Anda di halaman 1dari 20

PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO UTANG USAHA

Utang lancar memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktiva lancar. Perbedaan iini
mengakibatkan perbedaan di dalam pengujian substantifnya. Oleh karena itu, perbedaan ini
perlu disadari oleh auditor. (Mulyadi,2002:152)
Perbedaan karakteristik utang lancar dengan aktiva lancar adalah sebagai berikut:
1. Besarnya jumlah saldo akun pada neraca.
2. Metode penilaian akun pada neraca.
Dalam menyajikan aktiva lancar, klien menghadapi masalah penilaian unsur-unsur
aktiva lancar per tanggal neraca. Kas harus disajikan pada nilai kursnya pada tanggal
neraca, jika kas tersebut berupa valuta asing; piutang harus disajikan pada nilai bersih
yang dapat ditagih pada tanggal neraca, sediaan harus dihitung kuantitas, ditentukan
kualitas, dan kondisinya untuk dapat disajikan pada nilai bersih yang dapat direalisasikan
pada tanggal neraca. Di lain pihak, dalam penyajian utang lancar, klien tidak menghadapi
masalah penentuan nilai utang lancar tersebut pada tanggal neraca. Apa yang menjadi
kewajiban perusahaan pada tanggal neraca tidak perlu ditentukan nilainya. Klien
menghadapi fakta di dalam menyajikan utang lancar.
Menurut Boynton (2003:111), hutang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar terbesar
dalam neraca dan merupakan faktor yang signifikan dalam mengevaluasi solvensi jangka
pendek perusahaan. Seperti halnya dengan piutang usaha, hutang usaha biasanya juga
dipengaruhi oleh volume transaksi yang tinggi dan karenanya akan sangat rentan akan salah
saji. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan audit atas saldo aktiva, audit atas hutang lebih
ditekankan pada asersi kelengkapan daripada asersi eksistensi atau kejadian. Menurut
Mulyadi (2002:153), perbedaan pengujian substantif terhadap utang lancar dengan pengujian
substantif terhadap aktiva lancar adalah sebagai berikut:
1. Pengujian substantif terhadap utang lancar ditujukan untuk menemukan adanya utang
yang belum dicatat pada tanggal neraca. Hal ini dimaksudkan oleh auditor untuk
mendeteksi adanya kemungkinan penyajian utang lancar yang lebih rendah dari saldo yang
seharusnya (understatement utang lancar). Sedangkan, pengujian substantif terhadap
aktiva lancar ditujukan untuk menemukan adanya penyajian aktiva lancar yang lebih
tinggi dari jumlah yang seharusnya (overstatement aktiva lancar).
2. Dalam pengujian substantif terhadap aktiva lancar, auditor menghadapi masalah
penentuan kewajaran nilai aktiva lancar (nilai bersih yang dapat direalisasikan( yang
dicantumkan dalam neraca. Penentuan nilai aktiva lancar ini menyangkut penaksiran apa
yang akan terjadi dalam neraca. Di lain pihak, dalam pengujian substantif terhadap utang
lancar, auditor menghadapi fakta, menghadapi data historis mengenai kewajiban
perusahaan yang terjadi di masa yang lalu, yang dalam jangka pendek harus dilunasi. Oleh
karena itu, pengujian substantif terhadap utang lancar memerlukan waktu yang relatif
lebih pendek bila dibandingkan dengan pengujian substantif terhadap aktiva lancar.
Adanya perbedaan penekanan dalam audit aktiva dan utang berdampak langsung pada
kewajiban hukum auditor. Apabila investor, kreditur dan pengguna laporan keuangan lainnya
setelah diterbitkannya laporan keuangan auditan menentukan bahwa laba dan ekuitas pemilih
telah lebih saji material, maka tuntutan hukum kepada KPA layak untuk dilakukan. Karena
kesalahan penyajian ekuitan pemilik dapat timbul baik dengan membuat lebih saji aktiva atau
membuat kurang saja utang, maka logis bagi auditor untuk menaruh perhatian yang besar
pada kedua jenis kesalahan penyajian tersebut. (Jusup,2014:726)

PENENTUAN RISIKO DETEKSI UNTUK PENGUJIAN RINCIAN


Menurut Boynton (2003:111),hutang usaha dipengaruhi oleh transaksi pembelian
yang menambah saldo maupun oleh transaksi pengeluaran kas yang menurunkan saldo
tersebut. Risiko pengujian rincian untuk asersi hutang usaha dipengaruhi oleh risiko inheren,
risiko prosedur analitis, dan faktor-faktor risiko pengendalian yang berkaitan dengan kedua
kelompok transaksi tersebut. Auditor menggunakan metodologi yang meliputi matriks risiko
audit, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan tingkat risiko deteksi yang dapat
diterima pada tahap pengujian rincian. Tingkat risiko spesifik dalam matriks ini hanya
bersifat ilustratif dan akan, karenanya, bervariasi menurut situasi yang dihadapi klien.Tingkat
risiko deteksi yang dapat diterima menunjukkan perlunya bukti yang lebih meyakinkan untuk
asersi kelengkapan dan penyajian serta pengungkapan daripada untuk asersi-asersi lainnya.
Penerapan proses ini akan dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.1 Korelasi Komponen Risiko-Asersi Hutang Usaha

Eksistensi Penilaian
Komponen Hak dan Penyajian dan
atau Kelengkapan atau
Risiko Kewajiban Pengungkapan
Kejadian Alokasi

Risiko Audit Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah


Risiko
Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi
Inheren
Risiko
Prosedur Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi
Analitis
Risiko
Pengendalian
Rendah Tinggi Sedang Tinggi Sedang
- Transaksi
Pembelian
Risiko
Pengendalian
- Transaksi Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah
Pengeluaran
Kas

Risiko
Pengendalian Sedang Tinggi Sedang Tinggi Sedang
Gabungan
Risiko
Pengujian
Sangat
Rincian yang Sedang Sedang Sedang Sangat Sedang
Rendah
Dapat
Diterima
Sumber:Boynton,2003:112

PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF


Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk setiap asersi laporan keuangan yang
signifikan dicapai dengan mengumpulkan bukti dari pengujian substantif yang dirancang
secara tepat, termasuk prosedur analitis dan pengujian rincian. Kerangka kerja umum untuk
mengembangkan program audit atas pengujian substantif untuk piutang usaha (audit siklus
pendapatan) juga dapat digunakan dalam merancang pengujian substantif untuk piutang
usaha (audit siklus pengeluaran). Daftar pengujian substantif yang mungkin, yang dapat
dimasukkan dalam program audit yang dikembangkan atas dasar ini disajikan pada gambar di
bawah ini.

Gambar 4.2 Pengujian Substantif yang Mungkin atas Asersi Hutang Usaha
Tujuan Audit Atas Saldo
Kategori Substantif Pengujian
Akun
Prosedur Awal 1. Memperoleh pemahaman EO3, C3, RO3, VA, PD
mengenai bisnis dan industri serta
menentukan :
a. Signifikansi pembelian dan utang
usaha bagi entitas.
b. Pemicu ekonomi utama yang
mempengaruhi pembelian dan utang
usaha perusahaan.
c. Termin perdagangan standar
dalam industri, termasuk
penanggalan musiman, periode
penagihan, dst.
d. Perluasan konsentrasi aktivitas
dengan pelanggan.
2. Melakukan prosedur awal atas EO3, VA3, PD5
saldo dan catatan utang usaha
yang akan diuji lebih lanjut.
a. Menelusuri saldo awal piutang
usaha ke kertas kerja tahun
sebelumnya.
b. Menelaah aktivitas dalam akun
buku besar utang usaha dan
menyelidiki ayat jurnal yang tampak
tidak biasa menyangkut jumlah atau
sumbernya.
c. Mendapatkan daftar utang usaha
pada tanggal neraca dan

Tujuan Audit Atas Saldo


Kategori Substantif Pengujian
Akun
menentukan bahwa hal tersebut
telah secara akurat menggambarkan
catatan akuntansi yang mendasari
dengan :
· Menjumlahkan daftar dan
menentukan kesesuaiannya dengan
total file voucher yang belum
dibayar, buku pembantu, atau file
induk utang usaha dan saldo akun
pengendali buku besar.
Menguji kesesuaian pemasok dan
saldo dalam catatan akuntansi yang
mendasarinya.
Prosedur Melakukan prosedur analitis. EO3, C3, VA34
Analitis a. Mengembangkan harapan atas
utang usaha dengan menggunakan
pengetahuan tentang aktivitas bisnis
perusahaan, termin perdagangan yg
nornal, dan riwayat perputaran
utang usaha.
b. Menghitung rasio:
· Perputaran utang usaha
· Utang usaha terhadap total
kewajiban lancar.
c. Menganalisis hasil rasio relatif
terhadap harapan berdasarkan data
tahun sebelumnya, data industri,
jumlah anggaran, atau data lainnya.
d. Membandingkan saldo beban
tahun sebelumnya atau jumlah yang
dianggarkan untuk menyelidiki
kemungkinan kurang saji yang
berkaitan dengan utang yang tidak
dicatat.

Tujuan Audit Atas Saldo


Kategori Substantif Pengujian
Akun
Pengujian 1. Menelusuri sampel catatan EO3, RO3, VA, PD34
Rincian transaksi utang usaha ke
Transaksi dokumentasi pendukung
a. Menelusuri kredit ke voucher
pendukung faktur penjual, laporan
penerimaan, pesanan pembelian,
serta informasi pendukung lainnya.
b. Menelusuri debet ke pengeluaran
kas atau memo retur pembelian.
2. Melaksanakan pengujian pisah EO3, C3
batas (cut off) pembelian
a. Memilih sampel transaksi
pembelian yang dicatat dari
beberapa hari sebelum dan sesudah
akhir tahun serta memeriksa
voucher pendukung, faktur penjual,
dan laporan penerimaan untuk
menentukan bahwa penjualan telah
dicatat dalam periode yg benar.
b. Mengobservasi nomor laporan
penerimaan terakhir yang
diterbitkan pada hari terakhir bisnis
selama periode audit dan menelusuri
sampel laporan penerimaan
bernomor lebih kecil dan lebih besar
ke dokumen pembelian kredit serta
menentukan bahwa transaksi telah
dicatat pada periode yang tepat.
3. Melaksanakan pengujian pisah EO3, C3
batas pengeluaran kas.
a. Mengobservasi nomor cek
terakhir yang diterbitkan dan
dikirimkan pada hari terakhir
periode audit dan menelusuri ke
catatan akuntansi untuk
memverifikasi keakuratan pisah
batas, atau
b. Menelusuri tanggal pembayaran
cek yg dikembalikan dengan
laporan pisah batas bank akhir tahun
ke tanggal yg telah dicatat.
4. Melaksanakan pencarian C3
kewajiban yang belum tercatat
a. Memeriksa pembayaran
berikutnya antara tanggal neraca dan
akhir pekerjaan lapangan, serta
apabila dokumen yg bersangkutan
menunjukkan bahwa pembayaran
dilakukan untuk kewajiban yang ada
pada tanggal neraca, maka
telusurilah ke daftar utang usaha.
b. Memeriksa dokumentasi utang
yang dicatat pada akhir tahun yang
masih belum dibayar sampai akhir
pekerjaan lapangan.
c. Menyelidiki pesanan
pembelian,laporan penerimaan, dan
faktur penjual yg tidak sesuai pada
akhir tahun.
d. Melakukan tanya jawab dengan
personil bagian akuntansi dan
pembelian mengenai utang yang
belum dicatat.
e. Mereview anggaran modal,
perintah kerja, dan kontrak
konstruksi sebagai bukti atas utang
yang belum dicatat.
Tujuan Audit Atas Saldo
Kategori Substantif Pengujian
Akun
Pengujian 1. Mengkonfirmasi utang usaha. EO3, C3, RO3, VA, PD345
Rincian Saldo a. Mengidentifikasi pemasok utama
dg mereview register voucher atau
buku pembantu atau file induk utang
usaha dan mengirimkan permintaan
konfirmasi kepada pemasok dengan
saldo yang besar, aktivitas yg tidak
biasa, bersaldo kecil atau nol, dan
bersaldo debet.
b. Menyelidiki dan merekonsiliasi
perbedaan.
2. Merekonsiliasi utang yg belum EO3, C3, RO3, VA, PD345
dikonfirmasi dg laporan bulanan
yg diterima klien dari pemasok.
Penyajian dan Membandingkan penyajian VA, PD345
Pengungkapan laporan dengan GAAP
a. Menentukan bahwa utang telah
diidentifikasi dan diklasifikasikan
secara tepat menurut jenis dan
periode pembayaran yang
diperkirakan.
b. Menentukan apakah ada saldo
debet yang signifikan secara
keseluruhan dan yang harus
direklasifikasi.
c. Menentukan ketepatan
pengungkapan dan yang berkaitan
dengan pihak yang punya hub.
Istimewa, atau utang yang dijamin.
d. Mengajukan pertanyaan kepada
manajemen tentang eksistensi
komitmen yang belum diungkapkan
atau kewajiban kontijen.
Sumber:Boynton,2003:113-114

Perhatikan bahwa setiap pengujian dalam gambar tersebut diarahkan pada satu atau lebih
tujuan audit atas atas saldo akun spesifik untuk hutang usaha. Setiap pengujian dalam gambar
tersebut diarahkan pada satu atau lebih tujuan audit atas saldo akun spesifik untuk hutang
usaha, pengujian berganda diarahkan ke setiap tujuan audit atas saldo akun .Setiap pengujian
itu akan dijelaskan berikut ini, termasuk komentar tentang bagaimana beberapa pengujian
dapat disesuaikan berdasarkan tingkat risiko deteksi yang berlaku yang dapat diterima dan
dicapai.

PROSEDUR AWAL
Menurut Boynton (2003:115), titik awal untuk memenuhi setiap pengujian audit adalah
memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri klien. Pemahaman tentang signifikansi
siklus pembelian dalam perusahaan menyediakan konteks untuk penilaian risiko yang
penting. Pemahaman atas pemicu atau penggerak ekonomi perusaahan, termin perdagangan
standar, dan seberapa luas konsentrasi bisnis dengan pemasok tertentu menyediakan konteks
untuk mengevaluasi hasil prosedur analitis, pengujian pengendalian, dan pengujian substantif.
Prosedur awal lainnya untuk pengujian substantif atas hutang usaha adalah menelusuri
saldo awal kertas kerja tahun sebelumnya, dan menggunakan perangkat lunak audit
tergeneralisasi dalam memeriksa akun buku besar untuk melihat setiap ayat jurnal yang tidak
biasa, serta untuk mengembangkan daftar jumlah yang terutang pada tanggal neraca. Auditor
juga dapat menggunakan perangkat lunak audit tergeneralisasi untuk menentukan ketepatan
matematis dengan cara menjumlah ulang total dan dengan memverifikasi bahwa jumlahnya
telah sesuai dengan saldo akun buku besar.

PROSEDUR ANALITIS
Menurut Boynton (2003:115), tujuan auditor dalam melakukan prosedur analitis adalah
mengembangkan ekspektasi atas saldo hutang usaha dan hubungan antara hutang usaha
dengan akun-akun kunci lainnya. Prosedur analitis akan dilaksanakan dalam tahap akhir dari
penugasan untuk memastikan bahwa bukti yang dievaluasi dalam pengujian rincian telah
konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan pada laporan keuangan.
Untuk itu, auditor melakukan perhitungan berbagai rasio berikut ini: (Mulyadi,2002:161)
Rasio Formula
Tingkat perputaran utang usaha Pembelian+rerata utang usaha
Rasio utang usaha dengan utang lancar Saldo utang usaha+utang lancar
Rasio yang telah dihitung tersebut kemudian dibandingkan dengan harapan auditor,
misalnya rasio tahun yang lalu, rerata rasio industri, atau rasio yang dianggarkan.
Pembandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan: (1) peristiwa atau transaksi
yang tidak biasa, (2) perubahan akuntansi, (3) perubahan usaha, (4) fluktuasi acak, atau (5)
salah saji.

PENGUJIAN RINCIAN TRANSAKSI


Menurut Boynton (2003:115). terdapat empat pengujian substantif atas rincian transaksi
hutang usaha yang utama dan akan dibahas dalam sub bagian berikut. Dalam melaksanakan
pengujian tersebut, auditor terutama akan menitikberatkan pada pendeteksian kurang saji
hutang yang dicatat serta hutang yang belum tercatat. Seberapa luas setiap pengujian itu
dilakukan akan bervariasi menurut tingkat risiko deteksi spesifik yang dapat diterima untuk
asersi-asersi terkait.
1. Menelusuri Hutang yang Dicatat ke Dokumentasi Pendukung
Dalam pengujian ini, ayat jurnal kredit pada hutang usaha akan ditelusuri ke
dokumentasi pendukung dalam file klien, seperti voucher, faktur penjual, laporan
penerimaan, dan pesanan pembelian. Pengujian ini terutama akan menghasilkan bukti
untuk tujuan audit spesifik yang berkaitan dengan empat dari lima asersi, terkecuali asersi
kelengkapan. Aplikabilitas dari pengujian ini terhadap asersi kelengkapan dalah terbatas
karena pengujian ini tidak dapat mendeteksi hutang yang tidak pernah dicatat.
2. Melaksanakan Pengujian Pisah Batas Pembelian
Pengujian pisah batas pembelian (purchase cut-off tests) mencakup penentuan bahwa
transaksi pembelian yang terjadi mendekati tanggal neraca telah dicatat pada periode yang
tepat. Bukti yang diperoleh dari pengujian ini berkaitan dengan asersi eksistensi atau
kejadian dan kelengkapan untuk hutang usaha. Dalam memeriksa dokumentasi sebagai
bagian dari pengujian ini, pertimbangan khusus harus diberikan atas barang yang masih
dalam perjalanan per tanggal neraca. Dalam melakukan pengujian ini, auditor harus
menentukan bahwa pisah batas yang tepat telah dicapai ketika melakukan perhitungan
fisik persediaan.
3. Melaksanakan Pengujian Pisah Batas Pengeluaran
Pisah batas yang tepat antara transaksi pengeluaran kas pada akhir tahun adalah sangat
penting untuk penyajian kas dan hutang usaha yang benar pada tanggal neraca. Bukti
tentang pengujian pisah batas pengeluaran kas (cash disbursement cutoff test) dapat
diperoleh melalui observasi langsung dan review atas dokumentasi internal. Bukti yang
diperoleh oleh dari pengujian ini juga berkaitan dengan asersi eksistensi atau kejadian dan
kelengkapan untuk hutang usaha.
4. Melakukan Pencarian Hutang yang Belum Tercatat
Menurut Mulyadi (2002:164), utang yang belum dicatat pada tanggal neraca dapat
timbul sebagai akibat dari berbagai keadaan berikut ini:
a. Adanya dokumen-dokumen (misalnya surat order pembelian, laporan penerimaan
barang, dan faktur pembelian dari pemasok) yang belum diproses untuk pembayaran
pada tanggal neraca, dan baru dibuatkan bukti kas keluar setelah tanggal neraca.
b. Adanya barang-barang yang diteruma sebelum tanggal neraca, namun faktur dari
pemasok baru diterima setelah tanggal neraca
c. Klien menggunakan basis tunai (cash basic) dalam melaksanakan sistem bukti kas
keluarnya (voucher system)
d. Adanya jasa yang telah dinikmati oleh klien sebelum tanggal neraca, namun penjual
jasa baru menagih harga jasa tersebut setelah tanggal neraca (misalnya: biaya iklan
bulan Oktober sampai dengan Desember, baru ditagih oleh perusahaan surat kabar
bulan Januari tahun berikutnya).
Pencarian hutang usaha yang belum tercatat (search for unrecorded accounts payable)
terdiri dari prosedur-prosedur yang dirancang secara khusus untuk mendeteksi kewajiban
signifikan yang belum dicatat pada tanggal neraca. Dengan demikian, prosedur ini
berkaitan dengan asersi kelengkapan untuk hutang usaha. (Boynton, 2003:117).
Menurut Mulyadi (2002:165), prosedur audit untuk menemukan adanya utang belum
yang dicatat pada tanggal neraca:
1. Periksa bukti-bukti yang mendukung transaksi pengeluaran kas yang dicatat setelah
tanggal neraca.
2. Periksa bukti kas keluar yang dibuat setelah tanggal neraca
3. Periksa catatan sediaan barang konsinyasi masuk. Jika klien menjual barang titipan
milik perusahaan lain, pemeriksaan catatan sediaan barang konsinyasi akan dapat
menunjukkan berapa jumlah barang konsinyasi yang telah dijual, namun oleh klien
belum dikirimkan hasil penjualannya kepada perusahaan yang menitipkan barang
tersebut. jumlaah tersebut merupakan utang klien kepada perusahaan penitip barang.
4. Pelajari peraturan perpajakan yang menyangkut bisnis klien. Kemungkinan klien
mempunyai kewajiban pajak yang belum diakui di dalam catatan akuntansinya pada
tanggal neraca. Untuk menemukan hal ini, auditor harus memahami peraturan
perpajakan yang menimbulkan kewajiban pajak bagi klien.
5. Lakukan review terhadap anggaran modal (capital budget), perintah kerja (work order),
dan kontrak pembangunan untuk memperoleh bukti adanya utang yang belum dicatat,
dengan me-review berbagai dokumen tersebut, auditor akan dapat menemukan
kewajiban sehubungan dengan pembelian aktiva tetap, perintah kerja, dan kontrak
pembangunan, yang telah menjadi kewajiban klien pada tanggal neraca, namun belum
dicatat dan disajikan oleh klien.
Jika auditor menemukan adanya utang yang pada tanggal neraca belum dicatat dan tidak
disajikan di neraca, ada dua jalan yang dapat ditempuh oleh auditor, yaitu: (!)
mengusulkan adjustment kepada klien untuk mencatat utang tersebut, (2) tidak
mengusulkan adjustment kepada klien, dan membiarkan utang tersebut tetap tidak tercatat.
Kriteria yang umumnya dipakai oleh auditor untuk memutuskan apakah akan
mengusulkan adjustment mengenai utang yang belum dicatat tersebut adalah:
1. Apakah dengan tidak dicatatnya utang tersebut, penentuan laba-rugi di dalam tahun
yang diaudit akan terpengaruh secara material? Jika jawabannya “ya”, maka auditor
harus mengusulkan kepada klien untuk mencatat utang yang belum dicatat tersebut.
2. Apakah dengan tidak dicatatnya utang tersebut akan mempengaruhi jumlah modal kerja
secara material? Jika jawabannya “ya” maka auditor harus mengusulkan jurnal
adjustment untuk mencatat utang tersebut.
PEMBAYARAN KEMUDIAN.
Pemeriksaan atas pembayaran kemudian (subsequent payments) terdiri dari pemeriksaan
dokumentasi untuk cek-cek yang diterbitkan atau voucher yang dibayar setelah tanggal
neraca. Dengan demikian, pengujian ini melebihi periode yang digunakan dalam pengujian
pisah batas yang telah diuraikan di atas. Auditor juga dapat mencari periode selanjutnya ini
dengan melihat lebih saji pembayaran kemudian dan memusatkan perhatian pada transaksi
yang bernilai besar.
PROSEDUR LAINNYA.
Dokumentasi pendukung hutang yang telah dicatat, tetapi masih belum dibayar sampai
tanggal terakhir pekerjaan lapangan, juga harus diperiksa atas dasar pengujian. Hal ini juga
dapat mengungkapkan kewajiban yang ada tetapi belum dicatat pada tanggal neraca.

PENGUJIAN RINCIAN SALDO


Menurut Jusup (2014:725), tujuan keseluruhan audit utang usaha adalah untuk
menentukan apakah saldo utang usaha telah disajikan secara wajar dan diungkapkan dengan
tepat. Perbedaan tujuan audit saldo pengauditan utang usaha dengan pengauditan piutang
usaha adalah sebagai berikut:
1. Tujuan nilai bersih bisa direalisasi tidak diterapkan untuk liabilitas. Nilai bersih
direalisasi hanya diterapkan untuk aset.
2. Aspek hak pemilikan dari tujuan hak dan kewajiban tidak diterapkan untuk liabilitas.
Untuk aset, auditor sangat menekankan pada hak klien atas penggunaan dan
penghapusbukuan aset. Untuk liabilitas, auditor memusatkan perhatian pada kewajiban
klien untuk membayar utang. Apabila klien tidak mempunyai kewajiban untuk membayar,
maka tidak akan dicantumkan sebagai liabilitas
3. Untuk liabilitas, lebih ditekankan pada pencarian kurang saji daripada atas lebih saji.
Tabel 4.1 mencakup tujuan audit saldo dan prosedur pengujian rinci saldo yang lazim
dilakukan atas utang usaha. Prosedur audit yang sesungguhnya diterapkan auditor bisa
bervariasi tergantung pada sifat entitas, materialitas utang usaha, sifat dan efektivitas
pengendalian internal, serta risiko inheren. Ketika auditor melaksanakan pengujian rinci saldo
utang usaha dan akun liabilitas lainnya, auditor biasanya mengumpulkan bukti tentang empat
tujuan penyajian dan pengungkapan, terutama ketika melakukan pengujian untuk tujuan
kelengkapan.
Tabel 34.1 Tujuan Audit Saldo dan Pengujian Rinci atas Saldo Utang Usaha
Tujuan Audit Saldo Prosedur Pengujian Rinci Komentar
Saldo
Utang usaha dalam daftar Jumlahkan ulang atau Bila penjumlahan dilakukan
utang usaha cocok dengan gunakan komputer untuk secara manual tidak perlu
yang tercantum pada master menjumlahkan daftar utang seluruh halaman dijumlah
file yang bersangkutan, dan usaha
totalnya cocok dengan yang Telusur total ke buku besar
tercantum di buku besar Telusur faktur penjual Penelusuran ke master file
(kecocokan saldo) individual ke master file bisa dibatasi, kecuali bila
untuk mencocokkan nama pengendalian lemah.
dan jumlahnya
Utang usaha dalam daftar Telusur dari daftar utang Biasanya kurang mendapat
utang usaha sungguh- usaha ke faktur penjual dan perhatian, karena
sungguh ada (keberadaan) laporan dari pemasok. perhatian utama pada
Konfirmasi utang usaha, lebih saji,
terutama untuk yang
berjumlah besar dan tidak
biasa
Utang usaha yang ada telah Lakukan pengujian liabilitas Ini adalah pengujian audit
tercantum dalam daftar setelah tanggal penutupan yang penting untuk utang
utang usaha (kelengkapan) buku usaha
Utang usaha yang tercantum Lakukan prosedur yang sama Biasanya, tekanan pada
dalam daftar telah akurat dengan yang digunakan prosedur untuk ketelitian
(ketelitian) untuk tujuan keberadaan ini adalah kurang saji
dan pengujian setelah dibandingkan dengan
tanggal penutupan buku untuk penghilangan
Tujuan Audit Saldo Prosedur Pengujian Rinci Komentar
Saldo
Utang usaha yang tercantum Review daftar dan master file Pengetahuan tentang bisnis
dalam daftar telah yang bersangkutan dengan klien sangat penting untuk
digolongkan dengan benar pihak yang berelasi, pengujian ini
(penggolongan) liabilitas berbunga, utang
jangka panjang, utang
bersaldo debet.
Transaksi dalam siklus Lakukan pengujian setelah Ini merupakan pengujian
pembelian dan tanggal penutupan buku yang sangat penting untuk
pembayaran telah dicatat Lakukan pengujian rinci utang usaha. Ini disebut
pada periode yang tepat sebagai bagian dari pengujian pisah batas
(pisah-batas) observasi penghitungan
persediaan
Lakukan pengujian untuk
persediaan dalam
perjalanan
Perusahaan memiliki Periksalah laporan dari Biasanya bukan merupakan
kewajiban untuk pemasok dan konfrimasi perhatian utama dalam
membayar liabilitas yang utang usaha. audit utang usaha, karena
tercantum dalam utang semua utang usaha adalah
usaha (kewajiban) kewajiban.
Sumber:Jusup,2014:727-728
1. Pengujian Liabilitas sesudah Tanggal Neraca
Karena penekanan audit pada kurang saji dalam akun-akun liabilitas, pengujian sesudah
tanggal neraca sangat penting artinya bagi utang usaha. Luasnya pengujian untuk
menemukan utang yang tidak dicatat, sangat tergantuyng pada penilaian risiko
pengendalian dan materialitas saldo potensial dalam akun yang bersangkutan. Prosedur
audit yang sama yang digunakan untuk mencari utang tdak dicatat diterapkan pula untuk
tujuan ketelitan. Berikut adalah prosedur-prosedur yang lazim digunakan:
a. Periksalah Dokumen Pendukung untuk Pengeluaran Kas Sesudah Tanggal Neraca
Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah pengeluaran kas itu untuk membayar
utang dari periode ini (periode yang diperiksa). Apabila pembayaran itu untuk
pembayaran utang periode ini, auditor harus menelusur ke daftar utang usaha untuk
memastikan apakah utang termasuk tercantum dalam daftar utang usaha. Laporan
penerimaan barang menunjukkan tanggal barang diterima dan oleh karena itu menjadi
dokumen yang sangat berguna. Demikian pula, faktur penjual biasanya menunjukkan
tanggal suatu jasa diberikan.
b. Periksalah Dokumen Pendukung untuk Faktur Tagihan yang Belum Dibayar Sampai
Beberapa Minggu Setelah Akhir Tahun
Auditor melakukan prosedur ini di periode berikutnya dengan cara yang sama
seperti prosedur di atas untuk tujuan yang sama. Prosedur ini berbeda dengan yang di
atas, yaitu dalam hal kewajiban ini belum dibayar sampai menjelang akhir audit, bukan
kewajiban yang sudah dibayar.
c. Telusur Laporan Penerimaan Barang yang Diterbitkan Sebelum Akhir Tahun Dengan
Faktur Penjual yang Bersangkutan
Semua barang yang diterima sebelum akhir tahun buku harus dimasukkan sebagai
utang usaha. Dengan menelusur laporan penerimaan barang yang diterbitkan menjelang
akhir tahun buku ke faktur penjual dan meyakinkan bahwa semua telah dimasukkan
sebagai utang usaha, auditor menguji ada tidaknya utang yang tidak dicatat.
d. Telusur Laporan dari Pemasok yang Menunjukkan Saldo Terutang ke Daftar Saldo
Utang Usaha
Apabila klien menyimpan arsip laporan bulanan dari pemasok, auditor dapat
menelusur setiap laporan yang menunjukkan saldo terutang pada setiap tanggal neraca
ke daftar utang usaha, untuk memastikan telah dimasukkan sebagai utang usaha.
e. Pengiriman Konfirmasi kepada Pemasok yang Memiliki Hubungan Bisnis dengan
Klien.
Meskipun pengiriman konfrimasi untuk utang usaha tidak begitu lazim
dibandingkan dengan konfirmasi untuk piutang usaha, namun auditor dapat
menggunakan prosedur ini jika dipandang perlu untuk menguji jangan-jangan nama
pemasok tidak tercantum dalam daftar utang, atau ada transaksi yang dihilangkan, atau
saldonya tidak sesuai dengan catatan pemasok. Pengiriman konfrimasi kepada pemasok
aktif yang saldonya tidak tercantum dalam daftar utang adalah cara yang efektif untuk
mengungkapkan utang tidak dicatat. Jenis konfirmasi ini biasanya disebut konfirmasi
saldo nol (zero balance confirmation).
2. Pengujian Pisah Batas
Pengujian pisah batas utang usaha dilakukan untuk menentukan apakah transaksi yang
dibukukan beberapa hari sebelum dan beberapa hari sesudah tanggal neraca telah
dibukukan pada periode yang tepat. Lima pengujian audit liabilitas yang telah
dikemukakan di atas semua merupakan pengujian pisah batas untuk pembelian, tetapi
semuanya ditekankan untuk menemukan kurang saji. Tiga prosedur pertama juga
bermanfaat untuk memeriksa dokumen pendukung sebagai pengujian untuk lebih saji
utang usaha. Sebagai contoh, prosedur pengujian ketiga untuk kurang saji (utang tidak
dicatat) dengan menelusur laporan penerimaan barang yang diterbitkan sebelum akhir
tahun buku kepada pemasok yang bersangkutan. Untuk menguji lebih saji pisah batas,
auditor harus menelusur laporan penerimaan barang yang diterbitkan setelah akhir tahun
buku ke faktur yang bersangkutan untuk meyakinkan bahwa transaksi yang bersangkutan
tidak dimasukkan sebagai utang usaha.
Dalam uraian di bawah ini, akan berfokus pada dua aspek, yaitu: hubungan antara pisah
batas dengan observasi fisik atas persediaan dan penentuan jumlah persediaan dalam
perjalanan.
a. Hubungan antara Pisah Batas dengan Observasi Fisik Persediaan
Dalam menentukan apakah pisah batas sudah benar, sebaiknya pengujian pisah batas
dikoordinasikan dengan observasi penghitungan fisik persediaan. Pada waktu itu,
auditor harus me-review prosedur-prosedur di bagian penerimaan barang untuk
memastikan bahwa semua barang yang diterima telah dihitung, dan auditor harus
mencatat dalam dokumentasi audit nomor laporan penerimaan barang terakhir yang
dicantumkan dalam penghitungan fisik. Setelah tanggal penghitungan fisik, auditor
kemudian harus menguji catatan akuntansi untuk pisah batas. Auditor harus menelusur
nomor-nomor laporan penerimaan barang yang sebelumnya sudah didokumentasi ke
catatan utang usaha untuk melakukan verifikasi bahwa mereka telah dimasukkan atau
dikeluarkan dengan benar.
Apabila penghitungan fisik dilakukan sebelum tanggal terakhir dari tahun buku,
auditor masih harus melakukan pisah batas utang usaha pada waktu penghitungan fisik
dengan cara seperti diuraikan di atas. Selain itu, auditor harus melakukan verifikasi
apakah semua pembelian yang terjadi antara penghitungan fisik dan tanggal akhir tahun
telah ditambahkan pada persediaan fisik dan utang usaha.
b. Persediaan dalam Perjalanan (Inventory in transit)
Dalam menentukan utang usaha, auditor harus membedakan antara pembelian
persediaan yang dilakukan atas dasar FOB destination dengan yang dilakukan atas
dasar FOB origin. Untuk FOB destination, hak pemilikan atas barang berpindah kepada
pembeli apabila barang telah diterima pembeli. Jadi hanya persediaan yang diterima
sebelum atau tepat pada tanggal neraca yang harus dimasukkan ke dalam persediaan
dan utang usaha pada akhir tahun. Apabila pembelian dilakukan atas dasar FOB origin,
perusahaan harus mencatat persediaan dan utang usaha yang bersangkutan pada periode
ini apabila pengiriman telah dilakukan sebelum atau tepat pada tanggal neraca.
Auditor akan dapat menentukan apakah persediaan telah dibeli atas dasar FOB
destination ataukah FOB origin dengan memeriksa faktur dari penjual. Auditor harus
memeriksa faktur untuk barang-barang yang diterima beberapa waktu setelah akhir
tahun untuk menentukan apakah barang tersebut dibeli atas dasar FOB origin. Untuk
barang-barang yang dikirim sebelum atau tepat pada tanggal neraca, persediaan dan
utang usaha yang bersangkutan harus dicatat dalam periode ini jika jumlahnya material.
Keandalan Bukti
Menurut Haryono (2014:732), auditor harus memahami keandalan relatif tiga tipe
utama bukti yang biasa digunakan untuk memeriksa utang usaha, yaitu: faktur penjual,
laporan dari penjual (pemasok), dan konfirmasi.
1. Perbedaan antara Faktur dari Penjual dengan Laporan dari Penjual
Auditor mendapat bukti tentang transaksi individual dengan keandalan tinggi ketika ia
memeriksa faktur dari penjual beserta dokumen pendukungnya, seperti laporan
penerimaan barang dan order pembelian. Berbeda dengan faktur penjualan, laporan dari
penjual tidak begitu diperlukan untuk memeriksa transaksi individual, karena laporan dari
penjual hanya mencakup jumlah total transaksi. Jumlah unit yang dibeli, harga, biaya
angkut, dan data lain tidak tercantum dalam laporan itu.
Laporan dari penjual lebih baik untuk memeriksa utang usaha karena di dalamnya
ditunjukkan saldo akhir. Auditor dapat membandingkan faktur penjual yang ada dengan
daftar utang usaha yang dibuat klien, tapi tetap kehilangan sesuatu yang merupakan hal
utama dalam utang usaha.
Faktur dari penjual lebih baik untuk memeriksa pengujian rincian transaksi karena
auditor memeriksa transaksi individual dan faktur menunjukkan rincian pembelian.
2. Perbedaan antara Laporan dari Penjual dengan Konfirmasi
Perbedaan terpenting antara laporan dari penjual dengan konfirmasi utang usaha adalah
sumber informasinya. Laporan dari penjual dibuat oleh penjual (pihak ketiga yang
independen) tetapi berada di tangan klien ketika auditor memeriksanya. Hal inibisa
memberi kesempatan kepada klien untuk merekayasa/mengubah laporan dari penjual atau
menyembunyikan laporan dari auditor.
Jawaban atas permintaan konfirmasi untuk utang usaha pada umumnya harus dikirim
langsung ke kantor akuntan publik oleh penjual. Konfirmasi berisi informasi yang sama
dengan laporan dan penjual tetapi lebih bisa dipercaya. Selain itu, konfirmasi utang usaha
sering juga minta informasi lain, misalnya tentang utang wesel, atau barang konsyinasi
yang merupakan milik si penjual tetapi di simpan di gudang klien. Contoh suatu jenis
konfirmasi utang usaha dapat dilihat pada Gambar 4.3 di bawah ini.

Gambar 4.3 Permintaan Konfirmasi Utang Usaha


10 Januari 2014
Kepada
Yth. Direktur Utama PT XYZ
Jalan Kenanga 175
Yogyakarta, 22225

Dengan hormat,
Bersama ini kami beritahukan bahwa auditor kami, Kantor Akuntan Publik
Sugiarto & Rekan, sedang mengaudit laporan keuangan kami untuk tahun yang
Sumber: Jusup,2014:733
Dengan adanya laporan dari penjual dan faktur yang diterbitkan penjual, yang
keduanya merupakan bukti yang bisa dipercaya karena dibuat oleh pihak ketiga,
konfirmasi menjadi kurang lazim digunakan dalam audit atas utang usaha dibandingkan
dengan konfrimasi yang sangat lazim digunakan dalam audit atas piutang usaha. Apabila
klien memiliki pengendalian internal yang memadai dan tersedia laporan dari penjual
untuk diperiksa, auditor biasanya tidak mengirim konfirmasi/ namun, apabila
pengendalian internal klien lemah, dan laporan dari penjual tidak tersedia, atau apabila
auditor meragukan intergritas klien maka pengiriman permintaan konfrimasi kepada
penjual layak untuk dilakukan. Oleh karena tekanan utama audit uutang usaha adalah pada
kurang saji, maka akun utang usaha yang dikonfirmasi harus mencakup akun bersaldo
besar, akun bersaldo nol, dan suatu sampel yang representatif lainnya.
Apabila auditor memeriksa laporan dari penjual atau jawaban konfirmasi, harus
dilakukan rekonsiliasi antara laporan atau konfrimasi dengan daftar utang usaha. Selisih
yang ditemukan, seringkali terjadi karena adanya barang dalam perjalanan, check sudah
dikirim klien tapi belum sampai ke tangan penjual, atau karena adanya penundaan dalam
proses akuntansi.
Ukuran Sampel
Ukuran sampel dalam pengujian utang usaha sangat bervariasi tergantung pada berbagai
faktor seperti misalnya: materialitas utang usaha, jumlah akun yang ada, hasil penilaian risiko
pengendalian, dan hasil audit tahun yang lalu. Apabila pengendalian internal klien lemah,
yang tidak jarang dijumpai pada utang usaha, hampir seluruh populasi harus diperiksa. Dalam
situasi yang lain hanya sebagian kecil dipandang perlu untuk diperiksa.
Sampling statististikal kurang lazim digunakan untuk pengauditan uatng usaha
dibandingkan dengan untuk piutang usaha. Perumusan populasi dan penentuan ukuran
populasi sering lebih sulit untuk utang usaha. Karena tekanan audit adalah pada utang usaha
yang tidak dicatat, auditor harus mencoba agar populasi mencakup semua kewajiban
potensial. (Haryono, 2014:734)