Anda di halaman 1dari 3

MDA terbentuk dari peroksidasi lipid (lipid peroxidation) pada membran sel yaitu reaksi

radikal bebas (radikal hidroksi) dengan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA). Reaksi tersebut
terjadi secara berantai, akibat akhir dari reaksi rantai tersebut akan terbentuk hidrogen peroksida.
Hidrogen peroksida tersebut dapat menyebabkan dekomposisi beberapa produkal dehid yang
bersifat toksik terhadap sel dan berbeda panjang rantainya, antara lain MDA, yang merupakan
salah satu aldehid utama yang terbentuk.
Pengukuran kinetika peroksidasi lipid secara in vitro dapat dilakukan dengan mengukur
berapa banyak oksigen yang dibutuhkan. Ada beberapa metode yang dapat digunakan, salah
satunya TBA (Thiobarbituric Acid) reactivity test, yang dapat dilakukan baik secara in vivo
maupun in vitro. Tes ini didasarkan pada reaksi kondensasi antara satu molekul MDA dengan
dua molekul TBA pada kondisi asam. Hasilnya adalah pigmen berwarna merah yang dapat
diukur pada panjang gelombang 532 nm. Jumlah MDA yang terdeteksi menggambarkan
banyaknya peroksidasi lipid yang terjadi.
MDA merupakan suatu produk akhir peroksidasi lipid, yang biasanya digunakan sebagai
biomarker biologis peroksidasi lipid dan menggambarkan derajat stres oksidatif.
Radikal bebas adalah atom atau molekul yang memiliki sebuah elektron yang tidak
berpasangan di orbit luarnya (unpaired electron). Zat ini sangat reaktif, dan struktur yang
demikian membuat radikal bebas cenderung “mencuri” atau mengekstraksi satu elektron dari
molekul lain di dekatnya untuk melengkapi dan selanjutnya mencetuskan reaksi berantai yang
dapat mengakibatkan cedera sel.
Oksidan adalah senyawa penerima elektron (electron acceptor), yaitu senyawa yang dapat
menarik elektron. Sering dibaurkan pengertian antara radikal bebas dan oksidan, karena
keduanya memiliki sifat-sifat yang sama yaitu kecenderungan untuk menarik elektron (penerima
elektron). Aktivitas keduanya menghasilkan akibat yang sama walaupun prosesnya berbeda, oleh
karena itu radikal bebas digolongkan dalam oksidan, namun tidak setiap oksidan adalah radikal
bebas. Radikal bebas lebih berbahaya dibandingkan dengan oksidan yang bukan radikal bebas,
dikarenakan sifat radikal bebas memiliki reaktivitas tinggi dan kecenderungan membentuk
radikal yang baru sehingga terjadi reaksi rantai (chain reaction) dan akan berhenti apabila dapat
diredam oleh antioksidan.
Strategi yang digunakan anti-oksidan dalam meredam oksidan adalah strategi 2 tahap,
yaitu:
1. Mencegah terhimpunnya senyawa-senyawa oksidan secara berlebihan
2. Mencegah reaksi rantai berlanjut
Asam lemak jenuh jamak (PUFA) dapat mengalami proses peroksidasi menjadi peroksida
lipid yang kemudian mengalami dekomposisi menjadi malondialdehid (MDA). MDA akan
membentuk senyawa berwarna merah muda bila direaksikan dengan asamtiobarbiturat (TBA).
Jumlah MDA yang terbentuk dapat diketahui berdasarkan kemampuan penyerapan cahaya pada
A532 nm. Jumlah MDA yang terbentuk dapat menggambarkan proses peroksidasi lipid.

MDA sebagai salah satu produk lipid peroksidasi yang bersifat toksik terhadap sel
merupakan senyawa dialdehid yang memiliki tiga rantai karbon serta memiliki berat molekul
(BM) rendah dan dapat diproduksi oleh mekanisme yang berbeda-beda.

Beberapa studi menyatakan bahwa jumlah MDA dapat dihasilkan oleh beberapa sumber,
diantaranya berasal dari asam lemak yang setidaknya memiliki 3 ikatan rangkap, radikal bebas
melalui reaksi ionisasi dalam tubuh dan produk samping biosintesis prostaglandin yang
merupakan produk akhir oksidasi lipid membran, hasil dekomposisi dari asam amino,
karbohidrat kompleks, pentosa, dan heksosa serta berasal dari produk radikal bebas yang
dihasilkan oleh iridasi gamma.