Anda di halaman 1dari 12

Bab 1 Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumberdaya. Negara
Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa semakin melengkapi potensi alam
Negara ini. Sumberdaya ini, menjadi penopang perekonomian masyarakat
serta penyumpang devisa. Bidang yang menjadi salah satu penopang
perekonomian dan penyumbang devisa adalah bidang perikanan. Bidang
perikanan tersebut yang paling berpotensial adalah ikan.
Ikan dalam segi kesehatan, sangat bagus untuk tubuh. Namun
kandungan gizi dalam ikan sangat berbeda. Ikan tuna adalah salah satu ikan
laut yang memilki kandungan gizi yang tinggi dan rendah lemak. Ikan tuna
mengndung protein antara 22,6-26,2 g/100g daging. Kadar protein per 100
gram ikan tuna dan telur masing-masing 22 g dan 13 g. Ikan tuna selain dari
gizi merupakan komoditi yang mempunyai prospek cerah perdagangan
internasional. Indonesia yang menjadi pengekspor ikan tuna terbesar ke 2 di
dunia sangat menguntungkan.
Ikan tuna Indonesia memiliki pasar besar di Eropa, Amerika,dan Asia.
Oleh karena itu, Ikan tuna menjadi penyumbang devisa setelah udang. Namun,
prospek pasar yang bagus dengan permintaan yang banyak tidak berjalan
bagus, karena banyak penolakan di pasar internasional. Permasalah yang
muncul adalah kualitas mutu ikan tuna yang kurang bagus. Masalah ini coba
dianalisis dan dipelajari tentang penyebab dan cara penanggulangannya di
makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah.


1. Bagaimana produksi ikan tuna di Indonesia ?
2. Bagaimana perkembangan ekspor ikan tuna ?
3. Apa masalah yang muncul dalam perikanan tuna ?
4. Apa penyebab penolakan ikan tuna produk Indonesia ?
5. Bagaimana cara pengendalian penolakan ikan tuna produk Indonesia ?
1.3.Tujuan.
1. Mengetahui jumlah produksi ikan tuna di Indonesia.
2. Mengetahui perkembangan ekspor tuna Indonesia
3. Menganalisis masalah yang muncul di perikanan tuna Indonesia.
4. Menganalisis penyebab penolakan ikan tuna produk Indonesia.
5. Mengetahui cara pengendalian masalah ikan tuna di Indonesia
Bab 2 Tinjauan Pustaka

2.1. Aspek Biologi Ikan Tna

Collete ( 1983) menjelaskan ciri-ciri morfologi tuna yaitu berbentuk


fusiform, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill rakes) berjumlah 53-64
pada heklai pertama. Mempunyai dua sirip punggung yang terpisah. Pada sirip
punggung yang pertama terdapat 14-16 jari-jarikeras, jari-jari lemah pada
sirip punggung kedua diikuti oleh 7-9 finlet. Badan tidak bersisik kecuali pada
barut badan.

Ikan tuna termasuk termasuk ikan perenang cepat dan mempunyai sifat
makan yang rakus. Ikan jenis ini sering bergerombol yang hampir bersamaan
melakukan ruaya disekitar pulau maupun jarak jauh dan senang melawan
arus, ikan ini biasa bergerombol diperairan pelagis hingga kedalaman 200 m.
Ikan ini mencari makan berdasarkan penglihatan dan rakus terhadap
mangsanya.

2.2 Daerah Penyebaran

Menurut Gunarso (1996), suhu yang ideal untuk ikan cakalang antara
260C – 320C, dan suhu yang ideal untuk melakukan pemijahan 280C–290C
dengan salinitas 33% . Sedangkan menurut Jones dan Silas (1962) cakalang
hidup pada temperature antara 160C – 300C dengan temperature optimum
280C. Ikan cakalang menyebar luas diseluruh perairan tropis dan sub tropis
pada lautan Atlantik, Hindia dan Pasifik, kecuali laut Mediterania. Penyebaran
ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu penyebaran horizontal atau
penyebaran menurut letak geografis perairan dan penyebaran vertikal atau
penyebaran menurut kedalaman perairan. Penyebaran Tuna dan Cakalang
sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus garis konvergensi diantara
arus dingin dan arus panas merupakan daerah yang kaya akan organisme dan
diduga daerah tersebut merupakan fishing ground yang sangat baik untuk
perikanan Tuna dan Cakalang.
Dalam perikanan Tuna dan Cakalang pengetahuan tentang sirkulasi arus
sangat diperlukan, karena kepadatan populasi pada suatu perairan sangat
berhubungan dengan arus-arus tersebut (Nakamura, 1969) Penyebaran
cakalang di perairan Samudra Hindia meliputi daerah tropis dan sub tropis,
penyebaran cakalang ini terus berlangsung secara teratur di Samudra Hindia di
mulai dari Pantai Barat Australia, sebelah selatan Kepulauan Nusa Tenggara,
sebelah selatan Pulau Jawa, Sebelah Barat Sumatra, Laut Andaman, diluar
pantai Bombay, diluar pantai Ceylon, sebelah Barat Hindia, Teluk Aden,
Samudra Hindia yang berbatasan dengan Pantai Sobali, Pantai Timur dan
selatan Afrika (Jones dan Silas, 1963).

Menurut Uktolseja et al (1989), penyebaran cakalang di perairan


Indonesia meliputi Samudra Hindia (perairan Barat Sumatra, selatan Jawa,
Bali, Nusa Tenggara), Perairan Indonesia bagian Timur (Laut Sulawesi,
Maluku, Arafuru, Banda, Flores dan Selat Makassar) dan Samudra Fasifik
(perairan Utara IrianJaya).

2.3 Daerah dan Musim Penangkapan

Secara garis besarnya, cakalang mempunyai daerah penyebaran dan


migrasi yang luas, yaitu meliputi daerah tropis dan sub tropis dengan daerah
penyebaran terbesar terdapat disekitar perairan khatulistiwa. Daerah
penangkapan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan
berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan. Dalam hubungannya
dengan alat tangkap, maka daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan
dapat menguntungkan.

Dalam arti ikan berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari
pelabuhan dan alat tangkap mudah dioperasikan. (Waluyo, 1987). Lebih
lanjut Paulus (1986), menyatakan bahwa dalam memilih dan menentukan
daerah penangkapan, harus memenuhi syarat-syarat antara lain :

1) Kondisi daerah tersebut harus sedemikian rupa sehingga ikan dengan


mudah datang dan berkumpul.
2) Daerahnya aman dan alat tangkap mudah dioperasikan.

3) Daerah tersebut harus daerah yang secara ekonomis menguntungkan.

Hal ini tentu saja erat hubungannya dengan kondisi oseanografi dan
meteorologist suatu perairan dan faktor biologi dari ikan cakalang itu sendiri.
Musim penangkapan cakalang di perairan Indonesia bervariasi. Musim
penangkapan cakalang di suatu perairan belum tentu sama dengan perairan
yang lain. Nikijuluw (1986), menyatakan bahwa penangkapan cakalang dan
tuna di perairan Indonesia dapat dilakukan sepanjang tahun dan hasil yang
diperoleh berbeda dari musim ke musim dan bervariasi menurut lokasi
penangkapan. Bila hasil tangkapan lebih banyak dari biasanya disebut musim
puncak dan apabila dihasilkan lebih sedikit dari biasanya disebut musim
paceklik
Bab 3 Hasil dan Pembahasan

3.1. Produksi Ikan Tuna Indonesia.

Indonesia merupakan negara dengan potensi tuna tertinggi di dunia.


Tercatat, total produksi tuna mencapai 613.575 ton per tahun dan nilai sebesar
6,3 triliun rupiah per tahun. Dengan didukung wilayah geografis yang
mencakup dua samudera kunci untuk perikanan tuna yakni Samudera Hindia
dan Samudera Pasifik, Indonesia menjadi negara penting bagi perikanan tuna
global baik dari sisi sumberdaya, habitat dan juga perdagangan internasional
sangat diperlukan dalam upaya penyelamatan sumberdaya dan bisnis tuna
ini. Tuna adalah jenis ikan yang pengelolaannya merupakan tanggungjawab
bersama antar bangsa. Untuk itu status pengelolaan perikanan tuna nasional
selalu menjadi pantauan dari lembaga pengelolaan perikanan regional
(RFMOs - Regional Fisheries management Bodies) yang mempunyai mandat
untuk pengaturan pengelolaan tuna global.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan


Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), Achmad Poernomo, saat ini
monitoring pendaratan tuna dilakukan terhadap 16 perusahaan Indonesia
maupun di luar ZEE Indonesia.

Dengan berpedoman pada hasil penelitian ini, untuk mendapat hasil


tangkapan yang berlimpah, nelayan tuna tinggal mengatur kedalaman
pancingnya. Jika sesuai dengan suhu dan kedalaman optimumnya, maka akan
diketahui jenis tuna yang bakal tertangkap.

3.2. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Indonesia

Pasar global yang semakin terbuka membuat perusahaan yang bergerak


di produksi ikan tuna semakin meningkatkan dan banyak bermunculan.
Apalagi, dalam perdagangan tuna dunia, ikan tuna umumnya dipasarkan
dalam bentuk segar, beku dan bentuk olahan (tuna kaleng, loin, steak, tuna
saku dll.). Indonesia selain sebagai produsen tuna juga sebagai negara
pengolah tuna, melalui industri pengalengan maupun olahan tuna lainnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik dari tahun 2002 – 2012, ekspor tuna
Indonesia mengalami penurunan dan peningkatan yang sangat signifikan.
Lebih lengkapnya lihat tabel berikut.

Negara
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Tujuan

Berat Bersih: ton

Jepang 30724,90 23881,30 22770,10 21298,10 21657,50 19808,60 18921,00 22557,20 30282,30 35010,20 29236,60

Hongkong 1078,20 794,10 257,40 591,10 1821,20 3846,40 2687,50 1249,40 283,80 215,80 138,40

Taiwan 323,20 12019,40 2493,10 996,70 584,30 1614,50 3289,80 4332,70 4500,30 305,80 255,50

Thailand 3680,50 3 501,40 1288,20 918,20 4570,80 18174,30 28887,40 24140,70 9083,50 12824,80 42974,20

Singapura 4595,20 5 722,00 6305,20 4051,20 2891,90 3105,50 1847,70 1867,10 1344,20 699,70 360,80

Vietnam 329,60 519,80 26,30 79,10 1323,70 4131,30 7671,80 5035,10 3042,60 2675,90 3320,00

Australia 44,80 163,20 131,60 187,40 253,80 73,50 129,20 179,50 193,30 130,80 91,50
Amerika
Serikat 3035,60 2 810,10 2744,30 3439,30 4181,60 5985,80 5395,50 5526,40 4536,90 4117,10 4515,50

Belanda 943,20 1 698,70 1536,20 1698,40 1219,20 568,00 411,10 108,80 181,60 348,20 156,00

Belgia 224,10 297,20 125,20 406,70 389,40 174,60 208,60 100,10 257,30 58,50 10,00

Lainnya 9471,70 18838,90 8196,50 7206,10 5836,70 11403,30 13756,20 11259,50 13976,70 15398,10 24669,30

Jumlah 54451,00 70246,10 45874,10 40872,30 44730,10 68885,80 83205,80 76356,50 67682,50 71784,90 105727,80

Sumber : BPS

Dari data diatas membuktikan pasar global tuna Indonesia cukup


menjanjikan, walaupun diberbgai Negara,ada penurunan konsumsi.
Penurupan konsumsi ini tidak menganggu jumlah ekspor Indonesia. Ekspor
tuna Indonesia baru mencapai pangsa pasar dunia sebesar 7,52 % (BPS: 2012).
Sehubungan dengan itu serta masih terbuka lebarnaya beberapa Negara
importir utama tuna Indonesia, ekspor Indonesia harus ditingkatkan.
Mengingat luasnya wilayah Zona ekonomi ekslukisif dengan sumberdaya
tuna, Indonesia berpotensi memenuhi konsumsi ikan tuna dunia.

Walaupun Indonesia memiliki sumberdaya tuna yang besar, di pasar


global Indonesia memiliki pesaing eksportir ikan tuna. Negara-negara pesaing
Indonesia di pasar internasional antara lain Australia, Spanyol, Korea Selatan,
Taiwan dan Guam. Dengan adanya pesaing tersebut mutu tuna Indonesia
harus ditingkatkan.

3.3 Masalah Produksi dan Ekspor Ikan Tuna di Indonesia.

Dalam pengembangan sector perikanan khususnya ikan tuna, terdapat


masalah yang cukup berpengaruh besar. Permasalah-permasalahan tersebut
diantaranya masalah produksi pengalengan tuna, pencurian oleh kapal asing,
rendahnya kualitas produk, adanya hambatan tarif dan non tarif serta
kebijakan pemerintah tentang otonomi daerah. Permasalahan tersebut akan
dibahas dan dianalisis sebagai berikut :

3.3.1. Produksi Pengalengan Ikan Tuna.

Selain dipasarkan dalam bentuk tuna segar, tuna beku dan produk
olahan beku, produk tuna dunia juga dipasarkan dalam bentuk kalengan.
Produksi tuna kalengan tidak masuk dalam pasar ekspor seluruhnya, hal ini
dikarenakan sebagian dikonsumsi dalam negeri bagi para Negara produsen
tuna kalengan. Sementara untuk Indonesia, produksi tuna kalengan 100 %
untuk ekspor. Menurut data kementrian Perikanan dan Kelautan, sejak tahun
1981-2000, produksi dan ekspor tuna kaleng Indonesia tumbuh 10 % dari 0,5
juta karton menjadi 5 juta karton artinya hanya 20 % hasil produksi yang
dapat dimanfaatkan.

Masalah yang muncul ke permukaan pada produksi pengalengan


adalah tidak dapat bersaing dengan Produksi pengalengan dari Negara
tetangga seperti Thailand dan Philiphina, serta Negara pengekspor tuna
kaleng utama lainnya dikarenakan kurangnya pasokan bahan baku dari
industri penangkapan tuna. Industry tuna lebih memilih ekspor dalam bentuk
segar.

Disamping itu industri pengalengan tuna nasional umumnya tidak


memiliki armada penangkapan sendiri sehingga kontinuitas bahan baku
kurang terjamin karena hanya mengandalkan pasokan dari nelayan tradisonal
dengan hasil tangkapan yang kurang memadai dan kualitasnya rendah. Secara
geografis Perairan Indonesia sebenarnya sangat menguntungkan bila ditinjau
dari penyediaan bahan baku bagi industri pengolahan khususnya industri
pengalengan tuna. Sumber bahan baku dapat diperoleh dari perairan Pasifik
Barat dengan produksi 1 – 1,5 juta ton/ tahun dan perairan Indonesia sebesar
0,2 juta ton/ tahun, ironis memang bila industri pengalengangan nasional
mengalami kekurangan pasokan bahan baku, tapi kenyataanya demikian,
untuk itulah Direktorat Kelembagaan Dunia Usaha, Direktorat Jenderal
Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran Departemen Kelautan
dan Perikanan mencoba menjembatani dengan mempertemukan pelaku usaha
(stakeholder ), melalui Workshop Revitalisasi Industri Pengolahan Hasil
Perikanan, awal September 2004.

Diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat dicari jawabannya guna


mengatasi permasalahan di atas. Bila dibandingkan dengan nilai ekspor tuna
kaleng dari negara lainnya, posisi ekspor tuna kaleng Indonesia berada pada
urutan ke 7, setelah Thailand, Ecuador, Spanyol, Cote d´lvoire, Seychelles
dan Philiphina (Tabel. 2.6). Sementara itu bila dilihat dari produksi tuna
kaleng negara produsen tuna kaleng dunia, posisi Indonesia berada pada
urutan ke 11 setelah Thailand, Spanyol, Amerika Serikat, Cote d´lvoire,
Ecuador Italia, Mexico, Jepang, Philiphina dan Iran.

3.3.2. Pencurian Oleh Kapal Asing

Diduga hingga September 2001 sebagian besar atau 70 % dari 7.000


kapal perikanan berbendera Indonesia yang memperoleh izin untuk
beroperasi di perairan ZEE masih dimiliki pihak asing, terutama Thailand,
Philipina, Taiwan dan RRC. Keadaan tersebut menyebabkan kerugian
negara yang diperkirakan mencapai US $ 1,362 miliar per tahun dengan
rincian :

1. kerugian dari kehilangan devisa US $ 1 miliar.


2. Kerugian dari selisih iuran DPKK US $ 22 juta.
3. kerugian dari fee yang harus dibayar sekitar US $ 100 juta (Dahuri,
2001).
3.3.3.Hambatan-hambatan Ekspor Non-Tarif

Hambatan non tarif yang diberlakukan terhadap komoditas perikanan


impor adalah ekuivalensi, sertifikat ekspor, standar sanitasi, standar mutu,
dan isu lingkungan.

Ekuivalensi
Uni Eropa mensyaratkan bahwa hanya approved packers (unit
pengolah yang disetujui) dari negara harmonized country yang diizinkan
mengekspor komoditas perikanannya. Terhitung sejak tanggal 23
September 2000 terdapat 247 Approval Number dari Indonesia yang berhak
mengekspor produk perikanan ke Uni Eropa.

Sertifikat Ekspor
Setiap produk perikanan diwajibkan dilengkapi dengan serifikat
mutu (quality certificate), dan sertifikat kesehatan (Health Certificate)
dalam bahasa nasional negara tujuan. Selain sertifikat tersebut
ditandatangani oleh inspektur yang terakreditasi dengan tinta yang
warnanya sesuai.
Menurut Asosiasi Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan
aturan sertifikasi yang ditetapkan importir
Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan
Indonesia (AP5I) menilai aturan sertifikasi Marine Stewardship Council
(MSC) yang ditetapkan importir Amerika Serikat dan Eropa terlalu rumit.

MSC adalah sertifikasi ekolabel internasional yang memastikan tiap produk


perikanan diproduksi dengan cara lestari atau berpihak terhadap
keberlanjutan lingkungan hidup.

Penangkapan ikan yang pro lingkungan berbeda karena memperhatikan


keberlangsungan hayati. Sarana dan prasarana alat tangkap seperti jaring
pun sangat dibatasi.

Ketua AP5I Thomas Darmawan mengatakan, MSC bukan sebuah standar


wajib yang ditetapkan pasar internasional bagi negara eksportir.

"Sertifikasi ini hanya ditetapkan oleh perusahaan importir di mayoritas


negara Eropa dan Amerika," kata Thomas kepada Bisnis, Kamis
(15/5/2014).

Menurut Thomas, pemberlakuan MSC berdampak langsung pada


terhambatnya ekspor produk perikanan Indonesia ke Eropa.
 Standar Sanitasi

Standar Sanitasi yang tidak transparan atau standar ganda adalah masalah yang
sering kita dengar. Misalnya UE mensyaratkan bebas salmonella untuk udang
beku (kecuali udang rebus beku) tetapi untuk anggota UE aturannya lebih lunak.
Semua ekspor udang beku hanya bebas bakteri patogen. Kerang-kerangan yang
diimpor dari luar UE harus bebas bakteri E. Coli sedangkan produk sejenis yang
diproduksi di wilayah UE yang mengandung bakteri patogen pun tetap dapat
dijual asal diberi label “B Ar
Daftar vPustaka
http://industri.bisnis.com/read/20140515/99/228102/ekspor-ikan-aturan-sertifikasi-
msc-terlalu-rumit

‘http://odutna.blogspot.com/2005/07/makalah-industri-tuna.html

http://ekbis.sindonews.com/read/862724/34/ri-spanyol-atasi-masalah-ekspor-ikan-
tuna-1399878661

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/12881