Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikiatri dipenuhi oleh fenomenologi dan penelitian fenomena mental. Dokter psikiatri
harus belajar untuk menguasai observasi yang teliti dan penjelasan yang mengungkapkan
keterampilan termasuk belajar bahasa baru. Bagian bahasa didalam psikiatri termasuk
pengenalan dan definisi tanda dan gejala perilaku dan emosional.
Kegawatdaruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada kondisi
darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatriks seperti percobaan bunuh diri,
penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan lainnya pada
perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para profesional di bidang
kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial. Permintaan untuk layanan
kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di seluruh dunia sejak tahun 1960-an,
terutama di perkotaan.
Penatalaksanaan pada pasien kegawatdaruratan psikiatrik sangat kompleks. Para
profesional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko
tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka. Pasien biasanya datang
atas kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja.
Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada umumnya meliputi stabilisasi
krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan mental baik sifatnya
kronis ataupun akut.

B. Tujuan
1. Memenuhi tugas keperawatan Gadar Psikiatri
2. Untuk memperdalam pengetahuan dalam keperawatan Gadar Psikiatri
3. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan pengertian keperawatan
Gadar Psikiatri
4. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan faktor penyebab
diadakannya keperawatan Gadar Psikiatri
5. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala bunuh diri
6. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala prilaku
kekerasan
7. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala
gaduh/gelisah
8. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan tanda dan gejala withdrawal
9. Teman-teman mahasiswa mampu menjelaskan dasar hukum yang melatar
belakangi keperawatan Gadar Psikiatri
10. Teman-teman mahasiswa mampu menyebutkan data mengenai psikosis,
neurosis dan NAPZA

1
C. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun makalah ini, penyusunannya dibagi menjadi 3 bab dengan urutan
sebagai berikut :
Bab 1 : Pendahuluan meliputi latar belakang masalah, tujuan penyusunan, dan
sistematika penulisan.
Bab 2 : Tinjauan teoritik terdiri dari konsep dasar mengenai jiwa terdiri dari definisi,
ciri-ciri/ karakteristik jiwa sehat dan sakit, faktor penyebab gangguan jiwa, tanda dan
gejala, pendekatan, peran dan fungsi perawat, perkembangan keperawatan kesehatan
jiwa, pelayanan keperawatan, perkembangan pelayanan keperawatan jiwa psikiatri, dan
perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia.
Bab 3 : Penutup berisi kesimpulan materi.

2
BAB II
KONSEP DASAR KEDARURATAN PSIKIATRI

I. Pengertian
Keperawatan Gawat Darurat adalah pelayanan profesional yg didasarkan pada ilmu
keperawatan gawat darurat & tehnik keperawatan gawat darurat berbentuk pelayanan bio-
psiko-sosio- spiritual yang komprehensif ditujukan pada semua kelompok usia yang sedang
mengalami masalah kesehatan yang bersifat urgen , akut dan kritis akibat trauma, proses
kehidupan ataupun bencana.
Kedaruratan psikiatrik adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan, perilaku, atau
hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Allen, Forster, Zealberg, &
Currier, 2002). Menurut Kaplan dan Sadock (1993) kedaruratan psikiatrik adalah gangguan
alam pikiran, perasaan atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik segera. Dari
pengertian tersebut, kedaruratan psikiatri adalah gangguan pikiran, perasaan, perilaku dan atau
sosial yang membahayakan diri sendiri atau orang lain yang membutuhkan tindakan intensif
yang segera. Sehingga prinsip dari kedaruratan psikiatri adalah kondisi darurat dan tindakan
intensif yang segera.
Berdasarkan prinsip tindakan intensif segera, maka penanganan kedaruratan dibagi dalam
fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (24-72 jam pertama),dan fase intensif III (72
jam-10hari).

1) Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan observasi, diagnosa,
tritmen dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil evaluasi pasien maka pasien
memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan,dilanjutkan ke fase intensif II, atau
dirujuk ke rumah sakit jiwa.
2) Fase intensif II perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai dengan 72 jam.
Berdasarkan hasil evaluasi maka pasien pada fase ini memiliki empat kemungkinan
yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase intensif III, atau kembali ke ruang fase
intensif I.
3) Fase intensif III pasien di kondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi menjadi
lebih berkurang dan tindakan-tindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan
rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan maksimal 10 hari. Merujuk kepada
hasil evaluasi maka pasien pada fase ini dapat dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa
atau unit psikiatri di rumah sakit umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau
II.
Kondisi pada keadaan kegawatdaruratan psikiatrik meliputi percobaan bunuh diri,
ketergantungan obat, intoksikasi alkohol, depresi akut, adanya delusi, kekerasan, serangan
panik, dan perubahan tingkah laku yang cepat dan signifikan, serta beberapa kondisi medis
lainnya yang mematikan dan muncul dengan gejala psikiatriks umum. Kegawatdaruratan
psikiatrik ada untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi ini. Kemampuan dokter untuk
mengidentifikasi dan menangani kondisi ini sangatlah penting.

3
II. Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri
1) Tidak berhubungan dengan kelainan organik: Diantaranya gangguan emosional
akut akibat dari antara lain; kematian, perceraian, perpisaan , bencana alam,
pengasingan dan pemerkosaan.
2) Berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis, struk,
ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena obat

III. Faktor Penyebab Gadar Psikiatri


1) Tindak kekerasan
2) Perubahan perilaku
3) Gangguan penggunaan zat
Kedaruratan Psikiatri adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang
memerlukan intervensi terapeutik segera diantaranya yang paling sering adalah:
1) SUICIDE (BUNUH DIRI)
2) VIOLENCE AND ASSAULTIVE BEHAVIOR (PERILAKU KEKERASAN
DAN MENYERANG)

IV. Macam Tanda dan Gejala Awal pada


a) Bunuh diri
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang disebabkan karena stress yang
tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Keliat,
1993).

Perilaku bunuh diri atau destruktif diri langsung terjadi terus menerus dan intensif pada diri
kehidupan seseorang. Perilaku yang tampak adalah berlebihan, gejala atau ucapan verbal
ingin bunuh diri, luka atau nyeri (Rawlin dan Heacock, 1993). Bunuh diri adalah setiap
aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail w. Stuart,
Keperawatan Jiwa,2007). Secara garis besar bunuh diri dapat dibagi menjadi 3
kategori besar yaitu;

1. Upaya bunuh diri (Suicide attempt) yaitu sengaja melakukan kegiatan menuju
bunuh diri, dan bila kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian
2. Isyarat bunuh diri (Suicide gesture) yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk
usaha mempengaruhi perilaku orang lain.
3. Ancaman bunuh diri (Suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara
langsung atau tidak langsung, verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang
mengupayakan bunuh diri

Dikutip dari situs kesehatan mental epigee.org, berikut ini adalah tanda-tanda bunuh diri yang
mungkin terjadi:
1. Bicara mengenai kematian: Bicara tentang keinginan menghilang, melompat,
menembak diri sendiri atau ungkapan membahayakan diri.

4
2. Baru saja kehilangan: kematian, perceraian, putus dengan pacar atau kehilangan
pekerjaan, semuanya bisa mengarah pada pemikiran bunuh diri atau percobaan
bunuh diri. Kehilangan lainnya yang bisa menandakan bunuh diri termasuk
hilangnya keyakinan beragama dan hilangnya ketertarikan pada seseorang atau
pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
3. Perubahan kepribadian: seseorang mungkin memperlihatkan tanda-tanda kelelahan,
keraguan atau kecemasan yang tidak biasa.
4. Perubahan perilaku: kurangnya konsentrasi dalam bekerja, sekolah atau kegiatan
sehari-hari, seperti pekerjaan rumah tangga.
5. Perubahan pola tidur: tidur berlebihan, insomnia dan jenis gangguan tidur lainnya
bisa menjadi tanda-tanda dan gejala bunuh diri.
6. Perubahan kebiasaan makan: kehilangan nafsu makan atau bertambahnya nafsu
makan. Perubahan lain bisa termasuk penambahan atau penurunan berat badan.
7. Berkurangnya ketertarikan seksual: perubahan seperti ini bisa mencakup impotensi,
keterlambatan atau ketidakteraturan menstruasi.
8. Harga diri rendah: gejala bunuh diri ini bisa diperlihatkan melalui emosi seperti
malu, minder atau membenci diri sendiri.
9. Ketakutan atau kehilangan kendali: seseorang khawatir akan kehilangan jiwanya
dan khawatir membahayakan dirinya atau orang lain.
10. Kurangnya harapan akan masa depan: tanda bunuh diri lainnya adalah seseorang
merasa bahwa tidak ada harapan untuk masa depan dan segala hal tidak akan pernah
bertambah baik.

b) Perilaku kekerasan
Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah sakit Jiwa. Sering
tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan oleh sejumlah
anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat
membahayakan orang,diri sendiri baik secar fisik, emosional, dan sexualitas ( Nanda, 2005).
Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang
bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz,
1993 dalam Depkes, 2000). Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul
sebagai respon terhadap kecemasan, kebutuhan yang tidak terpenuhi yang
dirasakan sebagai ancaman ( Stuart dan Sunden, 1997 ). Pengertian Perilaku kekerasan
merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan
tindakan-tindakan yang dapat membahayakan/mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat
merusak lingkungan.
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien masuk kerumah sakit adalah
perilaku kekerasan di rumah. Dapat dilakukan pengkajian dengan cara:
1. Observasi:
 Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara yang tinggi,
berdebat.

5
 Sering pula tampak klien memaksakan kehendak : merampas makanan,
memukul jika tidak senang
2. Wawancara
Diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda marah yang
dirasakan klien. Keliat (2002) mengemukakan bahwa tanda -tanda marah adalah
sebagai berikut :
 Emosi : tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam),
jengkel.
 Fisik : muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat, sakit
fisik,penyalahgunaan obat dan tekanan darah.
 Intelektual : mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan.
 Spiritual : kemahakuasaan, kebajikan/kebenaran diri, keraguan, tidak
bermoral, kebejatan, kreativitas terhambat.
 Sosial : menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan
humor.

Tanda ancaman kekerasan (Kaplan and Sadock, 1997) adalah:


 Tindakan kekerasan belum lama, termasuk kekerasan terhadap barang
milik.
 Ancaman verbal atau fisik.
 Membawa senjata atau benda lain yang dapat digunakan sebagai senjata
(misalnya : garpu, asbak).
 Agitasi psikomator progresif.
 Intoksikasi alkohol atau zat lain.
 Ciri paranoid pada pasien psikotik.
 Halusinasi dengar dengan perilaku kekerasan tetapi tidak semua pasien
berada pada resiko tinggi.
 Penyakit otak, global atau dengan temuan lobus fantolis, lebih jarang pada
temuan lobus temporalis (kontroversial).
 Kegembiraan katatonik.
 Episode manik tertentu.
 Episode depresif teragitasi tertentu.
 Gangguan kepribadian (kekerasan, penyerangan, atau diskontrol implus).

Gambaran klinis menurut Stuart dan Sundeen (1995) adalah sebagai berikut:
 Muka merah
 Pandangan tajam
 Otot tegang
 Nada suara tinggi

6
 Berdebat
 Kadang memaksakan kehendak
 Stress
 Mengungkapkan secara verbal
 Menentang

Gambaran klinis menurut Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI (1994) adalah sebagai berikut :

a. Pasif agresif
 Sikap suka menghambat
 Bermalas-malasan
 Bermuka masam
 Keras kepala dan pendendam
b. Gejala agresif yang terbuka (tingkah laku agresif)
 Suka membantah
 Menolak sikap penjelasan
 Bicara kasar
 Cenderung menuntut secara terus-menerus
 Hiperaktivitas
 Bertingkah laku kasar disertai kekerasan

c) Gaduh/gelisah
Tanda dan gejala pada pasien yang mengalami gaduh gelisah diantaranya:
 Gelisah
 Mondar-mandir
 Berteriak-teriak
 Loncat-loncat
 Marah-marah
 Curiga
 Agresif
 Beringas
 Agitasi
 Gembira
 Bernyanyi
 Bicara kacau
 Mengganggu orang lain
 Tidak tidur beberapa hari
 Sulit berkomunikasi

7
d) Withdrawal
Tanda dan gejala pada orang yang withdrawal diantaranya:
 Nafsu makan hilang
 Ansietas, gelisah
 Mialgia, arthralgia
 Lesu-lemas
 Tremor, kram perut, kejang
 ‘Craving’

V. Dasar Hukum Pelayanan Kedaruratan Psikiatri

Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelayanan gawat darurat adalah UU


No 23/1992 tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang Persetujuan
Tindakan Medis, dan Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit.
Dipandang dan segi hukum dan medikolegal, pelayanan gawat darurat berbeda dengan
pelayanan non-gawat darurat karena memiliki karakteristik khusus. Beberapa isu khusus dalam
pelayanan gawat darurat membutuhkan pengaturan hukum yang khusus dan akan
menimbulkan hubungan hukum yang berbeda dengan keadaan bukan gawat darurat.
Ketentuan tentang pemberian pertolongan dalam keadaan darurat telah tegas diatur dalam
pasal 5l UUNo.29/2004 tentang Praktik Kedokteran, di mana seorang dokter wajib melakukan
pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan. Selanjutnya, walaupun dalam UU No.23/1992
tentang Kesehatan tidak disebutkan istilah pelayanan gawat darurat namun secara tersirat upaya
penyelenggaraan pelayanan tersebut sebenamya merupakan hak setiap orang untuk
memperoleh derajat kesehatan yang optimal (pasal 4) Selanjutnya pasal 7 mengatur bahwa
“Pemerintah bertugas menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh
masyarakat” termasuk fakir miskin, orang terlantar dan kurang mampu. Tentunya upaya ini
menyangkut pula pelayanan gawat darurat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah
maupun masyarakat (swasta).
Rumah sakit di Indonesia memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan gawat
darurat 24 jam sehari sebagai salah satu persyaratan ijin rumah sakit. Dalam pelayanan gawat
darurat tidak diperkenankan untuk meminta uang muka sebagai persyaratan pemberian
pelayanan. Dalam penanggulangan pasien gawat darurat dikenal pelayanan fase pra-rumah
sakit dan fase rumah sakit. Pengaturan pelayanan gawat darurat untuk fase rumah sakit telah
terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.159b/1988 tentang Rumah Sakit, di mana
dalam pasal 23 telah disebutkan kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat selama 24 jam per hari Untuk fase pra-rumah sakit belum ada pengaturan yang
spesifik. Secara umum ketentuan yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah pasal 7
UU No.23/1992 tentang Kesehatan, yang harus dilanjutkan dengan pengaturan yang spesifik
untuk pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit Bentuk peraturan tersebut seyogyanya
adalah peraturan pemerintah karena menyangkut berbagai instansi di luar sektor kesehatan.

8
Pengertian tenaga kesehatan diatur dalam pasal 1 butir 3 UU No.23/1992 tentang Kesehatan
sebagai berikut: tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan”. Melihat ketentuan tersebut nampak bahwa profesi kesehatan memerlukan
kompetensi tertentu dan kewenangan khusus karena tindakan yang dilakukan mengandung
risiko yang tidak kecil.
Pengaturan tindakan medis secara umum dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan dapat
dilihat dalam pasal 32 ayat (4) yang menyatakan bahwa “pelaksanaan pengobatan dan atau
perawatan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu “. Ketentuan tersebut
dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari tindakan seseorang yang tidak mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk melakukan pengobatan/perawatan, sehingga akibat yang dapat
merugikan atau membahayakan terhadap kesehatan pasien dapat dihindari, khususnya tindakan
medis yang memelakukanngandung risiko.
Pengaturan kewenangan tenaga kesehatan dalam melakukan tindakan medik diatur
dalam pasal 50 UUNo.23/1992 tentang Kesehatan yang merumuskan bahwa “tenaga kesehatan
bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan bidang keahlian
dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan”. Pengaturan di atas menyangkut
pelayanan gawat darurat pada fase di rumah sakit, di mana pada dasarnya setiap dokter
memiliki kewenangan untuk melakukan berbagai tindakan medik termasuk tindakan spesifik
dalam keadaan gawat darurat. Dalam hal pertolongan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan
maka yang bersangkutan harus menemelakukanrapkan standar profesi sesuai dengan situasi
(gawat darurat) saat itu.
Pelayanan gawat darurat fase pra-rumah sakit umumnya tindakan pertolongan pertama
dilakukan oleh masyarakat awam baik yang tidak terlatih maupun yang teriatih di bidang
medis. Dalam hal itu ketentuan perihal kewenangan untuk melakukan tindakan medis dalam
undang-undang kesehatan seperti di atas tidak akan diterapkan, karena masyarakat melakukan
hal itu dengan sukarela dan dengan itikad yang baik. Selain itu mereka tidak dapat disebut
sebagai tenaga kesehatan karena pekerjaan utamanya bukan di bidang kesehatan.
Jika tindakan fase pra-rumah sakit dilaksanakan oleh tenaga terampil yang telah
mendapat pendidikan khusus di bidang kedokteran gawat darurat dan yang memang tugasnya
di bidang ini (misainya petugas 118), maka tanggungjawab hukumnya tidak berbeda dengan
tenaga kesehatan di rumah sakit. Penentuan ada tidaknya kelalaian dilakukan dengan
membandingkan keterampilan tindakannya dengan tenaga yang serupa.
Hal-hal yang disoroti hukum dalam pelayanan gawat darurat dapat meliputi hubungan
hukum dalam pelayanan gawat darurat dan pembiayaan pelayanan gawat darurat Karena secara
yuridis keadaan gawat darurat cenderung menimbulkan privilege tertentu bagi tenaga
kesehatan maka perlu ditegaskan pengertian gawat darurat.

9
Adakalanya pasien untuk menempatkan dirinya dalam keadaan gawat Dalam hal
pertanggungjawaban hukum, bila pihak pasien menggugat tenaga kesehatan karena diduga
terdapat kekeliruan dalam penegakan diagnosis atau pemberian terapi maka pihak pasien harus
membuktikan bahwa hanya kekeliruan itulah yang menjadi penyebab kerugiannya/cacat
(proximate cause). Bila tuduhan kelalaian tersebut dilamelakukankukan dalam situasi gawat
darurat maka perlu dipertimbangkan faktor kondisi dan situasi saat peristiwa tersebut terjadi.
Jadi, tepat atau tidaknya tindakan tenaga kesehatan perlu dibandingkan dengan tenaga
kesehatan yang berkuamelakukanlifikasi sama, pada pada situasi dan kondisi yang sama pula.
Setiap tindakan medis harus mendapatkan persetujuan dari pasien (informed consent).
Hal itu telah diatur sebagai hak pasien dalam UU No.23/1992 tentang Kesehatan pasal 53 ayat
2 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. Dalam
keadaan gawat darurat di mana harus segera dilakukan tindakan medis pada pasien yang tidak
sadar dan tidak didampingi pasien, tidak perLu persetujuan dari siapapun (pasal 11 Peraturan
Menteri Kesehatan No.585/1989). Dalam hal persetujuan tersbut dapat diperoleh dalam bentuk
tertulis, maka lembar persetujuan tersebut harus disimpan dalam berkas rekam medis.

VI. Data Tentang Psikosis


Skizofrenia adalah suatu gangguan psikosis fungsional berupa gangguan mental
berulang yang ditandai dengan gejala-gejala psikotik yang khas dan oleh kemunduran fungsi
sosial, fungsi kerja, dan perawatan diri.
Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi
penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada
usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap
kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan
lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Pengenalan dan
intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati,
kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat.
Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan
psikolog.
Pasien dengan gejala psikosis sering ditemukan di bagian kegawatdaruratan psikiatrik.
Menentukan sumber psikosis dapat menjadi sulit. Kadang pasien masuk ke dalam status
psikosis setelah sebelumnya putus dari perawatan yang direncanakan. Pelayanan
kegawatdaruratan psikiatrik tidak akan mampu menyediakan penanganan jangka panjang
untuk pasien jenis ini, cukup dengan istirahat ringkas dan mengembalikan pasien kepada orang
yang menangani kasus mereka dan/atau memberikan lagi pengobatan psikiatrik yang
diperlukan. Suatu kunjungan pasien yang menderita suatu gangguan mental yang kronis dapat
menandakan perubahan dalam lifestyle dari individu atau suatu pergeseran kondisi medis.
Pertimbangan ini dapat berperan dalam perencanaan perawatan.
Seseorang dapat juga sedang menderita psikosis akut. Kondisi seperti itu dapat disiapkan untuk
diagnosis dengan memperoleh riwayat psikopatologi pasien, melakukan suatu pengujian status
mental, pelaksanaan pengujian psikologis, perolehan neuroimages, dan memperoleh pengujian

10
neurofisiologi lain. Berdasarkan ini, tenaga kesehatan dapat memperoleh suatu diagnosa
diferensial dan menyiapkan pasien untuk perawatan. Seperti pertimbangan penanganan pasien
lainnya, asal psikosis akut dapat sukar ditentukan karena keadaan mental dari pasien.

VII. Data Tentang Neurosis


Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). Sering sukar
untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan.
Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya, sedangkan
separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia).
Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial
dalam memasuki tahap lanjut usia (lansia). Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai
gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik.
Kepribadiannya tetap utuh, secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik, namun secara
kuantitas perilakunya menjadi irrasional. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa
dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali, namun bagi orang neurosis obsesive untuk mandi,
ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas untuk mandi.

VIII. Data Tentang NAPZA


Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau
istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai
peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat
luas khususnya generasi muda. Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota
besar saja, tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai
dari tingkat sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data
yang ada, penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun.
Dari hasil identifikasi masalah NAPZA dilapangan melalui diskusi kelompok terarah yang
dilakukan Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat bekerja sama dengan Direktorat Promosi
Kesehatan – Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes-Kesos RI dengan petugas-petugas
puskesmas di beberapa propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Bali
ternyata pengetahuan petugas puskesmas mengenai masalah NAPZA sangat minim sekali serta
masih kurangnya buku yang dapat dijadikan pedoman.

IX. Strategi Umum Pemeriksaan Pasien Kegawatdaruratan Psikiatri


1) Perlindungan diri pemeriksa

11
2) Mencegah bahaya:
 Melukai diri sendiri dan bunuh diri
 Kekerasan terhadap orang
3) Adakah disebabkan kondisi medik?
4) Adakah kemungkinan psikosis fungsional?

Intervensi keperawatan pada klien kegawatdaruratan psikiatri difokuskan pada beberapa hal
sesuai dengan tujuan dan diagnosa yang sudah ditetapkan. Pada dasarnya intervensi difokuskan
pada :

1) Lingkungan
Dalam merawat klien depresi, prioritas utama ditujukan pada potensial bunuh diri. Klien yang
mania juga merupakan ancaman terjadinya kecelakaan. Klien memiliki daya nilai yang rendah,
senang tindakan yang risiko tinggi, tidak mampu menilai realitas yang berbahaya dan
konsekuensi dari perilakunya. Keadaan ini berindikasi untuk menempatkan klien pada tempat
yang aman, misalnya: dilantai dasar, perabotan yang sederhana, kurangi rangsangan, suasana
yang tenang untuk mengurangi stres dan panik klien

2) Hubungan perawat-klien
Perawat perlu mempunyai kesadaran diri dan kontrol emosi serta pengertian yang luas tentang
depresi dan mania. Bekerja dengan klien depresi pendekatan perawat adalah hangat, menerima,
diam yang aktif, jujur, empati. Sering intervensi ini sukar dipertahankan karena klien tidak
memberi respons. Hubungan saling percaya yang terapeutik perlu dibina dab dipertahankan.
Bicara lembut, sederhana dan beri waktu pada klien untuk berpikir dan menjawab.Berbeda
dengan klien mania yang sangat senang bicara, manipulatif, hiperaktif, konsentrasi rendah dan
singkat, pikiran meloncat, penilaian miskin. Klien mungkin mendominasi dan memanipulasi
klien dan kelompok. Batasan yang konstruktif diperlukan untuk mengontrol perilaku klien.

3) Afektif
Sangat penting karena klien sukar mengekspresikan perasaanya. Kesadaran dan kontrol diri
perawat pada dirinya merupakan sarat utama. Pada klien depresi, perawa harus mempunyai
harapan bahwa klien akan lebih baik. Sikap perawat yang menerima klien, hangat, sederhana
akan mengekspresikan pengharapan pada klien. Perawat bukan menggembirakan dan
mengatakan tidak perlu khawatir, tetapi menenangkan dan menerima klien. Mendorong klien
mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedihkan secara verbal akan
mengurangi intensitas masalah yang dihadapinya danmetaskan kehidupan lebih berarti. Jadi,
intervensi pertama adalah membantu pasien mengekspresikan perasaannya, kemudian
dilanjutkan dengan intervensi yang berfokus pada kognitif, perilaku atau sosial. Klien depresi
dan mania yang diizinkan mengekspresikan marah, ketidakpuasan, kecemasan merasakan
pengalaman baru, dan kemudian perawat membantu untuk menganalisis dan menyadari

12
perasaannya dan selanjutnya bersama-sam mencari alternatif pemecahan masalah sehat dan
konstruktif.

4) Kognitif
Intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan kontrol diri klien pada tujuan dan perilaku,
meningkatkan harga diri dan membantu klien memodifikasi harapan yang negatifKlien depresi
yang memandang dirinya negatif perlu dibantu untuk mengkaji perasaannya, dan identifikasi
maslah yang berhubungan. Pikiran negatif yang ada harus diubah melalui beberapa cara:
1. Identifikasi semua ide, pikiran yang negatif
2. Identifikasi aspek positif dari dirinya( yang dimiliki, kemampuan, keberhasilan,
kesempatan)
3. Dorong klien menilai kembali persepsi, logika, rasional
4. Bantu klien berubah dari tidak realitas kerealitas, dari persepsi yang salah atau
negatif ke persepsi positif
5. Sertakan klien aktivitas yang memperlihatkan hasil. Beri penguatan dan pujian
akan keberhasilannya.

5) Perilaku
Intervensi berfokus pada mengaktifkan klien yang diarahkan pada tujuan yang b secara
bertahap dalam aktivitas di ruangan. Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu
dibuat aktivitas yang terstruktur. Beri penguatan pada aktivitas yang berhasil.

6) Sosial
Masalah utama dalam intervensi ini adalah kurangnya keterampilan berinteraksi. Untuk itu
diperlukan preses belajar membina hubungan yang terdiri dari:
1. Mengkaji kemampuan, dukungan dan minat klien
2. Mengobservasi dan mengkaji sumber dukungan yang ada pada klien
3. Membimbing klien melakukan hubungan interpersonal. Dapat dengan role
model, role play, dengan mencoba pengalaman hubungan sosial yang lalu
4. Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif
5. Dorong klien untuk memulai hubungan sosial yang lebih luas (keluarga, klien
lain).
7) Fisiologis
Tujuan intervensi ini adalah meningkatkan status kesehatan klien. Makanan, tidur, kebersihan
diri, penampilan yang terganggu memerlukan perhatian perawat. Dalam hal istirahat, klien
depresi takut sehingga memerlukan dukungan. Klien mania yang selalu segar dan tidak pernah
ngantuk, perlu diberi suasana yang mendukung dengan peraturan yang konstruktif.

13
EVALUASI
Efektifitas asuhan keperawatan dapat dilihat dari perubahan respon maladptif. Klien akan
dapat:
1. Menerima dan mengakui perasaannya dan perasaan orang lain.
2. Memulai kuminikasi
3. Mengontrol perilaku sesuai dengan keterbatasannya (tidak manipulatif)
4. Mempergunakan proses pemecahan masalah.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kedaruratan psikiatri dibagi dalam beberapa bagian diantaranya ialah bunuh diri,gaduh atau
gelisah dan penyalahgunaan napza. Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah
dapat mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, Keperawatan Jiwa,2007). Secara garis besar
bunuh diri dapat dibagi menjadi 3 kategori besar yaitu;

1) Upaya bunuh diri (Suicide attempt) yaitu sengaja melakukan kegiatan menuju bunuh
diri, dan bila kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian
2) Isyarat bunuh diri (Suicide gesture) yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk usaha
mempengaruhi perilaku orang lain.
3) Ancaman bunuh diri (Suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara langsung atau
tidak langsung, verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh
diri

Setiap orang yang ingin melakukan prilaku bunuh diri biasanya melewati beberapa rentang
ataupun tahap-tahapan diantaranya: Suicidal ideation, Suicidal intent, Suicidal threat, Suicidal
gesture, Suicidal attempt dan suicide.

B. Saran

Perilaku bunuh diri, gelisah/gaduh dan penyalahgunaan NAPZA dapat di cegah atau
dihindarkan dengan beberapa cara diantaranya :

1. Selalu berfikiran positif akan segala hal


2. Selalu mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa
3. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif
4. Jangan mencoba-coba sesuatu yang tidak baik

15
DAFTAR PUSTAKA

Tom, Kustedi.1999. Bahaya NAPZA Bagi Pelajar .Bandung : Yayasan Al-Ghifari

Morgan. 1991. Segi PraktisPsikiatri. Jakarta : Bina rupa aksara

Kaplan dan Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri, Edisi 7, Jilid 1 dan 2. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

Maramis. 1998. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press.
Kusuma,Widjaja. 1997. Kedaruratan Psikiatri dalam Praktek. Jakarta : Professional Books

https://elvizulianisehatidotcom.wordpress.com/tag/kegawatdaruratan-psikiatri/ (tambahan
materi diakses pada 26 mei 2017)

16