Anda di halaman 1dari 19

Asuhan Keperawatan Mioma Uteri

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Derajat kesehatan salah satunya didukung dengan kaum wanita yang memperhatikan kesehatan
reproduksi karena hal tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Salah satu masalah
kesehatan pada kaum wanita yang insidensinya terus meningkat adalah mioma uteri. Mioma uteri
menempati urutan kedua setelah kanker serviks berdasarkan jumlah angka kejadian penyakit. Penyebab
pasti mioma uteri belum diketahui secara pasti, diduga merupakan penyakit multifaktor karena memiliki
banyak faktor dan resikonya meningkat seiiring dengan bertambahnya usia.

Penelitian Marino (2004) di Italia melaporkan 73 kasus mioma uteri dari 341 wanita terjadi pada usia 30-
60 tahun dengan prevalensi 21,4%. Penelitian Boynton (2005) di Amerika melaporkan 7.466 kasus
mioma uteri dari 827.348 wanita usia 25-42 tahun dengan prevalensi 0,9%. Penelitian Pradhan (2006) di
Nepal melaporkan 137 kasus mioma uteri dari 1.712 kasus ginekologi dengan prevalensi 8%. Penelitian
Okizei O (2006) di Nigeria (Departement of Gynecology, University of Nigeria Teaching Hospital Enugu)
melaporkan mioma uteri 190 diantara 1.938 kasus ginekologi dengan prevalensi 9.8%. Penelitian Rani
Akhil Bhat (2006) di India (Departement of Obstetric and Gynecology, Kasturba Medical College and
Hospital) terdapat 150 kasus mioma uteri, dan 77 kasus terjadi pada wanita umur 40-49 tahun dengan
prevalensi 51%, dan 45 kasus terjadi pada wanita umur lebih dari 50 tahun dengan prevalensi 30%.

Berdasarkan multifaktor tersebut, kewaspadaan wanita terhadap resiko mioma uteri sangat dibutuhkan.
Dalam hal ini peran perawat berpengaruh dalam menjawab kebutuhan klien dengan mioma uteri. Yaitu
memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada klien dengan mioma uteri serta menjalankan fungsi
perannya sebagai health educator.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan Mioma
Uteri.

1.2.2 Tujuan Khusus

Mengetahui definisi dari Mioma Uteri


Mengetahui etiologi dan faktor penyebab terjadinya Mioma Uteri

Mengetahui patofisiologi dari Mioma Uteri

Mengetahui manifestasi klinis yang muncul pada klien dengan Mioma Uteri

Menjelaskan Web of Caution terjadinya Mioma Uteri

Mengetahui pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk mendiagnosa Mioma Uteri

Menjelaskan penatalaksanaan pada klien dengan Mioma Uteri

Menjelaskan proses asuhan keperawatan pada klien dengan Mioma Uteri

1.2.3 Manfaat

Mahasiswa mampu memahami tentang Mioma Uteri sehingga dapat menunjang pembelajaran
perkuliahan pada mata kuliah Keperawatan Reproduksi I.

Mahasiswa mampu memahami proses asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien dengan Mioma
Uteri sehingga dapat menjadi bekal saat melakukan proses asuhan keperawatan selama dirumah sakit.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi

Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, terletak di dalam pelvis, antara rektum di
belakang dan kandung kencing di depan. Ototnya disebut miometrium dan selaput lendir yang melapisi
sebelah dalamnya disebut endometrium. Letak uterus sedikit anteflexi pada bagian lehernya dan
anteversi (meliuk agak memutar ke depan) dengan fundusnya terletak di atas kandung kencing. Panjang
uterus adalah 5 sampai 8 cm dan beratnya 30 sampai 60 gram. Uterus terbagi atas 3 bagian berikut:

Gambar 1. Anatomi Uterus

Fundus, bagian cembung di atas muara tuba uterina

Badan uterus, melebar dari fundus ke servix, sedangkan antara badan dan servix terdapat istmus

Bagian bawah yang sempit pada uterus disebut servix

Dinding rahim yang terdiri dari segi lapisan yaitu:


Lapisan serosa (lapisan peritonium) di luar

Lapisan otot (lapisan miometrium) di tengah

Lapisan mukosa (lapisan endometrium) di dalam

Ligamentum teres uteri ada dua buah, di sebelah kiri dan di sebelah kanan sebuah. Terdiri atas jaringan
ikat dan otot, berisi pembuluh darah dan ditutupi peritonum. Ligamen ini berjalan dari sudut atas uterus
ke depan dan ke samping, melalui anulus inguinalis profundus ke kanalis inguinalis. Setiap ligamen
panjangnya 10 sampai 12,5 cm.

Fungsi Uterus

Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan. Sebutir ovum, sesudat keluar dari
ovarium, diantarkan melalui tuba uterina ke uterus. Endometrium disiapkan untuk penerimaan ovum
yang telah dibuahi itu dan ovum itu sekarang tertanam di dalamnya. Sewaktu hamil, yang secara normal
berlangsung selama kira-kira 40 minggu, uterus bertambah besar, dindingnya menjadi tipis tetapi lebih
kuat dan membesar sampai keluar pelvis masuk ke dalam rongga ebdomen pada masa pertumbuhan
fetus.

Pada waktu saatnya tiba dan mulas tanda melahirkan mulai, uterus berkontraksi secara ritmis dan
mendorong bayi dan plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses yang
dikenal sebagai involusi.

2.2 Definisi

Mioma uteri atau juga dikenal dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri fibroid adalah tumor jinak
rahim yang paling sering didapatkan pada wanita. Mioma uteri merupakan tumor paling umum pada
traktus genitalis. Leiomioma berasal dari sel otot polos rahim dan pada beberapa kasus berasal dari otot
polos pembuluh darah rahim. (Derek, 2002).

Berdasarkan posisi mioma uteri terdapat lapisan-lapisan uterus, dapat dibagi dalam 3 jenis :

Mioma Submukosa

Tumbuhnya tepat di bawah endometrium. Paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak. Adanya
mioma submukosa dapat dirasakan sebagai suatu “curet bump” (benjolan waktu kuret). Kemungkinan
degenerasi sarcoma juga lebih besar pada jenis ini. Mioma uteri dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui serviks (miomgeburt).

Interstinal atau intramural


Terletak di dinding uterus diantara serabut miometrium. Karena pertumbuhan tumor, jaringan otot
sekitarnya akan terdesak dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding rahim
dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-benjol dengan
konsistensi yang padat. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan
menekan dan mendorong kandung kemih ke atas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi. Berubah
sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak nyaman karena adanya massa
tumor di daerah perut sebelah bawah.

Subserosa atau subperitoneal

Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai suatu
massa yang dihubungkan dengan uters melalui tungkai. Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di
dalam ligamentum latum dan disebut juga mioma intraligamenter. Perlengketan dengan usus, omentum
atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke
omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, dan mioma ini dikeal sebagai jenis parasitik.
(Prawirohardjo, 2002).

2.3 Etiologi

Walaupun mioma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller
dan Lipschlutz dikatakan bahwa mioma uteri terjadi terjadi tergantung pada sel-sel imatur yang terdapat
pada “cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen. Namun
demikian, beberapa faktor yang dapat menjadi faktor pendukung terjadinya mioma adalah wanita usia
35-45 tahun, hamil pada usia muda, genetik, zat-zat karsinogenik, sedangkan yang menjadi pencetus
dari terjadinya mioma uteri adalah adanya sel yang imatur.

Faktor-faktor penyebab mioma uteri belum diketahui, namun ada 2 teori yang berpendapat :

Teori stimulasi

Berpendapat bahwa estrogen sebagai faktor etiologi, mengingat bahwa :

Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil

Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum monarche

Mioma uteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause

Hiperplasia endometrium sering ditemukan bersama dengan mioma uteri.

Teori Cellnest atau genitoblas

Terjadinya mioma uteri itu tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada cell nest yang
selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen. (Prawirohardjo, 2002).
2.4 Manifestasi Klinis

Separuh dari penderita mioma uteri tidak mengalami gejala. Pada umumnya manifesasi klinis
tergantung pada lokasi mioma, ukuran dan adanya perubahan sekunder di dalam moma tersebut.
Berikut adalah menifestasi klinis mioma uteri yang sering terjadi :

Tumor (massa di perut bawah)

Sering kali penderita mioma uteri datang untuk memeriksakan dirinya saat merasakan adanya massa
pada perut bagian bawah.

Perdarahan

Biasanya dalam bentuk menorraghia (perdarahan pada menstruasi), dan didapat pada mioma
submukosa. Ini diakibatkan oleh pecahnya pembuluh-pembuluh darah. Perdarahan oleh mioma dapat
menimbulkan anemia yang berat. Mioma intramural juga dapat menyebabkan perdarahan, oleh karena
ada gangguan kontraksi otot uterus. Jenis mioma subserosa tidak menyebabkan perdarahan yang
abnormal.

Nyeri

Nyeri bukan merupakan gejala yang khas untuk mioma, meskipun sering terjadi. Keluhan yang sering
diutarakan adalah rasa berat dan dysmeorrhe. Kemungkinan disebabkan adanya gangguan peredaran
darah, yang juga disertai nekrose setempat, atau disebabkan proses radang dengan perlekatan ke
omentum usus.

Rasa nyeri juga bisa disebabkan oleh karena torsi pada mioma subserosa. Dalam hal ini sifatnya akut dan
disertai dengan rasa mual dan muntah. Pada mioma yang sangat besar, rasa nyeri dapat disebabkan
karena tekanan terhadap urat saraf, dan menjalar ke pinggang serta tungkai bawah.

Akibat tekanan

Penekanan pada organ disekitar tumor, seperti kandung kemih, ureter, rectum, atau organ-organ yang
ada di rongga panggul lainnya dapat menimbulkan gangguan buang air kecil dan gangguan buang air
besar, pelebaran pembulluh darah vena dalam panggul, serta gangguan ginjal karena pembengkakan
tangkai miom. Apabila terjadi tekanan pada vena cava inferior akn terjadi odem tungkai bawah.

Infertilitas dan abortus

Dapat terjadi gangguan untuk sulit hamil (infertilitas) jika mioma intramural menutup atau menekan
pars interstitialis tubae. Mioma submukosa memudahkan terjadinya abortus. Bila ditemukan mioma
pada wanita dengan keluhan infertilitas harus dilakukan pemeriksaan yang seksama terhadap sebab-
sebab lain dari infertilitas sebelum menghubungkan dengan kemungkinan adanya mioma uteri.
2.5 Patofisiologi

Mioma uteri mulai tumbuh sebagai bibit yang kecil di dalam miometrium dan lambat laun membesar
karena pertumbuhan itu miometrium terdesak menyusun semacam pseudekapsula atau simpai semu
yang mengelilingi tumor di dalam uterus mungkin terdapat satu mioma, akan tetapi mioma biasanya
banyak. Jika ada satu mioma yang tumbuh intramural dalam korpus uteri maka korpus ini tampak
bundar dan konstipasi padat. Bila terletak pada dinding depan uterus, uterus mioma dapat menonjol ke
depan sehingga menekan dan mendorong kandung kencing ke atas sehingga sering menimbulkan
keluhan miksi.

Tetapi masalah akan timbul jika terjadi: berkurangnya pemberian darah pada mioma uteri yang
menyebabkan tumor membesar, sehingga menimbulkan rasa nyeri dan mual. Selain itu masalah dapat
timbul lagi jika terjadi perdarahan abnormal pada uterus yang berlebihan sehingga terjadi anemia.
Anemia ini bisa mengakibatkan kelemahan fisik, kondisi tubuh lemah, sehingga kebutuhan perawatan
diri tidak dapat terpenuhi. Selain itu dengan perdarahan yang banyak bisa mengakibatkan seseorang
mengalami kekurangan volume cairan (Sastrawinata S: 151)

2.6 WOC

(terlampir)

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Mansjoer (2002), pemeriksaan yang dilakukan pada kasus Mioma Uteri untuk menegakkan
diagnosisnya adalah :

Pemeriksaan Darah Lengkap

Hb turun, Albumin turun, Lekosit turun/meningkat, Eritrosit turun.

USG (Ultrasonografi)

Terlihat massa pada daerah uterus.

Vaginal Toucher

Didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.

Sitologi

Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.


Rontgen

Untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.

ECG

Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.

Ultrasonografi

Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya Mioma Uteri.
Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus yng kecil. Uterus atau massa yang paling
besar paling baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma Uteri secara khas
menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun
pembesaran uterus. Adanya klasifikasi ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik dengan bayangan akustik.
Degenerasi kistik ditandai adanya daerah yang hipoekoik.

Histeroskopi

Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya Mioma Uteri submukosa, jika tumornya kecil serta
bertangkai. Tumor tersebut sekaligus dapat diangkat.

MRI (Magnetic Resonance Imaging

MRI sangat akurat dalam menggambarkan jumlah,ukuran dan lokasi mioma, tetapi jarang diperlukan.
Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap terbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium
yang normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk
mioma submukosa. MRI dapat menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus -kasus yang tidak dapat
disimpulkan.

2.8 Penatalaksanaan

Penanganan bergantung pada intensitas gejala, ukuran, serta lokasi tumor, dan usia pasien, paritas,
status kehamilan, keinginan mempunyai anak, serta kondisi kesehatan secara umum.

Pilihan terapi meliputi tindakan nonbedah dan tindakan bedah. Terapi farmakologi umumnya tidak
efektif dalam jangka waktu yang lama bagi tumor fibroid. (Kowalak, 2011)

Di samping metode observasi, metode nonbedah meliputi:

Preparat agonis GnRH untuk dengan cepat mensupresi pelepasan gonadotropin hipofisis yang
menimbulkan hipoestrogenemia berat, berkurangnya volume uterus hingga 50 % (efek puncaknya
tercapai setelahterapi memasuki minggu ke-12), dan mengecilnya tumor sebelum operasi serta
berkurangnya perdarahan selama pembedahan dan peningkatan hematokrit prabedah.
Terapi ini tidak menyembuhkan karena tumor akan terus membesar setelah terapi dihentikan.
Peningkatan ukuran tumor selama terapi dapat menunjukkan sarcoma uteri.

Terapi dengan preparat agonis GnRH sebaiknya dilakukan prabedah atau selama kurun waktu hingga
enam bulan pada wanita perimenopaus, yang setelah itu segera mengalami menopause alami sehingga
tindakan bedah dapat dihindari.

NSAID (Nonsteroid Antiinflammatory Drugs)

Ibuoprofen sebagai obat antiinflamasi nonsteroid untuk mengatasi dismenore dan gangguan rasa
nyaman pada panggul. (Kowalak, et.al, 2011).

Terapi nonfarmakologis untuk mioma uteri antara lain :

Observasi

Bila uterus lebih kecil dari ukuran uterus kehamilan 12 minggu, tanpa disertai penyulit lain.

Ekstirpasi

Atau pengangkatan seluruh massa tumor beserta kapsulnya untuk mioma submukosa bertangkai atau
mioma lahir, umumnya dilanjutkan dengan tindakan D/K.

Laparotomi dan miomektomi

Hal ini dilakukan bila fungsi reproduksi masih dibutuhkan dan secara teknis masih memungkinkan untuk
dilakukan tindakan tersebut. Biasanya tindakan ini dilakukan untuk mioma intramural, subserosa, dan
subserosa bertangkai.

Namun walaupun hanya dilakukan miomektomi, kemungkinan infertilitas pascatindakan sangat mungin
terjadi.

Laparotomi dan histerektomi

Tindakan ini dilakukan bila:

Fungsi reproduksi tidak diperlukan lagi

Pertumbuhan tumor sangat cepat

Sebagai tindakan hemostasis, dimana terjadi perdarahan yang terus-menerus dan tidak membaik
dengan pengobatan.

Histerektomi yang dilakukan adalah histerektomi totalis tanpa ovariektomi, namun bila mengalami
kesulitan, dapat dilakukan histerektomi subtotalis.
Ovariektomi Bilateral

Tindakan ini dilakukan untuk penderita dengan usia di atas 50 tahun. Setelah dilakukan tindakan ini,
penderita mendapatkan substitusi hormonal (Achadiat, 2004)

2.9. Komplikasi

Komplikasi Mioma Uteri menurut Wiknjosastro, (2007:340) yaitu:

Degenerasi ganas

Keganasan umumnya terjadi ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause.

Torsi (putaran tangkai)

Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga
mengalami nekrosis, sehingga terjadi sindrom abdomen akut. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis
dan infeksi yang diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya.

Nekrosis dan infeksi

Pada mioma sub mukosum yang terjadi polip, ujungnya kadang dapat melalui kanalis servikalis dan
dialirkan ke vagina. Dalam hal ini kemungkinan terjadi nekrosis dan infeksi sekunder, penderita
mengeluh tentang pendarahan yang bersifat menoragia atau metrogania dan leukea.

Perdarahan sampai terjadi anemia.

Pengaruh timbal balik mioma dan kehamilan.

Pengaruh mioma terhadap kehamilan .

Infertilitas.

Abortus.

Persalinan prematuritas dan kelainan letak.

Inersia uteri.

Gangguan jalan persalinan.

Perdarahan post partum.

Retensi plasenta.
Pengaruh kehamilan terhadap mioma uteri

Mioma cepat membesar karena rangsangan estrogen.

Kemungkinan torsi mioma uteri bertangkai.

2.10 Prognosis

Prognosis baik jika ditemukan mioma berukuran kecil, tidak cenderung membesar dan tidak memicu
keluhan yang berarti, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali termasuk pemeriksaan
USG. 55% dari semua mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apapun.
Menopause dapat menghentikan pertumbuhan mioma uteri. Pengecilan tumor sementara
menggunakan obat- obatan GnRH analog dapat dilakukan, akan tetapi pada wanita dengan hormon
yang masih cukup (premenopause), mioma ini dapat membesar kembali setelah obat-obatan ini
dihentikan. Jika tumor membesar, timbul gejala penekanan, nyeri hebat, dan perdarahan dari kemaluan
yang terus menerus, tindakan operasi sebaiknya dilakukan.

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian

A. Anamnesa

Identitas

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan, dan pekerjaan

Keluhan utama

Klien biasanya merasakan nyeri panggul kronik. Nyeri bisa terjadi saat menstruasi, setelah berhbungan
seksual, atau ketika terjadi penekanan pada panggul. Nyeriterjadi karena terpuntirnya mioma yang
bertangkai, pelebaran leher rahim akibat desakan mioma atau degenerasi (kematian sel) dari mioma.
pasien biasanya mengalami perdarahan akibat penekanan pembuluh darah pada area uterus. Keluhan
lain yang dirasakan pasien dapat berupa lemah, lelah dan lesu akibat perdarahan yang dialami pasien.

Riwayat kesehatan klien

Sejak kapan klien menderita penyakit, Apakah klien pernah mengalami tindakan operasi pengangkatan
sel tumor atau rahim.

Riwayat kesehatan keluarga


Apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit mioma uteri.

B. Pengkajian ROS (Review of System):

System pulmonary (B1): tidak ada keluhan

System kardiovaskuler (B2): nadi pasien tidak teratur, tekanan darah kurang dari normal.

System neurologi (B3) : nyeri, pusing, peningkatan suhu tubuh

System perkemihan (B4) : retensi urin

System pencernaan (B5) : pasien mengalami mual, muntah dan juga konstipasi.

System musculoskeletal : merasa lemah

C. Pemeriksaan penunjang

USG

Pemeriksaan USG menghasilkan gambaran yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun


perbesaran uterus

Histeroskopi

Terlihat adanya mioma uteri submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai

MRI

Mioma tampak sebagai massa gelap terbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium normal.

3.2 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah Keperawatan

1. DS: pasien mengatakan Mioma subserosa Gangguan rasa nyaman :


adanya rasa nyeri di daerah nyeri
abdomen bagian bawah dan
pinggang Pertumbuhan lateral berupa
tonjolan

DO: pasien terlihat gelisah,


terjadi perubahan pola tidur,
mengalami penurunan
kemampuan dalam melakukan Perlengketan ke omentum usus
aktivitas

Proses inflamasi

Gangguan rasa
nyaman: nyeri

2. DS: pasien mengatakan haus Mioma submukosa dibawah Deficit volume cairan
dan lemas endometrium

DO: penurunan turgor kulit


dan lidah, penurunan haluaran
urin, kulit dan membrane Menekan
mukosa kering, kelemahan pembuluh darah
dan penurunan berat badan
secara tiba-tiba

Pembuluh darah rupture

Perdarahan berulang

Deficit volume cairan

3. DS: pasien mengatakan tidak Perbesaran uterus Gangguan eliminasi


dapat berkemih dan kandung urin/retensi
kemih terasa penuh

DO: distensi kandung kemih, Menekan kandung kemih


urin menetes, terdapat urin
residu, haluaran urin sering
dan sedikit atau tidak ada Gangguan eliminasi
urin/retensi

4. DS: pasien menyatakan nyeri Perbesaran uterus Gangguan eliminasi


saat defekasi, perasaan penuh fekal/konstipasi
atau tekanan pada rectum,
merasa tidak nafsu makan Menekan rektum
(anoreksia)

DO: terjadi perubahan pola


defekasi; terdapat distensi
abdomen; feses yang kering,
keras, dan padat; flatus berat;
mengejan saat defekasi Gangguan eliminasi
fekal/konstipasi

5. DS: - Ruptur pembuluh darah Deficit perawatan diri

DO: pasien tidak mampu Perdarahan berulang


mengakses kamar mandi,
mengeringkan badan,
mengambil perlengkapan
mandi, mendapatkan sumber
air, dan emmbersihkan tubuh Anemia

Deficit perawatan diri

3.3 Diagnosa Keperawatan

Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi dan spasme reflek otot uterus

Deficit volume cairan berhubungan dengan perdarahan berulang

Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan penekanan kandung kemih

Gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan penekanan pada rectum

Deficit perawatan diri, berhubungan dengan keletihan akibat anemia


3.4 Intervensi

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri kronis berhubungan dengan proses inflamasi dan spasme reflek otot
uterus

Tujuan :

Tingkat nyeri pasien dipertahankan pada skala 0-10

Pasien akan mengenali faktor-faktor yang meningkatkan dan melakukan tindakan pencegahan nyeri

Intervensi:

Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan/durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas, dan faktor resipitasi nyeri.

Kaji faktor yang menurunkan toleransi nyeri

Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya umpan balik biologis, relaksasi, imajinasi
terbimbing, terapi music, relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin) sebelum, dan setelahjika
memungkinkan, selama aktivitas yang menyakitkan, sebelum nyeri terjadi atau saat nyeri terjadi, dan
selama penggunaan tindakan pengurangan nyeri yang lain

Bantu pasien dalam mengidentifikasi tingkat nyeri yang beralasan dan dapat diterima

Berikan informasi tentang nyeri, seperti peyebab nyeri, seberapa lama akan berlangsung dan antisipasi
ketidaknyamanan dari prosedur

Kolaborasi: pemberian analgesic sesuai dosis yang diprogramkan

2. Deficit volume cairan berhubungan dengan perdarahan berulang

Tujuan/ kriteria evaluasi dari NOC:

Kekurangan volume cairan akan teratasi, dibuktikan dengan

Hemoglobin dan hematokrit pasien dalam batas normal

Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam waktu 24 jam

Menampilkan hidrasi yang baik (membrane mukosa lembab maupun berkeringat)

Memiliki asupan cairan oral/intravena yang adekuat

Keseimbangan elketrolit dan asam-basa akan tercapai, dibuktikan dengan: frekuensi nadi dan irama
dalam rentang yang diharapkan, elektrolit serum (Na, K, Ca,Mg, dll) dalam batas normal

Intervensi :
Pengkajian

Pantau jumlah, warna dan frekuansi kehilangan cairan

Pantau perdarahan yang dikeluarkan melalui daerah vagina

Pantau status hidrasi (misalnya kelembapan mukosa oral, keadekuatan nadi, dan tekanan darah
ortostatik)

Pantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan (misalnya kadar hematokrit, BUN,
albumin, protein total, osmolalitas serum, dan berat jenis urin)

Aktivitas kolaboratif:

Laporkan abnormalitas elektrolit

Pengaturan cairan (NIC): atur ketersediaan darah untuk transfuse, bila perlu; berikan ketentuan
penggantian NGT berdasarkan haluaran, sesuai dengan kebutuhan; berikan terapi IV, sesuai anjuran

Aktivitas lain:

Tentukan jumlah cairan yang masuk selama 24 jam, hitung asupan yang diinginkan sepanjang siang sore,
dan malam hari.

Pengaturan cairan (NIC): tentukan asupan oral (misalnya, berikan cairan oral yang disukai pasien;
letakkan pada tempat yang mudah dijangkau; dan berikan air segar), sesuai dengan keinginan

Pasang kateter urin bila perlu

Berikan cairan sesuai dengan kebutuhan

3. Gangguan eliminasi urin/retensi urin berhubungan dengan penekanan pada kandung kemih

Tujuan/criteria evaluasi dari NOC:

Pasien dapat menunjukkan pengosongan kandung kemih dengan prosedur bersih kateterisasi
intermittan mandiri

Pasien dapat bebas dari infeksi saluran kandung kemih

Pasien akan melaporkan penurunan spasme kandung kemih

Pasien mempunyai keseimbangan asupan dan haluaran 24 jam

Pasien dapat mengosongkan kandung kemih secara tuntas

Intervensi NIC :
Pengkajian:

Kaji kemampuan mengidentifikasi kemampuan untuk berkemih

Pantau asupan dan haluaran cairan

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga: instruksikan pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urin
bila diperlukan

Aktivitas kolaboratif: rujuk ke perawatan terapi enterostoma utnuk instruksi kateterisasi intermitten
mandiri menggunakan prosedur bersih setiap 4-6 jam pada saat terjaga, rujuk apda spesialis kontinensia
urin jika diperlukan

Aktivitas lain:

Lakukan program pelatihan pengosongan kandung kemih (bladder training)

Bagi cairan dalam sehari untuk menjamin asupan yang adekuat tanpa menyebabkan kendung kemih
over-distensi

Perawatan retensi urin (NIC): berikan privasi untuk eliminasi, stimulasi reflek kandung kemih dengan
menmpelkan es ke abdomen dana menekan bagian dalam paha atau mengalirkan air, berikan cukup
waktu untuk pengosongan kandung kemih (10 menit), lakukan kateterisasi untuk mengeluarkan urin
residu (jika diperlukan), dan pasang kateter urin (jika diperlukan).

4. Gangguan eliminasi fekal berhubungan dengan penekanan pada rectum

Tujuan / criteria evaluasi NOC:

Pola eliminasi dalam rentang yang diharapkan; feses lembut dan berbentuk

Pasien dapat mengeluarkan feses tanpa bantuan obat-obatan maupun yang lainnya

Pasien akan menunjukkan pengetahuan program defekasi yang dibutuhkan untuk mengatasi efek
samping pengobatan

Intervensi :

Kaji dan dokumentasikan frekuensi, warna, konsistensi feses, keluarnya flatus, ada atau tidaknya bising
usus dan distensi abdomen 0pada keempat kuadran.

Informasikan kepada pasien kemungkinann konstipasi yang dirangsang oleh obat

Ajarkan pasien tentang efek diet (misalnya cairan dan serat) pada eliminasi

Tekankan penghindaran mengejan selama defekasi untuk mencegah perubahan tanda vital, sakit kepala
atau perdarahan.
Kolaborasi: pemberian obat pelembut feses seperti enema dan laksatif, konsultasikan kepada ahli gizi
untuk meningkatkan serat dan cairan dalam diet

5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan akibat anemia

Tujuan / criteria evaluasi:

Pasien akan menerima bantuan atau perawatan total dari pemberi asuhan, jika diperlukan

Pasien dapat mengungkapkan secara verbal kepuasan tentang kebersihan tubuh dan hygiene oral

Pasien dapat mempertahankan mobilitas yang diperlukan utnuk ke kamar mandi dan menyediakan
perlengkapan mandi

Pasien mampu menghidupkan dan mengatur pancaran dan suhu air

Pasien mampu membersihkan dan mengeringkan tubuh

Pasien mampu melakukan perawatan mulut

Pasien mampu menggunakan deodorant

Intervensi NIC:

Pengkajian:

Kaji kemampaun untuk menggunakan alat bantu

Kaji membrane mukosa oral dan kebersihan tubuh setiap hari

Kaji kondisi kulit saat mandi

Pantau adanya perubahan kemampuan fungsi

Pantau kebersihan kuku sesuai kemampuan perawatan diri pasien

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga : anjurkan pasien dan keluarga penggunaan metode alternative
untuk mandi dan hygiene oral

Aktivitas kolaboratif: rujuk pasien dan keluarga ke layanan social untuk perawatan di rumah, gunakan
ahli fisioterapi dan terapi okupasi sebagai sumber-sumber dalam merencanakan tindakan perawatan
pasien (misalnya, untuk menyediakan perlengkapan adaptif)

Aktivitas lain:

Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan hygiene oral, bantu pasien hanya jika diperlukan
Libatkan keluarga dalam pemberian asuhan

Akomodasi pilihan dan kebutuhan klien seoptimal mungkin (misalnya, mandi rendam vs. shower, waktu
mandi, dll.)

Bantuan perawatan diri : Mandi/Higiene (NIC): berikan bantuan sampai pasien benar-benar mampu
melakukan perawatan diri, letakkan sabun, handuk, deodorant, alat cukur, dan peralatan lain yang
dibutuhkan disamping tempat tidur atau kamar mandi; fasilitasi pasien untuk menyikat gigi jika perlu.

Cukur pasien, jika diindikasikan

Tawarkan untuk mencuci tangan setelah eliminasi dan sebelum makan.

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Mioma uteri atau juga dikenal dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri fibroid adalah tumor jinak
rahim yang paling sering didapatkan pada wanita. Pengecilan tumor sementara menggunakan obat-
obatan GnRH analog dapat dilakukan, akan tetapi pada wanita dengan hormon yang masih cukup
(premenopause), mioma ini dapat membesar kembali setelah obat-obatan ini dihentikan.

DAFTAR PUSTAKA

Pearce, Evelyn C. 2000. Anatomi dan Fisiolog untuk Paramedis Edisi Barui.Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama

Derek LJ, 2011. Dasar obstetri dan Genekologi. Edisi Ke – 6.Jakarta: Hipokkrater

Prawirohardjo, sarwono. 2002. Edisi Ke-3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Wiknjosastro. 2007. Ilmu Kebidanan . Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.

Sastrawinata, S. 2005. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC

Wilkinson, Judith M. dan Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 9. Jakarta : EGC

Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosis Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis, Edisi 9. Jakarta:
EGC
Mansjoer, Arif. ( 2002 ). Kapita selekta kedokteran. Jakarta : media Aesculapius.

Carpenito, L.J. (2000) Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges, M.E. (1999) Rencana Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : EGC

Manuaba, I. (2001) Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi Dan KB. Jakarta: EGC

Sastrawinata, dkk,. (1998) Ginekologi. Bandung : Elstar Offiset