Anda di halaman 1dari 2

Cara Sederhana Deteksi Dini Difteri pada Anak

Difteri beberapa waktu terakhir menjadi wabah yang ditakuti. Sebabnya, banyak wilayah
Indonesia mengalami kejadian luar biasa difteri. Bahkan, sudah menimbulkan korban jiwa
dengan jumlah yang tidak sedikit. Penyakit ini pun mengalami penyebaran yang terbilang cepat.

Dokter spesialis tumbuh kembang anak, dr. Soedjatmiko, SpA(K), M.Si, penyakit difteri sangat
berbahaya, karena mudah menular. Terlebih, penyakit ini disebabkan bakteri yang menyerang
tenggorokan.

"Bakteri itu akan mengeluarkan racun yang merusak tenggorokan, baik pada anak-anak, remaja,
dan orang dewasa," ujar Soedjatmiko, saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu silam.

Selain itu, racun tersebut bila terus menumpuk di tenggorokan akan membentuk seperti
membran putih, dan jika terus menebal, dia akan menyumbat saluran napas. Pada balita dan
anak, tenggorokan yang tersumbat ini akan membuat mereka tidak bisa bernapas dan akhirnya
meninggal.

Jika ada anak yang sudah terserang difteri, ketika dia berbicara atau bersin, racun ini akan
tersebar keluar. Bakteri difteri yang mengeluarkan racun ini akan tersebar ke mana-mana.
Racun juga kemudian bisa menyerang otot jantung, sehingga pada minggu kedua bisa terjadi
kerusakan jantung yang menyebabkan kematian.

Soedjatmiko menjelaskan, ada dua upaya utama dalam mencegah penyebaran difteri. Pertama
adalah segera mendeteksi suspect, atau tersangka difteri, periksa dan obati. Kalau sudah
terbentuk, kumannya segera dimatikan dan racunnya dinetralisir.

"Semua yang dicurigai harus segera periksa. Caranya adalah semua orangtua meminta anaknya
membuka mulut sambil bilang 'A' berkali-kali, lihat apakah tenggorokan, lubang hidungnya, ada
lapisan putih tebal," lanjutnya.

Jika ada, segera bawa anak ke puskesmas dan lakukan pemeriksaan laboratorium. Bagi para
dokter, Soedjatmiko menyarankan, kalau mencurigakan, amankan dengan memberikan obat
dan rawat anak. Matikan kumannya dengan memberikan antibiotik, dan netralisir racunnya
menggunakan anti difteri serum (ADS).

Kemudian, lakukan isolasi pada pasien dan jangan dijenguk oleh siapa pun. Ini untuk mencegah,
agar tidak menjalar ke mana-mana. Semua tenaga kesehatan yang merawat, juga harus
diperiksa secara periodik, tertular atau tidak harus segera vaksinasi.
"Orangtua dan semua keluarga pasien juga harus diberikan vaksin, mendapatkan antibiotik
untuk mematikan kuman dengan tujuan agar tidak menyebar ke tempat lain," tambah
Soedjatmiko.

Para guru dan siswa tempat anak suspect difteri juga harus melakukan pemeriksaan. Selain itu,
juga diberikan antibiotik, juga vaksin.

Langkah kedua dalam pencegahan penyebaran difteri adalah outbreak response immunization
(ORI). Mereka yang bukan pasien dan tidak kontak dengan pasien, juga harus dilindungi dengan
memberikan suntikan tambahan tiga kali, walaupun sudah melakukan imunisasi lengkap.