Anda di halaman 1dari 1

1.

Akuntansi Kliring
Pada saat menjalankan fungsinya, biasanya bank komersial menggunakan sarana
kliring untuk memudahkan penyelesaian transaksi antarbank. Kliring merupakan sarana
atau tata cara perhitungan hutang piutang dalam bentuk surat-surat dagang atau surat
berharga dari suatu bank yang diselenggarakan Bank Indonesia terhadap bank lainnya
atau pihak yang ditunjuk (Taswan, 2008: 69). Tujuannya agar penyelesaiannya dapat
terselenggara dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar
lalu lintas pembayaran giral (Masodah, 2013).
Akuntansi kliring tidak hanya dikerjakan secara manual tetapi juga secara
otomasi atau elektronik, maka dapat diartikan sebagai pertukaran warkat atau data
keuangan elektronik antarbank baik atas nama bank maupun nasabah yang hasil
perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

1.1 Sistem Kliring


Berdasarkan sistem penyelenggaraan, kliring dapat menggunakan :
a. Sistem manual, yaitu sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam
pelaksanaan perhitungan, pembuatan bilyet saldo kliring, serta pemilihan warkat
dilakukan secara manual.
b. Sistem semi otomasi, yaitu sistem penyelenggaraan kliring lokal yang dalam
pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara
otomasi, sedangkan pemilihan warkat dilakukan secara manual oleh setiap
peserta.
c. Sistem otomasi, yaitu sistem peyelenggaraan kliring lokal yang dalam
pelaksanaan perhitungan, pembuatan bilyet saldo kliring dan pemilahan warkat
dilakukan oleh penyelenggaran secara otomasi.
d. Sistem elektronik, yaitu penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan
perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring didasarkan pada Data Keuangan
Elektronik (DKE) disertai dengan penyampain warkat peserta kepada
penyelenggaraan untuk diteruskan kepada peserta penerima.

Anda mungkin juga menyukai