Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Maksud
 Memahami, merencanakan, serta melakukan proses pencapan discharge kain Kapas
dengan menggunakan Zat Warna bejana pada motif dan zat warna reaktif pada dasar.

1.2. Tujuan
 Agar praktikan dapat memahami, merencanakan, serta melakukan proses pencapan
discharge kain Kapas dengan menggunakan Zat Warna bejana pada motif dan zat warna
reaktif pada dasar.
 Untuk mengetahui pengaruh dari waktu steaming yang digunakan dalam proses
pencapan discharge kain Kapas dengan menggunakan Zat Warna bejana pada motif dan
zat warna reaktif pada dasar terhadap ketuaan warna dan kerataan motif serta ketahanan
luntur terhadap pencuciannya.
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Serat Selulosa


Selulosa merupakan bagian pokok serat kapas, oleh karena itu untuk mengetahui mekanisme
pencelupan serat kapas dengan zat warna diperlukan keterangan mengenai selulosa. Zat-zat
selain selulosa yang terdapat dalam serat kapas merupakan kotoran dan harus dihilangkan
karena akan mengganggu proses pencelupan. Kotoran tersebut dapat dihilangkan dengan proses
pemasakan dalam larutan NaOH, semua kotoran kecuali pigmen dan selulosa akan hilang
sehingga persentase kotoran dalam serat kapas menjadi sangat kecil. Pigmen dapat dihilangkan
dengan proses pengelantangan yang menggunakan oksidator seperti NaOCl, CaOCl2 dan
sebagainya.

Sifat-sifat serat kapas

a. Sifat Fisika
- Serat kapas berwarna putih kekuning-kuningan.
- Kekuatan serat kapas cukup tinggi, kekuatan dalam keadaan basah lebih tinggi daripada
kekuatan dalam keadaan kering, sehingga sangat menguntungkan untuk proses
pencelupan, karena pada proses pencelupan akan ada tarikan-tarikan pada kain kapas
tersebut.
- Mulur serat kapas 4 – 13 %.
- Dalam keadaan standart, serat kapas mengandung 7 – 8,5 % air terhadap berat kering.
- Berat jenis serat kapas 1,5 – 1,56.
- Indeks bias sejajar sumbu serat 1,58 dan indeks bias melintang sumbu serat 1,53.

b. Sifat Kimia
- Serat kapas dapat teroksidasi membentuk oksiselulosa sehingga kekuatan serat akan
turun.
- Serat kapas akan terhidrolisa oleh asam membentuk hidroselulosa. Degradasi serat
kapas akan lebih cepat didalam asam kuat dan pekat.
- Serat kapas tahan akan alkali, alkali kuat dengan konsentrasi yang tinggi hanya akan
menggelembungkan serat. Oleh karena itu, alkali dipergunakan untuk proses
merserisasi.
- Dalam kondisi yang lembab dan temperatur yang hangat, jamur dan bakteri akan
menyerang serat kapas.
2.2 Pencapan
Pencapan adalah suatu proses pemberian warna pada kain secara tidak merata sesuai dengan
motif yang telah ditentukan dan hasilnya memiliki ketahanan luntur warna. Motif yang akan
diperoleh pada kain cap akan dibuat gambar pada kertas. Kemudian dari gambar ini masing-
masing warna dalam komponen gambar yang akan dijadikan motif dipisahkan dalam kertas
film. Dari kertas film inilah motif dipindahkan ke screen, dimana dalam screen ini bagian-
bagian yang tidak ada gambarnya akan tertutup oleh zat peka cahaya sedangkan untuk bagian-
bagian yang merupakan gambar akan berlubang dan dapat meneruskan pasta cap ke bahan yang
akan dicap.
Untuk mencapai hasil pencapan yang baik pada proses pencapan dibutuhkan kondisi
yang spesifik, peralatan khusus dan desain yang sempurna, desain memiliki nilai seni yang
tinggi dan biasanya diciptakan sebagai hasil karya seni. Teknik pencapan intinya merupakan
cara pemindahan desain dengan suatu peralatan tertentu yang diharapkan dapat menjamin mutu
dan kualitas hasil pencapan.
Sesuai dengan alat/ mesin yang digunakan dalam pencapan, maka dikenal:
1. Pencapan semprot (Spray-Printing)
2. Pencapan blok (Blok-Printing)
3. Pencapan perrotine (Perrotine-Printing)
4. Pencapan rambut serat (Flock-Printing)
5. Pencapan kasa/sablon (Screen-Printing)
6. Pencapan rol (Roller-Printing)
7. Pencapan transfer (transfer-printing

2.4.1 Prosedur Pencapan


Secara umum prosedur pencapan meliputi tahapan sebagai berikut :
1. Persiapan pengental
2. Persiapan pasta cap
3. Persiapan mesin
4. Pencapan
5. Pengeringan
6. Fiksasi zat warna
7. Pencucian
8. Pengeringan

2.4.2 Pencapan Discharge

2.3 Pengental
Pengental berfungsi untuk melekatkan zat warna pada bagian bahan tekstil yang akan diwarnai
selama proses pencapan berlangsung, sehingga dipeoleh batas gambar yang tajam, warna yang
rata, dan penetrasi zat warna yang cukup baik. Pengental digunakan dalam proses pencapan
sebagai medium untuk melekatkan zat warna pada permukaan kain, medium air seperti halnya
pada pencelupan tidak bisa dipergunakan karena sifat air yang menyebar sehingga
menyebabkan gambar blobor.
Medium untuk membawa zat warna pada pencapan harus memiliki viskositas atau
kekentalan yang cukup agar zat warna yang dicapkan tidak keluar motif yang sudah ditentukan.
Viskositas yang sesuai sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang memuaskan. Viskositas
yang terlalu tinggi menyebabkan pasta cap hanya mewarnai permukaan kain saja, sedangkan
viskositas yang rendah berakibat hasil pencapan pastanya menyebar sehingga gambar tidak
tajam. Selain fungsi utama pengental untuk melekatkan zat warna, fungsi lain dari pengental
adalah:
1. Untuk membawa zat warna dan zat pembantu
2. Untuk melawan kapilaritas dari kain
3. Untuk mencegah migrasi selama pencepan berlangsung
4. Untuk meningkatkan daya adesi zat warna yang belum terfiksasi dalam serat
5. Untuk mengikat air dari hasil kondensasi uap pada prosres fiksasi
6. Bertindak sabagai koloid pelindung agar zat warna tidak mengendap selama pencapan
berlangsung.

2.5.1 Pengental Alginat


Alginat merupakan suatu kopolimer linear yang terdiri dari dua unit monomerik, yaitu asam D-
mannuronat dan asam L-guloronat. Alginat terdapat dalam semua jenis algae coklat
(Phaeophyta) yang merupakan salah satu komponen utama penyusun dinding sel. Alginat yang
ditemukan dalam dinding sel algae coklat tersebut terdiri atas garam-garam kalsium,
magnesium, natrium, dan kalium alginat (Kirk dan Othmer 1994). Sifat-sifat fisikokimia seperti
viskositas dan rasio monomer penting artinya dalam pemanfaatan alginat pada berbagai industri
misalnya industri makanan, minuman, kosmetik, cat, tekstil dan pemanfaatan lainnya.
Viskositas dan gel strength merupakan dua karakteristik kunci dalam kualitas alginat. Rasio
monomer yang menyusun alginat juga penting dalam pemanfaatan terutama dalam kaitan sifat
bioaktifnya maupun sifat struktur dari gelnya. Viskositas maupun rasio monomer alginat juga
dipengaruhi oleh spesies, asal dan proses ekstraksi dari alginatnya. Rasio monomer penyusun
alginat berbeda-beda ditentukan oleh spesies alginofit yang menghasilkannya, dan tempat
tumbuh alginofitnya (Rachmat dan Rasyid 2002).

Sifat-sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi dan perbandingan
komposisi guluronat dan mannuronat dalam molekul. Asam alginat tidak larut dalam air dan
mengendap pada pH < 3,5 sedangkan garam alginat dapat larut dalam air dingin atau air panas
dan mampu membentuk larutan yang stabil. Natrium Alginat tidak dapat larut dalam pelarut
organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Alginat sangat stabil pada pH 5 – 10,
sedangkan pada pH yang lebih tinggi viskositasnya sangat kecil akibat adanya degradasi ß-
eliminatif. Ikatan glikosidik antara asam mannuronat dan guluronat kurang stabil terhadap
hidrolisis asam dibandingkan ikatan dua asam mannuronat atau dua asam guluronat.
Kemampuan alginat membentuk gel terutama berkaitan dengan proporsi L-guluronat (An
Ullman’s 1998 diacu dalam Maharani dan Widyayanti 2009).

2.4 Zat Warna Reaktif


Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat bereaksi dengan serat selulosa secara kovalen.
Oleh karenanya mempunyai ketahanan luntur yang sangat baik. Zat warna ini terdiri dari dua
jenis yaitu reaktif panas dan reaktif dingin.

2.2.1. Zat Warna Reaktif Panas


Zat warna reaktif panas merupakan zat warna yang larut dalam air dan berikatan dengan
selulosa melalui ikatan kovalen sehingga tahan luntur warna hasil celupannya baik. Contoh
strukturnya adalah jenis mono kloro triazin (MTC) sebagai berikut :
Mekanisme reaksi fiksasi zat warna reaktif

Sel – O – H Sel – O- + H2O

Semakin banyak alkali yang ditambahkan, pembentukan anion selulosanya semakin banyak,
maka reaksi fiksasi semakin cepat.

Secara singkat reaksi fiksasi tersebut dapat ditulis :

D – Cl sel-OH D-O-sel + HCl

Selain itu selama proses pencelupan dap terjadi reaksi hidrolisis sehingga zat warna menjadi
rusak dan tidak bisa fiksasi / berikatan dengan serat.

D – Cl + H-O-H D-O-sel

Reaksi fiksasi dan hidrolisis zat warna reaktif jenis vinil sulfon :
Pemakaian zat warna reaktif secara panas yaitu untuk zat warna reaktif yang mempunyai
kereaktifan rendah, misalnya procion H, cibacron dengan sistem reaktif mono-khlorotriazin,
dan remazol denagan sistem reaktif vinil sulfon. Adanya kekurangan dari kedua golongan zat
warna reaktif tersebut maka saat ini banyak digunakan zat warna reaktif dengan fungsi gugus
ganda (bifunctional reactive dyes) seperti sumifik supra( mono chloro tiazin (MTC)-vinil sulfon
(VS) dan drimarene CL (tricholoropirimidin (TCP)-vinil Sulfon (VS), sehingga zat warnanya
lebih tahan hidrolisis. Efisiensi fiksasinya tinggi dan hasil celupnya lebih tahan alkali dan tahan
asam.

Faktor – faktor yang mempengaruhi reaksi hidrolisa :


1. Kereaktifan zat warna. Apabila zat warna kereaktifannya tinggi maka zat warna akan mudah
rusak terhidrolisis.
2. Kondisi celup.
a) Temperatur.Jika temperature tinggi diawal maka reaksi hidrolisa bertambah cepat.
b) PH, Dengan pH yang tinggi maka terjadi reaksi hidrolisa terhadap serat semakin tinggi.
c) H2O, reaksi hidrolisa akan semakin besar jika konsentrasi air juga tinggi.
Beruntung reaksi hidrolisis ini lebih kecil dari reaksi fiksasi karena kenukleofilan OH-
lebih lemah dari sel-O, namun demikian dalam proses pencelupan perlu diusahakan agar
reaksi hidrolisis ini sekecil mungkin antara lain dengan cara modifikasi skema proses
pencelupan sedemikian rupa, misalnya dengan cara menambahkan alkali secara
bertahap. Kelemahan zat warna reaktif selain mudah rusak terhidrolisis juga hasil
pencelupannya kurang tahan terhadap pengerjaan asam, sebagai contoh bila hasil celup
dilakukan proses penyempurnaan resin finis dalam suasana asam maka ketuaan warana
hasil celupnya akan sedikit turun.
2.2.2. Zat Warna Reaktif Dingin
Reaktif dingin mempunyai gugus reaktif yang lebih banyak sehingga kurang memerlukan suhu
tinggi (jenis triklorotriazin) sedang reaktif panas memerlukan suhu tinggi dalam
penggunaannya. Proses fiksasi zat warna ini berlangsung dengan bantuan alkali, untuk itu
dipilih medium pengental yang tahan terhadap alkali.

Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan serat sehingga
zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh karena itu, hasil celupan zat warna reaktif
mempunyai ketahanan cuci yang sangat baik. Demikian pula karena berat molekul zat warna
reaktif kecil maka kecerahan warnanya akan lebih baik daripada zat warna direk. Struktur kimia
zat warna reaktif dapat digambarkan sebagai berikut :

C Cl
SO3Na N N
N=N NH C C Cl
N

SO3Na

Khromofor zat warna reaktif mempunyai berat molekul yang kecil agar daya serap terhadap
serat tidak besar sehingga zat warna yang tidak bereaksi dengan serat mudah dihilangkan.
Gugus penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan ketahanan zat warna terhadap asam
atau basa. Agar reaksi dapat berjalan dengan baik diperlukan penambahan alkali misalnya
Natrium Silikat dan KOH karena apabila telah dikerjakan dengan alkali bahan akan tahan
pencucian dan penyabunan. Disamping terjadi reaksi antara zat warna dengan serat yang
membentuk ikatan pseude ester dan eter, molekul air juga dapat mengadakan reaksi hidrolisa
dengan molekul zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak reaktif lagi.
Reaksi hidrolisa tersebut akan bertambah cepat dengan penaikan temperatur.

2.5 Zat Warna Bejana

2.6 Pengeringan

Pengeringan setelah kain dicap mutlak dilakukan untuk menghilangkan kandungan air pada
lapisan pasta cap atau menghilangkan kelembaban lapisan pasta sehingga mencegah zat warna
blobor (bleeding), selain itu pengeringan bertujuan untuk memudahkan penanganan kain hasil
cap untuk proses fiksasi. Proes pengeringan perlu memperhatikan faktor – faktor jenis kain
(hidrofob atau hidrofil), jenis pasta cap alkali/asam, tegangan kain. Kain yang memiliki regain
rendah atau sifat hidrofob pengeringan harus dilakukan sesegera mungkin. Jenis pengeringan
yang bisa dilakukan antara lain:
1. Pengering udara panas
Sumber panas berasal dari oil panas, uap panas, dan elemen listrik dengan suhu100 –
125oC
2. Pengering silinder
Kain dilewatkan pada silinder panas dengan suhu 95-110oC, silinder terbuat dari logam
baja tahan karat.
3. Pengering di udara
Kain dijemur atau digantung pada ruang terbuka. Kondisi pengeringan berpengaruh
terhadap hasil fiksasi zat warna, namun standar pengeringan yang baik akan memberikan
efek hasil pewarnaan yang baik pula. Pengeringan yang berlebihan akan menyebabkan
retak dan pecahnya lapisan pasta cap sehingga fiksasi tidak sempurna dan terjadi
penodaan warna. Demikian pula pengeringan yang tidak merata akan menyebabkan
ketidakrataan warna hasil pencapan.

2.7 Fiksasi Zat Warna

Fiksasi pada kain yang telah dicap bertujuan agar lapisan zat warna dalam pasta cap masuk dan
berikatan dengan serat membentuk ikatan seperti ikatan hydrogen, gaya van der wals, ikatan
elektrovalen, dan ikatan kovalen sehingga hasil cap memiliki ketahanan luntur warna. Fiksasi
dapat dilakukan dengan beberapa metoda fiksasi, seperti metoda perangin– angin, metoda
pengukusan (Steaming), udara panas (Thermofiksasi), dan pengerjaan dalam larutan kimia
(Wet Development). Pemilihan metoda fiksasi bergantung pada jenis zat warna, pengental, dan
peralatan yang tersedia.

2.8 Pencucian

Proses pencucian setelah fiksasi zat warna, dimaksudkan untuk menghilangan zat warna yang
tidak terfiksasi, pengental dan zat-zat kimia pembantu sehingga akan diperoleh hasil pewarnaan
yang brilian, mempunyai ketahanan luntur yang baik dan pegenan kain cap yang lembut.
Demikian pula akan memberikan hasil yang memuaskan pada proses penyempurnaan
berikutnya, misalnya pada proses penyempurnaan tahan kusust dan sebagainya.
Pada umumnya proses pencucian diawali dengan cuci dingin dan panas dimaksudkan untuk
pembasahan dan pengembangan lapisan pasta cap sehingga mudah dilarutkan dan lepas dari
kain, selanjutnya penyabunan dengan deterjen dan zat-zat kimia pada temperatur yang sesuai
dimaksudkan agar keseluruhan sisa-sisa residu termasuk zat warna yang tidak terfiksasi
dilepaskan dari kain secera penetrasi, pelarutan, pendispersi dan dekomposisi. Kemudian
diikuti dengan pembilasan panas dan dingin serta pengeringan. Penodaan area di luar motif oleh
sisa-sisa zat warna yang berbeda di dalam larutan pencuci merupakan resiko yang mungkin
terjadi jika konsentrasi zat warna yang tidak terfiksasi dalam jumlah yang cukup besar. Hal ini
dapat dihindari jika telah dilakukan seleksi dengan baik terhadap zat warna yang dipakai, zat
pengental dan kondisi fiksasi yang tepat, sehingga fikasasi zat warna dapat ditingkatkan dan
sisa-sisa zat warna yang tidak terfiksasi dapat diminimalkan.
Demikian pula kondisi optimum setiap pencucian juga harus disesuaikan terhadap setiap
kombinasi zat warna dan jenis serat. Zat-zat warna yang tidak terfiksasi dapat dihilangkan
secara cepat dengan menggunakan temperatur tinggi, sebaliknya penodaan pada area di luar
motif akan berlangsung lebih lambat jika temperatur pencucian rendah. Oleh karena itu perlu
adanya pertimbanganpertimbangan dalam menentukan kondisi optimum pencucian.
BAB III
PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan


3.1.1. Alat
1. Gelas piala 500 mL
2. Gelas ukur 100 mL
3. Pipet ukur 10 mL
4. Cangkir
5. Mixer
6. Batang pengaduk
7. Neraca digital

3.1.2. Bahan
1. Kain kapas
2. Alginat
3. Air
4. Zat Warna Reaktif
5. Zat Warna Bejana
6. Gliserin
7. Zat Anti Reduksi
8. Na2S2O4
9. NaHCO3
10. NaOH 48oBe
3.2. Diagram Alir

Pembuatan Pembuatan Pasta Proses Pencapan


Pengental Alginat Cap zw reaktif

Pencapan zat
Drying Drying
warna bejana

Baking
Pembilasan Oksidasi
150-170oC, 2 -3
menit

Evaluasi Pencucian

3.3. Resep
3.3.1. Resep Pengental Alginat 5%

No Resep Kebutuhan Zat

1 Alginate 5 gram
2 Air 95 gram
Total 100 gram
3.3.2. Resep Pasta Cap zat warna Reaktif
Kebutuhan Zat
No Resep
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
1 Zat warna Reaktif 30 gram
2 NaHCO3 20 gram
3 Zat anti Reduksi 20 gram
4 Gliserin 100 gram
5 Pengental Alginat 700 gram
6 Ballance 130 gram
Total 1000 gram
7 Suhu Drying 100oC
3.3.3 Resep Pasta Cap Zat Warna Bejana
Kebutuhan Zat
No Resep
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
1 Zat warna Bejana 30 gram
2 NaHSO4 40 gram
3 NaOH 48oBe 10 gram
4 Pengental Alginat 700 gram
5 Ballance 220 gram
Total 1000 gram
6 Suhu Baking 150oC 170oC
7 waktu 1 menit 2 menit 1 menit 2 menit
3.3.4. Resep oksidasi

No Resep Kebutuhan Zat

1 H2O2 35% 5 ml
2 Suhu 60oC
3 Waktu 2-5 menit
3.3.5. Resep Pencucian

No Resep Kebutuhan Zat

1 Deterjen/Teepol 1 mL/L
2 Kebutuhan larutan 100 mL
3 Suhu 70oC
4 Waktu (menit) 10 menit
3.4. Perhitungan Resep
1. Resep Pengental Alginat 5%
 Kebutuhan : 1000 gram (untuk semua kelompok)
 Alginat : 5 x 1000 = 50 gram
100
 Air : 95 x 1000 = 950 gram
100
2. Resep Pasta Cap Zw Reaktif
30
 Zat Warna Reaktif : 1000 𝑥 75 = 2,25 𝑔𝑟𝑎𝑚
20
 Zat Anti Reduksi : 1000 𝑥 75 = 1,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
 Gliserin : 1000 𝑥 75 = 7,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
20
 NaHCO3 : 1000 𝑥 75 = 1,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
700
 Pengental Alginat : 1000 𝑥 75 = 52,5 𝑔𝑟𝑎𝑚

3. Resep Pasta Cap Zw Bejana


30
 Zat Warna Bejana : 𝑥 75 = 2,25 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
10
 NaOH 48oBe : 1000 𝑥 75 = 0,75 𝑔𝑟𝑎𝑚
40
 NaHSO4 : 1000 𝑥 75 = 3 𝑔𝑟𝑎𝑚
700
 Pengental Alginat : 1000 𝑥 75 = 52,5 𝑔𝑟𝑎𝑚

3.5. Fungsi Zat


1. Zat warna Bejana : Sebagai zat yang memberikan warna pada pasta cap.
2. Zat Warna Reaktif : Sebagai zat yang memberikan warna pada pasta cap.
3. Pengental Alginat : Meningkatkan kekentalan pasta cap, melekatkan zat
warna pada bahan tekstil dan sebagai pengatur viskositas.
4. Zat Anti migrasi : sebagai zat yang menghambat terjadinya migrasi zat
warnadalam serat pada saat proses thermofiksasi.
5. Gliserin : menjaga kelembaban pasta cap pada kain.
3.6. Prosedur Kerja
3.6.1. Pembuatan Pengental Alginat
1. Alginat bubuk ditimbang sesuai kebutuhan, sementara air hangat untuk pembuat
pengental disiapkan sesuai kebutuhan.
2. Ke dalam air hangat, bubuk Alginat dimasukkan sedikit demi sedikit sambil dikocok
dengan mixer sampai terbentuk larutan yang kental.

3.6.2. Pembuatan Pasta Cap


1. Mengambil pengental Alginat yang telah jadi sesuai dengan kebutuhan
2. Memasukkan zat warna dan zat pembantu ke dalamnya sesuai kebutuhan.
3. Diaduk terus sampai semua bagian merata.

3.6.3. Pencapan
1. kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka sempurna dan rata
pada meja cap.
2. Meletakkan screen pertama tepat berada pada bahan yang akan dicap.
3. Pasta cap diletakkan pada bagian pinggir screen (tidak mengenai motif).
4. Dilakukan pencapan dengan zat warna reaktif sebagai warna dasar, perakelan sebanyak
2 kali secara merata, dengan tekanan.
5. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke bawah agar dapat
mendorong zat warna masuk ke motif.
6. Screen kemudian dilepaskan.
7. Berikutnya dilakukan perakelan untuk screen motif dengan zat warna bejana. Screen
diletakkan tepat pada motif.
8. Setelah selesai, pasta cap dibiarkan pada hingga mengering.
9. Dilakukan proses pengeringan dahulu pada setiap kain.
10. Dilakukan proses fiksasi baking untuk setiap kainnya.
11. Dilakukan proses oksidasi.
12. Dilakukan proses pencucian (cuci panas & dingin).
13. Kain dipotong menjadi 2 untuk proses evaluasi dan dilakukan pencucian pada potongan
pertama.
14. Lakukan evaluasi (ketuaan warna, kerataan motif, ketajaman motif, ketahanan luntur
terhadap pencucian).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Praktikum


4.1.1. Ketuaan Warna
1. Warna dasar
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
Baking suhu Baking suhu Baking suhu Baking suhu
Orang Ke-
150oC selama 2 150oC selama 3 170oC selama 2 170oC selama 3
menit menit menit menit
1 3 1 4 2
2 2 1 4 3
3 4 2 3 1
4 3 1 2 4
TOTAL 12 5 13 10

Skor ketuaan = kain 3, kain 1, kain 4, kain 2


2. Warna motif
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
Baking suhu Baking suhu Baking suhu Baking suhu
Orang Ke-
150oC selama 2 150oC selama 3 170oC selama 2 170oC selama 3
menit menit menit menit
1 1 2 3 4
2 2 1 4 3
3 2 3 2 1
4 3 1 4 2
TOTAL 8 7 13 10

Skor ketuaan = kain 3, kain 4, kain 1, kain 2


4.1.2. Kerataan Motif
1. Warna Dasar
Orang Ke- Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
Baking suhu Baking suhu Baking suhu Baking suhu
150oC selama 2 150oC selama 3 170oC selama 2 170oC selama 3
menit menit menit menit
1 3 1 4 2
2 2 1 3 4
3 3 1 4 2
4 2 3 4 1
TOTAL 10 5 15 9

Skor kerataan = kain 3, kain 1, kain 4, kain 1


2. Warna Motif
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
Baking suhu Baking suhu Baking suhu Baking suhu
Orang Ke-
150oC selama 2 150oC selama 3 170oC selama 2 170oC selama 3
menit menit menit menit
1 3 4 1 2
2 3 2 4 1
3 3 1 4 2
4 4 2 3 1
TOTAL 13 9 12 6

Skor kerataan = kain 1, kain 3, kain 2, kain 4


4.1.2. Ketahanan Luntur Terhadap Pencucian
 Nilai Greyscale
Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4
Baking suhu Baking suhu Baking suhu Baking suhu
Kain:
150oC selama 2 150oC selama 3 170oC selama 2 170oC selama 3
menit menit menit menit
Warna motif 4 4/5 4 4
Warna dasar 4 4/5 3/4 4/5
4.2. Pembahasan
BAB V
SIMPULAN

5.1. Simpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Hasil pencapan yang paling optimum adalah kain dengan pencapan dengan fiksasi
waktu steaming selama 20 menit.
2. Ketuaan warna untuk warna biru yang paling baik adalah kain 3 yaitu waktu setaming
selama 15 menit dibandingkan kain yang lainnya.
3. Ketuaan warna untuk warna kuning yang paling baik adalah kain 3 yaitu waktu setaming
selama 15 menit menit dibandingkan kain yang lainnya.
4. Kerataan warna untuk warna biru yang paling baik adalah kain 4 yaitu waktu setaming
selama 20 menit menit dibandingkan kain yang lainnya.
5. Ketuaan warna untuk warna kuning yang paling baik adalah kain 4 yaitu waktu setaming
selama 20 menit menit dibandingkan kain yang lainnya.
6. Hasil uji tahan luntur warna dengan hasil paling baik warna biru adalah kain 3 yaitu
waktu steaming selama 15 menit dan kain 4 yaitu waktu setaming selama 20 menit menit
dibandingkan kain yang lainnya.
7. Hasil uji tahan luntur warna dengan hasil paling baik warna kuning adalah kain 3 yaitu
waktu steaming selama 15 menit dan kain 4 yaitu waktu setaming selama 20 menit menit
dibandingkan kain yang lainnya.

Anda mungkin juga menyukai