Anda di halaman 1dari 15

Bab II: Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi

2.1.1: Ketepatan Waktu

Tepat menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) dapat membawa makna tidak ada selisih
sedikitpun, tidak kurang dan tidak lebih. Dalam hal waktu, diberikan contoh jam 8 tepat.
Sementara waktu pula membawa makna lamanya atau saat yang tertentu untuk melakukan
sesuatu. Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan tepat waktu adalah batas lamanya waktu
yang diperkirakan tidak lebih dan tidak kurang. Justru ketepatan waktu imunisasi adalah
kesesuaian tindakan vaksinasi dalam rentang yang telah ditetapkan dalam peraturan menteri
kesehatan (permenkes) nomor 12 tahun 2017. Dikatakan tepat jika diberi dalam tempoh yang
ditetapkan, dan dikatakan tidak tepat jika pemberiannya setelah tempoh anjuran atau pada
waktu catch-up.

2.1.2: Imunisasi

Imunisasi merupakan sebuah proses yang mengubah seorang individu ke dalam keadaan
dimana individu tersebut terproteksi dari penyakit akibat infeksi. Penggunaan kata ‘imunisasi’
sering disamakan dengan kata ‘vaksinasi’. Vaksinasi sebenarnya merupakan inokulasi dari
virus vaksinia (smallpox) untuk membuat seorang individu kebal terhadap penyakit smallpox.
Sekarang kata ‘vaksinasi’ berarti pemberian (melalui injeksi, mulut atau rute lainnya) vaksin.
Vaksinasi itu sendiri belum tentu menghasilkan imunitas untuk penyakit itu.2

Imunisasi terdiri dari dua jenis, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif
merupakan imunisasi dengan memberikan antigen (live attenuated atau mikroba inaktif atau
produksi mikroba) yang menginduksi dan respons imun pada resipien yang menghasilkan
imunitas protektif. Sedangkan imunisasi pasif merupakan imunisasi dengan memberikan
antibodi protektif (serum hiperimun atau immunoglobulin) ke resipien dengan tujuan
mengeradikasi mikroba. Imunisasi pasif menyediakan proteksi jangka-pendek dari patogen
spesifik tapi tidfak menginduksi imunitas jangka panjang karena tidak ada stimulasi terhadap
antibodi endogen atau produksi sel T.1,2

2.1.3: Vaksin Kombinasi


Vaksin kombinasi adalah gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen
untuk mencegah penyakit yang berbeda seperti vaksin pentavalen yang terdiri dari gabungan
antigen-antigen D-P-T dengan Hib dan HepB untuk mencegah penyakit difteri, pertusis,
tetanus, hepatitis dan penyakit akibat Hib.

Vaksin kombinasi dapat juga diartikan sebagai gabungan dari antigen dari strain berbeda suatu
organisme penyebab penyakit yang sama seperti vaksin polio terdiri dari antigen polio-1, polio-
2, dan polio-3 untuk pencegahan poliomielitis.

Vaksin kombinasi mempunyai banyak kelebihan terutamanya mengurangi jumlah suntikan dan
kunjungan ke fasilitas kesehatan, memperluas cakupan imunisasi, lebih ekonomis dan praktis.

Namun ada beberapa kekurangan dari vaksin kombinasi yaitu terjadinya ketidakserasian
kimiawi maupun fisis akibat percampuran beberapa antigen beserta adjuvan, zat preservasi dan
bahan penyangga, juga sulit untuk menghindari adanya perubahan respon imun sebagai akibat
interaksi antara antigen dengan antigen lain atau antara antigen dengan adjuvan yang berbeda.
Selain itu, didapatkan titer antibodi salah satu komponen antigen dari vaksin kombinasi lebih
rendah dibandingkan pemberian monovalen namun masih di atas ambang proteksi, justru
diperlukan vaksinasi penguat atau booster. Dilaporkan kadar antibodi Hib meningkat sama
dengan vaksin monovalen setelah diberikan booster Hib pada umur 18 bulan.

2.2 Vaksin dan Imunisasi

2.2.1 Tujuan imunisasi

Imnunisasi mempunyai tujuan yaitu untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada
seseorang, khususnya penyakit infeksi, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok
masyarakat atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia. Keadaan yang terakhir
ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia,
seperti misalnya penyakit difteri.2

2.2.2 Jenis vaksin

Pada dasarnya, vaksin dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu vaksin live attenuated
(bakteri atau virus hidup yang dilemahkan) dan vaksin inactivated (bakteri, virus atau
komponennya yang dibuat tidak aktif). Sifat vaksin live attenuated dan inactivated berbeda
sehingga hal ini menentukan bagaimanan vaksin ini digunakan.3
Vaksin live attenuated diproduksi di laboratorium dengan cara menurunkan virulensi
virus atau bakteri penyebab penyakit, misalnya virus yang hanya hidup pada sel manusia
dibiakkan dalam jaringan hidup mamalia. Vaksin yang dihasilkan masih memiliki kemampuan
untuk bereplikasi dan menimbulkkan kekebalan tetapi tidak menyebabkan penyakit.3

Vaksin inactivated dapat terdiri atas seluruh tubuh virus atau bakteri, atau komponen
(fraksi) dari kedua organisme tersebut. Vaksin komponen dapat berbasis protein atau berbasis
polisakarida. Vaksin yang berbasis protein termasuk toksoid (toksin bakteri yang inactivated)
dan produk subunit atau sub-virion. Sebagian besar vaksin berbasis polisakarida terdiri atas
dinding sel polisakarida asli bakteri. Vaksin konjugasi (conjugated vaccine) polisakarida
adalah vaksin polisakarida yang secara kimiawi disambung dengan protein, dengan cara
onjugasi sehingga lebih imunogenik.3

Vaksin live attenuated

Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar (wild) penyebab penyakit. Virus atau
bakteri liar ini dilemahkan (attenuated) di laboratorium, biasanya dengan cara pembiakan
berulang-ulang. Misalnya vaksin campak yang dipakai sampai sekarang, diisolasi untuk
mengubah virus liar campak menjadi virus vaksin dibutuhkan 10 tahun dengan cara melakukan
penanaman pada jaringan media pembiakan secara serial dari seorang anak yang menderita
penyakit campak pada tahun 1954.3 Supaya dapat menimbulkan respons imun, vaksin live
attenuated harus berkembang biak (mengadakan replikasi) di dalam tubuh resipien. Suatu
dosis kecil virus atau bakteri yang diberikan, yang kemudian mengadakan replikasi di dalam
tubuh dan meningkat jumlahnya sampai cukup besar untuk memberi rangsangan suatu respons
imun.3 Apapun yang merusak organisme hidup dalam botol (misalnya panas atau cahaya) atau
pengaruh luar terhadap replikasi organisme dalam tubuh (antibodi yang beredar) dapat
menyebabkan vaksin tersebut tidak efektif.3 Walaupun vaksin live attenuated menyebabkan
penyakit, umumnya bersifat ringan dibanding dengan penyakit alamiah dan itu dianggap
sebagai kejadian ikutan (adverse event). Respons imun terhadap vaksin hidup attenuated pada
umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. Respons imun tidak
membedakan antara suatu infeksi dengan virus vaksin yang dilemahkan dan infeksi dengan
virus liar.3 Vaksin virus live attenuated secara teoritis dapat berubah menjadi bentuk patogenik
seperti semula. Hal ini hanya terjadi pada vaksin polio hidup.3

Imunitas aktif dari vaksin live attenuated tidak dapat berkembang karena pengaruh dari
antibodi yang beredar. Antibodi dari sumber apapun (misalnya transplasental, transfusi) dapat
mempengaruhi perkembangan vaksin mikroorganisme dan menyebabkan tidak adanya respons
(non response). Vaksin campak merupakan mikroorganisme yang paling sensitif terhadap
antibodi yang beredar dalam tubuh. Virus vaksin polio dan rotavirus paling sedikit terkena
pengaruh.3

Vaksin live attenuated bersifat labil dan dapat mengalami kerusakan bila kena panas dan sinar,
maka harus dilakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan hati-hati.3 Vaksin hidup
attenuated yang tersedia antara lain vaksin campak, gondongan (parotitis epidemika), rubella,
polio, rotavirus, yellow fever, dan BCG.3

Vaksin inactivated

Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media
pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan penambahan bahan
kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin fraksional, organisme tersebut dibuat murni dan hanya
komponen-komponennya yang dimasukkan dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari
kuman pneumokokus).3

Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen
dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini tidak menyebabkan penyakit (walaupun pada orang
dengan defisiensi imun) dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. Tidak
seperti antigen hidup, antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibodi yang
beredar. Vaksin inactivated dapat diberikan saat antibodi berada di dalam sirkulasi darah.3

Vaksin inactivated selalu membutuhkan dosis ganda. Pada umumnya, pada dosis pertama tidak
menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya memacu atau menyiapkan sistem imun. Respons
imun protektif baru timbul setelah dosis kedua atau ketiga. Hal ini berbeda dengan vaksin
hidup, yang mempunyai respons imun mirip atau sama dengan infeksi alami, respons imun
terhadap vaksin inactivated sebagian besar humoral, hanya sedikit atau tak menimbulkan
imunitas selular. Titer antibodi terhadap antigen inactivated menurun setelah beberapa waktu.
Sebagai hasilnya maka vaksin inactivated membutuhkan dosis suplemen (tambahan) secara
periodik.3

Pada beberapa keadaan suatu antigen untuk melindungi terhadap penyakit masih memerlukan
vaksin seluruh sel (whole cell), namun vaksin bakterial seluruh sel bersifat paling reaktogenik
clan menyebabkan paling banyak reaksi ikutan atau efek samping. Ini disebabkan respons
terhadap komponen¬-komponen sel yang sebenarnya tidak diperlukan untuk perlindungan
(contoh antigen pertusis dalam vaksin DPT).3

Vaksin inactivated yang tersedia saat ini berasal dari:

 Seluruh sel virus yang inactivated, contoh influenza, polio, rabies, hepatitis A.

 Seluruh bakteri yang inactivated, contoh pertusis, tifoid, kolera, lepra.

 Vaksin fraksional yang masuk sub-unit, contoh hepatitis B, influenza, pertusis a-seluler, tifoid
Vi, lyme disease,

 Toksoid, contoh difteria, tetanus, botulinum,

 Polisakarida murni, contoh pneumokokus, meningokokus, clan Haemophilus influenzae tipe b.

 Gabungan polisakarida ( Haemophillus influenzae tipe b dan pneumokokus).3

2.3 Jadwal Imunisasi

2.3.1 Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir kecuali ada penyulit maka
dapat diberi dalam 7 hari. (Pedoman imun, Permenkes 2017). Vaksin ini penting karena tingkat
penularan dari ibu ke anak adalah sebesar 45%. Imunisasi kedua (HepB-2) diberikan 4 minggu
kemudiannya sementara imunisasi ketiga (HepB-3) diberikan minimal 2 bulan dan terbaiknya
5 bulan demi mencapai respon imun optimal. Maka imunisasi hepB-3 diberikan pada umur 3-
6 bulan.

Sejak tahun 2014, untuk meningkatkan cakupan imunisasi maka vaksin DPT-HepB-Hib
dikombinasikan menjadi satu.

Ulangan HepB tidak diperlukan pada usia 5 tahun kecuali untuk catch-up karena berdasarkan
penelitian multisenter di Thailand mendapatkan anak yang telah diimunisasi 3 kali pada masa
bayi masih memiliki titer antibodi anti HBs protektif. Justru pada anak 5 tahun hanya dilakukan
pemeriksaan kadar anti HBs

Kadar pencegahan hepB adalah HBs >10ug/mL, maka jika pada usia selanjutnya kadar
pencegahan belum tercapai maka dapat dipertimbangkan imunisasi ulang pada usia 10-12
tahun.
2.3.2 Imunisasi pentavalen DPT-HepB-Hib

Imunisasi dasar DTP pertama kali diberikan pada usia 2 bulan. DTP tidak boleh diberikan
sebelum usia 2 bulan karena bayi belum bisa membentuk antibodi sendiri (cdc pertussis
https://www.cdc.gov/pertussis/pregnant/mom/vaccinate-baby.html)

Vaksin DPT diberikan sebanyak 3 kali sejak umur 2 bulan dan pemberian selanjutnya dengan
interval 4-8 minggu, terbaik 8 minggu. Jadi DPT-1 diberikan pada usia 2 bulan, DPT-2 pada
usia 4 bulan, DPT-3 pada usia 6 bulan. Sementara ulangan booster diberikan minimal satu
tahun setelah DPT-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DPT-5 pada usia masuk sekolah yaitu 5
tahun.

Pemberian vaksin DPT adalah secara intramuskular dengan dosis 0,5mL. Sejak 2014 telah
tersedia dan digunakan vaksin pentavalen yang terdiri dari vaksin DPT-HepB-Hib sebagai
imunisasi program.

Vaksin Hib diberikan pada umur 2, 4 dan 6 bulan. Vaksin Hib perlu diulang pada umur 18
bulan.

2.3.3 Imunisasi Polio

Vaksin polio yang pertama diberikan saat bayi lahir atau pada kunjungan pertama. Selanjutnya
diberikan pada umur 2, 4 dan bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu.

2.3.4 Imunisasi Campak

Vaksin campak diberikan pertama kali pada usia 9 bulan karena sehingga usia 8 bulan bayi
masih terproteksi oleh antibodi dari ibunya. Vaksinasi kedua diberikan pada usia 24 bulan dan
ketiga pada usia 6 tahun.

2.4 Keterlambatan Imunisasi dan Imunisasi Kejar

2.4.1 Resiko Keterlambatan Imunisasi


Pada anak yang tidak pernah divaksin dan mengalami keterlambatan vaksinasi akan
meningkatkan resiko tertularnya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Justru
pada anak yang terlambat dan belum divaksin harus segera divaksin sebelum terkena penyakit
tersebut

Pada anak yang sudah divaksin namun terlambat untuk vaksin ulangan, juga tetap harus segera
divaksin ulang supaya ambang kadar antibodi yang memberikan perlindungan tersebut dapat
segera tercapai.

2.4.2 Imunisasi Kejar

Namun kadangkala terjadi hambatan dalam pemberian imunisasi sehingga jadwalnya jadi tidak
teratur atau terlambat. Namun ketidaktepatan vaksinasi ini tidak harus menjadi hambatan untuk
melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak hilang manfaatnya tetapi
respon imunologisnya tidak optimal sehingga antibodi anak tersebut masih berada di bawah
ambang kadar yang memberi perlindungan atau protective level, atau belum mencapai kadar
antibodi yang dapat memberikan perlindungan untuk jangka waktu lama atau life-long
immunity. Apabila anak belum mendapat imunisasi sama sekali sedangkan usianya sudah
berada di luar dari usia yang tertera di jadwal imunisasi maka imunisasi diberikan kapan saja,
pada umur berapa saja sebelum anak terkena penyakit tersebut. Di bawah dijelaskan mengenai
vaksinasi kejar bagi yang terlambat.

Vaksin Hep-B

Individu yang belum divaksinasi harus mendapat 3 dosis. Dua dosis formula dewasa
direkomendasikan untuk anak usia 11-15 tahun dengan jarak pemberian 4 bulan.

MMR

Diberikan 2 dosis pada anak usia sekolah dan remaja dengan interval pemberian minimum
adalah 4 minggu

2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Imunisasi


Terdapat teori yang mengungkapkan determinan perilaku berdasarkan analisis dari faktor-
faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku kesehatan. Diantara teori tersebut
adalah teori Lawrence Green, yang menyatakan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh tiga
faktor, yaitu :4

Faktor Pemudah (Presdiposing Factors)

Faktor-faktor ini mencakup tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, pekerjaan ibu,
pendapatan keluarga, jumlah anak, dan dukungan dari pihak keluarga.

1. Tingkat Pendidikan Ibu Bayi

Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk


tingkah laku manusia di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang
dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang
dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan
sosial, dan kemampuan individu yang optimal.5

Wanita sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah tangga. Mereka menanamkan
kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi yang akan datang tentang perlakuan terhadap
lingkungannya. Dengan demikian, wanita ikut menentukan kualitas lingkungan hidup ini.
Untuk dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik, para wanita juga perlu berpendidikan
baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi pada kenyataan taraf, pendidikan wanita masih
jauh lebih rendah daripada kaum pria. Seseorang ibu dapat memelihara dan mendidik anaknya
dengan baik apabila ia sendiri berpendidikan.5

2. Tingkat Pengetahuan Ibu Bayi

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan pengindraan
terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi
perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,
yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation (menimbang-nimbang baik dan
tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru),
adoption (subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya
terhadap stimulus).4
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seseorang ibu
akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio
sehingga cacat karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio.

3. Status Pekerjaan Ibu Bayi

Pekerjaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mata pencaharian, apa yang dijadikan
pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah.7

Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya. Adapun waktu
kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu siang 7 jam satu hari dan 40 jam satu minggu
untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu minggu
untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Sedangkan waktu malam hari yaitu 6 jam satu hari dan
35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu.7

Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong banyaknya kaum wanita yang bekerja,
terutama di sektor swasta. Di satu sisi berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun
di sisi lain berdampak negatif terhadap pembinaan dan pemeliharaan anak.7

Hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi adalah jika ibu
bekerja untuk mencari nafkah maka akan berkurang kesempatan waktu dan perhatian untuk
membawa bayinya ke tempat pelayanan imunisasi, sehingga akan mengakibatkan bayinya
tidak mendapatkan pelayanan imunisasi.

4. Pendapatan Keluarga

Pendapatan adalah hasil pencarian atau perolehan usaha.8 Pendapatan yaitu keseluruhan
penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri.
Jadi yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini adalah suatu tingkat penghasilan yang
diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga
lainya.

Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak, karena orang tua
dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun yang sekunder.9

Jumlah Anak

Jumlah anak sebagai salah satu aspek demografi yang akan berpengaruh pada partisipasi
masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena jika seorang ibu mempunyai anak lebih dari satu
biasanya ibu semakin berpengalaman dan sering memperoleh informasi tentang imunisasi,
sehingga anaknya akan di imunisasi.10

Dukungan Keluarga

Dukungan sosial secara psikologis dipandang sebagai hal yang kompleks. Terdapat beberapa
jenis dukungan yang meliputi ekspresi perasaan positif, termasuk menunjukkan bahwa
seseorang diperlukan dengan rasa penghargaan yang tinggi, ekspresi persetujuan dengan atau
pemberitahuan tentang ketepatan keyakinan dan perasaan seseorang. Ajakan untuk membuka
diri dan mendiskusikan keyakinan dan sumber- sumber juga merupakan bentuk dukungan
sosial.11

Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung
atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Sikap ibu yang positif
terhadap imunisasi harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas imunisasi yang
mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasi anaknya. Disamping faktor fasilitas, juga
diperlukan dukungan/support dari pihak lain, misalnya suami/istri/orang tua/mertua.

Faktor Pendukung (Enabling Factors)

Faktor pemungkin atau pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana dan prasarana
atau sumber daya atau fasilitas kesehatan yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau
masyarakat, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti pukesmas, posyandu, polindes,
pos obat desa, dokter atau bidan swasta, dan sebagainya, serta kelengkapan alat imunisasi,
uang, waktu, tenaga, dan sebagainya.4

1. Ketersedian Sarana dan Prasarana

Ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas bagi masyarakat, termasuk juga fasilitas
pelayanan kesehatan seperti pukesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat
desa, dokter, atau bidan praktek desa. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau
memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor
pendukung atau faktor pemungkinan.

2. Peralatan Imunisasi

Setiap obat yang berasal dari bahan biologik harus dilindungi terhadap sinar matahari, panas,
suhu beku, termasuk juga vaksin. Untuk sarana rantai vaksin dibuat secara khusus untuk
menjaga potensi vaksin. Di bawah ini merupakan kebutuhan dan peralatan yang digunakan
sebagai sarana penyimpanan dan pembawa vaksin.

a. Lemari Es

Setiap puskesmas harus mempunyai 1 lemari es standart program. Setiap lemari es sebaiknya
mempunyai 1 stop kontak tersendiri. Jarak lemari es dengan dinding belakang 10-15 cm, kanan
kiri 15 cm, sirkulasi udara di sekitarnya harus baik. Lemari es tidak boleh terkena panas
matahari langsung. Suhu di dalam lemari es harus berkisar + 20 C s/d + 80 C, sedangkan di
dalam freezer berkisar antara -250 C s/d -150 C.12

b.

Vaccine carrier adalah alat untuk mengirim atau membawa vaksin dari puskesmas ke posyandu
atau tempat pelayanan imunisasi lainnya yang dapat mempertahankan suhu +20 C – +80 C

c. Cold Box

Cold box di tingkat puskesmas digunakan penyimpanan vaksin sementara apabila dalam
keadaan darurat seperti listrik padam untuk waktu cukup lama, atau lemari es sedang rusak
yang bila diperbaiki memakan waktu lama. Cold box berukuran besar, dengan ukuran 40-70
liter, dengan penyekat suhu dari poliuretan.

d. Freeze Tag

Freeze tag digunakan untuk memantau suhu dari kabupaten ke pukesmas pada waktu
membawa vaksin, serta dari pukesmas sampai ke lapangan atau posyandu dalam upaya
peningkatan kualitas rantai vaksin.13

3. Keterjangkauan Tempat Pelayanan Imunisasi

Salah satu faktor yang mempengaruhi pencapaian derajat kesehatan, termasuk status
kelengkapan imunisasi dasar adalah adanya keterjangkauan tempat pelayanan kesehatan oleh
masyarakat. Kemudahan untuk mencapai pelayanan kesehatan ini antara lain ditentukan oleh
adanya transportasi yang tersedia sehingga dapat memperkecil jarak tempuh, hal ini akan
menimbulkan motivasi ibu untuk datang ketempat pelayanan imunisasi.

Ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya kesehatan termasuk tenaga kesehatan yang ada
dan mudah dijangkau merupakan salah satu faktor yang member kontribusi terhadap perilaku
dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Faktor pendukung lain adalah akses terhadap pelayanan kesehatan yang berarti bahwa
pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan geografis, keadaan geografis ini dapat diukur
dengan jenis transportasi, jarak, waktu perjalanan dan hambatan fisik lain yang dapat
menghalangi seseorang mendapat pelayanan kesehatan.

Semakin kecil jarak jangkauan masyarakat terhadap suatu tempat pelayanan kesehatan, maka
akan semakin sedikit pula waktu yang diperlukan sehingga tingkat pemanfaatan pelayanan
kesehatan meningkat.

Faktor Penguat (Reinforcing Factors)

Faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan.4
Ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya kesehatan termasuk tenaga kesehatan yang ada
dan mudah dijangkau merupakan salah satu faktor yang member kontribusi terhadap perilaku
sehat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

1. Petugas Imunisasi

Petugas kesehatan untuk program imunisasi biasanya dikirim dari pihak puskesmas, biasanya
dokter atau bidan, lebih khususnya bidan desa. Menurut Djoko Wiyono (2000:33) pasien atau
masyarakat menilai mutu pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang
empati, respek dan tanggap terhadap kebutuhannya, pelayanan yang diberikan harus sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, diberikan dengan cara yang ramah pada waktu berkunjung.
Dalam melaksanakan tugasnya petugas kesehatan harus sesuai dengan mutu pelayanan.
Pengertian mutu pelayanan untuk petugas kesehatan berarti bebas melakukan segala sesuatu
secara professional untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai
dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu peralatan yang baik dan
memenuhi standar yang baik, komitmen dan motivasi petugas tergantung dari kemampuan
mereka untuk melaksanakan tugas mereka dengan cara yang optimal.14

Perilaku seseorang atau masyarakat tentaang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap,
kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Di
samping itu, ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan terhadap
kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.4

2. Kader Kesehatan
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat untuk
menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat serta untuk bekerja
dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.

Secara umum peran kader kesehatan adalah melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan
terpadu bersama masyarakat dalam rangka pengembangan PKMD

Secara khisus peran kader adalah :

1. Persiapan

Persiapan yang dilakukan oleh kader sebelum pelaksanaan kegiatan posyandu adalah
memotivasi masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan terpadu dan berperan serta
dalam mensukseskannya, bersa dengan masyarakat merencanakan kegiatan pelayanan
kesehatan terpadu ditingkat desa.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan yang dilakukan oleh kader saat kegiatan imunisasi adalah melaksanakan
penyuluhan kesehatan secara terpadu, mengelola kegiatan seperti penimbangan bulanan,
distribusi oralit, vitamin A/Fe, distribusi alat kontrasepsi, PMT, Pelayanan kesehatan
sederhana, pencatatan dan pelaporan serta rujukan.

3. Pembinaan

Pembinaan yang dilakukan oleh kader berupa : menyelenggarakan pertemuan bulanan dengan
masyarakat untuk membicarakan perkembangan program kesehatan, melakukan kunjungan
rumah pada keluarga binaannya, membina kemampuan diri melalui pertukaran pengalaman
antar kader.
Daftar Pustaka

1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi dan analisis
imunisasi. InfoDatin 2013:1-8.
2. Akib AAP, Endaryanto A, Siregar SP, Matondang CS. Basis imunologi vaksinasi. Dalam:
Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko.
Penyunting. Pedoman imunisasi di Indonesia. ed. 5. Jakarta: Balai Penerbit IDAI. 2014. h. 24-
53
3. Peter, G. 2007. Immunization practices. In: Nelson Textbook of Pediatrics 17th Edition
(Behrman, R. E., Kliegman, R.M., Jenson, H. B.). Philadelphia: Saunders. P.879-96
4. Soekidjo Notoatmodjo, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta.
5. Achmad Munib, 2006, Pengantar Ilmu Pendidikan, Semarang : UPT MKK Universitas Negeri
Semarang.
6. Juli Soemirat Slamet, 2000, Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
7. Pandji Anoraga, 2005, Psikologi Kerja, Jakarta : Rineka Cipta.
8. Departemen Pendidikan Nasional, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Bakti
Husada.
9. Soetjiningsih, 1995, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC.
10. Nuri Handayani, 2008, Karakteristik Ibu dan Keterjangkauan Imunisasi sebagai Faktor Risiko
Ketidaklengkapan Imunisasi Dasar, Skripsi : Universitas Diponegoro Semarang.
11. Charles Abraham, 1997, Psikologi Untuk Perawat, Jakarta : EGC.
12. I.G.N Ranuh, Dkk, 2008, Pedoman Imunisasi di Indonesia, Jakarta : Ikatan Dokter Anak
Indonesia.
13. Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005, Model Pelatihan Tenaga Pelaksana Imunisasi Puskesmas,
Jakarta : Ditjen PP & PL Depkes RI.
14. Djoko Wiyono, 2001, Manajemen Mutu Pelayanan Keehatan Teori Strategi dan Aplikasi,
Surabaya : Penerbit Airlangga University Press.