak 324.000 kasus. Insidennya

semakin tinggi diseluruh dunia (Houghton, 2012). Berdasarkan data dari International

Agency for Research on Cancer (IARC) pada tahun 2012, insiden kanker payudara

sebesar 40 per 100.000 perempuan. Insiden tertinggi penderita kanker payudara pada

golongan usia 40 sampai 49 tahun sebesar (23,9 %) (Rotty, 2012). Di Indonesia,

prevalensi penyakit kanker cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar

(2013),1,4 per 1000 penduduk atau sekitar 330.000 orang mengidap kanker. Di

Indonesia kanker payudara merupakan kanker tertinggi pravelensinya pada perempuan

disusul kanker leher rahim. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)

2010, kasus rawat inap kanker payudara sebesar 12.014 kasus (28,7%) dan disusul kanker

serviks dan leukemia. Sedangkan angka kejadian kanker payudara di Kabupaten

Sukoharjo pada tahun 2012 sebanyak 262 kasus, tahun 2013 menjadi 256 kasus, dan pada

tahun 2014 sebanyak 377 kasus kanker payudara (Dinkes, 2012- 2014). Menurut WHO

diperkirakan pada tahun 2030 insiden kanker mencapai 26 juta orang dan 17 juta

diantaranya meninggal akibat kanker (Depkes RI, 2013). Pemeriksaan payudara sendiri

(Sadari) dilakukan untuk mendeteksi atau mengindentifikasi secara dini kemungkinan

adanya kanker payudara. Pemeriksaan sadari dapat dimulai sejak seorang wanita sudah

masuk pada masa pubertas. Hal ini perlu dilakukan agar dapat mengetahui kelainan yang

2
terjadi pada payudara. Dengan pemeriksaan payudara sedini mungkin maka penanganan

kanker dapat ditangani dengan tepat sehingga meningkatkan umur harapan hidup.

tindakan ini sangat penting karena hampir 85% benjolan di payudara ditemukan oleh

penderita sendiri (Rasjidi, 2009). Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh petugas

kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker payudara dan

sadari yaitu dengan cara memberikan pendidikan kesehatan (Nursalam dan effendi,

2009). Pengetahuan seseorang akan mempengaruhi sikap terhadap perilaku

hidup sehat.

Pencegahan sekunder dengan skrining/deteksi dini, dianggap sebagai upaya

paling rasional untuk menurunkan angka kematian akibat Kanker Payudara. Penelitian

skrining dilakukan pertama kali oleh Health Insurance Plan of Greater New York tahun

1963, hasilnya mampu menurunkan angka kematian antara 20% - 25% pada kelompok

umur lebih dari 50 tahun. Cara pemeriksaan untuk pelaksanaan skrining terdiri dari

pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga kesehatan, misalnya spesialis bedah, dokter

umum, perawat yang terlatih, SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri), dan

pemeriksaan penunjang atau mamografi (Purwanto, 2012) Berdasarkan hal di atas maka

upaya peningkatan pengetahuan dan sikap dari para wanita pasangan usia subur dalam

rangka mencegah terjadinya kanker payudara stadium lanjut dan melihat prevalensi yang

ada maka diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan

dengan perilaku deteksi dini kanker payudara pada wanita pasangan usia subur yaitu

faktor jenis pekerjaan, pengetahuan, sikap, dan pendidikan. Jenis pekerjaan, pengetahuan,

sikap dan pendidikan wanita pasangan usia subur menjadi penting karena akan

berdampak pada skala yang luas akan meningkatkan kesadaran para wanita pasangan usia

subur dalam meningkatkan kesehatan diri.

3
1.2 Tujuan Penulisan
A. Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang tepat pada pasien dengan
kanker mamae.
B. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi konsep dari kanker mamae meliputi definisi, etiologi,
patofisiologi, pencegahan, komplikasi dan penatalaksanaan yang tepat dari kanker
mamae.
b. Mengidentifikasi asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, analisa data,
diagnosa, dan rencana asuhan keperawatan.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka kelompok membuat rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Konsep Dasar Kanker Mamae
a. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari Kanker Mamae?
b. Apakah defenisi dari Kanker Mamae?
c. Apakah penyebab dan Stadium dari Kanker Mamae?
d. Apa manifestasi klinis dan pemeriksaan penunjang Kanke Mamae?
e. Bagaimana patofisiologi pada Kanker Mamae?
f. Apa saja komplikasi dari Kanker Mamae?
g. Bagaimana penatalaksanaan dari Hiper Kanker Mamae?
2. Konsep Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
b. Diagnosa Keperawatan
c. Rencana Asuhan Keperawatan

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi


a. Anatomi Mamae
Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong
lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral ats kelenjar
payudara, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila, disebut penonjolan
Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri atas 12-20 lobulus kelenjar yang
masing-masing mempunyai saluran ke papilla mammae, yang disebut duktus lactiferous.
Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut
mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut
ligamnetum cooper yang memberi rangka untuk payudara.
Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. perforantes anterior dan a.
mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a. aksilaris, dan beberapa a.
interkostalis.
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus saraf simpatik. Ada beberapa saraf
lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan mati rasa pasca bedah,
yakni n. intercostalis dan n. kutaneus brakius medialis yang mengurus sensibilitas
daerah aksila dan bagian medial lengan atas.
Penyaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke
kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula penyaliran
yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah kelenjar getah
bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis.
Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke
kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontralateral,
ke m. rectus abdominis lewat ligamentum falsiparum hepatis ke hati, pleura dan payudara
kontralateral.

b. Fisiologi Mamae

5
Payudara merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri atas
15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus mempunyai duktus
ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting susu, disebut duktus
laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah, lalu ke duktus alveolaris yang
dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara ke duktus laktiferus yang berakhir
pada putting susu.
Ada 3 hal fisiologik yang mempengaruhi payudara, yaitu :
a) Pertumbuhan dan involusi berhubungan dengan usia
b) Pertumbuhan berhubungan dengan siklus haid
c) Perubahan karena kehamilan dan laktasi.

2.2 Definisi
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase pada bagian-
bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas
tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan
bawah kulit. (Erik T, 2005)
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen yang
menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono, 2006).
Kanker payudara adalah neoplasma ganas, suatu pertumbuhan jaringan payudara
abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltratif dan destruktif,
serta dapat bermetastase. (Ramli, 1994)

2.3 Stadium
a) Stadium 1
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan otot
pektoralis.

b) Stadium 2a

6
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus
(LN) dan tanpa penyebaran jauh.
c) Stadium 2b
Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan limfonodus
(LN) dan tanpa penyebaran jauh.
d) Stadium 3a
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa
penyebaran jauh
e) Stadium 3b
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan terdapat
penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan limfonodus
(LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi / menyebar ke
kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.
Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga
luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah
atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas, tapi
tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh
f) Stadium 3c
Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe
infraklavikularipsi lateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar
limfe mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar
limfe supra klavikularipsi lateral.
g) Stadium 4
Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver
atautulangrusuk.

2.4 Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor
resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :
a. Tinggi melebihi 170 cm

7
b. Masa reproduksi yang relatif panjang
c. Faktor Genetik
d. Ca Payudara yang terdahulu
e. Keluarga
Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini, dikuatkan bila 3
anggota keluarga terkena carsinoma mammae.
f. Kelainan payudara ( benigna )
Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan bahwa
wanita yang menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit meningkat.
g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
h. Faktor endokrin dan reproduksi
Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun, Menarche
kurang dari 12 tahun
i. Obat anti konseptiva oral
Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko
lebih besar untuk terkena kanker.

2.5 Manifestasi Klinis


a) Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara
b) Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai
timbul pembengkakan
c) Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu,
mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
d) Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
e) Ada cairan yang keluar dari puting susu
f) Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan terjadi
retraksi
g) Ada rasa sakit
h) Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah
meningkat
i) Ada pembengkakan didaerah lengan
j) Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.

8
k) Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
l) Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati,
serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
m) Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d' Orange).
n) Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.
o) Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain

2.6 Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut
transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:
a) Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel
yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan
oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi
(penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama
terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut
promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. bahkan gangguan
fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu
keganasan.
b) Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi
ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi.
karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang
peka dan suatu karsinogen).
Kanker mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena
kanker (Maternity Nursing, 1997). Penyebab pasti belum diketahui, namun ada beberapa
teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada mammae, yaitu:
a. Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone estrogen dan
progesterone yang dihasilkan oleh ovarium mempengaruhi factor pertumbuhan sel
mammae (Smeltzer & Bare, 2002).
Dimana salah satu fungsi estrogen adalah merangasang pertumbuhan sel mammae
.Suatu penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat ovariumnya pada usia

9
muda lebih jarang ditemukan menderita karcinoma mammae, tetapi hal itu tidak
membuktikan bahwa hormone estrogenlah yang, menyebabkan kanker mammae
pada manusia. Namun menarche dini dan menopause lambat ternyata disertai
peninmgkatan resiko Kanker mammae dan resiko kanker mammae lebih tinggi pada
wanita yang melahirkan anak pertama pada usia lebih dari 30 tahun.
b. Virus, Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa
abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.
c. Genetik
d. Defisiensi imun
Defisiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi
interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan jaringan
kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor. Gangguan proliferasi tersebut akan
menyebabkan timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan paling sering pada
system duktal. Mula-mula terjadi hyperplasia sel dengan perkembangan sel atipikal.
Sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker
butuh waktu 7 tahun untuk dapat tumbuh dari sebuah sel tunggal menjadi massa yang
cukup besar untuk bias diraba. Invasi sel kanker yang mengenai jaringan yang peka
terhadap sensasi nyeri akan menimbulkan rasa nyeri, seperti periosteum dan pelksus
saraf. Benjolan yang tumbuh dapat pecah dan terjadi ulserasi pada kanker lanjut.
Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui saluran limfe
dan melalui aliran darah. Dari saluran limfe akan sampai di kelenjer limfe
menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjer limfe regional. Disamping itu juga bisa
menyebabkan edema limfatik dan kulit bercawak (peau d’ orange). Penyebaran yang
terjadi secara hematogen akan menyebabkan timbulnya metastasis pada
jaringan paru, pleura, otak tulang (terutama tulang tengkorak, vertebredan panggul)
Pada tahap terminal lanjut penderita umumnya menderita kehilangan
progersif lemak tubuh dan badannya menjadi kurus disertai kelemahan yang sangat,
anoreksia dan anemia. Simdrom yang melemahkan ini dinyatakan sebagai kakeksi
kanker.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


a) Pemeriksaan payudara sendiri

10
b) Pemeriksaan payudara secara klinis
c) Pemeriksaan manografi
d) Biopsi aspirasi
e) True cut
f) Biopsi terbuka
g) USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis,
pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi.

2.8 Komplikasi
a) metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darahkapiler (
penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab hematogen dan limfogen dapat
mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang, otak, syaraf.
b) gangguan neuro varkuler
c) Faktor patologi
d) Fibrosis payudara
e) Kematian

2.9 Penatalaksanaan
1. Pembedahan
a) Mastectomy radikal yang dimodifikasi
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis
mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis minor
bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
b) Mastectomy total
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot pectoralis
mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding dada tidak
diangkat.
c) Lumpectomy/tumor
Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat.
Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang berada
di sekitar tumor tersebut.
d) Wide excision/mastektomy parsial.

11
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
e) Ouadranectomy
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis
mayor.
2. Radiotherapy
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di sekitarnya,
kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang
tenggorokan.
3. Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.
Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah
terserang penyakit.
4. Manipulasi hormonal
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah
bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga
digabung dengan therapi endokrin lainnya.

12
WOC

13
14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan
nyeri.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae,
kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga
pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan
klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan
tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
b. Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu
berminyak.
c. Mata : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata anemis,
tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi
dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
e. Hidung : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
f. Mulut : mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
g. Leher : biasanya terjadi pembesaran KGB.
h. Dada : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi atau
tanda-tanda radang
i. Hepar : biasanya tidak ada pembesaran hepar.

15
j. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
5. Pengkajian Pola Fungsional Gordon
a. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
b. Nutrisi – Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
c. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri
saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
d. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.
e. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada
komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
f. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
g. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat
operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya
sebagai wanita normal.
h. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam
melakukan perannya dalam berinteraksi social.
i. Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
j. Koping dan Toleransi Stress

16
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus
asaan.
k. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang
dada.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik,
identifikasi metastatik dan evaluasi.
b. biopsi : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2
c. Penanda tumor
d. Mammografi
e. sinar X dada

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pembedahan, mis;
anoreksia
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bedahpengangkatanjaringan
4. Ansietas berhubungan dengan diagnosa, pengobatan, dan prognosanya
5. Kurang pengetahuan tentang Kanker mammae berhubungan dengan kurang
pemajanan informasi
6. Gangguan body image berhubungan dengan kehilangan bagian dan fungsi tubuh

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan


NO DIAGNOSA TUJUAN/ KH INTERVENSI
1. Nutrisi kurang Setelah dilakukan - Kaji adanya alergi makanan
dari kebutuhan tindakan keperawatan - Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
tubuh selama 3x24 jam nutrisi menentukan jumlah kalori dan nutrisi
berhubungan kembali normal. yang dibutuhkan pasien.
dengan KH : - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
pembedahan, mis; - BB meningkat sesuai intake Fe
anoreksia tujuan

17
- Tidak ada tanda - Anjurkan pasien untuk meningkatkan
malnutrisi protein dan vitamin C
- Berikan substansi gula
- Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk mencegah
konstipasi
- Berikan makanan yang terpilih ( sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
- Ajarkan pasien bagaimana membuat
catatan makanan harian.
- Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
kalori
- Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi
- Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
2. Gangguan rasa Setelah dilakukan - Kaji nyeri secara komprehensif termasuk
nyaman nyeri tindakan keperawatan lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
berhubungan selama 3x24 jam nyeri kualitas dan faktor presipitasi
dengan proses hilang atau berkurang. - Observasi reaksi nonverbal dari
pembedahan Kriteria Hasil : ketidaknyamanan
- Melaporkan bahwa - Gunakan teknik komunikasi terapeutik
nyeri hilang atau untuk mengetahui pengalaman nyeri
berkurang pasien
- Wajah rileks - Kaji kultur yang mempengaruhi respon
nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
- Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
- Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
dan menemukan dukungan

18
- Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Kurangi faktor presipitasi nyeri
- Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
- Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik non farmakologi
- Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
- Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
- Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
- Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Monitor status nutrisi pasien
- Memandikan pasien dengan air hangat
3 Kerusakan Setelah dilakukan - Anjurkan pasien untuk menggunakan
integritas kulit tindakan keperawatan pakaian yang longgar
berhubungan selama 2x24 jam - Hindari kerutan pada tempat tidur
dengan integritas kulit dapat - Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
bedahpengangkat menunjukkan perbaikan. kering
anjaringan Kriteria Hasil: - Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
- Integritas kulit yang setiap dua jam sekali
baik bisa - Monitor kulit akan adanya kemerahan
dipertahankan - Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada
(sensasi, elastisitas, daerah yang tertekan

19
temperatur, hidrasi,
pigmentasi)
- Tidak ada luka/lesi
pada kulit
- Perfusi jaringan baik
4. Ansietas berhubu Setelah dilakukan - Gunakan pendekatan yang menenangkan
ngan tindakan keperawatan - Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
dengan diagnosa, selama 1x24 jam ansietas pelaku pasien
pengobatan, dan berkurang dan koping - Jelaskan semua prosedur dan apa yang
prognosanya klien baik dirasakan selama prosedur
Kriteria Hasil : - Temani pasien untuk memberikan
- Klien mampu keamanan dan mengurangi takut
mengidentifikasi dan - Berikan informasi faktual mengenai
mengungkapkan diagnosis, tindakan prognosis
gejala cemas - Dorong keluarga untuk menemani anak
- Mengidentifikasi, - Lakukan back / neck rub
mengungkapkan dan - Dengarkan dengan penuh perhatian
menunjukkan tehnik - Identifikasi tingkat kecemasan
untuk mengontol - Bantu pasien mengenal situasi yang
cemas menimbulkan kecemasan
- Vital sign dalam batas - Dorong pasien untuk mengungkapkan
normal perasaan, ketakutan, persepsi
- Postur tubuh, ekspresi - Instruksikan pasien menggunakan teknik
wajah, bahasa tubuh relaksasi
dan tingkat aktivitas - kolaborasi dalam memberikan obat untuk
menunjukkan mengurangi kecemasan
berkurangnya
kecemasan
5 Kurang Setelah dilakukan - Kaji tingkat pengetahuan klien dan
pengetahuan tindakan keperawatan keluarga tentang proses penyakit
tentang selama 1x24 jam klien - jelaskan tentang patofisiologi penyakit,
Kanker mammae dan keluarga paham tanda dan gejala serta penyebabnya

20
berhubungan tentang penyakitnya, - Sediakan informasi tentang kondisi klien
dengan kurang dengan kriteria hasil : - Berikan informasi tentang perkembangan
pemajanan - Pasien dan keluarga klien
informasi menyatakan - Diskusikan perubahan gaya hidup yang
pemahaman tentang mungkin diperlukan untuk mencegah
penyakit, kondisi, komplikasi di masa yang akan datang dan
prognosis dan atau kontrol proses penyakit
program pengobatan - jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan
- Pasien dan keluarga atau terapi
mampu melaksanakan - Gambarkan komplikasi yang mungkin
prosedur yang terjadi
dijelaskan secara - Anjurkan klien untuk mencegah efek
benar samping dari penyakit
- Pasien dan keluarga - Gali sumber-sumber atau dukungan yang
mampu menjelaskan ada
kembali apa yang - Anjurkan klien untuk melaporkan tanda
dijelaskan dan gejala yang muncul pada petugas
perawat/tim kesehatan kesehatan
lainnya
6 Gangguan body Setelah dilakukan - Diskusikan dengan klien atau orang
image tindakan keperawatan terdekat respon klien terhadap
berhubungan selama 1x24 jam klien penyakitnya.
dengan dapat menerima kondisi - Tinjau ulang efek pembedahan
kehilangan bagian dirinya akibat penyakit, - Berikan dukungan emosi klien
dan fungsi tubuh dengan criteria hasil: - Anjurkan keluarga klien untuk selalu
- Klien tidak malu mendampingi klien
dengan keadaan
dirinya.
- Klien dapat menerima
efek pembedahan.

21
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase pada bagian-
bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun diatas
tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan
bawah kulit.
Gejala kanker payudara antara lain : teraba adanya massa atau benjolan pada
payudara, payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena
mulai timbul pembengkakan, ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat
disekitar puting susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada
payudara, ada perubahan suhu pada kulit, ada cairan yang keluar dari puting susu, da
perubahan pada puting susu (gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan terjadi retraksi),
ada rasa sakit, penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium
darah meningkat, ada pembengkakan didaerah lengan, adanya rasa nyeri atau sakit pada
payudara, semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar, mulai timbul luka pada
payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati, kulit payudara menjadi
berkerut seperti kulit jeruk, benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah dan
metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain.
Asuhan Keperawatan yang digunakan yaitu nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh,
gangguan rasa nyaman nyeri, kerusakan integritas kulit, Ansietas, kurang pengetahuan
dan gangguan body image.

4.2 Saran
Sebagai seorang perawat, kita sebaiknya mengetahui tentang mekanisme penyakit
dan memahami konsepnya.Perlu dilakukan pengembangan dan penelitian lebih lenjut
untuk pemberian asuhan keperawatan pada klien agar lebih baik.

22
Daftar Pustaka

Erick, T. 2005. Kanker, Antioksidan dan terapi komplementer. Jakarta : Gramedia


Karsono, B. 2006. Teknik-Teknik Biologi Molekular Dan Selular Pada Kanker. Dalam
Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, L, Simadibrata, M.K., & Setiati, S. 2006. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. edisi 3. Jakarta: Pusat Penerbit Departemen Penyakit
Dalam FKUI
Ramli, M., et ak. 1994. Ilmu Bedah. Jakarta: Bagian BedahStaf Pengajar Fakultas
Kedokteran Indonesia
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius
Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi
10.Jakarta:EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius

Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk perencanaan


dan pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC).


St. Louis :Mosby Year-Book.

Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby Year-
Book

Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10.Jakarta:EGC

Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4.
Jakarta. EGC

Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC : Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah :
Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta.

Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta

23
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011,
NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd

24