Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN GANGGUAN SISTEM


PENCERNAAN GASTRITIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh :

KELOMPOK 2

1. SUCI AZKIYA RIZKIYANI


2. ANI NURAENI
3. KARTININGSIH
4. KRIMAR ARDIAN
5. FAJAR FIRDAUS

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
TASIKMALAYA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat taufik dan hidayah-Nya,
makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini merupakan makalah pengetahuan bagi mahasiswa/I
akper pemkab kotim maupun para pembaca untuk bidang Ilmu Pengetahuan.
Makalah ini sendiri dibuat guna memenuhi salah satu tugas kuliah dari dosen mata
kuliah Keperawatan Gerontik dengan judul Standar ASUHAN KEPERAWATAN
GERONTIK PADA PASIEN LANSIA DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
GASTRITIS. Dalam penulisan makalah ini penulis berusaha menyajikan bahasa yang sederhana
dan mudah dimengerti oleh para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari
sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karenanya, penulis menerima kritik dan saran
yang positif dan membangun dari rekan-rekan pembaca untuk penyempurnaan makalah ini.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amin.

Tasikmalaya, November 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam tubuh manusia banyak terdapat system yang saling kerja sama dalam
mempertahankan kehidupan. Sistem pencernaan merupakan salah satu system yang penting
dalam tubuh karena hasilnya nanti berupa energi yang sangat penting dalam proses metabolisme
dan kelangsungan hidup setiap sel di tubuh. Dalam system pencernaan banyak organ-organ yang
penting, salah satunya adalah lambung.
Di Lambung nantinya terjadi pemecahan dan penyerapan karbohidrat dan lapisan mukosa
lambung menghasilkan asam lambung (HCL) yang dalam kadar normalnya fungsinya sangat
penting. Lambung (gaster) bisa mengalami kelainan seperti peradangan pada dinding lambung
(gastritis) jika pola hidup seperti pola makan dan diet yang tidak normal atau mengkonsumsi
jenis obat-obatan bisa mengakibatkan gastritis atau mag.
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang
dapat bersifat akut, kronis, difus atau local (Patofisiologi,Sylvia A Price hal 422). Gastritis
merupakan salah satu penyakit yang banyak di jumpai di klinik atau ruang penyakit dalam pada
umumnya. Kejadian penyakit gastritis meningkat sejak 5-6 tahun ini dan menyerang laki-laki
lebih banyak dari pada wanita. Secara garis besar Gastritis dapat di bagi menjadi beberapa
macam berdasarkan pada manifestasi klinis. Berdasarkan pada manifestasi klinik, Gastritis dapat
di bagi menjadi akut dan kronik. Masalah yang sering timbul pada gastritis umumnya mengalami
masalah keperawatan gangguan rasa nyaman nyeri.
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan harus memahami dan memberikan peran
dan asuhan yang tepat seperti halnya pada klien dengan gangguan system pencernaan : Gastritis.
1.2 Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Penulis mampu memahami “Asuhan Keperawatan Lansia Dengan Gangguan Sistem
Pencerna: Gastritis”.
b. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian keperawatan lansia dengan gangguan sistem
Pencernaan; Gastritis.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan lansia dengan gangguan sistem
Pencernaan; Gastritis.
c. Penulis mampu menyusun rencana keperawatan lansia dengan gangguan sistem
Pencernaan: Gastritis.
d. Penulis mampu melaksanakan tindakan keperawatan lansia dengan gangguan sistem
Pencernaan; Gastritis.
e. Penulis mampu mengevaluasi keperawatan lansia dengan gangguan sistem
Pencernaan; Gastritis.

1.3 Ruang Lingkup Penulisan


Laporan kasus ini dibatasi pada satu kasus saja yaitu “Asuhan Keperawatan Lansia
Dengan Gangguan Sistem Pencernaan; Gastritis.

1.4 Sistematika Penulisan


BAB I : Pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup penulisan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan
BAB II : Tujuan teoritis terdiri dari teoritis medis dan teoritis keperawatan
BAB III : Askep Gerontik yang terdir dari pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan,
rencana keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan
BAB IV : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP DASAR MEDIS


2.1.1 DEFENISI
Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung. Gastritis adalah segala radang mukosa
lambung (Buku Ajar Ilmu Bedah,Edisi Revisi hal 749).
Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat
bersifat akut, kronis,local (Patofisiologi,Sylvia A Price hal 422).
Gastritis adalah suatu proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung dan
secara hispatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut.
(Imu Penyakit Dalam Jilid II). Gastritis adalah peradangan lokal atau penyebaran pada mukosa
lambung dan berkembang dipenuhi bakteri (Charlene. J, 2001, hal : 138).
Jadi gastritis itu adalah Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan
kerusakan erosi. Erosif karena perlukaan hanya pada bagian mukosa. bentuk berat dari gastritis
ini adalah gastritis erosive atau gastritis hemoragik.Perdarahan mukosa lambung dalam berbagai
derajad dan terjadi erosi yang berarti hilangnya kontinuitas mukosa lambung pada beberapa
tempat. Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu :
1.Gastritis akut
Salah satu bentuk gastritis akut yang sering dijumpai di klinik ialah gastritisakut erosif.
Gastritis akut erosif adalah suatu peradangan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-
kerusakan erosif. Disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam daripada
mukosa muskularis.
2.Gastritis kronis
Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang
menahun. Gastritis kronis adalah suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang
berkepanjangan yang disebabkan baik oleh ulkus lambung jinak maupun ganas atau oleh bakteri
helicobacter pylori (Brunner dan suddart).
2.1.2 ETIOLOGI
Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai berikut :
Gastritis Akut
Penyebabnya adalah obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin (aspirin yang dosis
rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung). Bahan kimia misal : lisol, alkohol,
merokok, kafein lada, steroid dan digitalis. Gastritis juga dapat disebabkan oleh obat-obatan
terutama aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (AINS), juga dapat disebabkan oleh
gangguan mikro sirkulasi mukosa lambung seperti trauma, luka bakar dan sepsis(Mansjoer, Arif,
1999, hal : 492).
Gastritis Kronik
Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui. Gastritis ini merupakan
kejadian biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol,dan merokok.
Penyebab lain
Diet yang sembarangan, makan terlalu banyak, dan makan yang terlalu cepat dan makan-
makanan yang banyak mengandung bumbu atau mengandung MSG . Faktor psikologi stress baik
primer maupun sekunder dapat merangsang peningkatan produksi asam-asam gerakan peristaltik
lambung. Sterss jugaakan mendorong gerakan antara makanan dan dinding lambung menjadi
tambah kuat. Hal ini dapat menyebabkan luka pada lambung.
Stress berat (sekunder) akibat kebakaran, kecelakaan maupun pembedahan sering pula
menyebabkan tukak lambung akut. Infeksi bakteri Gastritis akibat infeksi bakteri dari luar tubuh
jarang terjadi sebab bakteri tersebut oleh asam lambung. Kuman penyakit atau infeksi bakteri
penyebab gastritis, umumnya berasal dari dalam tubuh penderita bersangkutan. Keadaan ini
sebagai wujud komplikasi penyakit yang telah ada sebelumnya

2.1.3 ANATOMI PENCERNAAN


PENCERNAAN MAKANAN (SISTEM PENCERNAAN)
Semua makluk hidup memerlukan makanan untuk menghasilkan energi. Makanan yang
dimakan kemudian harus dicerna agar dapat diserap oleh tubuh. Proses pengelolahan makanan
agar makanan dapat diserap tubuh disebut sebagai proses makanan. Sistem pencernaan terdiri
dari suatu saluran panjang yaitu saluran cerna dimulai dari mulut sampai anus, dan kelenjar-
kelenjar yang berhubungan seperti kelenjar liur, hati dan prancreas yang letaknya diluar saluran
akan tetapi menghasilkan sekret yang dicurahkan pada saluran tersebut.
Fungsi dari sistem pencernaan adalah memproses makanan menjadi zat yang mampu diserap
dalam peredaran darah. proses pencernaan dalam tubuh manusia ada dua yaitu;
1. Pencernaan secara mekanis (gerakan), terjadi dimulut. Makanan pada mulanya dijadikan
bagian yang kecil dengan cara dikunyah kemudian dihaluskan lebih lanjut oleh asam
klorida dan enzim-enzim yang lain. Seperti pada pencernaan karbohidrat oleh mulut
yangdibantuoleh gigi dan dicampur dengan enzim ptyalin bersama air ludah.
2. Pencernaan secara kimia yaitu pencernaan makanan secara kimiawi terjadi dengan
bantuan zat kimia tertentu. Enzim pencernaan merupakan zat kimia yang berfungsi
memecahkan molekul bahan makanan yang kompleks dan besar menjadi molekul yang
lebih sederhana dan kecil. Molekul yang sederhana ini memungkinkan darah dan cairan
getah bening (limfe) mengangkut ke seluruh sel yang membutuhkan.
Sistem pencernaan makanan pada manusia terdiri dari beberapa organ, antara lain adalah ;
 Mulut
Mulut merupakan rongga pada permulaan saluran cerna terdiri dari Vestibula yang berada
diantara bibir dan gusi serta rongga mulut yang merupakan ruangan yang berada dibagian dalam
yang dibatasi oleh tulang maksila dan semua gigi. Proses yang pertama kali terjadi di mulut
merupakan proses mekanis dan khemis. Proses mekanis yang terjadi adalah pengunyahan
menggunakan otot masater, otot temporalis, otot pteregoid lateral dan medial dibantu dengan
ludah, gigi dan lidah. Pada cavum oris (rongga mulut) mulai dihaluskan oleh geligi kita dan
enzim Ptyaline yang dihasilkan oleh kelenjar ludah.kelenjar lidah ada 3 yaitu 1). kelenjar parotis
2). kelenjar submandibularis, dan 3). kelenjar sublingualis. Fungsi kelenjar ludah ialah
mengeluarkan saliva yang merupakan cairan pertama yang mencerna makanan. Deras aliran
saliva diransang oleh adanya makanan dalam mulut. Saliva merupakan cairan yang bersifat alkali
yang mengandung musin dan ptyalin.
 KERONGKONGAN (esofagus).
Merupakan tabung berotot yang panjangnya 20-25 cm diatas dimulai dari faring sampai pintu
masuk kardiak lambung di bawah. Makanan berjalan dalam esophagus karena kerja paristaltic,
lingkaran serabut otot didepan makanan mengendor dan yang dibelakang makanan berkontraksi
sehingga makanan dapat terdorong ke bawah.
 LAMBUNG (Gaster atau Ventrikel).
Lambung merupakan bagian saluran cerna yang memiliki kapasitas mengembang yang
paling banyak. Lambung dapat menampung 2-3 liter makanan dan cairan. lambung terletak di
tengah epigastrik dan terdiri dari kardia, fundus, corpus dan pylorus.
Fungsi lambung adalah menerima makanan dari esofagus, menampungnya dan berperan
dalam proses pencernaan karbohidrat, protein dan lemak. Kelenjar dalam lapisan mukosa
lambung mengeluarkan sekret yaitu cairan pencerna penting yang berupa getah lambung (HCl).
Getah ini adalah cairan yang tidak berwarna, getah lambung mengandung 0,4% asam klorida
yang mengasamkan makanan. Enzim yang berada pada getah lambung terdiri dari pepsin, rennin
dan lipase.
 HATI
Adalah kelenjar terbesar dalam tubuh yang terletak dibagian atas rongga abdomen disebelah
kanan dan dibawah diafragma. Fungsi dihati berkaitan dengan metabolisme dan proses
detoktifikasi. Proses metabolisme yang diperankan oleh hati antara lain sintesis
protein,penyimpanan glukosa dalam bentuk glikogen serta proses pengolahan fraksi-fraksi
lemak.
Fungsi hati :
1. Tempat pembentukan empedu,
2. Tempat penyimpanan glikogen
3. Metabolisme lemak,
4. Membentuk protein plasma,
5. Memproses beberapa hormon steroid dan vitamin D,
6. Detoktifikasi.
 Empedu
Dihasilkan oleh hati,kemudian dibawa ke kantong empedu untuk dipekatkan. Bila
memakan makanan yang mengandung lemak, empedu akan dikeluarkan untuk membantu proses
pencernaan lemak.
2.1.4 PATOFISIOLOGI
Terdapat gangguan keseimbangan faktor agresif dan faktor desensif yang berperan dalam
menimbulkan lesi pada mukosa lambung
2.1.5 TANDA DAN GEJALA
Walaupun banyak kondisi yang dapat menyebabkan gastritis, gejala dan tanda – tanda penyakit
ini sama antara satu dengan yang lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :
 Perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau
lebih buruk ketika makan
 Nyeri tekan ringan di epigastrium
 Mual kadang disertai muntah
 Kehilangan selera makan
 Kembung dan terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan
 Kadang bisa disertai perdarahan saluran cerna berupa hematomesis dan melena (Sarwono,
Ilmu Penyakit Dalam, hal 127)
2.1.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Bila seorang pasien didiagnosa terkena gastritis, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan
tambahan untuk mengetahui secara jelas penyebabnya. Pemeriksaan tersebut meliputi :
 Pemeriksaan darah. Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H. pylori dalam
darah. Hasil tes yang positif menunjukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada
suatu waktu dalam hidupnya, tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena
infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia, yang terjadi akibat
pendarahan lambung akibat gastritis.
 Pemeriksaan pernapasan. Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh bakteri
H. pylori atau tidak.
 Endoskopi saluran cerna bagian atas. Dengan tes ini dapat terlihat adanya
ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-X. Tes
ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop)
melalui mulut dan masuk ke dalam esophagus, lambung dan bagian atas usus kecil.
Tenggorokan akan terlebih dahulu dimati-rasakan (anestesi) sebelum endoskop dimasukkan
untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran
cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel (biopsy) dari
jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini
memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh
pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang,
kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko akibat tes ini. Komplikasi yang
sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.
 Ronsen saluran cerna bagian atas. Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda gastritis atau
penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu
sebelum dilakukan ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas
ketika di ronsen. (www.indofarma.co.id).
2.1.7 KOMPLIKASI
Jika dibiarkan tidak terawat, gastritis akan dapat menyebabkan peptic ulcers dan
pendarahan pada lambung. Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko kanker
lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus menerus pada dinding lambung dan
perubahan pada sel-sel di dinding lambung.
Kebanyakan kanker lambung adalah adenocarcinomas, yang bermula pada sel-sel
kelenjar dalam mukosa. Adenocarcinomas tipe 1 biasanya terjadi akibat infeksi H. pylori.
Kanker jenis lain yang terkait dengan infeksi akibat H. pylori adalah MALT (mucosa associated
lymphoid tissue) lymphomas, kanker ini berkembang secara perlahan pada jaringan sistem
kekebalan pada dinding lambung. Kanker jenis ini dapat disembuhkan bila ditemukan pada tahap
awal. (www.indofarma.co.id).

2.1.8 PENATALAKSANAAN MEDIS


a) Diet lunak, diberikan sedikit-sedikit tapi sering, hindari bahan-bahan yang merangsang
seperti alkohol bumbu dapur dll.
b) Berikan antasida, kecuali pada gastritis hipotropi dan etropi gaster karna terjadi proses
autoimun cukup hanya diberikan kortikosteroid dan viot B12.
c) Bila rasa nyeri tidak hilang dengan antasida, berikan okstosin tablet 15 menit sebelum
makan.
d) Berikan obat antikoligernik bila sekresi asam lambung berlebihan.
2.2 KONSEP DASAR KEPERAWATAN
2.1.1 PENGKAJIAN
a. Aktifitas/istirahat
Gejala : - Kelemahan kelelahan, malaise, cepat lelah
-Insomnia
-Ansietas
b. Sirkulasi
Tanda : -Takirkadia (respon terhadap demam, dehidrasi proses inflamasi dan nyeri
-TD : hipotensi
c. Integritas ego
Gejala : Ansietas, perasaan tak berdaya
Menolak, depresi, eliminasi
d. Makanan/ cairan
Gejala : - Anorexsia, mual/muntah
-Penurunan berat badan
-Tidak toleran terhadap diet/sensitif misal buah segar/sayur, produk susu,
makanan
berlemak
e. Higiene
Tanda : - Mampu mempertahankan perawatan diri
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala : - Nyeri/nyeri tekan pada kuadran kiri bawah
- Titik nyeri berpindah, nyeri tekan (artritis)
Tanda : - Nyeri tekan abdomen
g. Keamanan
Gejala : - Peningkatan suhu 38,6ᴼ C
h.Interaksi sosial
Gejala : - Masalah hubungan/peran sehubungan dengan kondisi
- ketidak mampuan aktif dalam lingkungan
2.1.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan GASTRITIS adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung ditandai dengan nyeri abdomen,
nyeri menyebar.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrien.
3. Resiko tinggi terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan banyak
melalui rute normal ditandai dengan mual dan muntah.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat ditandai dengan tidak akurat
mengikuti instruksi
2.1.3 PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan I
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung ditandai dengan nyeri abdomen,
nyeri menyebar.
Tujuan :
- Nyeri hilang/terkontrol
- Klien tampak rileks dan mampu tidur/ istirahat dengan tepat
Intervensi dan rasional :
I : Dorongan klien untuk melaporkan nyeri
R : Mencoba untuk menoleransi nyeri, dari pada meminta analgesik.
I : Kaji laporan nyeri. Catat lokasinya, lamanya intensitasnya dan laporkan perubahan
karakteristik nyeri
R : Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit/
Terjadinya komplikasi
I : Berikan tindkan yang nyaman misal pijatan punggung, ubah posisi dan aktivitas
Senggang
R : Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan
Kemampuan koping
2. Diagnosa keperawatan II
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrien di tandai
dengan penurunan berat badan, penurunan lemak subcutan
Tujuan :
- Menunjukkan berat badan stabil atau peningkatan berat badan sesuai sasaran.
Intervensi dan rasional :
I : Timbang berat badan tiap hari
R : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet/keefektifan terapy
I : Anjurkan istirahat sebelum makan
R : menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan
I : Dorong tirah baring dan atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut
R : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi
I : Berikan kebersihan oral
R : Mulut yang bersih dapat meningkatkan selera makan
I : Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, platus
R : Mencegah serangan akut/eksaserbagi gejala

3. Diagnosa Keperawatan III


Resiko tinggi terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
banyak melalui rute normal ditandai dengan mual dan muntah.
Tujuan :
Mempertahankan volume cairan yang adekuat dibuktikan oleh membran mukosa lembab
dan turgor kulit baik.
Intervensi rasional :
I : Awasi masukkan dan pengeluaran, karakter dan jumlah perkirakan kehilangan
yang tidak terlihat misal berkeringat
R: Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan fungsi ginjal dan penyakit
usus
I : Kaji tanda vital
R: Hipotensi dapat menunjukkan respon atau efek kehilangan cairan
I : Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit,
pengisian kapiler lambat
R: Menunjukkan kehilangan cairan/dehidrasi
I : Ukur berat badan tiap hari
R: Indikator cairan dan status nutrisi
I : Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring, hindari kerja
R: Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan kehilangan
cairan usus
4. Diagnosa keperawatan IV
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat ditandai dengan tidak
akurat mengikuti instruksi
Tujuan :
- Menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan
- Berpatisipasi dalam program pengobatan
Itervensi dan Rasional :
I: Tentukan persepsi klien tentang proses penyakit
R: Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar
individu
I: Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungen faktor yang menimbulkan
gejala dan cara menurunkan faktor pendukung
R: Faktor pencetus/pemberat individu sehingga kebutuhan klien untuk waspada
terhadap makanan, cairan, dan faktor terhadap hidup dapat mencetuskan gejala
I : Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping
R: Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program
I : Dapat meningkatkan motilitas usus, meningkatkan gejala
R: Ingatkan klien untuk mengobservasi efek samping bila steroid diberikan dalam
jangka panjang
I : Steroid dapat digunakan untuk mengontrol inflamasi dan mempengaruhi remisi
penyakit namun obat dapat menurunkan ketahanan terhadap infeksi
menyebabkan ritensi cairan
R: Tekankan pentingnya perawatan kulit: mis tekhnik cuci tangan dengan baik dan
perawatan parineal yang baik
I : Menrunkan penyebaran bakter dan resiko iritasi/kerusakan infeksi.

5. Diagnosa keperawatan V
Koping individu tak efektif berhubungan dengan nyeri hebat, kurang tidur, istirahat
ditandai dengan ketidak mampuan mengatasi dan putus asa.
Tujuan :
- Menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk membatasi/mencegah
kejadian berulang.
Intervensi dan rasional :
I : Kaji pemahaman klien/orang terdekat dan metode sebelumnya dalam menerima
proses penyakit.
R: Memampukan perawat untuk menerima lebih nyata tentang masalah saat ini.
anseitas dan masalah lain dapat memepengaruhi penyuluhan kesehatan/belajar
klien sebelumnya.
I : Tentukan stress luar, mis : keluarga, teman, lingkungan kerja atau sosial.
R: stress dapat mengganggu respon saraf otonom dan mendukung eksaserbasi
penyakit, meskipun tujuan kemandirian pada klien tergantung menjadi
penambahan stressor.
I : Bantu klien mengindentifikasikan keterampilan koping efektif secara individu.
R: Penggunaan prilaku yang berhasil sebelumnya dapat membantu klien menerima
situasi/rencana saat ini untuk masa datang.
I : Berikan dukung emosi mis mendengarkan dengan aktif dengan sikap tidak
menghakimi.
R: Membantu dalam komunikasi dan pemahaman titik pandang klien. Menambah
Perasaan klien akan harga diri.
I : Berikan periode tidur/istirahat tanpa gangguan
R: Kelelahan karena penyakit cenderung merupakan masalah berarti, mempengaruhi
kemampuan mengantasinya
I : Dorong menggunakan keterampilan menangani stree mis : tekhnik relaksasi,
visualisasi, bimbingan imajinasi, latihan napas dalam.
R: Memusatkan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan
Kemampuan koping.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN GASTRITIS

3.1. Pengkajian
CONTOH KASUS :
Klien bernama Ny. G berumur 75 tahun, jenis kelamin perempuan, dengan diagnosa
medis Gastritis. Saat ini klien tidak memiliki pekerjaan karena klien tinggal di Panti Jompo,
pekerjaan klien sebelumnya juga tidak ada, klien di biayai/dinafkahi oleh saudaranya. Klien
memiliki dua orang saudara kandung, satu kakak dan satu orang adik. Klien terkadang dijenguk
oleh anak dari kakaknya.
Pola Nutrisi makan 3 x/hari, nafsu makan ½ porsi dari 1 porsi yang disediakan, jenis
diet MB, klien memiliki kebiasan berdo’a sebelum makan, klien tidak suka makanan yang
lembek/bubur, klien tidak alergi terhadap makanan, klien sering mengeluh tentang makanan.
Klien BAK 5x/ hari, klien tidak mempunyai kebiasaan BAK pada malam hari. Frekwensi waktu
BAB klien adalah 1/ hari dengan konsistensi encer, klien mengeluh susah ke WC dikarenakan
Klien tidak bisa melihat diakibatkan karena Katarak dialami klien, klien dalam melakukan
aktivitas dibantu oleh perawat. Klien mandi 1x / hari yakni pagi hari dengan menggunakan
sabun, klien menggosok gigi 2x/ hari dengan menggunakan pasta gigi, klien mencuci rambutnya
3x/seminggu dengan menggunakan shampo. Klien tidur malam ± 5 jam dan tidur siang tidak ada.
Klien tidak memiliki kegiatan untuk mengisi waktu luang, klien banyak menghabiskan waktu
dengan duduk-duduk di depan kamarnya sambil bercerita dengan teman, klien tidak mempunyai
kebiasaan merokok dan meminum minuman keras.
Dalam satu tahun terakhir klien sering mengeluhkan penyakit gastroenteritis, dimana
klien sering mengeluh sakit perut, tidak nafsu makan. Faktor pencetusnya ialah gastritis, upaya
yang dilakukan ialah mengkonsumsi obat-obatan dari dokter. Riwayat kesehatan masa lalu,
klien mengalami penyakit Katarak pada mata klien dialami klien pada 10 tahun kebelakang, dan
klien pernah mengalami penyakit ringan seperti batuk, flu dan demam serta pusing/pening. Klien
tidak mempunyai riwayat alergi, klien juga tidak pernah mengalami kecelakaan yang fatal.
Dari hasil pengkajian pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 13 Mei 2014, di
peroleh data dengan TD : 100/70 mmHg, RR : 20 x/ menit, HR : 80 x/ menit dan Temp: 37ºC,
BB: 55 Kg, sesudah sakit BB turun 50 Kg, TB : 140 cm, keadaan rambut bersih dan beruban
dengan panjang ± 6 cm, mata klien menderita katarak/klien tidak bisa melihat, keadaan telinga
bersih, klien kurang peka terhadap suara (pendengaran kurang baik), mulut, gigi dan bibir terlihat
bersih, keadaan dada simetris, klien mengatakan ada masalah pada abdomennya, keadaan kulit
kering/keriput, klien tidak dapat melakukan aktivitas yang berat karena klien tidak bisa melihat
lagi dan harus dibantu dengan perawat atau temannya.
Klien tidak memiliki masalah kesehatan kronik serta tidak adanya gangguan pada fungsi
kognitif klien. Keadaan status fungsional klien baik dimana klien mampu melakukan aktivitas
secara sendiri/mandiri meskipun ada sedikit bantuan dari perawat, keadaan status psikologis
klien saat ini yaitu klien dalam keadaan normal.
Ruangan tempat tinggal klien rapi dan bersih dengan peneranggan yang cukup, sirkulasi
udara baik, keadaan WC bersih, pembuangan air kotor melalui Saluran pembuangan tertutup,
sumber air minum ialah sumur bor yang di olah menjadi air minum dengan menggunakan mesin,
sampah di buang di tempat sampah, dan tidak ada sumber pencemaran di daerah tempat tinggal
klien.
3.2 ANALISA DATA
No. DATA Fatofisiologi Masalah
1. DS : Klien mengatakan ulu Sindrom dispepsia Gangguan rasa
hatinya terasa panas Gangguan Psikologis cemas nyaman nyeri
seperti terbakar dan terasa Gangguan Keseimbangan Cairan
nyeri Nyeri epigastrium, Mual, Kembung, Muntah,
DO : Anorexia, Hematemesis, melena
- Klien tampak meringis
kesakitan
- Skala nyeri 4
- Nyeri tekan abdomen (+)
(PALPASI)
- Klien tampak memegang
ulu hatinya
Gangguan Rasa Nyaman
Nyeri
- Vital sign TD : 120/80
mmHg, HR :
78 x/menit, RR : 20
x/menit, Temp: 38ᴼC
- Hasil perkusi : perut
kembung

2. DS : Klien mengatakan Sindrom dispepsia Konstipasi


sudah sekian hari Gangguan Rasa Nyaman Nyeri
Tidak BAB Gangguan Psikologis cemas
DO : - Perut klien tampak Gangguan Keseimbangan Cairan
membesar Nyeri epigastrium, Mual, Kembung, Muntah,
- Bila ditekan perut Anorexia, Hematemesis, melena
terasa keras
3. DS : Klien mengatakan Gangguan
nafsu makan menurun dan pemenuhan nutrisi
ada perasaan mual kurang dari
DO : - Diet yang kebutuhan tubuh.
disediakan hanya habis
1/2 Porsi saja
- Klien tampak
muntah, 1 x/hari
- klien tampak lemah
- BB sebelum sakit :
55 kg
- BB sesudah sakit 50
kg
- Pada saat makan
sering terlihat mual
- Hasil perkusi : perut
kembung
4. DS : - Klien mengatakan Sindrom dispepsia Gangguan
sulit tidur dan Sering Nyeri epigastrium, Mual, Kembung, Muntah, pemenuhan
terbangun pada malam hari Anorexia, Hematemesis, melena kebutuhan istirahat
DO : - Klien tampak Gangguan Rasa Nyaman Nyeri tidur
gelisah Gangguan Psikologis cemas
- Tidur siang ± 2
jam/hari
Gangguan Keseimbangan
Cairan
- Tidur malam ± 5
jam/hari
- Klien tampak pucat
- Tampak sering
menguap di siang hari
5. DS : Klien mengatakan Gangguan
tidak mampu memenuhi pemenuhan aktivitas
kebutuhannya secara sehari - hari
mandiri.
DO : - Sebagian aktivitas
klien dibantu oleh Perawat
yaitu makan, BAB,BAK
dan personal hygien
- Klien tampak lemah

3.3 PRIORITAS MASALAH


1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi gaster ditandai dengan klien
mengatakan dengan pada uluhatinya terasa panas seperti terbakar, skala nyeri 4.
2. Konstipasi berhubungan dengan kurang minum dan kurang makan makanan yang
mengandung serat ditandai dengan klien mengatakan sudah sekian hari tidah BAB, perut
klien tampak membesar, jika perut ditekan terasa keras
3. Gangguan pemenuhan nutrsi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan
asam lambung ditandai dengan diet diet yang di sediakan hanya habis ½ porsi, klien muntah
1x/hari, klien tampak lemah vital sign : TD : 120/80 mmHg, HR : 78x/I, RR : 20 x/I, Temp :
36ᴼC, BB sebelum sakit : 50 kg, BB sesudah sakit 56 kg
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri ditandai
dengan klien tampak gelisah, tidur malam
5. Gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik ditandai
dengan aktivitas dibantu oleh oleh perawat seperti makan, mandi, berjalan, dan klien tampak
lemas, serta klien mengalami kebutuhan.
3.4 ASUHAN KEPERAWATAN

NO DX. KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI


1 Gangguan rasa nyaman Rasa nyeri hilang atau Kaji skala nyeri yang
 Untuk  Melakukan pengkajian S: Klien mengatakan
menentukan
nyeri berhubungan berkurang dialami pasien tindakan yang akan terhadap rasa nyeri yang nyeri pada bagian
dengan inflamasi gaster Dengan kriteria hasil  Lakukan kompres hangat dibuat selanjutnya dirasakan klien yaitu 4 uluhatinya sudah

ditandai dengan klien Klien tidak meringis pada daerah lambung  Meningkatkan mekanisme jenis nyeri sedang mulai berkurang
mengatakan dengan kesakitan  Anjurkan klien minum koping individu  Membantu klien O: - Klie tidak lagi

pada uluhatinya terasa Ekspresi wajah ceria dengan air hangat  Memberikan rasa nyaman melakukan tehnik meringis kesakitan
panas seperti terbakar,  Atur posisi klien pada klien relaksasi pernafasan - Skala nyeri 1-3,
skala nyeri 4. senyaman mungkin  Diharapkan dapat dengan menarik nafas jenis nyeri ringan
 Ukur tanda vital setiap 8 mengurangi rasa nyeri dalam dan A: Gangguan rasa
jam yang di rasakan. melepaskannya nyaman nyeri mulai
 Kolaborasi dengan Dokter perlahan teratasi
dalam pemberian  Mengatur posisi klien P: Intervensi
antacida dan penetral semi fowler dilanjutkan oleh
asam lambung  Mengkolaborasidengan perawat ruangan
 Alihkan perhatian klien dokter dalam pemberian
obat anti penghilng
nyeri
2 Konstipasi berhubungan Konstipasi 
teratasi Tingkatkan  Proses BAB klien lancar 
makanan Memberikan makanan S : Klien mengatakan
dengan kurang minum ddengan kriteria hasil : berserat  Untuk mengembalikan vyang banyak sudah bisa BAB
dan kurang 
makan 
Klien sudah bisa BAB Anjur klien banyak keseimbangan cairan mengandung serat sperti O : Perut klien tidak
makanan 
yang Perut klien tidak minum didalam tubuh sayuran dan buah- tampak membesar
mengandung serat tampak membesar Kolaborasi dengan dokter buahan lagi dan bila ditekan
ditandai dengan klien lagi dalam pemberian obat  Memberi klien banyak perut tidak keras
mengatakan 
sudah Bila ditekan perut anti konstipasi minum lagi
sekian hari tidah BAB, perut tidak terasa  Mengkolaborasi dengan A : Masalah teratasi
perut klien tampak keras lagi dokter dalam pemberian P : Intervensi
membesar, jika perut obat antikonstipasi Dihentikan,l,k,k,ok
ditekan terasa keras seperti Dulcolax dengan
cara supositoria
3 Gangguan pemenuhan Kebutuhan  Anjurkan klien minum air
nutrisi  Untuk menetralkan asam
 Menganjurkan klien S: klien mengatakan
nutrsi kurang dari terpenuhi dengan hangat sebelum makan lambung. minum air hangat nafsu makan mulai
kebutuhan tubuh kriteria hasil : ± 2 teguk  Membantu dalam sebelum makan ± 2 bertambah
berhubungan 
dengan  Anjurkan klien makan pemenuhan nutrisi.
Nafsu makan kembali teguk O: Diet yang
peningkatan asam normal  Meningkatkan keinginan
dalam porsi kecil tapi  Memberikan klien makan dissediakan
lambung 
ditandai Diet yang disajikan sering dan dalam untuk makan. dalam porsi kecil tapi hanya bersisa sedikit
dengan diet diet yang di habis keadaan hangat  Mengurangi peningkatan sering dan tetap dalam A: Kebutuhan nutrisi
sediakan hanya habis ½ Mual, muntah hilang  Beri klien makanan yang asam lambung. keadaan hangat mulai terpenuhi
porsi, klien muntah bervariasi dan  Mencegah pemasukan zat-
tidak  Memberikan klien P: intervensi
1x/hari, klien tampak monoton zat yang mengandung makanan yang dilanjutkan
lemah vital sign : TD :  Anjurkan klien asam. bervariasi dan tidak oleh perawat ruangan
120/80 mmHg, HR : mengkonsumsi  Meningkatkan nafsu monoton.
78x/I, RR : 20 x/I, Temp makanan yang tidak makan  Menganjurkan klien
: 36ᴼC, BB sebelum mengandung asam dan mengkonsumsi
sakit : 50 kg, BB gas makanan yang tidak
sesudah sakit 56 kg  Kolaborasi dengan ahli mengandung asam.
gizi dalam pemberian  Mengkolaborasi dengan
makanan yang tidak ahli gizi dalam
mengandung asam. pemberian makanan
yang tidak mengandung
asam.
 Mengkolaborasi dengan
dokter dalam pemberian
vitamin penambah nafsu
makan.
4 Gangguan pemenuhan Kebutuhan  Kaji pemenuhan tidur
istirahat  Untuk 
mengetahui Mencatat pemenuhan S : Klien mengatakan
kebutuhan istirahat tidur tidur klien terpenuhi klien setiap hari. kebutuhan istirahat tidur tidur klien setiap hari sudah dapat tidur
berhubungan dengan dengan kriteria  Beri penjelasan tentang seimbang. yaitu tidur siang ± 1 dengan menarik
adanya nyeri ditandai hasil :  Memotivasi klien supaya jam, tidur malam ± 2-4 O : - Tidur siang ±2 jam
pentingnya tidur untuk
dengan klien 
tampak Klien dapat tidur kesehatan. berkeinginan untuk jam - Tidur malam ± 7-8
gelisah, tidur malam dengan nyenyak  Ciptakan lingkungan yang istirahat tidur.  Menganjurkan klien jam
 Tidur siang ± 2 jam 
tenang, lingkungan yang Meningkatkan rasa tentang pentingnya A : Kebutuhan istirahat
 Tidur malam 7-8 jam bebas dari kebisingan nyaman. kebutuhan tidur bagi tidur terpenuhi
 Keadaan umum baik dan 
suasana Membantu klien kesehatan. P : Pertahankan

 Wajah tampak segar. panas/sumpek mengatasi  Menciptakan lingkungan


gangguan intervensi oleh
 Lakukan kompres hangat tidurnya. tenang, lingkungan perawat ruangan
sebelum tidur yang bebas dari
 Anjurkan posisi tidur kebisingan.
klien dengan semi/high  Mengkolaborasi dengan
fowler dokter dalam pemberian
 Kolaborasi dengan dokter obat penenang (tidur).
dalam pemberian anti
spasmodik
5 Gangguan  Pantau aktivitas yang
pemenuhan Aktivias klien sehari-  Mengetahui  Memantau aktivitas yang S : Klien mengatakan
tingkat
aktivitas sehari-hari hari dapat dilakukan dapat dilakukan klien. kemampuan klien dalam dapat dilakukan klien. tubuhnya masih
berhubungan 
dengan sendiri dengan kriteria Bantu klien dalam melakukan aktivitas.  Membantu klien dalam lemah
kelemahan fisik ditandai hasil : beraktivitas  Mengurangi beban beraktivitas yaitu O : Aktivitas ringan

dengan aktivitas dibantu Makan sendiri  Ajarkan klien dalam kliendalam beraktivitas. menemani klien dapat dilakukan
oleh oleh 
perawat Ke WC sendiri  Melatih pergerakan klien.
melakukan aktivitasnya kekamar mandi untuk sendiri seperti


seperti makan, mandi, Mandi sendiri secara perlahan  Menurunkan kerja dan bak dan bab, membantu
dan makan
berjalan, dan klien
 Berjalan sendiri bertahap metabolisme oksigen klien membersihkan A : Aktivitas klien
tampak lemas, serta  Tingkatkan istirahat dan diri, membantu klien sehari
 Keadaan umum baik.
klien mengalami batasi aktivitas klien. dalam pemenuhan hari mulai terpeuhi
kebutuhan. nutrisi
 Mengajarkan klien dalam P : Intervensi
melakukan aktivitasnya. dilanjutkan oleh
 Meningkatkan istirahat perawat ruangan.
dan batasi aktivitas
klien.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1. Lansia adalah tua yang rentan terhadap penyakit, terutama gangguan Pencernaan
2. Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat
bersifat akut, kronis, difus atau local aan berupa Gastritis.
3. Pada tahap perencanaan penulis menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah-masalah
yang ditemukan dan kondisi yang dialami oleh klien.
4. Pada tahap diagnosa keperawatan ditemukan seperti pasien tampak memegangi daerah
tengkuk, pasien sering bertanya-tanya tentang proses dan perawatan penyakitnya, dan klien
tampak lemah.
5. Evaluasi keperawatan pada klien lansia dilakukan untuk mengetahui apakah terpenuhi/tidak.

4.2. Saran
6. Pasien lansia yang mengalami gangguan Pencernaan hendaknya mengetahui bahwa penyakit
gastrits rentan pada usia lanjut.
7. Pasien dianjurkan bisa untuk memahami penyakit dari Gastritis.
8. Hendaknya pasien mengerti tentang pencegahan penyakit dan respo terhadap rencana
tindakan yang diberikan oleh perawat.
9. Hendaknya pasien mengerti cara mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
10. Hendaknya para perawat dan pasien bekerja sama dalam melaksanakan perencanaan terhadap
penyakit sehingga dapat dipenuhi semua rencana tindakan.
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, A.C. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, editor, Irawati Setiawan, Edisi 9. Jakarta;
EGC

Keliat, B.A. 1994. Proses Keperawatan. Jakarta; EGC

Long, B.C. 1996. Perawatan Medikal Bedah, Edisi I, Bandung

Mansjoer, A,. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi ketiga Jilid Pertama. Jakarta; Media
Aeusculapius,

Price, S.A,. 1994. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit,; alih bahasa, Peter
Anugrah; editor, Caroline Wijaya, Edisi 4. Jakarta; EGC

Smeltzer, S.C,. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, ; alih
bahasa, Agung Waluyo; editor Monica Ester, Edisi 8, Vol.2. Jakarta; EGC

Soeparman, S.W,. 2001. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II,. Jakarta; Gaya Baru

Anda mungkin juga menyukai