Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Diare
B. Konsep Asuhan Keperawatan Diare
C. Konsep ASI Eksklusif
D. Konsep Tumbuh Kembang
1. Definisi Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta
jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur
tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan satuan
panjang dan berat (Kemenkes RI, 2015).
Pertumbuhan adalah peningkatan jumlah dan ukuran, besarnya sel di
seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur. Pertumbuhan
fisik merupakan hal yang kuantitatif atau dapat diukur, aspek
peningkatan ukuran fisik individu sebagai hasil peningkatan dalam
jumlah sel. Indikator ukuran pertumbuhan meliputi perubahan tinggi dan
berat badan, gigi, struktur skelet, dan karakteristik seksual (Whaley dan
Wong, 2004).
Perkembangan adalah bertambahnya fungsi atau kemampuan
sensoris (dengar, lihat, raba, cium), motorik (gerak kasar, halus), kognitif
(pengetahuan, kecerdasan), komunikasi/ berbahasa, emosi-sosial, dan
kemandirian (Depkes RI, 2013).
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar dan gerak halus, bicara
dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian (Kemenkes RI, 2015).
(Dalam buku: Buku Ajar Deteksi Dini Tumbuh Kembang dan
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir, Rhipiduri Rivanica & Miming Oxyandi,
2016 : 2-3)
2. Prinsi-prinsip Tumbuh Kembang
Prinsip Tumbuh Kembang menurut Potter dan Perry (2005)
a. Perkembangan merupakan hal yang teratur dan mengikuti rangkaian
tertentu
b. Perkembangan adalah sesuatu yang terarah dan berlangsung terus-
menerus, dalam pola sebagian berikut.
1) Pola yang terarah (directional trends)
a) Pola Cephalocaudal
Pertumbuhan berlangsung terus dari kepala kea rah bawah
bagian tubuh. Kepala mengalami perkembangan pertama,
lebih besar dan bersifat kompleks. Semakin kearah tubu
bagian bawah semakin kecil terbentuk pada tahap
selanjutnya. Misalnya bayi terlebih dulu bisa mengontrol
kepalanya daripada ekstremitasnya.
b) Pola Proximodistal (dari yang paling dekat ke yang jauh)
Perkembangan berlangsung terus dari daerah pusat
(proksimal) tubuh kearah luar tubuh (distal) atau
proximodistal perkembangan dimulai dari pusat tubuh
(midline) ke bagian yang menjauhi tubuh (perifer).
Maksudnya dari tengah yaitu paru-paru, jantung dan
sebagainya, ke pinggir yaitu tangan (proximal-distal).
Struktur mendahului fungsi. Ini berarti anggota tubuh
individu akan berfungsi setelah matang strukturnya. Seperti
mata, akan dapat melihat setelah otot-ototnya matang, atau
kaki dapat difungsikan setelah otot-ototnya matang.
c) Pola Differentiation
Ketika perkembangan berlangsung terus dari yang mudah
ke arah yang lebih kompleks. Pola differentiation yaitu
perkembangan dari yang sederhana ke fungsi dan aktivitas
yang lebih kompleks. Perkembangan ini mencakup fisik,
mental, social, dan emosional. Perkembangan ini
berdiferensiasi. Maksudnya perkembangan ini berlangsung
dari umum ke khusus (spesifik). Dalam semua aspek
perkembangan, baik motoric (fisik) maupun mental (psikis),
respons anak pada mulanya bersifat umum. Contohnya bayi
menendang-nendangkan kakinya secara sembarangan
sebelum ia dapat mengaturnya untuk merangkak atau
berjalan.
2) Sequential trends
Perkembangan inis sesuai dengan prinsip kontinuitas ketika
anak akan memulai tahap perkembangan. Setiap tahapan awal
akan mempengaruhi tahapan berikutnya.
3) Development pace
Kecepatan perkembangan setiap anak berbeda. Perkembangan
paling cepat sebelum dan sesudah lahir sampai dengan early
childhood, kemudian akan meningkat kembali setelah masa
adolescence dan berhenti pada masa early adulthood.
c. Sensitive Periods
periode ketika individu lebih mudah dipengaruhi oleh hal-hal baik
yang positif atau negative dari lingkungan. Misalnya pada masa
perkembangan fetus yakni fisiologinya akan mudah dipengaruhi oleh
berbagai factor.
(Dalam buku: Buku Ajar Deteksi Dini Tumbuh Kembang dan
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir, Rhipiduri Rivanica & Miming Oxyandi,
2016 : 5-7).

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang


Faktor Dalam (Internal) :
a. Ras/ etnik atau bangsa
Anak yang dilahirkan dari ras/ bangsa Amerika, maka ia tidak
memiliki factor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
b. Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi,
pendek, gemuk atau kurus.
c. Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah masa prenatal, tahun
pertama kehidupan, dan masa remaja.
d. Jenis Kelamin
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat
daripada laki-laki. Akan tetapi setelah melewati pubertas,
pertumbuhan anak laki-laki lebih cepat.
e. Genetik
Genetik adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi
ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada
tumbuh kembang anak seperti kerdil.
f. Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan
pertumbuham seperti pada sindrom down dan sindrom turner.
Sindrom down adalah suatu kelainan yakni terdapat subnormalitas
mental yang berat dan ciri-ciri wajah yang menyerupai ras
Mongoloid (Hinchliff, 1999 : 138). Sementara menurut Ramali
(2005), sindrom down adalah kelainan bawaan, terutama
keterbelakangan mental, bentuk wajah yang khas (Idiosi Mongoloid,
Mongoloidisme, kelianan kromosomal berupa trisonomi atau
translokasi gen secara tidak seimbang.
Faktor Luar (Eksternal) :
a. Faktor Prenatal
1) Gizi
Nutri ibu hamil terutama dalam trimester akhir kehamilan akan
memengaruhi pertumbuhan janin.
2) Mekanis
Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kelainan
kongenital seperti club foot.
3) Toksin/ zat kimia
Beberapa obat-obatan dapat menyebabkan kelainan kongenital.
4) Radiasi
Paparan radium dan sinar rontgen dapat menyebabkan kelainan
pada janin seperti deformitas anggota gerak.
5) Infeksi
Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh virus TORCH
dapat menyebabkan kelainan pada janin, katarak, bisu tuli,
retardasi mental, dan kelainan jantung.
6) Kelainan imonologi
Adanya perbedaan golongan darah anatara janin dan ibu,
sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah
janin. Kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah
janin dan akan menyebabkan hemolysis yang selanjutnya
mengakibatkan kerusakan jaringan otak.
7) Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakukan salah/ kekerasan
mental pada ibu hamil dan lain-lain
b. Faktor Persalinan
Komplikasi perasalinan pada bayi seperti trauma kepala dan asfiksia
dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
c. Faktor Pascapersalin
1) Gizi, untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang
adekuat
2) Penyakit kronis/ kelainan kongenital seperti tuberculosis,
anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi
pertumbuhan jasmani
d. Faktor Lingkungan Fisik dan Kimia
Lingkungan sebagai tempat anak hidup berfungsi sebagai penyedia
kebutuhan dasar anak. Sanitasi lingkungan yang kurang baik,
kurangnya sinar matahari, serta paparan sinar radioaktif dan zat
kimia tertentu mempunyai dampak yang negative terhadap
pertumbuhan anak.
e. Faktor Psikologis
Hubungan anak dengan lingkungans sekitarnya. Seorang anak yang
tidak dikehendaki oleh orangtuanya atau anak yang selalu merasa
tertekan, akan mengalami hambatan didalam pertumbuhan dan
perkembangannya.
f. Faktor Sosial-Ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang juga menjadi factor yang memengaruhi tumbuh
kembang anak.
g. Faktor Lingkungan Pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-anak sangat
memengaruhi tumbuh kembang anak.
h. factor Stimulasi
Pertumbuhan memerlukan rangsang/ stimulus khususnya dalam
keluarga misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak,
keterlibatan ibu dan anggota keluarga
i. Faktor Obat-obatan
Pemakaian kostikosteroid jangka lama akan menghambat
pertumbuhan. Demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang
terhadap susunan syaraf yang menyebabkan terhambatnya produksi
hormone pertumbuhan.
(Depkes, RI, 2013)
(Dalam buku: Buku Ajar Deteksi Dini Tumbuh Kembang dan
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir, Rhipiduri Rivanica & Miming Oxyandi,
2016 : 7-10).

4. Ciri-ciri Tumbuh Kembang


Tumbuh kembang yang dimulai sejak konsepsi sampai dewasa
mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu sebagai berikut (Soetjiningsih, 1995)
a. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak konsepsi sampai
maturitas atau dewasa, dipengaruhi oleh factor bawaan dan
lingkungan.
b. Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa
perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan diantara
organ-organ.
c. Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda
antara anak satu dengan yang lainnya.
d. Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi system susunan
saraf
e. Aktivitas seluruh tubuh diganti respons individu yang khas
f. Arah perkembangan anak adalah cephalocaudal
g. Reflkes primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan
menghilang sebelum gerakan volunteer tercapai.
(Dalam buku: Buku Ajar Deteksi Dini Tumbuh Kembang dan
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir, Rhipiduri Rivanica & Miming Oxyandi,
2016 : 10).

5. Tahap Tumbuh Kembang


Terdapat beberapa tahap perkembangan pada anak menurut umur, yaitu
sebagai berikut (Depkes RI, 2015).
a. Umur 0 – 3 Bulan
1) Mengangkat kepala 45°
2) Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah
3) Melihat/ menatap wajah
4) Mengoceh spontan/ bereaksi dengan mengoceh
5) Tertawa keras
6) Terkejut/ bereaksi terhadap suara
7) Membalas tersenyum
8) Mengenal ibu dengan penglihatan, pendengaran, penciuman,
kontak

b. Umur 3 – 6 Bulan
1) Berbalik dari telungkup ke telentang
2) Mengangkat kepala setinggi 90°
3) Menggenggam pensil
4) Meraih benda yang ada dalam jangkauan
5) Memegang tangan sendiri
6) Berusahan memperluas pandangan
7) Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
8) Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi
9) Tersenyum ketika melihat mainan/ gambar yang menarik saat
bermain

c. Umur 6 – 9 Bulan
1) Duduk sendiri
2) Belajar berdiri, kedua kaki menyangga sebagian berat badan
3) Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang
4) Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya
5) Memungut dua benda, dengan masing-masing tangan
6) Memungut benda sebesar kacangn dengan cara mengarup
7) Bersuara tanpa arti, seperti mamama-bababa-dadada-tatata
8) Mencari mainan yang dijatuhkan
9) Bermaik tepuk tangan/ ciluk – baa
10) Bergembira dengan melempar bola
11) Makan kue sendiri

d. Umur 9 – 12 Bulan
1) Mengangkat badannya ke posisi berdiri
2) belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi
3) Berjalan dituntut
4) Mengulurkan lengan untuk meraih benda yang diinginkan
5) Menggenggam erat pensil
6) Memasukkan benda ke mulut
7) Mengulang/ menirukan bunyi yang didengar
8) Menyebut 2 – 3 suku kata yang sama tanpa arti
9) Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
10) Bereaksi terhadap suara perlahan atau bisikan
11) Senang diajak bermain ciluk – baa
12) Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum
dikenal

e. Umur 12 – 18 Bulan
1) Berdiri sendiri tanpa pegangan
2) Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali
3) Memanggil ayah dengan kata “papa” dan ibu dengan “mama”
4) Menumpuk dua kubus
5) Memasukkan kubus ke kotak
6) Menunjukkan apa yang diinginkan tanpa menangis/ merengek,
anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik
tangan ibu
7) Memperlihatkan rasa cemburu/ bersaing

f. Umur 18 – 24 Bulan
1) Berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik
2) Berjalan tanpa terhuyung
3) Bertepuk tangan dan melambai
4) Menumpuk empat buah kubus
5) Memungut benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk
6) Menggelindingkan bola ke arah sasaran
7) Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti
8) Menirukan pekerjaan rumah tangga
9) Memegang cangkir sendiri, belajar makan, dan minum sendiri

g. Umur 24 – 36 Bulan
1) Naik tangga sendiri
2) Dapat bermain dan menendang bola kecil
3) Mencorat-coret pensil pada kertas
4) Bicara dengan baik dengan dua kata
5) Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
6) Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua
benda atau lebih
7) Membantu memungut mainannya sendiri atau membantu
mengangkat piring jika diminta
8) Makan sendiri tanpa banyak tumpah
9) Melepas pakaiannya sendiri

h. Umur 36 – 48 Bulan
1) Berdiri dengan satu kaki selama dua detik
2) Melompat dengan kedua kaki diangkat
3) Mengayuh sepeda roda tiga
4) Menggambar garis lurus
5) Menumpuk delapan buah kubus
6) Mengenal 2 – 4 warna
7) Menyebut nama, umur dan tempat
8) Mengerti arti kata di atas, di bawah, dan di depan
9) Mendengarkan cerita
10) Mencuci dan mengeringkan tangan sendiri
11) Bermain bersama teman dan dapat mengikuti aturan permainan
12) Mengenakan sepatu sendiri
13) Menganakan celana panjang, kemeja dan baju

i. Umur 48 – 60 Bulan
1) Berdiri dengan satu kaki selama enam detik
2) Melompat-lompat dengan satu kaki
3) Menari
4) Menggambar tanda silang
5) Menggambar lingkungan
6) Menggambar orang dengan tiga bagian tubuh
7) Memancing baju atau pakaian boneka
8) Menyebut nama lengkap tanpa dibantu
9) Senang menyebut kata-kata baru
10) Senang bertanya tentang sesuatu
11) Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
12) Bicaranya mudah dimengerti
13) Bisa membandingkan/ membedakan sesuatu dari ukuran dan
bentuknya
14) Menyebut angka, menghitung jari
15) Menyebut nama-nama hari
16) Berpakaian sendiri tanpa dibantu
17) Menggosok gigi tanpa dibantu
18) Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu
j. Umur 60 – 72 Bulan
1) Berjalan lurus
2) Berdiri dengan satu kaki selama sebelas detik
3) Menggambar orang lengkap dengan enam bagian
4) Menggambar segi empat
5) Menangkap bola kecil dengan kedua tangan
6) Mengerti arti lawan kata
7) Mengerti pembicaraaan yang menggunakan tujuh kata atau lebih
8) Menjawab pertanyaan tentang benda terbuat dari apa dan
kegunaannya
9) Mengenal angka, bisa menghitung angka 5 – 10
10) Mengenal warna-warni
11) Mengungkapkan rasa simpati
12) Mengikuti aturan permainan
13) Berpakaian sendiri tanpa dibantu
(Dalam buku: Buku Ajar Deteksi Dini Tumbuh Kembang dan
Pemeriksaan Bayi Baru Lahir, Rhipiduri Rivanica & Miming Oxyandi,
2016 : 10-15).