Anda di halaman 1dari 43

RESOURCE & ENERGY

Investasi Terbesar Asal Tiongkok Ada di Morowali

ByRamadhan Triwijanarko
Posted on July 19, 2016
Sejak memulai pemerintahannya, Presiden Joko Widodo mencanangkan gerakan roda perekonomian Indonesia dengan
pembangunan infrastruktur dan kawasan industri. Melalui Kementerian Perindustrian, pemerintah menargetkan untuk
membangun 15 kawasan industri baru hingga tahun 2019. Adapun 13 kawasan akan dibangun di luar Pulau Jawa.

Salah satu kawasan industri yang sedang dibangun berada di kawasan Morowali, Sulawesi Tengah. Kawasan industri Morowali
ini dibangun dan dikelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), perusahaan patungan antara Shanghai Decent
Investment (Group) Co.,Ltd. dan PT Bintangdelapan Group.

Berada pada area seluas 1.300 hektare, pembangunan kawasan industri baru ini membutuhkan dana investasi sebesar Rp 78
triliun. Kawasan industri ini menandakan investasi terbesar yang pernah ditanamkan perusahan Tiongkok ke Indonesia

“Pemilihan Morowali sebagai lokasi dari kawasan industri ini dikarenakan sumber nikel di Indonesia banyak terdapat di area
Sulawesi dan Maluku Utara. Pemilihan lokasi ini berdasarkan banyaknya sumber daya yang nikel yang kami dibutuhkan,” ujar Du
Gui, Chief Representative Shanghai Decent Investment Co.,Ltd.

Pembangunan kawasan industri Morowali ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama, pembangunan smelternikel tahap I sebesar
US$ 635,57 juta. Kapasitas produksi 300.000 ton per tahun dan didukung oleh PLTU dengan kapasitas 2×65 MW. Tahap kedua,
adalah pembangunan smelter berkapasitas 600.000 ton.
Nilai investasinya sebesar US$ 1,04 miliar dan didukung PLTU sebesar 2×150 MW. Selanjutnya, pembangunan pabrik tahap ke-
3 akan ditargetkan memiliki kapasitas 300.000 ton dan dukungan PLTU sebesar 300 MW. Pabrik ketiga ini rencananya selesai
pada akhir tahun 2017 dengan nilai investasi sebesar US$ 820 juta. Sehingga secara total, keseluruhan kapasitas akan
mencapai 1,2 juta ton per tahun dengan didukung PLTU sebesar 730 MW.
Selain itu, juga akan didirikan infrastruktur penunjang seperti rumah sakit, bandara, dan pelabuhan. Di dalam kawasan tersebut
nantinya akan hadir pula industri hilir, seperti produsen alat rumah tangga, kapal, furnitur, konstruksi, dan otomotif.

Pemerintah Indonesia juga akan membangun Infrastruktur penunjang lainnya, seperti kawasan perumahan yang ditujukan untuk
para pekerja yang terlibat di kawasan industri ini. Selain itu, pemerintah akan menugaskan pihak kepolisian serta imigrasi untuk
beroperasi di sekitar kawasan industri. Institut Teknologi Bandung beserta Universitas Tsinghua juga direncakan bekerjasama
membangun pusat latihan.

Pengembangan kawasan industri merupakan upaya untuk mendorong tumbuhnya industri nasional sekaligus upaya untuk
penyebaran industri. Harapannya Pulau Jawa bukan satu-satunya pusat ekonomi. Sebaliknya, industri nasional dapat tersebar
ke pulau-pulai lain selain Pulau Jawa. Dengan pembangunan kawasan industri baru di luar Pulau Jawa, diharapkan peran
wilayah di luar Pulau Jawa terhadap nilai tambah sektor industri akan terus meningkat dari 28% pada 2013 menjadi 40% pada
2035.

Du Gui menjelaskan bahwa IMIP memiliki keistimewaan dibandingkan kawasan industri yang dibangun oleh pengembang
lainnya. Pertama, IMIP merupakan hasil investasi Tiongkok terbesar ke Indonesia. Kedua, IMIP berhasil mengolah besi
nikel. Ketiga, IMIP juga merupakan kawasan yang akan berhasil memproduksi stainless steel. Keempat, membangun
perekonomian lokal agar lebih sejahtera. Terakhir, mendapatkan perhatian dari para pelaku bisnis asal Tiongkok.
“Banyak yang berpikir bahwa orang Tiongkok hanya bisa bicara. Tapi, ini adalah realisasi investasi yang solid,” terang Du Gui
Inilah Target Kawasan Industri Morowali

SHARE



POSTED: MARET 7, 2017 PUKUL 10:17 AM / BY REDAKSI HILIRISASI / COMMENTS (0)

AIRLANGGA HARTARTOFERRONIKELKAWASAN INDUSTRI MOROWALINICKEL PIG IRON

Jakarta-Kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah ditargetkan mampu memproduksi 3 juta ton logam stainless steel per tahun, mulai 2018
nanti.

“Pada tahun 2017, kawasan tersebut menargetkan produksi hingga dua juta ton,” ucap Menteri Perindustrian Indonesia, Airlangga Hartarto seusai
bertemu dengan Chairman Tsingshan Holding Group Tiongkok, Xiang Gangda serta Duta Besar RRT untuk Indonesia, Xie Feng, baru-baru ini.

Airlangga mengatakan, selain melaporkan mengenai rencana ekspansi stainless steel, rombongan investor Tiongkok juga mengungkapkan
keinginan mereka memproduksi carbon steel. Untuk itu, mereka meminta beberapa fasilitas insentif seperti kemudahan impor dan tujuan ekspor
(KITE) serta dan masterlist peralatan industri.

Kawasan Industri itu juga menurutnya akan ditetapkan sebagai obyek vital nasional. Diharapkan, status tersebut dapat memberikan jaminan
keamanan dan kelancaran bagi investasi dan kegiatan produksi industri, termasuk perlindungan para karyawan.

“Karena investasi mereka cukup besar. Misalnya untuk investasi produksi carbon steel sebanyak 4-5 juta ton per tahun, diprediksi mencapai USD
4-5 miliar,” ungkapnya.

Merujuk data PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), selaku pengelola kawasan stainless steel diproduksi oleh PT Sulawesi Mining
Investment. Kapasitasnya sebesar satu juta ton per tahun dengan nilai investasi mencapai USD 62 juta. Selanjutnya, PT IMIP akan membangun
PLTU dengan kapasitas 2×350 MW senilai USD 500 juta.

Kawasan industri Morowali memiliki luas 2 ribu hektare, investasi sebesar Rp 80 triliun diharapkan dapat terserap, kemudian menyerap tenaga
kerja langsung sekitar 26 ribu orang, dan yang tidak langsung sebanyak 80 ribu orang. Target ini akan terealisasi apabila pabrik stainless steel
berkapasitas dua juta ton dan beberapa industri hilir lainnya telah beroperasi.

Airlangga menyatakan, kawasan industri Morowali turut mendorong langkah pemerintah dalam program hilirisasi yang bertujuan untuk
meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri.
“Oleh karena itu, di kawasan ini difokuskan pada pembangunan industri pengolahan dan pemurnian mineral logam atau smelter dengan bahan
dasar nikel,” jelasnya.

Kawasan Industri ini, dipenuhi industri smelter, seperti produsen feronikel PT Sulawesi Mining Investment, berkapasitas 300 ribu ton per. Industri ini
beroperasi sejak 2015. sejak tahun itu, perusahaan ini mengklaim telah menghasilkan nickel pig iron (NPI) sebanyak 215 ribu ton per tahun.

Selain itu, sejak Januari 2016, smelter feronikel lain juga beroperasi, yaitu PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry. Smelter
ini berkapasitas 600 ribu ton per tahun. Pada awal 2016, perusahaan mencatatkan produksi sebanyak 193 ribu ton.

Perusahaan asal Tiongkok ini saat ini juga telah melakukan commissioning test pabrik stainless steel dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.

Selain itu, terdapat pula industri smelter feronikel PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel dengan target kapasitas 600 ribu ton per tahun dan
stainless steel sebanyak 1 juta ton per tahun. Pembangunan pabriknya masih berjalan dengan tahapan 60 persen konstruksi.

Kemudian ada lagi PT. Indonesia Ruipu Nickel and Chrome. Diharapkan dapat beroperasi awal 2018.

Sementara itu, PT. Broly Nickel Industry, yang memfokuskan diri pada produksi Hidrometalurgi, mengklaim mampu memproduksi 8 ribu ton nikel
murni pertahun. Pabriknya sedang dalam tahap uji coba produksi. (BA)

Jakarta-Kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah ditargetkan mampu memproduksi 3 juta ton logam stainless steel per tahun, mulai 2018
nanti.

“Pada tahun 2017, kawasan tersebut menargetkan produksi hingga dua juta ton,” ucap Menteri Perindustrian Indonesia, Airlangga Hartarto seusai
bertemu dengan Chairman Tsingshan Holding Group Tiongkok, Xiang Gangda serta Duta Besar RRT untuk Indonesia, Xie Feng, baru-baru ini.

Airlangga mengatakan, selain melaporkan mengenai rencana ekspansi stainless steel, rombongan investor Tiongkok juga mengungkapkan
keinginan mereka memproduksi carbon steel. Untuk itu, mereka meminta beberapa fasilitas insentif seperti kemudahan impor dan tujuan ekspor
(KITE) serta dan masterlist peralatan industri.

Kawasan Industri itu juga menurutnya akan ditetapkan sebagai obyek vital nasional. Diharapkan, status tersebut dapat memberikan jaminan
keamanan dan kelancaran bagi investasi dan kegiatan produksi industri, termasuk perlindungan para karyawan.
“Karena investasi mereka cukup besar. Misalnya untuk investasi produksi carbon steel sebanyak 4-5 juta ton per tahun, diprediksi mencapai USD
4-5 miliar,” ungkapnya.

Merujuk data PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), selaku pengelola kawasan stainless steel diproduksi oleh PT Sulawesi Mining
Investment. Kapasitasnya sebesar satu juta ton per tahun dengan nilai investasi mencapai USD 62 juta. Selanjutnya, PT IMIP akan membangun
PLTU dengan kapasitas 2×350 MW senilai USD 500 juta.

Kawasan industri Morowali memiliki luas 2 ribu hektare, investasi sebesar Rp 80 triliun diharapkan dapat terserap, kemudian menyerap tenaga
kerja langsung sekitar 26 ribu orang, dan yang tidak langsung sebanyak 80 ribu orang. Target ini akan terealisasi apabila pabrik stainless steel
berkapasitas dua juta ton dan beberapa industri hilir lainnya telah beroperasi.

Airlangga menyatakan, kawasan industri Morowali turut mendorong langkah pemerintah dalam program hilirisasi yang bertujuan untuk
meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri.

“Oleh karena itu, di kawasan ini difokuskan pada pembangunan industri pengolahan dan pemurnian mineral logam atau smelter dengan bahan
dasar nikel,” jelasnya.

Kawasan Industri ini, dipenuhi industri smelter, seperti produsen feronikel PT Sulawesi Mining Investment, berkapasitas 300 ribu ton per. Industri ini
beroperasi sejak 2015. sejak tahun itu, perusahaan ini mengklaim telah menghasilkan nickel pig iron (NPI) sebanyak 215 ribu ton per tahun.

Selain itu, sejak Januari 2016, smelter feronikel lain juga beroperasi, yaitu PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry. Smelter
ini berkapasitas 600 ribu ton per tahun. Pada awal 2016, perusahaan mencatatkan produksi sebanyak 193 ribu ton.

Perusahaan asal Tiongkok ini saat ini juga telah melakukan commissioning test pabrik stainless steel dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.

Selain itu, terdapat pula industri smelter feronikel PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel dengan target kapasitas 600 ribu ton per tahun dan
stainless steel sebanyak 1 juta ton per tahun. Pembangunan pabriknya masih berjalan dengan tahapan 60 persen konstruksi.

Kemudian ada lagi PT. Indonesia Ruipu Nickel and Chrome. Diharapkan dapat beroperasi awal 2018.

Sementara itu, PT. Broly Nickel Industry, yang memfokuskan diri pada produksi Hidrometalurgi, mengklaim mampu memproduksi 8 ribu ton nikel
murni pertahun. Pabriknya sedang dalam tahap uji coba produksi.
Potensi Industri Luar Jawa Dimaksimalkan
Koran SINDO
Rabu, 18 Februari 2015 - 12:10 WIB
views: 4.373

istimewa

A+ A-
BANDUNG - Kementerian Perindustrian berencana memaksimalkan potensi industri di luar Jawa. Ini sejalan dengan kecenderungan sektor
industri pengolahan non-migas yang mulai bergeser ke luar Pulau Jawa.

“Pertumbuhan sektor industri non-migas di luar Pulau Jawa sebesar 6,56% lebih tinggi dari pertumbuhan di Pulau Jawa yang sebesar
5,99%,” ujar Menteri Perindustrian Saleh Husindalam rapat koordinasi Kemperin dengan pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi tahun 2015 di Bandung, kemarin.

Saleh mengatakan, sektor industri pengolahan non-migas mulai bergeser ke luar Jawa pada 2008 yaitu dari 24,63% menjadi 27,22% pada
tahun 2013. Meski demikian diakui bahwa kontribusi wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi terhadap nilai tambah sektor
industri nonmigas nasional masih relatif kecil, yaitu sekitar 2,78%.

Saleh menambahkan, ke depan kontribusi wilayah di luar Pulau Jawa dalam sumbangannya terhadap nilai tambah sektor industri akan terus
ditingkatkan. Dari 27,22% pada tahun 2013, kontribusi luar Jawa diproyeksikan menjadi sekitar 40% pada 2035. “Untuk wilayah Papua,
Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi akan ditingkatkan dari 2,78% pada tahun 2013 menjadi sekitar 5,33% pada tahun 2035,”
tambahnya.

Faktor penghambat majunya perkembangan industri di wilayah timur Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur, kualitas, dan jumlah
sumber daya manusia serta biaya logistik tinggi. Namun di balik itu, terdapat sumber daya industri, khususnya sumber daya alam yang
melimpah untuk dilipatgandakan nilai tambahnya melalui industrialisasi.

Langkah itu diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Dalam
Perpres No 2/2015 tentang RPJMN 2015-2019, arah kebijakan pembangunan industri nasional akan difokuskan pada pengembangan
perwilayahan industri di luar Pulau Jawa melalui fasilitasi pembangunan 14 kawasan industri dan 22 sentra industri kecil dan menengah.

Di wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi, Kemenperin akan memfasilitasi pembangunan tujuh kawasan industri, yaitu di
Teluk Bintuni (Papua Barat); Halmahera Timur (Maluku Utara); Bitung (Sulawesi Utara); Palu (Sulawesi Tengah); Morowali (Sulawesi
Tengah); Konawe (Sulawesi Tenggara); dan Bantaeng (Sulawesi Selatan); serta 11 sentra industri kecil dan menengah.

Salah satu kawasan industri yang menjadi percontohan adalah di Morowali yang saat ini sudah mulai percobaan produksi. “Diharapkan,
pada bulan April nanti produksi perdana untuk feronikel yang saat ini trial 500 ton per hari dan kira-kira pada bulan April bisa 800 ton per
hari. Total investasi nanti sampai industri berikutnya stainless steel, sampai ke industri lanjutannya itu sekitar USD4,2 miliar,” ungkapnya.
Pemerintah memperkirakan, untuk mengembangkan tujuh kawasan industri tadi dibutuhkan investasi sekitar Rp125 triliun dan tenaga kerja
kurang lebih 560.000 pekerja. Dua di antaranya menjadi proyek percontohan pemerintah, yaitu Kawasan Industri Morowali Tsinghang di
Sulawesi Tengah dan Kawasan Industri Konawe di Sulawesi Tenggara, di mana investor kedua kawasan industri tersebut berasal dari
China.

“Industriyang berbasis pada nikel, bauksit, hampir seluruhnya dari China dan investasi cukup besar dan padat modal,” lanjut Saleh. Direktur
Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin Imam Haryono mengatakan, membangun kawasan industri membutuhkan
waktu. Namun, kawasan industri Morowali bisa cepat karena pengelola kawasan hampir sama, dan infrastruktur utama dan pendukung pun
paling siap.

Imam menambahkan, fasilitas yang diberikan kepada tujuh kawasan industri tersebut berupa lahan, infrastruktur di dalam kawasan industri,
dan koordinasi antara kementerian dan lembaga. Dia memberi catatan, pengembangan industri harus disokong infrastruktur pendukung
yang memadai.

Tanpa itu, dia khawatir penyebaran dan pemerataan industri tetap berjalan lambat. Deputi Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah
Kementerian Koordinator Perekonomian Luky Eko Wuryanto di Yogyakarta mengatakan, pemerintahakan menyiapkan anggaran sekitar
USD5 miliar hingga 2019 untuk membangun sebanyak 15 kawasan industri baru dengan perincian 13 kawasan di luar Pulau Jawa, dan dua
kawasan di Jawa.

Mayoritas anggaran akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, pemerintah juga akan melakukan perpanjangan fasilitas
fiskal untuk sektor industri seperti tax allowance dan tax holiday tahun ini. Insentif tax allowance tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP)
No 52/2011 rencananya bisa tuntas pada Februari atau Maret tahun ini, sementara tax holiday dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
No 192/2014 jo 130/2011 akan diperpanjang setelah aturan tersebut berakhir pada 15 Agustus tahun ini

Kawasan Industri Ditargetkan Tarik Investasi Rp250 Triliun

JAKARTA– Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan nilai investasi yang bisa ditarik dari 13 kawasan industri akan mencapai
Rp250,7 triliun pada tahun 2018.
”Pemerintah telah memberikan kemudahan berinvestasi di dalam kawasan industri, antara lain melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal
serta pembentukan satgas untuk penyediaan gas, listrik, air, SDM, lahan, tata ruang, dan lain-lain,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga
Hartarto dalam keterangan tertulisnya. Airlangga mengatakan, proyeksi investasi di industri secara keseluruhan sektor manufaktur pada tahun
ini sebanyak Rp352 triliun. Dengan adanya investasi di sektor industri, maka tercipta lapangan kerja baru dan multiplier effect seperti
peningkatan nilai tambah dan penerimaan devisa dari ekspor.

”Oleh karenanya, industri menjadi penunjang utama dari target pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya. Airlangga mengatakan, untuk
meningkatkan investasi dan ekspor, maka diperlukan langkah strategis seperti promosi kepada para pemodal mengenai iklim usaha yang
kondusif di Indonesia dan perluasan pasar produk industri lokal ke kancah internasional. ”Pemerintah akan mengadakan roadshow kepada
investor potensial dan rating agency agar mereka mengenal Indonesia dan mengetahui regulasi-regulasi yang sudah diperbaiki terkait
penciptaan iklim investasi yang baik,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pihaknya telah memfasilitasi pembangunan sejumlah kawasan industri terpadu dengan fasilitasfasilitas menunjang guna
memudahkan para investor mengembangkan bisnisnya di Tanah Air. ”Pembangunan kawasan industri juga merupakan salah satu upaya
pemerintah mengurangi ketimpangan ekonomi dalam negeri serta mewujudkan Indonesia sentris,” katanya. Kementerian Perindustrian
(Kemenperin) mencatat, ekspor industri pengolahan nonmigas hingga November tahun 2017 sebesar USD114,67 miliar atau naik 14,25%
dibandingkan dengan periode sama tahun 2016 sekitar USD100,36 miliar. Ekspor industri pengolahan nonmigas ini memberikan kontribusi
hingga 74,51% dari total ekspor nasional hingga November 2017 yang mencapai USD153,90 miliar.

Menurut Airlangga, untuk menggenjot ekspor diperlukan kemudahan akses pasar. Dalam hal ini pemerintah terus berunding untuk
menyepakati perjanjian kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. ”Kalau hambatannya itu
dikurangi, seperti bea masuk ekspor, kinerja industri tekstil dan alas kaki kita akan ikut naik,” katanya. Saat ini beberapa industri yang
pertumbuhannya di atas pertumbuhan ekonomi adalah industri makanan dan minuman, industri kimia, industri berbasis hilirisasi baja, industri
pulp dan kertas, serta industri perhiasan.
Airlangga mengungkapkan, dibutuhkan dukungan ketersediaan bahan baku dan harga energi yang kompetitif. Lebih lanjut menurut dia, guna
mendongkrak daya saing manufaktur nasional, hal utama lainnya yang sedang diupayakan Kemenperin adalah memfasilitasi pemberian
insentif fiskal kepada industri yang mengembangkan pendidikan vokasi dan membangun pusat inovasi di Indonesia. Ketua Umum Himpunan
Kawasan Industri Indonesia Sanny Iskandar mengatakan, untuk mencapai target tersebut, pemerintah harus menjaga iklim investasi tetap
kondusif apalagi dengan adanya serangkaian kegiatan pilkada di 171 daerah dan tahapan kegiatan pilpres tahun 2019.

”Kedua, pemerintah harus melakukan reformasi birokrasi perizinan seperti yang sudah dicanangkan melalui paket kebijakan ekonomi ke-16
melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha. Ini harus benar-benar
diimplementasikan supaya pengurusan perizinan tidak ada kendala,” ujarnya. Selain itu, masalah pembangunan infrastruktur untuk
mendukung kegiatan industri yang ada di kawasan industri juga perlu dilaksanakan.

”Terkait pelabuhan, akses pelabuhan ke kawasan, pembangkit listrik, suplai gas industri, semua yang berhubungan dengan infrastruktur dan
aktivitas industri harus dipenuhi,” katanya. Sanny menambahkan, dukungan insentif fiskal maupun nonfiskal juga dibutuhkan agar investor
tertarik.

Tahun 2018, Pemerintah Targetkan Investasi Senilai Rp.250,7 Triliun Dari 13 Kawasan Industri
By

Redaksi

7 January 2018 | 20:40 Atjeh Satoe News

SHARE

Facebook

Twitter
AtjehSatoe, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menargetkan nilai investasi pada tahun 2018 ini akan
mencapai Rp 250,7 triliun yang bisa ditarik dari 13 Kawasan Industri (KI).
Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartanto mengatakan bahwa untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah
memberikan kemudahan berinvestasi di dalam kawasan industri, antara lain melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal serta
pembentukan satgas untuk penyediaan gas, listrik, air, SDM, lahan, tata ruang, dan lain-lain.

Pemerintah juga akan melakukan promosi kepada para pemodal mengenai iklim usaha yang kondusif di Indonesia dan perluasan
pasar produk industri lokal ke kancah internasional.

“Pemerintah akan mengadakan roadshow kepada investor potensial dan rating agency agar mereka mengenal Indonesia dan
mengetahui regulasi-regulasi yang sudah diperbaiki terkait penciptaan iklim investasi yang baik,” kata dia ,” kata Airlangga
dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (6/1).

Ke-13 kawasan industri (KI) tersebut, yaitu KI Morowali, Sulawesi Tengah, KI atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei
Mangkei, Sumatera Utara, KI Bantaeng, Sulawesi Selatan, KI JIIPE Gresik, Jawa Timur, KI Kendal, Jawa Tengah, dan KI Wilmar
Serang, Banten. Selanjutnya, KI Dumai, Riau, KI Konawe, Sulawesi Tenggara, KI/KEK Palu, Sulawesi Tengah, KI/KEK Bitung,
Sulawesi Utara, KI Ketapang, Kalimantan Barat, KI/KEK Lhokseumawe, Aceh, dan KI Tanjung Buton, Riau.

Menperin menjelaskan, pemerintah telah memfasilitasi pembangunan sejumlah kawasan industri terpadu dengan fasilitas-
fasilitas yang menunjang guna memudahkan para investor mengembangkan bisnisnya di Tanah Air. Pembangunan kawasan
industri, dia menuturkan, merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dalam negeri serta
mewujudkan Indonesia sentris.

Proyeksi investasi di industri secara keseluruhan sektor manufaktur pada tahun ini sebanyak Rp 352 triliun. Dengan adanya
investasi di sektor industri, bisa tercipta lapangan kerja baru dan multiplier effect seperti peningkatan nilai tambah dan
penerimaan devisa dari ekspor. “Oleh karenanya, industri menjadi penunjang utama dari target pertumbuhan ekonomi,”
ungkapnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, ekspor industri pengolahan non-migas sampai November tahun 2017 sebesar 114,67
miliar Dolar AS atau naik 14,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sekitar 100,36 miliar Dolar AS. Ekspor
industri pengolahan nonmigas ini memberikan kontribusi hingga 74,51 persen dari total ekspor nasional sampai November 2017
yang mencapai 153,90 miliar Dolar AS.