Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN POLIO

TINGKAT : III KEPERAWATAN

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK IV

1. Ahmad Almusawa
2. Ahmad Yasin
3. Fahrul Salewanga
4. Abdul Hafit Latjuru
5. Atatsya I. Djono
6. Risnawati Said
7. Tiara Desiniary Bagenda
8. Nuranisa Labatjo
9. Regitta Dyah Pramesti

POLTEKKES KEMENKES PALU PRODI POSO

KEPERAWATAN TINGKAT III

2015/2016

1
DAFTAR ISI

POLIO (POLIOMIELITIS) ................................................................................... 3

A. Definisi ............................................................................................................... 3
B. Etiologi ............................................................................................................... 3
C. Manifestasi Klinis............................................................................................... 5
D. Patofisiologi........................................................................................................ 5
E. Pengobatan ......................................................................................................... 6
F. Pemeriksaan Penunjang ...................................................................................... 6
G. Pengkajian .......................................................................................................... 7
H. Diagnosa Keperawatan ....................................................................................... 8
I. Rencana Keperawatan ........................................................................................ 8

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 9

2
POLIO (POLIOMIELITIS)

A. Definisi
Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen
pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh
melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan
mengalir ke system saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan
(QQ_Scarlet 2008 dalam Rahmawati 2008).
B. Etiologi

Virus polio termasuk genus enterovirus. Terdapat tiga tipe yaitu tipe I, II, dan
III. I (Brunchilde), tipe II (Langsing), dan tipe III (Leon): Ketiga virus tersebut bisa
menyebabkan kelumpuhan. Tipe 1 adalah tipe yang paling mudah diisolasi. Tipe
yang sering menyebabkan wabah juga adalah tipe 1, sedangkan kasus yang
dihubungkan dengan vaksin disebabkan oleh tipe 2 dan 3. Di alam bebas, virus polio
dapat bertahan hingga 48 jam pada musim kemarau dan dua minggu pada musim
hujan. Di dalam usus manusia, virus dapat bertahan hidup sampai 2 bulan. Virus
polio tahan terhadap sabun, detergen, alcohol, eter dan klorofrom, tetapi virus ini
akan mati dengan pemberian formaldehida 0,3%, klorin, pemanasan dan sinar
ultraviolet (Widoyono, 2011).

Daerah yang biasanya terkena polio ialah:

1. Medulla spinalis terutama kornu anterior.


2. Batang otak pada nukleus vestibularis dan initi-inti syaraf cranial serta formasio
retikularis yang mengandung pusat vital
3. Sereblum terutama inti-inti virmis.
4. Otak tengah “midbrain” terutama masa kelabu subtansia nigra dan kadang-kadang
nucleus rubra.
5. Talamus dan hipotalamus.
6. Palidum.
7. Korteks serebri, hanya daerah motorik.

3
C. Manifestasi Klinis

Gejala awal biasanya terjadi selama 1-4 hari, yang kemudian menghilang. Gejala lain
yang bisa muncul adalah nyeri tenggorokan, rasa tidak enak di perut, demam ringan,
lemas, dan nyeri kepala ringan. Gejala klinis yang mengarah pada kecurigaan serangan
virus polio adalah adanya demam dan kelumpuhan akut. Kaki biasanya lemas tanpa
gangguan saraf perasa. Kelumpuhan biasanya terjadi pada tungkai bawah, asimetris, dan
dapat menetap selamanya yang bisa disertai gejala nyeri kepala dan muntah. Biasanya
terdapat kekakuan pada leher dan punggung selam 24 jam.

Kelumpuhan sifatnya mendadak dan layuh, sehingga sering dihubungkan


dengan lumpuh layu akut (AFP, acute flaccid paralysis), biasanya menyerang satu
tungkai, lemas sampai tidak ada gerakan. Otot bisa mnegcil, refleks fisiologi dan
reflex patologis negatif.

Penyakit ini paling banyak menyerang anak-anak di bawah 5 tahun dan juga
bisa pada remaja. Kemungkinan gejala yang dicurigainya polomielitis pada anak
adalah panas disertai dengan sakit kepala, sakit pinggang, kesulitan menekuk leher
dan punggung, kekakuan otot yang diperjelas dengan tanda head drop, tanda tridop
saat duduk, tanda-tanda spinal, tanda Brudzinsky atau kering (Sumarmo).

Penyakit ini berkembang melalui beberapa tahap yaitu:


1. Fase inkubasi : 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi dalam waktu 7-21 hari.
2. Fase gejala umum : seperti influenza, nyeri kepala, rasa nyeri tulang belakang dan
anggota gerak, malaise, dan mungkin gejala mencret + 3 hari.
3. Fase paralisis mendadak: berlangsung 3 hari – 2 bulan.
4. Fase penyembuhan
5. Fase menahun atau fase paralisis residusi.
Menurut klasifikasinya:
1. Minor Illness (Penyakit dengan Gejala Ringan)
a. Sangat ringan atau bahkan tanpa gejala.
b. Nyeri tenggorokan dan perasaan tidak enak diperut, gangguan gastroinstentinal,
demam ringan, perasaan lemas, dan nyeri kepala.
c. Terjadi selama 1-4 hari, kemudian menghilang dan jarang lebih dari 6 hari.

Selama waktu itu virus bereplikasi pada nasofaring dan saluran cerna bagian bawah.

2. Major Illness (termasuk jenis non-paralitik dan paralitik)


4
a. Terjadi selama 3-35 hari termasuk gejala minor illnes dengan rata-rata 3 hari.
b. Demam, kelemahan cepat dalam beberapa jam, nyeri kepala dan muntah.
c. Dalam 24 jam terlihat kekakuan leher dan punggung.
d. Terlihat mengantuk, iritabel, dan cemas.
e. Pada kasus tanpa paralisis sangat sukar dibedakan dengan meningkatkan aseptic.
f. Bila terjadi paralisis biasanya dimulai dalam beberapa detik sampai 5 hari
sesudah keluhan nyeri kepala.
g. Pada anak, stadium pre-paralitik berlangsung lebih singkat dan kelemahan otot
terjadi pada waktu penurunan suhu
h. Pada dewasa, stadium pre paralitik berlangsung lebih hebat dan lama, terlihat
sakit berat, tremor, agitasi, kemerahan didaerah muka menjadi sensitive dan
kaku, pada otot ekstensor ditemukan refleks tendon meninggi dan fasikulasi.

5
D. Patofisiologi

Polio virus

Ketidakseimbangan Melalui fekal oral Defisiensi Pengetahuan


nutrisi kurang dari (makanan yg
kebutuhan tubuh. terkontaminasi)
Feses

Sulit menelan Bermultiplikasi Mukosa usus

Infeksi Orofaring

Masuk ke sistem Menyebar ke organ


limfatik/ target.
pembuluh darah.

Fase viremia

Hipertermi Peningkatan suhu tubuh Sistem saraf pusat

Nyeri Infeksi Menyerang sel-sel yang


mengendalikan otot.

Melemahnya otot

Paralysis

Ansietas Otot tungkai

Hambatan mobilitas
fisik

6
E. Pengobatan
Pengobatan pada penderita polio tidak spesifik. Pengobatan ditujukan untuk
meredakan gejala dan pengobatan suportif untuk meningkatkan stamina
penderita. Perlu diberikan pelayanan fisioterapi untuk menimalkan kelumpuhan
dan menjaga agar tidak terjadi atrofi otot. Perawatan ortopedik tersedia bagi
mereka yang mengalami kelumpuhan menetap. Pengendalian penyakit yang
paling efektif adalah pencegahan melalui vaksinasi dan surveilans AFP
(Widoyono,2011).

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Lab:
a. Pemeriksaan darah tepi perifer.
b. Cairan serebrospinal
c. Pemeriksaan serologik
d. Isolasi virus polio
2. Pemeriksaan Radiology.
3. Pemeriksaan MRI dapat menunjukkan kerusakan didaerah kolumna anterior.
4. Pemeriksaan likuor memberikan gambaran sel dan bahan kimia (kadar gula dan
protein).
5. Pemeriksaan histologik corda spinalis dan batang otak untuk menentukan
kerusakan yang terjadi pada sel neuron.

G. Asuhan Keperawatan Pada Penyakit Polio


1. Pengkajian
a. Identitas
Mengkaji identitas pasien yang meliputi nama, usia, jenis kelamin, status
pernikahan, agama, dan pekerjaan alamat.
b. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
a) Keluhan utama
Pada pasien dengan polio biasanya terdapat keluhan utama yaitu panas disertai
sakit kepala, terdapat juga nyeri pada pinggang dan sendi.

7
2) Riwayat Kesehatan Terdahulu
a. Penyakit waktu kecil
b. Pernah MRS
c. Alergi
d. Imunisasi
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Penyakit keturunan
b) Penyakit menular
4) Riwayat Antenatal
a) Keluhan selama hamil
b) ANC
5) Riwayat Natal
a) Umur kehamilan
b) Jenis persalinan
c) Keadaan bayi
d) Penyakit saat persalinan
6) Riwayat Neonatal
a) Kondisi bayi
b) BB waktu lahir
c) TB waktu lahir
7) Riwayat Gizi
a) Pemberian ASI
b) Pemberian MPASI
c) Makan sehari-hari
8) Riwayat Psikososial
a) Yang mengasuh
b) Hubungan dengan keluarga
c) Hubungan dengan lingkungan sekitar
9) Riwayat Tumbuh Kembang
a) Mengangkat kepala
b) Tengkurap
c) Duduk
d) Gigi tumbuh pertama
e) Merangkak
f) Berdiri
8
g) Berjalan dituntun
h) Berjalan berpegangan
i) Berjalan sendiri
j) Berbicara
k) Tidak ngompol
c. Pengkajian 11 pola Gordon:
1) Pola Persepsi Kesehatan
Perawat perlu mengkaji bagaimana klien/keluarga pasien memandang penyakit
yang dideritanya, apakah klien/keluarga pasien tau apa penyebab penyakitnya
sekarang, pernah atau tidak menerima vaksin polio
2) Pola nutrisi dan metabolik
Biasanya pada pasien berkurangnya nafsu makan, mual, muntah.
3) Pola eliminasi
Biasanya pasien mengalami konstipasi
4) Pola latihan /aktititas
Biasaya pada pasien polio akan mengalami keterbatasan aktifitas akibat
nyeri sendi, malaise, paralisis
5) Pola istirahat tidur Pasien
Diduga mengalami gangguan tidur dikarenakan klien mengalami nyeri
sendidan sering terbangun karena mual.
6) Pola persepsi kognitif
Biasanya tidak terjadi Perubahan status mental
7) Pola persepsi diri

Pasien belum mampu memaparkan konsep dirinya.

8) Pola koping dan toleransi stress

Pasien belum mampu memaparkan secara tepat keadaan jiwanya

9) Pola peran hubungan

Biasanya pasien mengalami Perubahan pada interaksi keluarga/Orang


terdekat, aktifitas meningkat tetapi terganggu. Atau menutup diri
karenagangguan citra diri.

10) Pola reproduksi seksual


Biasanya pasien tidak mengalami masalah reproduksi

9
11) Pola keyakinan
Kaji apakah ada pantangan agama dalam proses pengobatan klien

d. Pemeriksaan fisik
i. Keadaan umum
a) Tingkat kesadaran (apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis yang
bergantung pada keadaan klien)
b) Kesakitan atau keadaan penyakit (akut, kronis, ringan, sedang, dan paa
kasus osteomielitis biasanya akut)
c) Tanda-tanda vital : Terdapat peningkatan suhu tubuh
ii. Kepala dan leher : Terdapat nyeri kepala dan otot leher mengalami kram / kaku
dan terdapat nyeri saat menelan.
iii. Axila : Axila teraba hangat
iv. Abdomen : Adanya nyeri tekan.
v. Ekstremitas : adanya paralysis atau kaku/kram

Pemeriksaan fisik pada ekstremitas dapat dilakukan dengan:


1) Pada Bayi
a) Perhatikan posisi tidur. Bayi normal menunjukkan posisi tungkai menekuk
padalutut dan pinggul. Bayi yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas
dan lutut menyentuh tempat tidur.
b) Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan dengan ujung pensil
pada telapak kaki bayi. Bila kaki ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan.
c) Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan. 'ayi n&rmal akan menunjukkan
gerakan kaki menekuk, pada bayi lumpuh tungkai tergantung lemas.

2) Anak besar
a) Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pingang atau tidak.
b) Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit. Anak yang mengalami
kelumpuhan tidak bisa melakukannya.
c) Mintalah anak meloncat pada satu kaki. Anak yang lumpuh tak bisa
melakukannya.Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian
bangun kembali. Anak yang mengalami kelumpuhan akan mencoba berdiri
dengan berpegangan merambat pada tungkainya.
d) Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil
10
H. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri Akut b/d Proses Infeksi yang Menyerang Syaraf
2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b/d Anoreksia, Mual,
dan Muntah.
3. Hipertermia b/d Proses Infeksi
4. Hambatan Mobilitas Fisik b/d Paralysis.
5. Ansietas b/d Kondisi Penyakit

I. Rencana Keperawatan
1. Nyeri Akut b/d Proses Infeksi yang Menyerang Syaraf

Intervensi

1. Kaji skala nyeri (0-10) selidiki keluhan nyeri.


2. Pertahankan tirah baring.
3. Berikan pilihan tindakan kenynyaman. Dorong penggunaan teknik relaksasi atau
aktititas hiburan.
4. Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

Rasional
1. Memudahkan kita dalam pemberian tindakan.
2. Menurunkan rasa metabolik dan rangsangan/sekresi
3. Meningkat kan relaksasi dan memampukan pasien untuk memokuskan perhatian,
dapat meningkatkan koping.
4. Mengurangi rasa nyeri.

2. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh b/d Anoreksia, Mual, dan
Muntah.

Intervensi:
1. Kaji pola makan anak.
2. Berikan makanan secara adekuat.
3. Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral.
4. Timbang berat badan.
5. Berikan makanan kesukaan anak.
11
6. Berikan makanan sedikit tapi sering.

Rasional:

1. Mengetahui intake dan output anak.


2. Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang.
3. Mencukupi kebutuhan nutrisi dengan seimbang.
4. Mengetahui perkembangan anak.
5. Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak.
6. Mempermudah proses pencernaan.

3. Hipertermia b/d Proses Infeksi.


Intervensi:
1. Monitor suhu tubuh.
2. Beri kompres hangat
3. Anjurkan pasienmengenakan pakaianyang menyerapkeringat
4. Anjurkan pasien untuk banyak minum
5. Kolaborasi pemberian antipiretik

Rasional:

1. Mengetahui perkembangan suhu tubuh pasien dan keadaan umum pasien


2. Merangsang1asodilatasi dan e1aporasi panas tubuh
3. Meningkatkan rasa nyaman pasien
4. Mencegah terjadinya dehidrasi oleh karena demam
5. Mengurangi dan membantu dalam menurunkan suhu tubuh

4.Hambatan Mobilitas Fisik b/d Paralysis.

Intervensi:
1. Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
2. Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak.
3. Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada).
4. Bantu klien menggunakan tongkat/saat berjalan untuk mengoreksi kaki melengkung
dan cegah terhadap cedera.

12
5. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman.

Rasional:

1. Menetukan tingkat berat/tidaknya latihan . latihan yang baik dilakukan bertahap


2. Memberikan informasi untuk mengembangkan rencana perawatan bagi program
rehabilitasi.
3. Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan anak.
4. Alat bantu jalan diperlukan untuk membantu klien dalam latihan ambulasi
5. Latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan efektifan anak untuk berjalan.

4. Ansietas b/d Kondisi Penyakit


Intervensi:
1. Kaji tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat ansietas
(mis.renda, sedang, parah).
2. Nyatakan retalita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa
menayakan apa yang dipercaya.
3. Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh keluarga.
4. Hindari harapan –harapan kosong mis ; pertanyaan seperti “ semua akan
berjalan lancar”.

Rasional:

1. Respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari.


2. Mungkin perlu menolak realita sampai siap menghadapinya.
3. Informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan dalam jumlah yang dapat
dibatasi setelah periode yang diperpanjang.
4. Harapan–harapan palsu akan diintervesikan sebagai kurangnya pemahaman atau
kejujuran.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Wilkinson Judith. Diagnosa Keperawatan edisi 10.


2. Buku Aplikasi NANDA- NIC NOC.

14