Anda di halaman 1dari 2

Tatanan Tektonik dan Hubungan Pembentukan Vulkanisme pada Pulau

Sumatera dan Pulau Jawa

Jalur magmatik Pulau Jawa mengalami evolusi dikarenakan oleh subduksi lempeng Indo-
Australia yang menunjam ke lempeng Eurasia. Perbedaan kecepatan penunjaman antara kedua
lempeng tersebut menyebabkan terjadinya perubahan jalur magmatik.

gambar 1. Perkembangan Zona Subduksi dan Busur Magmatik Pulau Jawa

Perkembangan jalur magmatisme Pulau Jawa terbagi menjadi tiga periode. Pada periode Pre-
Tersier subduksi antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia menghasilkan jalur subduksi
purba yang memiliki arah NE – SW. Pada periode Paleogen sampai Neogen jalur subduksi
membentuk punggungan di bawah permukaan laut di selatan Pulau Jawa. Pergerakan mundur
dari zona subduksi daerah selatan Jawa terjadi pada kala Miosen Akhir – Pliosen diikuti dengan
melandaikan sudut penunjaman antara lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Hal
ini menyebabkan zona magmatis bergerak lebih ke utara dibandingkan sebelumnya. Sedangkan
pada periode Kuarter sampai Resen jalur magma membentang di sepanjang pulau dan hampir
meliputi seluruh pulau.
Sedangkan evolusi jalur magmatik Pulau Sumatera adalah akibat adanya subduksi antara
lempeng India-Australia dengan Sundaland yang membentuk oblique atau pola konvergen
miring. Pada Pulau Sumatera terdapat sesar geser Semangko yang menghasilkan zona yang
menjadi jalan keluarnya magma pada aktivitas volkanisme. Zona ini menghasilkan jajaran
pegunungan pada sepanjang Pulau Sumatera yang disebut dengan Pengunungan Barisan
(gambar 2).
Perbedaan antara pola dan jalur magmatisme pada Pulau Sumatera terjadi sejak zaman Pre-
Tersier sedangkan pada Jawa hanya terjadi pada Jawa bagian barat saja proses magmatismenya.
Perubahan jalur magmatisme di Sumatera lebih diakibatkan pada mekanisme roll back. Bentuk
subduksi pada Pulau Sumatera adalah oblique akibat pengaruh sistem mendatar Sumatra
sehingga menjadikan kompleksitas regim stress dan pola strain pada Sumatra (Darman dan
Sidi, 2000).
Sudut pertemuan antara dua lempeng pada Pulau Jawa dan Pulau Sumatera berbeda. Pulau
Jawa memiliki sudut pertemuan dua lempeng yang relatif tegak lurus sehingga terbentuk back
arc side volcano. Hal ini
menyebabkan gunung api pada Pulau
Jawa ditemukan berpasangan.
Sedangkan sudut pertemuan dua
lempeng pada Pulau Sumatera
membentuk sudut sekitar 50O
(Samodra dan Chandra, 2013) atau
lebih curam dibandingkan Pulau Jawa.
Hal ini menyebabkan densitas gunung
api di Pulau Sumatera cenderung lebih
sedikit.

gambar 2. kerangka tektonik cekungan Pulau Sumatera

gambar 3. Jalur Magmatisme Pulau Jawa dan Pulau Sumatera

Referensi :
 Darman, H. dan Sidi, F.H., 2000, An Outline of The Geology of Indonesia, Ikatan Ahli
Geologi Indonesia.
 Samodra, S. B. dan Chandra, V.R., 2013, Karakteristik Gempabumi di Sumatera dan
Jawa, Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada.
 Bab II Tatanan Geologi Regional. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/548/jbptitbpp-gdl-
irmahestyw-27353-3-2007ts-2.pdf (Diakses tanggal 21 Januari 2018 pukul 22.31)