Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

RSUP Dr. Kariadi pada tahun 1995 melaporkan angka kejadian infertilitas

sebesar 15%.(1) Secara keseluruhan di Indonesia dilaporkan angka infertilitas

memiliki presentasi sebesar 10%.(1,2,3) WHO pada tahun yang sama angka kejadian

pasangan infertilitas sebesar 8% di dunia. Gagal mendapatkan anak tidak hanya

mengganggu aspek fisik tapi juga sangat berpotensial mengganggu aspek batinia

dan sosial, yang dapat menjadi sumber perasaan berdosa, dukacita, bahkan

perceraian.(1) Masalah infertilitas di negara-negara berkembang, laki-laki

merupakan penyebab utama infertilitas sekitar 40 - 50 % dari pasangan infertil

sedangkan 40 % dikarenakan faktor wanita dan 20 - 27 % lagi karena kedua

pasangan dan penyebab yang belum diketahui.(1,2,3,4)

Pemeriksaan pasangan infertilitas harus dilakukan secara bersamaan antara

suami dan istrinya. Pemeriksaan awal yang harus dilakukan khusus untuk suami

adalah pemeriksaan analisis sperma sebelum dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan

yang lebih lanjut.(1)

Pemeriksaan awal analisis sperma walaupun telah banyak menjelaskan

kelainan yang terjadi pada kasus-kasus infertilitas, tetapi masih ada beberapa kasus

infertil yang belum mampu dijelaskan dari hasil analisis sperma.(1) Maka dari itu

mendorong para peneliti mencoba memandang penyebab infertilitas dari aspek

molekuler dan menemukan penatalaksanaannya secara lebih akurat. Kualitas

1
kromatin sperma merupakan salah sau indikator yang menentukan kualitas sperma.

Saat ini telah berkembang pemeriksaan sperma dari aspek kromatin yang dapat

memperlihatkan abnormalitas pada kromatin sperma. Pemeriksaan kromatin yang

banyak dilakukan adalah pemeriksaan biru anilin dan pemeriksaan toluidin.

Pemeriksaan biru anilin digunakan untuk melihat kematangan kromatin sperma,

sedangkan pemeriksaan biru toluidin digunakan untuk melihat kepadatan kromatin

sperma.(2)

Selain digunakan sebagai diagnosis evaluasi infertilitas seorang laki-laki.

Analisis sperma juga dipakai di laboratorium forensik guna penanggulangan kasus

perkosaan, kasus penolakan orangtua terhadap bayinya, dan untuk menyaring

pengaruh bahan racun/obat yang toksik pada organ reproduktif.(4)

2
BAB II

PEMBAHASAN

Definisi

Organ reproduksi membentuk traktus genetalis yang berkembang setelah

traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun perempuan semenjak lahir sudah dapat

ditentukan, tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal.(8)

Gambar 1 (9)

Tampakan Transversal organ reproduksi laki-laki

Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki

Testis

3
Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval, agak gepeng dengan

panjang sekitar 4-5 cm dan diameter sekitar 2.5 cm.(8,9) Testis berada didalam

skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis.

Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika

vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang

bermigrasi ke dalam skrotum primitif selama perkembangan genetalia interna laki-

laki, setelah migrasi ke dalam skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus

vaginalis) akan menutup.(8)

Gambar 2 (9)

Tampakan transversal oragan testis

Organ reproduksi internal aksesoris laki-laki

4
Epididimis

Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas

posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara

tidak teratur. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari

puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku, kemudian berakhir pada

ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Epididimis merupakan

tempat terjadinya maturasi akhir sperma.(8)

Vas deferens

Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis. Panjangnya 45

cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior

testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian

belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen. (8)

Vesika seminalis

Vesika seminalis merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-

kantung pada dasar kandung kemih di depan rektum. Masing-masing vesikular

memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada

rektum. Pasokan darah ke vas deferens dan vesikula seminalis berasal dari arteri

vesikularis inferior. Arteri ini berjalan bersama vas deferens menuju skrotum

beranastomosis dengan arteri testikular, sedangkan aliran limfatik berjalan menuju

ke nodus iliaka interna dan eksterna. Vesikula seminalis memproduksi sekitar 50-

60 % dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal

dari vesukula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin.(8)

5
Kelenjar prostat

Kelenjar prostat merupakan organ dengan sebagian strukturnya merupakan

kelenjar dan sebagian lagi otot dengan ukuran sekitar 2.3 x 3.5 x 4.5 cm. Organ ini

mengelilingi uretra laki-laki, yang terfiksasi kuat oleh lapisan jaringan ikat di

belakang simpisis pubis. Lobus media prostat secara histologis sebagai zona

transisional berbentuk baji, mengelilingi uretra dan memisahkannya dengan duktus

ejakulatorius. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat aliran urin.

Hipertropi lobus media banyak terjadi pada laki-laki usia lanjut. (8)

Selain organ di atas, yang termasuk organ reproduksi aksesorius internal

laki-laki adalah uretrobulbar dan semen.(9)

Organ reproduksi aksesoris eksternal laki-laki

Skrotum

Skrotum pada dasarnya merupakan kantung kulit khusus yang melindungi

testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan pengatur suhu testis.

Spermatozoa sangat sensitif terhadap suhu karena testis dan epididimis berada di

luar rongga tubuh, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah daripada suhu di

dalam abdomen.(8)

Penis

Penis terdiri jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui uretra. Ada dua

permukaan yaitu permukaan posterior penis teraba lunak (dekat uretra) dan

permukaan dorsal. Jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal,

6
yaitu sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spongiousum di bagian

tengah. Ujung penis disebut glands. Glands penis ini mengandung jaringan erektil

dan berlanjut ke korpus spongiosum. Glans dilapisi lapisan kulit tipis berlipat, yang

dapat ditarik ke proksimal disebut prepusium (kulit luar), prepusium ini dibuang

saat dilakukan pembedahan (sirkumsisi). Penis berfungsi sebagai penetrasi.

Penetrasi pada wanita memungkinkan terjadinya deposisi semen dekat serviks

uterus.(8)

Gambar 3(9)

Tampakan transversal penis dan sekitarnya

Semen

7
Semen merupakan lendir yang keluar dari genitalia jantan waktu eyakulasi.

Semen terdiri dari bagian padat dan bagian cair. Bagian padat adalah spermatozoa,

bagian cair disebut plasma semen (air mani). Spermatozoa dihasilkan testis, plasma

semen dihasilkan ampulla vas seferens, kelenjar prostat, vesikula seminalis,

cowper, dan littre.(4,6) Volume rata-rata per eyakulat adalah 2,5 - 3,5 mL setelah

beberapa hari tidak dikeluarkan. Volume semen dan nilai hitung sperma menurun

cepat bila eyakulasi berkurang. Walaupun hanya diperlukan satu sperma untuk

membuahi ovum, setiap milliliter semen normalnya mengandung 100 juta sperma.

Lima puluh persen pria dengan nilai hitung sperma 20 - 40 juta/mL adalah normal

dan pada dasarnya, semua pria dengan nilai hitung yang kurang dari 20 juta/mL

dianggap infertil. Adanya kondisi spermatozoa yang immotil atau cacat juga

berkorelasi dengan infertilitas. Prostaglandin dalam semen, yang sebenarnya

berasal dari vesikula seminalis, kadarnya cukup, namun fungsi turunan asam lemak

ini di dalam semen belum diketahui pasti.(6)

Spermatozoa merupakan sel padat yang sangat terspesialisasi yang tidak dapat

mengalami pembelahan dan pertumbuhan, hasil akhir dari spermatogonium, terdiri

dari dua bagian fungsional yaitu kepala dan ekor.(2,3)

Kepala spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran panjang 5 mikron,

diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama dibentuk oleh nukleus yang

mengandung informasi genetik. Pada bagian anterior kepala spermatozoa terdapat

akrosom, suatu struktur yang berbentuk topi yang menutupi dua per tiga bagian

anterior kepala dan mengandung sejumlah enzim hidrolitik. Enzim tersebut terdiri

8
dari hialuronidase, akrosin, dan Corona Penetrating Enzim (CPE) yang semuanya

penting untuk penembusan ovum (sel telur) pada proses fertilisasi. (2,3,4)

Ekor dibedakan atas 3 bagian yaitu bagian tengah (midpiece), bagian utama

(principle piece) dan bagian ujung (endpiece). Panjang ekor seluruhnya sekitar 55

mikron dengan diameter yang makin ke ujung makin kecil pada bagian depan 1

mikron, di ujung 0,1 mikron. Panjang bagian tengah: 5-7 mikron, tebal 1 mikron;

bagian utama panjang 45 mikron, tebal 0,5 mikron dan bagian ujung panjang 4-5

mikron, tebal 0,3 mikron. Bagian ekor tidak bisa dibedakan dengan mikroskop

cahaya tetapi harus dengan mikroskop elektron.(2,3,4)

Pada bagian midpiece sperma, dijumpai adanya struktur mitokondria yang

berfungsi sebagai pembangkit energi pada spermatozoa. Bagian principle piece

sperma dibungkus oleh sarung fibrous (fibrous sheath) yang perbatasannya disebut

anulus. Sarung fibrous bentuknya terdiri dari kolom ventral dan dorsal yang

masing-masing melalui rusuk-rusuk. Ke arah sentral ada semacam tonjolan yang

memegangi cincin nomor 3, 8 dari aksonema. Keduanya (tahanan rusuk dan

pegangan cincin aksonema) memberikan gerak tertentu.(2,4)

9
Gambar 4(9)

Tampakan spermatozoa

Sperma manusia bergerak dengan kecepatan sekitar 3 mm/menit melintasi

saluran genitalia wanita. Sperma mencapai tuba uterina 30 - 60 menit setelah

kopulasi. Pada beberapa spesies, kontraksi organ wanita mempermudah

transportasi sperma ke tuba uterina.(6)

Pada mamalia, sel sperma diproduksi di testis. Testis menghasilkan lebih dari

4 juta sperma baru setiap jam. Sel-sel sperma yang dihasilkan oleh pembelahan sel

disebut meiosis, yang menghasilkan masing-masing sel sperma yang memiliki 23

kromosom, yang merupakan setengah dari kromosom yang ditemukan di setiap sel.

10
Pada sel ovum perempuan juga hanya memiliki 23 kromosom. Ketika bergabung,

mereka membuat 46 kromosom yang saling berpasangan, sepasang terdiri dari satu

kromosom dari laki-laki dan satu dari perempuan, sehingga membentuk 23 pasang

kromososm.(6)

Spermatogenesis

Spermatogenesis merupakan suatu proses pembentukan gamet pada laki-

laki berupa sperma. Proses ini terjadi di testis pada struktur yang disebut sebagai

tubulus seminiferus. Pembentukan sperma ini dimulai pada saat pubertas, ketika

produksi hormon gonadotropin sudah cukup maksimal untuk merangsang

pembentukan spermatozoa. Pada mulanya, diwaktu masih dalam kandungan, sel-

sel germinal primordial tampak pada tingkat perkembangan awal di antara sel

endoderm di dinding kantung kuning telur di dekat allantois. Kemudian pada

minggu ke-3 masa janin, mereka akan bermigrasi ke rigi urogenital yang saat itu

tumbuh di daerah lumbal. Semenjak dari dalam kandungan sampai masa pubertas

nanti, sel-sel germinal primordial ini akan mengalami fase istirahat, sampai suatu

saat ketika lumen tubulus semineferus telah sempurna dibentuk pada pubertas,

mereka akan berdiferensiasi menjadi spermatogonia. Spermatogonia terdiri atas 2

tipe yaitu spermatogonia tipe A dan spermatogonia tipe B. Spermatogonia tipe A

adalah spermatogonia awal yang dibentuk. Seiring perkembangan ilmu

pengetahuan, saat ini diketahui bahwa spermatogonia tipe A ini akan mengalami

serangkaian fase pembelahan secara mitosis, dan akhirnya akan membentuk

spermatogonia tipe B. Spermatogonia tipe B ini kemudian yang akan bergerak ke

lumen, termodifikasi dan membesar membentuk spermatosit primer. Spermatosit

11
primer nantinya akan semakin ke arah lumen sambil membelah secara miosis

menjadi spermatosit sekunder. Pada fase miosis pertama, proses yang berlangsung

cukup lama adalah pada tahap profase I, yakni sekitar 22 hari. Sedangkan proses

selanjutnya yakni metafase, anafase, dan telofase berlangsung sangat cepat. Setelah

terbentuk spermatosit sekunder, alamiahnya akan langsung membelah kembali

secara miosis (miosis II) menjadi spermatid. Spermatid yang dihasilkan sekarang

telah haploid, atau memiliki setengah dari kromosom induknya (spermatosit

primer). Langkah selanjutnya adalah tahap dimana spermatid berdiferensiasi

menjadi spermatozoa. Hasil akhir dari spermatogenesis adalah spermatozoa yang

haploid (n), dimana satu spermatosit primer menghasilkan empat spermatozoa.

Proses ini berlangsung di dalam testis lebih kurang selama 64 hari, dimana

sebenarnya spermatozoa yang terbentuk adalah sekitar 300 juta sel spermatozoa

baru setiap hari.(2,3)

Setelah terbentuk sperma di dalam tubulus seminiferus, sperma

membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati epididimis yang panjangnya

kurang lebih enam meter. Sperma yang bergerak dari tubulus semineferus dari

bagian awal epididimis adalah sperma yang belum motil, dan tidak dapat membuahi

ovum. Akan tetapi, setelah sperma berada dalam epididimis selama 18-24 jam,

sperma akan memiliki kemampuan motilitas, walaupun beberapa faktor

penghambat protein dalam cairan epididmis, masih mencegah mortilitas yang

sebenarnya, sampai setelah terjadi eyakulasi.(3)

12
Gambar 5(9)

Ilustrasi miosis sperma

Kandungan semen

Zat yang terkandung dalam semen, ialah sebagai berikut:(4,6)

1. Fruktosa, dihasilkan vesikula seminalis, berada dalam plasma semen. Untuk

sumber energi bagi spermatozoa dalam bergerak. Sifat pernapasannya

adalah anaerobis.

2. Asam sitrat, spermin, seminim, enzimposfatase asam, glukonidase, lisozim

dan amilase. Semua dihasilkan prostat. Asam sitrat belum jelas peranannya,

diduga untuk mengumpulkan semen setelah eyakulasi. Spermin yang

memberi bau khas, seminin untuk merombak (lysis); sehingga semen

mengencer, dan juga untuk mengencerkan lendir serviks betina; sedangkan

13
enzim-enzim lain berperan dalam memelihara atau memberi nutrisi bagi

spermatozoa di luar tubuh jantan.

3. Prostaglandin, dihasilka di vesikula seminalis dan prostat. Peranannya yang

melancarkan pengangkutan spermatozoa dalam saluran kelamin jantan dan

betina, diantaranya dengan mengurangi gerakan uterus, merangsang

kontraksi otot polos saluran kelamin jantan waktu eyakulasi, dan juga untuk

vasodilatasi (mengembangkan pembuluh darah).

4. Elektrolit, terutama Na, K, Zn, Mg. Dihasilkan prostat dan vesikula

seminalis. Untuk memelihara pH plasma semen.

5. Enzim pembuahan: hyaluronidase, neuroaminidase, protease mirip tripsin,

protease seperti kimotripsisn. Enzim pembuahan ini sebagian terdapat

akrosom spermatozoa (hyaluronidase, protease mirip tripsisn), sebagian

terdapat dalam plasma semen, dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar (terutama

protease mirip kimotripsin). Enzim pembuahan ini selama masih berupa

eyakulat (artinya belum mendapat reaksi dari saluran kelamin betina) dalam

keadaan nonaktif, oleh hadirnya dalam plasma semen itu zat inhibitor.

6. Inhibitor, dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kelainan jantan dan terkandung

dalam plasma semen. Inhibitor itu terutama terhadap hyaluronidase,

protease mirip tripsin, dan protease mirip kimotripsin.

7. Hormon: testosteron, FSH (follicle stimulating hormone) dan LH

(luteinizing hormone). Ketiganya berasal dari testis; belakangan

gonadotropin yang datang ke testis berasal dari hipofisis.

14
8. Zat organis lain, seperti asam amino, protein, dan lemak. Asam amino yang

utama dan jadi ciri semen yaitu tirosin dan asam glutamat, sedang protein

yang utama adalah karnitin. Zat organis ini berasal dari testis, saluran dan

kelenjer. Protein, seperti karnitin, dihasilkan vesikula seminalis.

Analisis Semen

Analisis sperma adalah suatu pemeriksaan yang penting untuk menilai fungsi

reproduksi pria. Untuk mengetahui apakah seorang pria fertil atau infertil.(3,4)

Semen diperiksa harus dari seluruh eyakulat. Karena itu mengambilnya dari tubuh

harus dengan masturbasi atau coitus interuptus (bersetubuh dan waktu eyakulasi

persetubuhan dihentikan dan mani ditampung semua).(4,6)

Syarat-syarat Pemeriksaan

Setiap pasangan yang mengalami infertilitas, perlu dilakukan pemeriksaan

secara bersamaan antara istri dan suami. Jika salah satu pasangan tidak ingin

diperiksa maka tidak dilakukan pemeriksaan diantara keduanya.(5)

Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut :(5)

1) Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha

untuk mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksan dapat dilakukan lebih

dini apabila :

a. Pernah mengalami keguguran berulang;

b. Diketahui mengidap kelainan endokrin;

15
c. Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut;

d. Pernah mengalami bedah ginekologik.

2) Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan

pertama pasangan itu ke dokter.

3) Istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan

pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini.

4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah

satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan

kesehatan istri atau anaknya.

Faktor yang mempengaruhi produsen semen :

1. Riwayat penyakit sistemik

Penyakit sistemik dan neurologis dapat menyebabkan impotensi dan

gangguan eyakulasi. Kedua penyakit tersebut dapat merusak

spermatogenesis dan fungsi seks.(1)

Tuberkulosis dapat menyebabkan epididimitis dan prostatitis yang

berhubungan dengan gangguan transport semen. Penyakit saluran

pernapasan kronis termasuk bronkiektasis, sinusitis kronis dan bronkitis

kronis seperti ini sering kali berhubungan dengan gangguan silia sperma dan

faktor epididimis seperti yang terjadi pada young sindrome. Young sindrome

ditandai dengan kelainan struktur dari vas deferen, epididimis dan vesikula

seminalis yang didasari oleh adanya mutasi pada gen CFTR pada young

sindrome. (1)

16
2. Demam

Demam melebihi 38oC dapat menekan spermatogenesis sampai 6

bulan lamanya. Demam akan menekan fungsi testis sehingga akan

menurunkan kadar testosteron, meningkatkan kadar imunoreaktif

gonadotropin dengan kadar LH yang rendah.(1)

3. Pemberian obat-obatan

Beberapa obat-obatan yang menyebabkan kerusakan

spermatogenesis sementara atau menetap dan dapat mengganggu fertilitas

antara lain kemoterapi kanker, pengobatan hormon kortikosteroid dosis

tinggi, radiasi, simetidin, sulfasalasin, spironolakton, nitrofurantoin,

niridisal, kolkisin juga obat-obatan anti hipertensi dan obat penenang.(1)

4. Riwayat bedah

Penurunan fertilitas dapat juga terjadi setelah tindakan bedah.

Tindakan bedah yang dapat mempengaruhi fertilitas secara langsung antara

lain operasi katup uretra pada masa bayi, prostektomi atau insisi leher buli-

buli, operasi striktur uretra, operasi hernia, hidrokeletomi, vasektomi,

simpatektomi lumbal, pembedahan retroperitoneal berat, operasi varikokel,

torsi testis atau setiap operasi pembedahan genital atau inguinal.(1)

5. Infeksi saluran kemih

Riwayat disuria, keluar nanah dari uretra, piuri, hematuri, sering

kencing dan lain-lain.(1)

6. Penyakit hubungan seksual

17
Informasi tentang sifilis, gonorea, klamidia atau penyakit hubungan

seksual lain seperti limfogranuloma venerum, mikoplasma atau uretritis non

spesifik perlu di data dan dicatat berapa kali terjadi dan berapa lama.(1)

Penyakit-penyakit hubungan seksual tersebut diatas dapat

menurunkan fertilitas pria dengan cara gangguan obstruktif, merangsang

pembentukan antibodi dan gangguan eyakulasi serta gangguan

spermatogenesis.(1)

7. Kelainan lain

Kelainan yang mungkin menyebabkan kelainan testis, misalnya

orkitis gondongan, rudapaksa testis, torsi testis, riwayat farikokel, kelainan

desensus testis, testis retraktil, testis ektopik, desensus dan kelainan

hormonal terutama testosteron.(1)

Virus pada parotitis akan menyebabkan orkitis, dimana virus orkitis

ini akan menyebabkan gangguan spermatogenesis yang lebih berat

dibandingkan oleh penyebab virus atau bakteri yang lain.

8. Pekerja yang berhubunan dengan radioaktif.(1)

9. Suatu pekerjaan dimana situasi temperaturnya tinggi, misalnya sopir.(1)

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil analisis semen

Hasil dari suatu analisis semen sendiri banyak faktor-faktor yang

mempengaruhi. WHO dalam menuntun pemeriksaan analisis semen 1995, dalam

usaha menstandarisasikan analisis semen mengingatkan beberapa hal yang

berpengaruh antara lain :(1)

18
1. Cara memperoleh semen dan pengiriman siapan.(1,7)

a. Sediaan diambil setelah abstinensia sedikitnya 48 jam dan tidak lebih

lama dari tujuh hari.

b. Oleh karena variasi yang besar dalam produksi semen dapat terjadi pada

seseorang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dua sediaan. Waktu antara

kedua pemeriksaan tersebut tidak boleh kurang dari 7 hari atau kurang

dari 3 bulan.

c. Sebaiknya sediaan dikeluarkan dalam sebuah kamar yang tenang dekat

laboratorium. Jika tidak, maka sediaan harus diantar ke laboratorium

dalam waktu satu jam setelah dikeluarkan dan jika motilisasi sperma

sangat rendah (kurang dari 25% bergerak maju terus) sediaan kedua

harus diperiksa secepatnya. Jika uji fungsi sperma seperti uji oosit bebas

zona hamster akan dilakukan, maka penting sekali untuk memisahkan

sperma dari plasma semen dalam waktu satu jam setelah eyakulasi.

d. Sediaan sebaiknya diperoleh dengan cara mansturbasi dan ditampung

dalam botol kaca atau plastik yang bermulut lebar. Jika dipakai plastik,

maka harus diperiksa terlebih dahulu apakah ada efek toksik dari plastik

tersebut. Botol sebaiknya dipanaskan dahulu untuk mengurangi bahaya

renjatan akibat suhu dingin. Jika akan dilakukan pemeriksaan

bakteriologis, maka penderita diminta untuk mengeluarkan air seninya

terlebih dahulu. Kemudian mencuci tangan dan penisnya sebelum

sediaan ditampung dalam botol yang steril.

19
Zat pelicin sebaiknya jangan digunakan untuk mempermudah

pengeluaran siapan(1)

e. Gunakan kondom dengan bahan plastik khusus (Mylex) atau penyimpan

cairan khusus (HDC Corporation, Mountion View, Calif). Kondom

biasa sebaiknya tidak dipakai untuk menampung semen karena

mengandung spermatisit.

f. Coitus interuptus tidak dapat dipakai untuk mendapatkan siapan karena

ada kemungkinan bagian pertama eyakulat yang mengandung sperma

paling banyak akan hilang. Selain itu juga akan terjadi kontaminasi

selular dari bakteri pada siapan, serta dapat terjadi pula pengaruh kurang

baik terhadap motilitas sperma sebagai akibat pH cairan vagina yang

asam.

g. Siapan yang tidak lengkap sebaiknya tidak diperiksa, terutama jika

bagian pertama eyakulat hilang.

h. Siapan harus dilindungi terhadap suhu yang ekstrim selama

pengangkutan ke laboratorium (suhu sebaiknya diantara 20-40 oC).

i. Botol harus diberi label dengan nama penderita, tanggal pengumpulan

dan lamanya abstinensi.

Disamping faktor-faktor tersebut diatas, keadaan penderita menjelang

dilakukannya analisis semen juga sangat berpengaruh. Kelelahan atau serangan

influensi misalnya, dapat mempengaruhi hasl analisis semen, terutama mengenai

kadar spermatozoanya. Pemakaian antibiotik misalnya tetrasiklin dan sulfonamide,

mengurangi motilitas dan mempercepat kematian spermatozoa.(1)

20
Jadi suatu hasil analisis semen, lebih-lebih kalau hanya dilakukan sekali saja,

tidak mutlak menggambarkan tingkat fertilitas seorang pria, mengingat banyaknya

faktor yang mempengaruhinya, yang umumnya bersifat sementara.(1)

Pengelolaan Spesimen

Para teknisi laboratorium harus diberitahu bahwa semen merupakan suatu

bahaya biologi karena dapat mengandung bakteri yang patogen seperti virus

hepatitis, virus AIDS, virus herpes, sehingga semen harus diperlakukan dengan

hati-hati.(1)

Hasil Analisis Semen

Parameter yang di periksa pada analisis semen meliputi warna, bau, pH,

volume, viskositas, konsentrasi spermatozoa dengan presentase yang motil dan

yang mati, kecepatan motilitas rata-rata spermatozoa, presentase morfologi

abnormal dan sel-sel lain, serta uji fruktose yang hanya dilakukan khusus pada

keadaan azoospermia. Sedangkan persiapannya meliputi petunjuk abstinensi, cara

memperoleh semen dan pemilihan penampung semen yang disediakan oleh

laboratorium.(1,5)

Pemeriksaan Makroskopis Semen

Pemeiksaan makroskopis semen meliputi :

1. Warna

21
Warna normal adalah putih / agak keruh. Kadang-kadang ditemukan

juga warna kekuning-kuningan atau merah. Warna kekuning-kuningan

mungkin disebabkan karena radang saluran kencing atau abstinensia terlalu

lama. Warna merah biasanya oleh karena tercemar sel eritrosit

(hemospermi).(1,6)

2. Volume

Cairan semen ditampung dengan jalan masturbasi langsung ke

dalam botol gelas bersih yang bermulut lebar (atau gelas minum), setelah

abstinensi 3-5 hari. Sebaiknya penampungan air mani itu dilakukan di

rumah pasien sendiri, kemudian dibawa ke laboratorium dalam 1 jam

setelah dikeluarkan. Air mani yang dimasukkan ke kondom dahulu, yang

biasanya mengandung zat spermatisid, akan mengelirukan penilaian

motilitas spermatozoa.(5)

Cairan semen yang ditampung diukur dengan gelas ukur, dan

dikatakan normosperma bila volumenya normal yaitu 2 – 6 ml, dengan

volume rata-rata 2 – 3,5 ml. Aspermi bila tidak keluar sperma pada waktu

eyakulasi. Hiperspermi bila volume lebih dari 6 ml.(1,6) Hipospermi bila

volumenya kurang dari 1 ml, ini mungkin disebabkan karena :(1)

a. Tercecer pada waktu memasukkan semen ke dalam botol.

b. Keadaan patologis antara lain :

 Penyumbatan kedua duktus ejakulatorius

 Kelainan kongenital misalnya agenesis vesikula seminalis.

22
Hiperspermi biasanya diikuti oleh konsentrasi spermatozoa yang rendah dan

hiperspermi dapat disebabkan :(1)

a. Abstinensi yang lama

b. Produksi kelenjar asesorius yang berlebihan.

Secara umum, volume semen terdiri dari sekret kelenjar bulbouretral

3%, sekret kelenjar prostat 20%, spermatozoa dengan cairan dari epididimis

7%, dan sisanya yang merupakan bagian tersebar dari vesica seminalis 70%.

Mengenai cara pengeluarannya, pada waktu terjadi eyakulasi mula-mula

sekret kelenjar prostat, baru spermatozoa dengan cairan dari epididimis dan

ampula, lalu yang terakhir cairan seminalis.(1)

Volume semen sangat bervariasi antara setiap laki-laki, bahkan pada

seorang setiap eyakulasinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi sangat

banyak, antara lain lamanya abstinensia, keadaan emosi atau rangsangan

pada waktu terjadi eyakulasi.(1)

3. Bau

Spermatozoa mempunyai bau khas, sekali membau tidak akan lupa

lagi, bau ini mungkin disebabkan oleh proses oksidasi dari spermia yang

diproduksi oleh prostat. Baunya langu, seperti bau bunga akasia.(1,5,6) Semen

dapat berbau busuk atau amis bila terjadi infeksi.(1,6)

4. pH

23
Cara untuk mengetahui keasaman semen digunakan kertas pH atau

lakmus, biasanya sifatnya sedikit alkalis. Semen yang terlalu lama akan

berubah pHnya.(1)

Pada infeksi akut kelenjar prostat pHnya berubah menjadi diatas 8,

atau menjadi 7,2 misalnya pada infeksi kronis organ-organ tadi. WHO

memakai kriteria normal yang lazim yaitu 7,2 – 7,8.(1,5,6)

5. Viskositas

Setelah berlikuefaksi, eyakulat akan menjadi cairan homogen yang

agak pekat, yang dapat membenang kalau dicolek dengan sebatang lidi.

Daya membenangnya dapat mencapai 3-10 cm. Makin panjang

membenangnya makin tinggi viskositasnya. Pengukuran viskositas seperti

ini sangat subyektif.(5)

Viskositas semen diukur setelah mengalami likuefaksi secara penuh

(15 – 20 menit setelah ejakulasi).(1)

Pengukuran dapat dilakukan dengan 2 cara :

a. Dengan pipet pasteur : semen diisap ke dalam pipet tersebut, pada waktu

pipet diangkat maka akan tertinggal semen berbentuk benang pada

ujung pipet. Panjang benang di ukur, normal panjangnya 3 – 5 cm.(1)

b. Menggunakan pipet yang sudah mengalami standarisasi (Elliason).

Pipet dalam posisi tegak, lalu diukur waktu yang diperlukan setetes

semen untuk lepas dari ujung pipet tadi, angka norml adalah 1 – 2

detik.(1,5)

6. Likuifaksi

24
Semen normal pada suhu ruangan akan mengalami likuefaksi dalam

60 menit, walau pada umumnya sudah terjadi dalam 15 menit.(1,6) Pada

beberapa kasus, likuefaksi lengkap tidak terjadi dalam 60 menit. Hal ini bisa

terjadi bila mengandung granula seperti jelly (badan gelatin yang tidak

mencair), tetapi tidak memiliki makna secara klinis. Bila hal ini ditemukan

akan sangat mengganggu dalam analisis semen, sehingga perlu dibantu

dengan pencampuran enzimatis.(1,5)

7. Fruktosa

Fruktosa air mani adalah hasil vesikulasi seminalis, yang menunjukkan

adanya ransangan androgen. Fruktosa terdapat pada semua air mani, kecuali

pada :

- Azoospermia karena tidak terbentuknya kedua vas deferens. Air

maninya tidak berkoagulasi segera setelah eyakulasi karena vesikula

seminalisnya pun tidak terbentuk

- Kedua duktus ejakulatoriusnya tertutup

- Keadaan luar biasa dari eyakulasi retrograd, dimana sebagian kecil

eyakulat yang tidak mengandung spermatozoa sempat keluar.

Setiap air mani yang azoospermia harus diuji secara rutin akan adanya

fruktosa. Dengan jalan ini setiap kecurigaan tidak adanya vasa dapat

lebih diyakinkan, tanpa harus melakukan eksplorasi skrotum. Ada

tidaknya koagulasi segera setelah eyakulasi harus diperiksa dalam 5

menit setelah eyakulasi.(5)

2.5.2 Pemeriksaan Mikroskopis Semen

25
Pemeriksaan mikroskopis meliputi :

1. Jumlah spermatozoa per ml

Perlu diketahui yang di maksud dengan konsentrasi sperma ialah jumlah

spermatozoa per ml sperma. Jumlah spermatozoa total ialah jumlah seluruh

spermatozoa dalam ejakulat.

Jumlah sperma dikatakan(1)

Normal : jumlah spermatozoa diatas 60 juta/ml

Subfertil : 20 – 60 juta/ml

Steril : 20 juta atau kurang/ml

Namun WHO menganggap bila jumlah sperma 20 juta/ml atau lebih

dianggap masih normal.(1)

2. Jumlah sperma motil per ml/presentase spermatozoa motil

Presentase spermatozoa motil yang sekaligus juga menunjukkan jumlah

spermatozoa motil dalam suatu ejakulat, merupakan parameter terpenting dari

suatu hasil analisis semen seseorang, kadang dihubungkan dengan

kemungkinan terjadinya kehamilan oleh sperma tersebut.(1)

Nilai normal dari presentase spermatozoa motil berbeda-beda antara tiap-

tiap laboratorium. Tetapi pada umumnya dianggap normal kalau nilai tersebut

di atas 50 – 70%, kalau mendapatkan motilitas sperma dari seorang pria yang

jelek, hendaknya pemeriksaan diulang, dengan memperpendek jarak waktu

antara ejakulasi dan pemeriksaan.(1)

Sedangkan Amelar dan Dubin 1977 manganjurkan waktu abstinensinya

diperpendek kalau menjumpai hal-hal semacam itu, karena dengan lamanya

26
abstinensi, menyebabkan tersimpannya spermatozoa terlalu lama dalam

saluran spermatozoa yang mungkin dapat menimbulkan kerusakan. Motilitas

sperma jelek bila abstinensianya lebih dari 5 hari dan motilitas terbaik

didapatkan pada 2/3 bagian ejakulat pertama. Motilitas sperma akan sangat

dipengaruhi atau berhubungan dengan adanya perubahan pH, infeksi,

morfologi, pematangan, dan juga gangguan hormonal.(1)

Namun secara garis beras WHO dan beberapa ahli berpendapat motilitas

dianggap normal bila 50% atau lebih bergerak maju atau 25% atau lebih

bergerak maju dengan cepat dalam waktu 60 menit setelah ditampung.(1,3)

Sebagai patokan nilai normal hasil pengamatan sperma diatas WHO telah

mendapatkan nilai normal hasil pemeriksaan.(1)

Di bawah ini terdaftar kriteria semen normal yang umum dipakai menurut

WHO :(1)

27
3. Kecepatan

Semen yang tidak diencerkan diteteskan ke dalam titik hitung, tentukan

waktu yang dibutuhkan satu spermatozoa untuk menempuh jarak 1/20 mm,

pada keadaan normal dibutuhkan 1 – 1,4 detik ini disebut normakinetik.(1,6)

4. Morfologi

Morfologi spermatozoa yang normal ditentukan oleh bentuk kepala, leher,

tanpa adanya sitoplasmik “droplets” dan bentuk ekor, semen yang normal

mengandung setidaknya 48% - 50% spermatozoa normal.(1,2,3,5,6)

28
5. Komponen seluler lain dari semen (lekosit & eritrosit)

Jumlah lekosit meningkat untuk mengatasi infeksi yang terjadi di saluran

reproduksi. Di sisi lain, jumlah lekosit yang meningkat berlebihan dapat

mempengaruhi proses spermatogenesis dan merusak sperma yang normal

sehingga dapat mempengaruhi fertilitas dari seorang pria. Leukositospermia

dapat menurunkan kualitas sperma karena menganggu tarnsport dan

ketahanan sperma dapa saluran reproduksi wanita.(3)

Lekosit (SDP) sangat sering dijumpai dalam spesimen dalam spesimen

semen, sebagian besar netrofil. Jumlah lekosit yang tinggi (lebih dari 1 x 106

/ml) menandakan lekospermi. Lekospermi bisa disebabkan oleh infeksi pada

sistem duktus eksretorius pria, terutama di kelenjar asesorius, yang harus

diselidiki dengan anamnesis, pemeriksaan klinis dan analisis bakteriologis

semen dan cairan prostat setelah tindakan masase prostat dan USG.

Sebaiknya juga dilakukan pemeriksaan bakteriologis urine secara simultan

untuk mendeteksi infeksi saluran kemih, baik yang berdiri sendiri atau secara

bersamaan. Beberapa infeksi traktus genital pria ada yang sifatnya subklinis

dan asimtomatik. Pada cairan prostat yang didapat dengan masase prostat,

jumlah SDP tak sapai melebihi 15 per lapangan pandang dengan pembesaran

tinggi (LBP). Jumlah sel 15 sampai 40 / LBP disebut zone perbatasan, dan

bila jumlahnya lebih dari 40 maka kemungkinan besar terdapat inflamasi

prostat. Jika cairan prostat tidak bisa didapat, maka perlu dilakukan

pemeriksaan urine setelah masase prostat. SDP dapat ditemukan dengan

pengecatan peroksidase, yang merupakan prosedur laboratorium yang sangat

29
simpel. Diagnosis infeksi pada traktus genital pria perlu diikuti dengan

pemberian terapi antibiotik yang adekuat (doksisiklin, kotrimazol, ofloxacin,

norfloxacin). Terapi ini tidak efektif dalam memulihkan fertilitas. Adanya

leukosit dapat menyebabkan memburuknya keadaan sperma karena

dihasilkan spesies oksigen reaktif yang diikuti dengan kerusakan membran

sperma, atau karena produksi sitokin sitotoksik.(1)

Apabila semua pemeriksaan ini hasilnya negatif, maka diagnosisnya

adalah lekospermi non infeksi, yang mengindikasikan adanya permeabilitas

abnormal traktus genital pria sehingga mudah dilalui oleh SDP. Jenis sel bulat

lain yang kadang ditemukan adalah sel-sel imatur dari segi spermatogenik

dan sel epitel dari uretra dan vesika urinaria. Sedangkan untuk sel darah

merah (eritrosit) dalam keadaan normal tidak ditemukan pada pemeriksaan

semen.(1)

Analisis sperma dipakai untuk diagnosis evaluasi pre/post terapi

medikal maupun surgikal infertilitas pria. Analisis sperma dipakai juga di

laboratorium forensik guna penanggulangan kasus peekosaan, kasus

penolakan orangtua terhadap bayinya, dan untuk menyaring pengaruh bahan

racun/obat yang toksik pada organ reproduktif .

2. Nomenklatur untuk beberapa variabel semen

Karena kadang-kadang sulit untuk menguraikan semua penyimpanan

variabel semen normal dengan kata dan angka, maka telah disusun suatu

nomenklatur untuk menjelaskan perubahan yang dibicarakan. Perlu diingat

bahwa nomenklatur ini hanya menguraikan beberapa variabel semen dan tidak

30
menyatakan suatu hubungan sebab-akibat. Dengan catatan tersebut, maka

nomenklatur ini dapat digunakan sebagai berikut.(1)

3. Klasifikasi analisis semen

Di Indonesia, penggolongan tingkat fertilitas pria menganut kriteria Farris

(1949), berdasarkan jumlah spermatozoa motil per ejakulat.(1)

1. Golongan sangat fertil : lebih dari 185 x 106 spermatozoa motil per

ejakulat

2. Golongan relatif-fertil : 80 x 106 – 185 x 106 spermatozoa motil per

ejakulat.

3. Golongan subfertil : 1 – 80 x 106 spermatozoa motil per ejakulat.

31
Dasar pembagian tingkat-tingkat fertilitas pria oleh Farris ini ialah hasil

analisis semen dari 49 pria fertil dihubungkan dengan jumlah anak, dibagi dalam

dua golongan.(1)

Laboratorium klinik sangat berperan dalam diagnosis dan penatalaksanaan

pria infertil. Pemeriksaan laboratorium yang merupakan tulang punggung

laboratorium andrologi dan laboratorium rumah sakit atau Assisted

Reproductive Technology (ART) adalah analisis sperma dan pemeriksaan

hormon.(2)

32
DAFTAR PUSTAKA

1. Kuswondo G. Tesis : Analisis semen pada pasangan infertil. Program

pendidikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi fakultas kedokteran

universitas diponegoro, semarang. 2002.

2. Syauqy, A. Evaluasi kromatin sperma sebagai indikator kualitas sperma.

Bagian ilmu biologi kedokteran dan ilmu kesehatan universitas jambi. JMJ.

Volume 2. Nomor 1. Mei 2014. Hal : 87-97.

3. Widodo, F, T. Hubungan antara jumlah leukosit dengan motilitas sperma pada

hasil analisa sperma pasien infertilitas di RSUP dr. Kariadi, semarang. Fakultas

kedokteran Universitas diponegoro. 2009.

4. Khaidir, M. Penilaian tingat fertilitas dan penatalaksaannya pada pria. Studi

literature. Jurnal kesehatan masyarakat. September 2006.

5. Ilmu Kandungan. Yayasan bina pustaka Sarwono prawirohardjo. Jakarta. Edisi

kedua, cetakan ketiga. 1999.

6. Wildan, Dr. Yatim. Reproduksi & Embryologi. Penerbit : Torsito. Bandung.

1998.

7. Norman, F.Gant, Gary, C. Dasar-dasar Ginekologi & Obstetri. Penerbit buku

kedokteran : EGC. Cetakan 2011.

8. Qadrijati, Isna, dr, M.Kes. Anatomi dan fisiologi sistem reproduksi manusia.

Psks.lppm.uns.ac.id. di lihat pada tanggal 29 Juli 2017 pukul 21.57 Wita.

9. Shier, David, dkk. Hole’s : Human anatomy & physiology. Published :

McGraw-Hill Education. Fourteenth edition. New York. 2016. Page : 823-837.

33