Anda di halaman 1dari 35

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “PENENTUAN
HARGA TRANSFER” dengan lancar. Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang dibimbing oleh Bapak
Eka Ananta Sidharta.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan
dan penyempurnaan makalah kami. Semoga makalah ini berguna bagi kami dan
teman-teman dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan.

Malang, 1 Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah .............................................................. 2
1.3. Tujuan ............................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Harga Transfer ................................................ 3
2.2. Tujuan Penentuan Harga Transfer .................................... 4
2.3. Prinsip Dasar Penentuan Harga Transfer ........................... 5
2.4. Situasi Ideal dalam Penentuan Harga Transfer .................. 6
2.5. Metode Penentuan Harga Transfer .................................... 7
2.6. Hambatan-hambatan dalam Penentuan Harga Transfer .... 10
2.7. Penentuan Harga Jasa Korporat ........................................ 17
2.8. Administrasi Harga Transfer ............................................. 19

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan ....................................................................... 22
3.2. Saran ................................................................................. 22
LAMPIRAN JURNAL .......................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 33

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Dalam suatu perusahaan yang organisasinya telah dibagi-bagi menjadi pusat-


pusat laba, transfer barang atau jasa antar pusat laba tersebut menimbulkan
masalah penentuan harga transfer, karena masing-masing pusat laba diukur
kinerjanya berdasarkan laba, sehingga setiap transfer barang atau jasa antar pusat
laba akan berdampak terhadap laba masing - masing pihak yang terkait.
Perusahaan melakukan penetapan harga dengan berbagai cara. Pada perusahaan-
perusahaan kecil biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak bukannya oleh
bagian pemasaran.Sedangkan pada perusahaan-perusahaan besar penetapan harga
biasanya ditangani oleh manajer divisi dan lini produk.Bahkan disni manajemen
punjak juga menetapkan tujuan dan kebijakan umum penetapan harga serta serta
pemberian persetujuan atas ususlan harga dari manajemen dibawahnya.

Masalah penentuan Harga Transfer dijumpai dalam perusahaan yang


organisasinya disusun menurut pusat – pusat laba, dan antara pusat laba yang
dibentuk terjadi transfer barang atau jasa. Latar belakang timbulnya masalah harga
transfer dapat dihubungkan dengan proses diferensiasi bisnis dan perluna itegrasi
dalam organisasi yang telah melakukan diferensiasi bisnis.

1
1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Apa pengertian dari penentuan harga transfer?
1.2.2. Bagaimana tujuan-tujuan penentuan harga transfer?
1.2.3. Bagaimana prinsip dasar dalam penentuan harga transfer?
1.2.4. Bagaimana situasi ideal dalam penentuan harga tranfer?
1.2.5. Bagaimana metode yang digunakan dalam penetuan harga transfer?
1.2.6. Bagaimana hambatan-hambatan dalam penentuan harga transfer?
1.2.7. Bagaimanapenentuan harga jasa korporat?
1.2.8. Bagaimana administrasi harga transfer?

1.3.Tujuan
1.3.1. Memaparkan pengertian dari penentuan harga transfer.
1.3.2. Memaparkan tujuan-tujuan penentuan harga transfer.
1.3.3. Memaparkan prinsip dasar dalam penentuan harga transfer.
1.3.4. Memaparkan situasi ideal dalam penentuan harga transfer.
1.3.5. Memaparkan metode yang digunakan dalam penetuan harga transfer.
1.3.6. Memaparkan hambatan-hambatan dalam penentuan harga transfer.
1.3.7. Memaparkan cara penentuan harga jasa korporat.
1.3.8. Memaparkan administrasi harga transfer.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Harga Transfer

Harga transfer (dalam arti luas) adalah penentuan harga barang atau jasa
yang ditransfer kepada antar pusat pertanggungjawaban dalam satu organisasi
tanpa memandang bentuk pusat pertanggungjawabannya. Harga transfer (dalam
arti sempit) adalah harga perpindahan barang antara dua pusat laba atau lebih.
Harga transfer menurut para ahli diantaranya adalah:

 Pengertian harga transfer menurut Tsurumi dan Gunardi (1997), dalam


suatu grup perusahaan, transfer pricing merupakan harga yang
diperhitungkan untuk pengendalian manajemen (management control)
atas transfer barang dan jasa dalam satu grup perusahaan.
 Menurut Charles T. Horngren, George Foster dan Srikant Datar dalam
akuntansi biaya, harga transfer merupakan harga yang dikenakan oleh
satu subunit (segmen, depatemen, divisi, dan sebagainya) untuk produk
atau jasa yang dipasok ke subunit lain dalam organisasi yang sama.
 Menurut Ralph Estes dalam kasus akuntansi, harga transfer adalah suatu
harga internal yang dibebankan oleh satu unit (seperti divisi, perusahaan
anak, atau departemen) dari suatu perusahaan pada unit lainnya dalam
perushaan yang sama.
 Menurut Don R. Hansen dan Maryanne M. Moven dalam management
accounting , harga transfer adalah harga yang ditagihkan untuk barang
yang ditransfer dari satu divisi ke divisi lainnya.
 Menurut Sophar Lumbantoruan, harga transfer adalah penentuan harga
atau atau balas jasa atas suatu transaksi antar unit dalam satu perusahaan
atau antar perusahaan dalam satu grup.

3
Dari berbagai definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
prinsipnya transfer pricing atau harga transfer adalah suatu metode penentuan
harga antar grup (divisi, segmen, departemen, subunit, dll) dalam satu perusahaan
yang sama.

Gambar 2.1. Skenario harga transfer

2.2. Tujuan-tujuan Penentuan Harga Transfer

Jika dua atau lebih pusat laba bertanggung jawab bersama atas
pengembangan, pembuatan, dan pemasaran suatu produk, maka masing-masing
harus membagi pendapatan yang dihasilkan ketika produk tersebut terjual. Harga
transfer merupakan mekanisme untuk mendistribusikan pendapatan ini.

Harga transfer harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mencapai


tujuan berikut ini :

1) Memberikan informasi yang relevan kepada masing-masing unit


usaha untuk menentukan imbal balik yang optimum antara biaya dan
pendapatan perusahaan.
2) Menghasilkan keputusan yang selaras dengan cita-cita maksudnya,
system harus dirancang sedemikian rupa sehingga keputusan yang

4
meningkatkan laba unit usaha juga akan meningkatkan laba
perusahaan.
3) Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari unit usaha individual
4) System tersebut harus mudah dimengerti dan dikelola.

Harga transfer sering memicu masalah terutama pada penentuan harga


sepakatannya,karena melibatkan dua unit, yaitu unit pembeli dan unit penjual, dan
harga transfer jugamempengaruhi pengukuran laba unit, harga transfer yang tinggi
akan merugikan unit pembelisedangkan harga transfer yang terlalu rendah akan
merugikan unit penjual, maka penentuanharga transfer menjadi hal yang sangat
penting.

Karakteristik harga transfer

1) Harga transfer timbul jika divisi terkait diukur kinerjanya berdasarkan laba
2) Harga transfer merupakan unsur yang sgnifikan dalam membentuk biaya
penuh produk yang dibeli mengandung unsur laba
3) Harga transfer selalu mengandung unsur laba
4) Harga transfer sebagai alat untuk mempertegas diverifkasi dan integrasi
divisi yang dibentuk

2.3. Prinsip Dasar dalam Penentuan Harga Transfer

Prinsip dasar dari harga transfer adalah bahwa harga transfer sebaiknya
serupa denganharga yang akan dikenakan seandainya produk tersebut dijual
ke konsumen luar atau dibelidari pemasok luar. Melaksanakan prinsip ini
merupakan hal yang sulit karena adanya fakta bahwa terdapat banyak
pertentangan dalam literature mengenai bagaimana harga jual ke pihak luar
ditentukan.

ketika suatu pusat laba di suatu perusahaan membeli produk dari, danmenjual
ke, satu sama lain, maka dua keputusan yang harus diambil untuk setiap
produk adalah:

5
1) Apakah perusahaan harus memproduksi sendiri produk tersebut atau
membelinya dari pemasokluar ?(keputusan sourcing).
2) Jika diproduksi secara internal, pada tingkat harga berapakah produk
tersebut akanditransfer antar pusat laba ?(keputusan harga transfer)

Sistem harga transfer dapat bervariasi dari yang paling sederhana sampai
yang paling rumit, tergantung dari sifat usahanya. Pembahasan dimulai dengan
situasi yang ideal, kemudian baru melangkah ke situasi yang lebih sulit.Idealnya,
harga transfer harus mengestimasikan harga normal pasar di luar, dengan
penyesuaian untuk biaya yang tidak terjadi di dalam perusahaan. Bahkan ketika
sourcing decision mengalami hambatan, harga pasar merupakan harga transfer
yang paling baik.

2.4. Situasi Ideal dalam Penentuan Harga Transfer

Harga transfer berdasarkan harga pasar akan menghasilkan keselarasan cita-


cita jikakondisi-kondisi berikut ada, yaitu:

1) Orang-orang yang kompeten. Idealnya manajer harus memperhatikan


kinerja jangka panjang dan jangka pendek dari pusat tanggung jawab
mereka.
2) Atmosfer yang baik. Para manajer harus menjadikan profitabilitas
sebagaimana diukur dalam laporan laba rugi mereka, juga
sebagai cita-cita yang penting dan pertimbangan yang signifikan
dalam penilaian kinerja mereka.
3) Harga pasar. Idealnya, harga pasar mencerminkan kondisi yang
sama(kuantitas, waktu pengiriman, dan kualitas) dengan produk yang
dikenakan harga transfer. Harga pasar tersebut dapat diturunkan untuk
mencerminkan penghematan dari penjualan di dalam perusahaan.
4) Kebebasan memperoleh sumber daya. Idealnya, alternatif pusat
tanggung jawab dalam memperoleh sumber daya haruslahada, dan

6
para manajer sebaiknya diizinkan untuk memilih alternatife yang baik
bagi pusattanggung jawab mereka.
5) Informasi Penuh. Para manajer harus mengetahui semua alternative
yang ada, serta biaya dan pendapatan yang relevan dari masing-
masing alternative tersebut.
6) Negosiasi. Harus ada mekanisme kerja yang berjalan lancar untuk
melakukan negosiasi “kontrak” antarunit usaha.

Dalam praktiknya, kondisi-kondisi tersebut sangat jarang ada.Oleh karena itu,


daftar tersebut tidak menetapkan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi untuk
memiliki harga transfer. Melainkan, daftar tersebut menyarankan suatu cara untuk
memandang suatu situasi, guna melihat perubahan-perubahan apa yang sebaiknya
dilakukan untuk memperbaiki operasi mekanisme harga transfer.

2.5. Metode Penetapan Harga Transfer

Menurut Don R. Hansen dan Maryanne M. Moven (2005), tiga metode yang
lazim digunakan dalam penetapan harga transfer adalah :

1) Harga transfer berdasarkan harga pasar


Apabila terdapat pasar luar dengan persaingan sempurna untuk
produk yang ditransfer, maka harga transfer yang sesuai adalah harga
pasar. Dengan harga pasar tidak ada divisi yang memperoleh manfaat di
atas beban divisi lain. Dalam hal ini, harga pasar mencerminkan biaya
kesempatan (opportunity cost) divisi penjual dan divisi pembeli.
Harga transfer berdasarkan harga pasar dipandang sebagai
penentuan harga transfer yang paling independen. Barang-barang yang
diproduksi unit penjual dihargai sama dengan harga yang berlaku di pasar,
pada sisi divisi penjual ada kemungkinan untuk memperoleh profit, pada
sisi pembeli harga yang dibayarkan adalah harga yang sewajarnya.
Namun yang menjadi kelemahan utama dari sistem ini adalah jika
harga suatu produk ternyata tidak tersedia di pasar. Tidak semua barang-

7
barang yang diperjual-belikan antar divisi tersedia di pasar, misalnya pada
suatu industri yang terdeferensiasi dan terintegrasi seperti industri kertas,
jika divisi penjual harus mengirim kertas yang setengah jadi ke divisi lain,
pasar tidak menyediakan harga kertas mentah atau setengah jadi.
Namun, jika harga pasar tersedia atau dapat diperkirakan maka ada
baiknya menggunakan harga pasar. Meskipun demikian, jika tidak ada
cara untuk memperkirakan harga kompetitif, pilihan lainnya adalah
mengembangkan harga transfer berdasarkan biaya (cost-based transfer
price).
2) Harga transfer yang dinegosiasikan
Dalam banyak kasus, pembeli atau penjual mampu mempengaruhi
harga sampai derajat tertentu (sebagai contoh melalui jumlah yang besar
atau melalui penjualan produk yang erat kaitannya tetapi berbeda, atau
melalui penjualan produk yang unik). Apabila tidak terdapat pasar dengan
persaingan sempurna, harga transfer yang dinegosiasikan adalah pilihan
yang baik. Dalam hal ini, biaya kesempatan divisi penjual dan divisi
pembeli berbeda, dan mereka menetapkan harga batas atas dan batas
bawah untuk harga transfer. Harga transfer yang dinegosiasi menawarkan
harapan untuk melengkapi ketiga kriteria kesesuaian tujuan, otonomi dan
akurasi evaluasi kinerja.
Oleh karena itu, harga transfer negoisasi memiliki beberapa
kelebihan. Pertama, pendekatan ini melindungi otonomi divisi dan
konsisten dengan semangat desentralisasi. Kedua, manajer divisi
cenderung memiliki informasi yang lebih baik tentang biaya dan laba
potensial atas transfer dibanding pihak-pihak lain dalam perusahaan.
Harga transfer negosiasia mencerminkan prespektif kontrolabilitas
yang inheren dalam pusat-pusat pertanggungjawaban karena setiap divisi
yang berkepentingan tersebut pada akhirnya yang akan bertanggung jawab
atas harga transfer yang dinegosiasikan. Namun transfer pricing ini tidak
begitu mudah untuk ditentukan karena posisinya pada situasi sulit yang
bisa menimbulkan conflict of interest diantara kedua belah pihak yang

8
terlibat, yaitu divisi penjual dan divisi pembeli. Artinya, tidak akan ada
satu metode transfer price yang terbaik, yang akan diterima mutlak oleh
kedua belahpihak.
3) Harga transfer berdasarkan biaya
Penggunaan harga transfer berdasarkan biaya tidak lazim
direkomendasikan, tetapi apabila transfer menimbulkan dampak yang kecil
terhadap profitabilitas kedua divisi, pendekatan ini dapat diterima.
Perusahaan yang menggunakan penetapan harga transfer berdasarkan
biaya mensyaratkan bahwa seluruh transfer berlangsung pada suatu bentuk
biaya.
Perusahaan menggunakan metode penetapan harga transfer atas
dasar biaya yang ditimbulkan oleh divisi penjual dalam memproduksi
barang atau jasa, penetapan harga transfer metode ini relatif mudah
diterapkan namun memiliki beberapa kekurangan. Pertama, penggunaan
biaya sebagai harga transfer dapat mengarah pada keputusan yang buruk,
jika seandainya unit penjual tidak dapat memproduksi dengan optimal
sehingga menghasilkan biaya yang lebih tinggi daripada harga pasar, maka
dapat terjadi kecenderungan pembelian barang dari luar. Kedua, jika biaya
digunakan sebagai harga transfer, divisi penjual tidak akan pernah
menghasilkan laba dari setiap transaksi internal. Ketiga, penentuan harga
transfer yang berdasarkan biaya berarti tidak ada insentif bagi orang yang
bertanggung jawab mengendalikan biaya.
Umumnya perusahaan menetapkan harga transfer atas biaya
berdasarkan biaya variabel dan atau biaya tetap dalam bentuk:
 Biaya Penuh (Full cost)
Full cost meliputi direct materials (bahan baku langsung), direct
labor (tenaga kerja langsung), variable overhead dan bagian darifixed
overhead. Penetapan harga transfer full cost dapat merusak insentif
dan mengganggu ukuran-ukuran kinerja dan akan menutup
kemungkinan pemberlakuan harga transfer yang dinegosiasikan.

9
 Biaya Penuh Ditambah Mark-Up(Full cost plus markup)
Rumusan full cost plus markup mungkin dapat digunakan untuk
menggambarkan harga transfer yang dinegosiasi. Dalam beberapa
kasus, suatu rumusan full cost plus markup mungkin menjadi hasil
dari negosiasi, bila demikian, cara ini hanyalah sebuah contoh lain
dari penetapan harga transfer yang dinegosiasi.
 Gabungan antara Biaya Variabel dan Tetap (Variable cost plus
fixed fee)
Seperti full cost plus markup, variable cost plus fixed fee merupakan
pendekatan yang dapat digunakan dalam penetapan harga transfer,
dengan tingkat fixed fee dapat dinegosiasikan. Metode ini memiliki
satu keunggulan dibandingkan full cost plus markup yaitu apabila
divisi penjual sedang beroperasi di bawah kapasitas, makavariable
cost adalah opportunity cost-nya. Dengan mengasumsikan
bahwa fixed fee dapat dinegosiasikan, pendekatan variable costadalah
sama dengan penetapan harga transfer yang dinegosiasi.

2.6. Hambatan-hambatan dalam Penentuan Harga Transfer

Idealnya seorang manajer pembelian bebas mengambil keputusan sourcing.


Demikian halnya dengan manajer penjualan, ia harus bebas untuk menjual
produknya ke pasar yang paling menguntungkan.Walaupun diberikan kebebasan
dalam menjual atau membeli dari pihak dalam perusahaan atau dari luar
perusahaan, tetapi hal tersebut tidak selalu mungkin dilakukan karena dibatasi
oleh kebijakan-kebijakan perusahaan. Terdapat dua hambatan dalam perolehan
sumber daya pada kebijakan harga transfer yang ada, yaitu:

1) Pasar yang terbatas.


Dalam berbagai perusahaan, pasar bagi pusat laba penjual atau
pembeli dapat saja sangat terbatas. Ada beberapa alasan akan hal ini.
Pertama, keberadaan kapasitas internal dapat membatasi
pengembangan penjualan eksternal. Dengan demikian, para produsen

10
tersebut hanya mampu menangani jumlah yang terbatas saja dari
permintaan produsen lain. Ketika kapasitas internal menjadi ketat,
pasar akan cepat dibanjiri oleh permintaan akan produk menengah.
Meskipun kapasitas eksternal ada, namun kapasitas tersebut
digunakan secara regular.Pada perusahaan terintegrasi, seperti
perusahaan kertas, cukup membeli produk pada basis reguler, jika
tidak maka ia akan menghadapi permasalahan dalam mendapatkannya
dari luar perusahaan ketika kapasitas terbatas.
Kedua, jika perusahaan merupakan produsen tunggal dari produk
yang terdeferensiasi, tidak ada sumber daya dari luar.
Ketiga, jika suatu perusahaan telah melakukan investasi yang
besar, maka ia cenderung tidak akan menggunakan sumber daya dari
luar kecuali harga jual di luar mendekati biaya variable perusahaan,
dimana hal ini jarang sekali terjadi.

Untuk tujuan-tujuan praktis, produk yang diproduksi adalah


menarik.Harga kompetitif mengukur kontribusi dari setiap pusat laba
terhadap laba perusahaan secara keseluruhan. Jika kapasitas internal
tidak tersedia, maka perusahaan akan membeli dari luar pada tingkat
harga kompetitif. Selisih antara harga kompetitif dan biaya perusahaan
(inside cost) sama dengan jumlah penghematan dari memproduksi
sendiri dan bukan membeli. Lebih lanjut lagi, harga kompetitif
mengukur bagaimana kinerja suatu pusat laba dalam menghadapi
pesaingnya.

Bagaimana suatu perusahaan dapat mengetahui tingkat harga


kompetitif jika ia tidak membeli atau menjual produknya ke pasar
bebas ? Inilah beberapa caranya:

a. Jika terdapat terbitan harga pasar, maka itu dapat digunakan


untuk menentukan harga transfer. Meskipun demikian, terbitan
tersebut harus merupakan harga yang benar-benar dibayarkan
di pasar bebas, dan kondisi yang ada di pasar bebas harus

11
konsisten dengan yang ada dalam perusahaan. Sebagai contoh,
harga pasar untuk pembelian yang relative sedikit, misal pasar
“spot” tidak dapat digunakan untuk mengukur suatu komitmen
jangka panjang.
b. Harga pasar mungkin ditentukan berdasarkan penawaran . Hal
ini biasanya dilakukan hanya jika penawar terendah masih
memiliki peluang untuk terjun ke pasar. Suatu perusahaan
melakukan hal ini dengan mebeli kira-kira separuh dari
kelompok produk tertentu di luar dan separuh lagi di dalam
perusahaan. Perusahaan tersebut menawarkan seluruh produk
tetapi memilih separuh yang tetap tidak dijual. Perusahaan
tersebut mendapatkan penawaran yang sah karena penawar
terendah dapat berharap untuk memperoleh sebagian dari bisnis
tersebut. Sebaliknya, jika suatu perusahaan meminta penawaran
hanya untuk mendapatkan harga kompetitif dan tidak
memberikan kontrak tersebut kepada penawar terendah, maka
perusahaan tersebut akan segera menemukan bahwa tidak akan
ada penawaran atau penawaran tersebut memiliki nilai yang
dipertanyakan.
c. Jika pusat laba produksi menjual produk yang mirip di pasar
bebas, maka ia mungkin akan menggandakan harga kompetitif
berdasarkan harga luar.
d. Jika pusat laba pembelian membeli produk yang sejenis dari
pasar bebas, maka ia dapat menggandakan harga kompetitif
untu produk ekslusifnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara
menghitung biaya dan perbedaan dalam desain dan kondisi
penjualan lain antara produk kompetitif dan produk eksklusif.
2) Kelebihan atau kekurangan kapasitas industri
Kondisi yang dimaksudkan adalah jika perusahaan tidak dapat
menjual seluruh produk atau memiliki kapasitas berlebih, maka
perusahaan tidak mungkin mengoptimalkan labanya jika pusat laba

12
pembelian membeli produk dari pemasok luar perusahaan sementara
kapasitas produksi internal masih memadai. Atau sebaliknya jika
memiliki kekurangan kapasitas produksi,maka tidak mungkin dapat
mengoptimalkan labanya, jika pusat laba penjualan menjual produk
kepada perusahaan lain, sementara pusat laba pembelian tidak dapat
memperoleh produk dari luar perusahaan.
Kedua hal tersebut menyebabkan transfer harga tidak optimal.
Situasi ideal di atas menyiratkan secara jelas bahwa harga transfer
yang dibentuk pasar merupakan harga transfer yang kompetitif baik
menjual produk kepada pihak internal maupun kepada pihak luar.
Banyak kasus, bahwa perusahaan memilih berurusan kepada pihak
luar daripada dengan pihak internal perusahaan. Alasannya adalah
pelayanan yang lebih baik dari luar perusahaan dan adanya persaingan
internal yang disertai dengan strategi-strategi dalam perusahaan.
Walaupun adanya berbagai hambatan dalam sourcing, harga pasar
tetap merupakan harga transfer yang baik.Jika harga tersedia atau
dapat diperkirakan, lebih baik menggunakan harga pasaryang
kompetitif. Jika tidak ada cara untuk memperkirakan harga kompetitif,
pilihan lainnya adalah mengembangkan harga transfer berdasarkan
biaya (cost-based transfer price).
o Harga transfer berdasarkan biaya (cost-based transfer price)
Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka harga transfer dapat ditentukan
berdasarkan biaya ditambah laba, meskipun harga transfer semacam ini
sangat rumit untuk dihitung dan hasilnya kurang memuaskan dibandingkan
dengan harga berdasarkan pasar. Dua keputusan yang harus dibuat dalam
sistem harga transfer berdasarkan biaya: (1) bagaimana menentukan besarnya
biaya dan (2) bagaimana menghitung markup laba.
1. Dasar Biaya
Dasar yang umum adalah biaya standar. Biaya aktual tidak
boleh digunakan karena faktor inefisensi produksi akan diteruskan
ke pusat laba pembelian. Jika biaya standar yang digunakan, maka

13
dibutuhkan suatu insentif untuk menetapkan standar yang ketat dan
untuk meningkatkan standar tersebut.
2. Markup Laba
Dalam menghitung markup laba, juga terdapat dua
keputusan :
a. Apa dasar markup laba tersebut.
Dasar yang paling mudah dan umum dipergunakan adalah
persentase dari biaya. Meskipun demikian, jika dasar tersebut
digunakan maka tidak ada pertimbangan atas modal yang
diperlukan. Dasar yang secara konsep lebih baik adalah
persentase dari investasi, tetapi untuk menghitung investasi yang
akan dikenakan ke setiap produk yang dihasilkan dapat
menimbulkan permasalahan teknis. Jika menggunakan dasar
biaya historis suatu aktiva, maka fasilitas baru yang dirancang
untuk mengurangi harga secara aktual dapat meningkatkan biaya
karena aktiva yang lama menjadi dinyatakan terlalu rendah.
b. Tingkat laba yang diperbolehkan.
Problem yang kedua dalam penyisihan laba adalah
besarnya jumlah laba. Persepsi manajemen senior atas kinerja
keuangan dari suatu pusat laba akan dipengaruhi oleh laba yang
ditunjukkannya. Konsekuensi, kemungkinan penyisihan laba
harus dapat memperkirakan tingkat pengembalian (rate of
return) yang akan dihasilkan seandainya unit usaha tersebut
merupakan perusahaan independent yang menjual produknya
kepada konsumen luar.
Solusi konseptual adalah dengan membuat penyisihan laba
yang berdasarkan investasi yang dibutuhkan untuk memenuhi
volume yang diminta oleh pusat laba pembelian. Nilai investasi
tersebut dihitung pada level “standar”, dengan asset dan
persediaan pada tingkat biaya penggantian (replacement cost).

14
o Biaya tetap dan laba hulu.
Penetapan harga transfer dapat menimbulkan permasalahan yang cukup
serius dalam suatu perusahaan yang terintegrasi. Pusat laba yang pada
akhirnya menjual produk kepada pihak luar mungkin tidak menyadari adanya
jumlah biaya tetap dan laba upstream yang terkandung di dalam harga
pembelian internal.
Metode-metode yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah
dengan cara-cara yang digambarkan di bawah ini :
a) Persetujuan antarunit usaha.
Beberapa perusahaan membuat mekanisme formal dimana wakil-
wakil dari uit-unit pembelian dan penjualan bertemu secara berkala untuk
memutuskan harga penjualan kepada pihak luar dan pembagian laba untuk
produk-produk dengan biaya tetap dan laba upstream yang signifikan.
b) Dua langkah penentuan harga
Cara lain adalah dengan membuat suatu harga transfer yang
meliputi dua beban. Pertama,untuk setiap unit yang terjual, pembebanan
biaya dibuat sama dengan biaya variable standar dari produksi.
Kedua, Pembebanan biaya yang berkala (biasanya setiap bulan) dibuat
sama dengan biaya tetap yang berhubungan dengan fasilitas yang
disediakan untuk unit pembeli.Salah satu atau kedua komponen tersebut
harus memasukkan margin laba.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam menerapkan
metode penentuan harga dua langkah (two-step pricing method) :
o Pembebanan biaya per bulan untuk biaya tetap dan laba harus
dinegosiasikan secara berkala dan akan tergantung dari kapasitas yang
digunakan oleh unit pembeli.
o Pertanyaan mungkin akan timbul mengenai keakuratan alokasi
investasi dan biaya.
o Dengan system penentuan harga ini, inerja laba dari unit produksi
tidak dipengaruhi volume penjualan dari unit yang terakhir. Hal ini

15
memecahkan masalah yang muncul ketika usaha pemasaran oleh unit
usaha yang lain mempengaruhi kinerja laba dari unit produksi murni.
o Mungkin terdapat konflik antara kepentingan dari unit produksi
dengan kepentingan perusahaan.(Kelemahan ini diatasi dengan
menentukan bahwa unit pemasaran memiliki prioritas utama dalam
menggunakan kapasitas yang terbatas)
o Metode ini mirip dengan penentuan harga “take or pay” yang sering
digunakan oleh perusahaan-perusahaan sarana umum, saluran pipa,
dan batubara, dan dalam kontrak jangka panjang.
c) Pembagian laba
Jika system penentuan harga dua langkah tidak feasible, sistem
pembagian laba (profir sharing) dapat digunakan untuk memastikan
kesamaan antara kepentingan unit usaha dan perusahaan.
Sistem tersebut beroperasi dengan cara sebagai berikut:
(1) Produk tersebut ditransfer ke unit pemasaran pada biaya variable
standar. (2) Setelah produk tersebut terjual, unit-unit usaha membagi
kontribusi yang dihasilkan, dimana perhitungannya adalah harga penjualan
dikurangi biaya variable produksi dan pemasaran.
Melaksanakan system pembagian laba semacam ini akan
menimbulkan beberapa masalah teknis : (1) Mungkin saja terdapat
argument-argumen mengenai cara pembagian kontribusi diantara dua
pusat laba, dan manajemen senior akan turun tangan untuk menangani
masalah ini.Hal ini membuang biaya, waktu dan bekerja secara
berlawanan dengan alas an dasar dari desntralisasi, yaitu otonomi para
manajer unit usaha. (2) Membagi rata laba diantara pusat laba tidak
memberikan informasi yang tepat mengenai profitabilitas masing-masing
pusat laba. (3) Karena kontribusi yang ada tidak akan dialoksikan sampai
penjualan selesai dilakukan, maka kontribusi unit produksi tergantung
pada kemampuan unit pemasaran untuk menjual seharga harga penjualan
aktual. Unit produksi mungkin merasa diperlakukan dengan tidak adail
dalam situasi ini.

16
d) Dua kelompok harga
Dalam metode ini, pendapatan unit produksi akan dikreditkan pada
saat harga jual di luar dan unit pembelian dibebankan biaya sebesar total
biaya standar.Beberapa kelamahan penggunaan sistem ini adalah : (1)
Jumlah laba unit usaha akan lebih besar dari laba perusahaan secara
keseluruhan. (2) Sistem ini menciptakan suatu ilusi bahwa unit usaha akan
menghasilkan uang, sementara pada kenyataannya perusahaan secara
keseluruhan mengalami kerugian karena debit ke kantor pusat. (3) Sistem
ini dapat memicu unit usaha hanya berkonsentrasi pada transfer internal
dimana mereka terpana pada markup yang bagus pada biaya penjualan ke
luar. (4) Terdapat tambahan pembukuan yang terlibat dalam pendebitan
akun kantor pusat setiap kali ada transfer dan kemudian mengeliminasi
akun ini ketika laporan keuangan unit usaha dikonsolidasi. (5) Fakta
bahwa ada konflik diantaraa unit-unit bisnis akan membuat sistem ini
terlihat lemah. Dengan metode dua bentuk harga, konflik-konflik ini dapat
dikurangi sehingga tidak meghadapkan manajemen senior pada
permasalahan seperti ini.

2.7. Penentuan Harga Jasa Korporat


Beberapa masalah yang berhubungan dengan pembebanan unit usaha
dengan jasa-jasa yang diberikan oleh unit staf perusahaan akan digambarkan
dalam bagian ini.Biaya dari unit staf jasa pusat dimana unit usaha tidak memiliki
kendali (seperti, akuntansi pusat, hubungan masyarakat, administrasi
dikeluarkan). Seperti yang telah dijelaskan bahwa jika seluruh biaya ini
dibebankan, maka semua biaya tersebut akan dialokasikan, dan alokasi tidak
memasukkan komponen laba. Alokasi juga bukan merupakan harga transfer.
o Pengendalian atas Jumlah Jasa
Manajer unit usaha mungkin diharuskan untuk menggunakan staf
perusahaan yang tidak dapat dikendalikan efisiensi kinerjanya ( teknologi
informasi dan riset & pengembangan) tetapi dia tapi dapat mengendalikan

17
jumlah jasa yang diterimanya.Ada tiga teori pemikiran mengenai jasa-jasa
seperti ini :
Teori yang pertama menyatakan bahwa sebuah unit usaha harus membayar
biaya variable standar dari jasa yang diberikan. Jika membayar kurang dari
itu, maka unti usaha akan termotivasi untuk menggunakan jasa-jasa dalam
jumlah yang lebih banyak daripada yang dibenarkan secara ekonomis.
Teori yang kedua menyarankan harga yang sama dengan biaya variable
standar ditambah porsi yang cukup memadai atas biaya tetap standar – yaitu
biaya penuh (full cost).Pendukung teori ini beragumentasi bahwa jika unit
usaha tidak mepercayai bahwa jasa tersebut bernilai sebesar itu, maka ada
sesuatu yang salah dalam kualitas atau efisiensi dari unit jasa tersebut.Biaya
penuh mencerminkan biaya jangka panjang perusahaan, dan inilah jumlah
yang harus dibayar.
Teoriyang ketiga menyarankan suatu harga yang sama dengan harga pasar,
atau biaya penuh standar (standard full cost) ditambah dengan margin
labanya. Harga pasar akan digunakan jika memungkinkan, jika tidak, maka
harga sebesar biaya penuh ditambah ROI akan digunakan.
o Pilihan Penggunaan Jasa
Dalam beberapa kasus, pihak manajemen mungkin memutuskan bahwa
unit-unit usaha dapat memilih apakah akan menggunkan unit servis sentral
atau tidak. Unit-unit bisnis dapat memperoleh jasa tersebut dari pihak luar,
mengembangkan kemampuan mereka, atau memilih untuk tidak
menggunakan jasa ini sama sekali.Dalam situasi ini, para manajer unit usaha
mengendalikan baik jumlah maupun efisiensi dari jasa pusat.Pada kondisi ini,
kelompok pusat tersebut merupakan pusat laba. Harga transfernya harus
berdasarkan pada pertimbangan yang sama dengan pertimbangan yang
mengendalikan harga transfer lainnya.
o Kesederhanaan dari Mekanisme Harga
Harga yang dibebankan untuk jasa korporat tidak akan mencapai tujuan
yang dimaksudkan, kecuali jika mtode untuk menghitungnys dapat
dimengerti dan dipahami dengan cukup mudah oleh para manajer unit usaha.

18
Para ahli komputer sudah terbiasa dengan persamaan-persamaan yang rumit,
dan komputer sendiri juga menyediakan informasi detik demi detik dengan
biaya rendah. Oleh karena itu, kadang ada kecenderungan untuk membebani
para pengguna komputer berdasarkan peraturan yang begitu rumit, sehingga
pengguna tidak dapat mengerti apa dampaknya terhadap biaya, jika mereka
memutuskan untuk menggunakan komputer untuk aplikasi tertentu atau,
alternatifnya, untuk menghentikan aplikasi yang sekarang. Peraturan-
peraturan semacam ini merupakan sesuatu yang kontraproduktif.

2.8. Administrasi Harga Transfer


Pada bagian berikut ini akan dibahas bagaimana pelaksanaan dari kebijakan
yang sudah dipilih tadi-khususnya, tingkat negosiasi yang diizinkan untuk
menentukan harga transfer, metode penyelesaikan komflik dalam menentukan
harga transfer, dan klarifikasi produk yang sesuai dengan metode yang paling
tepat.
1. Negosiasi
Di hampir semua perusahaan, unit usaha menegosiasikan
harga transfer satu sama lain; maksudnya, harga transfer yang tidak
ditentukan oleh kelompok staf pusat. Alasan yang paling untuk hal
ini adalah kepercayaan bahwa dengan menetapkan harga jual dan
mencapai kesepakatan atas harga pembelian yang paling sesuai
merupakan salah-satu fungsi utama dari manajemen lini. Jika
kantor pusat mengendalikan penentuan harga, maka kemampuan
manajemen lini untuk memperbaiki profitabilitas akan semakin
berkurang.
Selain itu, banyak harga transfer yang harus melibatkan penilaian
subjektif pada tingkat tertentu. Akibatnya, satu harga transfer yang
telah dinegosiasikan sering kali merupakan hasil kompromi antara
pihak pembeli dengan penjual. Jika kantor pusat sudah menentukan
harga transfer, maka para manajer unit usaha dapat beragumentasi

19
bahwa mereka menghasilkan laba yang kecil karena harga transfer
yang telah ditentukan secara arbiter tersebut.
Alasan lain bagi unit usaha untuk menegosiasikan harga
transfernya adalah bahwa unit bisnis biasanya memiliki informasi
yang paling baik mengenai pasar dan biaya-biaya yang ada,
sehingga merupakan pihak yang paling tepat untuk mencapai harga
yang pantas.
2. Arbitrase dan Penyelesaian Konflik
Bagaimanapun rincinya peraturan penentuan harga (pricing
rule), mungkin tidak ada kasus dimana unit-unit usaha tidak setuju
pada harga tertentu. Untuk alasan tersebut, suatu prosedur harus
dibuat untuk menengahi pertikaian harga transfer.
Terdapat tingkat formalitas yang luas dalam arbitrase harga
transfer.
Kemungkinan ekstremnya akan dibentuk suatu komite yang
memiliki tiga tanggungjawab, yaitu :
a. Menyelesaikan pertikaian harga transfer,
b. Meninjau alternative sourcing yang mungkin ada, dan
c. Mengubah peraturan harga transfer bila perlu.
Arbitrase dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Dengan sistem yang formal, kedua pihak menyerahkan kasus


secara tertulis kepada pihak penengah / pendamai (arbitrator).
Selain tingkat formalitas arbitrase, jenis proses penyelesaian
konflik yang digunakan juga mempengaruhi keefektifan suatu
system harga transfer.Terdapat empat cara untuk menyelesaikan
konflik :memaksa (forcing), membujuk (smoothing), menawarkan
(bargaining), pemecahan masalah (problem solving).

3. Klasifikasi Produk
Luas dan formalitas perolehan sumber daya dan peraturan
penentuanharga trensfer bergantung pada banyaknya jumlah

20
transfer dalam perusahaan dan ketersediaan pasar serta harga pasar.
Semakin besar jumlah transfer dan ketersediaan harga pasar, maka
semakin formal dan spesifik peraturan yang ada. Jika harga pasar
selalu siap sedia, maka perolehan sumber daya dapat dikendalikan
dengan peninjauan kantor pusat atas keputusan buat atau beli yang
melebihi jumlah tertentu.Beberapa perusahaan membagi
produknya ke dalam dua kelas:
Kelas I meliputi seluruh produk untuk mana manajemen
senior ingin mengendalikan perolehan sumber daya.Kelas II
meliputi seluruh produk lainnya.
Dengan perjanjian semacam ini, pihak manajemen dapat
berkonsentrasi pada perolehan sumber daya dan penetapan harga
atas sejumlah kecil produk-produk bervolume besar. Peraturan
untuk harga transfer akan dibuat dengan menggunakan berbagai
metode yang telah dijelaskan.

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sebuah perusahaan yang menganut sistem desentralisasi


mendelegasikan kewenangannya pada unit-unit usaha, dimana unit-unit
tersebut berbagi tanggung jawab perusahaan untuk pengembangan, produksi,
dan pemasaran produk. Ketika perusahaan menyerahkan tanggung jawab
jawab laba kepada unit-unit usaha, maka diperlukan sistem harga transfer.
Dalam merancang suatu sistem harga transfer, terdapat dua keputusan yang
harus dibuat yaitu sourcing decision dan transfer price decision.

Harga transfer dapat ditetapkan berdasarkan harga pasar (market-


based price), biaya (cost-based transfer price), dan hasil negosiasi. Suatu
metode untuk menegosiasikan harga transfer harus dibuat dan harus pula ada
mekanisme arbitrasenya untuk menyelesaikan pertikaian harga transfer, tetapi
perjanjanjian tidak boleh terlalu rumit sehingga pihak manajemen tidak
membuang terlalu banyak waktu.

3.2 Saran
Diantara beberapa pilihan dalam penetapan harga transfer, sangat
penting bagi perusahaan untuk memilih dan mempetimbangkan tindakan
yang paling baik diantara yang kurang sempurna. Yang paling penting adalah
kesadaran akan kekurangan-kekuragan dan kepastian bahwa prosedur yang
ada digunakan untuk menghasilkan keputusan yang tepat.

22
LAMPIRAN JURNAL

Jurnal I

Judul : Analisis Penentuan Harga Transfer Terhadap Kontribusi Laba


Pada Pusat Pertanggungjawaban
Penulis : Ninik Anggraini (Dosen Jurusan Akuntansi Fak. Ekonomi
UNISKA Kediri)
Jurnal : Jurnal Cendekia Vol 10 Nomor 3
Tahun : 2012

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penentuan harga


transfer terhadap kontribusi laba pusat pertanggungjawaban pada Perusahaan
Rokok KN Jaya Sentosa Kediri yang selama ini menggunakan metode harga
transfer berdasarkan harga pasar yang dimodifikasi dengan pengurangan biaya
yang dapat dihindari sebesar 5%.
Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif
kuantitatif, sedangkan metode yang digunakan memakai pendekatan metode harga
transfer berdasarkan biaya, metode harga transfer berdasarkan biaya ditambah
laba dan metode harga transfer berdasarkan harga pasar minus atau harga pasar
yang dimodifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama ini metode harga transfer
yang digunakan perusahaan belum mencerminkan keadilan bagi salah satu unit
terutama bagi unit tembakau rajangan (penjual) karena unit tersebut merasa belum
bisa memaksimalkan labanya. Dari beberapa metode yang diusulkan dapat
diketahui bahwa dari ketiga metode
tersebut, yang dapat menghasilkan kontribusi laba maksimal bagi unit tembakau
rajangan (penjual) adalah metode harga pasar yang dimodifikasi dengan

23
pengurangan biaya yang dapat dihindari sebesar biaya yang sesungguhnya. Jika
dibandingkan dengan metode yang dipakai oleh perusahaan kontribusi laba pada
unit tembakau rajangan (penjual) selama tiga tahun (2007, 2008, 2009)
mengalami kenaikan yang semula sebesar Rp. 36.891.000,-
; Rp. 48.435.750,-; dan Rp. 49.775.350,- naik menjadi Rp. 41.693.500,-; Rp.
53.811.990,-
dan Rp. 54.049.900,-.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada perusahaan untuk
melakukan peninjauan ulang terhadap metode harga transfer yang ditentukan dan
mempertimbangkan pengurangan biaya yang dapat dihindari yang semula sebesar
5% diubah menjadi biaya yang sesungguhnya terjadi pada unit penjual.
Kata kunci : Harga transfer, Kontribusi laba, Pusat pertanggungjawaban

Analisis:

Berkembangnya perusahaan yang diikuti dengan permasalahan yang


semakin komplek dapat mendorong manajemen puncak melaksanakan
desentralisasi dan divisionalisasi di dalam perusahaan. Baik desentralisasi maupun
divisionalisasi merupakan proses pembagian organisasi perusahaan kebeberapa
unit atau divisi yang lebih kecil untuk melaksanakan suatu aktivitas tertentu, yang
padaumumnya diartikan sebagai pusat pertanggungjawaban yang diberi
wewenang untuk melaksanakan fungsi produksi dan fungsi pemasaran, sehingga
pusat pertanggungjawaban tersebut diharapkan dapat mempertanggungjwabkan
terhadap labayang diperoleh dari tiap divisinya. Besarnya laba yang diperoleh
dapatdijadikan sebagai ukuran prestasi kerja manajer pusat laba pada tiap divisi.
Salahsatu faktor yang mempengaruhi jumlahlaba yang dicapai pada tiap
divisi adalahmengenai penetapan harga transfer. Harga transfer
tersebutmempengaruhi pendapatan bagi divisiyang melakukan transfer
danmempengaruhi biaya bagi divisi yangmenerima transfer yang pada
akhirnyaakan mempengaruhi laba perusahaansecara keseluruhan.

24
Selama ini pada perusahaan rokok KNJaya Sentosa dalam menerapkan
penetapanharga transfer dengan menggunakanmetode harga pasar yang
dimodifikasi dandiharapkan dari penentuan tersebut dapatmencerminkan keadilan
bagi setiap divisiatau unit.Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui apakah
kebijakan penentuan harga transfer yang ditetapkan perusahaan memang sudah
adil untuk kedua unit (divisi tembakau rajangan dan divisi rokok) dengan cara
menghitung dari beberapa metode penentuan harga transfer yang ada.
Perhitungan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1. Metode biaya penuh
Perhitungan Harga transfer per unitdengan menggunakan metode biaya
penuh(full costing) diperoleh dari jumlah seluruhbiaya yang dikeluarkan
dibagi dengankuantitas produk yang ditransfer.
2. Metode biaya penuh ditambah laba
Dilihat dari pertimbangan penentuan harga transfer yang menyebutkan bahwa
perusahaan akan menentukan besarnya harga transfer sebesar banyaknya
biaya yang dikeluarkan ditambah dengan laba, maka kebijakan perusahaan
mengusulkan laba minimal 15 % dari seluruh biaya yang dikeluarkan.
Perhitungan harga transfer per unit dari metode ini diperoleh dari banyaknya
biaya yang dikeluarkan ditambah dengan laba yang diinginkan dan dibagi
dengan kuantitas yang diproduksi.
3. Metode harga pasar yang dimodifikasi
Dengan memakai metode harga pasar yang dimodifikasi maka perlu diketahui
biaya yang dapat dihindari (biaya penjualan), biaya tersebut dapat dihitung
dari total biaya penjualan yang dapat dihindari (biaya penjualan variabel)
dibagi dengan kuantitas produk yang ditransfer.
Dari perhitungan ketiga metode tersebut dan perbandingan kontribusi laba
menunjukkan bahwa dengan menggunakan penetapan hargatransfer dengan
metode harga pasar dapatmenghasilkan margin kontribusi lebihtinggi
dibandingkan dengan metode hargatransfer yang lain. Oleh karena itu, penerapan
dengan hargapasar yang dimodifikasi dengan merupakanpenetapan yang sesuai

25
dengan kondisiperusahaan dan dapat membantumencerminkan prestasi yang nyata
untuksetiap unit yang melakukan transfer.
Namun, berdasarkan perhitungan yang telahdilakukan, diketahui bahwa
kebijakan harga transfer yang ditetapkan perusahaan yaitu berdasarkan harga
pasar modifikasi dengan pengurangan biaya yang dapat dihindari sebesar 5%
ternyata kurangmencerminkan harga yang adil bagiunit tembakau rajangan
karenapengurangan biaya yang dapat dihindaritidak berdasarkan pada biaya
yangsebenarnya terjadi, sehingga dapatmencerminkan ketidakadilan bagi
unittembakau rajangan.
Dari perhitungan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kontribusi
yangdiperoleh unit tembakau rajanganmenurut metode harga pasardimodifikasi
dengan ketentuanperusahaan lebih kecil dari metodeharga pasar dimodifikasi
yangdiusulkan, sedangkan margin kontribusiunit rokok dengan metode harga
pasardimodifikasi dengan ketentuanperusahaan lebih besar dibandingdengan
metode harga pasardimodifikasi yang diusulkan. Hal inidikarenakan adanya
perbedaanbesarnya harga transfer yangdigunakan, sehingga dapatmempengaruhi
margin kontribusi tiapunit.
Dalam upaya untuk mencerminkankeadilan bagi kedua belah pihak
(unitpenjual maupun unit pembeli) daribeberapa metode yang diusulkan,metode
yang sesuai dengan kondisiperusahaan saat ini adalah metodeharga pasar yang
dimodifikasi denganpengurangan biaya sebesar biaya yangsesungguhnya.

26
Jurnal II

Judul : Pengaruh Transfer Pricing terhadap Perencanaan Pajak bagi


Perusahaan Multinasional
Penulis : Tri Martha Chandraningrum
Jurnal : Jurnal Akuntansi UNESA Vol. 2 Nomor 2
Tahun : 2014

Abstrak
Harga transfer merupakan isu klasik dalam transaksi internasional. Harga
transfer bisa dilakukan antara lain dengan motivasi pajak, dimana tujuan
utamanya adalah untuk mentransfer beban pajak dari negara dengan rating lebih
tinggi ke yurisdiksi tingkat bawah. Kunci keberhasilan penetapan harga transfer
dari sudut pandang pajak adalah adanya transaksi pihak terkait. Untuk mengatur
praktik penetapan harga transfer, peraturan mengatur wewenang untuk melakukan
realokasi harga transfer antar divisi yang memiliki transaksi dengan pihak terkait.
Kata kunci: Harga Transfer, Pajak

Analisis:

Dalam melakukan perencanaan pajak, perusahaan multinasional memiliki


keunggulan tertentu atas perusahaan yang murni domestik karena memiliki
fleksibelitas geografis lebih besar dalam menentukan lokasi produksi dan sistem
distribusi. Fleksibelitas ini memberikan peluang tersendiri untuk memanfaatkan
perbedaan antar yurisdiksi pajak nasional sehingga dapat menurunkan beban
pajak perusahaan secara keseluruhan. Pergeseran beban dan pendapatan melalui
ikatan-ikatan dalam perusahaan juga memberikan peluang tambahan bagi
perusahaan multinasional untuk meminimalkan pajak global yang dibayarkan.
Pemerintahan nasional senantiasa merancangkan aturan hukum untuk
meminimalkan kesempatan melakukan arbitrase yang melibatkan beberapa

27
yurisdiksi pajak nasional yang berbeda. Pengamatan atas masalah perencanaan
pajak ini dimulai dengan dua hal dasar, yaitu pertimbangan pajak yang seharusnya
tidak pernah mengendalikan strategi usaha dan perubahan hukum pajak yang
secara konstan membatasi manfaat perencanaan pajak dalam jangka panjang.
Dalam penelitian Permatasari (2004) menjelaskan bahwa perencanaan
pajak untuk suatu operasi yang bersifat multinasional merupakan pekerjaan yang
kompleks, tetapi di lain pihak mengandung aspek yang vital bagi bisnis
internasional. Pajak berdampak terhadap keputusan penanaman modal di
luarnegeri, struktur keuangan, ketetapan besarnya biaya modal, manajemen valuta
asing, manajemen modal kerja dan pengendalian keuangan.
Dalam rangka mengevaluasi kebijakan perdagangan dan efektivitas lalu
lintas modal internasional adalah kurang efisien apabila hanya difokuskan secara
sempit pada tarif, kuota dan subsidi-subsidi non-pajak saja, sebab faktor pajak pun
tidak sedikit perannya dalam evaluasi kebijakan yang dimaksud.
Sebagian besar transaksi yang terjadi antar anggota grup perusahaan
multinasional dapat dikategorikan dalam beberapa transaksi, seperti penjualan
barang dan jasa, lisensi, paten, penjamin utang dan seterusnya. Harga-harga yang
dibebankan pada transaksi tersebut, tidaklah perlu sama dengan harga yang
berlaku di pasaran bebas.
Perusahaan multinasional dapat menggunakan transfer pricing yang lebih
rendah dari arm’s length price (penyimpangan harga yang berlaku dan disetujui
oleh kedua belah pihak yang melakukan transaksi terhadap barang dan kondisi
yang sama) untuk tujuan mengefisienkan beban pajaknya atau menggunakan
harga yang lebih tinggi dari arm’s length price untuk tujuan tertentu. Apabila
terjadi transaksi yang menyimpang dari arm’s length price, apakah harga lebih
tinggi atau rendah, hal ini dianggap sebagai usaha untuk menggeser laba
perusahaan dari satu grup ke grup lainnya dan hal ini berarti pula bahwa pajak
yang terutang di kedua grup yang terlibat tersebut akan mengalami perubahan.
Dilihat dari kepentingan perusahaan multinasional, dalam rangka
mengorganisir transaksi antar unit dalam grupnya, masalah transfer pricing
merupakan masalah yang harus dipertimbangkan dengan catatan bahwa

28
penyesuaian harga sebenarnya dengan harga pasaran bebas dalam rangka
menentukan penghasilan kena pajak yang wajar tidak perlu memperhatikan
kewajiban-kewajiban berdasarkan perjanjian yang ada yang harus dipenuhi oleh
negara yang bersangkutan untuk memenuhi harga atau maksud tertentu dari
negara yang bersangkutan untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.
Banyak permasalahan yang sering dihadapi oleh perusahaan multinasional
dalam perencanaan perpajakan yang berbeda dengan yurisdiksi pajak. Solusi
untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah perusahaan multinasional
memecah penghasilan dan biaya yang dialokasikan di berbagai yurisdiksi untuk
menghindari adanya pajak berganda, melalui perjanjian penghindaran pajak
berganda yang mana dapat dihindari dengan :
1) Penghasilan yang dikenakan sebaiknya hanya satu negara saja;
2) Perhitungan untuk kredit pajak dapat dilakukan dengan pajak yang terutang.
Pajak berganda dapat dikurangi dengan banyak berbagai cara melalui
kredit pajak (tax credit), perjanjian perpajakan (tax treaties), surga pajak (tax
havens), pengecualian pajak (tax exemption) dan prinsip penangguhan (the
deferral principle).
Permasalahan yang perlu diantisipasi bukan hanya pajak berganda, tetapi
juga pajak internasional yang perlu diperhatikan karena berdampak pada
keputusan manajemen, dimana investasi yang dilakukan, produk yang dipasarkan,
bentuk usaha yang baik untuk komersial dan fiskal, lintas valas yang ketat atau
pengembalian hasil keuntungan setelah pajak, cara pembiayaannya, termasuk
masalah tentang transfer pricing.
Ada dua tujuan transfer pricing yang ingin dicapai oleh perusahaan
multinasional, yaitu (Yenni, 2000) :
(1) Performance Evaluation salah satu alat yang dipakai oleh banyak perusahaan
dalam menilai kinerjanya adalah menghitung berapa tingkat ROI-nya atau
Return On Investment.
(2) Optimal Determination of Taxes yang mana tarif pajak antar satu negara dengan
negara yang lain berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh lingkungan ekonomi,
sosial, politik dan budaya yang berlaku dalam negara tersebut. Apabila di

29
sebuah negara mengalami tingkat investasi rendah, maka tarif pajak berlaku di
negara tersebut juga rendah. Tetapi jika sebuah negara mengalami tingkat
investasi yang tinggi, yang dibuktikan dengan tingkat pertumbuhan badan
usaha yang semakin meningkat.
Dasar inilah tarif pajak yang ditetapkan di negara yang bersangkutan
tinggi. Suatu survey yang dilakukan oleh Ernest & Young LLp (2008),
menemukan bahwa masalah transfer pricing merupakan masalah utama dalam
bidang perpajakan selama kurun waktu 2 tahun terakhir yang terjadi pada
perusahaan multinasional di seluruh dunia. Oleh karena itu, banyak kantor
akuntan publik melakukan audit compliance, untuk melakukan pemeriksaan atas
masalah transfer pricing yang berpengaruh terhadap jumlah pajak yang harus
dibayarkan.
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7 Tahun
2010, pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah bila satu pihak
mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak lain, atau mempunyai
pengaruh signifikan atas pihak lain dalam mengambil keputusan. Transaksi antara
pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah suatu pengalihan sumber
daya, atau kewajiban antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa,
tanpa menghiraukan apakah suatu harga diperhitungkan.
Terjadinya pengalihan penghasilan atau biaya pengenaan pajak dari satu
Wajib Pajak dengan Wajib Pajak lainnya, sehingga terjadinya tekanan jumlah
keseluruhan pajak terutang dapat direkayasa. Hal ini terjadi karena adanya
hubungan istimewa antara Wajib Pajak dengan Wajib Pajak lainnya.
Kekurangwajaran timbul karena adanya transfer pricing dapat terjadi antara
Wajib Pajak dalam negeri atau Wajib Pajak dalam negeri dengan pihak luar negeri,
khususnya yang berada dalam negara yang tidak memungut pajak (tax havens)
(Yenni,2000). Kekurangwajaran yang terjadi dalam dalam kaitannya dengan
Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa, tercantum dalam SE-
04/PJ.7/1993 yaitu: (1) Hal penjualan dan pembelian; (2) Hal alokasi biaya
administrasi dan umu (overhead cost); (3) Hal pembebanan bunga atas pinjaman
dari investor; (3) Hal pembayaran komisi, lisensi, royalti, sewa, franchise,

30
imbalan jasa teknik dan imbalan atas jasa lainnya; (4) Hal pembelian harta
perusahaan dari investor atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang
harga pasarnya lebih tinggi; (5) Hal penjualan yang melalui pihak ketiga kepada
pihak luar negeri yang kurang atau tidak mempunyai substansi usaha.
Untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak dalam penentuan harga
yang tidak wajar (non arm’s length price) yaitu dengan menerapkan ketentuan
yang dasarnya memberikan tanggung jawab dan wewenang aparat pajak untuk
melakukan koreksi terhadap transaksi yang tidak wajar dengan pihak lain yang
mempunyai hubungan istimewa. Ketentuan itupun diatur dalam Pasal 18 ayat (1),
(2), dan (3) UU Perpajakan tahun 1994.
Dalam pajak, perjanjian pajak mempengaruhi pungutan pajak atas deviden,
bunga, royalti yang dibayarkan oleh perusahaan di suatu negara kepada pemegang
saham asing. Perjanjian ini biasanya memberikan pengurangan timbal balik atas
pungutan pajak deviden dan sering kali mengecualikan royalti dan bunga dari
pungutan pajak.
Masalah transfer pricing dalam perjanjian pajak berganda bertolak dari
Pasal 9 UN Model yang mengatur tentang perusahaan-perusahaan yang
mempunyai hubungan istimewa, yaitu antara induk perusahaan yang berdomisili
di salah satu negara dengan anak cabang perusahaan yang berdomisili di negara
lain.
Dari sudut pandang perusahaan multinasional, transfer pricing merupakan
alat yang sering digunakan untuk memobilisasi laba rugi terutama bagi
kepentingan perusahaannya, sedangkan bagi pihak aparat perpajakan selalu
menginginkan agar transaksi yang terjadi antar unit atau perusahaan dalam satu
grup, pastinya menggunakan harga arm’s length price yang prinsipnya sesuai
dengan OECD (Santoso,2004). Sebab akan menjadi dasar pertimbangan untuk
memilih metode tersebut karena prinsip tersebut menepatkan perusahaan dari satu
grup dalam kondisi yang sama dengan perusahaan yang independen sehingga
faktor yang menguntungkan ataupun yang merugikan dapat dihilangkan.
Dalam prakteknya,transfer pricing dalam perusahaan multinasional
merupakan cara yang bertujuan untuk menekan beban pajak yang nantinya

31
perusahaan dapat menghemat pajak secara global dengan merelokasikan
penghasilan global yang low tax countries dan menggeser beban dalam jumlah
yang besar ke dalam big tax countries. Pengaruh transfer pricing juga harus
diperhatikan dari sisi UU Perpajakan agar dalam menentukan harga transfer tidak
menambah beban pajak yang seharusnya tidak terjadi atau seharusnya
diminimalkan. Transfer pricing dilakukan berdasarkan harga pasar yang tidak
memiliki implikasi perpajakan, apabila tidak menggunakan harga pasar maka
umumnya akan terjadi pemindahan penghasilan. Dengan adanya pemindahan
penghasilan tersebut maka pajak yang dibayar secara keselurahan akan lebih
rendah. Sehingga, total laba pajak secara keseluruhan akan lebih besar dibanding
kalau perusahaan tidak menggunakan transfer pricing.

32
DAFTAR PUSTAKA

Anthony, R.N., V. Govindarajan. 2005. Sistem Pengendalian Manajemen. Edisi


ke 11. Diterjemahkan oleh: Drs. F. X. Kurniawan Tjakrawala, Msi, Akt.
Jakarta:Salemba Empat.

Anggraini, Ninik. 2012. Analisis Penentuan Harga Transfer Terhadap Kontribusi


Laba Pada Pusat Pertanggungjawaban. Jurnal Cendekia Vol 10 Nomor 3
Sept. 2012. (Online), (http://publikasi.uniska-
kediri.ac.id/data/cendekia/vol10no3sep2012/Cendekia-vol10no3Sep2012-
04.Ninik%20Anggraini.pdf),diakses 29 September 2017.

Haris, Abdul. 2014. Harga Transfer. (Online),


(https://www.slideshare.net/rangerbiru16/makalah-spm-harga-transfer),
diakses 30 September 2017.

Sijenius. 2008. Harga Transfer: Definisi, Penentuan & Aspek Internasional.


(Online), (https://sijenius.wordpress.com/2008/08/09/harga-transfer-
definisi-penentuan-aspek-internasional/), diakses30 September 2017.

Chandraningrum, Tri Marta. 2014. Pengaruh Transfer Pricing terhadap


Perencanaan Pajak bagi Perusahaan Multinasional. Jurnal Akuntansi
UNESA Vol2 Nomor 2 (2014). (Online),
(http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-
akuntansi/article/view/6753), diakses 1 Oktober 2017.

33