Anda di halaman 1dari 18

ISSN 0125-9849, e-ISSN 2354-6638

Ris.Geo.Tam Vol. 27, No.1, Juni 2017 (47-64)


DOI: 10.14203/risetgeotam2017.V27.438

AIRTANAH UNTUK ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DI


MALANG, JAWA TIMUR: Penilaian Risiko Penurunan
Ketersediaan Air
Groundwater for Climate Change Adaptation in Malang, East Java:
Water Shortage Risk Assessment

Munib Ikhwatun Iman1, Edi Riawan2, Budhi Setiawan3, Oman


Abdurahman4
¹) Pusat Airtanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi
2)
Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, ITB
3)
Program Studi Teknik Geologi, Universitas Sriwijaya
4)
Museum Geologi, Badan Geologi, KESDM

ABSTRAK Risiko penurunan ketersediaan air menjadi sangat tinggi pada tahun 2030.
akibat perubahan iklim di Malang, Jawa Timur Pertumbuhan penduduk dan perubahan tata guna
dikaji melalui analisis skenario proyeksi model lahan merupakan faktor non-klimatik yang
hingga tahun 2030 terhadap basis data tahun mempengaruhi bahaya dan kerentanan
1960-1990 sebagai kondisi acuan normal. Hasil penurunan ketersediaan air. Hasil analisis
proyeksi iklim sebagai pemicu awal bahaya memperlihatkan adanya peningkatan risiko yang
perubahan iklim menunjukkan pola kenaikan lebih tinggi yang dipengaruhi kondisi
suhu dan penurunan presipitasi yang berdampak hidrogeologi yang terkait potensi airtanahnya.
atau berisiko pada adanya potensi penurunan Pengelolaan airtanah yang optimal diharapkan
ketersediaan air di Malang. Untuk mengukur dan dapat memberikan kontribusi sebagai salah satu
menentukan upaya pengurangan risiko tersebut upaya adaptasi terhadap risiko perubahan iklim
dilakukan pendekaatan analisis bahaya atas sumber air di Malang.
penurunan ketersediaan air dan kerentanan
terhadapnya akibat perubahan iklim. Kerentanan Kata kunci: Perubahan iklim, Malang, risiko
dimaksud di Malang secara sederhana ditentukan kerentanan airtanah.
oleh tiga faktor yang dinilai dominan, yaitu ABSTRACT Risk of water shortage related to
kebutuhan air, sumber air, dan kesejahteraan climate change in Malang Regency has been
masyarakatnya. Kerentanan secara spasial
conducted by a climate projection model to the
memperlihatkan wilayah bagian barat dan year of 2030 based on baseline data in 1960-
selatan Malang mengalami peningkatan nilai 1990 as a normal condition. The projection as a
risiko penurunan ketersediaan air dari tinggi trigger for an early warning of the water
_______________________________ shortage hazard has shown a trend of increase
in temperature and change of precipitation.
Naskah masuk : 30 Januari 2017 Vulnerability can be simplified based on three
Naskah direvisi : 04 Februari 2017
Naskah diterima : 02 Mei 2017 dominant factors, which are water source for
____________________________________ availability, water demand, and population
welfare. The vulnerability has spread in the west
Munib Ikhwatun Iman
Pusat Airtanah dan Geologi Tata Lingkungan,
and the south region spatially, that increasing
Badan Geologi, KESDM from high to very high risk in 2030. Population
Jl Diponegoro No. 57, Bandung 40122 growth and landuse change were conducted the
Email : munib.iman@gmail.com main factor as non-climatic driven related to
©2017 Pusat Penelitian Geoteknologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
47
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

hazard and vulnerability of water availability. terdistribusi dan dihubungkan melalui daur
Analysis result has conducted higher risk hidrologi. Komponen iklim berupa suhu, curah
depends on its hydrogeology. Groundwater can hujan, intensitas penyinaran matahari, dan
kecepatan serta arah angin sangat berperan
take a part for adaptation to climate change if it
dalam daur air di atmosfir dan di bumi ini.
could be managed optimally.
Indonesia sebagai negara kepulauan tropis pada
Keywords: Climate change, Malang, garis ekuator akan menghadapi dampak
Groundwater vulnerability risk. langsung dari perubahan iklim. Perubahan iklim
dicirikan oleh kenaikan suhu, perubahan
PENDAHULUAN presipitasi/curah hujan, kenaikan muka air laut,
dan kejadian-kejadian ekstrim yang akan
Kenaikan suhu permukaan abad ke-21 secara berdampak pada ketersediaan air di suatu
global pada semua model diproyeksikan naik wilayah (Suroso et al., 2010). Analisis dari
1,80C hingga 40C. Ketersediaan air tawar jumlah stasiun cuaca yang terbatas
diproyeksikan berkurang seiring dengan memperlihatkan kenaikan suhu sekitar 0,5 o telah
pertumbuhan penduduk dan kenaikan kebutuhan terjadi pada abad ke-20. Kondisi ini selaras
air terus meningkat yang akan mempengaruhi dengan kenaikan suhu global yang telah
jutaan penduduk pada tahun 2050 (IPCC, 2007). diproyeksikan IPCC AR-4 sekitar 0,7o ± 0,2
setiap abad (Hadi et al., 2012).
Air sangat diperlukan dalam semua bentuk
kehidupan. Gambar 1 memperlihatkan Malang Raya meliputi tiga wilayah kabupaten/
bagaimana kegiatan manusia mempengaruhi kota, yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang,
sumberdaya air secara kuantitas dan kualitas dan Kota Batu. Lokasi wilayahnya merupakan
serta pengelolaannya (Kundzewicz et al., 2007). bagian hulu dari Sungai Brantas yang memiliki
Iklim dan sistem air tawar terhubungkan melalui peran penting dalam penyediaan sumberdaya air.
situasi yang kompleks. Penduduk, gaya hidup, Peran tiga pemerintah daerah tingkat
ekonomi, dan teknologi akan mempengaruhi kabupaten/kota ini terhadap sumberdaya airnya
emisi gas kaca, penggunaan lahan, dan perlu dikaji karena kebijakan pemerintah
kebutuhan makanan. Makanan disediakan merupakan salah satu faktor non-iklim yang
melalui pertanian dengan irigasi akan mempengaruhi ketersediaan airtanah dalam
memerlukan air dalam jumlah yang besar. menanggapi perubahan iklim.
Perubahan signifikan dalam penggunaan air atau Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat risiko
daur hidrologi memerlukan adaptasi dalam dan kerentanan wilayah Malang Raya secara
pengelolaan sumberdaya air. spasial dalam menanggapi hasil proyeksi model
Keterdapatan air dapat ditemukan dalam semua iklim terhadap ketersediaan air. Airtanah melalui
lingkungan yang dapat diakses di atas atau dekat peta hidrogeologi sebagai data spasial digunakan
dengan permukaan bumi (Fitts, 2013). Jumlah dalam analisis kerentanan penurunan
air di planet ini sekitar 1,4 x 109 km3 yang ketersediaan air untuk menghasilkan fungsi

Gambar 1. Dampak kegiatan manusia terhadap sumberdaya air tawar dan pengelolaannya, dengan perubahan
iklim sebagai salah satu dari sekian banyak tekanannya (Kundewicz et al., 2007).

48
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

risiko sebagai adaptasi pada kondisi Geofisika Karangploso (BPS, 2016) termasuk
proyeksinya. tropis dengan suhu udara rata-rata 22,10C -
26,80C, kelembaban rata-rata 69% - 87%, dan
LOKASI PENELITIAN
curah hujan sekitar 4 mm - 727 mm. Puncak
Lokasi penelitian meliputi Kab. Malang, Kota curah hujan pada bulan Januari, sedangkan
Malang, dan Kota Batu di provinsi Jawa Timur. September merupakan curah hujan terendah.
Secara geografis terletak pada koordinat
Peta tata guna lahan wilayah Malang tahun 2010
112017’12,25” – 112057’28,17” Bujur Timur
memperlihatkan dominasi vegetasi (Gambar 3).
dan 7045’41,86” – 8027’53,58” Lintang Selatan.
Pemukiman terkonsentrasi di Kota Malang yang
Daerah Malang bagian utara merupakan dataran
mencerminkan nilai kebutuhan air yang lebih
tinggi diapit jajaran pegunungan di bagian barat
tinggi. Mengacu pada kondisi tata guna lahan
dan timurnya dengan elevasi lebih dari 1.500
2010, ketersediaan air secara alami bukan
meter di atas permukaan laut dan daerah pantai
menjadi persoalan bagi Malang. Bisri (2011)
di bagian selatan yang menghadap langsung ke
menyatakan bahwa 51% dari 1,4 juta hektar
Samudera Indonesia.
hutan di Jawa Timur telah berubah menjadi
Selain itu, pemilihan Malang mengingat faktor hutan produksi yang akan berimbas pada luas
populasi yang mempengaruhi sensitifitas imbuhan airtanahnya.
kerentanannya terhadap ketersediaan air. Setelah
Jajaran pegunungan di barat dan timur
Surabaya, populasi yang mendiami wilayah
menjadikan hidrogeologi Malang termasuk
Malang merupakan yang terbesar. Berdasarkan
dalam akuifer dengan aliran airtanah melalui
data jumlah penduduk BPS Prov. Jatim Tahun
celahan dan ruang antar butir di bagian utara
2015 tercatat 3.596.098 jiwa yang tersebar di
Sepanjang jalur aliran sungai Brantas dari utara
Kabupaten Malang 2.544.315 jiwa, Kota Malang
dan berbelok ke arah barat termasuk dalam
851.298 jiwa, dan Kota Batu 200.485 jiwa (BPS
akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir.
Provinsi Jatim, 2016).
Batugamping di bagian selatan membentuk
Kondisi iklim di Malang berdasarkan data cekungan airtanah tersendiri dengan aliran
kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan melalui saluran rekahan (Gambar 4).

Gambar 2. Peta Administrasi Malang Raya (Setiawan et al., 2012).

49
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Gambar 3. Peta Tata Guna Lahan Malang Raya Tahun 2010 (Setiawan et al, 2012)

Gambar 4. Peta Hidrogeologi Malang (Poespowardoyo, 1984)

Ketersediaan air di Malang berasal dari sungai juta m3/tahun dan potensi akuifer tertekan
Brantas sebagai sungai utama yang mengalir sebesar 175 juta m3/tahun, sedangkan bagian
dari Kota Batu ke selatan sebelum memutar selatan terdapat CAT Sumberbening dengan
untuk bermuara di utara. Potensi airtanah di potensi akuifer bebas sebesar 238 juta m3/tahun
bagian utara Malang sekitar 15% termasuk (Arifin, 2008).
dalam Cekungan Airtanah (CAT) Brantas yang
memiliki potensi akuifer bebas sebesar 3.674

50
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

Bahaya penurunan ketersediaan air dipengarui P = Ea + Gs + Tro....(1)


oleh faktor iklim dan faktor non-iklim. Iklim
Jumlah curah hujan yang turun di suatu wilayah
akan mempengaruhi distribusi air mencapai
(presipitasi, P) sama dengan jumlah
kesetimbangannya. Pengaruh iklim dengan arah
evapotranspirasi (Ea), jumlah aliran air (total
kecenderungan suhu naik dan curah hujan yang
runoff, TRo), dan perubahan simpanan airtanah
menurun berpotensi untuk mengurangi air yang
pada zona tidak jenuh air (groundwater storage,
mengalir di bumi. Suhu naik akan meningkatkan
nilai evapotranspirasi. Dengan nilai curah hujan Gs). Evapotranspirasi potensial (Potential
yang cenderung turun akan memperkecil jumlah Evapotranspiration, PET) dihitung melalui
air yang mengalir di permukaan tanah maupun rumus Blaney-Criddle karena hanya data suhu
airtanah. yang tersedia (Blaney dan Criddle, 1950):
PET = Kp(0.46Tm + 8.13)..... (2)
METODE
dengan p merupakan waktu siang harian atau
Perhitungan Neraca Keseimbangan Air bulanan dan K adalah koefisien konsumtif
Laporan Penilaian Keempat (AR4) IPCC bulanan tergantung jenis tumbuhan, lokasi, dan
menyatakan dua faktor yang mempengaruhi musimnya. Di garis khatulistiwa, p = 0,27 dan K
sektor air di masa yang akan datang, yaitu iklim empirik sebesar 0,75.
dan non-iklim. Faktor iklim yang mempengaruhi Perhitungan neraca keseimbangan air
ketersediaan air didominasi presipitasi/curah merupakan jumlah gabungan limpasan langsung
hujan, suhu, dan penguapan. Faktor non-iklim di permukaan dan aliran airtanah sehingga
terdiri dari perubahan penggunaan lahan, simpanan airtanah menjadi bagian dari aliran
penggunaan air seiring dengan perubahan airtanah yang dihitung dalam potensi
populasi penduduk, gaya hidup, dan teknologi, ketersediaan air dan dapat diberikan nilai nol.
serta kebutuhan airnya. Kerentanan suatu wilayah dalam merespon
Penurunan ketersediaan air dianalisis sebagai penurunan ketersediaan air diidentifikasi dari
potensi bahaya karena faktor iklim melalui kepadatan penduduk, tutupan lahan, kebutuhan
perhitungan neraca kesetimbangan air. Faktor air, kualitas air, infrastruktur distribusi air, dan
non-iklim menjadi komponen perhitungan potensi airtanah. Infrastruktur distribusi air dan
bahaya dan kerentanannya meliputi penduduk, potensi airtanah merupakan kapasitas
penggunaan lahan, jaringan infrastruktur, adaptasinya. Dalam kajian ini, bahaya
kebutuhan air, sumber air, dan kesejahteraan penurunan ketersediaan air (BTSA)
penduduk. Kedua faktor tersebut dianalisis didefinisikan sebagai jumlah dari penurunan
melalui metode sistem informasi ketersediaan air (TSA) dan kebutuhan air (BA)
geografis/geographic information system (GIS) terhadap ketersediaan air (Q) pada kondisi dasar
dengan proses seperti ditampilkan pada gambar yang ditetapkan pada kondisi tahun 1960-1990.
5.
.....(3)
Dengan probabilitas kumulatif 50%, perubahan
nilai limpasan total hasil analisis neraca
kesetimbangan air digunakan sebagai dasar
analisis untuk menghitung penurunan
ketersediaan air.
Kerentanan didefinisikan sebagai fungsi dari
ciri, besaran, dan laju perubahan iklim sebagai
Gambar 5. Proses pemodelan sektor air terhadap derajat variasi sistem yang terdampak,
skenario proyeksi model perubahan iklim. sensitivitasnya, serta kapasitas adaptasinya
(Affeltranger, 2006). Melalui kriteria tingkat
Bahaya penurunan ketersediaan air dihitung signifikansi hubungan indikator dan bahayanya,
melalui pendekatan neraca kesetimbangan air data yang tersedia untuk proses penilaian, serta
melalui persamaan umumnya: belum digunakan dalam analisis bahaya maka

51
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

indikator-indikator kerentanan penurunan proyeksi semua skenario umumnya menurun,


ketersediaan air adalah nilai kebutuhan air, kecuali untuk SRB1. Penurunan terbesar pada
sumber air, dan kesejahteran penduduknya. scenario SRA1B pada periode 2021-2030.
Kerentanan penurunan ketersediaan airtanah Data berdasarkan faktor non-iklim utama adalah
ditentukan oleh tiga indikator, yaitu kebutuhan penduduk dan penggunaan lahan. Kepadatan
air (BA), sumber air (SA), dan kesejahteraan penduduk yang cukup tinggi tahun 2010 terletak
penduduknya. Masing-masing dari tiga indikator di Kota Malang dan kecamatan yang menjadi
ini dihitung dan dipetakan distribusinya secara pusat pemerintahan (Gambar 8). Kepadatan
spasial. Dalam menghitung kebutuhan air,
perhitungan menggunakan standar kebutuhan
minimum air bersih perkotaan sebesar 150 liter
per orang per hari.
Data
Data dianalisis dengan neraca kesetimbangan air dan
FEM Water yang berdasarkan jenisnya ditampilkan
pada Tabel 1. Data faktor iklim diperoleh dari tim
ilmiah dasar, sedangkan data faktor non-iklim
diperoleh dari tim GIS yang dioleh dari berbagai
sumber.
Tabel 1. Daftar data yang digunakan
No Data Sumber Analisis
1 Curah hujan Tim Ilmiah 1,2 Gambar 6. Proyeksi suhu di Malang berdasarkan
(mm/bulan) Dasar model GCM (Hadi et al., 2012).
2 Suhu Tim Ilmiah 1
Dasar
3 Tata guna lahan Tim GIS 1,2
4 Geologi Tim GIS 1,2
5 Area imbuhan Tim GIS 1,2
6 Area Tim GIS 2
pemanfaatan air
7 Airtanah Tim GIS 2
8 Model elevasi Tim GIS 1,2
digital
9 Debit 1
Alat analisis: 1) Neraca kesetimbangan air, 2) FEM Water

Data berdasarkan faktor iklim adalah curah


hujan dan suhu. Proyeksi curah hujan melalui
Global Circulation Models (GCMs) dengan tiga Gambar 7. Proyeksi model curah hujan Malang.
skenario emisi karbon (SRES) B1 (rendah), A1B
(moderat), dan A2 (tinggi) digunakan. Gambar 6 penduduk rata-rata mencapai 786 orang untuk
memperlihatkan proyeksi kenaikan suhu tiap Km2, sedangkan Kota Malang memiliki
mencapai 1oC hingga tahun 2030 dibandingkan tingkat kepadatan penduduk tertinggi mencapai
dengan periode 1961-1990 sebagai kondisi awal 7.420 orang per Km2.
untuk semua skenario yang paralel dengan arah Peta tata guna lahan Malang pada kondisi
kecenderungan 25 tahun terakhir karena proyeksi didasarkan pada Rencana Tata Ruang
pemanasan global. Wilayah 2030 dari Badan Perencanaan
Sedangkan, curah hujan/presipitasi bulanan rata- Pembangunan Daerah Kota Malang, Kota Batu,
rata dalam proyeksi bervariasi tetapi dan Kab. Malang (Gambar 9). Tiap jenis tata
memperlihatkan arah kecenderungan menurun guna lahan diberikan nilai untuk menghitung
hingga tahun 2030. Gambar 7 dibatasi segi kerentanannya terhadap perubahan iklim pada
empat dengan garis putus-putus memperlihatkan kondisi proyeksi seperti ditampilkan pada Tabel
2.

52
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

Tabel 2. Nilai jenis tata guna lahan pada kondisi HASIL DAN PEMBAHASAN
proyeksi.
Penggunaan lahan merupakan faktor utama yang
Tata Guna Lahan dalam Rencana Nilai berkontribusi besar dalam menentukan nilai
Tata Ruang Wilayah ketersediaan air. Perubahan fungsi lahan dan
Bandara 10
terbukanya vegetasi sangat berperan dalam nilai
Fasum Fasos 10
air yang melimpas atau mengalir. Gambar 10a
Kawasan Industri dan Pergudangan 10 memperlihatkan arah kecenderungan nilai
jumlah air yang mengalir tanpa ada perubahan
Kawasan Militer 10 tutupan lahan atau perubahan penggunaan lahan.
Kawasan Pariwisata 10 Jumlah air yang mengalir menurun 1,05 mm
Kawasan Pemukiman 10 setiap tahun. Sedangkan perubahan penggunaan
Kawasan Perdagangan & Jasa 10 lahan semakin memperbesar nilai penurunan
Perikanan 5 jumlah air yang mengalir menjadi 1,1 mm setiap
Perkebunan 2 tahun (Gambar 10b). Malang meliputi Kota
Malang, Kota Batu, dan Kab. Batu seluas
Sawah Irigasi 5
3.985,05 Km2 akan berpotensi mengurangi air
Sawah Tadah Hujan 2
yang mengalir sebesar 4,2 juta hingga 4,4 juta
Tegalan 1 meter kubik setiap tahun.
Hutan Lindung 0,1
Pengaruh non-iklim ditentukan oleh banyak
Hutan Produksi 0,1
kebutuhan air yang ditentukan oleh jumlah
Hutan Rawa 0,1
penduduk dan perubahan penggunaan lahan.
Ruang Terbuka Hijau 0,1 Kebutuhan air lainnya dihitung melalui
Kawasan Lindung Setempat 0,1 pendekatan penggunaan lahan dengan kebutuhan
Taman Hutan Raya 0,1 untuk pertanian, tanaman, dan industri. Hasil
Danau/waduk 0 proyeksi memperlihatkan sebaran penambahan
wilayah yang berubah warna semakin besarnya
kebutuhan air di bagian utara, terutama di Kota
Malang (Gambar 11a dan Gambar 11b).

Gambar 8. Peta densitas penduduk tahun 2010 (Setiawan et al., 2012).

53
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Gambar 9. Peta Tata Guna Lahan Malang Raya Tahun 2030.

Gambar 10. (a) Jumlah air yang mengalir (Total Runoff) tanpa adanya perubahan lahan. (b)
Jumlah air yang mengalir (Total Runoff) dengan adanya perubahan lahan.

Laju pertumbuhan penduduk pada kondisi dan merah. Denstitas penduduk memperlihatkan
proyeksi sebesar 0,67% per tahun manghasilkan sebaran intensitas yang meningkat di bagian
kepadatan penduduk seperti pada gambar 10. tengah ke utara (Gambar 12). Sebaran intensitas
Perhitungan nilai kerentananan untuk masing- meningkat di tengah ke selatan untuk
masing indikator menghasilkan peta sebaran penggunaan lahan (Gambar 13a dan 13b).
kerentanan yang disajikan pada Gambar 12 Jaringan infrastruktur tidak banyak yang berubah
hingga Gambar 16. (Gambar 14a dan 14b). Bagian timur yang paling
rentan terhadap sumber air (Gambar 15).
Penduduk, penggunaan lahan, jaringan Kesejahteraan penduduk diklasifikasi
infrastruktur, kebutuhan air, sumber air, dan berdasarkan data pendapatan sensus nasional
kesejahteraan penduduk. Peningkatan nilai tahun 2007 memperlihatkan bagian selatan dan
rendah ke tinggi ditentukan intensitas warna sedikit di timur dan barat paling rentan terhadap
dengan urutan hijau, hijau muda, kuning, jingga, risiko penurunan ketersediaan air (Gambar 16).

54
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

Gambar 11a. Peta kebutuhan air per kecamatan Tahun 2010.

Gambar 11b. Peta kebutuhan air per kecamatan Tahun 2030.

55
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Gambar 12. Peta densitas penduduk Tahun 2030.

Gambar 13a. Peta penggunaan lahan Tahun 2010.

56
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

Gambar 13b. Peta kerentanan infrastruktur Tahun 2030.

Gambar 14a. Peta kerentanan infrastruktur Tahun 2010.


57
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Gambar 14b. Peta kerentanan infrastruktur Tahun 2030.

Gambar 15. Peta kerentanan sumber air Tahun 2010.

58
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

Pada tahun 2010 dan proyeksi tahun 2030 di

Gambar 16. Peta kesejahteraan penduduk Tahun 2010.

Kerentanaan penurunan ketersediaan air dibagi Malang memperlihatkan kerentanan yang


menjadi tiga komponen yang terkait dengan bervariasi dari sangat rendah ke sangat tinggi.
indikatornya seperti ditampilkan pada Tabel 3. Kontribusi terbesar terhadap kerentanan adalah
Pembobotan dengan metode GIS menunjukkan kepadatan penduduk dan penggunaan lahan.
dampak dengan indikator kebutuhan air yang Gambar 17a memperlihatkan kerentanan
dipengaruhi oleh penduduk dan penggunaan penurunan ketersediaan air di Malang pada
lahan memiliki rasio terbesar. Pembobotan ini tahun 2010. Bagian tengah dipengaruhi pusat
digunakan sebagai bahan pembuatan peta kegiatan penduduknya memperlihatkan
kerentanannya pada Gambar 17a dan Gambar distribusi kerentanan sedang hingga tinggi,
17b. terutama di pusat ibukota kecamatan.
Tabel 3. Pembobotan komponen dan indikator Pada tahun 2030, kerentanan penurunan
kerentanan penurunan ketersediaan air. ketersediaan semakin meningkat secara
Komponen Indikator Rasio signifikan menjadi sangat tinggi (Gambar 17b).
Daerah yang mengalami peningkatan signifikan
Dampak Kebutuhan air (penduduk 0,5
dan penggunaan lahan)
intensitas kerentanan rendah menjadi sangat
tinggi meliputi Sumbermanjing, Gondangdia,
Sensitivitas Sumber air 0,32 Lawang, Dampit, Donomulyo, Pagak,
Kapasitas Kesejahteraan penduduk 0,18 Sumberpucung, Wonosari. Yang paling banyak
Adaptasi berubah pada kondisi proyeksi adalah

59
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Gambar 17a. Peta kerentanan penurunan ketersediaan air Tahun 2010.

Gambar 17b. Peta kerentanan penurunan ketersediaan air Tahun 2030.

60
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

Gambar 18a. Peta risiko penurunan ketersediaan air di Malang Tahun 2010.

Gambar 18b. Peta risiko penurunan ketersediaan air di Malang Tahun 2030.

61
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Gambar 19. Peta konservasi airtanah Malang 2003 (modifikasi dari Warsito, 2003).
peningkatan intensitas kerentanan sedang hingga Airtanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan
kerentanan sangat tinggi. Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya
Mineral) tahun 2003 menunjukkan dua
Melalui fungsi bahaya dan kerentanan diolah
Cekungan Airtanah (CAT) yang ada di Malang.
dan dianalisis dengan metode GIS, risiko
Tabel 4 merupakan zonasi konservasi dengan
penurunan ketersediaan air pada tahun 2010
membagi batas akuifer hingga kedalaman 40
dinilai sangat rendah hingga rendah (Gambar
mbmt (meter di bawah muka tanah).
18a). Risiko penurunan ketersediaan air tahun
2010 didominasi tingkat intensitas risiko sedang. Tabel 4. Zonasi konservasi airtanah Malang (Warsito,
Peningkatan risiko ditemukan di bagian selatan 2003).
dan tengah ke barat pada jalur aliran sungai ZONA Akuifer Akuifer
Brantas pada tahun 2030 (Gambar 18b). < 40 mbmt >40 mbmt
Perubahan iklim secara tidak langsung atau lebih I Aman, 3,5 400
lambat mempengaruhi airtanah dibandingkan potensi m3/hari/sumur m3/hari/sumur
dengan air permukaan. Airtanah dapat berperan tinggi Interval min. Interval min.
10 m 75 m
sebagai komponen adaptasi terhadap perubahan
iklim. Potensi airtanah dalam Konservasi II Aman, 3,5 250
potensi m3/hari/sumur m3/hari/sumur
Airtanah Daerah Madiun-Kediri-Malang, Jawa sedang Interval min. Interval min.
Timur (Gambar 19) yang dipetakan oleh 10 m 100 m
Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan III Aman, 3,5 75
Kawasan Pertambangan (sekarang Pusat potensi m3/hari/sumur m3/hari/sumur

62
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan, Vol.27, No.1, Juni 2017, 47 - 64

rendah Interval min. Interval min. UCAPAN TERIMAKASIH


10 m 100 m
IV Aman, <30 mbmt: Ucapan terimakasih disampaikan kepada Badan
potensi 30 m3/hari/sumur Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
rendah, Interval min. 10 m dan GTZ (GIZ) atas kegiatan kajian risiko
setempat adaptasi perubahan iklim sektor air tahun 2011
potensi
tinggi yang datanya digunakan dalam tulisan ini.
V Daerah <30 mbmt: DAFTAR PUSTAKA
resapan 30 m3/hari/sumur
Interval min. 20 m Affeltranger, B., 2006. Living with Risk: A
VI Airtanah Tidak dikembangkan dan Global Review of Disaster Reduction
langka difungsikan sebagai pendukung Initiatives. ISDR.
daerah resapan
Arifin, M. B., 2008. Peta Cekungan Airtanah
Provinsi Jawa Timur, Skala (Scale)
Melihat peta proyeksi risiko penurunan
1:250.000. Pusat Lingkungan Geologi,
ketersediaan airtanah tahun 2030 yang
Badan Geologi, Departemen Energi dan
intensitasnya meningkat ke arah selatan dan peta
Sumberdaya Mineral, Bandung.
konservasi airtanah yang dapat berkontribusi
sebagai adapatasi terhadap perubahan iklim di Bisri, M., 2011. Konservasi Air. Upaya untuk
bagian tengah pada zona konservasi I-III. Mengurangi Dampak Perubahan Iklim
Mengingat belum ada data mutakhir airtanah di Global di Malang Raya. Paparan
Malang maka perlu dilakukan identifikasi dan disampaikan pada Lokakarya Teknis Kajian
inventarisasi potensi airtanah lintas sektoral dari Risiko dan Adaptasi Perubahan Iklim I pada
semua pihak yang berkepentingan baik tanggal 18 April 2011. Batu.
pemerintahan, akademisi, masyarakat, maupun Blaney, H. F., dan Criddle, W. D., 1950.
swasta. Determining water requirements in irrigated
KESIMPULAN area from climatological irrigation data. US
Dept Agric., Soil Conservation Service,
Penurunan ketersediaan air di Malang pada Tech. Paper no. 96.
tahun 2030 memperlihatkan kecenderungan
yang sama dengan hasil proyeksi IPCC untuk BPS(Badan Pusat Statistik) Provinsi Jawa Timur,
wilayah Asia Tenggara pada abad ke-21 dengan 2016. Provinsi Jawa Timur Dalam Angka
potensi berkurangnya air sebesar 4,4 juta meter 2016. Surabaya.
kubik setiap tahun. Faktor dominan yang Fitts, C. R., 2013. Groundwater Science, Second
berkontribusi terhadap kerentanannya adalah Edition. Academic Press. USA.
oleh kepadatan penduduk dan penggunaan
lahan. Penilaian risiko penurun Hadi, T. W., Junnaedhi, I. D. G. A., dan
Syahputra, M. R., 2012. Climate Change
an ketersediaan air di Malang pada tahun 2010 Risk and Adaptation Assessment Greater
dan proyeksi tahun 2030 memperlihatkan Malang – Climate Analysis and Projection.
peningkatan intensitas risiko dan sebarannya
yang meluas di bagian selatan Malang. IPCC, 2007: Climate Change 2007: Synthesis
Mengingat airtanah dapat berkontribusi dalam Report. Contribution of Working Groups I,
adaptasi dan terakumulasi di bagian utara II and III to the Fourth Assessment Report
wilayah Malang yang mempunyai risiko of the Intergovernmental Panel on Climate
penurunan ketersediaan air paling tinggi maka Change[Core Writing Team, Pachauri, R.
diperlukan pengelolaan sumberdaya air yang K., dan Reisinger, A. (eds.)]. IPCC, Geneva,
terpadu dan pengendalian penggunaan lahan Switzerland, 104 pp.
untuk memperbesar nilai aliran airtanah. Kundzewicz, Z.W., L. J., Mata, N.W., Arnell, P.,
Adaptasi sederhana terhadap perubahan iklim Döll, P., Kabat, B., Jiménez, K. A., Miller,
untuk sektor air dapat diupayakan dari T., Oki, Z., Sen dan I. A., Shiklomanov,
membangun kesadaran untuk memiliki cara 2007. Freshwater resources and their
berinteraksi dengan air secara sederhana seperti management. In: Parry, M. L., O. F.,
menghemat airdan mendaur ulang air.

63
Iman et al. / Airtanah untuk Adaptasi Perubahan Iklim di Malang, Jawa Timur: penilaian risiko penurunan ketersediaan air

Canziani, J. P., Palutikof, P. J., van der Suroso, D. S. A., Abdurahman, O., Setiawan, B.,
Linden dan C. E., Hanson (Eds). Climate 2010. Impacts of Climate Change on the
Change 2007: Impacts, Adaptation and Sustainability of Water Supply in Indonesia.
Vulnerability. Contribution of Working Proceedings of the Second International
Group II to the Fourth Assessment Report of Workshop on Water Supply Management
the Intergovernmental Panel on Climate System and Social Capital. March 15-16.
Change, Cambridge University Press, Sepuluh November Institute of Technology.
Cambridge, UK, 173-210. Surabaya.
Poespowardoyo, R. S., 1984. Peta Hidrogeologi Warsito, D., 2003. Konservasi Airtanah Daerah
Indonesia Skala 1:250.000 Lembar X – Madiun-Kediri-Malang, Jawa Timur.
Kediri. Direktorat Geologi Tata Laporan No. 19/LAP/PIPA/2003.
Lingkungan, Bandung. Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan
Kawasan Pertambangan, Direktorat
Setiawan, B., Abdurahman, O., Riawan, E.,
Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral,
Puspita, N., and Iman, M. I., 2012. Climate
Departemen Energi dan Sumberdaya
Risk and Adaptation Assessment for the
Mineral, Bandung.
Water Sector – Tarakan. Ministry of
Environment. Jakarta, Indonesia.

64