Anda di halaman 1dari 16

KAJIAN TESIS MATEMATIKA

Penyaji:
Nama : Fitria Lestari
NPM : 1423021021
Program Studi : Magister Pendidikan Matematika
Judul Kajian tesis : Kemampuan komunikasi matematis dalam pemecahan
masalah matematika sesuai dengan gaya kognitif pada
siswa kelas ix smp negeri 1 surakarta tahun pelajaran
2012/2013
Penulis : Dona Dinda Pratiwi
Dokumentasi Tesis : UNS-Pascasarjana Prog. Studi Pendidikan Matematika
Tahun : 2013
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Dosen : Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd / Dr. Sri Hastuti Noer, M.Pd

PASCASARJANA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
TAHUN 2015
A. Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) kemampuan komunikasi
matematis dalam pemecahan masalah matematika pada siswa kelas IX SMP
Negeri 1 Surakarta yang memiliki gaya kognitif field dependence; (2) kemampuan
komunikasi matematis dalam pemecahan masalah matematika pada siswa kelas
IX SMP Negeri 1 Surakarta yang memiliki gaya kognitif field independence. Jenis
penelitian ini termasuk penelitian studi kasus analisis situasi. Subjek penelitian
adalah 4 siswa kelas IXb SMP Negeri 1 Surakarta pada semester genap tahun
ajaran 2012/2013 yaitu 2 siswa yang memiliki gaya kognitif field dependence dan
2 siswa yang memiliki gaya kognitif field independence. Pengambilan subjek
menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: (1) memiliki
kecenderungan terkuat dari masing-masing gaya kognitif field dependence dan
field independence dan (2) dapat mengomunikasikan ide dengan baik secara
tertulis atau lisan serta memiliki kemampuan awal yang sama untuk masing-
masing tipe gaya kognitif. Instrumen utama adalah peneliti dan instrumen bantu
adalah tes pemecahan masalah 1 dan 2. Data dikumpulkan dengan teknik think
aloud method. Teknik analisis data meliputi: (1) data dikelompokan berdasarkan
indikator komunikasi matematis setelah diperoleh data dari pengumpulan data
pertama dan kedua; (2) data disajikan dalam bentuk tabel; dan (3) kemudian
ditarik kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan dengan triangulasi waktu. Untuk
memperoleh konsistensi hasil dilakukan dengan perbandingan tetap, yaitu: data
subjek ke-i (i= 1, 2) dengan gaya kognitif j (j= 1, 2) yang sudah valid
dibandingkan dengan data subjek ke-k (k= 1, 2) dengan gaya kognitif j (j= 1, 2)
yang sudah valid. Hasil penelitian ini valid karena sudah memenuhi
dependabilitas. Hasil penelitian menunjukkan: (1) kemampuan komunikasi
matematis siswa dengan gaya kognitif field dependence dalam
menginterpretasikan ide matematis dengan cara menyatakan langkah pemecahan
masalah dengan terpola dan dengan cara mencoba-coba atau menyatakan langkah
pemecahan masalah dengan baik namun masih bersifat umum, merespon secara
lisan namun sulit dipahami atau merespon secara lisan dengan cukup baik namun
masih bersifat umum; dalam menggambarkan situasi masalah secara visual
dengan cara mengaplikasikan konsep geometri dalam menentukan posisi namun
tidak tepat, mengomunikasikan ide tertulis dengan baik namun sulit
mengomunikasikan secara lisan, membuat gambar berdasarkan informasi pada
soal tanpa menganalisis permasalahan yang sebenarnya dan tidak sesuai dengan
langkah pemecahan masalah atau ada yang sudah sesuai dengan langkah
pemecahan masalah namun belum sampai pada pemecahan masalah yang
diharapkan; dalam menyatakan hasil pemecahan masalah dengan cara
menggunakan persamaan matematis dan menyajikan hasil pemecahan masalah
berdasarkan hasil visualisasi masalah secara terstruktur; dalam membaca dengan
pemahaman suatu representasi matematika tertulis dengan cara memeriksa hasil
perhitungan sesuai dengan gambar atau melihat hasil perhitungan saja namun
kurang teliti; (2) kemampuan komunikasi matematis siswa dengan gaya kognitif
field independence dalam menginterpretasikan ide matematis dengan cara
memahami masalah secara terpisah, menyatakan langkah pemecahan masalah
dengan menganalisis permasalahan yang sebenarnya, memberikan respon secara
lisan dengan jelas; dalam menggambarkan situasi masalah secara visual dengan
cara membuat gambar berdasarkan analisis dengan tepat dan sesuai dengan
langkah pemecahan masalah, mengaplikasikan konsep geometri dalam
menentukan posisi untuk pemecahan masalah dengan tepat dan cenderung
mencoba-coba atau menyertakan aplikasi gambar lain untuk meyakinkan jawaban,
mengomunikasikan ide tertulis dan lisan dengan baik; dalam menyatakan hasil
pemecahan masalah dengan cara menggunakan persamaan matematis dan
menyajikan hasil pemecahan masalah berdasarkan hasil visualisasi masalah serta
terstruktur; dalam membaca dengan pemahaman suatu representasi matematika
tertulis dengan cara memeriksa hasil perhitungan sesuai dengan gambar dengan
teliti. Kata kunci: komunikasi matematis, pemecahan masalah, gaya kognitif.

B. Latar Belakang Masalah


Melalui komunikasi, siswa dapat mengeksplorasi dan mengonsolidasikan
pemikiran matematisnya, pengetahuan dan pengembangan dalam
memecahkan masalah dengan penggunaan bahasa matematika dapat
dikembangkan, dan komunikasi matematis dapat dibentuk. Hal ini juga
didukung oleh Depdiknas (2006) bahwa salah satu tujuan adanya pelajaran
matematika agar peserta didik dapat mengomunikasikan gagasan untuk
memperjelas keadaan atau masalah.
Komunikasi matematis itu sendiri adalah cara bagi siswa untuk
mengomunikasikan ide-ide pemecahan masalah, strategi maupun solusi
matematika baik secara tertulis maupun lisan. Sedangkan, kemampuan
komunikasi matematis dalam pemecahan masalah menurut National Council
of Teachers of Mathematics (2000:348) dapat dilihat ketika siswa
menganalisa dan menilai pemikiran dan strategi matematis orang lain dan
menggunakan bahasa matematika untuk menyatakan ide matematika dengan
tepat. Selain itu, menurut riset Schoen, Bean, dan Zieberth dalam Bistari
(2010:19) kemampuan memberikan dugaan tentang gambar-gambar geometri
juga termasuk kemampuan komunikasi matematis.
Ada banyak tipe gaya kognitif, salah satu tipe yang sering digunakan adalah
gaya kognitif menurut Witkin, Oltman, Raskin, dan Karp dalam Oh dan
Lim (2005:54) yaitu gaya kognitif Field Dependence (FD) vs Field
Independence (FI). Individu dengan gaya kognitif FD lebih cenderung hanya
menerima informasi dan tidak mampu mengorganisasikan kembali,
cenderung impulsif dalam berpikir, kurang kreatif, kreativitas berkembang
berdasarkan imaginasi, cenderung pada materi yang bersifat kemanusiaan,
dan dapat menjalin hubungan sosial dengan baik. Sedangkan, individu
dengan gaya kognitif FI lebih mampu menganalisis informasi yang kompleks
dan mampu mengorganisasikannya untuk memecahkan masalah, cenderung
reflektif dalam berpikir, lebih kreatif, kreativitas berkembang berdasarkan
rasional, cenderung pada materi pelajaran yang abstrak, kurang dapat
bersosialisasi dengan baik, dan lebih bersifat individualistis.
Uraian di atas menunjukkan bahwa individu dengan gaya kognitif FI lebih
baik dari individu FD. Bahkan hasil penelitian Tri Dyah Prastiti (2009) tentang
implementasi Realistic Mathematics Education (RME) dengan memperhatikan
gaya kognitif siswa dan pengaruhnya terhadap kemampuan komunikasi dan
pemecahan masalah matematika SMP menyimpulkan bahwa siswa dengan gaya
kognitif FI lebih baik daripada siswa dengan gaya kognitif FD dalam kemampuan
komunikasi matematis dan pemecahan masalah matematika.
Meskipun demikian, berdasarkan karakteristik dua gaya kognitif FD dan FI tidak
dapat disimpulkan bahwa salah satunya lebih unggul, karena dari karakteristik
kedua gaya kognitif tersebut, masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Berdasarkan karakteristik masing-masing gaya kognitif muncul
dugaan adanya kaitan antara gaya kognitif dengan kemampuan komunikasi
matematis siswa.Adanya kajian tersebut, mendasari peneliti untuk melakukan pra
survey pada siswa SMP tentang bagaimana komunikasi matematika siswa
dalam pemecahan masalah luas bangun ruang sisi datar sesuai dengan gaya
kognitif masing-masing. Kemampuan komunikasi matematis yang diukur
adalah menggambarkan situasi masalah dalam bentuk visual. Untuk melihat
gaya kognitif siswa, peneliti memberikan Group Embedded Figures Test
(GEFT) kepada tiga siswa SMP Negeri 1 Surakarta kelas IXc. Dari hasil tes
GEFT diperoleh dua siswa memiliki gaya kognitif FD dengan kecenderungan
lemah dan satu siswa memiliki gaya kognitif FI dengan kecenderungan
lemah. Kemudian, dipilih satu siswa untuk masing-masing tipe gaya kognitif
Siswa dengan gaya kognitif FD tidak dapat mengorganisir informasi kompleks
yang ada pada soal, sehingga siswa tersebut memvisualisasikan hasil
representasinya melalui gambar berdasarkan informasi yang disajikan secara
umum tanpa menganalisis permasalahan yang sebenarnya. Saat ditanya alasan
gambar yang dibuat secara lisan, siswa FD memberikan argumen yang tidak
jelas, lebih cenderung diam, dan hasilnya salah. Siswa dengan gaya kognitif FI
dapat mengorganisir informasi kompleks sehingga dapat memvisualisasikan
hasil representasinya melalui gambar dengan tepat. Saat ditanya secara lisan
tentang alasan gambar yang dibuat, siswa tersebut dapat memberikan argumen
yang cukup jelas, meskipun tidak dapat menentukan hasil akhir dengan benar.
Dari hasil kajian di atas, gaya kognitif mempengaruhi kemampuan komunikasi
matematis siswa dalam pemecahan masalah matematika baik dalam
merepresentasikan ide secara tertulis maupun mengomunikasikan ide secara
lisan. Untuk itu, akan diteliti lebih dalam lagi bagaimana kemampuan
komunikasi matematis dalam pemecahan masalah matematika pada siswa
SMP kelas IX yang memiliki gaya kognitif FD dan FI
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut terdapat dua masalah yang dapat
dirumuskan, yaitu:
1. Bagaimana kemampuan komunikasi matematis dalam pemecahan masalah
matematika pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Surakarta yang mempunyai
gaya kognitif field dependence?
2. Bagaimana kemampuan komunikasi matematis dalam pemecahan masalah
matematika pada siswa kelas IX SMP Negeri 1 Surakarta yang mempunyai
gaya kognitif field independence?

D. Kerangka Berpikir

Komunikasi matematis merupakan cara berbagi ide dan memperjelas pemahaman


matematis. Melalui komunikasi, ide-ide menjadi objek refleksi, perbaikan,
diskusi, dan perubahan. Ketika siswa ditantang untuk mengomunikasikan hasil
pemikiran mereka kepada orang lain secara lisan atau tertulis, mereka belajar
harus jelas, meyakinkan, dan tepat dalam penggunaan bahasa matematika. Hasil
pemikiran tersebut berupa konsep- konsep matematika yang muncul pada saat
proses pemecahan masalah berlangsung.
Kemampuan komunikasi matematis siswa dalam pemecahan masalah
matematika pada materi luas bangun ruang sisi datar dapat dilihat dari
kemampuan siswa dalam: (1) menginterpretasikan ide matematis; (2)
menggambar situasi masalah dalam bentuk visual; (3) menyatakan hasil
pemecahan masalah; dan (4) membaca dengan pemahaman suatu representasi
matematika tertulis.
Pada saat pemecahan masalah berlangsung terjadi transformasi informasi
matematika dari komunikator kepada komunikan. Respon yang diberikan
komunikan merupakan interpretasi komunikan tentang representasi informasi
yang diperoleh. Representasi tersebut dapat berupa kata-kata tertulis maupun
ungkapan secara lisan. Dalam matematika, kualitas interpretasi dan respon
seringkali menjadi masalah istimewa. Hal ini sebagai salah satu akibat dari
karakteristik matematika itu sendiri dengan istilah dan lambang
atau simbol-simbol. Lambang-lambang matematika yang bersifat artifisial baru
mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya, tanpa itu matematika
hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Oleh sebab itu, kemampuan
berkomunikasi dalam matematika menjadi tuntutan khusus.
Perepresentasian kata-kata dan simbol-simbol yang terjadi pada saat
mengomunikasikan ide pemecahan masalah diorganisasikan dalam pikiran dan
disajikan dalam bentuk gambar atau kata-kata, namun baik gambar maupun kata-
kata tidak dapat menangkap semua karakteristik dari hasil yang direpresentasikan.
Oleh sebab itu, juga diperlukan kemampuan siswa dalam hal bercakap atau
komunikasi lisan. Perepresentasian ini tentu berbeda-beda, begitu juga dengan
kemampuan dalam mengomunikasikan ide secara lisan. Perbedaan yang menetap
pada setiap individu dalam cara mengolah informasi dan menyusunnya dari
pengalaman-pengalaman lebih dikenal dengan gaya kognitif.
Salah satu tipe gaya kognitif itu adalah field dependence dan field independence.
Masing-masing gaya kognitif tersebut mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Siswa
dengan gaya kognitif FD lebih cenderung hanya menerima informasi dan tidak
mampu mengorganisasikan kembali. Siswa tersebut lebih suka menyelesaikan
masalah dengan cara yang telah ditetapkan dan sulit memfokuskan pada satu
aspek dari satu situasi atau menganalisis pola menjadi bagian yang berbeda.
Selain itu, siswa dengan gaya kognitif FD cenderung berpikir global sehingga
persepsinya terhadap informasi mudah terpengaruh oleh lingkungan dan lebih
mementingkan motivasi ekstrinsik dalam hal bekerja. Gaya kognitif FD unggul
dalam mengingat informasi yang bersifat sosial, seperti interaksi intrapersonal.
Sedangkan, siswa dengan gaya kognitif FI tidak hanya mampu sekedar menerima
informasi saja, tetapi juga mampu mengorganisasikannya untuk memecahkan
masalah, dan mereorganisir informasi-informasi yang sudah terorganisir. Gaya
kognitif FI ini lebih unggul dalam menganalisis informasi yang kompleks atau
tidak terstruktur. Kemampuannya dalam menganalisis untuk memisahkan objek
dari lingkungan sekitar membuat persepsi tidak mudah mudah terpengaruh. Siswa

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Surakarta yang beralamatkan di Jalan


MT. Haryono No. 4 Surakarta, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi penelitian
berdasarkan pada pertimbangan berikut:
a. Memudahkan terciptanya kolaborasi antara peneliti dengan kepala sekolah dan
guru-guru, serta subjek penelitian bersedia membantu peneliti dalam pelaksanaan
penelitian.
b. Sekolah memiliki data dan informasi yang dibutuhkan peneliti, serta belum
pernah diadakan penelitian yang sejenis.
c. SMP Negeri 1 Surakarta mendapat peringkat ke-8 pada Ujian Nasional tahun
2010 tingkat Jawa Tengah. Sehingga diharapkan siswa yang menjadi subjek
penelitian dapat mengungkap kemampuan komunikasi matematis lebih lengkap.
2. Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013.


Adapun tahapan penelitian sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan meliputi: pengajuan masalah, penyusunan proposal, alat bantu,


dan izin penelitian. Tahap ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan
Oktober 2012. b. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan meliputi: melakukan penelitian pendahuluan, menyusun dan
memvalidasi instrumen bantu penelitian, melaksanakan tes GEFT dan memilih
subjek penelitian, dan mengambil data dengan think aloud method (Charters
Elizabeth, 2003:68). Tahap ini
dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai dengan Desember 2012
c. Tahap Penyelesaian

Tahap penyelesaian meliputi: menganalisis data, menyimpulkan hasil analisis


kemampuan komunikasi matematis siswa pada masing-masing tipe gaya kognitif,
menyusun laporan penelitian, dan ujian tesis. Tahap ini dilaksanakan pada bulan
Januari 2013 sampai dengan Juli 2013.

B. Jenis Penelitian

Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian, jenis penelitian ini termasuk penelitian
studi kasus analisis situasi. Karena, studi kasus analisis situasi digunakan untuk
mengungkap bagaimana situasi dalam kasus yang diteliti dan pemilihan
kasusnya dilakukan secara bertujuan (purposive). Pada penelitian ini, digunakan
untuk mengungkap bagaimana kemampuan komunikasi matematis siswa SMP
kelas IX yang memiliki gaya kognitif FD dan FI dalam pemecahan masalah luas
bangun ruang sisi datar.
C. Subjek Penelitian
Subjek diambil dari siswa kelas IXb SMP Negeri 1 Surakarta pada semester genap
tahun pelajaran 2012/2013. Siswa yang dipilih adalah siswa dengan gaya
kognitif field dependence dan field independence serta memenuhi kriteria
yang telah ditentukan. Adapun prosedur pemilihan subjek penelitian sesuai dengan
gaya kognitif masing-masing siswa sebagai berikut:
1. Menyiapkan tes gaya kognitif.

Dalam penelitian ini, digunakan tes GEFT sebagai alat untuk mengukur gaya
kognitif siswa. GEFT dibuat pertama kali oleh Witkin (1950) dengan nilai
reliabilitas sebesar 0,82. Kemudian GEFT dialihbahasakan dalam berbagai bahasa
termasuk bahasa Indonesia. Peneliti menggunakan tes GEFT yang sebelumnya
telah digunakan oleh peneliti lain (Agung Putra Wijaya,2011:25). GEFT terdiri
dari tiga tahapan dengan total waktu mengerjakan 15 menit. Tahap pertama
sebagai latihan terdiri dari 7 soal, tahap kedua dan ketiga sebagai penilaian
yang masing-masing terdiri dari 9 soal.
pengelompokan gaya kognitif dilakukan dengan penskoran sesuai kriteria

berikut:
Tabel 3.1. Pengelompokan Gaya Kognitif
Category Female Male Score
Slightly Score
0- 0-9
FD
Strongly 8
9- 10-
FD
Slightly FI 11
12- 12
13-
Strongly FI 14
15- 15
16-
18 18
Tes GEFT yang digunakan merupakan tes yang telah baku, sehingga validasi
yang dilakukan hanya mengacu pada aspek kesesuaian bahasa yaitu pada
pemahaman siswa tingkat SMP dalam memahami perintah yang terdapat pada
tes yang diberikan. Validasi dilakukan oleh 3 orang dosen yang berpengalaman
dalam bidangnya yaitu dosen psikologi (1 orang) dan dosen bahasa Indonesia (2
orang). Pemilihan ahli dari dosen psikologi sebagai validator terkait dengan istilah
psikologi, kontruksi kalimat, dan kesesuaian bahasa yang digunakan. Pemilihan
dosen bahasa Indonesia sebagai validator terkait dengan kontruksi kalimat dan
kesesuaian bahasa yang digunakan dalam soal tes pengelompokkan gaya kognitif.
Nama-nama validator untuk soal tes pengelompokkan tipe gaya kognitif dapat
dilihat pada Tabel 3.3.
berikut:
Tabel 3.2.
Nama-nama Validator Soal Tes Pengelompokan Tipe Gaya Kognitif

N Nama Pekerjaaan
o Dosen Psikologi
1
. Dra. Makmuroch, M. S.
FK
. Universitas
Dosen Sebelas
PBI PPs
2 Prof. Dr. Andayani, M. Pd MaretSebelas
Universitas
. DosenMaret
FKIP Bahasa
3 Atikah Anindyarini, S. S.
Indonesia
. M. Hum. Universitas Sebelas
Maret karena sebagai
Dra. Makmuroch, M. S. (validator 1) dipilih sebagai validator
dosen psikologi dan psikiatri fakultas kedokteran UNS dipandang ahli dan
berpengalaman selama 32 tahun dalam bidangnya. Sebagai psikiatri,
Dra. Makmuroch, M. S. memberikan masukan tentang psikologi pendidikan
dengan gaya kognitif FI juga lebih mementingkan motivasi intrinsik dalam hal
bekerja. Berdasarkan argumen tersebut, muncul dugaan adanya perbedaan
kemampuan komunikasi matematis dalam pemecahan masalah sesuai dengan gaya
kognitif masing-masing siswa.
Pemilihan subjek dengan masing-masing tipe gaya kognitif dilakukan dengan
memberikan tes GEFT, sedangkan untuk membuktikan dugaan tersebut, dilakukan
pengumpulan data dengan metode think aloud yaitu subjek mengerjakan tes
pemecahan masalah I dan II disertai ekspresi verbal dalam mengomunikasikan ide
matematika. Tes pemecahan masalah I dan II dibuat saling isomorfik tentang luas
bangun ruang sisi datar yang disajikan dalam bentuk esay dan disusun sesuai
dengan indikator kemampuan komunikasi matematis.
Hasil think a loud pada pengambilan data pertama dan kedua kemudian dianalisis
sesuai dengan indikator komunikasi matematis yang telah dirumuskan. Hasil
analisis tersebut ditriangulasi waktu sebagai uji keabsahan data (kredibilitas)
sehingga diperoleh data valid masing-masing subjek. Data valid masing-masing
subjek dengan tipe gaya kognitif yang sama dianalisis dengan metode
perbandingan tetap sebagai uji keabsahan hasil penelitian (konsistensi). Dari
analisis tersebut, diperoleh kemampuan komunikasi matematis yang sama (temuan
utama) dari tiap gaya kognitif, sedangkan kemampuan komunikasi matematis yang
berbeda dijadikan temuan lain. Dengan demikian, dari temuan utama dan temuan
lain dapat dideskripsikan kemampuan komunikasi matematis dalam pemecahan
masalah luas bangun ruang sisi datar pada siswa SMP kelas IX
Teknik Analisis Data

Data yang dianalisis pada penelitian ini diperoleh dari hasil tes
pemecahan masalah I dan II. Proses analisis data dalam penelitian ini sebagai
berikut :
.1. Reduksi data

Setelah diperoleh data dari pengumpulan data pertama dan kedua, kemudian
data dikelompokkan berdasarkan indikator komunikasi matematis yang diteliti,
yaitu: menginterpretasikan ide matematis; menggambarkan situasi masalah dalam
bentuk visual; menyatakan hasil pemecahan masalah; dan membaca dengan
pemahaman suatu representasi matematika tertulis. Selanjutnya, dari masing-
masing indikator dianalisis kemampuan komunikasi matematis secara tertulis atau
lisan.
2. Penyajian data

Setelah data direduksi, data yang sudah dikelompokkan berdasarkan indikator


komunikasi matematis dari masing-masing subjek, kemudian disajikan dalam
bentuk teks naratif dan tabel. Dari sajian ini, terlihat kemampuan komunikasi
matematis setiap indikatornya baik secara tertulis atau lisan dari masing-masing
subjek penelitian.
3. Penarikan kesimpulan

Dari data yang telah disajikan, kemudian dibuat kesimpulan kemampuan


komunikasi matematis secara tertulis atau lisan untuk setiap indikatornya.
Kesimpulan ini menjadi temuan baru berupa kemampuan komunikasi matematis
dari masing-masing subjek penelitian.
Hasil analisis data dari masing-masing subjek pada tes pemecahan masalah I dan II
ditriangulasi waktu untuk mendapatkan data yang valid. Data yang valid tersebut
digunakan untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis secara tertulis
atau lisan dari masing-masing subjek penelitian.
Selanjutnya, teknik analisis hasil penelitian dilakukan dengan perbandingan tetap
yaitu membandingkan data valid kedua subjek untuk masing-masing tipe gaya
kognitif, dengan cara berikut: data subjek ke-i (i= 1,2) dengan gaya kognitif j (j=
1, 2) yang sudah valid dibandingkan dengan data subjek ke-k (k= 1, 2) dengan
gaya kognitif j (j= 1, 2) yang sudah valid. Dari data tersebut diperoleh
kemampuan komunikasi matematis secara tertulis atau lisan dari masing-
masing tipe gaya kognitif. tipe gaya kognitif dijadikan sebagai kemampuan
komunikasi matematis yang reliabel (temuan utama), kemampuan komunikasi
matematis yang berbeda dijadikan temuan lain. Setelah diperoleh data temuan
utama dan lain, kemudian dicari persamaan dan perbedaan antara siswa dengan
gaya kognitif FD dan FI. Perbedaan kemampuan komunikasi matematis disebabkan
karena adanya perbedaan tipe gaya kognitif.

Pengambilan Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah 4 siswa kelas IXb SMP Negeri 1 Surakarta pada
semester genap tahun pelajaran 2012/2013, terdiri dari 2 siswa yang memiliki gaya
kognitif field dependence dan 2 siswa yang memiliki gaya kognitif field
independence.
Untuk memperoleh data penelitian, diawali dengan memberikan tes gaya
kognitif yang dilaksanakan pada jam mata pelajaran matematika, hari Jumat
tanggal 30 November 2012 pada pukul 08.20 sd pukul 08.50. Pada saat tes
pengelompokkan gaya kognitif, terdapat 1 siswa yang tidak hadir, sehingga tes
tersebut hanya diikuti oleh 19 siswa. Hasil tes pengelompokkan gaya kognitif dapat
dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Hasil Pengelompokkan Gaya Kognitif Siswa
Kelas IXb SMP Negeri 1 Surakarta
N J Juml
K Tipe gaya kognitif u
o
e m ah
Slightly Field Dependent 1
l kesel
l (SLFD)
Strongly Field Dependent 32
1 I a 1
(STFD)
Slightly Field Independent 1h uruh
a
X (SLFI)
Strongly Field Independent 3S 9
s an
b (STFI)
i
Berdasarkan data pada Tabel 4.1 terdapat 13 siswa memiliki gaya kognitif
s
SLFD, 2 siswa memiliki gaya kognitif STFD, 1 siswa memiliki gaya kognitif SLFI,
w
dan 3 siswa memiliki gaya kognitif STFI. Hasil pengelompokkan atipe gaya kognitif
siswa secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 8. Dari hasil pengelompokkan
tersebut dipilih siswa yang memiliki gaya kognitif dengan kecenderungan terkuat.
Kemudian, berdasarkan informasi guru matematika di kelas tersebut, dipilih siswa
yang memenuhi kriteria yaitu siswa yang dapat mengomunikasikan idenya dengan
baik secara tertulis atau lisan serta siswa tersebut memiliki kemampuan awal yang
sama
untuk masing-masing tipe gaya kognitif.
Komunikasi Komunikasi
Indikat
Matematis Siswa Matematis Siswa
or FI2 Pengambilan FI2 Pengambilan Data
1.Komunikasi a. Dapat
Data memahami a.
Kedua Dapat memahami
Menginterpretasi masalah masalah
kanMatematis Pertama
secara secara
ide matematis. terpisah. terpisah.
(7P – (3P –
8FI2) 4FI2)
b. Menyatakan b. Dapat
langkah pemecahan menyatakan langkah
masalah dengan baik pemecahan masalah
dan tepat. dengan baik dan
(9P – 10FI2) tepat.
2. a. Dapat a. Dapat
c. membuat Dapat (5P – 6FI2)
Menggambarkan membuat
gambar c. gambar Dapat
situasi masalah memberikan
berdasarkan analisis berdasarkan
memberikan analisis
dalam bentuk respon secara lisan
dengan tepat dan dengan tepatlisandan
respon secara
visual. dengan jelas. (13P
sesuai dengan sesuai –
dengan
dengan jelas. (9P
– 14FI2)
langkah pemecahan langkah
10FI2) pemecahan
masalah. (gambar 1 masalah. (gambar 1
dan 15P - 22FI2) dan 11P - 18FI2)
b. Dapat b. Dapat
mengaplikasikan mengaplikasikan
konsep geometri konsep geometri
dalam menentukan dalam menentukan
posisi untuk posisi untuk
pemecahan masalah pemecahan masalah
dengan tepat dan dengan tepat dan
disertai aplikasi disertai aplikasi
gambar lain untuk gambar lain untuk
3. Menyatakan a. Dapat menyatakan a. Dapat menyatakan
hasil hasil hasil
pemecahan pemecahan masalah pemecahan masalah
masalah. dengan dengan
menggunakan menggunakan
persamaan persamaan
matematis. matematis.
(63P- 65FI2) (29FI2- 34FI2)
4. Membaca a. Dapat mereview a. Dapat mereview
pemahaman b.
dengan Dapat b.
dengan Dapat
dengan suatu melihat kembali melihat kembali
menyatakan hasil menyatakan hasil
representasi hasil perhitungan hasil perhitungan
pemecahan masalah pemecahan masalah
matematika pada lembar pada lembar
berdasarkan hasil berdasarkan hasil
tertulis, jawaban dan jawaban dan
visualisasi yang visualisasi yang
tahap menyesuaikan hasil menyesuaikan hasil
dibuat dan dibuat dan
review. dengan gambar dengan gambar
terstruktur. (75P – terstruktur. (35P –
yang dibuat dengan yang dibuat dengan
78FI2) 42FI2)
teliti. teliti.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan 4 subjek penelitian pada siswa
(135P – 138FI2) (63P – 66FI2)
kelas IX SMP Negeri 1 Surakarta diperoleh kesimpulan kemampuan komunikasi
matematis dalam pemecahan masalah matematika sebagai berikut.
1. Field Dependence (FD)

Kemampuan komunikasi matematis siswa dengan gaya kognitif FD sebagai


berikut: (1) dapat menginterpretasikan ide matematis dengan cara memahami
masalah secara keseluruhan dan menyatakan langkah pemecahan masalah dengan
cara mencoba-coba dan terpola atau menyatakan langkah pemecahan masalah
dengan baik namun masih bersifat umum, merespon secara lisan namun sulit
dipahami atau merespon secara lisan dengan cukup baik namun masih bersifat
umum; (2) dapat menggambarkan situasi masalah secara visual dengan cara
mengaplikasikan konsep geometri dalam menentukan posisi namun tidak tepat,
mengomunikasikan ide tertulis dengan baik namun sulit mengomunikasikan ide
secara lisan, membuat gambar berdasarkan informasi pada soal tanpa menganalisis
permasalahan yang sebenarnya dan tidak sesuai dengan langkah pemecahan
masalah atau ada yang sudah sesuai dengan langkah pemecahan masalah namun
belum sampai pada pemecahan masalah yang diharapkan; (3) dapat menyatakan
hasil pemecahan masalah dengan menggunakan persamaan matematis dan
menyajikan hasil pemecahan masalah berdasarkan hasil visualisasi masalah dengan
terstruktur atau kurang terstruktur; dan (4) dapat membaca dengan pemahaman
suatu representasi matematika tertulis pada tahap review dengan cara melihat
kembali hasil perhitungan dan menyesuaikan dengan gambar
namun kurang teliti atau melihat hasil perhitungan saja namun kurang teliti.
. Field Independence (FI)
Kemampuan komunikasi matematis siswa dengan gaya kognitif FD sebagai
berikut: (1) dapat menginterpretasikan ide matematis dengan cara memahami
masalah secara terpisah, menyatakan langkah pemecahan masalah dengan baik atau
dengan baik dan tepat, dan memberikan respon secara lisan dengan jelas; (2) dapat
menggambarkan situasi masalah secara visual dengan cara membuat gambar
berdasarkan analisis dengan tepat dan sesuai dengan langkah pemecahan masalah,
mengaplikasikan konsep geometri dalam menentukan posisi untuk pemecahan
masalah dengan baik dan pengaplikasiannya cenderung mencoba-coba atau dengan
tepat dan menyertakan aplikasi gambar lain untuk meyakinkan jawaban,
mengomunikasikan ide tertulis dan lisan dengan baik; (3) dapat menyatakan hasil
pemecahan masalah dengan menggunakan persamaan matematis dan menyajikan
hasil pemecahan masalah berdasarkan hasil visualisasi masalah dengan terstruktur
atau kurang terstruktur, dan (4) dapat membaca pemahaman suatu
representasi matematika tertulis dengan cara melihat kembali hasil perhitungan dan
menyesuaikan hasil dengan gambar dan teliti.