Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam perkembangan peradaban yang begitu pesat saat ini mengharuskan

manusia untuk meneruskan keturunannya agar tidak punah. Salah satu upaya yang

dilakukan manusia untuk meneruskan keturunannya adalah dengan perkawinan.

Perkawinan selain untuk meneruskan keturunan juga berfungsi untuk memenuhi

hasrat seksual secara biologis dengan yang syah secara hukum. Perkawinan ini

mengharuskan seorang wanita dan pria untuk melakukan hubungan seksual

dimana terjadi proses pembuahan sel telur oleh sperma (Yakubu dkk., 2007).

Pada proses perjalanan perkawinan manusia terkadang menemui masalah-

masalah yang cukup serius terutama perihal keharmonisan rumah tangga. Dalam

berumah tangga, keharmonisan berkaitan erat dengan kehidupan seksual antara

suami dan istri. Kehidupan seksual dalam rumah tangga dapat menurun seiring

dengan pertambahan usia dan rutinitas pekerjaaan yang padat akan membuat

stress. Penurunan tersebut dapat terjadi dengan cepat apabila salah satu pasangan

mengalami gangguan seksual. Gangguan-gangguan atau disfungsi seksual tersebut

dapat berupa disfungsi ereksi, ejakulasi dini atau impotensi sehingga menyebabkan

salah satu pasangan tidak mendapat kepuasan dalam kebutuhan biologisnya dan

akhirnya hubungan suami-istri akan terganggu (Khomsan, 2007).

1
2

Disfungsi seksual pada pria terutama disebabkan oleh berbagai faktor.

Misalnya, gangguan psikologis (kecemasan saat berhubungan seksual, hubungan

antar suami istri yang cenderung tegang, depresi, stres dan rasa bersalah serta rasa

takut akan kegagalan dalam berhubungan seksual), menurunnya produksi

androgen (defisiensi testosteron, hiperprolaktinemia), kondisi medis yang kronis

(diabetes, hipertensi, aterosklerosis), gangguan neurologis (Parkinson, stroke,

trauma otak), gaya hidup (merokok, penyalahgunaan alkohol kronis), penuaan

(penurunan tingkat produksi hormon seksual seiring dengan penambahan usia),

dan penyakit sistemik (jantung, hati, ginjal, paru-paru dan kanker) (Yakubu dkk.,

2007).

Untuk mengatasi disfungsi seksual tersebut banyak cara yang dapat

dilakukan oleh pasangan suami istri agar hubungan seksualnya dapat kembali

harmonis. Misalnya untuk mengobati disfungsi ereksi (DE), banyak cara yang

dilakukan dalam mengatasi keluhan DE ini, salah satunya adalah dengan obat-

obatan. Salah satu obat yang terbaru dan dapat dikonsumsi secara oral adalah

sildenafil sitrat (Viagra®) (Taher dkk., 1999). Walaupun penggunaan sildenafil

sitrat sangat mudah dan relatif sedikit kemungkinan efek samping dapat muncul,

namun tidak semua pria aman dalam menggunakannya. Kontraindikasi pemakaian

sildenafil adalah pasien yang menggunakan preparat nitrat, adanya riwayat stroke,

infark miokard, hipotensi, penyakit degenaratif retina dan obat yang membuat

waktu paruh sildenafil menjadi lebih panjang (Susanto, 2001). Oleh sebab itu,
3

perlu dianjurkan terapi dengan obat-obatan yang relatif aman dari efek samping

dan kontraindikasi misalnya menggunakan produk obat herbal.

Saat ini produk obat herbal berkembang sangat pesat karena penggunaan

produk obat herbal sebagai pilihan alternatif terutama untuk menjaga kesehatan

tubuh. Contoh lain pada penggunaan produk obat herbal misalnya sebagai

peningkat gairah seksual atau penambah vitalitas pada pria. Namun hal ini perlu

dikaji lebih dalam terutama tentang pemanfaatan produk-produk tersebut karena

masih harus didukung oleh bukti-bukti ilmiah secara scientific supaya bisa

dipertanggung jawabkan tentang khasiat dan keamannya. Melihat fenomena saat

ini masih banyak industri-industri seperti industri jamu tradisional yang

menggunakan bahan produknya berdasarkan data empiris atau turun-temurun

dalam proses pembuatannya. Berdasarkan paradigma tersebut maka penelitian

ilmiah tentang tumbuhan yang digunakan sebagai obat herbal baik yang sudah ada

ataupun yang sedang dikembangkan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya

agar terjadi optimalisasi produksi obat herbal baik dari segi efikasi maupun dari

segi keamanan produk.

Litsea cubeba (Pers) merupakan salah satu tumbuhan aromatis yang dikenal

dengan nama krangean atau ki lemo oleh masyarakat indonesia. Krangean

termasuk tumbuhan aromatis, karena hampir semua sebagian tumbuhan ini

beraroma dan mengandung minyak atsiri (Kayang dkk., 2009). Di Indonesia,

krangean telah banyak digunakan secara empirik misalnya minyak kulit batang

krangean untuk obat kejang urat atau otot (Mardisiwojo dan


4

Radjakmangunsudarso, 1968). Bioaktifitas minyak kulit batang krangean yang

dapat berefek sebagai penurun aktifitas lokomotor (antikejang) merujuk pada

penelitian yang dilakukan oleh Muchtaridi dkk. 2005 dan 2011 yaitu inhalasi

minyak atsiri kulit batang krangean dengan dosis 0,5 mL dapat menurunkan

aktifitas lokomotor mencit jantan galur DDY (Deutshe Denken Yoken) hingga

60,75%. Kandungan minyak atsiri yang berperan dalam aktifitas ini adalah

sitronelal, sitronelol, a-terpineol dan 1,8-sineol. Senyawa tersebut berikatan

dengan α dan β-GABA sehingga meningkatkan aktifitas kerja sistem GABA yang

menyebabkan penurunan aktifitas lokomotor (Aoshima dan Hamamoto, 1999;

Buchabuer dkk., 1993). Selain itu, krangean juga memiliki aktifitas sebagai

antiinflamasi. Ekstrak metanol kulit batang krangean dapat menghambat katalis

enzim mieloperoksidase yang menyebabkan terjadinya inflamasi. Ekstrak kulit

batang krangean dapat menghambat produksi nitrit oksida (NO) dan prostagladin

E2 (PGE2) dari sel-sel makrofag yang teraktifasi lipopolisakarida atau LPS (Choi

dan Hwang, 2004).

Krangean merupakan salah satu tumbuhan yang digunakan secara tradisional

sebagai aprodisiaka oleh masyarakat di pulau jawa terutama di daerah

Tawangmangu dan Karang Anyar (Pramono, 2013). Penggunaan krangean sebagai

aprodisiaka ini bersifat turun temurun atau secara empirik dan pada umumnya

bagian yang digunakan adalah kulit batang dan buah terutama minyak atsirinya.

Namun demikian bukti ilmiah tentang khasiat aprodisiaka dari krangean belum

pernah dilaporkan hingga saat ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Chen
5

dkk. 2012 menunjukkan bahwa minyak atsiri krangean sangat memungkinkan

untuk digunakan dalam bentuk sediaan farmasetik atau suplemen makanan yang

dapat membantu regulasi sistem saraf pusat karena aktifitasnya sebagai

neurofarmakologi yang poten pada hewan uji. Oleh karena aktifitasnya sebagai

neurofarmakalogi yang dapat mengobati gangguan psikologis dan gangguan

neurologis terutama pada disfungsi seksual dengan mekanisme yaitu

meningkatkan regulasi pada sistem saraf pusat maka hal ini memungkinkan jika

krangean terutama minyak atsirinya memiliki efek sebagai aprodisiaka.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah minyak atsiri krangean dapat berefek sebagai aprodisiaka pada tikus

jantan dengan pemberian berulang?

2. Bagaimanakah pengaruh pemberian berulang minyak atsiri krangean terhadap

kualitas spermatozoa dan organ reproduksi tikus jantan?

C. Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh efek aprodisiaka

dari minyak atsiri krangean pada tikus jantan dengan pemberian berulang.

Secara khusus penelitian ini ditujukan untuk:

1. Mengetahui apakah minyak atsiri krangean dapat berefek sebagai aprodisiaka

pada tikus jantan dengan pemberian berulang.


6

2. Mengetahui bagaimanakah pengaruh pemberian berulang minyak atsiri

krangean terhadap kualitas spermatozoa dan organ reproduksi tikus jantan.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif terhadap pemakaian

aprodisiaka terutama dari bahan alam sehingga dapat mengurangi ketergantungan

akan aprodisiaka dari obat sintetis yang selama ini beredar di pasaran.

E. Tinjauan Pustaka

1. Krangean (Litsea cubeba Pers.)

Kedudukan tanaman krangean dalam kategori taksa yang dirunut dari

Inventaris Tanaman Obat Indonesia Edisi III (1994) adalah sebagai berikut:

Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Rhamnales

Suku : Lauraceae

Marga : Litsea

Jenis : Litsea cubeba Pers.

Nama umum : Krangean


7

Sinonim : Litsea citrata BI.; Tethrantera citrata Ness.;

T. polyantha Wall.

Gambar 1. Tanaman Krangean (Anonim, 2010)

Nama daerah krangean yang dituliskan dalam buku Heyne (1987) adalah

sebagai berikut: Ki lemo, lemo (Sunda), krangeyan (Jawa); Lado-lado (Sumatra);

Baling la (Kalimantan). Nama asing: Pheasant pepper tree (Inggris); May Chang

(Cina); Medang ayer, medang melukut (Malaysia).

Tanaman krangean dideskripsikan sebagai tumbuhan berhabitus pohon,

tinggi mencapai 10 m, bagian yang muda terutama pada bagian ujung cabang

berambut tebal dan pendek, berwarna coklat dan bagian yang tua gundul berwarna

hitam. Helaian daun tunggal, berbintik-bintik kelenjar yang dapat tembus cahaya,

bila diremas berbau khas seperti lemon, bentuk lonjong atau lanset, sedangkan

bagian ujungnya runcing, permukaan atas mengkilat, daun yang telah dewasa
8

gundul, tipis menjangat, ukuran helaian daun 7-15 cm x 15-30mm; pertulangan

daun lateral, terdapat 8-18 pasang, pada permukaan bawah helaian pertulangan

daun tampak menonjol, panjang tangkai daun 7-18 mm. Perbungan berupa bunga

tandan, setiap bunga dilindungi oleh daun pelindung, panjang 2-10 mm. Bunga

jantan dan betina terpisah. Perhiasan bunga berupa 5-6 daun tenda bunga berwarna

kekuningan, licin panjang 1,5-2,5 mm, dasar bunga berbentuk cawan. Benang sari

9 helai, terdapat rambut yang menyebar, berkelenjar tidak bertangkai. Buah buni,

bulat, berwarna hitam, garis tengah 5-6 mm. Panjang tangkai buah 3-5 mm

(Anonim, 1980).

Simplisia krangean berupa kulit batang yang telah dikeringkan, berwarna

kecoklatan, berbau khas aromatik, rasa agak pedas dan agak pahit. Potongan kulit

berbentuk gelendong atau pipa, menggulung membujur, melengkung atau datar,

tebal 0,5-1,5 mm. Permukaan luar kasar tidak beraturan, warna coklat muda

sampai coklat kehitaman. Sangat mudah patah, bekas patahan tidak rata (Anonim,

1980).

Habitat krangean tersebar di Cina, India, Myanmar, Kamboja, Vietnam,

Laos, Thailand dan Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Tumbuh baik di daerah

terbuka, pada dataran rendah sampai ketinggian 1200 m dpl (Gardner, 2000).

Kegunaan tumbuhan krangean dalam masyarakat terutama di Indonesia,

secara empirik minyak kulit batang krangean telah dimanfaatkan sebagai obat

kejang urat atau otot (Mardisiwojo dan Radjakmangunsudarso, 1968). Masyarakat

Dayak Kenyan di Kalimantan memanfaatkan batang dan buah untuk rempah-


9

rempah (Susianti, 1996). Di Jawa Timur, krangean (dikenal dengan nama adem

ati) kulit batangnya digunakan untuk parem sedangkan buahnya sebagai obat

batuk (Tyas dkk., 1999). Masyarakat Batak Toba menyebut krangean dengan

nama antarasa dan memanfaatkanya sebagi obat rematik, pegal-pegal, demam, dan

untuk rempah (Rahmawati, 2004). Akar dan cabang krangean digunakan oleh

masyarakat untuk obat sakit pencernaan, sakit kepala, sakit otot, sakit saat

menstruasi, dan obat mabuk perjalanan (Heryati dkk., 2009).

Kandungan kimia yang terkandung dalam krangean menurut Feng dkk.

(2009), didalam krangean terdapat tanin dan alkaloid seperti: laurotetanin,

litebamin(+)-N-(metoksi-karbonil)-N-norlauroskolzin, (+)-N-(metoks-karbonil)

norglausin. Komponen lain dalam krangean yang merupakan komponen terbesar

yaitu minyak atsiri. Kandungan minyak atsiri yang ada dalam krangean antara lain:

sitral, limonen, sabinen, metil heptanon, sitronelal, α-cis-osimen, 3,7-dimetil-1,6-

oktadien-3-ol dan n-transnerolidol (Wang dkk., 1999).

Krangean atau ki lemo merupakan salah satu tumbuhan aromatis karena

hampir semua sebagian tumbuhan ini beraroma dan mengandung minyak atsiri

(Kayang dkk.., 2009). Di Indonesia, krangean telah banyak digunakan oleh

masyarakat. Krangean memiliki khasiat atau efek farmakologi antara lain seperti

anti kejang, anti-ulser, anti kanker atau anti tumor, antiinflamasi, antimikrobia,

antioksidan dan insektisida atau repelen.

Ekstrak metanol kulit batang krangean memiliki aktivitas yaitu dapat

menghambat katalis mieloperoksidase yang menyebabkan terjadinya inflamasi.


10

Ekstrak kulit batang krangean juga dapat menghambat produksi oksida nitrit (NO)

dan prostaglandin E2 (PGE2) dari sel-sel makrofag yang teraktifasi oleh

lipopolisakarida atau LPS (Choi dan Hwang, 2004). Setelah pemberian secara oral,

α-humulen mampu mengurangi pembentukan edema yang disebabkan oleh

penyuntikan histamin, sedangkan pemberian secara sistemik dapat mencegah

interleukin-1β (IL-1β) dan tumor necrosis factor-α (TNFα) pada tikus yang

disuntik karagenan (Adorjan, 2010). Kandungan 1,8-sineol atau sering disebut

juga eukaliptol merupakan senyawa yang efektif untuk mengurangi inflamasi dan

rasa sakit (Moteki dkk., 2002).

Berdasarkan penelitian Ho dkk. (2010) membuktikan bahwa minyak dari

buah krangean secara in vitro mampu menghambat perkembangan sel kanker

manusia, IC50 terhadap sel kanker paru (sel OEC-M1), hati (sel J5) dan mulut (sel

A549) berturut-turut sebesar 50, 50, dan 100 ppm. Sitral merupakan senyawa yang

mampu menghambat perkembangan sel tumor (Panchawat, 2010), menghambat

proliferasi dan menginduksi apoptosis sel kanker payudara (MCF-7) (Chaouki

dkk., 2009). Aktifitas antikanker juga dimiliki oleh 1,8-sineol, yaitu mampu

menginduksi kematian sel-sel leukemia (Moteki dkk., 2002). Aktifitas

penghambatan pertumbuhan sel tumor dari ekstrak metanol campuran daun dan

ranting tidak sebaik dengan minyak buah krangenan, yang ditunjukkan dengan

EC50 terhadap sel tumor Human Umbilical Vein Endothelial Cell (HUVEC),

MCF-7, dan Human Leukemia (HL-60) melebihi 100 g/mL (Lin dkk., 2007).
11

Krangean mempunyai potensi sebagai suplemen untuk antioksidan. Ekstrak

metanol daun dan ranting mampu mengurangi aktifitas Reactive oxygen species

(ROS), dengan nilai EC50 11,39 ± 0,38 g/mL (Lin dkk., 2007). Walaupun penting

untuk kelangsungan hidup, namun produksi berlebih ROS berkaitan erat dengan

proses penuaan dan penyakit degenerative tertentu, termasuk kanker,

berkurangnya fungsi kongnitif, dan penyakit jantung koroner (Finkle dan

Holbrook, 2000). Hwang dkk. (2005) menambahkan bahwa ekstrak metanol kulit

batang memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dari pada α-tokoferol dan asam

askorbat.

2. Minyak Atsiri Krangean

Pengertian minyak atsiri adalah zat aromatis yang bersifat mudah menguap

pada suhu kamar sehingga disebut juga minyak menguap. Berdasarkan sifat

kimianya, minyak atsiri bukan senyawa tunggal tetapi merupakan senyawa

campuran dari golongan terpenoid dan fenil propan. Penggolongan ini didasarkan

pada proses awal pembentukan minyak atsiri dalam tanaman, sehinga dibedakan

berdasarkan jalur pembentukannya menjadi senyawa turunan terpenoid dan fenil

propanoid. Terpenoid terbentuk dari gabungan suatu senyawa sederhana yang

disebut isopren. Pembentukan turunan terpenoid ini melalui jalur biosintesis asam

mevalonat. Sedangkan, fenil propan merupakan gabungan dari inti benzen (fenil)

dan propan. Turunan fenil propanoid merupakan suatu senyawa aromatik yang

terbentuk melalui jalur biosintetik asam sikimat (Gunawan dan Mulyani, 2004).
12

Kandungan senyawa kimia tumbuhan krangean telah banyak diteliti,

terutama kandungan minyak esensialnya. Minyak esensial krangean lebih tinggi

dibanding Litsea kostermarin Chang dan Litsea gerciae Vidal. Kandungan minyak

esensial daun sekitar 0,3% dengan kandungan utama 1,8-sineol yaitu mencapai

43,39%, sedangkan batang mengandung 0,11% (Cheng dan Cheng, 1983).

Kulit batang krangean mengandung minyak esensial yang terdiri dari: α-

Tujena, α- Pinena, kamfena, sabinen, β-pinen, 1,8-sineol, 2,6-dimetil-hepten-5-al,

γ-terpinena, isolemonina, terpinolen, linalool, sitronelal, neo-isopulegol,

isopulegol, 4-terpineol, α-terpineol, trans-carveol, sitronelol, geraniol, geranial, α-

terpenil asetat, α-kopaen, metal sinnamat, metal eugenol, nerol, zingeberena, (E)-

kariofilena, β-fernesena, α-humulen, α-kurkumen, zingiberen, Δ-kadinen,

karyofillen oksida (Cheng dan Cheng, 1983; Adam, 1995). Sedangkan buah

krangean mengandung asam monoterpenoat (asam litsekubeba) dan

monoterpenlakton (6R)-3,7-dimetil-7hidroksi-2-okten-olide, asam vanilat, tran-

3,4,5-trimetoksilsinamil alkohol dan oxonantenin (Yang dkk., 2010), asam cis-4-

desenoat, cis-4-dodesenoat, dan asam sis-4-tetradesenoat (Jing-Ping dkk., 1985).

Asam lemak yang mendominasi minyak esensial adalah asam laurat (68,5%)

(Kotoky dkk., 2007).


13

3. Aprodisiaka

Aprodisiaka merupakan suatu istilah yang diambil dari nama dewi

kecantikan, seksual dan cinta Yunani yakni aphrodite yang menurut mitologi kuno

Romawi diartikan sebagai dewi Venus. Dalam bahasa Yunani, “apro” artinya busa

dan menurut cerita kuno Hesoid, aphrodite bangkit dari busa saat alat kelamin dari

Uranius yang dimana merupakan penjelmaan dewa dipotong dan dibuang ke laut.

Aprodisiaka dapat digambarkan sebagai suatu zat atau kandungan yang

dapat meningkatkan hasrat atau dorongan akan keinginan seksual. Kebanyakan

aprodisiaka juga meningkatkan aspek lain dari pengalaman indra sensoris seperti

sentuhan, rasa, bau, pendengaran dan cahaya. Peningkatan fungsi sensoris ini

tentunya berkontribusi besar terhadap timbulnya hasrat dan kesenangan seksual.

Berdasarkan sejarah, telah banyak bahan-bahan yang digunakan sebagai

aprodisiaka yang sudah dikarakteristikan secara luas sehingga dapat dibedakan

berdasarkan pendekatan budaya dan ilmiah. Pendekatan budaya atau non ilmiah

didasarkan atas keanekaragaman budaya yang berkembang seiring berjalannya

waktu. Kama Sutra menjelaskan bahwa dengan merebus testis dari biri-biri atau

kambing dan ditambah dengan susu dapat digunakan sebagai aprodisiaka. Berbeda

halnya di Inggris yang memiliki keyakinan jika tanaman yang berbentuk seperti

bentuk kelamin mampu menghasilkan efek aprodisiaka misalnya asparagus dan

wortel. Lain dengan Cina yang lebih mempercayai ginseng dan tanduk badak

sebagai aprodisiaka dari penampakan bentuk luarnya dibanding dari kandungan

kimia didalamnya (Yakubu dkk., 2007).


14

Aprodisiaka pada umumnya berupa makanan yang dapat mempengaruhi

secara fisik dan dapat meingkatkan gairah seksual. Selain itu aprodisiaka dapat

mempengaruhi secara psikis berupa aromaterapi atau wewangian dari parfum atau

minyak essensial. Minyak essensial dapat memberikan efek terhadap otak melalui

indra penciuman lalu kemudian ditransmisikan oleh lendir yang terdapat pada

sillia rongga hidung selanjutnya diteruskan ke sistem saraf pusat otak sehingga

memberikan efek pada kebugaran mental dan emosional, salah satunya yaitu pada

pikiran dan perasaan terhadap aktifitas berhubungan seksual. Pertambahan jumlah

atau kadar hormon tertentu dalam tubuh akan dapat mempengaruhi intensitas

semangat, suasana hati dan libido (Gunawan, 2003).

Aprodisiaka yang berasal dari tanaman obat umumnya mengandung

komponen aktif seperti senyawa turunan alkaloid, tanin, saponin dan senyawa lain

yang secara fisiologis dapat memperlancar peredaran darah pada sistem saraf pusat

atau sirkulasi darah tepi. Berbagai macam komponen dalam tanaman obat

memerlukan waktu lebih dalam dengan mekanisme aksi bersifat holistik sehingga

memberikan efek pengobatan yang menyeluruh. Efek dari senyawa-senyawa

tersebut terutama dapat meningkatkan sirkulasi darah pada alat kelamin pria

(Khomsan, 2007).

Aprodisiaka jika dilihat berdasarkan dari mekanisme aksi secara ilmiahnya

dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

a. Aprodisiaka yang mampu meningkatkan jumlah nutrisi dan sejalan dengan

peningkatan ini diharapkan akan mampu meningkatkan kesehatan


15

penggunanya serta akan meningkat pula kemampuan seksual dan libidonya

secara tidak langsung. Contohnya yaitu tanduk badak yang sering digunakan

oleh masyarakat Cina. Tanduk badak mengandung jaringan serat dengan

kandungan kalsium dan fosfor dalam jumlah cukup besar yang mampu

mencukupi kebutuhan nutrisi.

b. Aprodisiaka yang berefek fisiologi spesifik seperti berpengaruh pada aliran

darah, hubungan seksual dan meningkatkan durasi saat beraktifitas seksual.

Contohnya adalah lalat Spanyol apabila digoreng atau kumbang genus

Cantharis dan Mylabris yang dihancurkan apabila digunakan secara topikal

akan memberikan sensasi seperti terbakar dan melepuh namun jika

dikonsumsi akan mempengaruhi aliran darah. Obat lain yang memiliki efek

mempengaruhi fisiologi secara aktif dengan memperpanjang waktu ereksi

misalnya sildenafil sitrat (Viagra®) dan yohimbine dari Pausinystalia

yohimbe.

c. Aprodisiaka yang merupakan suatu aprodisiaka biologi aktif yang berefek

fisiologis aktif secara alami. Aprodisiaka jenis ini bekerja melewati sawar

darah otak atau menstimulasi dan merangsang pada area yang dapat

menimbulkan gairah seksual. Contohnya antara lain hormon dan berbagai

macam neurotransmiter (Yakubu dkk., 2007).

Ada banyak tanaman-tanaman lain yang dapat bersifat dan telah terbukti

memiliki efek sebagai aprodisiaka seperti yohimbe diketahui mampu berkhasiat

sebagai aprodisiaka. Aktifitas yohimbe sebagai aprodisiaka dengan dua


16

mekanisme dalam meningkatkan fungsi seksual yaitu meningkatkan

kecenderungan untuk merangsang pemberian epinefrin dari alfa-2 reseptor ke

sistem saraf pusat kemudian diaktivasi menjadi neurotransmitter dan

mentranslokasikan epinefrin dari alfa-2 reseptor adrenergik pada area pelvik (Low

dan Tan, 2007).

Tanaman ketapang (Terminalia catappa) terutama bagian biji memiliki

aktifitas sebagai aprodisiaka yaitu untuk memperpanjang waktu ejakulasi sehingga

dapat bermanfaat untuk mengatasi gangguan seksual misalnya ejakulasi dini.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ratnasooriya dan Dharmasiri (2000)

membuktikan bahwa biji Terminalia catappa pada dosis pemenjanan 1500-3000

mg/kg BB tikus secara per oral dapat berefek untuk memperpanjang waku

ejakulasi sedangkan apabila pada dosis diatas 3000 mg/kg BB tikus justru tidak

berefek untuk meningkatkan libido, kekuatan seksual maupun daya seksual

(Ratnasooriya dan Dharmasiri, 2000).

Ginseng (Panax ginseng) bersifat adaptogen yang dapat meningkatkan

kemampuan fisik termasuk vitalitas, hasrat seksual, resistensi terhadap stres dan

penuaan. Selain itu, ginseng dapat meningkatkan stimulasi hormon yang

berhubungan dengan seks seperti testosteron dan juga meningkatkan respon

seksual baik pada pria maupun wanita (Low dan Tan, 2007). Komponen pada

ginseng seperti ginsenosida dapat merelaksasi corpus cavenosum pada kelinci

sehingga mampu memediasi nitrit oksida (NO) untuk dilepaskan dari sel saraf atau
17

endotelial. Efek tersebut memungkinkan ginseng dapat memiliki efek sebagai

aprodisiaka (Nocerino dkk., 2000).

4. Reproduksi Pria

Organ reproduksi pria memiliki struktur yang terdiri dari testis dalam

kantong skrotum, penis, sistem duktus yang terdiri dari epididimis, vas deferens,

duktus ejakulatorius dan uretra serta glandula asesoris yang terdiri dari vesikula

seminalis, kelenjar bulbouretralis dan kelenjar prostat. Struktur dari sistem

reproduksi pria dan bagiannya dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Struktur sistem reproduksi pria (Cummings, 2004)

Bagian dalam testis terbagi atas lobulus yang terdiri dari tubulus seminiferus,

sel sertoli dan sel-sel leydig. Produksi sperma atau spermatogenesis terjadi di

tubulus seminiferus. Pada bagian kepala berhubungan dengan duktus seminiferus

(duktus berfungsi sebagai aliran keluar) dari testis dan bagian ekor terus berlanjut

ke vas deferens. Vas deferens merupakan duktus ekskretorius testis yang

membentang sampai ke duktus vesikula seminalis. Duktus ejakulatoris kemudian


18

bergabung menjadi satu dengan uretra yang menjadi saluran keluar bersama

sperma maupun kemih (Anderson dan Wilson, 1995).

Proses spermatogenesis merupakan proses pembentukan sperma yang terjadi

di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup

pematangan sel epitel geminital melalu proses pembelahan dan diferensiasi sel

yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Proses ini distimulasi oleh

beberapa hormon seperti testosteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle

Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan (Guyton dan Hall,

1996). Testosteron merupakan suatu steroid C19 dengan gugus –OH pada posisi

17. Hormon ini hasil sintesis dari kolesterol dalam sel Leydig. Sekresi testosteron

dibawah kendali LH dan mekanisme LH dalam merangsang sel Leydig melibatkan

peningkatan AMP siklik. Efek psikis testosteron sangat sulit ditentukan terutama

pada manusia. Namun pada hewan percobaan, adanya androgen dapat

meningkatkan libido (Ganong, 2008).

Hormon estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli saat distimulasi oleh FSH.

Selain itu, sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang

mengikat testosteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada

tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia saat proses pematangan sperma.

Tahapan proses spermatogenesis dapat dilihat pada gambar 3 berikut ini.


19

Gambar 3. Tahap-tahap spermatogenesis (Anonim, 2013)

Pada tahap-tahap aksi seksual pada pria diawali dengan ereksi. Ereksi

merupakan suatu keadaan dimana semakin besar, memanjang dan padatnya organ

seksual sehingga cukup untuk melakukan penetrasi ke dalam vagina. Ereksi adalah

hasil dari fisiogenik berganda dan stimulasi sensor yang ditimbulkan akibat

imajinasi, pendengaran, visual, penciuman maupun rangsangan alat kelamin

(Yakubu dkk., 2007). Penyebab ereksi yaitu penghantaran impuls saraf

parasimpatis yang menjalar dari bagian sacral medulla spinalis melalui nervus

pelvikus menuju penis. Saraf-saraf parasimpatis ini akan mensekresikan nitrit

oksida (NO) yang dapat melebarkan pembuluh arteri pada penis dengan

terbendungnya sebagian aliran vena sehingga terjadi tekanan darah tinggi dalam

sinusoid kemudian menyebabkan penggembungan berlebih pada jaringan erektil

sehingga penis menjadi memanjang dan keras (Guyton dan Hall, 1996).
20

Kemudian dilanjutkan dengan lubrikasi. Lubrikasi yaitu proses keluarnya

lendir dari kelenjar uretra dan kelenjar bulbouretralis. Lendir ini akan mengalir

melalu uretra selama berhubungan seksual untuk membantu melubrikasikan

selama koitus (Guyton dan Hall, 1996).

Setelah lubrikasi lalu dilanjutkan dengan emisi. Emisi adalah puncak aksi

seksual pria yang diawali dengan kontraksi pada vas deferens dan ampula yang

menyebabkan keluarnya sperma ke dalam uretra interna. Selanjutnya, terjadi

kontraksi otot pelapis kelenjar prostat yang diikuti dengan kontraksi vesikula

seminalis yang mengeluarkan cairan prostat dan cairan seminal kemudian

mendorong sperma lebih jauh. Selanjutnya, semua cairan ini bercampur menjadi

satu dalam uretra interna dengan mukus yang disekresikan oleh kelenjar

bulbouretralis dan membentuk semen atau mani (Guyton dan Hall, 1996).

Setelah proses emisi kemudian dilanjutkan dengan ejakulasi. Ejakulasi

merupakan proses pengeluaran cairan sperma dari uretra pada saat orgasme. Hal

ini terjadi karena refleks spinalis dua bagian yang melibatkan emisi (semen

bergerak ke dalam uretra) dan ejakulasi sebenarnya yaitu dorongan semen keluar

dari uretra pada saat orgasme. Semen atau mani merupakan hasil ejakulasi

(ejakulat) yang berasal dari seorang pria berbentuk cairan kental dan keruh yang

berisi spermatozoa, secret dan kelenjar prostat serta kelenjar lainnya (Ganong,

2008).
21

Proses terakhir dari tahap-tahap aksi seksual pada pria adalah resolusi.

Resolusi merupakan hilangnya gairah seksual secara keseluruhan selama 1-2 menit

kemudian diikuti dengan hilangnya ereksi (Guyton dan Hall, 1996).

Dari tahap-tahap aksi seksual pada pria tersebut mungkin saja terjadi

gangguan-gangguan sehingga mempengaruhi aksi seksual pria. Gangguan-

gangguan seksual pada pria dapat berupa:

a. Disfungsi ereksi atau impotensi adalah suatu keadaan dimana terjadi

ketidakmampuan pria untuk memulai melakukan ereksi atau

mempertahankan ereksi tetap terjadi saat penetrasi dalam berhubungan

intim. Penyebab terjadinya disfungsi erektil dapat berupa faktor psikogenik

maupun faktor organik. Penyebab faktor psikogenik antara lain seperti:

ansietas (kecemasan), depresi, keletihan dan tekanan ketika berhubungan

seksual. Penyebab faktor organik termasuk kelainan neurologis (neuropati,

parkinsonisme), penyakit vaskuler oklusif, penyakit endokrin (diabetes,

hiperteroidisme, hipoteroidisme, tumor hipofisis dan hipogonadisme disertai

defisiensi testosterone), gagal ginjal kronis, sirosis, kondisi hematologis

(penyakit Hodgkin, leukimia), trauma pada pelvis atau area genital, obat-

obatan (alkohol, preparat psikoaktif, antikolinergik) dan penyalahgunaan

obat (Brunner dan Suddarth, 2002).

b. Masalah ejakulasi yang dapat dibagi lagi menjadi ejakulasi prematur dan

ejakulasi lambat. Ejakulasi primer terjadi ketika pria tidak dapat secara sadar

mengontrol refleks ejakulasi dan sekali terangsang pria akan mengalami


22

orgasme sebelum atau segera setelah masuk liang vagina (intromisi). Hal ini

merupakan kondisi yang sering terjadi pada pria. Sedangkan ejakulasi

lambat merupakan suatu keadaan dimana terjadi penghambatan introvolunter

reflex ejakulasi berbagai respon mencakup ejakulasi okasional melalui

hubungan seksual atau stimulasi mandiri atau ketidakmampuan komplit

untuk ejakulasi didalam segala situasi (Brunner dan Suddarth, 2002).

c. Efek penyakit kronis, kecacatan fisik dan trauma memberikan pengaruh

sangat besar dalam gangguan fungsi seksual. Selain faktor psikogenik,

perubahan fisik terkait dengan penyakit atau cidera terutama pada area

genital secara potensial dapat merusak fungsi seksual. Invidu dengan

penyakit dan kecacatan fisik pada organ seksual sangat membutuhkan

bantuan konselor seks untuk meningkatkan, menerapkan dan menemukan

keyakinan saat berhubungan seksual serta prilaku yang mengarah ke gaya

hidup sehat terutama saat beraktivitas secara seksual (Brunner dan Suddarth,

2002).

d. Penurunan fungsi seksual dan respon seksual dapat disebabkan seiring

bertambahnya usia seorang pria. Selain itu, peningkatan insiden kanker

saluran genitourinaria dan inkontinesia dapat juga menyebabkan terjadinya

gangguan fungsi seksual (Brunner dan Suddarth, 2002).

e. Gairah seksual atau libido yang rendah merupakan suatu kondisi dimana

sedikitnya gairah untuk melakukan hubungan seksual atau hilangnya fantasi


23

seksual yang dapat bersifat permanen. Gairah seksual yang rendah dapat

terjadi baik pada pria maupun pada wanita (Anonim, 2008).

5. Tikus Putih

Tikus yang digunakan dalam penelitian ada beberapa macam jenis. Jenis

tikus yang paling sering digunakan adalah Wistar albino dan Sprague Dawley

albino. Tikus putih yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih galur

Wistar yang mempunyai syarat sehat dan normal. Tikus putih relatif resisten

terhadap infeksi dan tidak bersifat fotofobik seperti halnya mencit. Aktivitas tikus

putih tidak mudah terganggu oleh kehadiran manusia sehingga pada pengamatan

dapat diamati langsung. Selain itu, tikus putih lebih cepat dewasa, tidak

memperlihatkan perkawinan musiman dan umumnya lebih mudah untuk

berkembang biak. Perkawinan tikus putih dapat dilakukan secara monogami

maupun poligami (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).

Reproduksi pada tikus jantan diiringin oleh turunnya testis ke skrotum dan

diikuti dengan mulainya spermatogenesis. Sperma pertama diproduksi dalam testis

ketika tikus jantan umurnya beranjak 45 hari tetapi optimal produksinya ketika

berumur 75 hari. Sekresi Gonadotropin releasing hormon (GnRH) menghasilkan

level sekresi testosterom yang meningkat selama pubertas. LH (Lutenizing

Hormon) menstimulasi sel leydig untuk meningkatkan produksi testosteron

(Suckow dkk., 2006). Pada tikus betina, pembukaan lubang vagina terjadi dari hari

33-42 setelah kelahiran dan ketika tubuh mencapai berat 100 gram. Pada tikus
24

betina yang telah mengalami pubertas ditandai dengan dimulainya siklus estrus

yaitu setelah satu minggu pembukaan mulut vagina (Suckow dkk., 2006). Berikut

merupakan alat-alat reproduksi pada tikus jantan maupun tikus betina yang

ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Organ Reproduksi Tikus Jantan dan Betina (Anonim, 2009)

Siklus estrus merupakan siklus berulang yang menggambarkan perubahan

kadar hormon reproduksi yang disebabkan oleh aktivitas ovarium dibawah

pengaruh hormon pituitari. Perubahan kadar hormon reproduksi kemudian

menyebabkan perubahan struktur pada jaringan penyusun saluran reproduksi.

Siklus estrus ditandai dengan adanya birahi pada tikus betina, sehingga akan

bersifat reseptif terhadap tikus jantan pada saat estrus. Hal ini disebabkan didalam

ovarium terjadi pematangan sel telur dan uterus berada pada fase yang tepat untuk

implantasi. Panjang siklus estrus pada tikus adalah 4-5 hari (Marcondes dkk.,

2002).
25

Proses siklus estrus dibedakan menjadi 2 fase yaitu fase folikular dan fase

luteal. Fase folikular adalah fase pembentukan folikel sampai masak, sedangkan

fase luteal adalah fase setelah ovulasi kemudian terbentuknya korpus luteum dan

sampai mulainya siklus. Siklus estrus terdiri dari 4 fase yaitu proestrus, estrus,

metestrus dan diestrus. Setiap fase dalam siklus ditentukan berdasarkan bentuk sel

epitel pada pengamatan sitologi vagina tikus betina (Spornitz dkk., 1999). Secara

keseluruhan siklus estrus tikus betina dapat dilihat pada gambar 5 dibawah ini.

Gambar 5. Siklus Estrus Pada Tikus Betina (Marcondes dkk., 2002)

Untuk manifestasi seksual tikus melakukan proses kawin hampir sepanjang

tahun dan kebanyakan tikus mulai kawin saat umur 8-9 minggu. Pada tikus jantan

dimulai proses perkawinan dengan menciumi vagina dari tikus betina yang sedang
26

dalam siklus estrus. Betina yang bersedia kawin akan meloncat-loncat sambil

mengibaskan telinganya berkali-kali pada saat tikus jantan melakukan mounting

yang mana diikuti dengan usaha untuk menaiki tubuh tikus betina. Pada mounting,

ada kombinasi intromission dan ejakulasi yaitu mounting tanpa intromission,

mounting dengan intromission tanpa ejakulasi serta mounting dengan intromission

dan ejakulasi (Suckow dkk., 2006). Hal tersebut merupakan posisi kawin namun

belum tentu memasukkan alat reproduksi ke dalam vagina (Yakubu dkk., 2007).

Intromission adalah suatu keadaan ketika organ reproduksi jantan memasuki

vagina betina (Yakubu dkk., 2007). Ini secara khas terjadi dua sampai sembilan

dorongan ke pelvik selama 0,3-0,6 detik (Suckow dkk., 2006). Ejakulasi

merupakan proses pengeluaran sperma ke dalam vagina (Yakubu dkk., 2007).

Ejakulasi biasa didahului dengan 3-44 kali intromission dan periode tanpa respon

setelah ejakulasi. Kawin dapat berlanjut 3 jam dengan 3-10 ejakulasi yang telah

dilakukan (Suckow dkk., 2006).

6. Cabe Jawa

Cabe jawa memiliki nama latin yaitu Piper retrofractum Vahl. Selain itu,

cabe jawa mempunyai nama daerah lada panjang, cabe jawa, cabai panjang

(Sumatera); cabe jamu, cabean, cabe areuy, cabe sula (Jawa); cabi jamo, cabi

onggu dan cabi solah (Madura); cabia (Makasar) (Anonim, 1979).

Cabe jawa mengandung senyawa kimia seperti piperin, kavisin, piperidin,

isobutildeka-trans-2-trans-4-dienamida, saponin, polifenol, minyak atsiri, asam


27

palmitat, asam tetrahidropiperat, 1-undesilenil-3,4-metilendioksibenzena dan

sesamin (Anonim, 2010).

Di masyarakat penggunaan buah cabe jawa digunakan yaitu sebagai

analgetik, antipiretik, mencegah mulas, lemah syahwat (aprodisiaka), stimulan,

karminatif, diaforetik, tekanan darah rendah, sakit gigi, migrain, influenza,sakit

kuning, demam, anti bakteri, menghangatkan juga menyegarkan tubuh, pemakaian

luar untuk encok dan sesudah melahirkan serta memperlancar perederan darah

(Anonim, 2003; Dalimartha, 1999; Muslisah, 2001; Supriadi, 2001).

Efek farmakologi dari tanaman cabe jawa diketahui dapat meningkatkan

stamina tubuh karena memiliki efek stimulan terhadap sel-sel saraf. Efek hormonal

ini dikenal dengan sebagai aprodisiaka. Cabe jawa digunakan sebagai aprodisiaka

karena memiliki efek androgenik dan anabolik (Anonim, 2003). Dari hasil

penelitian Azis dan Rahayu (1996) menyatakan bahwa pada ramuan tradisional

jamu kuat pria terdapat 6 formula yang mengandung simplisia cabe jawa. Piperin

yang terkandung dalam buah cabe jawa memiliki khasiat meningkatkan

vasokonstriksi dan penyerapan oksigen pada kaki belakang tikus, reaksi ini

digunakan untuk menunjukkan reaksi termogenik dari piperin (Azis dan Rahayu,

1996). Dari hasil uji klinik ekstrak cabe jawa pada dosis oral 100 mg/hari bersifat

sebagai androgenik yang dapat meningkatkan kadar testoteron dalam darah pada

pria hipogonad (Moeloek dkk., 2009). Selain itu, ekstrak etanolik buah cabe jawa

dapat memberikan efek aprodisiaka yang lebih efektif daripada ekstrak heksannya

pada tikus putih jantan (Ikawati, 2007).


28

7. Ekstraksi

Ekstraksi atau penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut dari

bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari,

mengandung zat aktif yang dapat larut dan zat yang tidak larut seperti serat,

karbohidrat, protein dan lain-lain (Anonim, 1986). Hasil dari proses ekstraksi ini

adalah ekstrak yang dapat berupa ekstrak kental maupun ekstrak cair. Ekstrak

adalah sediaaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia

nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau

hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan

sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim, 1995).

Dalam penyarian, pemilihan cairan penyari adalah hal yang penting dan

harus mempertimbangkan banyak faktor. Cairan penyari yang baik harus

memenuhi kriteria berikut:

a. Murah dan mudah diperoleh

b. Stabil secara fisika dan kimia

c. Bereaksi netral

d. Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar

e. Selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki

f. Tidak mempengaruhi zat berkhasiat

g. Diperbolehkan oleh peraturan

Farmakope Indonesia menetapkan bahwa sebagai cairan penyari dalam

penyarian adalah air, etanol, etanol-air atau eter. Penyarian pada perusahaan obat
29

tradisional masih terbatas pada penggunaan cairan penyari air, etanol atau etanol-

air (Anonim, 1986).

Faktor yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi zat

yang larut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari dengan bahan yang

mengandung zat tersebut. Kecepatan melintasi lapisan batas dipengaruhi oleh

faktor yang mempengaruhi pemindahan massa yaitu: perbedaan konsentrasi, tebal

lapisan batas, serta koefisien difusi. Proses penyarian dapat dipisahkan menjadi:

pembuatan serbuk, pembasahan, penyarian dan pemekatan. Secara umum, jenis

penyarian ada beberapa macam, yaitu: infundasi, maserasi, perkolasi dan destilasi

uap. Dari ketiga macam penyarian tersebut sering terdapat modifikasi, seperti

misalnya maserasi dapat disempurnakan dengan digesti (Anonim, 1986). Jika

penyarian dilakukan dengan mencelupkan sejumlah serbuk simplisia begitu saja

pada cairan penyari maka penyarian tersebut tak akan dapat sempurna karena

suatu kesetimbangan akan terjadi antara larutan zat aktif yang terdapat dalam sel

dengan larutan zat aktif yang terdapat di luar butir sel. Penyarian dipengaruhi oleh

perbedaan konsentrasi yang terdapat mulai dari pusat butir serbuk simplisia sampai

ke permukaannya, maupun pada perbedaan konsentrasi yang terdapat di lapisan

batas, sehingga suatu titik akan dicapai oleh zat-zat yang tersari jika ada daya

dorong yang cukup untuk melanjutkan pemindahan massa. Makin besar perbedaan

konsentrasi, makin besar daya dorong tersebut hingga makin cepat penyarian.

Cairan penyari harus dapat mencapai seluruh serbuk dan secara terus menerus
30

mendesak larutan yang memiliki konsentrasi yang lebih tinggi keluar (Anonim,

1986).

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan

dengan cara meredam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan

menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif.

Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat

aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak

keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi

antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Anonim, 1986).

Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol atau

pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya

kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian

(Anonim, 1986). Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara

pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.

Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang

sempurna (Anonim, 1986).

8. Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi didefinisikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut oleh

suatu proses migrasi diferensial dinamis dalam system yang terdiri dari dua fase

atau lebih, salah satu diantaranya bergerak berkesinambungan dalam arah tertentu

dan dalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya


31

perbedaan dalam adsorpsi, partisi, kelarutan tekanan uap, ukuran molekul atau

kerapatan muatan ion (Anonim, 1995).

Kromatografi lapis tipis (KLT) termasuk jenis kromatografi cair yang paling

sederhana. Keuntungan penggunaan metode ini adalah mudah, murah dan

pemakaian pelarut dan cuplikan yang jumlahnya sedikit untuk pemisahan

golongan senyawa. Pada sistem KLT melibakan sifat fase diam (sifat lapisan) dan

sifat fase gerak atau campuran pelarut pengembang. Fase diam dapat berupa

serbuk halus yang berfungsi sebagai permukaan penjerap atau sebagai penyangga

untuk lapisan zat cair. Penjerap yang paling umum dipakai adalah silika dan

selulosa. Mekasnisme yang utama pada KLT adalah partisi dan adsorbsi (Gandjar

dan Rohman, 2013).

Sampel senyawa uji diaplikasikan pada fase diam dalam bentuk totolan

kecil atau pita. Fase gerak akan melewati fase diam dengan gaya kapilaritas.

Komponen-komponen suatu senyawa akan bergerak karena adanya fase gerak

dengan jarak tempuh yang berbeda pada fase diam, biasanya disebut

pengembangan kromatogram. Perbedaan jarak tempuh setiap komponen senyawa

disebabkan karena afinitas yang berbeda dari masing-masing komponen dengan

fase diam atau fase gerak.Interaksi yang mungkin terjadi pada pemisahan senyawa

dengan metode kromatografi diantaranya ikatan hidrogen, transfer muatan atau

ikatan Van der Waals (Sherma, 1996).

Evaluasi dilakukan dengan pengamatan secara visual dan membandingkan

jarak bercak dari awal pengembangan senyawa yang dipisahkan. Jarak tersebut
32

umumnya dikonversikan dalam nilai Rf (Retardation factor) yang merupakan

hasil bagi antara jarak yang ditempuh senyawa terlarut dengan jarak yang

ditempuh pelarut.

Perhitungan nilai Rf seperti rumus seperti di bawah ini:

jarak yang ditempuh senyawa terlarut


Rf=
jarak yang ditempuh pelarut

Angka Rf berjangka antara 0,00 sampai 1,00 dan ditentukan dalam dua

desimal. hRf adalah angka Rf dikalikan faktor 100 (h), menghasilkan nilai

berjangka 0 sampai 10. Deteksi dari komponen senyawa yang telah dipisahkan

akan lebih mudah bila komponen tersebut secara alami telah berwarna, berpendar

atau mengabsorbsi sinar ultraviolet. Namun, kebanyakan komponen harus diberi

pereaksi penampak bercak dengan cara disemprot atau dicelup supaya dapat

menghasilkan warna atau pendar. Absorbsi sinar ultraviolet bisanya terjadi pada

senyawa aromatik atau yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi (Harborne,

1987).

Selain dengan pegamatan di bawah sinar ultraviolet detekasi juga dilakukan

dengan pereaksi semprot. Yang harus diperhatikan pereaksi warna harus mencapai

pelat KLT dalam bentuk tetesan yang sangat halus sebagai aerosol, dan bukan

sebagai semprotan kasar. Pembentukan warna yang optimum sering kali


33

memerlukan peningkatan suhu dan waktu tertentu. Pemanasan yang baik apabila

penyebaran suhunya seragam.

F. LANDASAN TEORI

Di Indonesia, krangean telah banyak digunakan oleh masyarakat terutama

Secara empirik, minyak kulit batang krangean telah dimanfaatkan untuk obat kejang

urat atau otot (Mardisiwojo dan Radjakmangunsudarso, 1968). Menurut Muchtaridi

dkk. 2005 dan 2011, minyak kulit batang krangean memiliki bioaktifitas yang dapat

berefek sebagai penurun aktifitas lokomotor (antikejang) diketahui bahwa inhalasi

minyak atsiri kulit batang krangean dengan dosis 0,5 mL dapat menurunkan aktifitas

lokomotor mencit jantan galur DDY (Deutshe Denken Yoken) hingga 60,75%.

Kandungan minyak atsiri yang berperan dalam aktifitas ini adalah sitronelal,

sitronelol, a-terpineol dan 1,8-sineol. Senyawa tersebut berikatan dengan α dan β

GABA sehingga meningkatkan aktifitas kerja sistem GABA yang menyebabkan

penurunan aktifitas lokomotor (Aoshima dan Hamamoto, 1999; Buchbauer dkk.,

1993).

Minyak essensial dapat memberikan efek terhadap otak melalui indra

penciuman lalu kemudian ditransmisikan oleh lendir yang terdapat pada sillia rongga

hidung selanjutnya diteruskan ke sistem saraf pusat otak sehingga memberikan efek

pada kebugaran mental dan emosional, salah satunya yaitu pada pikiran dan perasaan

terhadap aktifitas berhubungan seksual. Pertambahan jumlah atau kadar hormon

tertentu dalam tubuh akan dapat mempengaruhi intensitas semangat, suasana hati dan
34

libido (Gunawan, 2003). Kandungan senyawa kimia tumbuhan krangean telah banyak

diteliti, terutama kandungan minyak esensialnya. Minyak esensial krangean lebih

tinggi dibanding Litsea kostermarin Chang dan Litsea gerciae Vidal. Kandungan

minyak esensial daun sekitar 0,3% dengan kandungan utama 1,8-sineol yaitu

mencapai 43,39%, sedangkan batang mengandung 0,11% (Cheng dan Cheng, 1983).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Chen dkk. (2012) menunjukkan bahwa

minyak atsiri krangean sangat memungkinkan untuk digunakan dalam bentuk sediaan

farmasetik atau suplemen makanan yang dapat membantu regulasi sistem saraf pusat

karena aktifitasnya sebagai neurofarmakologi yang poten pada hewan uji. Diketahui

bahwa pada dosis 500 mg/kg minyak atsiri buah krangean memiliki khasiat sebagai

anxiolytic terhadap perilaku hewan uji pada the elevated plus-maze test. Oleh karena

aktifitasnya sebagai neurofarmakalogi yang dapat mengobati gangguan psikologis

dan gangguan neurologis terutama pada disfungsi seksual dengan mekanisme yaitu

meningkatkan regulasi pada sistem saraf pusat maka hal ini memungkinkan jika

krangean terutama minyak atsirinya memiliki efek sebagai aprodisiaka (Chen dkk.,

2012).

G. HIPOTESIS

Pemberian berulang minyak atsiri krangean selama 32 hari dengan dosis 15

μL/kg BB diduga dapat berefek sebagai aprodisiaka dan dapat mempengaruhi

kualitas spermatozoa serta organ reproduksi pada tikus jantan