Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

HHD ( HIPERTENSI HEART DISEASE )

NAMA : HAWINEYNI SYORETTA


NIM : PO.62.20.1.16.020

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKARAYA
PRODI DIII KEPERAWATAN/REGULER XIX
TAHUN 2017
LAPORAN PENDAHULUAN
HHD ( HIPERTENSI HEART DISEASE )

A. PENGERTIIAN

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan


sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. (Somantri, 2008)
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104 mmHg,
hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat
bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan
tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik. (Paula, 2009)
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi
adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah.
(Mansjoer, 2008)
Hipertensi Heart Disease (HHD) adalah istilah yang diterapkan untuk menyebutkan
penyakit jantung secara keseluruhan, mulai dari left ventricle hyperthrophy (LVH), aritmia
jantung, penyakit jantung koroner, dan penyakit jantung kronis, yang disebabkan karena
peningkatan tekanan darah, baik secara langsung maupun tidak langsung. (Morton, 2012).

B. ETIOLOGI

Menurut Oman (2008), hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2


golongan besar yaitu :
a. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian
telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor
tersebut adalah sebagai berikut :
1). Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
2). Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah :
a). Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat.
b). Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan).
c). Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih)
3). Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah:
a). Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr).
b). Kegemukan atau makan berlebihan.
c). Stress.
d). Merokok.
e). Minum alcohol.
f). Minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin)

b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.


1). Ginjal : Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor.
2).Vascular : Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli
kolestrol, Vaskulitis.
3). Kelainan endokrin : DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme.
4). Saraf : Stroke, Ensepalitis, SGB.
5). Obat – obatan : Kontrasepsi oral, Kortikosteroid.

Menurut Mansjoer (2008), penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah
terjadinya perubahan-perubahan pada :
1). Elastisitas dinding aorta menurun.
2). Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
3). Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20
tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi
dan volumenya.
4). Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas
pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
5). Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

C. PATOFISIOLOGI

Penyulit utama pada penyakit jantung hipertensif adalah hipertrofi ventrikel kiri yang
terjadi sebagai akibat langsung dari peningkatan bertahap tahanan pembuluh darah perifer
dan beban akhir ventrikel kiri. Faktor yang menentukan hipertrofi ventrikel kiri adalah derajat
dan lamanya peningkatan diastole. Pengaruh beberapa faktor humoral seperti rangsangan
simpato-adrenal yang meningkat dan peningkatan aktivasi system renin-angiotensin-
aldosteron (RAA) belum diketahui, mungkin sebagai penunjang saja. Fungsi pompa ventrikel
kiri selama hipertensi berhubungan erat dengan penyebab hipertrofi dan terjadinya
aterosklerosis primer.
Pada stadium permulaan hipertensi, hipertrofi yang terjadi adalah difus (konsentrik).
Rasio massa dan volume akhir diastolik ventrikel kiri meningkat tanpa perubahan yang
berarti pada fungsi pompa efektif ventrikel kiri. Pada stadium selanjutnya, karena penyakir
berlanjut terus, hipertrofi menjadi tak teratur, dan akhirnya eksentrik, akibat terbatasnya
aliran darah koroner. Khas pada jantung dengan hipertrofi eksentrik menggambarkan
berkurangnya rasio antara massa dan volume, oleh karena meningkatnya volume diastolik
akhir. Hal ini diperlihatkan sebagai penurunan secara menyeluruh fungsi pompa (penurunan
fraksi ejeksi), peningkatan tegangan dinding ventrikel pada saat sistol dan konsumsi oksigen
otot jantung. Hal-hal yang memperburuk fungsi mekanik ventrikel kiri berhubungan erat bila
disertai dengan penyakit jantung koroner.
Walaupun tekanan perfusi koroner meningkat, tahanan pembuluh koroner juga
meningkat. Jadi cadangan aliran darah koroner berkurang. Perubahan-perubahan
hemodinamik sirkulasi koroner pada hipertensi berhubungan erat dengan derajat hipertrofi
otot jantung. Ada 2 faktor utama penyebab penurunan cadangan aliran darah koroner, yaitu :
a). Penebalan arteriol koroner, yaitu bagian dari hipertrofi umum otot polos pembuluh darah
resistensi arteriol (arteriolar resistance vessels) seluruh badan. Kemudian terjadi retensi
garam dan air yang mengakibatkan berkurangnya compliance pembuluh-pembuluh ini dan
mengakibatkan tahanan perifer;
b). Hipertrofi yang meningkat mengakibatkan kurangnya kepadatan kepiler per unit otot
jantung bila timbul hipertrofi eksentrik. Peningkatan jarak difusi antara kapiler dan serat otot
yang hipertrofik menjadi factor utama pada stadium lanjut dari gambaran hemodinamik ini.
Jadi, faktor koroner pada hipertensi berkembang menjadi akibat penyakit, meskipun tampak
sebagai penyebab patologis yang utama dari gangguan aktifitas mekanik ventrikel kiri.
(Chang, 2009)
PATHWAY

Genetik Respon neurologi terhdp


stress

Kurang terpajang
Stress lingkungan informasi

Insulin
Kebiasaan hidup Obesitas meningkat Kurang
pengetahuan

Merokok, alkohol, Hipertensi primer


konsumsi garam ANSIETAS
berlebihan

Elastisitas dinding aorta Hipertrofi ventrikel kiri


menurun, katub jantung
menebal dan kaku,
kemampuan memompa Terbatasnya aliran darah
Usia lanjut darah menurun, koroner
hilangnya elastisitas
pembuluh darah,
meningkatnya resistensi Iskemia miokard
pembuluh darah perifer.

PENURUNAN CURAH
Saraf stroke, Hipertensi JANTUNG
ensephalitis, SGB sekunder

Ginjal: glomurulonefritis, Kurangnya suplai oksigen


Peningkatan ke jaringan
piolenefritis, nekrosis
vaskuler serebral
tubular akut, tumor

Kelemahan umum
Vaskular: arteroklerosis, NYERI
hiperplasia, trombosis,
aneurisma, emboli INTOLERANSI
kolesterol, vaskulitis Suplai darah ke
AKTIVITAS
otak menurun

Kelainan, DM,
hipertiroidisme, RESIKO KETIDAKEFEKTIFAN
hipotiroidisme PERFUSI JARINGAN OTAK

(Chang, 2009)
D. TANDA DAN GEJALA
pada pemeriksaan fisik mungkin tidak di jumpai kelainan apapun selain tekanan darah
yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat
(kupulan cairan), penyenpitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema
pada diskus optikus).
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai
bertahun-tahun. Gejala bila ada, biasanya menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan
manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah
bersangkutan. Penyakit arteri koroner dan angina adalah gejala yang menyertai hipertensi.
Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel saat dipake
berkontrasi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabia jantung tidak mampu lagi
anahan peningkatkan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri. Perubahan patologis
pada ginjal dapat bermanifetasi sebagai nokturis (peningkatan urinasi pada malam hari) dan
azoremia (peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin). Keterlibatan pembuluh
darah otak dapat menimbulkan stroks atau serangan stremik transien yang termanifestasi
sebagai patolisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan.
Pada penderita stroks, dan pada penderita hipertensi disertai serangan iskemia ansidens infark
oatak mencapai 80%.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Somantri (2008), pemeriksaan penunjang untuk pasien Hipertensi Heart
Disease (HHD), yaitu :
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
2. Pemeriksaan retina.
3. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan
jantung.
4. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri.
5. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa.
6. Pemeriksaan; renogram, pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan fungsi.
7. Ginjal terpisah dan penentuan kadar urin.
8. Foto dada dan CT scan.

F. PENATALAKSANAAN
Pengobatan pasien dengan penyakit jantung hipertensi terbagi dalam dua kategori pengobatan
dan pencegahan tekanan darah yang tinggi dan pengobatan penyakit jantung hipertensi.
Tekanan darah ideal adalah kurang dari 140/90 pada pasien tanpa penyakit diabetes dan
penyakit ginjal kronik dan kurang dari 130/90 pada pasien dengan penyakit diatas. Berbagai
macam strategi pengobatan penyakit jantung hipertensi menurut Oman (2008), yaitu :
1. Pengaturan Diet
Berbagai studi menunjukkan bahwa diet dan pola hidup sehat dan atau dengan obat-obatan
yang menurunkan gejala gagal jantung dan bisa memperbaiki keadaan LVH. Beberapa diet
yang dianjurkan, yaitu :
a. Rendah garam,beberapa studi menunjukan bahwa diet rendah garam dapat menurunkan
tekanan darah pada pasien hipertensi.Dengan pengurangan komsumsi garam dapat
mengurangi stimulasi system renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi sebagai anti
hipertensi.Jumlah intake sodium yang dianjurkan 50–100 mmol atau setara dengan 3-6
gram garam per hari.
b. Diet tinggi potassium,dapat menurunkan tekanan darah tapi mekanismenya belum
jelas.Pemberian Potassium secara intravena dapat menyebabkan vasodilatasi,yang
dipercaya dimediasi oleh nitric oxide pada dinding vascular.
c. Diet kaya buah dan sayur.
d. Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung koroner.
e. Tidak mengkomsumsi Alkohol.
2. Olahraga Teratur
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda bermanfaat untuk menurunkan
tekanan darah dan dapat memperbaiki keadaan jantung. Olaharaga isotonik dapat juga bisa
meningkatkan fungsi endotel, vasodilatasi perifer, dan mengurangi katekolamin plasma.
Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat dinjurkan
untuk menurunkan tekanan darah.
a. Penurunan Berat Badan
Pada beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan dengan kejadian
hipertensi dan LVH. Jadi penurunan berat badan adalah hal yang sangat efektif untuk
menurunkan tekanan darah. Penurunan berat badan (1kg/minggu) sangat dianjurkan.
Penurunan berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu menjadi perhatian khusus
karena umumnya obat penurun berat badan yang terjual bebas mengandung simpatomimetik,
sehingga dapat meningkatan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal jantung
dan terjainya eksaserbasi aritmia. Menghindari obat-obatan seperti NSAIDs, simpatomimetik,
dan MAO yang dapat meningkatkan tekanan darah atau menggunakannya dengan obat
antihipertensi.
b. Farmakoterapi
Pengobatan hipertensi atau penyakit jantung hipertensi dapat menggunakan berbagai
kelompok obat antihipertensi seperti thiazide, beta-blocker dan kombinasi alpha dan beta
blocker, calcium channel blockers, ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker dan
vasodilator seperti hydralazine. Hampir pada semua pasien memerlukan dua atau lebih obat
antihipertensi untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
HHD ( HIPERTENSI HEART DISEASE )

A. PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu
proses yang sistematis dalam pengumpulan data ini dari berbagai sumber data untuk
engevaluasi dan untuk mengindenfiklasi status kesehatan klien. (Nursalam 2001 : 17)

Wawancara, memberikan data yang perawat dapatkan dari pasien dan orang terdekat
lainnya melalui percakapan dan pengamatan :

1) Identitas klien :

Meliputi nama, umur, pendidikan, jenis kelamin, agama, pekerjaan, status marital, suku
bangsa, diagnosa medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no.rekam medis, ruang dan
alamat.

Identitas penanggung jawab :

Meliputi nama, umur, pendidikan, hubungan dengan klien dan alamat.

2) Riwayat kesehatan :

a) Keluhan utama : apa yang paling dirasakan saat ini ditanyakan meliputi
paliative/propokativ, quality, region/radian, skala dan time (PQRST).

b) Riwayat kesehatan sekarang : dikaji tentang proses penjalaran penyakit sampai dengan
timbulnyakeluhan 1 faktor yang memperberat dan yang memperingan kualitas dari keluhan
dan bagaimana klien menggambarkan yang dirasakan.

c) Riwayat kesehatan dahulu : dikaji penyakit yang pernah dialami klienyang berhubungan
dengan penyakit sekarang/penyakit lain seperti riwayat penyakit kandung kemih (gagal
jantung), penyakit sistemik (DM), dan hipertensi.

d) Riwayat kesehatan keluarga : dikaji kemungkinan pada keluarga ada riwayat penyakit
gangguan perkemihan, riwayat kesehatan yang menular/keturunan.

Pemeriksaan fisik.
1. Dikaji keadaan umum dan tanda-tanda vital

2. Sistem penglihatan : dikaji bentuk simetris, reflek pupil terhadap cahaya positif, bisa
membaca papan nama perawat dalam jarak 30 cm.

3. Sistem pernafasan : dikaji bentuk hidung simetris, mukosa hidung lembab, septum letar
ditengah, tidak terdapat pernafasan cupig hidung, pada palpasi sinus frontalis dan sinus
maksilaris tidak terdapat nyeri tekan, trakea ditengah, tidak terdapat retraksi dinding dada,
frekuensi nafas 24 x/menit, paru-paru resonan.

4. Sistem pencernaan : dikaji bentuk bibir simetris, mukosa merah muda lembab, jumlah gigi,
tidak terdapat caries uvula ditengah, tidak ada pembesaran, tonsil refleks menelan, bentuk
abdomen, turgor, bising usus 10 x/menit.

5. Sistem kardiovaskuler : dikaji konjungtiva, oedema, sianosis, peningkatan JVC, bunyi


jantung 5152 tekanan darah.

6. Sistem perkemihan : dikaji vesika urinaria, pembesaran ginjal, ada nyeri tekan.

7. Sistem persyarafan dikaji :

- sistem syaraf cranial, dikaji GCS dan 12 nervus saraf otak.


- Sistem motorik, dikaji gerakan tubuh dari ujung kepala sampai kaki.
- Sistem sensorik, dikaji respon klien dengan menggunakan rangsangan.
- Sistem endokrin : dikaji pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar lemfe, dan menanyakan
riwayat penyakit DM.
- Sistem integumen : dikaji suhu tubuh, turgor, lesi dan luka, warna kulit, kepala.
- Sistem genetalia, dikaji genetalia jika klien mau.

– Data sosial, dikaji tingkat pendidikan, hubungan sosial, gaya hidup, dan pola interaksi
melalui wawancara / menanyakan kepada orang terdekat (keluarga).

– Data psikologis, dikaji status emosi, gaya komunikasi, konsep diri, immage, harga
diri, ideal diri, peran diri, identitas diri.

– Data spiritual, dikaji ibadah yang dilakukan klien jika berada di rumah sakit.

Pemeriksaan diagnostik

a. Jadwal rutin pemantauan tekanan darah


b. Rontgen foto
c. Pemeriksaan hematologi
d. Pemeriksaan urinalisa
e. Elektrokardiografi (EJG)
f. Pemeriksaan kimia darah

B. ANALISA DATA

Analisa data merupakan kemampuankognitif dalam pengembangan daya berfikir yang


dipengaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman dan pengertian
keperawatan (Nasrul Effendy : 1998 :23).

Dasar analisa data didapatkan dari :

a. Anatomi dan Fisiologi


b. Patofisiologo penyakit
c. Mikrobiologi dan parasitologi
d. Farmakologi
e. Ilmu perilaku
f. Konsep-konsep manusia, sehat, sakit, stres adaptasi, etika keperawatan.
g. Tindakan dan prosedur keperawatan
h. Teori keperawatan dari berbagai sistem dan teori lain, yang berkaitan.

NO ANALISA DATA PENYEBAB MASALAH


1. Ds : Iskemik jaringan Nyeri akut
– Nyeri dada yang
menyebar / menjalar
kelengan (umumnya kekiri)
bahu, leher, rahang sesak.
Do :
– Wajah meringis
– Gelisah
– Nadi > normal (N:80-100
x/menit)
– Respirasi > normal (N:16-
20 x/menit)
– TD > normal ( >120/80
mmHg )
2. Ds : Tidak adekuatnya ventilasi Kerusakan
– Pasien mengatakan sesak pertukaran gas
nafas
Do :
– Dispnoe saat beraktivitas
– Takipnoe
– Ortopnea
− Adanya bunyi nafas
tambahan
− Terjadi sianosis
3. Ds : Penurunan supali darah keperifer. Resiko tinggi
– Pasien merasa dingin perubahan perfusi
Do : jaringan
– Nadi perifer tidak teraba
– Perubahan warna kulit
− Perubahan suhu kulit
− Ekstremitas dingin
4. Ds : − Perubahan kontraktilitas miokard Penurunan curah
– Nyeri pada dada − perubahan irama dan frekuensi jantung
Do : jantung
– Takikardi − peubahan struktur ventrikel kiri
− Distritmia
− Perubahan tekanan darah
− Bunyi jantung ekstra
(S3,S4)
− Nadi perifer tidak teraba
5. Ds : Kelelahan umum Intoleransi
– Adanya ungkapan verbal aktivitas
tentang kelemahan
− Adanya perasaan tidak
nyaman saat beraktivitas
Do :
– Respon tensi terhadap
aktivitas abnormal
− Dispnoe
− Adanya tanda-tanda
iskemik yang dapat dilihat
dari hasil pemeriksaan
EKG.
6. Ds : Kurangnya informasi, tidak Kurangnya
− Pasien banyak bertanya mengenal sumber informasi pengetahuan
tentang informasi tentang penyakit
penyakitnya dan pengobatan
Do :
− Tidak tepat dalam
menjalani intruksi/therapy.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan hipertensi heart desease
adalah;
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik jaringan ditandai dengan adanya keluhan
nyeri pada dada, wajah meringis, gelisah sampai adanya perubahan tingkat kesadaran,
perubahan nadi,tensi.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan tidak adekuatnya ventilasi ditandai
dengan dispnoe saat beraktivitas, takipnoe, ortopnea, adanya bunyi nafas tambahan
dan terjadi sianosis
3. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan supali
darah keperifer.
4. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard,
perubahan irama dan frekuensi jantung, peubahan struktur ventrikel kiri ditandai
dengan takikardi, disritmia, perubahan tekanan darah, bunyi jantung ekstra (S3, S4),
nyeri dada, nadi perifer tak teraba, ekstremitas dingin.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan umum ditandai dengan adanya
ungkapan verbal tentang kelemahan, respon tensi terhadap aktivitas abnormal, adanya
perasaan tidak nyaman saat beraktivitas, dispnoe, adanya tanda-tanda iskemik yang
dapat dilihat dari hasil pemeriksaan EKG.
6. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan sehubungan dengan
kurangnya informasi, tidak mengenal sumber informasi ditandai dengan pasien
banyak bertanya tentang informasi penyakitnya, tidak tepat dalam menjalani
intruksi/therapy

D. INTERVENSI

TUJUAN DAN
NO NO.DX INTERVENSI RASIONAL
KRITERIA HASIL
1 Dx1 Setelah dilakukan 1. Pertahankan tirah 1. Meminimalkan
tindakan perawatan baring pada fase akut stimulasi dan
diharapkanpasien 2. Lakukan tindakan meningkatkan
mampu melaporkan distraksi dan relaksasi, relaksasi.
adanya pengurangan ciptakan lingkungan 2. Tindakan yang
rasa nyeri/nyeri yang tenang menurunkan tekanan
terkontrol, pasien 3. Minimalkan aktivitas vascular dan memblok
mampu vasokonstriksi yang respon simpatis efektif
mengungkapkan dapat meningkatkan mengurangi rasa sakit
metode pengurangan nyeri seperti batuk dan komplikasinya.
nyeri, pasien mengikuti panjang, membungkuk 3. Aktivitas
theraphy farmakologi dll. vasokonstriksi akan
yang diberikan untuk 4. Kolaborasi meningkatkan tekanan
mengurangi nyeri. pemberian analgesic vascular jantung.
4. Untuk menurunkan/
mengontrol nyeri
dengan mengontrol
rangsangan system
saraf simpatis.
2 Dx2 Setelah dilakukan 1. Kaji frekuensi, 1. Frekuensi nafas
tindakan perawatan kedalaman pernafasan biasanya meningkat,
diharapkan pasien dan ekspansi dada. dispnea dan terjadi
menunjukan ventilasi 2. Tinggikan posisi peningkatan kerja
yang adekuat/ kepala dan Bantu dalam nafas. Ekspansi dada
oksigenasi dengan mengubah posisi. yang terbatas
GDA 3. Bantu pasien menandakan adanya
mengatasi ketakutan nyeri dada
dalam bernafas 2. posisi kepala lebih
4. Kolaborasi tinggi memungkinkan
pemberian oksigen espansi paru dan
tambahan memudahkan
pernafasan.
Pengubahan posisi
meningkatkan
pengisian segmen
paru yang berbeda
sehingga memperbaiki
difusi gas.
3. Perasaan takut
bernafas
meningkatkan
terjadinya hipoksemia
4. Memaksimalkan
bernafas dan
menurunkan kerja
nafas.
3 Dx3 Setelah dilakukan 1. Awasi perubahan 1. Perfusi serebral
tindakan perawatan mental continue seperti langsung berkaitan
diharapkan perfusi cemas, bingung, letargi, dengan curah jantung
jaringan adekuat seperti pingsan 2. Latihan aktif /pasif
akral hangat, nadi 2. Dorong latihan menurunkan statis
perifer kuat, tanda vital aktif/pasif vena, meningkatkan
normal, orientasi pasien 3. Pantau pernafasan aliran balik vena,
bagus, rasanyeri 4. kaji fungsi menurunkan resiko
berkurang. gastrointestinal dan tromboflebitis.
perkemihan 3. Pompa jantung
5. Kolaborasi yang gagal dapat
pemeriksaan lab BUN, mencetuskan distress
Creatinin, elektrolit, pernafasan. Dispnea
GDA yang terjadi tiba-tiba
menunjukan adanya
tromboemboli paru.
4. Untuk mengetahui
dampak negative pada
perfusi dan fungsi
organ tersebut.
5. Digunakan sebagai
indicator
perfusi/fungsi organ
4 Dx4 Setelah dilakukan 1. Kaji frekuensi dan 1. Biasanya terjadi
tindakan perawatan irama jantung takikardi sebagai
diharapkan pasien 2. Catat bunyi jantung kompensasi
menunjukan tanda vital 3. Kaji kulit terhadap penurunan
dalam batas yang dapat pucat dan sianosis kontraktilitas
diterima, bebas dari 4. Kaji perubahan pada ventrikel.
gejala gagal jantung, sensori seperti letargi, 2. Irama gallop umum
bingung, cemas, dihasilkan dari
depresi. ventrikel yang distensi
5. Berikan istirahat 3. Pucat menunjukan
dengan lingkungan penurunan perfusi
yang tenang, Bantu akibat penurunan
pasien menghindari curah jantung
stress 4. Untuk mengetahui
6. Kolaborasi adekuatnya perfusi
pemberian oksigen serebral terhadap
dengan kanul/masker penurunan curah
sesuai indikasi. jantung.
7. Kolaborasi 5. stress menghasilkan
pemberian vasodilator vaso konstriksi yang
meningkatkan tekanan
darah dan
meningkatkan
frekuensi kerja
jantung
6.Untuk
meningkatkan
kesediaan oksigen
untuk kebutuhan
miokard dan jaringan
serta melawan efek
hipoksia.
7. vasodilator
digunakan untuk
meningkatkan curah
jantung

5 Dx5 Setelah dilakukan 1. Kaji respon pasien 1. Dengan mengetahui


tindakan perawatan terhadap aktivitas, parameter tersebut,
diharapkan pasien perhatikan adanya akan membantu
mampu berpartisipasi perubahan tanda vital, mengkaji respon
dalam aktivitas yang dipsnoe, nyeri dada, fisiologis terhadap
diinginkan, melaporkan kelelahan yang stress aktivitas dan
peningkatan toleransi berlebihan. bila muncul berarti
terhadap aktivitas yang 2. Intruksikan pasien terjadi kelebihan
dapat diukur. tentang cara tingkat aktivitas
penghematan energi 2. Tehnik menghemat
dan lakukan aktivitas energi mengurangi
secara perlahan. penggunaan energi
3. Dorong pasien untuk dan membantu
melakukan aktivitas keseimbangan antara
secara bertahap jika suplai dan kebutuhan
dapat ditolerir, beri oksigen.
bantuan sesuai dengan 3. Aktivitas bertahap
kebutuhan. mencegah
peningkatan kerja
jantung secara tiba-
tiba, memberibantuan
sesuai kebutuhan akan
mendorong
memandirikan pasien
dalam beraktivitas.
6 Dx6 Setelah dilakukan 1. Jelaskan tentang 1. Pengetahuan
tindakan perawatan fungsi jantung normal tentang proses
diharapkan dan kelainan yang penyakit danharapan
pengetahuan pasien dialami oleh pasien dapat memudahkan
tentang penyakitnya 2. Kuatkan rasional ketaatan pada program
bertambah, pengobatan pengibatan.
Melaksanakan 3. Diskusikan tentang 2. Pemahaman
therapiuntuk obat, tujuan dan efek program, obat dan
menurunkan episode samping, berikan pembatasan dapat
berulang dan mencegah instruksi secara verbal meningkatkan
komplikasi,melakukan maupun tertulis. kerjasama untuk
perubahan pola perilaku 4. Jelaskan dan mengontrol gejala.
yang perlu. diskusikan peran pasien 3. Pemahaman
dalam mengontrol kebutuhan terapiutik
factor resiko dan factor dan pentingnya
pemberat. pelaporan efek
5. Berikan kesempatan samping dapat
pasien untuk mencegah terjadinya
menanyakan, komplikasi obat.
mendiskusikan masalah 4. Menambahkan
dan membuat pengetahuan dan
perubahan pola hidup memungkinkan pasien
yang perlu. untuk membuat
keputusan berdasarkan
informasi sehubungan
dengan control
kondisi dan mencegah
berulang/ komplikasi.
5. Kondisi kronis
sering melemahkan
kemampuan koping
dan kapasitas
dukungan pasien dan
orang terdekat.
E. IMPLEMENTASI
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam
rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu
dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon
pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan
perawatan.

F. EVALUASI

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien
dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan
melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. (Lynda Juall Capenito, 1999:28)

Tujuan pemulangan pasien dengan anemia adalah :

1) Mempertahankan / meningkatkan fungsi CU

2) Mencegah komplikasi

3) Memberikan informasi tentang proses / pragnosis dan program pengobatan.

4) Pendukung kontrol aktif pasien terhadap kondisi.


DAFTAR PUSTAKA

Suzanne C. Smeltzer. Brenda. E. bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan. Medikal Bedah
Brunner dan Suddarth. Jakarta : EGC.
Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta
: EGC.
Nanda NIC- NOC .2013 . Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Edisi
Revisi Jilid II. Jakarta: EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan,
Diagnosis Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, ed. 2. EGC, Jakarta.
http://askepterkini.blogspot.co.id/2014/05/laporan-pendahuluan-asuhan-
keperawatan_9355.html diakses pada tanggal 9 Januari 2018 pukul 19.22