Anda di halaman 1dari 7

Klasifikasi Bakau

Kingdom :Plantae
Subkingdom :Tracheobionta
SuperDivisi :Spermatophyta
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
SubKelas :Rosidae
Ordo :Myrtales
Famili :Rhizophoraceae
Genus :Rhizophora
Spesies : Rhizophora mangle
Klasifikasi Api-api
Kingdom :Plantae
Subkingdom :Tracheobionta
SuperDivisi :Spermatophyta
Divisi :Magnoliophyta
Kelas :Magnoliopsida
SubKelas :Asteridae
Ordo :Scrophulariales
Famili :Acanthaceae
Genus :Avicennia
Spesies : Avicennia alba
Nama Daerah :
Nama daerah atau nama lokal dari mangrove ini adalah Api-api putih, api-api abang, sia-sia
putih, sie-sie, pejapi, nyapi, hajusia, pai.

Gambaran Umum
Avicennia marina merupakan pelopor dari spesies mangrove, yang mungkin paling luas dari
semua mangrove, mulai luas di seluruh indo-pasifik bagian Barat. berupa belukar atau pohon
yang tumbuh tegak atau menyebar, dengan ketinggian pohon mencapai 30 meter dan tumbuh
di atas lumpur berpasir, pada bagian tepi menjorok ke laut. Ada yang unik dari populasi ini,
dimana lebih toleran terhadap dingin (di daerah Australia misalnya) (Duke, 2006).
Avicennia marina memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan berbentuk pensil
(atau berbentuk asparagus), akar nafas tegak dengan sejumlah lentisel. Kulit kayu halus
dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam bagian-bagian kecil. Ranting muda dan
tangkai daun berwarna kuning, tidak berbulu (Duke, 2006).
DESKRIPSI TUMBUHAN
Daun
Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan
mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah
pada bagian tubuh tumbuhan yang lainnya. Bagian batang tempat duduknya atau melekatnya
daun dinamakan buku-buku (nodus) batang, dan tempat di atas daun yang merupakan sudut
antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya berwarna hijau dan
menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-tumbuhan nampak hijau
pula. Bagian tubuh tumbuhan ini memiliki umur yang terbatas, yang pada akhirnya akan
runtuh dan meninggalkan batang. Pada waktu akan runtuh warna daun akan berubah menjadi
kekuning-kuningan dan akhirnya menjadi kecoklatan. Perbedaan ini juga terlihat pada daun
yang masih muda dan daun yang telah dewasa. Daun yang muda biasanya berwarna keputih-
putihan, ungu, ataupun kemerahan, sedangkan daun dewasa warnanya hijau sesungguhnya
(Tjitrosoepomo, 2007).
Daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata, berujung runcing atau membulat;
helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya,
sering dengan kristal garam yang terasa asin (Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh
tumbuhan tersebut); pertulangan daun umumnya tak begitu jelas terlihat. Kuncup daun
terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas. Bentuk daun elliptical-lanceolata atau
ovate-elliptica pj= 7 cm, l=4 cm (Wijayanti, 2008).

Batang
Batang dari Avicennia marina mempunyai cabang-cabang horizontal yang menunjukkan
pertumbuhan yang terus-menerus. Kulit batang halus berwarna keputihan sampai dengan
abu-abu kecoklatan dan retak-retak. Ranting dengan buku-buku bekas daun yang menonjol
serupa sendi-sendi tulang dengan permukaan licin hingga pecah-pecah vertikal, biasanya
seperti serpihan, diameter batang bisa mencapai 40 cm lebih (Wijayanti, 2008).
Akar
Avicennia marina memiliki akar berupa akar nafas (pneumatofora).
Pada Avicenniapneumatofora merupakan cabang tegak dari akar horizontal yang tumbuh di
bawah tanah. Pada tumbuhan ini bentuknya seperti pensil atau pasak dan umumnya hanya
tumbuh setinggi 30 cm, yang muncul dari substrat serupa paku yang panjang dan rapat dan
muncul ke atas lumpur di sekililing pangkal batangnya. Di teluk Botany, Sidney dapat
dijumpai Avicennia marina dengan pneumatofora setinggi lebih dari 28 m, meskipun
kebanyakan tingginya hanya sekitar 4 m (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Bunga
Susunan seperti trisula dengan bunga bergerombol muncul diujung tandan, bau menyengat
dan banyak nectar. Terletak di ujung tangkai atau di ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga
duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran kecil antara 0,3-1,3 cm, berkelamin dua,
kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang 5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau
jingga kekuningan dengan bau samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling
dengan mahkota bunga (Noor, 2006).

Buah dan Biji


 Buah : berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, 1-4 cm panjangnya,
hijau abu-abu, berbulu halus di luarnya;
 Vivipar, dimana biji berkecambah saat buahnya belum gugur, masih melekat di
rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh sebegitu terjatuh atau
tersangkut di lumpur.
(Kartawinata, 1979).

HABITUS DAN HABITAT


Habitat :
Terletak pada zona paling luar atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur, agak
lembek, dangkal, dengan kadar garam agak tinggi. (Wijayanti dkk, 2005).

Habitus :
Berupa Pohon kecil atau besar, tinggi hingga 30 m, dengan tajuk yang agak renggang
(Anonim, 1997).

Persebaran Sebaran :
Avicennia marina tumbuh tersebar di sepanjang pantai Afrika Timur dan Madagaskar hingga
menuju India, Indo-Cina, Cina Selatan, Taiwan, Thailand, seluruh kawasan Malesia,
Kepulauan Solomon, New Caledonia, Australia dan bagian utara New Zealand. (Anonim,
1997)

DIAGRAM DAUN
Jika kita perhatikan daun berbagai jenis tumbuhan, akan terlihat, bahwa ada diantaranya
yang:

 Pada tangkainya hanya terdapat satu helaian daun saja. Daun yang demikian
dinamakan daun tungga (folium simplex),
 Tangkainya bercabang-cabang, dan baru pada cabang tangkai ini terdapat helaian
daunnya, sehingga di sini pada satu tangkai terdapat lebih dari satu helaian daun.
Daun dengan susunan yang demikian disebut daun majemuk (folium compositum)
(Tjitrosoepomo, 1993).
Avicennia marina memiliki daun-daun tunggal, bertangkai, berhadapan, bertepi rata,
berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau mengkilap di atas, abu-abu
atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal garam yang terasa asin (Ini adalah
kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut); pertulangan daun umumnya tak
begitu jelas terlihat. Kuncup daun terletak pada lekuk pasangan tangkai daun teratas. Bentuk
daun elliptical-lanceolata atau ovate-elliptica pj= 7 cm, l=4 cm( anonym, 2012).
Tumbuhan mangrove mengembangkan berbagai cara untuk mengatasi kehilangan air melalui
daun. Mereka dapat mengatur pembukaan stomata dan orientasi daun, sehingga mengurangi
serapan sinar matahari dan evaporasi. Sebagian tumbuhan mangrove memiliki daun keras,
tebal, berlilin atau berbulu rapat untuk mereduksi hilangnya air. Beberapa daun bersifat
sukulen untuk menyimpan air dalam jaringan (Setyawan dkk, 2002).

Tumbuhan mangrove merupakan lumbung sejumlah besar daun yang kaya nutrien yang akan
diuraikan oleh fungi dan bakteri atau langsung dimakan kepiting yang hidup di lantai hutan.
Garam yang tetap terserap ke dalam tubuh dengan cepat diekskresikan oleh kelenjar garam di
daun, sehingga daun tampak seperti ditaburi Kristal garam dan terasa asin (Setyawan dkk,
2002 ).

Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun


Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang
memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada
setiap lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya dan di beri nomor
urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran, jadi
setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam diagram daun akan
merupakan suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar semakin sempit
(Sudarsono, 2005: 67).

Untuk Avicennia marina ini menurut perhitungan diagram tata letak daun menurut rumus 2/5
.

Rumus daun 2/5, angka 2 menunjukkan banyaknya putaran dan angka 5 banyaknya daun
yang dilalui yang dihitung mulai dari nol. Sehingga dapat dihitung sudut dirvergensinya 2/5 x
3600 = 1440. Sudut Divergensi: sudut yang terbentuk antara bidang tegak melalui sehelai
daun dengan bidang tegak melalui helai daun berikutnya. Besarnya sudut divergensi antara
daun yang berurutan tidak menghalangi jalannya sinar matahari bagi daun yang lain.
MANFAAT TUMBUHAN
Avicenia kayunya dapat dipakai untuk bangunan rumah (pilar, atap dll.), selain itu juga
digunakan untuk membuat mebel, perahu. Kayunya juga digunakan untuk membuat kayu
bakar, dan juga pulp. Kayunya yang keras sangat tahan terhadap serangan rayap. Pohon
Avicennia marina mempunyai kemampuan mengakumulasi logam berat yang tinggi. Pohon
ini memiliki system penanggulangan materi toksik dengan cara melamahkan efek racun
melalui pengenceran (dilusi) yaitu dengan menyimpan banyak air untuk mengencerkan
konsentrasi logam berat dalam jaringan tubuhnya sehingga mengurangi toksisitas logam
tersebut (Dahuri, 1996).

Daun api-api (Avicennia marina) merupakan salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan
sebagaibahan pakan ternak dan dipakai sebagai obat anti fertilitas tradisional oleh masyarakat
pantai. Ekstrak dari tumbuhan ini berpotensi sebagai obat anti fertilitas. Hampir seluruh
bagian tumbuhan ini dapat dimanfaatkan seperti akar, kulit, batang, daun, bunga atau biji,
bahkan eksudat tanamannya (zat nabati yang secara spontan keluar, dikeluarkan, atau
diekstrak dari jaringan seltanaman). Daun api-api mengandung senyawa aktif glikosida
triterpena yang mempunyai struktur siklik yang relatif komplek dan sebagian besar
merupakan senyawa alkohol, aldehid atau asam karboksilat (Wijayanti, 2008).
DAFTAR PUSTAKA
Aluri, R.J. 1990. Observations on the floral biology of certain mangroves. Proceedings of the
Indian National Science Academy, Part B, Biological Sciences, 56 (4) : 367‐374

Anonim. 1997. National Strategy for Mangrove Management in Indonesia. Volume 1:


Strategy and Action Plan. Volume 2: Mangrove in Indonesia Current Status. Jakarta: Office
of the Minister of Environment, Departement of Forestry, Indonesian Institute of Science,
Department of Home Affairs, and The Mangrove Foundation
Birkeland, C. 1983. Influences of Topography of Nearby Land Masses in Combination with
Local Water Movement Patterns on the nature of Nearshore Marine Communities,
Productivity and Processes in Island Marine Ecosystem. Dunedine: UNESCO Report in
Marine Science No. 27
Blasco, F. 1992. Outlines of ecology, botany and forestry of the mangals of the Indian
subcontinent. In Chapman, V.J. (ed.). Ecosystems of the World 1: Wet Coastal
Ecosystems.Amsterdam: Elsevier
Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Liechtenstein J.Cramer Verlag
Clarke, P.J. and Myerscough, P.J. 1991. Floral biology and reproductive phenology of
Avicennia marina in south‐eastern Australia. Australian Journal of Botany, 39: 283‐293

Dahuri R, J. Rais, S.P.Ginting dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah
Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: P.T. Saptodadi
Duke, N.C. 2006. Australia’s Mangroves: The authoritative guide to Australia’s mangrove
plants. Brisbane: University of Queensland
FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand, Malaysia and Indonesia. Rome: FAO
Environment Paper 3
FAO. 1982. Managenet and Utilization of Mangrove in Asia and the Pacific. Rome: FAO
Environment Paper 3
Field, C. 1996. Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Tropical
Timber Organization and International Society for Mangrove Ecosystems
Giesen, W. 1991. Checklist of Indonesian Fresh Water Aquatic Herbs. PHPA/AWB Sumatra
Wetland Project Report No. 27. Jakarta: Asian Wetland Bureau-Indonesia
Goldman, R.C. and Horne, 1983. Lymnology. New York: McGraw Hill International Book
Company
Hill, C.J. 1992. Temporal changes in abundance of two lycaenid butterflies (Lycaenidae) in
relation to adult food resources. Journal of the Lepidopteristsʹ Society, 46 (3) : 173‐181
Hockey, M.J. and de Baar, M. (1991). Some records of moths (Lepidoptera) from mangroves
in southern Queensland. Australian Entomological Magazine, 18 (2) : 57‐60

Jayatissa, L.P., F. Dahdouh-Guebas, and N. Koedam. 2002. A revi-ew of the floral


composition and distribution of mangroves in Sri Lanka. Botanical Journal of the Linnean
Society 138: 29-43
Kairo, J.G., F Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N. Koedam. 2001. Restoration and
management of mangrove systems — a lesson for and from the East African region. South
African Journal of Botany 67: 383-389

Kartawinata, K. 1979. Status pengetahuan hutan bakau di Indonesia. Prosiding Seminar


Ekosistem Hutan Mangrove. Jakarta: MAP LON LIPI
Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of Mangroves in
Indonesia; Bal & Lombok. Denpasar: The Development of Sustainable Mangrove
Management Project, Ministry of Forest Indonesia and Japan International Cooperation
Agency
La Rue, C.D. and T.J. Muzik. 1954. Does mangrove really plant its seedling. Nature 114:
661-662
Lovelock, C. 1993. Field Guide to the Mangroves of Queensland. Queensland: Australian
Institute of Marine Science. http://www.aims.gov.au
Lugo A.E. and S.C. Snedaker. 1974. The ecology of mangroves. Annual Review of Ecology
and Systematics 5: 39-63
MacNae, W. 1968. A general account of the fauna and flora of mangrove swamps and forests
in the Indo-West-Pacific region. Advances in Marine Biology 6: 73-270
Ng, P.K.L. and N. Sivasothi (ed.). 2001. A Guide to Mangroves of Singapore. Volume 1: The
Ecosystem and Plant Diversity and Volume 2: Animal Diversity. Singapore: The Singapore
Science Centre
Noor, Rusila Yus. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor : PHKA/WI-
IP, Bogor
Noske, R.A. 1993. Bruguiera hainesii: Another bird‐pollinated mangrove? Biotropica, 25 (4)
: 481‐483

Noske, R.A. 1995. The ecology of mangrove forest birds in Peninsular Malaysia. Biotropica,
137 (2) : 250‐263

Nybakken, J.W. 1993. Marine Biology, An Ecological Approach. Third edition. New York:
Harper Collins College Publishers
Ong, J.E. 2002. The hidden costs of mangrove services: use of mangroves for shrimp
aquaculture. International Science Round Table for the Media, Bali Indonesia, 4 June
2002.Joint event of ICSU, IGBP, IHDP, WCRP, DIVERSITAS and START
Rabinowitz, D. 1978. Early growth of mangrove seedlings in Panama, and hypothesis
concerning the relationship of dispersal and zonation. Journal of Biogeography 5: 113-133

Soemodihardjo, S. and L. Sumardjani. 1994. Re-afforestation of mangrove forests in


Indonesia. Proceeding of the Workshop on ITTO Project. Bangkok, 18-20 April 1994
Spalding, M., F. Blasco, and C. Field. 1997. World Mangrove Atlas. Okinawa: International
Society for Mangrove Ecosystems
Steenis, C.G.G..J. van. 1958. Ecology of mangroves. In Flora Malesiana. Djakarta:
Noordhoff-Kollf
Tomlinson, C.B. 1986. The Botany of Mangroves. Cambridge: Cambridge University Press
Walsh, G.E. 1974. Mangroves: a review. In Reimold, R.J., and W.H. Queen (ed.). Ecology of
Halophytes. New York: Academic Press
Widodo, H. 1987. Mangrove hilang ekosistem terancam. Suara Alam 49: 11-15
Wijayanti, E.D. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Api-api (Avicennia marina)
Terhadap Resorpsi Embrio, Berat Badan dan Panjang Badan Janin Mencit (Mus
Musculus). Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Vol. 1 – No. 1 / January-2008

Klasifikasi kepiting
Phylum : Arthropoda
Sub Phylum : Crustacea
Class : Malacostaca
Ordo : Decapoda
Famili : Callinidae
Genus : Parathelpusa
Species : Parathelpusa sp
Klasifikasi
Menurut Clayton (1993) dan Murdy (1986), klasifikasi ikan tembakul atau Periopthalmus
monodonadalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Gobiidae
Subfamili : Oxudercinae
Genus : Periothalamus
Spesies : Periopthalmus monodon

Morfologi
Periopthalmus monodonmemiliki kepala sub-silindris bersisik, matanya berdekatan,
menonjol atau timbul di atas cephal seperti mata yang dimiliki oleh Bufo sp, dan sirip
punggung pertama memiliki 5 jari-jari. Sirip perut bersatu, rahang atas mempunyai 4-6 gigi
taring. Bentuk badan seperti ikan pada umumnya, yaitu bentuk steamline yang
memungkinkan ikan dapat bergerak dengan mudah di perairan.
Selain digunakan untuk berenang, bentuk tubuh steamline ini memudahkan ikan tembakul
(Periopthalmus monodon) untuk dapat keluar masuk pada daerah delta. Karena bentuk tubuh
steamine ini seperti torpedo yang dapat dengan mudah untuk melewati ataupun melawan
arus. Begitupun juga untuk menerobos daerah delta, yaitu daerah yang terdiri dari lumpur dan
air. Panjang tubuh bervariasi mulai dari beberapa sentimeter hingga mendekati 30 cm. Bentuk
papila ikan jantan memanjang dan membulat di bagian ujung. Sedangkan pada ikan betina,
bagian ujungnya terbelah.