Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH

BIOFISIKA
EFEK RADIASI MENGION DAN EFEK ELEKTROMAGNETIK
BAGI KEHIDUPAN

Dibimbing Oleh:
Ibu Novida Pratiwi, S.Si, M.Sc. dan Ibu Vita Ria Mustikasari S.Pd, M.Pd

Oleh Kelompok 3:

Dian Novita Harianti (150351600676)


Nailah Nur Zhafirah (150351600893)
Rizky Faza Ramadhan (150351605551)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OKTOBER 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt, sebab karena rahmat dan
nikmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini. Pembuatan makalah ini
bertujuan memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Biofisika pada Semester V
yang berjudul “Efek Radiasi Mengion Efek Elektromagnetik Bagi Kehidupan”.
Adapun sumber-sumber dalam pembuatan makalah ini, didapatkan dari
beberapa buku yang membahas tentang materi yang berkaitan. Kami sebagai
penyusun makalah ini, sangat berterima kasih kepada penyedia sumber walau
tidak dapat secara langsung untuk mengucapkannya.
Kami menyadari bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan, begitu pun
dengan kami yang masih seorang mahasiswa. Dalam pembuatan makalah ini
mungkin masih banyak sekali kekurangan-kekurangan yang ditemukan, oleh
karena itu kami mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya, kami
mangharapkan ada kritik dan saran dari para pembaca sekalian dan semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Malang, 01 Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................. . 1
1.2 RumusanMasalah.......................................................................................... . 1
1.3 Maksud dan Tujuan ....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ . 3
2.1 Pengertian Radiasi........................................................................................3
2.2 Jenis-jenis Radiasi........................................................................................7
2.3 Mekanisme Radiasi, Efek Radiasi Pengion, dan
Elektromagnetik....................................................................................... 12
2.4 Pengertian Bioradiasi ..............................................................................24
2.5 Prinsip-prinsip Bioradiasi......................................................................... 24
2.6 Kegunaan Sinar X Dalan Bioradiasi ........................................................ 25
2.7 Radioisotop Dalam Diagnosis dan Riset ..................................................26
2.8 Penerapan Radioterapi ..............................................................................27
BAB III PENUTUP...............................................................................................31
3.1 Kesimpulan.................................................................................................31
3.2 Saran...........................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 32

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia atau suatu alat yang
digunakan membutuhkan energ. Energi yang ditimbulkan dari sebuah alat
mengandung unsur-unsur radiasi. Radiasi adalah setiap proses di mana energi
bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain.
Radiasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Dalam dunia kedokteran,
radiasi dimanfaatkan sebagai bahan untuk mendiagnosa. Seperti sinar X untuk
keperluan radiologi, cahaya tampak untuk tindakan endoskopi, sinar ultraviolet
untuk sterilisasi dan masih banyak yang lainnya.
Selain mempunyai manfaat seperti yang telah dipaparkan diatas, radiasi
juga memiliki beberapa efek atau dampak yang ditimbulkan bagi manusia. Tetapi
manusia jarang sekali memperhatikan dan mempedulikan dampak yang
ditimbulkan oleh adanya radiasi tersebut. Dalam makalah kali ini, akan membahas
tentang radiasi, jenis-jenis radiasi, mekanisme radiasi, efek radiasi, dan
elektromagnetik, bioradiasi, prinsip-prinsip bioradiasi, kegunaan sinar X dalam
bioradiasi, radioisotop dalam diagnosis dan riset, dan penerpan radioterapi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dari radiasi?
2. Apakah jenis-jenis radiasi?
3. Bagaimana mekanisme radiasi, efek radiasi, dan elektromagnetik?
4. Apakah pengertian bioradiasi?
5. Bagaimana prinsip-prinsip bioradiasi?
6. Apakah kegunaan sinar X dalam bioradiasi?
7. Bagaimana radioisotop dalam diagnosis dan riset?
8. Bagaimana penerapan radioterapi dalam kehidupan?

1.3 Maksud Dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan penulis dalam pembuatan makalah ini yaitu:
1. Dapat memahami dan menjelaskan pengertian radiasi

1
2. Dapat memahami dan menjelaskan jenis-jenis radiasi
3. Dapat memahami dan menjelaskan mekanisme radiasi, efek radiasi, dan
elektromagnetik
4. Dapat memahami dan menjelaskan pengertian bioradiasi
5. Dapat memahami dan menjelaskan prinsip-prinsip bioradiasi
6. Dapat memahami dan menjelaskan kegunaan sinar X dalam bioradiasi
7. Dapat memahami dan menjelaskan radioisotop dalam diagnosis dan
riset
8. Dapat memahami dan menjelaskan penerapan radioterapi dalam
kehidupan

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Radiasi
Dalam fisika, radiasi dideskripsikan sebagai setiap proses dimana energi
bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain.
Apa yang membuat radiasi adalah energi yang memancarkan (bergerak ke luar
dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini secara alami
mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku untuk semua
jenis radiasi.
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam
bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari
sumber radiasi. Radiasi dapat diartikan sebagai energi yang dipancarkan dalam
bentuk partikel atau gelombang. Jika suatu inti tidak stabil, maka inti mempunyai
kelebihan energi. Inti itu tidak dapat bertahan, suatu saat inti akan melepaskan
kelebihan energi tersebut dan mungkin melepaskan satu atau dua atau lebih
partikel atau gelombang sekaligus.
Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita,
contohnya adalah televisi, lampu penerangan, alat pemanas makanan (microwave
oven), komputer, dan lain-lain. Radiasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik
atau disebut juga dengan foton adalah jenis radiasi yang tidak mempunyai massa
dan muatan listrik. Misalnya adalah gamma dan sinar-X, dan juga termasuk
radiasi tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar
dan handphone.
Sifat radiasi ada dua macam sifat radiasi yang dapat digunakan untuk
mengetahui keberadaan sumber radiasi pada suatu tempat atau bahan, yaitu
sebagai berikut:
 Radiasi tidak dapat dideteksi oleh indra manusia, sehingga untuk
mengenalinya diperlukan suatu alat bantu pendeteksi yang disebut dengan
detektor radiasi.Ada beberapa jenis detektor yang secara spesifik mempunyai
kemampuan untuk melacak keberadaan jenis radiasi tertentu yaitu detektor
alpha, detektor gamma, detektor neutron, dan lain lain.

3
 Radiasi dapat berinteraksi dengan materi yang dilaluinya melalui proses
ionisasi, eksitasi dan lain-lain. Dengan menggunakan sifat-sifat tersebut
kemudian digunakan sebagai dasar untuk membuat detektor radiasi.
Berikut terdapat gambar dari detektor radiasi:

Dosimeter TLD (Termoluminisensi Survey meter


Dosimeter)

Tanpa disadari, sebenarnya kita hidup dalam lingkungan yang penuh


dengan radiasi. Radiasi telah menjadi bagian dari lingkungan kita semenjak
dunia ini diciptakan, bukan hanya sejak ditemukan tenaga nuklir setengah
abad yang lalu,yang mana terdapat lebih dari 60 radionuklida. Radionuklida
adalah isotop yang memancarkan radiasi. Berdasarkan asalnya radiasi yang
dapat dibedakan pada dua garis besar, yaitu sumber radiasi alam dan radiasi
buatan.
a. Sumber Radiasi Alam
Radiasi alam dapat berasal dari sinar kosmos, sinar gamma dari kulit
bumi, hasil peluruhan radon dan thorium di udara, serta berbagai
Radionuklida alamiah: radionuklida yang terbentuk secara alami, terbagi
menjadi dua yaitu:
1. Primordial: radionuklida ini telah ada sejak bumi diciptakan.
Berikut terdapat tabel dari Radionuklida Primordial:

Nuklida Lambang Umur-paro Keterangan


235
Uranium U 7,04x108 tahun 0,72% dari uranium alam
235

4
238
Uranium U 4,47x109 tahun 99,2745% dari uranium alam; pada
238 batuan terdapat 0,5 - 4,7 ppm uranium
alam
232
Thorium Th 1,41x1010 tahun Pada batuan terdapat 1,6 - 20 ppm.
232
226
Radium Ra 1,60x103 tahun Terdapat di batu kapur
226
222
Radon Rn 3,82 hari Gas mulia
222
40
Kalium K 1,28x109 tahun Terdapat di tanah
40

2. Kosmogenik: radionuklida ini terbentuk sebagai akibat dari interaksi


sinar kosmik.
Berikut terdapat tabel dari Radionuklida Kosmogenik:

Nuklida Lambang Umur-paro Sumber


14
Karbon C 5.730 tahun Interaksi 14N(n,p)14C
14
3
Tritium H 12,3 tahun Interaksi 6Li(n,a)3H
3
7
Berilium Be 53,28 hari Interaksi sinar kosmik dengan unsur N
7 dan O

b. Sumber Radiasi Buatan


Radiasi buatan (Radionuklida) adalah radiasi yang timbul karena atau
berhubungan dengan kegiatan manusia; seperti penyinaran di bidang
medis, jatuhan radioaktif, radiasi yang diperoleh pekerja radiasi di fasilitas
nuklir, radiasi yang berasal dari kegiatan di bidang industri: radiografi,
logging, pabrik lampu. Tabel berikut memperlihatkan beberapa
radionuklida buatan manusia
Berikut terdapat tabel dari Radionuklida Buatan Manusia:

5
Nuklida Lambang Umur-paro Sumber
Tritium 3 3H 12,3 tahun Dihasilkan dari uji-
coba senjata nuklir,
reaktor nuklir, dan
fasilitas olah-ulang
bahan bakar nuklir.
Iodium 131 131I 8,04 hari Produk fisi yang
dihasilkan dari uji-
coba senjata nuklir,
reaktor nuklir. 131I
sering digunakan
untuk mengobati
penyakit yang
berkaitan dengan
kelenjar thyroid.
Iodium 129 129I 1,57x107 tahun Produk fisi yang
dihasilkan dari uji-
coba senjata nuklir
dan reaktor nuklir.
Cesium 137 137Cs 30,17 tahun Produk fisi yang
dihasilkan dari uji-
coba senjata nuklir
dan reaktor nuklir.
Stronsium 90 90Sr 28,78 tahun Produk fisi yang
dihasilkan dari uji-
coba senjata nuklir
dan reaktor nuklir.
Technesium 99m 99mTc 6,03 jam Produk peluruhan
dari 99Mo,
digunakan dalam
diagnosis
kedokteran.

6
Technesium 99 99Tc 2,11x105 tahun Produk peluruhan
99mTc.
Plutonium 239 239Pu 2,41x104 tahun Dihasilkan akibat
238U ditembaki
neutron.

Setiap hari kita terkena radiasi, baik dari udara yang kita hirup, dari
makanan yang kita konsumsi maupun dari air yang kita minum. Tidak ada
satupun tempat di bumi ini yang bebas dari radiasi,karena manusia telah
menggunakan bahan radioaktif selama lebih dari 100 tahun.

2.2 Jenis-jenis Radiasi


Radiasi terdiri dari beberapa jenis, dan setiap jenis radiasi tersebut
memiliki panjang gelombang masing-masing. Berikut terdapar skema Radiasi
menurut jenisnya:

A. Ditinjau dari massanya, radiasi dapat dibagi menjadi:


1. Radiasi elektromagnetik
Radiasi elektromagnetik adalah radiasi yang tidak memiliki massa.
Menurut The National Radiological Protection Board (NPRB) UK, Inggris

7
dalam Swamardika, 2009. Efek yang ditimbulkan oleh radiasi gelombang
elektromagnetik dari telepon seluler dibagi menjadi dua yaitu:
1. Efek fisiologis
Efek fisiologis merupakan efek yang ditimbulkan oleh radiasi
gelombang elektromagnetik tersebut yang mengakibatkan gangguan pada
organ-organ tubuh manusia berupa, kangker otak dan pendengaran, tumor,
perubahan pada jaringan mata, termasuk retina dan lensa mata, gangguan
pada reproduksi, hilang ingatan, kepala pening.
2. Efek psikologis
Efek psikologis merupakan efek kejiwaan yang ditimbulkan oleh radiasi
tersebut misalnya timbulnya stress dan ketidaknyamanan karena
penyinaran radiasi berulang-ulang.
Radiasi elektromagnetik terdiri dari:
a. Gelombang Radio
Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan
terbentuk ketika objek bermuatan listrik dari gelombang osilator
(gelombang pembawa) dimodulasi dengan gelombang audio
(ditumpangkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam
frekuensi gelombang radio (RF; "radio frequency")) pada suatu spektrum
elektromagnetik, dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara
osilasi elektrik maupun magnetik.
b. Gelombang Mikro
Gelombang mikro atau Mikro gelombang (microwave) adalah gelombang
elektromagnetik dengan frekuensi super tinggi (Super High Frequency,
SHF), yaitu di atas 3 GHz (3x109Hz).
c. Inframerah
Inframerah (infrared) ialah sinar elektromagnet yang panjang
gelombangnya lebih dari pada cahaya nampak yaitu di antara 700 nm dan
1 mm.
d. Cahaya Tampak
Cahaya tampak adalah bagian spektrum yang mempunyai panjang
gelombang antara lebih kurang 400 nanometer (nm) dan 800 nm (dalam

8
udara), dan sebagai radiasi elektromagnetik yang paling dikenal oleh kita
dapat didefinisikan sebagai bagian dari spektrum gelombang
elektromagnetik yang dapat dideteksi oleh mata manusia.
e. Sinar ultraviolet
Sinar ultraviolet adalah radiasi elektromagnetis terhadap panjang
gelombangyang lebih pendek dari daerah dengan sinar tampak, namun
lebih panjang dari sinar-X yang kecil.
f. Sinar-X
Sinar-X adalah gelombang elektromagnetik yang mempunyai panjang
gelombang 10-8 -10-12 m dan frekuensi sekitar 1016 -1021 Hz.
g. Sinar Gamma
Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik yang memiliki
panjang gelombang terpendek atau frekuensi tertinggi.

Gelombang Panjang gelombang


λ
Gelombang radio 1 mm-10.000 km
Infra merah 0,001-1 mm
Cahaya tampak 400-720 nm
Ultra violet 10-400 nm
Sinar-X 0,01-10 nm
Sinar gamma 0,0001-0,1 nm

h. Radiasi Partikel
Radiasi berupa partikel yang memiliki massa. Radiasi ini terdiri
dari:
a. Partikel Β (β)
Partikel Β (β) adalah elektron atau positron yang berenergi tinggi yang
dipancarkan oleh beberapa jenis nukleus radioaktif seperti kalium-40.
Partikel β yang dipancarkan merupakan bentuk radiasi yang menyebabkan
ionisasi, yang juga disebut sinar β.
b. Partikel Α (α)

9
Partikel Alpha (α) adalah bentuk radiasi partikel yang sangat
menyebabkan ionisasi, dan kemampuan penetrasinya rendah. Partikel
tersebut terdiri dari dua buah proton dan dua buah neutron yang terikat
menjadi sebuah partikel yang identik dengan nukleus helium, dan
karenanya dapat ditulis juga sebagai He2+.
c. Partikel Neutron
Partikel Neutron adalah jenis partikel non-ion yang terdiri dari neutron
bebas. Neutron ini bisa mengeluarkan selama baik spontan atau induksi
fisi nuklir, proses fusi nuklir, atau dari reaksi nuklir lainnya.
B. Ditinjau dari muatan listriknya, radiasi dapat dibagi menjadi :
1. Radiasi Pengion
Radiasi pengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak
sesuatu, akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa
terjadinya ion ini disebut ionisasi. Ion ini kemudian akan menimbulkan
efek atau pengaruh pada bahan, termasuk benda hidup. Radiasi pengion
disebut juga radiasi atom atau radiasi nuklir. Termasuk ke dalam radiasi
pengion adalah sinar-X, sinar gamma, sinar kosmik, serta partikel β, α dan
neutron. Partikel β, α dan neutron dapat menimbulkan ionisasi secara
langsung. Meskipun tidak memiliki massa dan muatan listrik, sinar-X,
sinar gamma dan sinar kosmik juga termasuk ke dalam radiasi pengion
karena dapat menimbulkan ionisasi secara tidak langsung.

10
2. Radiasi non-pengion
Radiasi non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat menimbulkan
ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi non-pengion adalah gelombang radio,
gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan ultraviolet.

Kedua jenis radiasi ini mempunyai potensi bahaya yang lebih besar
dibandingkan dengan jenis radiasi lainnya. Pengaruh sinar kosmik hampir
dapat diabaikan karena sebelum mencapai tubuh manusia, radiasi ini telah
berinteraksi terlebih dahulu dengan atmosfir bumi. Radiasi β hanya dapat
menembus kertas tipis, dan tidak dapat menembus tubuh manusia,
sehingga pengaruhnya dapat diabaikan. Demikian pula dengan radiasi α,
yang hanya dapat menembus beberapa milimeter udara. Sedang radiasi
neutron pada umumnya hanya terdapat di reaktor nuklir.

11
2.3 Mekanisme Radiasi, Efek Radiasi Pengion, dan Elektromagnetik
Radiasi tidak dapat dilihat, didengar, dicium, dirasakan atau diraba. Indera
manusia tidak dapat mendeteksi radiasi sehingga seseorang tidak dapat
mengetahui kapan ia dalam bahaya atau tidak. Radiasi hanya dapat diketahui
dengan menggunakan alat, yang disebut monitor radiasi. Monitor radiasi terdiri
dari detektor radiasi dan rangkaian elektronik penunjang. Pada umumnya, monitor
radiasi dilengkapi dengan alarm yang akan mengeluarkan bunyi jika ditemukan
radiasi. Bunyi alarm semakin keras apabila tingkat radiasi yang ditemukan
semakin tinggi. Monitor radiasi umumnya digunakan hanya untuk mengetahui ada
atau tidaknya radiasi.
Perlu disadari bahwa tidak ada satupun aktivitas manusia yang benar-
benar aman dan bebas dari resiko. Bahkan, ketika duduk santai di kursi sekalipun,
kita menghadapi resiko terjungkal dari kursi. Dalam setiap tindakan yang kita
lakukan selalu ada resiko, sekecil apapun resiko tersebut. Kadangkala, tanpa
disadari, kita mengabaikan resiko tersebut. Sebagai contoh, ketika hendak
menyeberang jalan sewaktu lalu lintas tidak padat, kita hanya menunggu adanya
jeda antar kendaraan untuk menyeberang. Dalam hal ini, tanpa sadar kita
mengabaikan resiko tertabrak oleh kendaraan.
Untuk mendeteksi radiasi digunakan alat detektor radiasi. Pengukuran
detektor radiasi tersebut dapat diinterpretasikan sebagai energi radiasi yang
terserap oleh seluruh tubuh manusia atau organ tertentu, misalnya hati. Banyaknya
energi radiasi pengion yang terserap per satuan massa bahan, misalnya jaringan
tubuh manusia, disebut Dosis Terserap,yang dinyatakan dalam satuan gray (Gy).
Untuk nilai yang lebih kecil, biasa digunakan miligray, mGy, yang sama dengan
seperseribu gray. Istilah gray diambil dari nama fisikawan Inggris, Harold Gray.
Besar dosis terserap yang sama untuk jenis radiasi yang berbeda belum tentu
mengakibatkan efek biologis yang sama, karena setiap jenis radiasi pengion
memiliki keunikan masing-masing dalam berinteraksi dengan jaringan tubuh
manusia.Interaksi radiasi partikel bermuatan ketika mengenai materi adalah proses
Coulomb, yaitu gaya tarik menarik atau tolak menolak antara radiasi partikel
bermuatan dengan elektron orbital dari atom bahan.

12
 Ionisasi
Proses ionisasi adalah peristiwa lepasnya elektron dari orbitnya karena
ditarik atau ditolak oleh radiasi partikel bermuatan. Elektron yang lepas
menjadi elektron bebas sedang sisa atomnya menjadi ion positif. Setelah
melakukan ionisasi energi radiasi akan berkurang sebesar energi ionisasi
elektron. Peristiwa ini akan berlangsung terus sampai energi radiasi partikel
bermuatan habis terserap. Radiasi alpha yang mempunyai massa maupun
muatan lebih besar mempunyai daya ionisasi yang lebih besar dari pada
radiasi yang lain. Berikut adalah gambar proses ionisasi:

 Eksitasi
Proses eksitasi adalah peristiwa “loncatnya” (tidak sampai lepas)
elektron dari orbit yang dalam ke orbit yang lebih luar karena gaya tarik
atau gaya tolak radiasi partikel bermuatan. Atom yang mengalami eksitasi
ini disebut dalam keadaan tereksitasi (excited state) dan akan kembali
kekeadaan dasar (ground state) dengan memancarkan radiasi sinar-X.
Berikut adalah gambar proses eksitasi:

13
Tubuh terdiri dari berbagai macam organ seperti hati, ginjal, paru dan
lainnya. Setiap organ tubuh tersusun atas jaringan yang merupakan kumpulan sel
yang mempunyai fungsi dan struktur yang sama. Sel sebagai unit fungsional
terkecil dari tubuh dapat menjalankan fungsi hidup secara lengkap dan sempurna
seperti pembelahan, pernafasan, pertumbuhan dan lainnya. Sel terdiri dari dua
komponen utama, yaitu sitoplasma dan inti sel (nucleus). Sitoplasma mengandung
sejumlah organel sel yang berfungsi mengatur berbagai fungsi metabolisme
penting sel. Inti sel mengandung struktur biologik yang sangat kompleks yang
disebut kromosom yang mempunyai peranan penting sebagai tempat
penyimpanan semua informasi genetika yang berhubungan dengan keturunan atau
karakteristik dasar manusia. Kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang
mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA
(Deooxyribonucleic acid) yang membawa suatu kode informasi tertentu dan
spesifik.
Interaksi antara radiasi dengan sel hidup merupakan proses yang
berlangsung secara bertahap. Proses ini diawali dengan tahap fisik dan diakhiri
dengan tahap biologik. Ada empat tahapan interaksi, yaitu :
1. Tahap Fisik
Tahap Fisik berupa absorbsi energi radiasi pengion yang menyebabkan
terjadinya eksitasi dan ionisasi pada molekul atau atom penyusun bahan biologi.
Proses ini berlangsung sangat singkat dalam orde 10-16 detik. Karena sel sebagian
besar (70%) tersusun atas air, maka ionisasi awal yang terjadi di dalam sel adalah
terurainya molekul air menjadi ion positif H2O+dan e- sebagai ion negatif. Proses
ionisasi ini dapat ditulis dengan :

14
H2O + radiasi pengion  H2O++ e-
2. Tahap Fisikokimia
Tahap fisikokimia dimana atom atau molekul yang tereksitasi atau
terionisasi mengalami reaksi-reaksi sehingga terbentuk radikal bebas yang tidak
stabil. Tahap ini berlangsung dalam orde 10-6 detik. Karena sebagian besar tubuh
manusia tersusun atas air, maka peranan air sangat besar dalam menentukan hasil
akhir dalam tahap fisikokimia ini. Efek langsung radiasi pada molekul atau atom
penyusun tubuh selain air hanya memberikan sumbangan yang kecil bagi akibat
biologi akhir dibandingkan dengan efek tak langsungnya melalui media air
tersebut. Ion-ion yang terbentuk pada tahap pertama interaksi akan beraksi dengan
molekul air lainnya sehingga menghasilkan beberapa macam produk , diantaranya
radikal bebas yang sangat reaktif dan toksik melalui radiolisis air, yaitu OH- dan
H+. Reaksi kimia yang terjadi dalam tahap kedua interaksi ini adalah:
H2O+ H+ + OH-
H2O + e  H2O-
H2O-  OH- + H+
Radikal bebas OH- dapat membentuk peroksida (H2O2 ) yang bersifatoksidator
kuat melalui reaksi berikut :
OH- + OH+  H2O2
3. Tahap Kimia dan Biologi
Tahap kimia dan biologi yang berlangsung dalam beberapa detik dan
ditandai dengan terjadinya reaksi antara radikal bebas dan peroksida dengan
molekul organik sel serta inti sel yang terdiri atas kromosom. Reaksi ini akan
menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan terhadap molekul-molekul dalam
sel. Jenis kerusakannya bergantung pada jenis molekul yang bereaksi. Jika reaksi
itu terjadi dengan molekul protein, ikatan rantai panjang molekul akan putus
sehingga protein rusak. Molekul yang putus ini menjadi terbuka dan dapat
melakukan reaksi lainnya. Radikal bebas dan peroksida juga dapat merusak
struktur biokimia molekul enzim sehingga fungsi enzim terganggu. Kromosom
dan molekul DNA didalamnya juga dapat dipengaruhi oleh radikal bebas dan
peroksida sehingga terjadi mutasi genetik.

15
4. Tahap Biologis
Tahap biologis yang ditandai dengan terjadinya tanggapan biologis yang
bervariasi bergantung pada molekul penting mana yang bereaksi dengan radikal
bebas dan peroksida yang terjadi pada tahap ketiga. Proses ini berlangsung dalam
orde beberapa puluh menit hingga beberapa puluh tahun, bergantung pada tingkat
kerusakan sel yang terjadi. Beberapa akibat dapat muncul karena kerusakan sel,
seperti kematian sel secara langsung, pembelahan sel terhambat atau tertunda serta
terjadinya perubahan permanen pada sel anak setelah sel induknya membelah.
Kerusakan yang terjadi dapat meluas dari skala seluler ke jaringan, organ dan
dapat pula menyebabkan kematian.
Secara biologis efek radiasi dapat dibedakan atas:
 Berdasarkan Jenis Sel yang Terkena Paparan Radiasi
Sel dalam tubuh manusia terdiri dari sel genetik dan sel somatik. Sel
genetik adalah sel telur pada perempuan dan sel sperma pada laki-laki, sedangkan
sel somatik adalah sel-sel lainnya yang ada dalam tubuh.

16
 Efek Radiasi pada tubuh manusia dapat dibedakan atas:
 Efek Genetik (non-somatik) atau efek pewarisan adalah efek yang dirasakan
oleh keturunan dari individu yang terkena paparan radiasi.
 Efek Somatik adalah efek radiasi yang dirasakan oleh individu yang terpapar
radiasi. Waktu yang dibutuhkan sampai terlihatnya gejala efek somatik
sangat bervariasi sehingga dapat dibedakan atas:
 Efek segera adalah kerusakan yang secara klinik sudah dapat teramati
pada individu dalam waktu singkat setelah individu tersebut terpapar
radiasi, seperti epilasi (rontoknya rambut), eritema (memerahnya kulit),
luka bakar dan penurunan jumlah sel darah. Kerusakan tersebut terlihat
dalam waktu hari sampai mingguan pasca iradiasi.
 Efek tertunda merupakan efek radiasi yang baru timbul setelah waktu
yang lama (bulanan/tahunan) setelah terpapar radiasi, seperti katarak dan
kanker.
 Berdasarkan Dosis Radiasi
Bila ditinjau dari dosis radiasi (untuk kepentingan proteksi radiasi), efek
radiasi dibedakan atas:
 Efek Stokastik

17
Efek stokastik adalah efek penyebab. Merupakan fungsi dosis radiasi
dan diperkirakan tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai akibat
paparan radiasi dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada
sel. Ciri-ciri efek stokastik:
o Tidak mengenal dosis ambang
o Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
o Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
o Tidak ada penyembuhan spontan
o Efek ini meliputi: kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit
keturunan (efek genetik).
 Efek Deterministik (non-stokastik)
Efek Deterministik adalah efek yang kualitas keparahannya bervariasi
menurut dosis dan hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek ini terjadi
karena adanya proses kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah
fungsi jaringan yang terkena radiasi.
Adapun ciri-ciri efek non-stokastik, antara lain:
o Mempunyai dosis ambang
o Umumnya timbul beberapa saat setelah radiasi
o Adanya penyembuhan spontan (tergantung keparahan)
o Tingkat keparahan tergantung terhadap dosis radiasi
o Efek ini meliputi: luka bakar, sterilitas / kemandulan, katarak (efek
somatik).

18
Pengaruh Radiasi Terhadap Organ Tubuh Manusia :
1. Organ Kulit
Efek deterministik pada kulit bergantung pada besarnya dosis. Paparan
radiasi sekitar 2-3 Gy dapat menimbulkan efek kemerahan (eritema). Pada
kulit saat dosis sekitar 3– 8 Gy menyebabkan terjadinya kerontokan rambut
(epilasi) dan pengelupasan kulit (deskuamasi kering) dalam waktu 3– 6 minggu
setelah paparan radiasi.
Pada dosis yang lebih tinggi, sekitar 12– 20 Gy, akan mengakibatkan
terjadinya pengelupasan kulit disertai dengan pelepuhan dan bernanah (blister)
serta peradangan akibat infeksi pada lapisan dalam kulit (dermis) sekitar 4– 6
minggu kemudian. Kematian jaringan (nekrosis) timbul dalam waktu 10 minggu
setelah paparan radiasi dengan dosis lebih besar dari 20 Gy, sebagai akibat dari
kerusakan yang parah pada kulit dan pembuluh darah. Bila dosis yang di terima
mencapai 50 Gy, nekrosis akan terjadi dalam waktu yang lebih singkat yaitu
sekitar 3 minggu.
Efek stokastik pada kulit adalah kanker kulit. Keadaan ini, berdasarkan
studi epidemiologi, banyak dijumpai pada para penambang uranium yang
menderita kanker kulit di daerah muka akibat paparan radiasi dari debu uranium
yang menempel pada muka.
2. Mata
Mata terkena paparan radiasi baik akibat dari radiasi lokal (akut atau
protraksi) maupun paparan radiasi seluruh tubuh. Lensa mata adalah struktur mata
yang paling sensitif terhadap radiasi. Kerusakan pada lensa diawali dengan
terbentuknya titik-titik kekeruhan atau hilangnya sifat transparansi sel serabut
lensa yang mulai dapat dideteksi setelah paparan radiasi sekitar 0,5 Gy.
Kerusakan ini bersifat akumulatif dan dapat berkembang sampai terjadi kebutaan
akibat katarak. Tidak seperti efek deterministik pada umumnya, katarak
tidak akan terjadi beberapa saat setelah paparan, tetapi setelah masa laten berkisar
dari 6 bulan sampai 35 tahun, dengan rerata sekitar 3 tahun
3. Paru
Paru dapat terkena paparan radiasi eksterna dan interna. Efek
deterministik berupa pneumonitis biasanya mulai timbul setelah beberapa minggu

19
atau bulan. Efek utama adalah pneumonitis interstisial yang dapat diikuti dengan
terjadinya fibrosis sebagai akibat dari rusaknya sel sistim vaskularisasi kapiler dan
jaringan ikat yang dapat berakhir dengan kematian. Kerusakan sel yang
mengakibatkan terjadinya peradangan akut paru ini biasanya terjadi pada dosis 5 –
15 Gy.
Perkembangan tingkat kerusakan sangat bergantung pada volume paru
yang terkena radiasi dan laju dosis. Hal ini juga dapat terjadi setelah inhalasi
partikel radioaktif dengan aktivitas tinggi dan waktu paro pendek. Setelah
inhalasi, distribusi dosis dapat terjadi dalam periode waktu yang lebih singkat atau
lebih lama, antara lain bergantung pada ukuran partikel dan bentuk kimiawinya.
Efek stokastik berupa kanker paru. Keadaan ini banyak dijumpai pada para
penambang uranium. Selama melakukan aktivitasnya, para pekerja menginhalasi
gas Radon-222 sebagai hasil luruh dari uranium.
4. Organ reproduksi
Efek deterministik pada organ reproduksi atau gonad adalah sterilitas atau
kemandulan. Paparan radiasi pada testis akan mengganggu proses pembentukan
sel sperma yang akhirnya akan mempengaruhi jumlah sel sperma yang akan
dihasilkan. Proses pembentukan sel sperma diawali dengan pembelahan sel
stem/induk dalam testis. Sel stem akan membelah dan berdiferensiasi sambil
bermigrasi sehingga sel yang terbentuk siap untuk dikeluarkan. Dengan demikian
terdapat sejumlah sel sperma dengan tingkat kematangan yang berbeda, yang
berarti mempunyai tingkat radio sensitivitas yang berbeda pula. Dosis radiasi 0,15
Gy merupakan dosis ambang sterilitas sementara karena sudah mengakibatkan
terjadinya penurunan jumlah sel sperma selama beberapa minggu. Dosis radiasi
sampai 1 Gy menyebabkan kemandulan selama beberapa bulan dan dosis 1– 3Gy
kondisi steril berlangsung selama 1– 2 tahun. Menurut ICRP 60, dosis ambang
sterilitas permanen adalah 3,5– 6 Gy.
Pengaruh radiasi pada sel telur sangat bergantung pada usia. Semakin tua
usia, semakin sensitif terhadap radiasi. Selain sterilitas, radiasi dapat
menyebabkan menopouse dini sebagai akibat dari gangguan hormonal system
reproduksi. Dosis terendah yang diketahui dapat menyebabkan sterilitas

20
sementara adalah 0,65 Gy. Dosis ambang sterilitas menurut ICRP 60 adalah 2,5–
6 Gy.
Pada usia yang lebih muda (20-an), sterilitas permanen terjadi pada
dosisyang lebih tinggi yaitu 12– 15 Gy, tetapi pada usia 40-an dibutuhkan dosis
5– 7 Gy.
Efek stokastik pada sel germinal lebih dikenal dengan efek pewarisan yang
terjadi karena mutasi pada gen atau kromosom sel pembawa keturunan (sel
sperma dan sel telur). Perubahan kode genetik yang terjadi akibat paparan radiasi
akan diwariskan pada keturunan individu terpajan. Penelitian pada hewan dan
tumbuhan menunjukkan bahwa efek yang terjadi bervariasi dari ringan hingga
kehilangan fungsi atau kelainan anatomik yang parah bahkan kematian premature.
5. Sistem Pembentukan Darah
Sumsum tulang sebagai tempat pembentukan sel darah, adalah organ
sasaran paparan radiasi dosis tinggi akan mengakibatkan kematian dalam waktu
beberapa minggu. Hal ini disebabkan karena terjadinya penurunan secara tajam
sel sistem/induk pada sumsum tulang. Dosis radiasi seluruh tubuh sekitar 0,5 Gy
sudah dapat menyebabkan penekanan proses pembentukan sel-sel darah
sehingga jumlah sel darah akan menurun.
Komponen sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(lekosit) dan sel keping darah (trombosit). Sel leukosit dapat dibedakan atas sel
limfosit dan netrofil. Radio sensitivitas dari berbagai jenis sel darah inibervariasi,
sel yang paling sensitif adalah sel limfosit dan sel yang paling resisten adalah sel
eritrosit.
Jumlah sel limfosit menurun dalam waktu beberapa jam pasca paparan
radiasi, sedangkan jumlah granulosit dan trombosit juga menurun tetapi dalam
waktu yang lebih lama, beberapa hari atau minggu. Sementara penurunan jumlah
eritrosit terjadi lebih lambat, beberapa minggu kemudian. Penurunan jumlah sel
limfosit absolut/total dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat keparahan
yang mungkin diderita seseorang akibat paparan radiasi akut. Pada dosis yang
lebih tinggi, individu terpapar umumnya mengalami kematian sebagai akibat dari
infeksi karena terjadinya penurunan jumlah sel lekosit (limfosit dan granulosit)

21
atau dari pendarahan yang tidak dapat dihentikan karena menurunnya jumlah
trombosit dalam darah.
Efek stokastik pada sumsum tulang adalah leukemia dan kanker sel darah
merah. Berdasarkan pengamatan pada para korban bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki, leukemia merupakan efek stokastik tertunda pertama yang terjadi
setelah paparan radiasi seluruh tubuh dengan masa laten sekitar 2 tahun dan
puncaknya setalah setelah 6–7 tahun.
6. Sistem Pencernaan
Bagian dari sistim ini yang paling sensitif terhadap radiasi adalah usus
halus. Kerusakan pada saluran pencernaan makanan memberikan gejala mual,
muntah, diare, gangguan sistem pencernaan dan penyerapan makanan. Dosis
radiasi yang tinggi dapat mengakibatkan kematian karena dehidrasi akibat
muntah dan diare yang parah. Efek stokastik yang timbul berupa kanker pada
epitel saluran pencernaan.
7. Janin
Efek paparan radiasi pada janin dalam kandungan sangat bergantung pada
kehamilan pada saat terpapar radiasi. Dosis ambang yang dapat menimbulkan
efek pada janin adalah 0,05 Gy. Perkembangan janin dalam kandungan dapat
dibagi atas 3 tahap. Tahap pertama yaitu preimplantasi dan implantasi yang
dimulai dari proses pembuahan sampai menempelnya zigot pada dinding
rahim yang terjadi sampai umur kehamilan 2 minggu. Pengaruh radiasi pada tahap
ini menyebabkan kematian janin.
Tahap kedua adalah organo genesis pada masa kehamilan 2–7 minggu.
Efek yang mungkin timbul berupa malformasi tubuh dan kematian neonatal.
Tahap ketiga adalah tahap fetus pada usia kehamilan 8– 40minggu dengan
pengaruh radiasi berupa retardasi pertumbuhan dan retardasimental. Janin juga
berisiko terhadap efek stokastik dan yang paling besar adalah risiko terjadinya
leukemia pada masa anak-anak.
Kemunduran mental diduga terjadi karena salah sambung sel-sel syaraf di
otak yang menyebabkan penurunan nilai IQ. Dosis ambang diperkirakan sekitar
0,1 Gy untuk usia kehamilan 8 - 15 minggu dan sekitar 0,4 - 0,6 Gy untuk usia
kehamilan16-25 minggu. Pekerja wanita yang hamil tetap dapat bekerja selama

22
dosis radiasi yang mungkin diterimanya harus selalu dikontrol secara ketat.
Komisi merekomendasikan pembatasan dosis radiasi yang diterima permukaan
perut wanita hamil tidak lebih dari 1 mSv.
Efek stokastik berupa kanker tiroid. Hal ini banyak terjadi sebagai akibat
paparan radiasi tindakan radioterapi (sampai 5 Gy) pada kelenjar timus bayi yang
menderita pembesaran kelenjar timus akibat infeksi. Paparan radiasi pada kelenjar
timus yang berada tepat di bawah kelenjar tiroid ini menyebabkan kelenjar tiroid
juga terirradiasi walaupun dengan dosis yang lebih rendah. Hal ini mengakibatkan
individu tersebut menderita kanker tiroid setelah dewasa.
 Penyakit akibat radiasi
1. Radiodermatitis
Radiodermatitis adalah peradangan kulit yang terjadi akibat penyinaran
local dengan dosis tinggi. Dimulai dengan tanda kemerahan pada kulit yang
terkena radiasi, kemudian diikuti oleh masa tenang beberapa hari sampai 3
minggu baru kemudian muncul gejala yang khas tergantung dari dosis yang
diterima.

2. Katarak
Katarak terjadi pada penyinaran mata dengan dosis diatas 1,5 Gray (Gy),
dengan masa tenang antara 5 – 10 tahun.
3. Sterilitas (kemandulan)
Sterilitas dapat terjadi karena akibat penyinaran pada kelenjar kelamin. Efek
berupa pengurangan kesuburan sampai kemandulan. Sel sperma yang muda lebih
peka dari pada sel tua. Aktivitas pembentukan sperma dapat mulai menurun pada
dosis beberapa senti Gray (cGy).
4. Sindrom Rasiasi Akut

23
Sindrom Radiasi Akut dapat terjadi setelah penyinaran seluruh tubuh dengan
dosis lebih dari 1 Gy yang diterima secara sekaligus dengan laju dosis yang cukup
tinggi oleh radiasi yang berdaya tembus besar.
Gejala diawali dengan gejala tidak khas seperti mual dan muntah, demam,
rasa lelah, sakit kepala serta diare, kemudian diikuti masa tenang selama 2 sampai
3 minggu. Pada masa ini gejala mereda, setelah masa tenang lewat, maka timbul
nyeri perut, diare, perdarahan, anemia, infeksi bahkan kematian.

2.4 Pengertian Bioradiasi


Bioradiasi adalah ilmu yang mempelajari tentang radiasi. Radiasi yaitu
energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel atau gelombang. Dalam fisika
radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui media atau
melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain, (misalnya, sebagaimana
terjadi pada senjata nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat
merujuk kepada radiasi elektromagnetik yaitu gelombang radio, cahaya infra
merah, cahaya tampak, sinar ultra violet, dan X-ray, radiasi akustik, atau untuk
proses lain yang lebih jelas.
Adapun tujuan dari bioradiasi ini adalah untuk memudahkan para ahli
bidang kesehatan dalam menengani masalah medis, terutama pada bagian dalam
tubuh manusia.

2.5 Prinsip-prinsip Bioradiasi


Bioradiasi menggunakan pancaran gelombang elektro magnetis untuk
diradiasikan dalam tubuh. Sinar yang digunakan biasanya adalah sinar X dan sinar
gamma.
Sinar X Terkadang disebut dengan rontgen dan diproduksi melalui mesin
demi kepentingan medis. Terapi radiasi terutama menggunakan sinar X yang
berenergi tinggi yang dihasilkan akselator.
Seperti disebutkan diatas, radiasi tersebut merupakan sejenis radiasi
elektromagnetik yang sifatnya serupa dengan sinar gamma, tetapi cara
pembuatannya berbeda. Satu langkah yang sangat penting dalam produksi sinar X
adalah pemanasan sebuah filamen untuk menghasilkan eektron, yang kemudian
dipercepat untuk menyerbu suatu logam target untuk menghasilkan sinar X.

24
Voltase yang digunakan untuk mempercepat elektron dalam mesin sinar X
mungkin berkisar antara 20.000 sampai 200.000 volt, tetapi sekitar 80.000 untuk
mesin diagnostik yang khas. Voltase yang digunakan akan menentukan panjang
gelombang minimum sinar X yang dihasilkan, dan panjang gelombang tersebut
pada gilirannya akan menentukan daya penetrasi radiasi ini. Panjang gelombang
yang panjang dapat diserap hampir seluruhnya oleh kulit, sementara panjang
gelombang yang pendek akan menembus sangat dalam, beberapa bahkan
menembus sedemikian dalam sehingga benar-benar melalui tubuh. Daya penetrasi
yang berlainan tersebut memungkinkan dilakukannya teknik diagnostik karena
sinar yang muncul digunakan untuk memengaruhi foto yang sudah terbentuk.
Akan menunjukkan bayangan gambar tulang tersebut.
Adapun terbentuknya sinar gamma merupakan hasil disintegrasi atom. Inti
atom yang mengalami dsintegrasi dengan memancarkan sinar alfa akan terbentuk
inti-inti baru dengan memiliki tingkat energi yang agak tinggi. Kemudian terjadi
proses transisi ke tingkat energi yang lebih rendah atau tingkat dasar sambil
memancarkan sinar gamma. Sinar gamma sama halnya dengan sinar X, termasuk
gelombang elektromagnetis, jika sinar gamma menembus lapisan materi setebal X
maka intensitas akan berkurang.

2.6 Kegunaan Sinar X Dalan Bioradiasi


1. Perobatan
 Sinar X lembut
Untuk mengambil gambar foto yang dikenal sebagai radiograf. Sinar X
bisa menembus badan manusia tapi diserap oleh bahagian yang lebih tumpat
seperti tulang . Gambar foto sinar ini dapat mengesan tulang yang patah dan
menyiasat organ dalam tubuh manusia.
 Sinar X keras
Untuk memusnahkan sel-sel kanker yang disebut dengan radioterapi.
2. Industri
 Mengesan struktur binaan atau bagian dalam mesin yang mengalami
kecatatan.

25
 Menyiasat rekahan dalam paip logam, dinding konkrit dan dandang tekanan
tinggi.
 Memeriksa struktur palstik dan getah yang mengalami keretakan.

3. Penyelidikan
 Sinar X dapat menyelidiki jarak pemisahan antara atom-atom dalam suatu
bahan hablur.
 Untuk mengambil gambar foto yang dikenal sebagai radiograf. Sinar X
bisa menembus badan manusia tapi
 Diserap oleh bahagian yang lebih tumpat seperti tulang. Gambar foto
sinar ini dapat mengesan tulang yang patah dan menyiasat organ dalam
tubuh manusia.

2.7 Radioisotop Dalam Diagnosis dan Riset


Radiasi ternyata paling bermanfaat dalam penggunaanya, sebagai alat
diagnostik dalam pengobatan, untuk mengkaji fungsi organ-organ tertentu dan
untuk mencukur kuantitas seperti volume darah, kecepatan sirkulasi, arus balik sel
darah merah, curah jantung, konsentrasi hormon, dan untuk menentukan lokasi
tumor dan lesi dalam otak, ginjal, hati, paru-paru tulang.
Beberapa keuntungan penggunaan radioisotop mencakup:
a. Radioisotop dapat dilekatkan dengan unit tertentu mis, sel darah merah, dan
senyawa semacam protein serum, enzim, dsb.
b. Beberapa radioisotop secara kimiawi serupa dengan zat yang ada dalam tubuh.
Zat tersebut dapat ditarik untuk melakukan fungsi yang sama sehingga baik zat
maupun perilakunya dapat lebih mudah dikaji atau diperiksa.
c. Beberapa radioisotop akan mencari area tertentu dalam tubuh dan sifat tersebut
dapat mempermudah riset terhadap area tersebut.
d. Radioisotop dapat diberikan secara oral atau melalui injeksi dan hanya
memerlukan dosis yang sangat sedikit. Sehingga tubuh ditempatkan pada tingkat
radiasi yang minimum dan kerusakan sel tidak akan terjadi.
e. Jumlah radioaktivitas yang sangat kecil sekalipun dapat terdeteksi dengan
akurat melalui detektor dan kamera atau pemindai.`
f. Beberapa radioisotop dapat digunakan untuk memriksa fungsi kelenjar melalui

26
pemeriksaan darah.
 Radioimmunoassays (RIA)
Teknik ini melibatkan radiotracer dan sangat sensitif terhadap kadar yang
sangat rendah dari hormon, obat atau banyak zat lainnya. Metode ini
menggunakan sampel darah urine atau jaringan.
 Positron Emission Tomography (PET)
Metode yang merupakan kemajuan sangat menarik dibidang kedokteran
nuklir ini merupakan perpaduan dari tracer radioisotop konvensional dengan
kemampuan pemetaan sinar X. Penerapan
terbesar metode tersebut sejauh ini adalah dalam pengkajian metabolisme otak,
yang digunakan untuk membedakannya, misalnya aktivitas otak dalam berbicara
dengan aktivitas otak saat mendengarkan musik. Metode ini menawarkan peluang
yang besar dalam bidang riset aktivitas otak. Penerapan yang lain mencakup
pangkajian berbagai jenis kanker, termasuk peningkatan kefektifan terapi, dan
gangguan jiwa lainnya.
 Kewaspadaan
Karena kuantitas yang digunakan dalam diagnosis maupun pengkajian
terhadap pasien begitu rendahnya, isotop biasanya tidak memberikan bahaya
pejanan yang signifikan dalam asuhan keperawatan yang biasa. Perawatan pada
pasien mungkin tidak banyak berubah walau disertai dengan adanya isotop.
Peringatan yang diberikan akan bergantung pada hasil pemeriksaan, dosis, cara
tubuh menangani isotop dan tentu saja, isotop tertentu yang digunakan.
Satu hal yang paling diperlukan disini adalah penanganan dan
pembuangan yang cermat sebagian limbah atau cairan sebagian limbah atau cairan
yang berasal dari tubuh pasien misalnya darah, urine, muntahan, keringat, dan
tinja, dengan demikian cairan tersebut harus ditangani dengan hati-hati dan
berkaitan dengan urine misalnya pengumpulan dan pembuangannya harus sesuai
dengan prosedur dan kebijakan institusi perawatan.

2.8 Penerapan Radioterapi


Tujuan utama penggunaan terapi radiasi adalah menghancurkan tumor atau
sel ganas tanpa membahayakan jaringan disekitarnya. Konsep terapi didasarkan

27
pada sel-sel tumor yang memang lebih sensitif terhadap radiasi (karena sel ini
biasanya membelah lebih cepat dari pada sel yang lain) dan lebih lambat pulih
setelah dirusak dibandingkan sel yang sehat/normal. Metode ini menawarkan
kelebihan yang sangat jelas karena menghancurkan atau merusak lebih banyak sel
abnormal dari pada sel yang normal. Jika terapi juga didasarkan pada program
yang pelaksanaannya berkala dengan jeda waktu antarsesi yang singkat,
kemungkinan sel normal yang rusak untuk pulih lebih besar dari pada sel yang
abnormal. Ada dosis maksimum yang dapat ditoleransi sel normal yang dikenal
sebagai dosis radiasi maksimal yang ditoleransi. Lebih dari dosis tersebut sel yang
sehat mungkin tidak dapat pulih dari kerusakan dan efek samping yang
ditimbulkan radiasi.
Terapi radiasi dapat dilaksanakan secara terpisah atau bersama dengan
bentuk terapi yang lain. Seperti obat atau pembedahan. Tujuan keseluruhan terapi
itu bisa bersifat aktif (menghancurkan sel abnormal) ataupun paliatif (mengurangi
ketidaknyamanan atau memperpanjang kehidupan dalam kondisi terminal). Terapi
yang paling efektif dapat dilaksanakan pada tumor yang terletak di area yang
dapat menerima dosis menengah, misalnya dikulit atau membran mukosa atau
area rongga tubuh yang memiliki akses ke luar tubuh. Terapi tumor pada dalam
tubuh misalnya dipankreas keefektifannya minimal karena besarnya jumlah
jaringan normal yang dapat terkena dampak sinar yang melaluinya harus
dipertimbangkan.
A. Penerapan Eksternal Radiasi
Penerapan eksternal melibatkan penggunaan mesin sinar X berenergi
tinggi atau sumber radioisotop. Radiasi megavolt memiliki daya penetrasi yang
lebih besar dari pada radiasi voltase rendah, kerusakan yang ditimbulkan pada
kulit rendah pada saat radiasi tersebut masuk, kurang dapat diabsorbsi tulang, dan
tidak begitu menyebar sehingga kerusakan yang ditimbulkan pada jaringan
normal juga berkurang.
1. Terapi Sinar X digunakan untuk pengobatan kanker kulit (radiasi tingkat
rendah) atau kanker yang lokasinya dalam.
2. Radioisotop

28
Istilah radioisotop digunakan dalam dua konteks. Pertama, dalam
teleterapi (terapi jarak jauh) dalam bentuk bom, misalnya, dengan menggunakan
sumber berintensitas tinggi dari kobalt atau terkadang kaesium-137 (hanya radiasi
gamma yang digunakan). Sumbernya bersifat tertutup dalam suatu tempat atau
kerangka pelindung yang disebut sebagai bom. Pasien ditempatkan pada jarak
tertentu dari sumber yang akan diam atau bergerak mengitari pasien untuk
mencapai semua urea pertumbuhan dan agar penyebaran radiasi merata.Teknik
tersebut digunakan untuk mengirafiasi atau menmghancurkan kanker pada bagian
dalam tubuh karena kerusakan yang ditimbulkan pada jaringan kulit lebih kecil.
Contoh yang sesuai untuk terapi ini adalah pada tumor otak, esofagus atau tumor
paru. Manfaat lainnya adalah terapi ini menyebarkan kesakitan yang muncul
akibat radiasi lebih rendah dibandingkan yang diakibatkan oleh sinar X.
Penggunaan kedua adalah moul eksternal yang mengandung radioisotop,
kobalt-60 dan strontium radioaktif (yang sangat berguna dalam mengobati
karsinoma pada bibir, telinga, kulit kepala, mulut, dsb) yang diterapkan pada
permukaan kulit. Muld pelindung terkadang perlu dibengkokan atau ditekuk agar
sesuai dengan posisi atau bentuk teretentu berkaitan dengan
tumor yang akan di terapi. Perlu diingat bahwa isotop sendiri tidak berkontak
langsung dengan kulit sehingga jika wadah yang menyelubungi sumber itu
dipindahkan dari dalam ruangan, tidak ada materi radioaktif yang tertinggal.
Dalam hal ini, pasien sebenarnya memiliki sumber radiasi pada tubuhnya
sehingga tibdakan pencegahan khusus dan lebih ekstensif harus dijalankan.
B. Penerapan Internal Radiasi
Penerapan internal melibatkan penanaman radioisotop tertentu didalam
tubuh. Brakiterapi dilakukan jika dosis yang dibutuhkan untuk memengaruhi
tumor terlalu tinggi untuk dapat ditoleransi oleh jaringan sekitar. Energi radiasi
yang dihasilkan oleh sumber jenis ini tingkatnya lebih rendah sehingga daya
penetrasinya pun lebih rendah dari pada mesin pancaran eksternal yang dibahas
sebelumnya. Materi radioaktif yang berada dalam kateter atau selang dapat
ditanamkan langsung ke dalam tumor, kedalam jaringan yang berdekatan dengan
tumor atau kedalam sistem sirkulasi. Ini berarti pasien sebenarnya memiliki
sumber radiasi (mis.radioisotop) didalam tubuhnya sampai materi tersebut

29
akhirnya dikeluarkan atau sampai radioaktifitasnya tidak memadai lagi. Impian
dapat bersifat sementara dipasang ditempat selama beberapa hari (dikepala, leher
atau rahim) atau bersifat permanen. Seperti sebelumnya terapi ini memerlukan
tindakan pencegahan sangat penting yang harus dijalankan perawat dan mereka
yang berkontak langsung dengan pasien sampai sumber dikeluarkan langsung
dengan pasien sumber dikeluarkan atau sampai bahaya radiasi sepenuhnya hilang
1. Terapi Intrakavitas
Terapi intrakavitas melibatkan penempatan isotop radioaktif kedalam
rongga tubuh untuk mengiradiasi karsinoma disebelah atau di dekatnya, di dalam
kandung kemih, rahim, sinus maksilar, dsb. Dalam terapi ini isotop biasa di
bungkus oleh beberapa materi yang baisa di pakai untuk membungkusnya dan
untuk mengatur jenis radiasi yang akan digunakan.
Peralatan yang digunakan untuk pembungkusan sumber memiliki beragam
bentuk dan ukuran tetapi mencakup kapsul slang plastik, bentuk tetesan dan
bahkan balon yang diletakkan kedalam posisinya dengan bantuan instrumen,
tetapi biasanya tanpa pembedahan. Teknik intrakavitas ini sangat efektif untuk
pengobatan kanker pada rahim dan kandungan kemi
2. Terapi Intertitial
Radioisotop dapat diimplantasikan melalui pembedahan langsung kedalam
jaringan atau area tumor yang ganas, misalnya sebuah kelenjar dan umunya
berada di dalam jarum, tetesan, bijih, pita maupun kateter. Suatu isotop dan
wadahnya yang tepat akan dipilih berdasarkan posisi tumor, ukuran, bentuk, dan
jenisnya serta faktor semacam tingkatan dosis yang diinginkan.
3. Terapi Sistemik
Penggunaan radioisotop yang diberikan secara intravena yang mengobati
gangguan tertentu. Misalnya sumsum tulang yang menggunakan natrium fosfat.
Perlu diperhatikan bahwa pola distribusi, metabolisme, dan ekskresi
radioisotop yang tidak tertutup pada pasien itu berlainan. Ada isotop yang
dieksresikan dalamn urine, tinja beberapa dieksresikan dengan cepat, beberapa
lagi dieksresikan.

30
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam
bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik atau cahaya (foton) dari
sumber radiasi. Radiasi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan
manusia. Salah satunya adalah dapat mengubah struktur genetik seseorang. Ilmu
yang mempelajari tentang radiasi adalah bioradiasi. Adapun tujuan dari bioradiasi
ini adalah untuk memudahkan para ahli bidang kesehatan dalam menengani
masalah medis, terutama pada bagian dalam tubuh manusia. Radiasi juga paling
bermanfaat dalam penggunaanya, sebagai alat diagnostik dalam pengobatan,
untuk mengkaji fungsi organ-organ tertentu dan untuk mencukur kuantitas seperti
volume darah, kecepatan sirkulasi, arus balik sel darah merah, curah jantung,
konsentrasi hormon, dan untuk menentukan lokasi tumor dan lesi dalam otak,
ginjal, hati, paru-paru tulang. Radiasi memiliki dampak baik dan dampak buruk
dalam kehidupan. Dampak baik dari radiasi dapat dimanfaatkan untuk
kelangsungan kehidupan yang lebih baik lagi dan untuk meminimalisasi dampak
buruk dapat dialkukan dengan cara terapi intrakavitas, terapi intertitial dan terapi
sistemik.

3.2 Saran
Demikian makalah ini kami buat, kami menyadari bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan
saran dari pembaca sangat kami butuhkan, guna perbaikan makalah berikutnya
dan semoga makalah ini berguna untuk kita semua.

31
DAFTAR PUSTAKA

Alan, Martin dan Samuael, A Habirsonm. 1986. Radiation Protection Third


Edition. New York: NY 100.
Alatas, Zubaidah dan Lusiyanti, Yanti. 2001. Efek kesehatan radiasi non pengion
pada manusia. Jakarta: Pusat Keselamatan Radiasi dan Biomedika
Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Amsyari, Fuad. 1989. Radiasi Dosis Rendah dan Pengaruhnya Terhadap
Kesehatan. Surabaya: Airlangga University Press.
Arief, Latar Muhamad. 2012. Pengendalian Bahaya Radiasi Elektromagnitik di
Tempat Kerja. Jakarta : Universitas Esa Unggul.
BATAN. 2000. Materi Diklat Proteksi Radiasi Bidang Radiodiagnostik. Jakarta:
Pusdiklat
Cember, Herman. 1988. Pengantar Fisika Kesehatan. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Cree, dkk. 2012. Sains dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
Hani, Ahmadi Ruslan. 2007. Fisika Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendika Press.
Joyce, dkk. 2008. Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan. Jakarta: Erlangga
Swamardika, Alit, I.B. 2009. Pengaruh Radiasi Gelombang Elektromagnetik
Terhadap Kesehatan Manusia. Bali: Universitas Udayana.

32