Anda di halaman 1dari 9

Tray Tower (Plate tower)

Tray Tower atau Plate Tower merupakan absorber vertikal yang dilengapi
dengan beberapa pelat berlubang yang ditempatkan secara horizontal pada bagian
dalamnya. Gas yang mengalir dari bagian bawah absorber akan melintas dari lubang-
lubang yang ada pada setiap pelat yang digenangi oleh aliran air yang mengalir dari
bagian atas absorber. Berikut gambar dari Tray Tower. Plate tower biasanya
digunakan dalam pabrik bear dengan diameter lebih dari 6 ft. Jika kurang dari 6 ft
digunakan packed tower. Plate column adalah alat pemisah berupa silinder tegak
(untuk selanjutnya disebut column) yang bangun dalamnya terdiri dari sejumlah plate
yang tersusun pada jarak tertentu. Tipe ini tidak efektif untuk ukuran partikel sub
mikron tetapi tipe ini memiliki efisiensi tinggi untuk ukuran partikel > 5μm dimana
dengan ukuran tersebut efisiensi yang didapat mencapai 97%. Desain ini baik
digunakan untuk aliran gas 1.000 – 75.000 cfm dengan L/G ratio lebih kecil
dibandingkan dengan Spray Tower dan Ventury Scrubber.

Packed Column
Packed column adalah alat pemisah berupa silinder tegak yang didalamnya
berisi sejumlah umpulan packing. Bagian utama dari instalasi sebagai berikut:
Column
Ketika gas yang dipakai adalah yang korosif, seperti klorin, hidrogren, fluorida,
dan nitrogen oksida. Column dibuat dari stone work atau material plastik seperti
keebush, stainlesstel, biasanya digunakan untuk operasi tekanan tinggi. b.Pengaturan
inlet dan outlet Cairan biasanya dimasukkan dari bagian atas menara dan
menggunakan nozzle atau pipa semprot. Gas masuk dari bawah packing dan melewati
cairan menuju keatas dan pengunci cairan (liquid seal) sangat diperlukan oleh pipa
pengeluaran cairan untuk mencegah keluarnya gas bersama cairan, sebagian penting
ketika laju alir cairan diabaikan terhadap luas permukaan yang basah dari packing
secara keseluruhan. c.Packing Untuk memperluas permukaan kontak, digunakan
kolom berisi packing (packed column) dengan kriteria pemilihan packing sebagai
berikut :
 memiliki luas permukaaan terbasahi tiap unit volume yang besar
 memiliki ruang kosong yang besar sehingga tekanan kecil
 karakteristik pembasahan baik
 densitas kecil agar berat column keseluruhan kecil
 tahan korosi dan ekonomis

Beberapa jenis packing yang sering digunakan antara lain : raching ring, intalax
saddle, dan pall ring
Kelebihan dan Kekurangan dan Plate Tower
Kelebihan :
 Kehilangan tekanan rendah
 Dapat digunakan fiberglass/plastik
 Efisiensi relatif tinggi
 Biaya investasi relative murah
 Tidak membutuhkan space yang luas
 Mampu menyisihkan gas dan partikulat

Kekurangan :
 Menimbulkan masalah pencemaran air
 Menghasilkan produk basah
 Debu yang mengendap dapat menyumbat kolom atau plate
 Biaya perawatan relatif tinggi

Absorber dan Stripper


Absorber dan stripper adalah alat yang digunakan untuk memisahkan satu
komponen atau lebih dari campurannya menggunakan prinsip perbedaan kelarutan.
Solut adalah komponen yang dipisahkan dari campurannya sedangkan pelarut
(solvent ; sebagai separating agent) adalah cairan atau gas yang melarutkan solut.
Karena perbedaan kelarutan inilah, transfer massa
solut dari fase satu ke fase yang lain dapat terjadi. Absorbsi adalah operasi
pemisahan solut dari fase gas ke fase cair, yaitu dengan mengontakkan gas yang
berisi solut dengan pelarut cair (solven / absorben ) yang tidak menguap. Stripping
adalah operasi pemisahan solute dari fase cair ke fase gas, yaitu dengan
mengontakkan cairan yang berisi solute dengan pelarut gas ( stripping agent) yang
tidak larut ke dalam cairan. Ada 2 jenis absorbsi, yaitu kimia dan fisis. Absorbsi
kimia melibatkan reaksi kimia antara pelarut cair dengan arus gas dan solut tetap di
fase cair. Dalam absorbs fisis, solut dalam gas mempunyai kelarutan lebih besar
dalam pelarut cairan, sehingga solut berpindah ke fase cair. Absorbsi dengan reaksi
kimia lebih menguntungkan untuk pemisahan. Meskipun demikian, absorbsi fisis
menjadi penting jika pemisahan dengan reaksi kimia tidak dapat dilakukan. Absorber
dan stripper seringkali digunakan secara bersamaan. Absorber digunakan untuk
memisahkan suatu solut dari arus gas. Stripper digunakan untuk memisahkan solut
dari cairan sehingga diperoleh gas dengan kandungan solute lebih pekat.

Berdasarkan cara kontak antar fase, alat transfer massa difusional dibagi menjadi 2
jenis, yaitu :
1. proses keseimbangan dimana operasi dengan keseimbangan antar fase, yaitu
alat dengan kontak bertingkat ( stage wise contact / discreet ),misalnya
menara menggunakan plat atau tray.
2. proses dikontrol kecepatan transfer massa, yaitu alat dengan kontak kontinyu (
continuous contact ), misalnya menara sembur, gelembung atau menggunakan
bahan isian (packing).

Keseimbangan
Menurut teori lapisan film, jika dua fase dikontakkan, di batas antar fase terdapat
keseimbangan fase. Oleh karena itu, korelasi atau data-data di lapisan batas fase ini
sangat perlu diketahui. Data-data keseimbangan telah banyak tersedia, meskipun
penelitian tentang hal ini masih perlu dilakukan.
VARIABEL-VARIABEL EVALUASI
Di dalam mengevaluasi absorber atau stripper, sesorang harus mengetahui dan
menentukan :
 kondisi bahan yang akan dipisahkan (umpan), yaitu kecepatan arus fluida
umpan, komposisi, dan tekanan
 banyak solut yang harus dipisahkan,
 jenis solven yang akan digunakan,
 suhu dan tekanan alat,
 kecepatan arus solven,
 Diameter absorber,
 Jenis absorber,
 Jumlah stage ideal dan tinggi menara,
Evaluasi yang dilakukan adalah membandingkan jumlah stage teoritis dengan
jumlah stage terpasang.
Kecepatan arus fluida dan komposisi umpan
Komposisi gas umpan ( absorber ) atau cairan umpan ( stripper ) dan kecepatannya
biasanya telah diketahui, seperti fluida yang berasal dari alat sebelumnya. Demikian
pula suhu dan tekanan fluida umpan ini.
Banyaknya solut yang dipisahkan
Jumlah solut yang akan dipisahkan biasanya ditentukan oleh perancang. Jumlah ini
disesuaikan dengan persyaratan kemurnian produk atau persyaratan sebagai umpan
alat lain.
% recovery of solute = massa solute terserap/massa solute dalam umpan x 100%
Jenis solven
Sifat-sifat solven yang dipilih antara lain :
a. memiliki kelarutan yang besar untuk solut,
b. untuk absorber, solven cair tidak mudah menguap agar dapat mengurangi solven
yang hilang,
c. untuk stripper, solven gas tidak larut dalam cairan,
d. memiliki viskositas yang rendah agar perbedaan tekanan dalam menarakecil,
e. tidak beracun,
f. tersedia dan tidak mahal.
Suhu dan Tekanan alat
Pada dasarnya, tekanan dan suhu akan mempengaruhi sifat fisis fluida. Pada suhu
rendah, kelarutan bahan dalam gas semakin tinggi, sebaliknya kelarutan bahan di
dalam gas semakin kecil jika suhu sistem semakin tinggi. Pada umumnya tekanan
operasi absorber dirancang tinggi dan suhunya rendah. Hal ini dapat memperkecil
jumlah stage dan kebutuhan solven cair, serta memperkecil volum menara yang
menampung aliran gas. Sedangkan stripper dirancang beroperasi pada tekanan rendah
dan temperatur tinggi, agar jumlah stage sedikit dan memperkecil kebutuhan solven
gas. Buku ini hanya membahas pemisahan pada kondisi isothermal dan isobaris.

Diamater menara
Diameter menara dapat diprediksi dengan banyak cara, biasanya diturunkan dari
korelasi bilangan Sherwood. Beberapa cara penentuan diameter telah dipublikasi di
buku-buku (seperti di Wankat, chapter 12 & 13).

Menara packing biasanya dipilih terutama jika :


 diameter menara kurang dari 2 ft,
 diinginkan tekanan rendah atau operasi vakum,
 fluida bersifat korosif , dan packing yang digunakan tahan korosif seperti
keramik atau bahan polimer.
 waktu tinggal cairan singkat.
Ada 4 (empat) konsep teknik kimia yang diperlukan dalam merancang alat transfer
massa, yaitu :
 neraca massa dan neraca panas, yang mengikuti hukum konservasi massa dan
energi,
 keseimbangan di batas antar fase,
 kecepatan transfer massa, dan
 kecepatan transfer momentum, yang digunakan untuk menentukan penurunan
tekanan di dalam menara.
Diameter menara isian tergantung dari banyaknya gas atau zat cair yang akan diolah
sifat-sifatnya dan rasio antara kedua arus itu. Tinggi menara dan juga volume isian
bergantung pada tingkat perubahan konsentrasi pada laju perpindahan massa per
satuan volume isian.
Neraca Bahan
Dalam instalasi kontak differensial seperti menara absorbsi dengan isian seperti pada
gambar, tidak terdapat perubahan-perubahan mencolok pada komposisi seperti
instalasi kontak bertahap. Neraca bahan untuk bagian kolom diatas sebagai berikut :
Bahan total : La + V = L + Va (1)
Komponen A : La.Xa + Vy = Lx + Va.Ya (2)
Dimana
V laju molal total fase gas = V laju molal total fase zat cair pada titik yang sama
dalam menara.
Persamaan neraca bahan menyeluruh atas dasar arus-arus terminal adalah :
Bahan total : La + Vb = Lb + Va (3)
Komponen A : La.Xa + Vb.Yb = Lb.Xb + Va.Ya (4)
Garis-garis operasi untuk instalasi kontak differensial dan kolom bertahap adalah : x
dan y , masing-masing menunjukkan konsentrasi untuk zat cair dan gas yang berada
dalam kontak satu sama lain pada suatu bangun tertentu didalam kolom. Untuk
campuran encer yang mengandung kurang dari 15% gas yang dapat larut, pengaruh
perubahan aliran total biasanya dapat diabaikan dari rancangan, lalu diabsorbsi atas
laju alir rata-rata.

Laju Absorbsi
Di dalam merancang suatu menara absorbsi, harga koefisien perpindahan massa
merupakan besaran yang sangat penting. Penurunan korelasi harga Kga berdasarkan
pada absorbsi fisik. Dengan adanya harga Kga dapat ditentukan besaran-besaran
lainnya seperti :
a. Kecepatan perpindahan massa Kecepatan perpindahan massa dapat dihitung
setelah konsentrasi gas yang berkesinambungan dengan fase cairnya
diketahui. Dalam hal ini gas harus berdifusi ke aliran cairan tiap satuan waktu.
b. Waktu operasi Jika harga Kga diketahui maka kecepatan perpindahan
massanya dapat juga ditentukan sehingga waktu operasi bisa dihitung pula.
c. Ukuran alat dan bahan Untuk mengetahui dimensi alat dan besarnya biaya
pembuatan alat tersebut
Rumus untuk menentukan harga Kga dapat didasarkan pada absorbsi fisik dengan
menganggap bahwa kurva kesetimbangan berurutan pada selang waktu tertentu
dimana perpindahan massa berlangsung.
Contoh penggunaan plate tower adalah pada proses pemurnian udara
Permasalahan polusi udara sangat dipengaruhi dan berbeda oleh berbagai faktor yaitu
tofografi, kependudukan, iklim, cuaca, serta tingkat perkembangan sosial ekonomi
dan industrialisasi. Bertambahnya jumlah penduduk akan berbanding lurus dengan
peningkatan jumlah limbah, terutama limbah padat. Permasalahan yang menjadi
pertimbangan adalah karena limbah yang dibuang sifatnya kontiniu. Penanganan
limbah padat dengan proses pembakaran masih merupakan salah satu cara yang
efektif saat ini, tetapi akibat dari proses itu juga merupakan sumber utama dari
pencemaran udara.
Beberapa parameter pencemar udara yang sering digunakan didasarkan pada
baku mutu udara ambien diantaranya Sulfur Oxides (SOx), Combustible, Nitrogen
Oxides (NOx), Partikel , Hidro karbon (HC), serta Dioksin dan Furan.

1. Sulfur Oxides (SOx)


Penggolongan dari Sulfur Oxides (SOx) diantaranya adalah SO, S2O, SO2, S3O,
SO3, dan SO4. Untuk proses dengan temperatur tinggi SOx yang terbentuk dominan
pada ikatan SO2, sedangkan pada temperatur rendah cendrung ke SO3. Mekanisme
pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut (Lit.12,
Hal 497)
S + O2 SO2
2 SO2 + O2 2 SO3
2. Combustible
Tergolong atas dua bagian yaitu Carbon Monoksida (CO) dan Volatile Organic
Compounds (VOCs). Terbentuknya Carbon Monoksida karena prosespembakaran
tidak sempurna dari bahan bakar sehingga keseluruhan atom Carbon dan Hidrogen
tidak habis terbakar. Sedangkan Volatile Organic Compounds (VOCs) dominan
terbentuk akibat pemanasan dari material yang dibakar. Sumber dari VOCs banyak
berasal dari golongan Hazarduos Waste yang penggolongannya meliputi Alcohols,
Ketones, Esters, dan Aldehydes. Tipikal VOCs meliputi Benzene, Acetone,
Acetaldehyde, Cloroform, Toluence, Methanol, dan Formaldehyde.
3. Nitrogen Oxides (NOx)
NOx terbentuk akibat ikatan antara NO pada kandungan udara dengan kadar
O2 yang lebih banyak, penggolongannya meliputi Nitrit Oxide (NO), Nitrogen
Dioksida (NO2), Nitrous Oxide (N2O), dan Nitrogen Tetraoxide (N2O). Untuk proses
pada temperatur tinggi NOx yang terbentuk dominan adalah NO2.
4. Partikel
Banyak terbentuk akibat proses pembakaran material padat, biasa diistilahkan
dengan Particulate Matter (PM) atau Fly Ash. untuk partikel yang dihasilkan dari
proses pembakaran molekulnya merupakan kandungan High- Molecular-weight
Polycyclic Hydrocarbons didefenisikan sebagai Char (arang). Kategorinya
didasarkan atas ukuran dimulai dari >1 mikron sampai ukuran maksimum 500
mikron. ukuran partikel yang berbahaya bagi kesehatan adalah antara 0,1-10 mikron.
5. Hidrokarbon (HC)
Struktur Hidrokarbon (HC) terdiri dari elemen Hidrogen dan Karbon, sifat
fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. HC
adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupunpadatan.
Semakin tinggi jumlah atom Karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan.
Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4 atom Karbon akan berbentuk gas
pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan berbentuk cairan dan
padatan. HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya.
Sedangkan bila berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila
berbentuk padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal
menjadi debu. Untuk sifat fisis gas, Hidrokarbon lebih dominan pada ikatan Methane
(CH4).
6. Dioksin dan Furan
Adalah segala komponen Carbon-Hidrogen-Oksigen Halogen. Dioksin biasa
terbentuk karena pembakaran tidak sempurna dari material yang beraneka ragam,
yang tergolong pada bagian dioksin adalah Polyclorinated Dibenzo-p-Dioksin
Compounds (PCDD), sedangkan Furan adalah keseluruhan dari Polyclorinated
Dibenzofuran Compounds (PCDF).
Sumber Polusi Udara
Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain
industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut
merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas.
Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti
kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dan sebagainya. Salah satu
teknologi yang digunakan saat ini yang merupakan sumber pencemaran udara adalah
instalasi Insinerator. Instalasi ini jika tidak terencana dengan baik akan bernilai
negatif terhadap lingkungan, karena efek yang dihasilkan adalah produk-produk yang
destruktif.