Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN TUGAS

MATA KULIAH : OT PADA ORTOPEDI

LOW BACK PAIN

Disusun Oleh :

1. Asri Diah K (P27228015071)


2. Dwi Widayanti (P27228015078)
3. Musa Sadewa (P27228015097)
4. Oktafia Dalinta (P27228015102)
5. Wiwik Astutik (P27228015115)

Untuk Menenuhi Sebagai Persyaratan

Menyelesaikan Mata Kuliah OT Pada Ortopedi

PROGRAM STUDI D IV OKUPASI TERAPI

JURUSAN OKUPASI TERAPI

POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN SURAKARTA

TAHUN 2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian

Low back pain adalah nyeri di daerah punggung antara sudut

bawah kosta (tulang rusuk) sampai lumbosakral (sekitar tulang ekor). Nyeri

juga bisa menjalar ke daerah lain seperti punggung bagian atas dan pangkal

paha (Rakel, 2002). Low back pain adalah suatu keadaan dengan rasa tidak

nyaman atau nyeri akut pada daerah ruas lumbalis ke – 5 dan sarkalis (L5 –

S1). Low back pain dirasakan oleh penderita dapat terjadi secara jelas atau

samar serta menyebar atau terlokalisir (Pheasant, 1991). Low back pain atau

nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang

disebabkan oleh aktivitas tubuh yang kurang baik (Maher, Salmond & Pellino,

2002).

Menurut Suma’mur 2009, Low back pain berhubungan dengan

faktor risiko seperti usia, obesitas (kegemukan), kebiasaan merokok atau

kurangnya kesegaran / kebugaran jasmani, selain itu Suma’mur juga

mengatakan bahwa pada umumnya pekerjaan mengangkat, membawa,

menarik atau mendorong beban berat atau yang dilakukan dengan posisi tubuh

yang salah / dipaksakan lebih rentan mengalami keluhan low back pain.

Low back pain umumnya akan memberikan rasa nyeri pada seseorang

yang mengalaminya. Rasa nyeri dapat digambarkan sebagai sensasi tidak


menyenangkan yang terjadi bila mengalami cedera atau kerusakan pada tubuh.

Nyeri dapat terasa panas, gemetar, kesemutan/tertusuk, atau ditikam. Nyeri

akan menjadi suatu masalah gangguan kesehatan dikarenakan dapat

mengganggu aktivitas yang akan dilakukan. (Eleanor Bull dkk, 2007 dalam

Heru Septiawan 2012).

Jenis nyeri punggung bawah atau low back pain berdasarkan

sumber ada 4 yaitu :

1. Nyeri punggung bawah Spondilogenik

Nyeri yang disebabkan karena kelainan vertebrata, sendi, dan jaringan

lunaknya. Antara lain spondilosis, osteoma, osteoporosis, dan nyeri

punggung miofasial.

2. Nyeri punggung bawah Viserogenik

Nyeri yang disebabkan karena kelainan pada organ dalam, misalnya

kelainan ginjal, kelainan ginekologik, dan tumor retroperitoneal

3. Nyeri punggung bawah Vaskulogenik

Nyeri yang disebabkan karena kelainan pembuluh darah, misalnya

anerisma dan gangguan peredaran darah.

4. Nyeri punggung bawah Psikogenik

Nyeri yang disebabkan karena gangguan psikis seperti neurosis, ansietas,

dan depresi. Nyeri ini tidak menghasilkan definisi yang jelas, juga tidak

menimbulkan gangguan anatomi dari akar saraf atau saraf tepi. Nyeri ini

superficial tetapi dapat juga dirasakan pada bagian dalam secara nyata atau
tidak nyata, radikuler maupun non radikuler, berat atau ringan. Lama

keluhan tidak mempunyai pola yang jelas, dapat dirasakan sebentar

ataupun bertahun– tahun (Ir.Eko Nurmianto,2008).

B. Klasifikasi Low Back Pain

Menurut Bimaariotejo (2009), berdasarkan perjalanan kliniknya

Low Back Pain (LBP) terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Acute Low Back Pain

Acute low back pain ditandai dengan rasa nyeri yang menyerang secara

tiba-tiba dan rentang waktunya hanya sebentar, antara beberapa hari

sampai beberapa minggu dan rasa nyeri ini dapat hilang atau sembuh.

Acute low back pain (LBP) dapat disebabkan karena luka traumatik

seperti kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat

kemudian. Kejadian tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat

melukai otot, ligamen dan tendon.

2. Chronic Low Back Pain

Rasa nyeri pada chronic low back pain bisa menyerang lebih dari 3

bulan dan rasa nyeri ini dapat berulang-ulang atau kambuh kembali.

Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh pada

waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi karena

osteoarthritis, rheumatoid arthritis, proses degenerasi discus

intervertebralis dan tumor.


C. Etiologi

Banyak hal yang dapat menyebabkan low back pain, baik secara

posisi anatomis maupun karena proses patologisnya. Pada dasarnya

timbulnya rasa sakit adalah karena terjadinya tekanan pada susunan saraf

tepi daerah pinggang (saraf terjepit). Jepitan pada saraf ini dapat terjadi

karena gangguan otot dan jaringan sekitarnya, gangguan pada sarafnya

sendiri, kelainan tulang belakang maupun kelainan di tempat lain,

misalnya infeksi atau batu ginjal dan lain-lain.

Berikut ini beberapa penyebab dari penyakit low back pain :

1. Spasme otot (ketegangan otot).

Merupakan penyebab yang terbanyak dari low back pain. Spasme

ini dapat terjadi karena gerakan pinggang yang terlalu mendadak

atau berlebihan melampaui kekuatan otot-otot tersebut. Misalnya

waktu sedang olahraga dengan tidak kita sadari kita bergerak

terlalu mendadak dan berlebihan pada waktu mengejar atau

memukul bola (badminton, tennis, golf, dll). Demikian juga kalau

kita mengangkat benda-benda agak berat dengan posisi yang salah,

misalnya memindahkan meja, kursi, mengangkat koper,

mendorong mobil akan dapat terjadi Low Back Pain. Pengapuran

tulang belakang disekitar pinggang yang mengakibatkan jepitan

pada saraf yang bersangkutan dapat mengakibatkan nyeri pinggang

yang hebat juga.


2. Pengaruh gaya berat

Gaya berat tubuh, terutama dalam posisi berdiri, duduk dan

berjalan dapat dapat mengakibatkan rasa nyeri pada punggung dan

dapat menimbulkan komplikasi pada bagian tubuh yang lain,

misalnya genu valgum, genu varum, coxa valgum (Soeharso,

1987). Beberapa pekerjaan yang mengharuskan berdiri dan duduk

dalam waktu yang lama akan mengakibatkan terjadinya Low Back

Pain (Klooch, 2006 dalam Shocker, 2008). Kehamilan dan obesitas

merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya Low

Back Pain akibat pengaruh gaya berat. Hal ini disebabkan

terjadinya penekanan pada tulang belakang akibat penumpukan

lemak, kelainan postur tubuh dan kelemahan otot (Brimariotejo,

2009).

3. Kelainan tulang punggung (spine) sejak lahir.

Keadaan ini lebih dikenal dengan istilah Hemi Vertebrae. Menurut

Soeharso (1978) kelainan-kelainan kondisi tulang vertebra tersebut

dapat berupa tulang vertebra hanya setengah bagian karena tidak

lengkap pada saat lahir. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya low

back pain yang disertai dengan skoliosis ringan. Selain itu ditandai

pula adanya dua buah vertebra yang melekat menjadi satu, namun

keadaan ini tidak menimbulkan nyeri.


4. Perubahan jaringan

Disebabkan karena terdapat perubahan jaringan pada tempat yang

mengalami sakit. Perubahan jaringan tersebut tidak hanya pada

daerah punggung bagian bawah, tetapi terdapat juga sepanjang

punggung dan anggota tubuh bagian lain (Soeharso, 1978).

5. Trauma

Trauma dan gangguan mekanis merupakan penyebab utama low

back pain (Bimariotejo, 2009). Pada orang-orang yang tidak biasa

melakukan pekerjaan otot atau melakukan aktivitas dengan beban

yang berat dapat menderita nyeri pinggang bawah yang akut.

Gerakan bagian punggung belakang yang kurang baik dapat

menyebabkan kekakuan dan spasme yang tiba-tiba pada otot

punggung, mengakibatkan terjadinya trauma punggung sehingga

menimbulkan nyeri. Kekakuan otot cenderung dapat sembuh

dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu. Namun pada

kasus-kasus yang berat memerlukan pertolongan medis agar tidak

mengakibatkan gangguan yang lebih lanjut.

6. Sciatica

Syaraf sciatica berada mulai dari pinggang bawah terus ke pantat

dan ke kaki. Iritasi dimana saja sepanjang syaraf akan

menyebabkan nyeri pinggang dan kaki.


7. Peradangan sendi (arthritis)

Sendi tulang belakang mau-pun facetnya dapat meradang dan

menyebabkan degenerasi dan peradangan dalam sendi sehingga

menumbuhkan perkapuran pada ujung-ujung vertebra.

8. Strain ligament

Penguluran ligament (jaringan pengikat sendi) yang melebihi

kemampuan ulur dan uluran mendadak akan membuat kerobekan

ligament dan perdarahan sekitar jaringan yang menyebabkan

bengkak dan nyeri.

9. Problem Diskus

Diskus atau bantalan sendi merupakan redam kejut, berada di

antara dua sendi tulang belakang. Diskus dapat slip, menonjol,

robek, atau aus karena umur.

10. Kebiasaan tidak banyak gerak

D. Patofisiologi

Patofisiologi pada sensasi nyeri punggung bawah dalam hal ini

kolumna vertebralis dapat dianggap sebagai sebuah batang yang elastik

yang tersusun atas banyak unit vertebrae dan unit diskus intervertebrae

yang diikat satu sama lain oleh kompleks sendi faset, berbagai ligament

dan otot paravertebralis. Konstruksi punggung yang unik tersebut

memungkinkan fleksibilitas sementara disisi lain tetap dapat memberikan

perlindungan yang maksimal terhadap sumsum tulang belakang.


Lengkungan tulang belakang akan menyerap goncangan vertical pada saat

berlari atau melompat. Batang tubuh membantu menstabilkan tulang

belakang. Otot-otot abdominal dan thorax sangat penting ada aktifitas

mengangkat beban. Bila tidak pernah dipakai akan melemahkan struktur

pendukung ini. Obesitas, masalah postur, masalah struktur dan peregangan

berlebihan pendukung tulang belakang dapat berakibat nyeri punggung.

Diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia

bertambah tua. Pada orang muda, diskus terutama tersusun atas

fibrokartilago dengan matriks gelatinus. Pada lansia akan menjadi

fibrokartilago yang padat dan tak teratur. Degenerasi diskus intervertebra

merupakan penyebab nyeri punggung biasa. Diskus lumbal bawah, L4-L5

dan L5-S6, menderita stress paling berat dan perubahan degenerasi

terberat. Penonjolan diskus atau kerusakan sendi dapat mengakibatkan

penekanan pada akar saraf ketika keluar dari kanalis spinalis, yang

mengakibatkan nyeri yang menyebar sepanjang saraf tersebut.

E. Manifestasi Klinis

Gejala klinis yang utama pada low back pain adalah nyeri. Nyeri

dapat bersifat sementara atau menetap, lokal atau menjalar. Nyeri juga

dapat bersifat dangkal atau dalam. Hal ini bergantung pada penyebab dan

jenis nyeri. Adapun tanda dan gejala yang dirasakan penderita low back

pain adalah merasakan sakit, kekakuan, rasa baal / mati rasa, kelemahan,

rasa kesemutan (seperti ditusuk peniti dan jarum).


F. Epidemiologi

Nyeri pinggang merupakan masalah kesehatan masyarakat yang

penting pada semua negara. Besarnya masalah yang diakibatkan oleh nyeri

pinggang dapat dilihat dari ilustrasi data berikut. Pada usia kurang dari 45

tahun, nyeri pinggang menjadi penyebab kemangkiran yang paling sering,

penyebab tersering kedua kunjungan ke dokter, urutan kelima masuk

rumah sakit dan masuk 3 besar tindakan pembedahan. Pada usia antara 19-

45 tahun, yaitu periode usia yang paling produktif, nyeri pinggang menjadi

penyebab disabilitas yang paling tinggi (Anderson 1999 dalam

Trimunggara 2010).

Di Indonesia, low back pain dijumpai pada golongan usia 40

tahun. Secara keseluruhan, low back pain merupakan keluhan yang

paling banyak dijumpai (49 %). Pada negara maju prevalensi orang

terkena low back pain adalah sekitar 70-80 %. Sekitar 80-90% pasien low

back pain menyatakan bahwa mereka tidak melakukan usaha apapun

untuk mengobati penyakitnya jadi dapat disimpulkan bahwa low back

pain meskipun mempunyai prevalensi yang tinggi namun penyakit ini

dapat sembuh dengan sendirinya (Sadeli dan Tjahjono dalam Trimunggara

2010).
BAB II

GAMBARAN PROBLEM FUNGSIONAL

Faktor resiko low back pain meliputi usia, jenis kelamin, berat badan,

merokok, pekerjaan, paparan getaran, angkat beban yang berat yang berulang-

ulang, membungkuk, duduk lama, geometri kanal lumbal spinal dan faktor

psikososial (Bimariotejo, 2009). Sifat dan karakteristik nyeri yang dirasakan pada

penderita low back pain bermacam-macam seperti nyeri terbakar, nyeri tertusuk,

nyeri tajam, hingga terjadi kelemahan pada tungkai (Idyan, 2008). Nyeri ini

terdapat pada daerah lumbal bawah, disertai penjalaran kedaerah-daerah lain,

antara lain sakroiliaka, koksigeus, bokong, kebawah lateral atau posterior paha,

tungkai, dan kaki (Bimariotejo, 2009). Low back pain jarang fatal namun nyeri

yang dirasakan dapat membuat penderita mengalami penurunan kemampuan

melakukan aktivitas sehari-hari, problema kesehatan kerja, dan banyak kehilangan

jam kerja pada usia produktif maupun usia lanjut (Kirkaldy-Willis, 1999;

Waddell, 1992).

Masalah yang dialami oleh penderita low back pain meliputi :

1. Deconditioning

2. Kelemahan dan kekakuan pada sendi

3. Kelemahan pada tulang karena terlalu lama bed rest

4. Kerusakan saraf meyebabkan gangguan pada pencernaan dan kandung

kemih

5. Berat badan menurun


Masalah yang daialami oleh penderita low back pain pada kehidupan

sehari – hari yaitu :

1. Depresi,

2. Kesulitan dalam mengangkat dan mengambil benda,

3. Kesulitan duduk ,

4. Kesulitan dalam melakukan mobilitas


BAB III

PEMBAHASAN

A. Sendi dan Otot

a. Sendi yang mengalami keterbatasan

Low back pain terjadi pada gangguan mobilitas di daerah

lumbal, sakroiliaka atau hip yang menyebabkan sakit pada

punggung belakang dan pantat bahkan beberapa

mengakibatkan nyeri menjalar sampai ke tungkai bawah, sendi

yang berada di sekitarnya mengalami keterbatasan dan

berdampak pada aktivitas fungsional pasien. Sendi yang

mengalami keterbatasan akibat low back pain adalah sendi

sacroiliac dan lumbosacral, sehingga mengakibatkan lingkup

gerak sendi pada area tersebut sangat terbatas. Sendi sacroiliac

bergabung dengan lumbal maka apabila sendi sakroiliac ini

mengalami masalah dapat menjadi penyebab nyeri punggung

bawah. Sacroiliac joint blockade juga mempengaruhi gangguan

pada mobilitas baik mobilitas pada satu maupun kedua sendi

sacroiliac. Secara langsung akan berdampak pula keterbatasan

pada aktifitas dan partisipasi tubuh saat menyelesaikan rutinitas

sehari–hari.

b. Otot Penggerak Utama

Otot yang terganggu pada low back pain antara lain adalah

M. Iliopsoas, M. Sartorius, M. Tensor fascia latae, M. Rectus


femoris, M. Pectineus, M. Abdominal oblique dan M. External

abdominal oblique untuk gerakan flexi trunk. M. External

abdominal oblique, M. Internal abdominal oblique untuk

gerakan rotasi trunk. M. Illiocostalis thoracis, M. Lumborum,

M. Longissimus thoracis, M. Spinal thoracis, M. Semispinalis

thoracis, dan M. Multifidus untuk gerakan extension trunk. M.

Quadratus lumborum untuk gerakan pelvic elevation. M.

Pectineus gracilis untuk gerakan adduktors hip. M. Gluteus

minimus, M. Gluteus medius, M. Tensor fascia latae, M.

Pectineus, M. Semitendinosus, M. Semimembranosus untuk hip

internal rotasi. M. Gluteus maximus, M. Biceps femoris, M.

Semitendinosis, M. Semimembranosis untuk hip ekstensi. Jika

otot-otot di atas mengalami gangguan maka akan terjadi

gangguan fungsional seperti tidak mampu membungkuk,

duduk, jongkok, berdiri, dan berjalan.

B. Gambaran Keterbatasan Aktivitas Fungsional Akibat Otot yang Lemah

Keterbatasan aktivitas fungsional akibat low back pain adalah

mobilitas seperti berjalan menuju kamar mandi, menaiki & menuruni

tangga, maupun transfer dari bed ke kursi dan sebaliknya. Masalah lain

terdapat pada area activity daily living (ADL) yaitu dressing, toiletting dan

aktivitas membungkuk seperti mengambil dan meletakkan benda.


Aktivitas lain yang mengalami keterbatasan adalah produktifitas dan

leisure aktif.

C. Tujuan Fungsional

a. Tujuan jangka panjang

Pasien mampu mengambil pakaian ketika akan menjemur selama 8

kali dengan durasi 30 – 40 menit.

b. Tujuan jangka pendek

1. STG 1 : Pasien mampu membungkuk tanpa rasa nyeri

2. STG 2 : Pasien mampu posisi dari membungkuk ke posisi

tegak atau berdiri

D. Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi (LGS)

1. Teknik terapi

Teknik terapi yang dipakai untuk meningkatkan lingkup gerak sendi

pada kondisi Low Back Pain dengan menggunakan teknik biomekanik

dan graded activity. Teknik biomekanik digunakan untuk

meningkatkan lingkup gerak sendi, kekuatan otot dan daya tahan.

2. Media Terapi

Media yang digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan

lingkup gerak sendi pada kondisi low back pain adalah : (1) Botol

berisi air 100 ml (2) Botol berisi air 250 ml (3) Botol berisi air 500 ml

(4) Ember (5) Pakaian.

3. Pelaksanaan Terapi

 Adjunctive
Active stretching merupakan stretching yang dilakukan secara aktif

yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan

keterbatasan lingkup gerak sendi (LGS). Pada active stretching

pasien diminta untuk menggerakkan trunk kearah fleksi, ekstensi

dan lateral fleksi trunk sampai batas nyeri.

 Enabling

Pasien diminta untuk memindahkan botol berisi air 100 ml dari

bawah ke atas dengan gerakan fleksi dan ekstensi pada trunk

dengan gradasi ketinggian. Aktivitas ini dilakukan dengan tahap

awal terapis menyiapkan botol berisi air 100 ml, 250 ml dan 500 ml

yang diletakkan di meja depan pasien dengan tinggi sejajar dengan

pinggang pasien, kemudian terapis menginstruksikan kepada pasien

untuk mengambil botol berisi air 100 ml terlebih dahulu dan

diletakan diatas sejajar dengan kepala pasien. Kemudian letakkan

botol berisi air 250 ml di meja depan pasien, terapis memberi

instruksi yang sama hanya letak ketinggiannya yang berbeda yaitu

10 cm dari kepala pasien dan untuk botol yang berisi air 500 ml

diletakkan dengan ketinggian 20 cm dari atas kepala pasien. Pada

aktivitas ini bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan

aktivitas fleksi dan ekstensi trunk. Aktivitas enabling ini dilakukan

secara berulang ulang.


 Purposeful

Pada aktivitas ini pasien diminta untuk melakukan simulasi cara

mengambil pakaian dalam ember saat akan menjempur dengan

melibatkan M. Rektus Abdominis, M. External Abdominal Oblique

dan M. Internal Abdominal Oblique, M. Illiocostalis thoracis, M.

Lumborum, M. Longissimus thoracis, M. Spinal thoracis, M.

Semispinalis thoracis.

 Occupational Performance

Pada tahap ini pasien diminta untuk melakukan aktivitas

mengambil pakaian dalam ember saat akan menjemur dengan

melibatkan M. Rektus Abdominis, M. External Abdominal Oblique

dan M. Internal Abdominal Oblique, M. Illiocostalis thoracis, M.

Lumborum, M. Longissimus thoracis, M. Spinal thoracis, M.

Semispinalis.

E. Meningkatkan Kekuatan Otot

1. Teknik Terapi

Teknik terapi yang dipakai untuk meningkatkan kekuatan otot pada

kondisi low back pain dengan menggunakan teknik biomekanik dan

graded activity. Teknik biomekanik digunakan untuk meningkatkan

lingkup gerak sendi, kekuatan otot dan daya tahan.Teknik yang

digunakan untuk meningkatkan kekuatan otot (KO) dari nilai 2 ke

3, 3 ke 4 caranya :
 Mengradasi berat benda dari ringan ke berat.

 Mengradasi letak tinggi benda dari rendah ke tinggi.

2. Media Terapi

Media yang digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan

kekuatan otot pada kondisi low back pain adalah : (1) ember kosong

(2) ember berisi air 1/4 (3) kursi rendah (4) kursi tinggi (5) pakaian.

3. Pelaksanaan Terapi

 Adjunctive

Adjunctive untuk kekuatan otot dilakukan dengan isotonic active

exercise merupakan semua bentuk aktivitas dengan sedikit atau

tanpa tahanan pada otot yang kontraksi. Latihan ini digunakan

untuk nilai otot 2 dan 3. Pada kasus low back pain M. Rectus

Abdominis dan grup M. Erector spine memiliki kekuatan otot nilai

2. Stretching pada M. Rectus Abdominis dilakukan pasien dalam

posisi supinasi (terlentang) diatas matras dengan posisi hip dan

knee fleksi. Pasien meletakkan kedua tangannya sejajar di bed.

Pasien mengangkat kepala dan scapulae dari bed dengan

lengannya. Kemudian melakukan active – assisted exercise yaitu

pasien secara aktif menggerakkan sendi namun untuk mencapai lingkup

gerak sendi penuh dibantu oleh terapis atau alat. Latihan ini untuk nilai

otot 2, 3.

 Enabling

Pasien diminta untuk memindahkan ember kosong ke kursi yang


paling rendah dengan posisi awal hip fleksi, knee fleksi dan trunk

agak sedikit fleksi. Kemudian memindahkan ember kedua yang

berisi air ¼ dari tinggi ember tersebut ke kursi yang lebih tinggi

dari sebelumnya kira kira 10 cm dengan melibatkan otot – otot

pada M. Rectus Abdominis yaitu otot untuk fleksi trunk dan otot –

otot pada M. Erector Spine yaitu otot untuk ekstensi trunk.

Aktivitas ini dilakukan secara berulang – ulang.

 Purposeful

Pada aktivitas ini pasien diminta untuk melakukan simulasi cara

mengambil pakaian dalam ember saat akan menjempur dengan

melibatkan M. Rektus Abdominis, M. External Abdominal Oblique

dan M. Internal Abdominal Oblique, M. Illiocostalis thoracis, M.

Lumborum, M. Longissimus thoracis, M. Spinal thoracis, M.

Semispinalis thoracis.

 Occupational Performance

Pada tahap ini pasien diminta untuk melakukan aktivitas

mengambil pakaian dalam ember saat akan menjemur dengan

melibatkan M. Rektus Abdominis, M. External Abdominal Oblique

dan M. Internal Abdominal Oblique, M. Illiocostalis thoracis, M.

Lumborum, M. Longissimus thoracis, M. Spinal thoracis, M.

Semispinalis.
LAMPIRAN

1. Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi

 Adjunctive

 Enabling
 Purposeful dan Occupational Performance
2. Meningkatkan Kekuatan Otot

 Adjunctive
 Enabling
 Purposeful dan Occupational Performance
REFERENSI

John Peloza, M. (2017, 04 20). Spine-Health.com. Retrieved from http://www.spine-


health.com/conditions/lower-back-pain/lower-back-pain-symptoms-diagnosis-and-treatment

orthoanswer. (2011, September 29). Retrieved from http://orthoanswer.org/spine-neck/low-


back-pain/complications.html

repository.usu.ac.id. (2011). Retrieved


from http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/48269/Chapter%20II.pdf;jsessionid
=F15FFA28F91F9E91FF1690093F497372?sequence=3