Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN TEORI

A.Pengertian Budaya Akademik.

Budaya akademik(Academic culture), Budaya Akademik dapat

dipahamisebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang

dihayati, dimaknaidan diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di

lembaga pendidikan tinggi danlembaga penelitian.Kehidupan dan

kegiatanakademik diharapkan selalu berkembang, bergerak majubersama

dinamika perubahan dan pembaharuan sesuai tuntutan zaman.Perubahan

dan pembaharuan dalam kehidupan dan kegiatan akademik menuju

kondisiyang ideal senantiasa menjadi harapan dan dambaan setiap insan

yangmengabdikandan mengaktualisasikan diri melalui dunia pendidikan

tinggi dan penelitian, terutamamereka yang menggenggam idealisme dan

gagasan tentang kemajuan. Perubahan danpembaharuan ini hanya dapat

terjadi apabila digerakkan dan didukung oleh pihak-pihakyang saling

terkait,memiliki komitmen dan rasa tanggungjawab yang tinggi

terhadapperkembangan dan kemajuan budaya akademik.Budaya akademik

sebenarnya adalah budaya universal. Artinya, dimiliki olehsetiap orang yang

melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik.1

1
1https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

Membangun budayaakademik bukan perkara yang mudah . Diperlukan

upaya sosialisasiterhadap kegiatanakademik, sehingga terjadi kebiasaan di

kalangan akademisi untuk melakukan norma-normakegiatan akademik

tersebut.Pemilikan budaya akademik ini seharusnya menjadi idola semua

insan akademisiperguruaan tinggi, yakni dosen dan mahasiswa. Derajat

akademik tertinggi bagiseorang dosen adalah dicapainya kemampuan

akademik pada tingkat guru besar(profesor). Sedangkan bagi mahasiswa

adalah apabila ia mampu mencapai prestasiakademik yang

setinggi-tingginya.Khusus bagi mahasiswa, faktor-faktor yang dapat

menghasilkan prestasiakademik tersebut ialah terprogramnya kegiatan

belajar, kiat untuk berburu referensiactual dan mutakhir, diskusi substansial

akademik, dsb. Dengan melakukan aktivitasseperti itu diharapkan dapat

dikembangkan budaya mutu (quality culture) yang secarabertahap dapat

menjadi kebiasaan dalam perilaku tenaga akademik dan mahasiswadalam

proses pendidikan di perguruaan tinggi.Oleh karena itu, tanpa melakukan

kegiatan-kegiatan akademik, mustahil seorangakademisi akan memperoleh

nilai-nilai normative akademik. Ia mampuberbicara tentang norma dan

nilai-nilai akademik tersebut didepan forum namun tanpaproses belajar dan

2
latihan, norma-norma tersebut tidak akan pernah terwujud dalampraktik

kehidupan sehari-hari2

2https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

Bahkan sebaliknya, ia tidak segan-segan melakukanpelanggaran dalam

wilayah tertentubaik disadari ataupun tidakKiranya, dengan mudah disadari

bahwa perguruan tinggi berperan dalam mewujudkanupaya dan pencapaian

budaya akademik tersebut. Perguruan tinggi merupakan wadahpembinaan

intelektualitas dan moralitas yang mendasari kemampuan

penguasaanIPTEK dan budaya dalam pengertian luas disamping dirinya

sendirilah yang berperanuntuk perubahan tersebut.

B. Pembahasan Tentang Budaya Akademik

Dari berbagai Forum terbuka tentang pembahasan Budaya Akademik yang

berkembangdiindonesia, menegaskan tentang berbagai macam pendapat di

antaranya :

1.Konsep dan Ciri-Ciri

Perkembangan Budaya AkademikDalam situasi yang sarat idealisme,

rumusan konsep dan pengertian tentangBudaya Akademik yang

disepakati oleh sebagian besar (167/76,2%) responden adalah“Budaya

3
atau sikap hidup yang selalu mencari kebenaran ilmiah melalui

kegiatanakademik dalam masyarakat akademik, yang mengembangkan

kebebasan berpikir,keterbukaan, pikiran kritis-analitis; rasional dan

obyektif oleh warga masyarakatakademik” Konsep dan pengertian

tentang Budaya Akademik tersebut didukungperumusan karakteristik

perkembangannya yang disebut3.

3https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

“Ciri-Ciri PerkembanganBudaya Akademik” yang

meliputiberkembangnya :

a. penghargaan terhadap pendapat orang lain secara obyektif

b. pemikiran rasional dan kritisanalitis dengan tanggungjawab moral

c. kebiasaan membaca

d. penambahan ilmu dan wawasan

e. kebiasaan meneliti dan mengabdi kepada masyarakat

f. penulisan artikel, makalah, buku

g. diskusi ilmiah

h. proses belajar-mengajar

4
j. manajemen perguruan tinggi yang baik

2. Tradisi Akademik

Pemahaman mayoritas responden (163/74,4%) mengenai Tradisi

Akademikadalah,“Tradisi yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat

akademik dengan menjalankanproses belajarmengajar antara dosen

dan mahasiswamenyelenggarakan penelitian danpengabdian

kepadamasyarakat, serta mengembangkan cara-cara berpikir

kritisanalitis,rasional dan inovatif di lingkungan akademik.

”Tradisi menyelenggarakan proses belajar-mengajar antara guru dan

murid, antarapandito dan cantrik4

4https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

antara kiai dan santri sudah mengakar sejak ratusan tahun yang

lalu,melaluilembaga-lembaga pendidikan seperti padepokan dan

pesantren. Akan tetapitradisi-tradisi lain seperti menyelenggarakan

penelitian adalah tradisi baru. Demikianpula, tradisi berpikir

kritis-analitis, rasional dan inovatif adalahkemewahan yang

tidakterjangkau tanpa terjadinya perubahan danpembaharuan sikap

mental dan tingkah lakuyang harus terus-menerusdiinternalisasikan dan

5
disosialisasikan dengan menggerus sikapmental paternalistik dan

ewuhpakewuh yang berlebih-lebihan pada sebagian

masyarakatakademik yang mengidap tradisi lapuk, terutama dalam

paradigma patron-clientrelationship yang mendarahdaging.

3. Kebebasan Akademik

Pengertian tentang “Kebebasan Akademik” yang dipilih oleh 144

orang(65,7%)responden adalahKebebasan yang dimiliki oleh

pribadi-pribadi anggota sivitas akademika(mahasiswa dan dosen) untuk

bertanggungjawabdan mandiri yang berkaitan denganupaya

penguasaan dan pengembanganIptek dan seni yang mendukung

pembangunannasional. Kebebasanakademik meliputi kebebasan

menulis, meneliti, menghasilkankarya keilmuan, menyampaikan

pendapat, pikiran, gagasan sesuai dengan bidang ilmuyangditekuni5,

5https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

dalam kerangka akademis (Kistanto, et. al., 2000: 86).

“Kebebasan Akademik” berurat-berakar mengiringi tradisi intelektual

masyarakatakademik – tetapi kehidupan dan kebijakan politik acapkali

mempengaruhi dinamika danperkembangannya. Dalam rezim

6
pemerintahan yang otoriter, kiranya kebebasanakademik akan sulit

berkembang. Dalam kepustakaan internasional kebebasan

akademikdipandang sebagai inti dari budaya akademik dan berkaitan

dengan kebebasanberpendapat (lihat CODESRIA 1996, Forum 1994,

Daedalus Winter 1997, Poch 1993,Watch 1998, Worgul 1992).

Dalam masyarakat akademik di Indonesia, kebebasan akademik yang

berkaitandengan kebebasan berpendapat telah mengalami penderitaan

yang panjang, selamapuluhan tahun diwarnai oleh pelarangan dan

pembatasan kegiatan akademik di erapemerintahan Suharto (lihat

Watch 1998). Kinikebebasan akademik telah berkembangseiring

terjadinya pergeseranpemerintahan dari Suharto kepada Habibie, dan

makinberkembang begitu bebas pada pemerintahan Abdurrahman

Wahid, bahkan hampir takterbatas dan “tak bertanggungjawab,” sampai

pada pemerintahan Megawati, yangmakinsulit

mengendalikanperkembangan kebebasan berpendapat.Selain itu,

kebebasanakademik kadangkala juga berkaitan dengan sikap-sikap6.

6https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

dalam kehidupan beragama yang pada era dan pandangan keagamaan

tertentumenimbulkan hambatan dalam perkembangan kebebasan

7
akademik, khususnyakebebasan berpendapat.Dapat dikatakan bahwa

kebebasan akademik suatu masyarakat-bangsa sangattergantung dan

berkaitan dengan situasi politik dan pemerintahan yang

dikembangkanoleh para penguasa.Pelarangan dan pembatasan

kehidupan dan kegiatan akademik yangmenghambat perkembangan

kebebasan akademik pada lazimnya meliputi :

a. penerbitan buku tertentu

b. pengembangan studi tentang ideologi tertentu; dan

c. pengembangan kegiatan kampus, terutama demonstrasi dan diskusi

yangbertentangan dengan ideologi dan kebijakan pemerintah atau

negara.

C. Otonomi Keilmuan

Dalam PP No. 30 Th. 1990 terdapat konsep mengenai “Otonomi Keilmuan”

yangdisebut “merupakan pedoman bagi perguruan tinggi dan sivitas

akademika dalampenguasaan dan pengembangan IPTEK dan seni.” PP

tersebut tidak memberikanpenjelasan lebih lanjut mengenai

“OtonomiKeilmuan” tetapi memberikan arahan yangpenjabarannya

tampaknya diserahkan kepada PT masing-masing, antara lain7:

8
7https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

1. Pelaksanaan kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan

otonomikeilmuan berpedoman pada norma dan kaidah keilmuan,

diarahkan untukmemantapkan terwujudnya penguasaan,

pengembangan IPTEK dan seni;

2. Senat perguruan tinggi berkewajiban merumuskan peraturan

pelaksanaankebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan

perwujudan otonomikeilmuan dalam kerangka pemantapan terwujudnya

penguasaan,pengembanganIPTEK, seni, dan pembangunan nasional.

Empat pilihan jawaban yang diajukandalam butir kuesioner tentang

“Otonomi Keilmuan” tidak secara eksplisitmemungut dari PP No. 30/Th.

1990,melainkan lebih dari hasil surveipendahuluan yang dilaksanakan

sebelumnya pada tingkat lokal yang berbunyisebagai berikut:

a. Kewenangan bagi perguruan tinggi untuk merumuskan

pelaksanaanpengembangan kegiatan-kegiatan akademik di kampus

masing-masing.

b. Otonomi lembaga-lembaga keilmuan (perguruan tinggi) untuk

menggali,menemukan dan mengembangkan IPTEKS.

c. Otonomi pengembangan keilmuan yang dimiliki dosen dan

mahasiswa sesuaikaidah-kaidah dan norma-norma keilmuan8.

9
8https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

D. Kesadaran Kritis Dan Budaya Akademik

Merujuk pada redaksi UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab VI

bagian ke empat pasal 19 bahwasanya mahasiswa itu sebenarnya hanya

sebutan akademisuntuk siswa/ murid yang telah sampai pada jenjang

pendidikan tertentu dalam masapembelajarannya. Sedangkan secara

harfiah, mahasiswa” terdiri dari dua kata, yaituMaha yang berarti tinggi dan

Siswa yang berarti subyek pembelajar sebagaimanapendapat Bobbi de

porter, jadi kaidah etimologis menjelaskan pengertian mahasiswasebagai

pelajar yang tinggi atau seseorang yang belajar di perguruan tinggi/

universitas.Namun jika kita memaknai mahasiswa sebagai subyek

pembelajar saja, amatlah sempitsebab meski diikat oleh suatu definisi study,

akan tetapi mengalami perluasan maknamengenai eksistensi dan peran

yang dimainkan dirinya. Kemudian pada perkembanganselanjutnya,

mahasiswa tidak lagi diartikan hanya sebatas subyek pembelajar

(study),akan tetapi ikut mengisi definisi learning. Mahasiswa

adalahseorangpembelajar yangtidak hanya duduk di bangku kuliah

kemudian mendengarkan tausiyah dosen, lalu setelahitu pulang dan

menghapal di rumah untuk menghadapi ujian tengah semester atau

10
UjianAkhir semester. Mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang simbol

pembaharu daninisiator perjuangan yang respect dan tanggap terhadap

isu-isu sosial9

9https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

sertapermasalahanumat manusia.Apabila kita melakukan kilas balik, melihat

sejarah, peran mahasiswa acapkali mewarnaiperjalanan bangsa Indonesia,

mulai dari penjajahan hingga kini masa reformasi.mahasiswa bukan hanya

menggendong tas yang berisi buku, tapi mahasiswa turut angkatsenjata

demi kedaulatan bangsa Indonesia. Dan telah menjadi rahasia umum,

bahwasanyamahasiswa lah yang menjadi pelopor restrukturisasi tampuk

kepemimpinan NKRI padasaat reformasi 1998. Peran yang diberikan

mahasiswa begitu dahsyat, sehingga sendi-sendibangsa yang telah rapuh,

tidak lagi bisa ditutup-tutupi oleh rezim dengan statusquonya, tetapi bisa

dibongkar dan dihancurkan oleh Mahasiswa.Mencermati alunan sejarah

bangsa Indonesia, hingga kini tidak terlepas dari peranmahasiswa, oleh

karena itu mahasiswa dapat dikategorikan sebagai Agent of

socialchange(Istilah August comte) yaitu perubah dan pelopor ke arah

perbaikan suatubangsa. Kendatipun demikian, paradigma semacam ini

belumlah menjadi kesepakatanbersama antar mahasiswa (Plat form ),

sebab masih ada sebagian madzhab mahasiswayang apriori ( cuek )

11
terhadap eksistensi dirinya sebagai seorang mahasiswa, bahkan iatak mau

tahu menahu tentang keadaan sekitar lingkungan masyarakat ataupun

sekitarlingkungan kampusnya sendiri. Yang terpenting buat mereka adalah

duduk dibangkukuliah menjadi kambing conge dosen10,

10https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

lantas pulang duluan ke rumah. Inikah mahasiswa ? Padahal, mahasiswa

adalah sosok yang semestinya kritis, logis,berkemauan tinggi, respect dan

tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa, maubekerja keras,

belajar terus menerus, mempunyai nyali (keberanian yang tinggi)

untukmenyatakan kebenaran, aplikatif di lingkungan masyarakat serta

spiritualis dan konsistendalam mengaktualisasikan nilai-nilai ketauhidan

kepada Tuhan Yang Maha Esa.Dengan Konsep itulah, mahasiswa

semestinya bergerak dan menyadari dirinya akaneksistensi

ke-mahahasiswaan nya itu. Belajar tidaklah hanya sebatas mengejar

gelarakademis atau nilai indeks prestasi ( IP ) yang tinggi dan mendapat

penghargaancumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama

rakyat dan pemerintah untukmembangun bangsa, atau paling tidak dalam

lingkup yang paling mikro, ada suatukemauan untuk mengembangkan

civitas/ perguruan tinggi dimana ia kuliah. Misalnyadengan ikut serta/ aktif di

Organisasi Mahasiswa, baik itu Organisasi intra kampus ( BEMdan UKM )

12
ataupun Organisasi Ekstra kampus, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan

lainyang mengarah pada pembangunan bangsa11.

E. Etos Kerja

Etos adalah pandanganhidup yang khas dari suatu golongansosial12.

11https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255
12

Menurut Muhaimin (2012),etos berasal dari bahasaYunani”Ethos” yang

berati watak ataukarakter, sikap, dan kebiasaan. Darikata etos terambil pula

kata “etika”dan “etis” yang mengacu pada makna akhlaq atau bersifat

akhlaqi, yaknikualitas esensial seseorang ataukelompok, termasuk

suatubangsa.Berdasarkan kamus Webster(2007), “etos”didefinisikan

sebagai“the guiding beliefs of a person,group, or organization”

ataukeyakinan yang berfungsi sebagaipanduan tingkah laku bagi

seseorang,sekelompok, atau institusi.Kerja menurut Kamus BesarBahasa

Indonesiakegiatan melakukansesuatu atau yang dilakukan(diperbuat).

Sedangkan menurutTasmara (2002), kerja adalah semuaaktifitas yang

dilakukan karena adanyadorongan untuk mewujudkan sesuatudan

dilakukan karena kesengajaansehingga tumbuh rasa tanggung jawabyang

13
besar untuk menghasilkan karyaatau produk yang berkualitas.

Bekerjaditujuan untuk mencapai hasil baikberupa benda, karya atau

pelayanankepada masyarakat baik berkaitandengan fisik, maupun

berhubungandengan mental (jiwa)sepertipengakuan diri, kepuasan,

prestasi,dan lain-lainDapat disimpulkanbahwa kataetos dan kerja atau

pekerjaanberhubungan erat. Etos kerja adalahsemangat kerja yang terlihat

dalamcara seseorang dalam menyikapipekerjaan, motivasi yang

melatarbelakangi seseorang melakukan suatupekerjaan. Dalam arti lain etos

kerjamerupakan suatu pandangan13

13http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

dan sikapsuatu bangsa/umat terhadapkerja.Muhaimin (2012)

menjelaskanbahwa etos kerja diartikan sebagaisemangat kerja yang

menjadi ciri khasdan keyakinan seseorang atau suatukelompok. “Etos kerja”

berartikarakteristik, sikap atau kebiasaan,kualitas esensial

seseorangAtaukelompok(bangsa) dalam bekerja.Etos kerja menurut dapat

diartikansebagai suatu doktrin tentang kerjayang diyakini seseorang

atausekelompok orang sebagai baikDanbenar yang terwujud nyata

secarakhas dalam perilaku kerja mereka.Dapatdisimpulkan bahwa etoskerja

seorang pendidikmerupakankarakteristik khas seorang pendidikmenyangkut

semangat, dan kinerjanyadalam bekerja(mengajar), serta sikapdan

14
pandangannya terhadap terhadapkerja. Etos kerja pendidik

dalampengertian lain yaitu sikap mental dancara diri seorang guru

dalammemandang, mempersepsi,menghayati sebuah nilai dari kerja14.

F.Konsep kerja dalam islam

Kemuliaan seorang manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya.

Dengan itu,sesuatu amalan atau pekerjaan yang mendekatkan seseorang

kepada Allah adalahsangat penting serta patut untuk diberi perhatian.

Amalan atau pekerjaan yang demikianselain memperoleh keberkahan

sertakesenangan dunia15,

14ttp://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

15https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

juga ada yang lebih pentingyaitu merupakan jalan atau tiket dalam

menentukan tahap kehidupan seseorang diakhirat kelak, apakah masuk

golongan ahli syurga atau sebaliknyaIstilah ‘kerja’ dalam Islam bukanlah

semata-mata merujuk kepada mencari rezekiuntuk menghidupi diri dan

keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam,dari pagi

hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup

segalabentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan

15
keberkahan bagidiri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara.

Dengan kata lain, orang yangberkerja adalah mereka yang menyumbangkan

jiwa dan enaganya untuk kebaikan diri,keluarga, masyarakat dan negara

tanpa menyusahkan orang lain. Oleh karena itu,kategori ahli Syurga seperti

yang digambarkan dalam Al-Qur’an bukanlah orang yangmempunyai

pekerjaan/jabatan yang tinggi dalam suatu perusahaan/instansi

sebagaimanajer, direktur, teknisi dalam suatu bengkel dan sebagainya.

Tetapi sebaliknya Al-Quran menggariskan golongan yang baik lagi

beruntung (al-falah) itu adalah orangyang banyak taqwa kepada Allah,

khusyu sholatnya, baik tutur katanya, memeliharapandangan dan sikap

malunya pada-Nya serta menunaikan tanggung jawab sosialnyaseperti

mengeluarkan zakat dan lainnya (QS Al Mu’minun : 1 – 11)16

16https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-k

erja.pdf.tanggal.1.10.2017.pukul.07.55

Golongan ini mungkin terdiri dari pegawai, supir, tukang sapu ataupun

seorang yangtidak mempunyai pekerjaan tetap. Sifat-sifat di ataslah

sebenarnya yang menjaminkebaikan dan kedudukan seseorang di dunia

dan di akhirat kelak. Jika membaca haditshaditsRasulullah SAW tentang

ciri-ciri manusia yang baik di sisi Allah, maka tidakheran bahwa diantara

16
mereka itu ada golongan yang memberi minum anjing kelaparan,mereka

yang memelihara mata, telinga dan lidah dari perkara yang tidak berguna,

tanpamelakukan amalan sunnah yang banyak dan seumpamanya.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Umar r.a., berbunyi :

’Bahwa setiap amal itu bergantung pada niat, dan setiap individu

itudihitungberdasarkan apa yang diniatkannya’ Dalam riwayat lain,

Rasulullah SAW bersabda :

Binasalah orang-orang Islam kecuali mereka yang berilmu. Maka

binasalahgolongan berilmu, kecuali mereka yang beramal dengan ilmu

mereka. Danbinasalah golongan yang beramal dengan ilmu mereka kecuali

mereka yang ikhlas.Kedua hadist diatas sudah cukup menjelaskan betapa

niat yang disertai dengankeikhlasanitulah inti sebenarnya dalam kehidupan

dan pekerjaan manusia. Alangkah baiknyakalau umat Islam hari ini, dapat

bergerak dan bekerja dengan tekun dan mempunyaitujuan yang satu, yaitu

‘mardatillah’ (keridhaan Allah)17.

17https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.ta

nggal.1.10.2017.pukul.07.55

itulah yang dicari dalam semua urusan. Dari situlah akan lahir nilai

keberkahan yangsebenarnya dalam kehidupan yang penuh dengan curahan

rahmat dan nikmat yangbanyak dari Allah. Inilah golongan yang diistilahkan

17
sebagai golongan yang tenangdalam ibadah, ridha dengan kehidupan yang

ditempuh, serta optimis dengan janji-janjiAllah18.

G.Ciri-ciri Etos kerja

Untuk melihat apakahseseorang mempunyai etos kerja yangtinggi atau tidak

dapat dilihat dari carakerjanya. Keberhasilan peserta didikdidukung oleh

keteladan guru dalamberikap dan kebiasaannya dalammengajar. Menurut

menurut BachtiarHasan dalam Alinda, etos kerja

memiliki ciri-ciri, antara lain:

1. Memiliki standar kemampuan dalambidang profesional, yang diakui

olehkelompok atau organisasi profesi itusendiri.

2. Berdisiplin tinggi (taatkepada aturan dan ukuran kerja yangberlaku

dalam profesi yangbersangkutan.

3. Selalu berusahameningkatkan kualitas dirinya, melaluipengalaman

kerja dan melalui mediapembelajaran lainnya. SedangkanMuhaimin

(2012) menjelaskan, etoskerja seseorang yang tinggi dapatdiketahui dari

cara kerjanya yangmemiliki tiga ciri dasar19.

18https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja.pdf.

18
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255
19

Tiga ciri dasartersebut yaitu: menjunjung mutupekerjaan, menjaga harga

diri dalammelaksanakan pekerjaan, danmemberikan pelayanan

kepadamasyarakat.Pendidik yang mempunyai etoskerja yang tinggi

akan meningkatkankualitas dan mutu pendidikan. Didalam

melaksanakan pekerjaannyaakan terlihat cara dan motivasi yangdimiliki

seorang guru, apakah iabekerja sungguh-sungguh atau

tidak,bertanggung jawab atau tidak. Caraseorang menghayati dan

melaksanakanpekerjaannya ditentukan olehpandangan, harapan dan

kebiasaandalam kelompok kerjanya. Olehkarena itu etos kerja

seseorang dapatdipengaruhi oleh etos kerjakelompoknya.

H.Sikap Terbuka

Inti sikap terbuka adalah jujur, dan ini merupakan ajaran akhlak yang penting

di dalam Islam. Lawan dari jujur adalah tidak jujur. Bentuk-bentuk tidak jujur

antara lain adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Sebagai bangsa,

kita amat prihatin, di satu sisi, kita (bangsa Indonesia) merupakan pemeluk

Islam terbesar di dunia, dan di sisi lain sebagai bangsa amat korup. Dengan

demikian terjadi fenomena antiklimak. Mestinya yang haq itu

menghancurkan yang bathil, justru dalam tataran praktis seolah-olah yang

haq bercampur dengan yang bathil20.

19
20
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Tampilan praktisnya, salat ya, korupsi ya. Ini adalah cara beragama yang

salah.Cara beragama yang benar harus ada koherensi antara ajaran,

keimanan terhadap ajaran, dan pelaksanaan atas ajaran. Dapat dicontohkan

di sini, ajaran berbunyi:

Artinya :

“ ….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan

mungkar…..” ( QS. Al ‘Ankabut : 45 ).

Manusia merespon terhadap ajaran (wahyu) itu dengan iman. Setelah itu ia

mewujudkan keimanannya dengan melakukan salat dan di luar pelaksanaan

salat mencegah diri untuk berbuat keji dan munkar.Termasuk koherensi

antara ajaran, iman, dan pelaksanaan ajaran adalah jika terlanjur berbuat

salah segera mengakui kesalahan dan memohon ampunan kepada siapa ia

bersalah (Allah atau sesama manusia). Jika berbuat salah kepada Allah

segera ingat kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Artinya :

“ dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau

menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun

terhadap dosa-dosa mereka…. “ ( QS. Ali Imron : 135 )21.

20
21
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Jika berbuat salah kepada manusia segera meminta maaf kepadanya tidak

usah menunggu lebaran tiba. Pengakuan kesalahan baik terhadap Allah

maupun kepada selain-Nya ini merupakan sikap jujur dan terbuka. Menurut

Islam sikap jujur dan terbuka termasuk baik. Nabi bersabda:

‫ا ن ا لصد ق يهدى ا لى ا لبر وا ن ا لبر يهدى ا لى ا لجنة وا ن ا لرجل يصد ق حتى يكتب عند‬

‫ وا ن الرجل ليكذ ب حتى‬.‫ وا ن ا لفجور يهدى ا لنا ر‬.‫ وا ن ا لكذ ب يهد ا لى ا لفجور‬.‫هللا صد يقا‬

(‫يكتب عند هلل كذا با) متفق عليه‬

(Sesungguhnya jujur itu menggiring ke arah kebajikan dan kebajikan itu

mengarah ke surga. Sesungguhnya lelaki yang senantiasa jujur, ia

ditetapkan sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya bohong itu menggiring

ke arah dusta. Dusta itu menggiring ke neraka. sesungguhnya lelaki yang

senantiasa berbuat bohong itu akan ditetapkan sebagai pembohong.

Muttafaq ‘alaih (an-Nawawi, [t.th.]:42)).

I. PENGERTIAN ADIL

Dari definisi-definisi diatas dapatlahkita mengatakan bahwa adil itu adalah

“meletakan sesuatu pada profesinya yang sebenarnya”.Bila kita mengkaji

ayat-demi ayat dalam Al-Qur’an maka kita akan menemukan banyak sekali

ayat-ayat yang menuntut setiap indifidu mumin untuk menegakan

keadilan.Keadilan yang dituntut oleh islam22.

21
22
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

dari setiap individu mumin untuk menegakannya adalah keadilan yang

mutlak yang mencakup segala hal dan dalam segala kondisi dan situasi

dimana setiap individu mumin baik seorang pengusaha atau rakyat jelata

kata atau miskin laki-laki atau perempuan wajib menegakannya.Rosulallah

SAW sendiri memang diutus Allah diantaranya untuk menegakan dan

menanamkan panji-panji kebenaran dan ekadilan kepada umatnya. “Aku

diperintahkan (oleh Allah) untuk menegakan keadilan diantara kamu(Q.S.

Asy-Syuro : 15).Dilain ayat Allah SWT memberikan suatu image kepada kita

akan tingginya nilai-nilai keadilan dan pengaruhnya terhadap hubungan

sosial dimana Allah mengidentikan keadilan ini dengan Al-Qur’an terhadap

kesucian jiwa seseorang terjalinnya hubungan sosial yang erat dalam suatu

masyarakat.Dan kami turunkan bersama mereka (Rosul-rosul) al kitab dan

neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan (Qs.

Al-Hadid : 25).Dalam ayat ini Allah tegas menyatakan, bahwa neraca

(keadilan) itu merupakan sesuatu yang diturunkan oleh Allah sebagaimana

Al-Qur’an dan bahwa tujuan dari diturunkannya kedua hal, hal ini (Al-Qur’an

dan Neraca) semata-mata untuk tercapainya keadilan dalam kehidupan

manusia.Begitu sangat besarnya perhatian Islam terhadap masalah

keadilan ini, sehingga disamping islam menuntut untuk menegakannya 23,

22
23
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

juga memberikan pengarahan-pengarahan kepada umatnya untuk menjauhi

hal-hal yang kiranya dapat mempengaruhi seseorang untuk berlaku tidak

adil.Didalam surat An-Nisa ayat 135 Allah SWT berfirman yang

artinya :Jadilah kamu orang yang benar-benar menegakan panji-panji

kebenaran dan keadilan dengan menjadikan Allah SWT sebgaai saksi kamu

yang hadir bersamamu di mana seolah-olah kamu menyaksikan Allah

dengan mata kepalamu sendiri tatkala egkau memutuskan suatu

perkara.Biarpun hal itu terpaksa engkau lakukan dengan mengorbankan

kepentingan dirimu sendiri atau ibu bapak dan karib kerabatmu.Ayat ini di

interpretasikan lebih mendalam lagi oleh Rosulullah SAW dalam

sabdanya :“Sesungguhnya celakanya orang-orang yang sebelum kalian

adalah dikarenakan apabila seseorang yang mulia diantara mereka

mencuri, maka mereka tidak melaksanakan hukum kepadanya, tetapi bila

oranghina diantara mereka yang mencuri, maka bersegera sekali untuk

menjatuhkan hukuman padahal (sabda Rasulullah) Demi Allah ! bila saja

Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya Miuhammad sendiri yang akan

memotong tangannya ! “ (HR. Ahmad dari Aisyah).Dan janganlah engkau

terpengaruh oleh status sosial tergugat / terdakwa bila ia seorang yang kata

kaya24.

23
24
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

dan berpengaruh maka janganlah engkau takut akan ancaman dan

pengaruhnya danbila seorang yang miskin dan hina maka janganlah engkau

condong untuk berlaku tidak adil padanya.

1. Ayat inilah kiranya yang telah membuat Abu Bakar Ash Shidiq

mengambil sikap yang tegas sekali dalam pidato yang diucapkannya

ketika beliau baru saja di angkat menjadi khalifah dimana beliau

berkata :

“orang yang lemah diantaranya kalian itu adalah kuat menurut

pandanganku, sampai yang lemah itu mengambil haknya. Dan

orangyang kuat diantara kalian itu adalah lemah menurut pandanganku,

sampai orang yang kuat itu melaksanakan kewajiban dan memberikan

hak-haknya kepada yang lemah”

2.Juga diriwayatkan bahwa suatu kali datang seorang saudagar kaya

menghadap kepada Umar bin Khattab serta berkata : pelayan saya ini

mencuri harta saya, oleh karena itu potonglah tangannya, mendengar

pengakuan itu maka berkatalah Umar kepada sipelayan :adakah

24
engkau telah mencyri harta tuanmu ? sipelayan menjawab : benar dan

Umar berkata lagi : mengapa ?25

25
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

sipelayan menjawab : karena tuan saya itu tidak memberi saya makan

dan upah. Mendengar itu maka Umar berpaling kepada saudagar kaya

itu sambil berkata kepadanya : seandainya pelayanmu ini mencuri lagi

hartamu, niscaya saya akan memotong tangan anda”Oleh karena itu

maka janganlah engkau sekali-kali terpengaruh oleh hawa nafsumu

(karena memperhatikan kepentingan pribadi, ibu, bapak, karib kerabat

atau oleh status sosial tergugat) sehingga dapat mempengaruhimu

untuk berlaku tidak adil.

Karena itu ingatlah selalu, bahwa allah SWT akan mengetahui dan

menyaksikan segala sesuatu yang engkau lakukan.Kemudian di surat

Almaidah ayat 8 allah memberikan peringatan dan pengarahan kepada

orang-orang mukmin terhadap hal-hal yang dapat mendorong dan

mempengaruhi seseorang untuk berlaku tidak adil, yaitu orang jalan

atau cara berusaha membunag jauh-jauh sifat amarah dan benci karena

bila seseorang sedang marah atau ia menaruh rasa benci atau ada

permusuhan diantara ia dengan seseorang / salah seorang tergugat,

sedang ia tidak mendasari hukumnya karena Allah, maka sudah barang

25
tentu tidaklah dapat di jamin, bahwa dia akan dapat berlaku adil dalam

hukum yang akan ditetapkannya26.

26
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Diantara ayat ini dimulai dengan tuntutan Allah kepada orang mumin

yang akan menegakan hukum, agar pertama-tama sekali haruslah ia

mengingat Allah SWT sebelum menetapkan hukum suatu keputusan

terhadap perkara yang ia hadapi, karena dengan seorang mengingat

Allah maka akan terhindarlah ia dari pengaruh amanah, benci dan

sebagainya yang besar sekalipengaruhnya terhadap seseorang untuk

berlaku tidak adil.Hal ini juga jelas sekali dinyatakan oleh lanjutan ayat

diatas dimana allah berfirman :“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu

terhadap suatu kaum itu mendorong kamu untuk berlaku tidak adil

berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa dan

bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui akan

apa yang kamu perbuat” (Q.S Al Maidah : 8).

Diantara ayat diatas dengan tegas sekali menurut dari setiap individu

mumin agar berlaku adil, walaupun diantara mereka ada tertanam rasa

benci dan permusuhan.Setiap individu mumin dituntut untuk tidak

menekan satu golongan dari golongan yang lain, pribadi dari pribadi

yang lain, sebab kemerdekaan milik semua manusia, bukan milik satu

26
golongan atau seorang, setiap orang dibebani kewajiban dan pada saat

yang sama memiliki hak tanpa beda27.

27http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Tidak hanya sampai disini saya, tetapi islam menuntut juga agar

umatnya berlaku adil dalam segala hal, baik itu menyangkut urusan

pribadi ataupun masyarakat.Didalam masalah jual beli Allah

berfirman :

dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah

dengan neraca yang benar” (Q.S Al Isro : 35).Setiap individu mumin

dituntut oleh ayat ini agar menyempurnakan takaran dan timbangan

terhadap barang-barang yang dijual beli dengan jalan takaran dan

timbangan.Demikian pula dapat diqiaskan dari kedua hal tersebut diatas

segala macam cara jual beli. Disamping kewajiban untuk

menyempurnakan takaran atau timbangan dalam masalah jual beli,

Islam juga mewajibkan agar semua urusan muamalah didirikan atas

dasar suatu akad dan memerintahkan bagi orang yang bertugas

mencatat akad itu agar ia berlaku adil.“hendaklah diantaramu penulis

yang akan menulisnya dengan adil (jujur) (Q.S Al Baqarah :

282).Kemudian memerintahkan pula kepada orang yang akan

menunjuk orang yang akan bertindak sebagai saksi dalam muamalah

27
ataupun dalam perkara-perkara yang lain agar dipilih saksi-saksi itu dari

orang-orang yang dapat dijamin keadilannya.

28
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

“dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil diantaramu, lagi

pula kesaksian itu hendaklah kamu tegakan karena Allah” (Q.S Ath

Thalaq : 2).

Bila hal-hal tersebut diatas sudah dipenuhi namun kemudian ternyata

masih timbul sengketa diantara dua belah pihak dalam suatu perkara,

sehingga akhirnya perkara itu diajukan kepengadilan, maka hakim yang

menangani perkara itu hendaklah seorang yang adil pula, yang dijamin

dapat memutuskan hukum diantara mereka secara adil.“Sesungguhnya

Allah telah menyuruhmu untuk menyampaikan amanah mentapkan

hukum antara manusianya dan bila kamu menetapkan hukum antara

manusia kama penetapan hukummu itu hendaklah secara adil” (Q.S An

Nisa : 58).

Suatu hal yang perlu diingat, bahwa pengertian hakim dalam Islam

bukan saja hanya terbatas bagi mereka yang bertugas menangani

perkara diantara dua pihak yang bersengketa saja, tetapi setiap orang

yang berwenang untuk memutuskan suatu perkara dinamakan juga

28
hakim.Oleh karena itu seorang suami yang karena sesuatu hal terpaksa

memiliki dua orang istri29,

29http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

maka pada hakikatnya iapun adalah seorang hakim pula yang mana

dituntut untuk berlaku adil didalam mempergauli kedua istrinya.“Bila

kamu khawatir tidak akan dapat berlaku adil antara wanita-wanita itu

maka kawinilah seorang saja atau hamba sahanya yang kamu miliki”

(Q.S An Nisa : 3).Keadilan yang dimaksud terutama keadilan seorang

suami didalam hal memberikan nafkah kepada istri-istri yaitu dengan

tidak membelanjai pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lain istri-istrinya

dengan cara berlebih-lebihan kepada satu pihak dan kikir kepada pihak

lain, sebab Allah berfirman :”Janganlah jadikan tanganmu terbelenggu

di tengkukmu (kikir) dan janganlah pula engkau ulurkan dia

sehabis-habis uluran (mudah dan murah mengeluarkan harta) karena

engkau bisa jadi tercela dan menyesal karenanya” (Q.S Al-Isro : 29).

Sedang diayat lain Allah berfirman :

”Makan dan minumlah kalian, tapi janganlah berlebih-lebihan, karena

Allah tidak senang dengan lebih-lebihan” (Q.S Al Arof : 31).

29
Keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah merupakan

ketentuan dasar dalam kehidupan setiap individu menurut islam 30,

30http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

oleh karena itu ayat diatas diinterpretasikan lebih mendalam lagi oleh

Rasulullah SAW dalamsabdanya : “Hendaklah seseorang tidak

memenuhi kantung perutnya dengan sesuatu yang berakibat tidak baik,

cukuplah baginya beberapa suap saja yang kiranya cukup dapat

mengukuhkan tulang punggungnya, senadainya dia harus

melakukannya juga hendaklah dia mengatur sepertiga untuk makannya

sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk nafasnya” (HR

Ahmad dan Tirmizi).Disamping itu islam mewajibkan kepada

masing-masing individu agar belaku adil didalam memenuhi kebutuhan

hidupnya dan mewajibkan seorang suami untuk berlaku adil terhadap

istri-istrinya juga islam menuntut kepada setiap suami dan istri agar

berkalu adil terhadap putra-putrinya, dalam hal yang berhubungan

dengan masalah nafkah, pendidikan, kasih sayang dan

sebagainya.”Berlaku adilah terhadap anak-anak kalian ! Berlaku adilah

terhadap anak-anak kaliah ! Berlaku adilah terhadap anak-anak kaliah”

(HR Ahmad dalam musnadnya dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dari

30
hadits Numan bin Basyir).Begitu sangat pentingnya masalah keadilan

menurut Islam31,

31
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

oleh karena itu patutlah allah bila menjanjikan akan memberikan tempat

yang termulia diakhir akhirat nanti bagi seorang pemimpin yang berlaku

adil.

Rasulullah SAW bersabda :

“Makhluk (manusia) yang paling dicintai allah itu adalah pemimpin yang

adil dan yang paling dibenci Allah adalah pemimpin yang dzalim” 9HR

Ahmad dalam musnadnya).“Diriwayatkan dari Iyadh bin Hammad r.a

bahwa saya Rosulallah SAW bersabda : penduduk sorga itu ada tiga

golongan :

a. Kepala negara yang adil

b. Laki-laki yang berhati pengasih terhadap kaum kerabat dan kepada

orang islam

31
c. Orang kaya yang bersih hidupnya (terpelihara dari berbagai dosa)

lagi suka bersedekah” (H.R Muslim)32.

32http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

“Tujuh orang yang akanmendapat perlindungan Allah dihari Qiamat

dimana tidak terdapat perlindungan kecuali perlindungannya pemimpin

yang adil” (HR. Bukhari).

Kewajiban berlaku adil bagi seorang pemimpin itu tidak saja hanya

terbatas kepada orang silam saja tetapi juga terhadap non muslim,

selama mereka patuh terhadap peraturan yang berlaku, maka sebagai

imbalan fdari kepatuhan itu mereka memperoleh hak perlindungan

terhadap jiwa, harta, kehormatan dan keadilan didepan hukum.

Allah SWT berfirman :

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil

terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan

tidak pula mengusir kamu dari negerimu, sesungguhnya Allah SWT

menyukai orang-orang yang berlaku adil (Q.S Al Mumtahanah : 87).

32
Dasar keadilan seperti yang dituntut oleh ayat diatas betul-betul dapat

dirasakan sepenuhnya oleh orang-orang nonmuslim yanghidup dijaman

keemasan Islam dulu, dimana sejarah mencatat bahwa orang-orang

non muslim senantiasa mendapatkan perlakuan yang adil dizaman

Rosulullah SAW dan dimasa Khalifaturasyidin33.

33
http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Diriwayatkan bahwa suatu kali seorang yahudi mengajukan gugatan

terhadap Ali bin Thalib dalam suatu perkara kepada khalifah Umar bin

Khatab ra dimana kemudian Umar berkata kepada Ali :

“Berdirilah wahai Abu Hasan dan duduklah disamping penggugatmu

maka Alipun melakukannya, sementara pada wajahnya terlihat tanda

kurang senang hati (kecewa). Dan setelah Umar menyelesaikan

perkara mereka berkatalah ia kemudian kepada Ali Wahai Ali adakah

engkau merasa tidak senang karena aku telah menyamaratakan tempat

dudukmu dengan penggugatmu, menjawab Ali : tidak (bukan karena itu)

tetapi yang membuat hati saya kecewa adalah karena engkau telah

memanggil saya dengan nama pangilanku, dimana dengan demikian

engkau tidak menyamakan antara kami berdua, dan aku khawatir orang

yahudi itu nantinya mengira bahwa keadilan telah hilang dari

orang-orang islam”.Penting skali untuk diingat, bahwa yang dimaksud

33
dengan pemimpin dalam Islam tidak hanya terbatas kepada seorang

kepala negara saja, tetapi setiap individu adalah pemimpin minimal

terhadap diri sendiri34.

34http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Rosulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya masing-masing kamu adalah seorang pemimpin dan

tiap-tiap orang bertanggung jawab dan dari segi kepemimpinan

masing-masing. Seorang imam (kepala negara) yang ditempatkan

diatas rakyat adalah seorang pemimpin dan bertanggung jawab atas

keselamatan rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin bagi

keluarganya dan ia bertanggung jawab atasnya dan seorang istri adalah

pemimpin bagi rumah tangga suami dan anak-anaknya dan ia

bertanggung jawab atas mereka dan seorang pelayannya adalah

pemimpin atas harta milik majikannnya dan bertanggung jawab atasnya.

Sesungguhnya masing-masing kamu adalah pemimpian dan

bertanggung jawab atas kepemiminannya masing-masning” (HR.

Bukhari dari Ibnu Umar).

Allah SWT berfirman :

34
Dalam ayat diatas yang datang setelah perintah Allah untuk berlaku adil

dan berbuat kebajikan35.

35http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Dimana pada hakikatnya larangan Allah untuk melakukan perbuatan keji,

mungkar dan permusuhan.Mewujudkan suatu langsung yang dapat dicapai

dengan tegaknya keadilan yaitu :

a. Terpeliharanya hak milik seseorang, yaitu dengan larangan Allah

untuk tidak melakukan perbuatan yang keji

b. Terhindarnya seseorang dari penekanan dan penganiayaan pihak

lain, yaitu dengan larangan Allah agar tidak melakukan perbuatan

munkar

c. Terpeliharanya hak setiap individu untuk hidup merdeka yaitu,

menanamkan rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama, dan

membuang jauh-jauh sifat dengki, benci dan permusuhan36.

35
36http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

Daftar pusaka

https://jukurenshita.files.wordpress.com/2010/10/budaya-akademik-etos-kerja
.pdf.tanggal.1.10.2017.pukul.07.55

3.http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/cbam/article/download/308/255

36