Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH ILMU

Tentang

SELEKSI DAN PERKAWINAN SECARA UMUM

Disusun

1. Shally Handayani (1610611024)


2. Muhammad Azardi

Dosen Pengampu :

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Pengembangan perbibitan ternak diarahkan ada peningkatan mutu ternak ,sumber daya
ternak , daya lingkungan masyarakat ,pengawasan mutu dan pemanfaatan teknologi untuk
mendapatkan kualitas bibit yang unggul.dan untuk tercapainya tujuan ini di perlukan
pengawasan bibit sesuai dengan standar ,salah satu langkah pengawasan adalah perlunya
dilakukan pemilihan/penilaian terhadap sapi tersebut.

Seleksi atau pemilihan sapi yang akan dipelihara merupakan salah satu faktor penentu dan memp
unyai nilai strategis dalam upaya mendukung terpenuhinya kebutuhan daging, sehingga diperluk
an upaya pengembangan pembibitan sapi potong secara berkelanjutan. Hal inilah yang melatarbe
lakangi dibuatnya makalah tentang Dasar Seleksi Performance Pada Ternak Bibit Sapi Potong.bi
tan te

1.2.Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah makalah ini, yaitu :

a. Pengertian Seleksi ?

b. Macam-macam Seleksi ?

c. Apa itu seleksi ganda dan metode-metode Seleksi ganda?

1.3.Tujuan

Adapun tujuan makalah ini, yaitu :

a. Macam-macam Pengertian Seleksi

b. Agar mahasiswa mengetahui macam-macam Seleksi

c. Agar mahasiswa mengetahui Seleksi ganda dan metode-metode nya.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Seleksi

Dalam konteks pemuliabiakan ternak , seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang
disukai yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya.Tujuan umum dari seleksi
adalah untuk meningkatkan produktifitas ternak melalui perbaikan mutu genetic bibit. Dengan
seleksi , ternak yang mempunyai sifat yangdiinginkan akan ddipelihara , sedangkan ternak-
ternak yang mempunyai sifat yangtidak diinginkan akan disingkirkan.Dalam melakukan seleksi ,
tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu, missal pada ayam , tujuan seleksi ingin
meningkatkan produksi telur , berat telur, atau kecepatan pertumbuhan.

 Karakter-karakter yang diseleksi :


1. Ketahanan terhadap cuaca, suhu dan kekeringan.
2. Ketahanan terhadap sejenis hama.
3. Meningkatkan mutu dan jumlah kawinan
4. Membuang karakter-karakter buruk atau yang tak ekonomis, sehingga karakter-karakter
baik saja yang menonjol.

 Sifat genetis penduduk suatu spesies sangat heterozigot. Di karenakan:

1. Tempat hidup berbeda-beda, daya dan arah mutasi pun berbeda-beda pada gen yang sama.

2. Lingkungan berbeda ekspresi suatu gen yang sama bias berbeda

3. Kawin acak (random) selalu terjadi di alam, dan makin acak perkawinan makin heterozigot
lah genotipe.

 Tahap-tahap seleksi :

1. Memilih bibit

2. Mencari lingkungan dan cara yang paling cocok dan ekonomis bagi pembiakan bibit

3. Mengadakan breeding
4. Membuat mutasi induksi

5. Memilih hasil breeding atau mutasi yang paling baik dan cocok pada suatu daerah

6. Menyebarkan bibit hasil breeding atau mutasi induksi yang terpilih.

 Dua hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan seleksi:

1. Tujuan seleksi harus jelas, misalnya kalau pada sapi apakah tujuannya untuk meningkatkan
produksi susu atau produksi daging, atau keduanya.

2. Seleksi perlu waktu

Kemajuan seleksi dipengeruhi oleh beberapa factor, yaitu :

a. Seleksi Diferensial (S)

Seleksi diferensial adalah keunggulan ternak-ternak yang terseleksi terhadap rata-rata


populasi (keseluruhan ternak).

Contoh 1: rata-rata produksi susu laktasi satu sapi Fries Holland yang terseleksi adalah
3500 liter, sedangkan rata-rata produksi populasi adalah 3300 liter. Seleksi diferensial (S)
= 3500-3300 liter = 200 liter.Kalau sifat tersebut dapat diukur pada ternak jantan dan
betina, maka seleksi biasanya dilakukan secara terpisah. Seleksi diferensial adalah rata-
rata darikeduanya.

Contoh 2: Rata-rata bobot sapih populasi (seluruh ternak) domba Padang yang betina
adalah 9 kg dan jang jantan 13 kg. Rata-rata bobot sapih ternak-ternak yang terseleksi
yang betina adalah 12 kg dan yang jantan 15kg.

S_= 15 – 13 kg = 2 kg

S_= 12 – 9 kg = 3 kg

Rata-rata seleksi diferensial =2+3 ⁄2=2,5 kg

b. Heritabilitas

Kata heritabilitas berasal dari bahasa inggris “Heritability” yang berarti kekuatan/
kemampuan penurunan suatu sifat. Kata ini digunakan untuk mengungkapkan kekuatan
suatu sifat diturunkan pada generasi berikutnya.Dalam pemuliabiakan ternak nilai ini
perlu diketahui sebelum melakukan perbaikan mutu bibit/genetik ternak.Kegunaan
diketahuinya nilai heritabilitas adalah sebagai berikut:

1. mengetahui kekuatan suatu sifat akan diturunkan oleh tetua padaanaknya


2. merupakan suatu petunjuk tentang keberhasilan program pemuliabiakan

3. semakin tinggi nilai heritabilitas, semakin baik program perbaikan mutubibit yang
diharapkan

Berdasarkan ungkapan ragam di atas, heritabilitas tidak lain adalah proporsi ragam
genetik terhadap ragam fenotip.

c. Interval Generasi

Interval generasi dapat diartikan sebagai rata-rata umur tetua/induk ketika anaknya
dilahirkan. Setiap jenis ternak mungkin mempunyai interval generasi yang berbeda.
Interval generasi dipengaruhi oleh umur pertama kali ternak tersebut dikawinkan dan
lama bunting, dengan demikian interval generasi oleh faktor lingkungan seperti pakan
dan tatalaksana. Pemberian pakan yang jelek dapat memperpanjang interval generasi.
Semakin cepat interval generasi, semakin cepat perbaikan mutu bibit yang diharapkan.
Dugaan Kemajuan SeleksiKemajuan seleksi dapat diduga dengan rumus sebagai berikut:

R=Sh2

Dimana :R = kemajuan seleksi per generasi

S = Seleksi diferensial

h2=heritabilitas

Apabila kita ingin mengetahui kemajuan genetik per tahun maka rumusnya
menjadi:Dimana: l = interval generasi

2.2.Macam-macam Seleksi

Berdasarkan prosesnya, seleksi dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Seleksi Alam

Pada seleksi alam ada kekuatan yang secara alami bertanggungjawab terhadap proses yang
menentukan individu-individu ternak dapat bertahan pada lingkungan tertentu. Pada umumnya
seleksi alam terjadi pada hewan yang hidup dialam bebas.

2. Seleksi buatan

Merupakan kebaikan dari seleksi alam, karena pada dasarnya seleksi melibatkan campur tangan
manusia. Manusia memilih ternak-ternak sesuai dengan criteria yang telah ditentukan.

2.2. Sumber Informasi Untuk Seleksi


Langkah awal pada pelaksanaan seleksi adalah tersedianya informasi tentang keunggulan
ternak (selanjutnya dikenal dengan istilah nilai pemuliaan, NP atau Breeding Value).
Mengingat bahwa tujuan perbaikan mutu genetik adalah untuk menghasilkan genotype
sebaik mungkin yang akan lebih mengefesiensikan produksi pada lingkungan
tertentu. Maka langkah mencapai hal tersebut adalah melalui estimasi NP. Sumber
informasi yang digunakan untuk mengestimasi nilai pemuliaan ada empat, yaitu :

1. Seleksi Individu (Performance Test)

Yaitu seleksi untuk ternak bibit yang didasarkan pads catatan produktifitas
masing-masing ternak. Seleksi individual pada ternak sapi adalah cara seleksi
yang paling sederhana dan mudah dilakukan di pedesaan dengan dasar bobot
sapih anak sapi yang ada dan sebagainya. Seleksi individu adalah metoda seleksi
yang paling sederhana paling banyak digunakan untuk memperbaiki potensi
genetik ternak. Seleksi ini sering dilakukan jika :

a) Fenotip ternak yang bersangkutan bias diukur baik pada jantan atau betina.
b) Nilai heritabilitas atau keragaman genetic tinggi. Seleksi bisa dilakukan
dengan memilih ternak-ternak terbaik berdasarkan nilai pemuliaan.

Dalam aplikasi dilapangan, jika memungkinkan, nilai heritabilitas dan


nilai pemuliaan ternak jantan dan betina dipisah, kemudian dipiilih ternak-ternak
terbaik sesuai keperluan untuk pengganti. Pada ayam pedaging, seleksi individu
sering dan lebih mudah ddilakukan karena sifat tumbuh bisa diukur langsung baik
pada jantan ataupun betina.

Demikian juga lingkungan yang diberikan biasanya sama, seperti dalam


satu kandang ayam-ayam berasal dari tetasan yang sama, pakan sama, dan
perlakuan yang sama. Sering seleksi hanya berdasarkan pertimbangan fenotip saja
tidak perlu menduga nilai pemuliaan. Seleksi individu akan semakin rumit apabila
banyak faktor yang mempengaruhi fenotip , seperti pada domba , babi , dan sapi
perah. Sebagai contoh, apabila kita ingin memilih domba berdasarkan berat saja,
maka yang akan terpilih adalah domba-domba jantan yang berasal dari kelahiran
tunggal, padahal domba yang berasal dari kelahiran kembar mungkin mempunyai
potensi genetik tinggi.

2. Seleksi Silsilah (Pedigree Selection)

Seleksi yang dilakukan berdasarkan pada silsilah seekor ternak. Seleksi


inidilakukann untuk memilih ternak bibit pada umur muda, sementara hewan
muda tersebut belum dapat menunjukkan sifat-sifat produksinya. Pemilihan Bibit
Ternak (contoh : ternak kambing/domba) Pemilihan bibit ternak bertujuan untuk
memperoleh bangsa-bangsa ternak yang memiliki sifat-sifat produktif potensial
seperti memiliki persentase kelahiran anak yang tinggi, kesuburan yang tinggi,
kecepatan tumbuh yang baik serta ppersentasi karkas yang baik dan sebagainya.
Kriteria - kriteria yang biasa dipergunakan sebagai pedoman dalarn rangka
melaksanakan seleksi atau pemilihan bibit ialah : bangsa ternak, kesuburan dan
persentase kelahiran anak, temperamen dan produksi susu induk, produksi daging
dan susu, recording dan status kesehatan temak tersebut.

 Bangsa

Pemilihan jenis ternak misalnya (kambing/domba) yang hendak


diternakan biasanya dipilih dari bangsa ternak kambing/domba unggul

 Kesuburan dan persentase kelahiran anak yang tinggi

Seleksi calon induk maupun pejantan yang benar jika dipilih dan turunan
yang beranak kembar dan mempunyai kualitas kelahiran anak yang baik.

 Temperamen dan jumlah produksi susu induk

Induk yang dipilih hendaknya sebaiknya memiliki temperamen yang baik,


mau merawat anaknya serta selalu siap untuk menyusui anaknya.

 Penampilan Eksterior

Penampilan eksterior ternak bibit harus menunjukkan kriteria yang baik


untuk bibit baik ternak jantan maupun betinanya (induk). Untuk memberikan
penilaian keadaan atau penampilan eksterior dapat dilakukan dengan melakukan
perabaan/pengukuran ataupun pengamatan.

3. Uji Keturunan (Progeny Test)

Sering suatu sifat hanya muncul pada salah satu jenis kelamin saja ,misalnya
produksi susu. Tetapi keunggulan potensi genetik ternak jantan untuk produksi susu
juga sangat penting, karena pada umumnya ternak jantan dapat mengawini banyak
betina. Apabila keadaan ini terjadi, maka bisa dilakukan uji Zuriat.Uji Zuriat adalah
suatu uji terhadap seekor atau sekelompok ternak berdasarkan performance atau
tampilan dari anak-anaknya. Uji ini lazim digunakan untuk evaluasi pejantan karena
pejantan biasanya banyak menghasilkan keturunan. Keberhasilan uji Zuriat
tergantung pada syarat-syara berikut ini :

 Pejantan diuji sebanyak-banyaknya (minimal 5-10 ekor tergantung jumlah


anak yang dihasilkan).
 Pengawinan pejantan dengan betina dilakukan secara acak untuk
menghindari jantan-jantan mengawini betina yang sangat bagus atau sangat jelek.
 Jumlah anak per pejantan diusahakan sebanyak mungkin (minimal 10 anak)
 Jangan dilakukan seleksi terhadap anak-anaknya sebelum uji selesai.
 Anak-anak seharusnya diperlakukan sama untuk mempermudah
dalammembandingkan.

4. Seleksi Kekerabatan (Family Selection)

Yaitu seleksi individu atas dasar performans kerabat-kerabatnya (misalnya


saudara tiri sebapak atau saudara kandung). Seleksi kerabat dilakukan untuk memilih
calon pejantan sapi perah dengan tujuan untuk meningkatkan produksi susu yang
tidak dapat diukur pada ternak sapi jantan, dengan mengukur produksi kerabat-kerabat
betinanya yang menghasilkan susu. Seleksi kekerabatan biasa dilakukan apabila :

 Nilai heritabilitas rendah


 Ternak betina banyak menghasilkan keturunan
 Ternak diberi perlakuan khusus sehingga tidak bisa dipakai sebagai pengganti.

Sebagai contoh pada ayam, suatu seleksi ditunjukan untuk mencari ayam-ayam
yang tahan terhadap penyakit spesifik. Anak-anak dari suatu keluarga dibagimenjadi 2
kelompok ; satu kelompok untuk ayam pengganti , dan kelompok lain yaitu ayam-
ayam yang dipakai untuk percobaan yang diberi perlakuan penyakit. Ayam yang diberi
perlakuan penyakit tidak bisa dipakai sebagai pengganti, karena ternak-ternak
pengganti harus bersih dari penyakit. Hasil test kemudian dievaluasi dan ayam-ayam
pengganti yang dipakai adalah anak-anak yang berasal dari famili terbaik berdasarkan
daya tahan dari performa saudara-saudaranya.

2.3. Seleksi Ganda

Pada kenyataannya seleksi terhadap sifat tunggal relative jarang dilakukan. Misalnya
saja, pemula ternak (breeder) sapi perah menyeleksi sekaligus produksi susu dan kadar lemak
susu, pembibit sapi potong menyeleksi bobot lahir, bobot sapih dan bobot umur satu tahun, dan
sebagainya.

Tujuan seleksi banyak sifat adalah meningkatkan nilai pemuliaan hasil kombinasi
sejumlah sifat (aggregate breeding value) pada suatu populasi. Peningkatan nilai pemuliaan pada
suatu populasi mengandung arti peningkatan nilai pemuliaan per individu ternak untuk sifat-sifat
tertentu. Pemuliaan ternak dalam mengusahakan ternak sudah menetapkan sifat-sifat yang akan
dipertahankan pada ternaknya.
Metode-metode seleksi sifat ganda

1. Tandem selection

Yang dimaksudkan dengan tandem selection (TS) atau seleksi berurutan adalah seleksi yang
dilakukan untuk memperoleh keunggulan sifat atas dasar pencapaian target seleksi (batas seleksi
standard yang harus dipenuhi). Bila target untuk satu sifat sudah tercapai, maka seleksi
dilanjutkan terhadap sifat lainnya.

Tahapan seleksi tandem

 Seleksi pertama dilakukan untuk sifat yang paling penting


 Setelah tujuan untuk sifat pertama telah dicapai, upaya seleksi ditargetkan sifat yang
paling penting berikutnya, dan dilakukan untuk jumlah generasi tertentu.

Contoh :

Dalam usaha perbaikan mutu genetic, sering terlihat antara lain misalnya; seorang
peternak domba atau biri-biri mengarahkan tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan,
tetapi jika suatu saat diperhitungkan harga bulu cenderung akan naik, ia akan memusatkan
tujuannya untuk memperbaiki perhatiannya dalam perbaikan produksi bulu domba tersebut.
Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa tujuan atausasaran dari seleksi tergantung dari nilai dan
situasi ekonomi yang diperhitungkan untuk waktu- waktu mendatang.

Pada pelaksanaannya, metode TS ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.


Keuntungannya adalah :

 Tidak begitu banyak membutuhkan ternak untuk keperluan seleksi. Hal ini karena hanya
memilih satu sifat saja. Dengan intensitas seleksi relative ketat, maka pemuliaan ternak dapat
memperoleh ternak-ternak yang menunjukkan penampilan terbaik sesuai dengan kriteria sifat
yang diseleksi.
 Tidak begitu banyak memerlukan data. Hal ini terkait dengan jumlah ternak yang tidak
begitu banyak yang diperlukan untuk proses seleksi dan biaya operasional seleksi.

Sementara itu, kekurangan pada metode TS ini adalah diperlukan waktu yang lebih lama
untuk memperoleh aggregate breeding value. Hal ini karena pada satu generasi hanya bisa
diperbaiki satu sifat, padahal untuk memenuhi kriteria seleksi sebagaimana yang
ditetapkan oleh pemulia ternak mungkin saja bisa sampai beberapa generasi.

2. Independent Culling Level

Metode seleksi independent culling level (ICL) sering disebut sebagai metode
penyingkiran bebas bertingkat, yaitu metode seleksi yang diberlakukan terhadap sekelompok
ternak berdasarkan atas keunggulan beberapa sifat selama satu masa kehidupan ternak yang
diperhitungkan sejak kelahiran sampai dengan kematian. Pada metode ICL ini target seleksi
ditentukan untuk setiap sifat.

Metode ICL cukup disukai oleh pemulia ternak karena tingkat kemudahan dalam
penggunaannya. Metode ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangannya. Secara prinsip,
kelebihan metode tandem selection menjadi kekurangan metode ICL, yaitu :

 Untuk memperoleh ternak-ternak unggul yang memenuhi standard beberapa sifat yang
diseleksi dibutuhkan jumlah ternak yang relative banyak.
 Terkait dengan banyaknya ternak yang harus diseleksi, konsekuensinya adalah membutuhkan
dana yang banyak pula yaitu pada awal pelaksanaan seleksi

Kelebihan metode ICL adalah memerlukan waktu yang relatife lebih singkat disbanding TS.
Sebagaimana metode TS, data-data yang digunakan untuk keperluan seleksi pada ICL harus
distandarisasi kebatas tertentu.

3. Index selection

Metode index selection (IS) atau seleksi indek adalah seleksi yang diberlakukan pada
ternak dengan menerapkan indeks terhadap sifat-sifat yang menjadi criteria seleksi. Pendugaan
nilai pemuliaan seekor ternak dilakukan dengan menggunakan semua sifat yang
dipertimbangkan. Caranya adalah menghitung indeks melalui perkalian pengukuran tiap sifat
dengan masing-masing faktor pembobotnya kemudiam dijumlahkan. Suatu indeks dapat
ditampilkan sebagai berikut :

I = biXI+ b2X2+.......+bnXn

Keterangan :

I = indeks seekor ternak

b = faktor pembobot

X = pengukuran untuk sifat, diekspresikan sebagai selisih dari rataan kelompok

N = jumlah sifat yang diukur.

Seleksi indeks banyak digunakan pada peternakan yang lingkungannya relatif seragam.
Untuk keakuratan seleksi ini , parameter genetik seperti nilai heritabilitas, korelasi genetik, dan
korelasi fenotif antara sifat harus diketahui. Nilai indeks dapat dibentuk dengan menggunakan
rumus :

I=(Pi – P) / P

Ket :
I=Nilai Indeks,

Pi=Performa ternak,

P=Nilai rata-rata. Membuat indeks berdasarkan nilai pemuliaan menggunakan rumus :

NP=h²(Pi – P) Indeks I=h²(Pi-P)Produksi Telur + h²(Pi-P)Berat Telur

Respon Terkorelasi Terhadap Seleksi

Bila diketahui korelasi genetic antar sifat, heritabilitas masing-masing sifat, intensitas
seleksi dan simpangan baku fenotipe, maka dapat diduga besarnya perubahan yang menyertai
seleksi terhadap salah satu sifat. Respon terkorelasi mungkin disebabkan oleh beberapa
mekanisme. Pertama, penyebabnya adalah pautan. Jika dua gen utama yang mempengaruhi dua
sifat adalah gen yang terpaut, keduanya seolah-olah seperti satu kesatuan. Akibatnya, bila ada
upaya seleksi kearah satu ssifat akan berakibat pada perubahan frekuensi pada sifat yang lain.
Dampak pautan ini bersifat sementara, karena ada kemungkinan terjadinya kombinasi baru pada
saat pembentukan individu baru.

Kedua, adanya pengaruh gen pleiotropik. Pada prinsipnya yang dimaksudkan dengan gen
pleiotropik adalah salah satu gen yang mempengaruhi lebih dari satu sifat. Contoh adanya
pengaruh gen pleiotropik adalah sifat pertumbuhan mulai dari lahir sampai dewasa.

Contoh perhitungan respon terkorelasi

Diketahui data-data sebagai berikut :

· Bobot lahir seekor pedet 38,4 kg dan rataan bobot lahir kelompoknya = 34,7 kg

· Simpangan baku bobot lahir = 3,8 kg

· Simpangan baku bobot sapih = 16,6 kg

· Korelasi genetic antara bobot lahir dengan bobot sapih = 0,60

· Korelasi genetik antara bobot lahir dengan bobot sapih = 0,60

· Heritabilitas bobot lahir dan bobot sapih masing-masing 0,4 dan 0,3

NP sifat ke-2 adalah EBV2= (0,60) (0,63) (0,55) {(3,7) (3,8)} (16,6) =3,4 Kg

Artinya bahwa dengan bobot lahirnya, pedet tersebut mempunyai NP bobot sapih 3,4 kg diatas
rataan kelompok.
Seleksi Menurut Perundang-undangan

Persyaratan khusus seleksi ternak sapi potong menurut peraturan menteri pertanian nomor 54
tahun 2006, persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk masing-masing rumpun sapi yaitu
sebagai berikut:

1. Sapi Peranakan Ongole (PO)

Kualitatif Kuantitatif

- Warna bulu putih keabu-abuan; Betina umur 18-24 bulan

- Kipas ekor (bulu cambuk ekor) dan Tinggi gumba:

bulu sekitar mata berwarna hitam; Kelas I minimal 116 cm;

- Badan besar, gelambir longgar Kelas II minimal 113 cm;

bergantung; Kelas III minimal 111 cm.

- Punuk besar; Panjang badan:

- Leher pendek; Kelas I minimal 124 cm;

- Tanduk pendek. Kelas II minimal 117 cm;

Kelas III minimal 115 cm.

Jantan umur 24-36 bulan

Tinggi gumba:

Kelas I minimal 127 cm;

Kelas II minimal 125 cm;

Kelas III minimal 124 cm.

Panjang badan:

Kelas I minimal 139 cm;

Kelas II minimal 133 cm;

Kelas III minimal 130 cm.

Pedoman Pembibitan Sapi Potong Yang Baik


2. Sapi Sumba Ongole (SO)

Kualitatif Kuantitatif

- Warna keputih-putihan; Betina umur 18-24 bulan

- Kepala, leher, gumba, lutut, warna Tinggi gumba:

gelap terutama pada yang jantan; Kelas III minimal 112 cm

- Kulit sekeliling mata, bulu mata, Jantan umur 24-36 bulan

moncong, kuku kaki dan bulu Tinggi gumba:

cambuk ekor warna hitam; Kelas III minimal 118 cm

- Tanduk pendek, kuat, mula-mula

mengarah keluar, lalu ke belakang;

- Badan besar, gelambir longgar dan

tergantung;

- Punuk besar persis di atas skapula;

- Leher pendek.

Pedoman Pembibitan Sapi Potong Yang Baik

3. Sapi Madura

Kualitatif Kuantitatif

- Warna merah bata atau merah coklat Betina umur 18-24 bulan

campur putih dengan batas tidak jelas Tinggi gumba:

pada bagian pantat; Kelas I minimal 108 cm;

- Tanduk kecil pendek mengarah ke Kelas II minimal 105 cm;

sebelah luar; Kelas III minimal 102 cm.

- Tubuh kecil, kaki pendek; Jantan umur 24-36 bulan


- Gumba pada betina tidak jelas, pada Tinggi gumba:

jantan berkembang baik. Kelas I minimal 121 cm;

Kelas II minimal 110 cm;

Kelas III minimal 105 cm.

4. Sapi Bali

Kualitatif Kuantitatif

tina: Betina umur 18-24 bulan

- Warna bulu merah; Tinggi gumba:

- Lutut ke bawah berwarna putih; Kelas I minimal 105 cm;

- Pantat warna putih berbentuk Kelas II minimal 97 cm;

setengah bulan; Kelas III minimal 94 cm.

- Ujung ekor berwarna hitam; Panjang Badan:

- Garis belut warna hitam di punggung; Kelas I minimal 104 cm;

- Tanduk pendek dan kecil; Kelas II minimal 93 cm;

- Bentuk kepala panjang dan sempit; Kelas III minimal 89 cm.

- Leher ramping.

Jantan: Jantan umur 24-36 bulan

- Warna bulu hitam; Tinggi gumba:

- Lutut ke bawah berwarna putih; Kelas I minimal 119 cm;

- Pantat putih berbentuk setengah Kelas II minimal 111 cm;

bulan; Kelas III minimal 108 cm.

- Ujung ekor hitam; Panjang badan:


- Tanduk tumbuh baik warna hitam; Kelas I minimal 121 cm;

- Bentuk kepala lebar; Kelas II minimal 110 cm;

- Leher kompak dan kuat. Kelas III minimal 106 cm.

Pedoman Pembibitan Sapi Potong Yang Baik

5. Sapi Aceh

Kualitatif Kuantitatif

- Warna bulu coklat muda, coklat Betina umur 18-24 bulan

merah (merah bata), coklat hitam, Tinggi gumba:

hitam dan putih, abu-abu, kulit hitam Kelas III minimal 100 cm

memutih ke arah sentral tubuh; Jantan umur 24-36 bulan

- Betina berpunuk kecil; Tinggi gumba:

- Jantan punuk terlihat jelas Kelas III minimal 105 cm

Sapi Brahman

Kualitatif Kuantitatif

- Warna pada yang jantan putih abuabu,

pada betina putih/abu-abu atau

merah;

- Badan besar, kepala relatif besar.

Betina umur 18-24 bulan

Tinggi gumba:

Kelas III minimal 112 cm

Jantan umur 24-36 bulan

Tinggi gumba:

Kelas III minimal 125 cm


BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai
tetua untuk generasi berikutnya.Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan
produktifitas ternak melalui perbaikan mutu genetic bibit.Seleksi merupakan salah satu cara
untuk meningkatkan mutu genetik ternak. Seleksi untuk memilih ternak didasarkan atas empat
sumber informasi, yaitu 1) dirinya sendiri, 2) keturunannya, 3)silsilah moyangnya, dan 4)
saudaranya. Seleksi terhadap satu sifat relative lebih sederhana dibandingkan dengan seleksi
terhadap banyak sifat. Di dalam seleksi ada beberapa metode yang harus dilakukan, yaitu :
Tandem selection, Independent Culling Level, dan Index selection.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Santosa.2012.Seleksi dan Pemilihan Bibit Bakalan Pada Usaha Ternak Potong.

Noor Rahman. R, 2004. Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suyadi, S.Maylinda, H.Nugroho, dan Kuswati. 2008. Pengembangan Marker Genetik untuk
Seleksi Pertumbuhan Sapi Potong Lokal. Laporan Penelitian Rusnas. Kerjasam Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya Dengan Kementerian Riset dan Teknologi. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya. Malang

Peraturan Menteri Pertanian, Nomor : 54/permentan/ot.140/10/2006. Pedoman Pembibitan Sapi


Potong yang Baik (Good Breeding Practice). Jakarta

Nugroho, CP. 2008. Agribisnis Teknik Ruminansia. Departemen Pendidikan Nasional.Pane Ismed,
1986. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia. Jakarta.

Warwick, E. J. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

A. Seleksi Pada Sapi Potong


Seleksi pada sapi bertujuan untuk menghasilkan sapi bibit yang diharapkan dapat digunakan untuk
meningkatkan mutu genetik populasi sapi potong. Dalam melakukan seleksi pada sapi potong, dibedakan
atas adanya dua metode pokok yaitu:
1. Seleksi Tradisional
Seleksi secara tradisional yaitu metode seleksi yang telah lama. Metode ini sangat sederhana yaitu
mencari ternak jantan yang memiliki cacat luar untuk kemudian dilakukan kastrasi agar ternak jantan
tidak dapat mengawini induk-induk wilayahnya.
2. Seleksi Kuantitati
Seleksi secara kuantitatif adalah metode seleksi yang didasarkan atas perhitungan kuantitatif. Kriteria-
kriteria pada sapi potong yang dapat dipergunakan dalam seleksi adalah ; Berat badan pada umur tertentu,
Kecepatan pertumbuhan dan Ukuran tubuh pada umur tertentu.

B. Seleksi Pada Sapi Perah


Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan seleksi terhadap sapi perah betina.
Beberapa metode yang sering digunakan yaitu:
 pendugaan kemampuan berproduksi
 Estimated Transmitting Ability (ETA)
 Pendugaan nilai pemuliaan
Sedangkan seleksi pemilihan pejantan ada beberapa metode, diantaranya:
 perbandingan antar produksi anak
 membandingkan produksi anak induk
 membandingkan produksi herdmatenya.

C. Seleksi Ternak Kerbau

Pemuliabiakan terhadap kerbau di Indonesia belum dikerjakan secara sistematis dan seleksinya belum
dikerjakan dengan baik. Pengembangbiakan kerbau dilakukan peternak secara alami.

2. PEMILIHAN BIBIT TERNAK RUMINANSIA

Keberhasilan dalam usaha budidaya ternak sapi sangat dipengaruhi oleh bibit yang akan digunakan.
Dalam pemilihan bibit harus jelas tujuannya apakah untuk menghasilkan daging, susu atau dengan tujuan
tenaga kerja. Pemilihan bibit ternak ruminansia dapat dilakukan berdasarkan:
 Pemilihan tipe.
 Pemilihan sapi berdasarkan keturunan.
 Penilaian dan pengukuran sapi.
 Hasil pameran

A. Tipe Ternak
Ada beberapa macam tipe ternak ruminansia, yaitu:
1. Tipe Pedaging
 Ternak ruminansia tipe pedaging pada umumnya mempunyai ciriciri:
 Cepat mencapai dewasa.
 Laju pertumbuhan cepat.
 Efisiensi pakannya tinggi.
 Kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
 Tubuh dalam besar, mencirikan tipe pedaging berbentuk persegi empat atau balok.
 Perut tidak menggantung
 Tidak cacat
2. Tipe Perah
 Tubuhnya luas ke belakang seperti baji atau gergaji.
 Sistem dan bentuk ambingnya baik dan putingnya simetris.
 Efisiensi pakan untuk produksi susu tinggi.
 Sifatnya baik dan jinak
 Punggung lurus
 Perut tidak menggantung
 Kapasitas perut besar
3. Tipe Pekerja
 Bertubuh besar dan kuat dengan perototan yang kuat.
 Gerakan anggota tubuhnya bebas.
 Sifatnya tenang dan patuh.
 Kakinya panjang dan kuat.

B. Pemilihan Bibit
Segala kegiatan yang berhubungan dengan usaha dibidang peternakan maka pemilihan dan seleksi bibit
merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan produksi ternak. Ada beberapa macam dalam melakukan
pemilihan bibit, hal ini tergantung dari apa tujuannya. Diantaranya:

1. Pemilihan Sapi Pedet


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sapi pedet diantaranya:
 matanya tampak cerah dan bersih.
 kukunya tidak terasa panas dan bengkak bila diraba.
 tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
 tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
 mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
 tidak terdapat adanya tandatanda mencret pada bagian pangkal ekor dan dubur
 tidak terdapat tanda-tanda sering batuk, terganggu pernafasannya serta dari hidungnya tidak keluar lendir.
 pusarnya bersih dan kering. Bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur
kurang lebih dua hari.

Ternak pedet yang akan dipelihara dengan tujuan untuk penggemukan ataupun untuk ternak bibit maka
perlu dilakukan seleksi terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar ternak bakalan yang digemukan benarbenar
memberikan keuntungan yang diharapkan. Umur bakalan pedet yang akan dipakai adalah bakalan yang
telah lepas kolostrum.
Untuk tujuan memproduksi veal maka penggemukan bakalan pedet berlangsung selama 3-4 bulan. Veal
yaitu daging pedet muda yang digemukan dengan air susu murni atau susu pengganti tanpa adanya
tambahan hijauan maupun konsentrat. Sedangkan untuk memproduksi daging vealer, maka penggemukan
dilakukan sampai berumur 5-10 bulan atau kurang dari 1 tahun. Jadi daging vealer adalah daging yang
diperoleh dari pedet yang digemukan sampai berumur 5-10 bulan atau kurang dari 1 tahun.
Bangsa ternak yang umum digunakan produksi veal adalah bangsa ternak Holstein Friesien dengan bobot
potong yang dicapai umumnya sekitar 120 kg.

2. Pemilihan Calon Pejantan


Calon pejantan yang baik pada umumnya mempunyai cirri-ciri sbb:
 kaki kuat dan kokoh
 tubuh bulat selinder
 sehat tidak berpenyakitan
 mata bersih dan bersinar
 ukuran badan panjang dalam dan berisi
 tidak cacat tubuh
 alat kelamin normal
 nafsu makan tinggi

3. Pemilihan Calon Induk


Calon induk yang baik pada umumnya mempunyai ciri-ciri:
 kaki kuat dan kokoh
 tubuh bulat selinder
 sehat tidak berpenyakitan
 mata bersih dan bersinar
 ukuran badan panjang dalam dan berisi
 tidak cacat tubuh
 alat kelamin normal
 ambing normal
 nafsu makan tinggi

Pemilihan bakalan yang akan digunakan untuk penggemukan adalah ternak yang lepas sapih yaitu ternak
sapi pada umur antara 6-8 bulan dengan lama penggemukan berkisar antara 15-20 bulan. Hal ini
tergantung dari kecepatan pertumbuhan. Pada ternak muda yang pertambahannya cepat pada umumnya
dipotong pada umur 15 bulan dengan bobot potongan antara 350 – 450 kg.

Sedangkan untuk pemilihan bakalan yang sudah dewasa yang digunakan untuk penggemukan biasanya
berumur dipilih sapi yang telah berumur lebih dari 2 tahun dari bangsa daging yang mutu genetiknya
tidak terlalu bagus atau kondisi badannya kurang baik.
Lama penggemukan pada bakalan ternak dewasa berkisar antara 3-6 bulan, tetapi tidak boleh melebihi
dari 6 bulan, karena setelah lebih dari 6 bulan pertambahan berat badannya akan menurun. Bakalan yang
digunakan adalah bakalan ternak dewasa yang kondisi tubuhnya kurus tetapi sehat, sehingga dengan
diberikan ransum yang baik akan memperlihatkan pertambah an berat badan yang tinggi selama 2-3
bulan.
Pemilihan ternak bakalan sebagai calon penggemukan harus benar-benar diperhatikan, karena dengan
pemilihan yang cermat akan menentukan berhasilnya usaha penggemukan tersebut.

C. Penilaian (Judging)
Penilaian ternak (sapi, kerbau) berdasarkan keturunan atau silsilahnya dapat dilihat dari data
rekordingnya. Data yang dilihat antara lain:
 mengenai siapa bapaknya
 siapa induknya
 berdasarkan catatan produksi nya baik itu daging, susu atau jumlah anak yg dilahirkan, berat anak pada
waktu lahir, ketahanan terhadap penyakit, dll.

Noor (1995) mengatakan bahwa silsilah merupakan catatan dari tetua suatu individu. Manfaat dari silsilah
tergantung dari seberapa dekat hubungan keluarga antara individu tersebut dengan tetuanya. Kekerabatan
ini akan berhubungan dengan dengan persentase kesamaan gen-gen antara dua ternak. Dalam pemilihan
ternak berdasarkan keturunannya ini sebaiknya tidak terlalu menekankan pada keunggulan tertua saja
karena tidak ada sifat yang 100% diturunkan. Oleh sebab itu dalam menggunakan informasi yang didapat
dari silsilah sebaiknya menggunakan informasi yang paling dekat dengan individu tersebut (contohnya
tetua langsung).

Silsilah dapat digunakan untuk mendukung sesuatu yang mungkin sudah diketahui tentang cara individu.
Sebagai contoh jika performa sapi jantan sangat baik dan informasi dari kedua tetuanya juga sangat
mendukung maka maka informasi ini akan mendukung suatu kesimpulan bahwa sapi jantan tersebut
memiliki mutu genetik unggul. Tetapi pada kasus lain dapat juga terjadi bahwa seekot ternak jantan
memiliki mutu genetic yang baik tetapi tidak satupun tetuanya berprestasi yang baik, hal ini merupakan
suatu petunjuk bahwa keunggulan ternak pejantan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh pengaruh
heterozigositas.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam menilai ternak, yaitu:


1. Pengamatan Ternak dari Jarak Jauh
 pengamatan kelompok ternak dengan jarak kurang lebih 6 meter. Tujuannya agar bisa diperoleh beberapa
sapi yang menjadi pilihan.
 melakukan pengamatan terhadap setiap ternak secara seksama dari jarak dekat.
 mengusahakan ternak yang diamati secara seksama dari dekat tadi agar bangkit/ bergerak/berdiri

2. Pengamatan Ternak dari Jarak Dekat


Untuk melakukan pengamatan ternak dari jarak dekat maka ada tiga macam pengamatan yaitu:
a. Pengamatan dari Arah Samping
 ukuran tubuh. Perhatikan apakah ukuran tubuhnya besar atau kecil.
 keadaan tubuh. Perhatikan keadaan tubuhnya di mulai dari samping apakah terlihat harmonis, simetris,
padat dan berisi.
 dada. Perhatikan apakah dada terlihat dalam atau dangkal
 keadaan badan bawah dan atas. Perhatikan keadaan badan bawah dan atas apakah terlihat sejajar. Ataukah
berbentuk gilik atau tidak rata.
 leher. Perhatikan lehernya apakah Pendek, tebal atau panjang dan tipis
 kaki. Perhatikan bentuk kakinya apakah lurus kuat, pendek ataukah kecil dan panjang
 bulu. Perhatikan apakah bulunya halus atau kasar

Gambar 1. Penilaian Sapi Dilihat dari Samping (Sapi Nilai Baik)


Gambar 2. Penilaian Sapi Dilihat dari Samping (Sapi Nilai Jelek)

b. Pengamatan dari Arah Depan


Perhatikan bagian :
 Muka atau wajah. Perhatikan bagian muka ternak apakah bentuk kepala muka pendek, dahi lebar, lubang
hidung lebar atau kecil panjang
 Bahu. Perhatikan bagian bahu apakah lebar, bulat dan serasi atau sempit, kecil dan ringan
 Badan. Perhatikan badannya apakah lebar atau sempit
 Kaki depan. Perhatikan kaki depannya apakah kuat dan tegak atau lemah

Gambar 3. Penilaian Sapi Dilihat dari Depan (Sapi Nilai Baik)


Gambar 4. Penilaian Sapi Dilihat dari Depan (Sapi Nilai Buruk)

c. Pengamatan dari Arah Belakang


 Bagian tubuh depan dan belakang. Perhatikan apakah lebar, harmonis atau sempit
 Tubuh bagian atas. Perhatikan apakah terlihat lebar, rata atau sebaliknya
 Paha. Amati apakah terlihat rata lurus atau kecil, bengkok
 Keadaan tubuh. Amati apakah terlihat lebar, dalam, rata, berisi, padat atau sempit
 Posisi kaki. Amati apakah terlihat kuat dan kokoh atau lemah

Gambar 12. Penilaian Sapi Dilihat dari Belakang (Sapi Nilai Baik)
Gambar 13. Penilaian Sapi Dilihat dari Belakang (Sapi Nilai Jelek)

d. Perabaan
Beberapa bagian yang perlu dilakukan perabaan yaitu :
 perabaan melalui ketipisan kerapatan dan kelunakan kulit dan perlemakannya
 bagian-bagian daerah perabaan pada penilaian (judging sapi)
 bagian rusuk
 bagian transversus processus
 bagian bidang bahu

e. Pengamatan Berdasarkan Tulang Rusuk yang Nampak


Suatu ternak dapat diketahui gemuk, sedang apakah kurus dengan melihat jumlah tulang rusuk yang
nampak, yaitu dikatakan kurus apabila sebagian tulang rusuk lebih dari 8 buah tampak membayang di
balik kulit.

D. Pengukuran Ternak
Pengukuran tubuh ternak berguna dalam menduga bobot badan seekor ternak dan merupakan parameter
teknis dalam penentuan ternak bibit. Pengukuran ternak secara tepat dimulai dari persiapan alat ukur
seperti tongkat ukur, pita ukur dan jangka caliper dan cara pengukurannya. Untuk cara pengukuran ternak
dapat dilakukan pada bagian-bagian tertentu seperti :
 tinggi gumba, diukur dari bagian tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis tegak lurus
 tinggi kemudi, diukur dari bagian tertinggi kemudi ke tanah mengikuti garis tegak lurus
 tinggi punggung, diukur dari bagian punggung tertinggi ke tanah mengikuti garis tegak lurus
 tinggi pundak, diukur dari jarak titik pundak sampai ke tanah.
 tinggi pangkal ekor, jarak dari titik dimana ekor meninggalkan badan sampai ke tanah.
 lebar dada, yaitu jarak antara sendi bahu kiri dan kanan caranya dengan menarik garis horizontal antara tepi
luar sendi bahu kiri dan kanan atau antara rusuk kiri dan rusuk kanan yang diukur dibelakang tulang
belikat
 lebar pangkal paha, yaitu jarak antara sisi luar sudut pangkal paha
 panjang badan ternak panjang badan yaitu jarak antara muka pangkal paha (bahu) sampai tulang tepis
(tulang duduk)
 dalam dada yaitu jarak antara tulang tertinggi pundak dan tulang dada diukur dibelakang siku
 lingkar dada yaitu diukur dengan pita ukur persis dibelakang siku
 panjang kepala, yaitu jarak dari puncak kepala sampai ke daging gigi seri
 lebar dahi atas, yaitu jarak antara pangkal tanduk atas
 lebar dahi dalam, yaitu jarak antara kedua lingkungan tulang mata

Dalam penentuan bobot badan sapi ada beberapa rumus yang biasa digunakan diantaranya:
 Rumus dari Denmark
Rumus :

 Rumus dari Schoorl


Rumus :

 Rumus Winter
Rumus:

 Rumus Modifikasi Rumus =

LD = lingkar dada
PB = Panjang badan
1 inci = 2,540 cm

1lbs = 0,456 kg

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Pertanian, Nomor : 54/permentan/ot.140/10/2006. Pedoman Pembibitan Sapi


Potong yang Baik (Good Breeding Practice). Jakarta
Ahmad Santosa.2012.Seleksi dan Pemilihan Bibit Bakalan Pada Usaha Ternak Potong.

Suyadi, S.Maylinda, H.Nugroho, dan Kuswati. 2008. Pengembangan Marker Genetik untuk
Seleksi Pertumbuhan Sapi Potong Lokal. Laporan Penelitian Rusnas. Kerjasam Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya Dengan Kementerian Riset dan Teknologi. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya. Malang

Warwick, E. J., M. Astuti, dan W. Hardjosubroto. 1990. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Nurlela, 2009. Produktifitas Ternak Sapi di UPT-D Pengembangan Ternak Wonggahu


Kabupaten Boalemo. Laporan Tugas Akhir. Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Fakultas
Ilmu-Ilmu Pertanian UNG. Gorontalo

Pane I. 1991. Produktivitas Dan Breeding Sapi Bali. Prosiding Seminar Nasional Sapi Bali.
Ujung Pandang: Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. 2-3 September 1991.

Pane, I. 1990. Upaya peningkatan mutu genetik sapi Bali di P3 Bali. Pros. Seminar Nasional Sapi
Bali. Bali, 20 – 22 September 1990.
3.1 Kesimpulan

Seleksi pada sapi perah juga baik dilakukan karena seleksi merupakan suatu tindakan untuk
memilih ternak yang dianggap mempunyai mutu gnetik baik untuk dikembangbiakan lebih lanjut
serta memilih ternak yang dianggap kurang baik untuk diafkir (culling).
DAFTAR PUSTAKA

Warwick E.J, Maria. A.J., Wartomo. 1990. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai