Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus di mana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya
isi usus, yaitu oleh karena kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar
usus yang menekan. Hambatan pada jalan isi usus akan menyebabkan isi usus
terhalang dan tertimbun di bagian proksimal dari sumbatan, sehingga pada
daerah proksimal tersebut akan terjadi distensi atau dilatasi usus. Dapat terjadi
pada usus halus maupun usus besar.1
Pada ileus obstruksi dapat dibedakan lagi menjadi obstruksi sederhana dan
obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana ialah obstruksi yang tidak disertai
terjepitnya pembuluh darah. Pada strangulasi ada pembuluh darah terjepit
sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren
yang ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari
jaringan gangren. Jadi strangulasi memperlihatkan kombinasi gejala obstruksi
dan gejala sistemik akibat adanya toksin dan sepsis. Obstruksi usus yang
disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi, dan volvulus mungkin sekali
disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau askaris adalah
obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ileus Obstruktif

2.1.1 Definisi Ileus Obstruktif

Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus di


mana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau
menganggu jalannya isi usus, yaitu oleh karena kelainan dalam lumen
usus, dinding usus atau luar usus yang menekan. Hambatan pada jalan isi
usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan tertimbun di bagian
proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal tersebut akan
terjadi distensi atau dilatasi usus. Dapat terjadi pada usus halus maupun
usus besar.1

2.1.2 Etiologi Ileus Obstruktif

Ekstraluminal Intrinsik Intraluminal

Adhesi Intususepsi Batu empedu

Hernia Penyakit Crohn


inkarserata

Neoplasma Kongenital (volvulus)

Abses, Striktur
hematoma

Hernia inkarserata eksternal (inguinal, femoral, umbilikal, insisional, atau


parastomal) merupakan yang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus obstruktif,
dan merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat
operasi abdomen. Hernia interna (paraduodenal, kecacatan mesentericus, dan
hernia foramen Winslow) juga bisa menyebabkan hernia.2

2
 Neoplasma. Tumor primer usus halus dapat menyebabkan obstruksi
intralumen, sedangkan tumor metastase atau tumor intraabdominal dapat
menyebabkan obstruksi melalui kompresi eksternal.
 Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau
penumpukan cairan.
 Intususepsi usus halus menimbulkan obstruksi dan iskhemia terhadap
bagian usus yang mengalami intususepsi. Tumor, polip, atau pembesaran
limphanodus mesentericus dapat sebagai petunjuk awal adanya
intususepsi.
 Penyakit Crohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi
akut selama masa infeksi atau karena striktur yang kronik.
 Volvulus sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital, seperti
malrotasi usus. Volvulus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus
besar.
 Divertikulum Meckel yang bisa menyebabkan volvulus, intususepsi, atau
hernia Littre.
 Batu empedu yang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat dari kantong
empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke duodenum atau usus
halus yang menyebabkan batu empedu masuk ke traktus gastrointestinal.
Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus, umumnya pada
bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.
 Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskhemia, inflamasi,
terapi radiasi, atau trauma operasi.

3
2.1.3 Patofisiologi Ileus Obstruktif

Penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya daya


mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga
menyebabkan penyempitan atau penyumbatan lumen usus. Hal tersebut
menyebabkan pasase lumen usus terganggu. Sehingga terjadi
pengumpulan isi lumen usus yang berupa gas dan cairan pada bagian
proksimal tempat penyumbatan yang menyebabkan pelebaran dinding
usus (distensi). Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan terjadinya
peningkatan tekanan intraluminal sehingga terjadi hipersekresi kelenjar
pencernaan. Dengan demikian akumulasi cairan dan gas semakin
bertambah sehingga menyebabkan distensi usus sebelah proksimal
sumbatan. Selain hipersekresi meningkat, kemampuan absorbsi usus pun
menurun, sehingga terjadi kehilangan volume sistemik yang besar dan
progresif. Hal ini dapat menyebabkan tejadinya syok hipovolemik. 3,4

Awalnya, peristaltik pada bagian proksimal usus meningkat


sebagai kompensasi adanya sumbatan atau hambatan. Bila obstruksi terus
berlanjut dan terjadi peningkatan tekanan intraluminal, maka bagian
proksimal dari usus tidak akan berkontraksi dengan baik dan bising usus
menjadi tidak teratur dan hilang. Peningkatan tekanan intraluminal dan
adanya distensi menyebabkan gangguan vaskuler terutama stasis vena.
Dinding usus menjadi udem dan terjadi translokasi bakteri ke pembuluh
darah. Produksi toksin yang disebabkan oleh adanya translokasi bakteri
menyebabkan timbulnya gejala sistemik. Efek lokal peregangan usus
adalah iskemik akibat nekrosis disertai absorbsi toksin-toksin bakteri ke
dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik. Hal ini biasanya terjadi
pada obstruksi usus dengan strangulasi. Bahaya umum dari keadaan ini
adalah sepsis. 3,4

Pada obstruksi mekanik sederhana, hambatan pasase muncul tanpa


disertai gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang

4
tertelan, sekresi usus dan udara akan berkumpul dalam jumlah yang
banyak jika obstruksinya komplit. Bagian proksimal dari usus mengalami
distensi dan bagian distalnya kolaps. Fungsi sekresi dan absorbsi membran
mukosa usus menurun dan dinding usus menjadi edema dan kongesti.
Distensi intestinal yang berat dengan sendirinya secara terus menerus dan
progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa serta
meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi, iskemik, nekrosis, perforasi,
peritonitis dan kematian. 3,4

2.1.4 Manifestasi Klinis Ileus Obstruktif


Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen,
mual, muntah, perut distensi dan tidak bisa buang air besar (obstipasi).
Mual muntah umumnya terjadi pada obstruksi letak tinggi. Bila lokasi
obstruksi di bagian distal maka gejala yang dominan adalah nyeri
abdomen. Distensi abdomen terjadi bila obstruksi terus berlanjut dan
bagian proksimal usus menjadi sangat dilatasi. 5
Obstruksi pada usus halus menimbulkan gejala seperti nyeri perut
sekitar umbilikus atau bagian epigastrium. Pasien dengan obstruksi partial
bisa mengalami diare. Kadang – kadang dilatasi dari usus dapat diraba.
Obstruksi pada kolon biasanya mempunyai gejala klinis yang lebih ringan
dibanding obstruksi pada usus halus. Umumnya gejala berupa konstipasi
yang berakhir pada obstipasi dan distensi abdomen. Muntah jarang terjadi.5
Pada obstruksi bagian proksimal usus halus biasanya muncul gejala
muntah yang terdiri dari cairan jernih hijau atau kuning dan terlihat dini
dalam perjalanan. Usus didekompresi dengan regurgitasi, sehingga tak
terlihat distensi. Jika obstruksi di distal di dalam usus halus atau kolon,
maka muntah timbul lambat dan setelah muncul distensi. Muntahannya
kental dan berbau busuk (fekulen) sebagai hasil pertumbuhan bakteri
berlebihan sekunder terhadap stagnansi. 2
Nyeri perut bervariasi dan bersifat intermittent atau kolik dengan
pola naik turun. Jika obstruksi terletak di bagian tengah atau letak tinggi

5
dari usus halus (jejenum dan ileum bagian proksimal) maka nyeri bersifat
konstan/menetap.

2.1.5 Pemeriksaan Fisik

Pada tahap awal, tanda vital normal. Seiring dengan kehilangan


cairan dan elektrolit, maka akan terjadi dehidrasi dengan manifestasi klinis
takikardi dan hipotensi postural. Suhu tubuh biasanya normal tetapi
kadang – kadang dapat meningkat.2

Pada pemeriksaan abdomen didapatkan:

Inspeksi Abdomen tampak distensi: dapat ditemukan Darm


Contour (gambaran usus) dan Darm Steifung (gambaran gerakan usus).
Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu
hernia inkarserata Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen
berbentuk sosis Bila ada bekas luka operasi sebelumnya dapat dicurigai
adanya adhesi.

Auskultasi: hiperperistaltik, berlanjut dengan Borborygmus (bunyi


usus mengaum) menjadi bunyi metalik (klinken) / metallic sound. Pada
fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang. 4,6

Perkusi: hipertimpani. Pada obstruksi usus dengan strangulasi


dapat ditemukan ascites.

Palpasi: kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi,


hernia. Dan pada obstruksi usus dengan strangulasi dapat ditemukan
ascites. Pada obstruksi usus dengan strangulasi didapatkan adanya rasa
nyeri abdomen yang hebat dan bersifat menetap makin lama makin hebat,
demam, takikardi, hipotensi dan gejala dehidrasi yang berat. Pada
pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen tampak distensi, didapatkan
ascites dan peristaltik meningkat (bunyi Borborigmi). Pada tahap lanjut di
mana obstruksi terus berlanjut, peristaltik akan melemah dan hilang.

6
Adanya feces bercampur darah pada pemeriksaan rectal toucher dapat
dicurigai adanya keganasan dan intususepsi. 3,6

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang

Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam


menegakkan diagnosis, tetapi sangat membantu memberikan penilaian
berat ringannya dan membantu dalam resusitasi. Pada tahap awal,
ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya ditemukan adanya
hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal.
Peningkatan serum amilase sering didapatkan. Leukositosis menunjukkan
adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pada 38% - 50%
obstruksi strangulasi dibandingkan 27% - 44% pada obstruksi non
strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi.
Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah
mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan
metabolik asidosis bila ada tanda – tanda shock, dehidrasi dan ketosis. 7,8

Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level yang
banyak di beberapa tempat (multiple air fluid level) yang tampak
terdistribusi dalam susunan tangga (step ladder appearance), sedangkan
usus sebelah distal dari obstruksi akan tampak kosong. Jumlah loop dari
usus halus yang berdilatasi secara umum menunjukkan tingkat obstruksi.
Bila jumlah loop sedikit berarti obstruksi usus halus letaknya tinggi,
sedangkan bila jumlah loop lebih banyak maka obstruksi usus halus
letaknya rendah. Semakin distal letak obstruksi, jumlah air fluid level akan
semakin banyak, dengan tinggi yang berbeda-beda sehingga berbentuk
step ladder appearance.6,7

Bayangan udara di dalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer


dan biasanya berbentuk huruf “U” terbalik. Obstruksi kolon ditandai
dengan dilatasi proksimal kolon sampai ke tempat obstruksi, dengan
dekompresi dari kolon bagian distal. Kolon bagian proksimal sampai letak

7
obstruksi akan lebih banyak berisi cairan daripada feses. Usus halus
bagian proksimal mungkin berdilatasi, mungkin juga tidak. Dugaan tumor
kolon dapat dibuat foto barium enema. Foto polos abdomen mempunyai
tingkat sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas
84% pada obstruksi kolon. Foto thoraks PA diperlukan untuk mengetahui
adanya udara bebas yang terletak di bawah diafragma kanan yang
menunjukkan adanya perforasi. 6,7

CT scan kadang – kadang digunakan untuk menegakkan diagnosa


pada obstruksi usus halus untuk mengidentifikasi pasien dengan obstruksi
yang komplit dan pada obstruksi usus besar yang dicurigai adanya abses
maupun keganasan. 6,7,8

2.1.7 Penatalaksanaan
 Pre-operatif
Dasar pengobatan obstruksi usus meliputi: penggantian kehilangan cairan
dan elektrolit ke dalam lumen usus sampai pencapaian tingkat normal hidrasi
dan konsentrasi elektrolit bisa dipantau dengan mengamati pengeluaran urin
(melalui kateter), tanda vital, tekanan vena sentral dan pemeriksaan
laboratorium berurutan.
Dekompresi traktus gastrointestinal dengan sonde yang ditempatkan
intralumen dengan tujuan untuk dekompresi lambung sehingga memperkecil
kesempatan aspirasi isi usus, dan membatasi masuknya udara yang ditelan ke
dalam saluran pencernaan, sehingga mengurangi distensi usus yang bisa
menyebabkan peningkatan tekanan intalumen.
Pemberian obat – obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai
profilaksis. Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual
muntah.
 Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk
mencegah sepsis sekunder. Operasi diawali dengan laparatomi kemudian
disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama

8
laparatomi. Jika obstruksinya berhubungan dengan suatu simple obstruksi atau
adhesi, maka tindakan lisis yang dianjurkan. Jika terjadi obstruksi stangulasi
maka reseksi intestinal sangat diperlukan. Pada umumnya dikenal 4 macam
6
(cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus. Koreksi
sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana
untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia inkarserata non-
strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan. Tindakan
operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus
yang tersumbat, misalnya pada tumor intraluminal, Crohn disease, dan
sebagainya.1
Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat
obstruksi, misalnya pada Ca stadium lanjut. Melakukan reseksi usus yang
tersumbat dan membuat anastomosis ujung- ujung usus untuk
mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus,
kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena
penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari
dilakukan reseksi usus dan anastomosis.
 Post-operatif
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan
elektrolit. Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan
kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam
keadaan paralitik

9
2.2 General Anestesi (Anestesi Umum)
2.2.1 Definisi anestesi umum
Anestesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara
sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi
umum yang sempurna menghasilkan ketidaksadaran, analgesia,
relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari
pasien.4
2.2.2 Tujuan Anestesi Umum
Tujuan anestesi umumyang ideal adalah trias anestesi yang terdiri dari :
 Hipnotik, Hipnotik didapat dari sedatif, anestesi inhalasi (halotan,
enfluran, isofluran, sevofluran).
 Analgesia, Analgesia didapat dari N2O, analgetika narkotik,
NSAID tertentu.
 Relaksasi otot, Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi
tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan
pembedahan.

2.2.3 Metode Anestesi umum


a. Parenteral
Anestesi umum secara intravena maupun intramuskular biasanya
digunakan untuk tindakan operasi yang singkat atau untuk induksi
anestesi.
b. Inhalasi
Anestesi inhalasi adalah anestesi dengan menggunakan gas atau
cairan anestesi yang mudah menguap sebagai zat anestetika melalui
udara pernafasan. Zat anestetika yang dipergunakan berupa
campuran suatu gas (dengan O2) dan konsentrasi zat anestetika
tersebut tergantung dari tekanan parsialnya. Tekanan parsial dalam
jaringan otak menentukan kekuatan daya anestesi, zat anestetik
disebut kuat bila dengan tekanan parsial rendah sudah mampu
memberi anestesia yang adekuat.4,5

10
c. Perektal
Anestesi perektal kebanyakan dipakai pada anak-anak, terutama
untuk induksi anestesi atau tindakan operasi singkat.4

2.2.4 Keuntungan dan Kerugian Anestesi Umum


Keuntungan :
 Membuat pasien lebih tenang
 Untuk operasi yang lama
 Dilakukan pada kasus-kasus yang memiliki alergi terhadap
agen anestesia lokal
 Dapat dilakukan tanpa memindahkan pasien dari posisi
supine (terlentang)
 Dapat dilakukan prosedur penanganan (pertolongan) dengan
cepat dan mudah pada waktu-waktu yang tidak terprediksi.
Kerugian :
 Membutuhkan pemantauan ekstra selama anestesi berlangsung.
 Membutuhkan mesin-mesin yang lengkap.
 Dapat menimbulkan komplikasi yang berat, seperti :
kematian, infark myokard, dan stroke.
 Dapat menimbulkan komplikasi ringan seperti : mual,
muntah,sakit tenggorokkan, sakit kepala. Resiko terjadinya
komplikasi pada pasien dengan anestesi umum adalah kecil,
bergantung beratnya komorbit penyakit pasiennya.

2.2.5 Penilaian dan Persiapan Prabedah


 Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia
sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-
hal yang perlu mendapat perhatian khusus,misalnya alergi, mual-
muntah, nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah,
sehingga dapat dirancang anestesia berikutnya dengan lebih baik.

11
Beberapa penelitian menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan
masalah dimasa lampau sebaiknya jangan digunakan ulang,
misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam waktu tiga bulan,
suksinilkolin yang menimbulkan apnoe berkepanjangan juga
jangan diulang.4

 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif
besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan
tindakan laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan
menyulitkan laringoskopi intubasi. Pemeriksaan rutin secara
sistemik tentang keadaan umum tentu tidak boleh dilewatkan
seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua sistem organ
tubuh pasien.4

 Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai
dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai.Pemeriksaan yang
dilakukan meliputi pemeriksaan darah rutin (Hb, lekosit, masa
perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien
diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.4

 Kebugaran untuk anestesia


Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk
menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada
operasi sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.4

 Klasifikasi status fisik


Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran
fisik seseorang adalah yang berasal dari The American Society of
Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan

12
risiko anestesia, karena efek samping anestesia tidak dapat
dipisahkan dari efek samping pembedahan.
 Kelas I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
 Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
 Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga
aktivitas rutin terbatas.
 Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat
melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman
kehidupannya setiap saat.
 Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam
Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan
mencantumkan tanda darurat (E = EMERGENCY), misalnya
ASA IE atau IIE.4

 Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia.
Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan
napas merupakan risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani
anestesi. Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang
dijadwalkan untuk operasi elektif dengan anestesi harus
dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode tertentu
sebelum induksi anestesi.4
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6
jam dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5
jam sebelum induksi anestesi. Minuman bening, air putih teh manis
sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam
jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesi.4

13
 Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi
anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan
bangun dari anestesi diantaranya : 4
 Meredakan kecemasan dan ketakutan
 Memperlancar induksi anestesi
 Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
 Meminimalkan jumlah obat anestesi
 Mengurangi mual-muntah pasca bedah
 Menciptakan amnesia
 Mengurangi isi lambung
 Mengurangi reflex yang membahayakan
Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam
waktu 1 jam, sedangkan secara intramuskular minimum harus
ditunggu 40 menit. Pada kasus yang sangat darurat dengan
waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-obat dapat
diberikan secara intravena.4
Bila pembedahan belum dimulai dalam waktu 1 jam
dianjurkan pemberian premedikasi intramuscular, subkutan
tidak dianjurkan. Semua obat premedikasi bila diberikan secara
intravena dapat menyebabkan sedikit hipotensi kecuali atropine
dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi dengan pemberian secara
perlahan-lahan dan diencerkan.4

Obat – obat premedikasi yang bisa diberikan antara lain :


 Gol. Antikolinergik
Atropin : Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar
ludah, antimual dan muntah, melemaskan tonus otot polos
organ – organ dan menurunkan spasme gastrointestinal.
Dosis 0,4 – 0,6 mg IM bekerja setelah 10 – 15 menit.4

14
 Gol. Hipnotik – sedatif
Barbiturat (Penobarbital dan Sekobarbital) : Diberikan untuk
efek sedasi dan mengurangi kekhawatiran sebelum operasi.
Obat ini dapat diberikan secara oral atau IM. Dosis dewasa
100 – 200 mg, pada bayi dan anak 3-5
mg/kgBB.Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak
diperpanjang dan efek depresannya yang lemah terhadap
pernapasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan
muntah.4
 Gol. Analgetik narkotik
Morfin : Diberikan untuk mengurangi kecemasan dan
ketegangan menjelang operasi. Dosis premedikasi dewasa 10
– 20 mg. Kerugian penggunaan morfin ialah pulih pasca
bedah lebih lama, penyempitan bronkus pada pasien asma,
mual dan muntah pasca bedah ada.
Pethidin : Dosis premedikasi dewasa 25 – 100 mg
IV.Diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan
serta merangsang otot polos.Pethidin juga berguna mencegah
dan mengobati menggigil pasca bedah.4
 Gol. Transquilizer
Diazepam (Valium) : Merupakan golongan
benzodiazepine.Pemberian dosis rendah bersifat sedatif
sedangkan dosis besar hipnotik.Dosis premedikasi dewasa
0,2 mg/kgBB IM.4

2.2.6 Induksi
Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan
pembedahan. Induksi dapat dikerjakan secara intravena, inhalasi,
intramuskular atau rektal. Setelah pasien tidur akibat induksi anestesia

15
langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesi sampai tindakan
pembedahan selesai.4
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan ‘STATICS’: 4
S : Scope  Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.
Laringo-Scope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia
pasien. Lampu harus cukup terang.
T : Tube  Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon
(cuffed) dan > 5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway  Pipa mulut faring (Guedel, oropharyngeal airway) atau
pipa hidung-faring (naso-pharyngeal airway). Pipa ini untuk menahan
lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak
menyumbat jalan napas.
T : Tape  Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau
tercabut.
I : Introducer  Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik
(kabel) yang mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea
mudah dimasukkan.
C : Connector  Penyambung antara pipa dan peralatan anestesi
S : Suction  Penyedot lender, ludah danlain-lainnya.

1. Induksi intravena
Paling banyak dikerjakan dan digemari. Induksi intravena
dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali.
Obat induksi bolus disuntikan dalam kecepatan antara 30-60 detik.
Selama induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah
harus diawasi dan selalu diberikan oksigen. Dikerjakan pada pasien
yang kooperatif.

16
 Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 1000 mg.
Sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai kepekatan
2,5% (1ml = 25mg). hanya boleh digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7
mg/kg disuntikan perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik.4 Efek
thiopental bergantung dosis dan kecepatan suntikan yang akan menyebabkan
pasien berada dalam keadaan sedasi, hipnosis, anestesi atau depresi napas.
Tiopental menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor dan tekanan
intrakranial.4
 Propofol (diprivan, recofol)
Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic
dengan kepekatan 1% (1ml = 1o mg). suntikan intravena sering menyebabkan
nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2
mg/kg intravena.4 Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk
anestesi intravena total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan
intensif 0.2 mg/kg. pengenceran hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak
dianjurkan untuk anak < 3 tahun dan pada wanita hamil.4
 Ketamin (ketalar)
Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi,
hipersalivasi, nyeri kepala, pasca anestesi dapat menimbulkan mual-muntah,
pandangan kabur dan mimpi buruk. Sebelum pemberian sebaiknya diberikan
sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam (valium) dengan dosis0,1 mg/kg
intravena dan untuk mengurangi salivasi diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg.4
Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuskular 3-10 mg. ketamin dikemas
dalam cairan bening kepekatan 1% (1ml = 10mg), 5% (1 ml = 50 mg), 10% (
1ml = 100 mg).4
 Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)
Diberikan dosis tinggi. Tidak mengganggu kardiovaskular, sehingga
banyak digunakan untuk induksi pasien dengan kelianan jantung. Untuk
anestesi opioid digunakan fentanil dosis 20-50 mg/kg dilanjutkan dosis
rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.4

17
2. Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan
secara intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5
menit pasien tidur.4

3. Induksi inhalasi
 N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen
monoksida) berbentuk gas, tak berwarna, bau manis, tak iritasi,
tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian harus
disertai O2 minimal 25%. Bersifat anastesi lemah, analgesinya
kuat, sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri
menjelang persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan
sendirian, tapi dikombinasi dengan salah satu cairan anastesi lain
seperti halotan.4
 Halotan (fluotan) Sebagai induksi juga untuk laringoskop
intubasi, asalkan anestesinya cukup dalam, stabil dan sebelum
tindakan diberikan analgesi semprot lidokain 4% atau 10% sekitar
faring laring.Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas,
menurunnya tonus simpatis, terjadi hipotensi, bradikardi,
vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi miokard, dan
inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesi lemah, anestesi
kuat. Halotan menghambat pelepasan insulin sehingga
meninggikan kadar gula darah.4
 Enfluran (etran, aliran) Efek depresi napas lebih kuat dibanding
halotan dan enfluran lebih iritatif dibanding halotan. Depresi
terhadap sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi lebih jarang
menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik
disbanding halotan.4
 Isofluran (foran, aeran) Meninggikan aliran darah otak dan
tekanan intrakranial. Peninggian aliran darah otak dan tekanan

18
intrakranial dapat dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi,
sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah otak.Efek
terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga
digemari untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan
pada pasien dengan gangguan koroner.4
 Desfluran (suprane) Sangat mudah menguap. Potensinya rendah
(MAC 6.0%), bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardi
dan hipertensi. Efek depresi napasnya seperti isofluran dan etran.
Merangsang jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk
induksi anestesi.4
 Sevofluran (ultane) Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat
dibandingkan isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak
merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi
inhalasi disamping halotan.4

4. Induksi per rektal


Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau
midazolam.4

5. Induksi mencuri
Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Induksi inhalasi
biasa hanya sungkup muka yang tidak kita tempelkan pada muka
pasien, tetapi kita berikan jarak beberapa sentimeter, sampai pasien
tertidur baru sungkup muka kita tempelkan.4

2.2.7 Stadium Anestesi


Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4
stadium (stadium III dibagi menjadi 4 plana), yaitu: 4
 Stadium I (analgesi), dimulai dari saat pemberian zat anestetik
sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih
dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa

19
sakit). Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi
dan biopsi kelenjar dapat dilakukan pada stadium ini.4
 Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi), dimulai dari
hilangnya kesadaran dan refleks bulu mata sampai pernapasan
kembali teratur.4
 Stadium III (pembedahan), dimulai dengan tcraturnya
pernapasan sampai pernapasan spontan hilang. Stadium III
dibagi menjadi 4 plana yaitu: 4
– Plana 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut
seimbang, terjadi gerakan bola mata yang tidak menurut
kehendak, pupil midriasis, refleks cahaya ada, lakrimasi
meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan belum
tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna (tonus otot
mulai menurun).4
– Plana 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume
tidak menurun, frekuensi meningkat, bola mata tidak
bergerak, terfiksasi di tengah, pupil midriasis, refleks
cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks
laring hilang sehingga dikerjakan intubasi.4
– Plana 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot
interkostal mulai paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil
midriasis dan sentral, refleks laring dan peritoneum tidak
ada, relaksasi otot lurik hampir sempuma (tonus otot
semakin menurun).4
– Plana 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot
interkostal paralisis total, pupil sangat midriasis, refleks
cahaya hilang, refleks sfmgter ani dan kelenjar air mata
tidak ada, relaksasi otot lurik sempuma (tonus otot sangat
menurun).4
 Stadium IV (paralisis medula oblongata), dimulai dengan
melemahnya pernapasan perut dibanding stadium III plana 4.

20
pada stadium ini tekanan darah tak dapat diukur, denyut
jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan
pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan
pernapasan buatan.4,5

2.2.8 Tatalaksana Jalan Nafas


Hubungan jalan napas dan dunia luar melalui 2 jalan: 4
1. Hidung : Menuju nasofaring
2. Mulut : Menuju orofaring
Hidung dan mulut dibagian depan dipisahkan oleh palatum durum dan
palatum molle dan dibagian belakang bersatu di hipofaring.
Hipofaring menuju esophagus dan laring dipisahkan oleh epiglotis
menuju ke trakea. Laring terdiri dari tulang rawan tiroid, krikoid,
epiglotis dan sepasang aritenoid, kornikulata dan kuneiform.4
 Manuver tripel jalan napas
Terdiri dari: 4
1. Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital.
2. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus
mandibula
3. Mulut dibuka
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan napas
bebas, sehingga gas atau udara lancar masuk ke trakea lewat
hidung atau mulut.4
 Jalan napas faring
Jika maneuver tripel kurang berhasil, maka dapat dipasang jalan
napas mulut-faring lewat mulut (oro-pharyngeal airway) atau
jalan napas lewat hidung (naso-pharyngeal airway).4
 Sungkup muka
Mengantar udara / gas anestesi dari alat resusitasi atau sistem
anestesi ke jalan napas pasien. Bentuknya dibuat sedemikian
rupa sehingga ketika digunakan untuk bernapas spontan atau

21
dengan tekanan positif tidak bocor dan gas masuk semua ke
trakea lewat mulut atau hidung.4
 Sungkup laring (Laryngeal mask)
Merupakan alat jalan napas berbentuk sendok terdiri dari pipa
besar berlubang dengan ujung menyerupai sendok yang
pinggirnya dapat dikembang-kempiskan seperti balon pada pipa
trakea. Tangkai LMA dapat berupa pipa kerasdari polivinil atau
lembek dengan spiral untuk menjaga supaya tetap paten.
Dikenal 2 macam sungkup laring: 4
1. Sungkup laring standar dengan satu pipa napas
2. Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu pipa napas
standar dan lainnya pipa tambahan yang ujung distalnya
berhubungan dengan esophagus.
 Pipa trakea (endotracheal tube)
Mengantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan
biasanya dibuat dari bahan standar polivinil-klorida. Pipa trakea
dapat dimasukan melalui mulut (orotracheal tube) atau melalui
hidung (nasotracheal tube).4
 Laringoskopi dan intubasi
Fungsi laring ialah mencegah benda asing masuk paru.
Laringoskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat
laring secara langsung supaya kita dapat memasukkan pipa
trakea dengan baik dan benar. Secara garis besar dikenal dua
macam laringoskop: 4
1. Bilah, daun (blade) lurus (Miller, Magill) untuk bayi-anak-
dewasa.
2. Bilah lengkung (Macintosh) untuk anak besar-dewasa.
Klasifikasi tampakan faring pada saat membuka mulut terbuka
maksimal dan lidah dijulurkan maksimal menurut Mallapati
dibagi menjadi 4 gradasi.4

22
Gradasi Pilar faring Uvula Palatum Molle
1 + + +
2 - + +
3 - - +
4 - - -

Gambar 6. Klasifikasi struktur faring (Mallampati)

Indikasi intubasi trakea


Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam
trakea melalui rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-
kira dipertengahan trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea.
Indikasi sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai
berikut: 4
1. Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun.
Kelainan anatomi, bedah kasus, bedah posisi khusus,
pembersihan sekret jalan napas, dan lain-lainnya.
2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan
dengan efisien, ventilasi jangka panjang.
3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

Kesulitan intubasi 4
1 Leher pendek berotot
2 Mandibula menonjol

23
3 Maksila/gigi depan menonjol
4 Uvula tak terlihat
5 Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
6 Gerak vertebra servikal terbatas
Komplikasi intubasi 4
1. Selama intubasi
- Trauma gigi geligi
- Laserasi bibir, gusi, laring
- Merangsang saraf simpatis
- Intubasi bronkus
- Intubasi esophagus
- Aspirasi
- Spasme bronkus
2. Setelah ekstubasi
- Spasme laring
- Aspirasi
- Gangguan fonasi
- Edema glottis-subglotis
- Infeksi laring, faring, trakea

Ekstubasi 4
1. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika:
a. Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan
b. Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi
2. Ekstubasi dikerjakan umumnya pada anestesi sudah ringan
dengan catatan tak akan terjadi spasme laring.
3. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari
sekret dan cairan lainnya.

24
2.2.9 Obat Pelumpuh Otot (Muscle Relaxant)
Fungsi obat pelumpuh otot adalah memudahkan cedera pada
tindakan laringoskop dan intubasi trakea, membuat relaksasi otot selama
pembedahan, serta menghilangkan spasme laring dan refleks jalan nafas.9
 Atrakurium
Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi. Keunggulan obat
ini adalah metabolism terjadi di darah, tidak bergantung fungsi hati
dan ginjal. Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler
yang bermakna, Dosis intubasi yaitu 0,5-0,6 mg/kgBB/iv, dosis
relaksasi otot yaitu 0,5-0,6 mg/kgBB/iv, dan dosis pemeliharaan
0,1-0,2 mg/kgBB/iv.1
 Suksametonium (succinyl choline)
Indikasi dari suksametonium adalah sebagai pelumpuh otot jangka
pendek, dosis untuk intubasi ialah 1-2 mg/kgBB/iv.1

2.2.10 Tatalaksana Nyeri


Metode untuk menghilangkan nyeri biasanya digunakan
analgetik golongan opioid untuk nyeri hebat dan golongan anti
inflamasi non steroid (NSAID) untuk nyeri sedang atau ringan.4
 Morfin
Dosis anjuran untuk menghilangkan nyeri sedang ialah 0,1-0,2
mg/kgBB dan dapat diulang tiap 4 jam. Untuk nyeri hebat dapat
diberi 1-2 mg intravena dan diulang sesuai keperluan.
 Petidin
Dosis petidin intramuskular 1-2 mg/kgBB dapat diulang tiap 3-4
jam. Dosis intravena 0,2-0,5 mg/kgBB. petidin menyebabkan
kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardi.
 Fentanil
Pada fentanil efek depresi napasnya lebih lama dibanding efek
analgesianya. Dosis 1-3 µg/kgBB efek analgesianya hanya
berlangsung 30 menit.

25
 Nalokson
Nalokson ialah antagonis murni opioid. Nalokson biasanya
digunakan untuk melawan depresi nafas pada akhir pembedahan
dengan dosisi 1-2 µg/kgBB intravena dan dapat diulang tiap 3-5
menit.4,5

26
BAB III

ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Jamal
Umur : 53 th
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 165
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Sei Mandau, Tasik Betung
Agama : Islam
Tanggal masuk RS : 23 agustus 2017
No. RM : 188176s

II. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama : Nyeri di bagian perut
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri di semua bagian
perut sejak 1 minggu dan membuncit 2 hari ini. Pasien mengaku sulit
BAB selama 1 minggu disertai mual dan muntah serta nafsu makan
menurun.
c. Riwayat Penyakit Dahulu:
 Riwayat asma disangkal
 Riwayat hipertensi disangkal
 Riwyat DM disangkal
 Riwayat sakit jantung disangkal
d. Riwayat Penyakit Keluarga:
 Riwayat asma disangkal
 Riwayat hipertensi disangkal
 Riwayat DM disangkal
e. Riwayat penggunaan obat-obatan
 Tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan sebelumnya
f. Riwayat Anestesi/Operasi sebelumnya
 Tidak ada riwayat anestesi atau operasi sebelumnya

27
III. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada hari rabu, 23 Agustus 2017
a. Kepala
1. Mata:
- Conjungtiva tidak anemis
- Sklera tidak ikterik
- Pupil isokor
2. Hidung:
- Tidak ada deviasi septum
- Patensi +/+
- Sekret tidak ada
3. Mulut:
- Buka mulut 3 jari
- Mallampati 1
4. Gigi: Gigi palsu (-)
5. Leher:
- Inspeksi : Simetris, trakea di tengah, TMD > 6 cm, gerak
leher bebas.
- Palpasi : Pembesaran tiroid dan limfe (-)
6. Thorax
- Pulmo : Vesikuler (+/+) normal, Ronki (-/-), Whezing (-/-),
- Cor : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
7. Abdomen:
- Inspeksi : Perut datar, tidak ada bekas luka
- Auskultasi : Bunyi usus (-) tidak normal
- Perkusi : Tympani
- Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
8. Ekstremitas : Akral hangat, edema sup (-/-), inf (-/-),
keterbatasan gerak (-), CRT < 2’’

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Tanggal : 23 Agustus 2017
Pemeriksaan darah lengkap
- Hb : 12,8 g/dL
- Leukosit : 14,8 103/uL
- Ht : 47 %
- Eritrosit : 5,1 106/uL
- Trombosit : 245 103/uL
- Masa pembekuan (CT) : 4 menit
- Masa perdarahan (BT) : 3 menit

28
- Gula darah sewaktu : 150 mg/dl

V. PEMERIKSAAN FOTO THORAX AP


Cor : besar dan bentuk normal
Pulmo : Tak tampak infiltrat di kedua lapang paru, corakan bronkovaskuler
normal. Sinus phrenicocostalis kanan kiri tajam. Diaphragma kanan kiri
normal. Trachea di tengah. Sisterna tulang belakang baik.
Kesan: Cord an Pulmo tak tampak kelainan.

VI. ABDOMEN/BNO (ABDOMEN 3 POSISI)


Tampak dilatasi gas usus, tampak gabaran steplader, patologis dengan air
fluid level yang pendek-pendek, tak tampak gambaran udara bebas di
suprahepatal maupun sub diafragma kiri.
Kesan: illeus obstruktif letak rendah.

VII. KESIMPULAN

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka:

Diagnosis pre operatif : Ileus obstruktif parsial + konstipasi

Status Operatif : ASA II

Jenis operatif : Laparotomi

Jenis anetesi : General anestesi

VIII. LAPORAN ANESTESI


 Laporan Pre Operatif
 Informed concent : Ada
 Surat izin operasi : Ada
 Puasa : Pasien puasa sejak jam 05.00 pagi
 Pemasangan IV line : Terpasang
 Dilakukan pemasangan monitor tejanan darah, nadi dan sturasi O2
 Pemeriksaan pasien di ruang operasi
- Tekanan darah : 90/60
- Nadi : 100
- Suhu : 36,7 oC
- Pernafasan : 22 x/menit

 Laporan Durante Operatif

29
Penatalaksanaan anestesi
 Tanggal operasi : 23 Agustus
 Mulai operasi : 11.30 WIB
 Diagnose pra bedah : Ileus Obstruktif + konstipasi
 Diagnose post bedah : Ileus Obstruktif + konstipasi
 Macam operasi : laparotomi
 Teknik anestesi : General anestesi
 Premedik :
- Ketorolac 30 mg
- Ondansetron 4 mg
 Induksi :
- Propofol 100 mg
- Fentanyl 100 mg
 Maintenance :
- Sevoflurance 1,5 %
- N2O 2 %
- O2 2%
 Analgetik post operasi : ketorolac 30 mg + ondancentron 4 mg i.v / 8 jam
 Selesai operasi :
 Laporan Post Operatif
 Pasien sadar :
 Saturasi oksigen post operatif:
Monitoring Keadaan Pasien
Saturasi O2 Nadi Tekanan Darah

Pre Operatif 99% 78 110/60


(11.25)

Durante operatif
99% 75 120/70
(11.30 WIB)
99% 70 80/50
(12.00 WIB)
99% 80 100/60
(12.30 WIB)
99% 80 90/60
(13.00 WIB)
99% 80 90/50
(13.30 WIB)
99% 70 80/60
(14.00 WIB)
99% 70 80/60
(14.30 WIB)

30
99% 75 90/60
(15.00 WIB)
99% 71 80/60
(15.30 WIB)

Post operaatif 99% 80 100/70


(16.00 WIB)

31
BAB 1V
PEMBAHASAN

4.1 Pre Operatif


Persiapan anestesi dan pembedahan harus lengkap karena dalam
pemberian anastesi dan operasi selalu ada resiko. Persiapan yang dilakukan
meliputi persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien, dan persiapan obat
anestesi yang diperlukan. Penilaian dan persiapan penderita diantaranya
meliputi :
 Informasi penyakit  melalui autonamnesis/alloanamnesis kejadian
penyakit.
 Riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu (Riwayat
hipertensi, riwayat alergi makanan ataupun obat, riwayat sesak napas
dan asma, diabetes mellitus, riwayat trauma, dan riwayat operasi
sebelumnya), riwayat penyakit keluarga (penyakit dan komplikasi
anestesia).
 Makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena
regurgitasi atau muntah pada saat anestesi).
 Persiapan operasi yang tidak kalah penting yaitu : informed consent,
suatu persetujuan medis untuk mendapatkan ijin dari pasien sendiri
dan keluarga pasien untuk melakukan tindakan anestesi dan operasi,
sebelumnya pasien dan keluarga pasien diberikan penjelasan
mengenai risiko yang mungkin terjadi selama operasi dan post
operasi. Setelah dilakukan pemeriksaan pada pasien, maka pasien
termasuk dalam klasifikasi ASA II.

4.2 Post Operatif


Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang observasi. Pasien
berbaring dengan posisi terlentang karena efek obat anestesi masih ada dan
tungkai tetap lurus. Observasi post operasi dilakukan selama 2 jam, dan
dilakukan pemantauan vital sign (tekanan darah, nadi, suhu dan respiratory

32
rate) setiap 30 menit. Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit. Setelah keadaan
umum stabil, maka pasien dibawa ke ruangan bedah untuk dilakukan
tindakan perawatan lanjutan.

33
BAB V
KESIMPULAN

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi


yang melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita
mengetahui kondisi pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul
sehingga dapat mengantisipasinya.
Pada makalah ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi umum pada ileus
obstruktif. ASA II, pada pasien Tn. Jamal dengan tindakan laparotomi karena
termasuk operasi dengan resiko besar yang dilakukan dengan anestesi umum.
Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan
yang ada diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya
komplikasi anestesi dapat ditekan seminimal mungkin.
Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang
berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya. Selama di ruang
observasi juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius.Secara umum
pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan baik.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonym. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Lab/UPF Ilmu Bedah. Rumah


Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo. Surabaya, 1994.
2. Sjamsuhidayat R, De Jong Wim. Usus halus, apendiks, kolon, dan
anorektum. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2005. p. 623-
31.
3. Anonymous. Ileus. September 13, 2008. Available from URL:
http://medlinux.blogspot.com/2007/09/ileus.html. Accessed July 11, 2011.
4. Mukherjee S. Ileus. December 28, 2009. Available from URL:
http://www.emedicine.medscape.com. Accessed July 11, 2011.
5. Ansari p. Intestinal Obstruction. 2007 September. Available from URL:
http://www.merck.com/mmpe/sec02/choll/chollh.html. Accessed July 13,
2011.
6. Evers BM. Small intestine. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers
BM, Mttox
7. Yates K. Bowel obstruction. In: Cameron P, Jelinek G, Kelly AM, Murray
L, Brown AFT, Heyworth T, editors. Textbook of Adult Emergency
Medicine. 2nd ed. New York: Churchill Livingstone; 2004 . p. 306-9.
8. Mukherjee S. Ileus. December 28, 2009. Available from URL:
http://www.emedicine.medscape.com. Accessed July 11, 2011.
9. KL,editors. Sabiston textbook of surgery. The biological basis of modern
surgical practice. 17th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2004. p. 1323-
42.

35