Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan produk pangan fungsional semakin pesat seiring dengan
meningkatnya gaya hidup masyarakat yang memusatkan perhatian pada
makanan yang bermanfaat bagi kesehatan. Produk pangan fungsional yang
turut berkembang adalah produk probiotik, prebiotik, serta sinbiotik. Produk
probiotik menguasai sekitar 60–70% pasar pangan fungsional (Holzapfel,
2005). Perkembangan produk probiotik dilatarbelakangi oleh perkembangan
ilmu pengetahuan mengenai sistem pencernaan, adanya gejala penyakit akibat
mikroba di usus, dan keinginan manusia untuk mendapat nutrisi yang baik
(Shin et al., 1992). Pemenuhan keinginan tersebut dapat diperoleh dari
penyeleksian mikroba yang berpotensi probiotik.
FAO/WHO (2001) menyatakan definisi dari probiotik adalah
mikroorganisme hidup yang diasup dalam jumlah yang cukup sehingga dapat
memberikan manfaat kesehatan bagi inang. Shortt (1999) menyatakan definisi
serupa mengenai probiotik, yaitu mikroorganisme hidup yang memiliki
keuntungan bagi manusia, khususnya dalam keseimbangan mikroflora usus.
Shortt juga menjelaskan bahwa umumnya probiotik berasal dari bakteri asam
laktat (BAL), walaupun tidak semua bakteri asam laktat merupakan probiotik.
Ducluzeau et al. (1991) menyatakan beberapa probiotik yang umum dan aman
digunakan antara lain Lactobacillus acidophilus, L. casei, Streptococcus
lactis, Enterococcus faecium, Bifidobacterium adolescentis, dan B. coagulans.
Salah satu jenis probiotik yang sudah banyak diteliti adalah E. faecium
IS-27526. Probiotik ini merupakan hasil isolasi dari dadih, susu fermentasi
tradisional asal Sumatra Barat, yang telah terbukti berperan sebagai probiotik
karena tahan pH rendah, garam empedu, mampu melakukan agregasi,
menempel, dan berkolonisasi di usus, bahkan berinteraksi melawan patogen
(Collado et al., 2007a; 2007b). Probiotik ini juga telah diidentifikasi secara
molekuler dengan teknik Polymerase Chain Reaction (Collado et al., 2007a).
Probiotik ini terbukti secara signifikan meningkatkan total serum
imunoglobulin A (IgA) pada anak balita (Rieuwpassa, 2005). Konsumsi susu
yang ditambahkan probiotik E. faecium IS-27526 secara signifikan dapat
meningkatkan konsentrasi total serum IgA pada kaum lanjut usia dengan
selang kepercayaan 95% (Rusilanti, 2006).
L. plantarum IS-10506, yang juga diperoleh dari isolasi dadih, telah
diklaim sebagai probiotik dan terbukti dapat menghambat adesi patogen dan
mampu berkolonisasi di permukaan usus (Collado et al., 2007a; 2007b).
Probiotik lainnya yang sudah lama dikenal secara komersial adalah L. casei
strain Shirota dari yakult dan telah dikonsumsi masyarakat selama beberapa
dekade. L. casei strain Shirota terbukti memberi efek kesehatan seperti
meningkatkan sistem imun dengan meningkatkan aktivitas sel Natural Killer
(NK) pada manusia bahkan pada perokok (Nagao et al., 2000; Morimoto et
al., 2005). L. casei strain Shirota juga berpotensi menurunkan resiko kanker
pada saluran kandung kemih (Ohashi, et al., 2002) dan mencegah tumor pada
usus besar dan saluran pengeluaran (Ishikawa et al., 2005).
Penambahan probiotik ke dalam produk pangan seringkali dilakukan
dengan penambahan prebiotik. Campuran keberadaan prebiotik dan probiotik,
yang biasa disebut sebagai sinbiotik, dapat memberi manfaat bagi inang
dengan mendukung ketahanan dan keberadaan asupan mikroba hidup dalam
saluran pencernaan inang (Andersson et al., 2001 dalam FAO, 2007).
Prebiotik adalah suatu bahan pangan yang tidak dapat dicerna di sepanjang
jalur pencernaan manusia, namun bermanfaat menunjang pertumbuhan atau
aktivitas bakteri menyehatkan di usus, termasuk probiotik. (Angus et al.,
2005).
Prebiotik yang umum digunakan adalah inulin dan fruktooligosakarida
(FOS) (Bouhnik et al., 1999). Produk pangan yang umumnya ditambahkan
prebiotik adalah roti, cookies, makanan bayi, es krim, serta produk lainnya
dengan tujuan meningkatkan kandungan serat dan beberapa manfaat kesehatan
lain seperti kelancaran proses pencernaan.
FAO (2007) menyatakan bahwa pertumbuhan pasar prebiotik
berlangsung cepat. Hal ini terlihat dari data pasar prebiotik dunia
menunjukkan lebih dari 400 produk pangan prebiotik dan lebih dari 20
perusahaan memproduksi serat dan oligosakarida sebagai prebiotik. FAO
melaporkan pasar prebiotik di Eropa bernilai €87 juta pada tahun 2007 dan
diramalkan bernilai € 179.7 juta di tahun 2010. Kemajuan pesat ini
membutuhkan dukungan kejelasan manfaat prebiotik terhadap pertumbuhan
probiotik.
Aplikasi prebiotik yang ditambahkan sebaiknya dapat mendukung
pertumbuhan probiotik sehingga diperlukan pengujian terlebih dahulu untuk
melihat interaksi di antara keduanya. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya
pengujian pengaruh prebiotik terhadap pertumbuhan probiotik.
Asupan inulin terbukti dapat mempengaruhi secara signifikan aktivitas
probiotik dalam pertumbuhan dan performa pengasaman (Oliviera et al.,
2009). Audisio et al. (2001) meneliti pertumbuhan E. faecium CRL1385 isolat
dari sistem pencernaan ayam dalam beberapa sumber karbon kompleks yang
mengandung FOS. Penelitian terhadap prebiotik yang tepat untuk probiotik
lokal seperti E. faecium IS-27526 dan L. plantarum IS-10506 belum pernah
dilaksanakan. Penambahan prebiotik inulin dan FOS memiliki peluang untuk
dapat mempengaruhi pertumbuhan probiotik E. faecium IS-27526,
L.plantarum IS-10506, dan L.casei strain Shirota.

B. Tujuan
Mengetahui pengaruh prebiotik inulin dan FOS terhadap pertumbuhan
probiotik E. faecium IS-27526, L. plantarum IS-10605 dan L. casei strain
Shirota.

C. Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat menjadi acuan pemilihan
prebiotik yang dapat mendukung pertumbuhan probiotik E. faecium IS-27526,
L. plantarum IS-10506, dan L. casei Shirota strain untuk aplikasi produk
sinbiotik.