Anda di halaman 1dari 9

Usia kamera dan shutter count

by ENCHE TJIN on JANUARY 5, 2014

Banyak orang yang menentukan lamanya hidup sebuah kamera dari shutter
count/shutter actuation, alias berapa kali kamera menjepret gambar. Hal ini
timbul karena biasanya produsen kamera melakukan pengetesan
mekanisme shutter. Contohnya ada kamera yang lolos tes 50.000 kali
jepret, ada yang lebih dari 100.000 kali. Semakin canggih sebuah kamera,
biasanya semakin tinggi angka tesnya. Nama tes ini biasanya
disebut shutter durability.
Angka shutter durability biasanya dianggap angka harapan hidup sebuah
kamera, tapi ini sebenarnya kurang tepat, karena sebuah kamera belum
tentu rusak meskipun sudah dipakai terus sampai melewati angka shutter
durability. Sebaliknya, bisa jadi sebelum angka itu terlampaui, kamera bisa
saja sudah rusak, karena di dalam kamera digital, bukan hanya mekanisme
shutter saja yang berpengaruh langsung ke harapan hidup sebuah kamera,
tapi banyak komponen eletronik lain yang menentukan.

Meski rusak, mekanisme shutter sebuah kamera bisa diganti, tapi ya


biasanya cukup tinggi harganya dan tergantung jenis kameranya. Jika
kameranya memang sudah tua, (berumur lebih dari 5 tahun), mengganti
mekanisme shutter mungkin kurang efisien dibandingkan membeli kamera
baru dengan teknologi yang lebih canggih.

Dulu saya pernah membaca sebuah survey yang tidak scientific tapi cukup
menarik. Dari survei tersebut didapatkan bahwa usia harapan hidup kamera
digital biasanya terkait dengan harganya, misalnya harganya $100, maka
usianya hanya akan bertahan 1 tahun, dan kalau harganya $500 juta,
biasanya rusak setelah 5 tahun. Survei ini masuk akal juga, tapi tidak bisa
jadi patokan yang resmi. Masuk akalnya karena biasanya kualitas dan daya
tahan barang-barang elektronik berhubungan erat dengan harganya.
Selain indikator-indikator diatas, usia kamera digital biasanya
bertahan sekitar 10 tahun sejak kamera itu diluncurkan, setelah itu,
kemungkinan besar tidak ada yang membuat spare-partnya lagi, sehingga
jika tidak diteruskan, maka jika ada komponen yang rusak, kameranya tidak
bisa diperbaiki lagi.
Menurut saya, kita tidak perlu terlalu kuatir tentang shutter count. Foto saja
jika memang hobi, tapi juga jangan terlalu boros dengan asal jepret. Saat
membeli atau menjual kamera bekas, biasanya saya akan memeriksa
shutter countnya untuk mendapatkan gambaran seberapa banyak
penggunaan kamera tersebut. Semakin tinggi shutter countnya, harga
kamera tersebut akan menurun.

Cara memeriksa shutter count kamera


Untuk mengetahui bagaimana memeriksa shutter count kamera, ambilah
sebuah foto berformat JPG (asal bukan RAW), lalu bukalah EXIF (metadata
file yang disisipkan ke dalam foto) dengan software pembaca gambar dan
data EXIF, seperti IrfanView+plug-in untuk melihat metadatanya. Di
Irfanview, bukalah foto, kemudian ke menu Image>Information>EXIF.
Carilah “Total Pictures.”

Exif data foto diatas dengan IrfanView. Total Pictures = Shutter count/actuation

Software lain yang gratisan yaitu Opanda Iexif. Untuk Opanda, setelah
terinstall, bukalah foto dengan software ini. Di tab EXIF, gulunglah kebawah
dan carilah “Total Number of Shutter Releases for Camera” Angka
disampingnya adalah jumlah shutter count (jumlah berapa kali jepret
dengan kamera tersebut).
Foto ini adalah foto yang ke 65071 dari jepretan kamera Nikon D700. Data diperoleh
dengan software Irfanview. ISO 400, 85mm, f/2, 1/160 detik – Nikon D700 dan 85mm
f/1.4D. Model: Stella Felicia

Usia kamera dan shutter count


by ENCHE TJIN on JANUARY 5, 2014

Banyak orang yang menentukan lamanya hidup sebuah kamera dari shutter
count/shutter actuation, alias berapa kali kamera menjepret gambar. Hal ini
timbul karena biasanya produsen kamera melakukan pengetesan
mekanisme shutter. Contohnya ada kamera yang lolos tes 50.000 kali
jepret, ada yang lebih dari 100.000 kali. Semakin canggih sebuah kamera,
biasanya semakin tinggi angka tesnya. Nama tes ini biasanya
disebut shutter durability.
Angka shutter durability biasanya dianggap angka harapan hidup sebuah
kamera, tapi ini sebenarnya kurang tepat, karena sebuah kamera belum
tentu rusak meskipun sudah dipakai terus sampai melewati angka shutter
durability. Sebaliknya, bisa jadi sebelum angka itu terlampaui, kamera bisa
saja sudah rusak, karena di dalam kamera digital, bukan hanya mekanisme
shutter saja yang berpengaruh langsung ke harapan hidup sebuah kamera,
tapi banyak komponen eletronik lain yang menentukan.

Meski rusak, mekanisme shutter sebuah kamera bisa diganti, tapi ya


biasanya cukup tinggi harganya dan tergantung jenis kameranya. Jika
kameranya memang sudah tua, (berumur lebih dari 5 tahun), mengganti
mekanisme shutter mungkin kurang efisien dibandingkan membeli kamera
baru dengan teknologi yang lebih canggih.

Dulu saya pernah membaca sebuah survey yang tidak scientific tapi cukup
menarik. Dari survei tersebut didapatkan bahwa usia harapan hidup kamera
digital biasanya terkait dengan harganya, misalnya harganya $100, maka
usianya hanya akan bertahan 1 tahun, dan kalau harganya $500 juta,
biasanya rusak setelah 5 tahun. Survei ini masuk akal juga, tapi tidak bisa
jadi patokan yang resmi. Masuk akalnya karena biasanya kualitas dan daya
tahan barang-barang elektronik berhubungan erat dengan harganya.
Selain indikator-indikator diatas, usia kamera digital biasanya
bertahan sekitar 10 tahun sejak kamera itu diluncurkan, setelah itu,
kemungkinan besar tidak ada yang membuat spare-partnya lagi, sehingga
jika tidak diteruskan, maka jika ada komponen yang rusak, kameranya tidak
bisa diperbaiki lagi.
Menurut saya, kita tidak perlu terlalu kuatir tentang shutter count. Foto saja
jika memang hobi, tapi juga jangan terlalu boros dengan asal jepret. Saat
membeli atau menjual kamera bekas, biasanya saya akan memeriksa
shutter countnya untuk mendapatkan gambaran seberapa banyak
penggunaan kamera tersebut. Semakin tinggi shutter countnya, harga
kamera tersebut akan menurun.

Cara memeriksa shutter count kamera


Untuk mengetahui bagaimana memeriksa shutter count kamera, ambilah
sebuah foto berformat JPG (asal bukan RAW), lalu bukalah EXIF (metadata
file yang disisipkan ke dalam foto) dengan software pembaca gambar dan
data EXIF, seperti IrfanView+plug-in untuk melihat metadatanya. Di
Irfanview, bukalah foto, kemudian ke menu Image>Information>EXIF.
Carilah “Total Pictures.”
Exif data foto diatas dengan IrfanView. Total Pictures = Shutter count/actuation

Software lain yang gratisan yaitu Opanda Iexif. Untuk Opanda, setelah
terinstall, bukalah foto dengan software ini. Di tab EXIF, gulunglah kebawah
dan carilah “Total Number of Shutter Releases for Camera” Angka
disampingnya adalah jumlah shutter count (jumlah berapa kali jepret
dengan kamera tersebut).
Foto ini adalah foto yang ke 65071 dari jepretan kamera Nikon D700. Data diperoleh
dengan software Irfanview. ISO 400, 85mm, f/2, 1/160 detik – Nikon D700 dan 85mm
f/1.4D. Model: Stella Felicia