Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Gelombang Seismik
Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena
adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya adanya patahan atau adanya
ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan dapat terekam
oleh seismometer. Efek yang ditimbulkan oleh adanya gelombang seismik
dari gangguan alami (seperti : pergerakan lempeng (tektonik), bergeraknya
patahan, aktivitas gunung api (vulkanik), dan sebagainya) adalah apa yang
kita kenal sebagai fenomena gempa bumi. Gelombang seismik ada yang
merambat melalui interior bumi disebut sebagai body wave, dan ada juga
yang merambat melalui permukaan bumi yang disebut surface wave. Sumber
gelombang seismik ada dua yaitu alami dan buatan. Sumber alami terjadi
karena adanya gempa tektonik, gempa vulkanik dan runtuhan/ longsoran,
sedangkan buatan menggunakan gangguan yang disengaja.
Gelombang seismik berdasarkan rambatannya dibedakan menjadi dua,
yaitu :
1. Gelombang Badan (Body Wave)
Gelombang yang merambat melalui bagian dalam bumi. Gelombang
badan merupakan gelombang yang tiba sebelum gelombang permukaan
yang dipancarkan oleh gempa bumi. Gelombang inimemiliki frekuensi
yang lebih tinggi daripada gelombang permukaan. Gelombang badan
dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Gelombang P (Primer wave)
Gelombang P merupakan gelombang longitudinal, dimana arah
pergerakan partikel akan searah dengan arah rambat gelombang.

Gambar 1 : arah rambatan gelombang primer wave


Kecepatan gelombang P dapat mencapai 4-6 km per detik, tergantung
dari sifat batuan yang dilaluinya. Gelombang ini adalah gelombang
yang pertama kali tiba di sebuah stasiun seismik.

b. Gelombang S (Sekunder wave)


Gelombang S merupakan gelombang transversal, dimana arah
pergerakan pertikel akan tegak lurus dengan arah rambat gelombang.

Gambar 2 : arah rambatan gelombang sekunder wave

Kecepatan gelombang S ini mencapai 3-4 km per detik. Gelombang


ini lebih lambat dibandingkan dengan gelombang P dan hanya mampu
bergerak melalui batuan padat, serta tidak bisa melewati media cair.

2. Gelombang Permukaan (Surface Wave)


Gelombang yang rambatannya hanya melalui kerak bumi.
Gelombang ini memiliki frekuensi yang lebih rendah dibandingkan
dengan gelombang badan. Gelombang permukaan dibedakan menjadi
dua, yaitu :
a. Gelombang Love
Gelombang Love adalah gelombang geser (S wave) yang terpolarisasi
secara horizontal dan tidak menghasilkan perpindahan vertikal.
Gelombang love terbentuk karena interferensi konstruktif dari
pantulan–pantulan gelombang seismik pada permukaan bebas.
Gelombang ini merambat dengan kecepatan 2 3/4 km/s. Pergerakan
partikel gelombang love sejajar dengan permukaan tetapi tegak lurus
dengan arah rambatnya. Gelombang love lebih cepat daripada
gelombang Rayleigh dan lebih dulu sampai pada seismograph.
Gambar 3 : gelombang love

b. Gelombang Reyleigh
Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang lintasan gerak
partikelnya menyerupai ellips. Dihasilkan oleh gelombang datang P
dan gelombang S yang berinteraksi pada permukaan bebas dan
merambat sejajar dengan permukaan tersebut. Gerakan partikelnya ke
belakang (bawah maju atas mundur) dan gelombang ini menjalar
melalui permukaan media yang homogen. Gelombang Rayleigh
merambat dengan kecepatan sekitar 2 1/4 mil sehingga menimbulkan
efek gerakan tanah yang sirkuler dan hasilnya tanah akan bergerak
naik turun seperti ombak di laut.

Gambar 4 : gelombag geyleigh

Metoda seismik adalah salah satu metoda dalam ilmu geofisika yang
mengukur sifat rambat gelombang seismik yang menjalar di dalam bumi.
Pada dasarnya gelombang seismik dapat diurai menjadi gelombang Primer
(P) atau gelombang longitudinal dan gelombang Sekunder (S) atau
gelombang transversal. Sifat rambat kedua jenis gelombang ini sangat
dipengaruhi oleh sifat dari material yang dilaluinya. Gelombang P dapat
menjalar pada material berfasa padat maupun cair, sedangkan gelombang S
tidak dapat menjalar pada materi yang berfasa cair. Perbedaan sifat rambat
kedua jenis gelombang inilah yang dipakai untuk mengetahui jenis material
dari interior bumi.

Gambar 5 : Seismic reflection. Seismic waves reflect from a rock boundary


deep within the Earth and return to a seismograph station on the surfac
Salah satu cara penting untuk belajar tentang interior bumi adalah
dengan studi refleksi seismik, yaitu kembalinya sebagian energi gelombang
seismik ke permukaan bumi setelah gelombang memantul batas batuan. Jika
dua lapisan batuan dengan kerapatan yang berbeda dipisahkan oleh batas
yang cukup tajam, gelombang seismik memantulkannya seperti cahaya yang
dipantulkan dari cermin.

Gambar 6 : Seismic refraction occurs when seismic waves bend as


they cross rock boundaries. At an interface, seismic (or sound or light)
waves will bend to ward the lower-velocity material. (A) Low-velocity layer
above high-velocity layer. (B) High-velocity layer above low-velocity layer.
Some of the seismic waves will also return to the surface by reflect-ing off
the rock boundary.
Gelombang tercermin yang dicatat pada seismogram, gambar tersebut
menunjukkan jumlah waktu yang ditempuh gelombang untuk menempuh
perjalanan ke batas, memantulkannya, dan kembali ke permukaan. Dari
jumlah waktu yang diperlukan untuk perjalanan pulang pergi, ahli geologi
menghitung kedalamannya dari batas. Metode lain yang digunakan untuk
menentukan batas batuan adalah penelitian dari pembiasan seismik, lentur
gelombang seismik sebagaimana adanya lulus dari satu materi ke materi
lainnya, yang mirip dengan jalannya bahwa gelombang cahaya menekuk saat
mereka melewati lensa kacamata. Seiring gelombang seismik menyerang
batas batuan, sebagian besar energi gelombang melewati batas. Perubahan
arah, atau pembiasan ini terjadi hanya jika kecepatan gelombang seismik
berbeda pada setiap lapisan (yaitu umumnya jika lapisan batu berbeda dalam
densitas atau kekuatan). Batas antara lapisan batuan tersebut biasanya cukup
berbeda untuk didekati dengan teknik refraksi seismik.

Gambar 7 : Seismic refraction can be used to detect boundaries


between rock layers. See text for
explanation.
Stasiun seismograf 1 menerima gelombang seismik yang melewati
lapisan atas (A) secara langsung. Stasiun lebih jauh dari pusat gempa, seperti
stasiun 2, menerima Gelombang seismik dari dua jalur : (1) jalur langsung
lurus melalui lapisan (A) dan (2) jalur pembiasan melalui lapisan (A) ke
lapisan kecepatan tinggi (B) dan kembali ke lapisan (A). Oleh karena itu,
stasiun 2 menerima gelombang yang sama dua kali. Stasiun seismograf yang
dekat dengan stasiun 1 hanya menerima gelombang langsung atau mungkin
dua gelombang, gelombang langsung (atas) tiba sebelum gelombang yang
dibiaskan (lebih rendah). Stasiun dekat stasiun 2 menerima baik gelombang
langsung maupun yang dibiaskan. Dalam beberapa kasus antara stasiun 1 dan
stasiun 2, ada transformasi dari menerima gelombang langsung terlebih
dahulu untuk menerima gelombang refraksi pertama. Meskipun gelombang
yang dibiaskan bergerak lebih jauh, ia bisa tiba di stasiun pertama karena
sebagian besar jalurnya berada di lapisan highvelocity (B).
Jarak antara titik transformasi ini dan episentrum gempa adalah fungsi
kedalaman batu karang batas antara lapisan (A) dan (B). Serangkaian
seismograf portabel dapat dipasang sejajar dengan ledakan (tembakan
seismik) untuk menemukan jarak ini, dan kedalaman ke batas serta kecepatan
gelombang seismik di dalam lapisan juga bisa ditemukan. Ada banyak jalur
lain untuk energi gelombang. Batas batuan yang tajam tidak diperlukan untuk
pembiasan gelombang seismik bahkan di lapisan tebal batuan seragam,
tekanan yang meningkat dengan kedalaman cenderung meningkatkan
kecepatan ombaknya. Gelombang mengikuti jalan melengkung melalui
lapisan seperti itu. Untuk memahami alasan jalur melengkung, visualisasikan
lapisan batu tebal sebagai tumpukan yang sangat tipis lapisan, masing-masing
dengan kecepatan sedikit lebih tinggi dari yang di atas. Jalan melengkung
menghasilkan banyak perubahan kecil dalam arah seperti gelombang
melewati banyak lapisan.

Gambar 8 : Curved paths of seismic waves caused by uniform rock


with increasing seismic veloci-ty with depth. (A) Path between earthquake
and recording station. (B) Waves spread-ing out in all directions from
earthquake focus.