Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

TINEA KORPORIS ET KRURIS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Program Pendidikan Profesi


Kedokteran Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Pembimbing :
dr. Dody Suhartono, Sp.KK, MH.Kes

Disusun Oleh :
Wahyu Honimah
(030.12.276)

KEPANITRAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL
PERIODE 2 OKTOBER – 4 NOVEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
LEMBAR PENGESAHAN

Kasus dengan judul


“Seorang Perempuan dengan Tinea Korporis et Kruris”

telah diterima dan disetujui oleh pembimbing,


sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik ilmu penyakit kulit dan kelamin di
RSUD KARDINAH kota Tegal

Tegal , Oktober 2017

dr. Dody Suhartono, Sp.KK, MH.Kes


Laporan Kasus

A. Identitas Pasien
Nama : Ny. C
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 25 tahun
Alamat : Cikuya, RT 03/RW 04, banjarharjo, Brebes
Pekerjaan : Petani
Agama : Islam
No. CM : 892702
Tanggal berobat : 14 Oktober 2017

B. Anamnesis
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 14 Oktober 2017, di Poliklinik
Kulit dan Kelamin RSU Kardinah Tegal

Keluhan Utama
Gatal pada perut, dan paha .

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh gatal-gatal pada daerah perut dan paha, paha sejak kurang
lebih 6 bulan yang lalu. Awalnya gatal dirasakan di daerah paha. Kemudian menjalar
ke bagian perut.Gatal dirasakan terus menerus,dan akan terasa lebih gatal apabila
berkeringat. Keluhan ini dirasakan semakin lama semakin meluas dan mengganggu.
Pasien mengatakan pada daerah yang gatal tersebut timbul bercak kemerahan
bentuk bulat yang awalnya berdiameter ± 5cm kemudian meluas, berbintik-bintik
kecil tepi kemerahan,disertai sisik halus, dan rasa gatal yang semakin hebat terutama
jika berkeringat. Pasien memperkirakan bahwa dirinya tertular oleh suaminya. yang
kemudian menular pula kepada ibu pasien. Pasien mengaku sudah pernah berobat ke
klinik dokter umum dan diberi nutrahis kapsul, dan salep. Pasien juga mengatakan
sudah 4 kali gonta-ganti dokter namun keluhan tidak kunjung membaik, sehingga
pasien memutuskan untuk pergi ke RS.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan yang serupa sebelumnya. Pasien
mengaku tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan maupun makanan
tertentu. Pasien menyangkal memiliki riwayat penyakit kulit maupun infeksi.
Riwayat Penyakit Keluarga
Suami pasien sebelumnya mengalami keluhan yang sama dengan pasien dan
kemudian ibu pasien pun mengalami hal yang sama. Riwayat penyakit lain disangkal.
Riwayat Lingkungan
Pasien tinggal bersama suami dan dua orang anaknya nya di rumah berukuran
sedang dan lingkungan padat penduduk. Rumah selalu dibersihkan, termasuk tempat
tidur, gorden, dan lantai rumah.
Riwayat Kebiasaan
Pasien mandi 2x sehari dan mengganti pakaiannya 2x sehari. Termasuk
pakaian dalam dan menggunakan handuk sendiri. Pakaian selalu dicuci setelah
dipakai dan dikeringkan.

C. Pemeriksaan Fisik
a. STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Suhu : afebris
Pernapasan : 20 x/menit
Kepala : normosefali
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Telinga : tidak ada kelainan
Hidung : tidak ada kelainan
Tenggorokan : tidak ada kelainan
Mulut : tidak ada kelainan
Thorax :
Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
Paru : suara napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-
Abdomen : datar, bising usus (+) normal, hepar/lien tidak teraba,
nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), terdapat kelainan kulit
(lihat status dermatologikus)
Ekstremitas
Atas : akral hangat, oedema -/-, terdapat kelainan kulit (lihat
status dermatologikus)
Bawah : akral hangat, oedema -/-

b. STATUS DERMATOLOGIKUS
1. Regio umbilikalis

Penyembuhan
sentral
Tepi aktif

Plak eritematosa

o Tampak plak eritematosa, ukuran plakat ɵ 16 cm x 13 cm, tidak teratur,


sirkumskrip dengan tepi aktif dan penyembuhan sentral.

2. Regio abdominalis lateralis sinistra


Penyembuhan
sentral

Tepi aktif

Plak eritematosa

o Tampak plak eritematosa, tidak teratur, sirkumskrip dengan tepi aktif dan
penyembuhan sentral.
3. Regio femoralis dextra dan sinistra

Penyembuhan
sentral
Hiperpigmentasi

Plak eritematosa

o Tampak plak eritematosa, tidak teratur, penyembuhan sentral, dan


hiperpigmentasi.
4. Regio femoralis lateralis sinistra
Penyembuhan sentral

Skuama

o Tampak plak eritematosa, ukuran plakat, tidak teratus, sirkumkrip,


penyembuhan sentral disertai skuama kutikular diatasnya.
D. Diagnosis Banding
1. Dermatitis Numularis
2. Dermatitis Seboroika
3. Psoriasis
4. Pitiriasis Rosea
E. Resume
Seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD
Kardinah Tegal dengan keluhan utama gatal-gatal. Pasien mengeluh gatal-gatal pada
daerah perut dan paha sejak kurang lebih 6 bulan yang lalu. Awalnya gatal dirasakan
di daerah paha Kemudian menjalar ke bagian perut.Gatal dirasakan terus menerus,dan
akan terasa lebih gatal apabila berkeringat. Keluhan ini dirasakan semakin lama
semakin meluas dan mengganggu.
Pasien mengatakan pada daerah yang gatal tersebut timbul bercak kemerahan
bentuk bulat yang awalnya berdiameter ± 5cm kemudian meluas, berbintik-bintik
kecil tepi kemerahan,disertai sisik halus, dan rasa gatal yang semakin hebat terutama
jika berkeringat. Pasien memperkirakan bahwa dirinya tertular oleh suaminya. yang
kemudian menular pula kepada ibu pasien. Pasien mengaku sudah pernah berobat ke
klinik dokter umum dan diberi nutrahis kapsul, dan salep. Pasien juga mengatakan
sudah 4 kali gonta-ganti dokter namun keluhan tidak kunjung membaik, sehingga
pasien memutuskan untuk pergi ke RS
Pasien memiliki kebiasaan mandi 2x sehari dan mengganti pakaiannya 2x
sehari. Termasuk pakaian dalam dan menggunakan handuk sendiri. Pakaian selalu
dicuci setelah dipakai dan dikeringkan. Begitu pula tempat tidur, gorden, dan lantai
rumah selalu dibersihkan..
Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal. Status
dermatologikus didapatkan lesi dengan lokalisasi di regio umbilikalis,abdominalis
lateralis sinistra, femoralis anterior dextra dan sinistra, femoralis lateralis sinistra.
Lesinya multiple, regional, sirkumskrip, bentuk tidak teratur, ukuran plakat, dari
permukaan kulit. Efloresensi berupa plak eritematosa,dan skuama.
Tinea korporis et kruris dapat dibedakan dengan beberapa penyakit yaitu
dermatitis numularis,dematitis seboroika,psoriasis dan pitiriasis rosea . (1)
Diagnosis Gejala Tanda
Banding
Dermatitis  Sangat gatal  Lesi akut berupa vesikel dan
numularis  Usia puncak awitan pada papulovesikel (0,3-1,0 cm),
laki-laki antara 55-65 kemudian membesar dengan
tahun, pada perempuan cara konfluensi atau meluas
15-25 tahun. kesamping, membentuk satu lesi
 Kulit kering karakteristik seperti uang logam
 Lokalisasi: tungkai bawah, (coin).lambat laun vesikel
badan, lengan termasuk pecahteradi eksudasi kemudian
punggung tangan, residif, menjadi krusta
dan bila kambuh kekuningan.penyembuhan lesi
umumnya timbul pada mulai dari tengah. Jumlah lesi
tempat yang sama. dapat hanya satu, banyak dan
tersebar, bilateral atau simetris,
dengan ukuran yang bervariasi.
 Lesi lama berupa likenefikasi
dan skuama.
 Efloresensi: eritematosa, sedikit
edematosa / berbentuk bulat
seperti uang logam / berbatas
tegas.
Dermatitis  Gatal ringan  Bentuk ringan : skuama halus
seboroika  Insiden mencapai kasar, bercak eritema dikepala,
puncaknya pada umur 18- sering pula disebut pitiriasis sika
40 tahaun , lebih sering (ketombe)
terjadi pada pria daripada  Bentuk berat : bercak
wanita. berskuama, berminyak eksudasi,
 Faktor predisposisi krusta tebal.
kelelahan, stres  Efloresensi: eritema dan skuama
emosional, infeksi atau yang berminyak dan agak
imunodefisiensi. kekuningan,batasnya kurang
 Lokalisasi: supra-orbita, tegas.
liang telinga luar, lipatan
nasolabial,sternal, areola
mammae, lipatan bawah
mammae.
Psoriasis  Gatal ringan  Efloresensi: plak eritematosa,
 Faktor pencetus : stres, dengan skuama diatasnya
infeksi, trauma, endokrin, berlapis-lapis kasar putih seperti
metabolik, obat, alkohol, mikadan transparan, besar lesi
dan rokok. bervariasi dari lentikuler hingga
 Lokalisasi : kulit kepala, plakat, diawali dengan tetesan
perbatasan kulit kepala- lilin, fenomena Auspitz, dan
wajah, ekstremitas kobner, dapat disertai kelainan
ekstensor, lumbosakral. pada kuku (pitting nail)
Pitiriasis rosea  Gatal ringan  Lesi pertama (heral patch)
 Terjadi pada umur 15-40 umumnya dibadan, soliter,
tahun,pria dan wanita berbentuk oval, dan anular
sama banyaknya. diameter kira-kira 3 cm.
 Sembuh sendiri dalam  Lesi berikutnya timbul 4-10 hari
waktu 3-8 minggu. setelah lesi pertama hanya lebih
 Lokalisasi : badan, lengan, kecil susunan sejajar dengan
paha atas sehingga seperti kosta hingga menyerupai pohon
pakaian renang wanita cemara terbalik,timbul serentak
jaman dahulu. dalam beberapa hari.
 Efloresensi : eritema dan
skuama halus dipinggir.

F. Diagnosis Kerja
Tinea korporis et kruris
G. Usulan Pemeriksaan
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan diagnosa banding,,
pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini adalah kerokan kulit dengan Kalium
Hidroksida (KOH) 20%, hasilnya positif apabila : pada sediaan ditemukan adanya
Hifa sebagai dua garis sejajar , terbagi oleh sekat, dan bercabang maupun spora
berderet (artrospora)
Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan
langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur.
H. Penatalaksanaan
1. Umum
a. Memberikan edukasi kepada pasien mengenai penyakit yang dialami serta
pengobatannya
b. Menjelaskan bahwa penyakitnya adalah penyakit yang menular
c. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan
tempat tinggal
d. Mencuci pakaian, sprei tempat tidur, selimut, handuk dengan bilasan
terakhir menggunakan air panas
e. Menggunakan pakaian menyerap keringat dan yang tidak ketat
f. Sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras apabila gatal karena dapat
menyebabkan luka dan risiko infeksi
g. Menjelaskan bahwa anggota keluarga yang menderita keluhan yang sama
segera diobati
h. Menggunakan obat yang diberikan sesuai dengan anjuran dokter secara
rutin
2. Khusus
a. Sistemik (dapat dipilih salah satu)
i. ketoconazole 1 x 200 mg/hari
Ketokonazol tablet dosis 1 x 200 mg, diminum pagi hari sesudah
makan selama 14 hari
ii. Itraconazole 1 x 100 mg/hari
iii. Griseofulvin 500-1000 mg/hari (10-20 mg/kg/hari)
iv. Cetrizine tablet dosis 1 x 10 mg.
b. Topikal
i. Econazol 1 %
ii. Ketoconazol 2 %
iii. Clotrinazol 1%
iv. Miconazol 2% dll.
Krim Mikonazol Nitrat 2%, 2 kali sehari selama 2 minggu,
dioleskan tipis – tipis pada lesi.
I. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam
Quo ad cosmetican : dubia ad bonam
PEMBAHASAN
Tinea Korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, Scherende Flechte, herpes sircine
trichophytique) atau yang dikenal dengan kurap adalah penyakit kulit yang disebabkan
oleh jamur superfisial golongan dermatofita, menyerang daerah kulit tak berambut pada
wajah, badan, lengan dan tungkai . Penyakit ini disebabkan oleh golongan jamur
dermatofita yang tersering adalah Epidermophyton floccpasienum atau T. rubrum 1,2

Gambar 1. Area predileksi Tinea korporis


Tinea glabrosa atau dermatofitosis pada kulit tidak berambut mempunyai
morfologi khas. Penderita merasa gatal dan kelainan berbatas tegas, terdiri atas
bermacam – macam efloresensi kulit (polimorfi). Bagian tepi lesi aktif (lebih jelas tanda
– tanda peradangannya) daripada bagian tengah.3
Bergantung pada berat ringannya reaksi radang dapat dilihat berbagai macam lesi
kulit. Wujud lesi dapat berupa; lesi berbentuk makula/ plak yang merah/ hiperpigmentasi
dengan tepi aktif dan penyembuhan sentral, skuama. Pada tepi lesi di jumpai papula –
papula eritema atau vesikel. Pada perjalanan penyakit yang kronik dapat dijumpai
likenifikasi. Kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Lesi – lesi pada umumnya
merupakan bercak- bercak terpisah satu dengan yang lainnya. Gambaran lesi dapat
polisiklik, anular atau geografis.4
Tinea kruris adalah penyakit dermatofitosis (penyakit pada jaringan yang
mengandung zat tanduk) yang disebabkan infeksi golongan jamur dermatofita pada
daerah kruris (sela paha, perineum, perianal, gluteus, pubis) dan dapat meluas ke daerah
sekitarnya.3

Gambar 2. Area predileksi Tinea Kruris


Penyebab Tinea kruris sendiri sering kali oleh Epidermophyton floccosum, namun
dapat pula oleh Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes, dan Trichophyton
verrucosum .Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena mempunyai
daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat menyerang
lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai dengan stratum basalis.4
Gejala klinis Tinea kruris khas, penderita merasa gatal hebat pada daerah kruris.
Ruam kulit berbatas tegas, eritematosa, dan bersisik. Bila penyakit ini menjadi menahun,
dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya
akibat garukan. 5
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinik,, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis pasien didapatkan bahwa pasien mengalami
gatal-gatal, gatal bertambah hebat terutama apabila berkeringat. Kulit yang gatal
berwarna kemerahan berbatas tegas, dengan daerah sedikit putih dibagian tengah,.
Awalnya berukuran kecil hanya disekitar pusar kemudian melebar hingga ke perut
bagian samping kiri ,keatas dibawah ketiak, lipatan payudara kiri, paha kanan kiri dan
lipatan paha. Pasien tinggal di rumah yang berlingkungan padat penduduk, bersama
suami dan dua orang anaknya. Pasien mengaku tertular oleh suaminya. Setelah itu
beberapa hari kemudian, ibu pasien juga mulai mengalami hal yang sama, karena
terkadang pasien juga sering berkunjung kerumah ibunya. Pasien dapat didiagnosis
menderita tinea korporis et kruris dimana keluhan pasien dan tempat predileksinya sesuai
dengan teori yakni:(1).
Berdasarkan anamnesis, pasien mengeluhkan adanya gatal, terutama saat
berkeringat, mengenai hampir seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah. Sedangkan
berdasarkan pemeriksaan fisik, pada status dermatologinya didapatkan lesi regional pada
region umbilikalis, abdominalis lateralis sinistra, axilaris anterior, femoralis anterior
dextra sinistra dan femoralis lateralis sinistra.. Efloresensi plak eritem, sirkumskrip,
dengan tepi aktif, dan penyembuhan sentral, disertai skuama halus kecil.
Pada kasus ini, dipikirkan pula diagnosis banding selain tinea korporis et kruris,
yaitu :
 Dermatitis Numularis
Dermatitis numularis adalah dermatitis yang lesinya berbentuk mata uang atau
agak lonjong, berbatas tegas dengan efloresensi berupa papulovesikel, biasanya
mudah pecah sehingga basah. Penyakit ini terjadi pada orang dewasa, lebig sering
pada pria dibanding wanita. Penderita dermatitis numularis umumnya mengeluh
sangat gatal dan disertai nyeri, perjalanan penyakit ini diawali dengan eritema
berbentuk lingkaran, selanjutnya melebar sebesar uang logam yang dikeliling oleh
papul dan vesikel. Pada lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel, kemudian
membesar dengan berkonfluensi atau meluas kesamping, membentuk satu lesi
karakteristik seperti uang logam, eritema, sedikit edematosa, berbatas tegas, lambat
laun akan pecah terjadi eksudasi kemudian mengering menjadi krusta kekuningan.
Pada penyakit ini penyembuhan dimulai dari tengah sehingga terkesan penyerupai lesi
dermatomikosis, lesi yang sama berupa likenifikasi dan skuama. Jumla lesi pada
dermatitis numularis dapat satu, dapat pula banyak an tersebar, bilateral atau simetri
dengan ukuran dari numular sampai plakat. Tempat predileksi penyakit ini tungkai
bawah, badan, tangan termasuk punggung tangan. Pada pemeriksaan histopatologi,
ditemukan spongiosis vesikel intradermal, serbukan sel radang limfosit dan makrofag
disekitar pembuluh darah. Perbedaaanya pada tinea lesinya berupa pinggir aktif,
bagian tengah agak menyembuh, hifa positif dari pemeriksaan sediaan langsung. 1,2
 Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamatoir kulit yang biasanya dimulai
pada kulit kepala,dan kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan. Penyakit
ini sering kali dihubungkan dengan peningkatan produksi sebum (seborrhea) dari kulit
kepala dan daerah muka serta batang tubuh yang kayaakan folikel sebaceous.
Kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan,
batasnya agak kurang tegas. Dermatitis seboroik yang ringan hanya mengenai kulit
kepala berupa skuama-skuama yang halus, mulai sebagai bercak kecil yang kemudian
mengenai seluruhkulit kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar.
Kelaianan tersebut pitiriasis sika(ketombe, dandruff). Bentuk yang berminyak disebut
pitiriasis steatoides yang dapat disertaieritema dan krusta-krusta yang tebal. Rambut
pada tempat tersebut mempunyai kecenderunganrontok, mulai di bagian vertex dan
frontal.Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak yang berskuama dan
berminyak disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, glabela, telinga
postaurikular dan leher.Pada daerah dahi tersebut, batasnya sering cembung.Pada
bentuk yang lebih berat lagi, seluruh kepala tertutup oleh krusta-krusta yang kotor,dan
berbau tidak sedap. Pada bayi, skuama-skuama yang kekuningan dan kumpulan
debris-debris epitel yang lekat pada kulit kepala disebut cradle cap. 3,4
 Psoriasis Vulgaris
Psoriaris adalah penyakit yang disebabkan oleh autoimun, bersifat kronik dan
residif, ditandai dengan adanya bercak – bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama kasar, berlapis – lapis dan transparan disertai femomena tetesan lilin, Auspitz,
dan Kobner. Sebagian penderita mengeluh gatal ringan. Fenomena tetesan lilin adalah
skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada goresan, seperti lilin yang
digores. Fenomena Auspitz tampak serum atau darah berbintik – bintik yang
disebabkan oleh papilomatosis. Tempat predileksi meliputi skalp, perbatasan daerah
tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut dan
daerah lumbosakral.1,2,3,5
 Ptiriasis Rosea
Pitiriasis Rosea adalah erupsi papuloskuamosa akut, morfologi khas berupa
makula eritematosa lonjong dengan diameter terpanjang sesuai dengan lipatan kulit
serta ditutupi oleh skuama halus. Penyebab penyakit ini masih belum diketahui, dapat
menyerang semua umur dan lebih sering pada cuaca dingin. Keluhan biasanya berupa
timbul bercak seluruh tubuh terutama daerah yang tertutup pakaian berbentuk bulat
panjang, mengikuti lipatan kulit. Diawali dengan bercak besar disekitarnya terdapat
bercak kecil. Ukuran bercak dari seujung jarum pentul sampai sebesar uang logam.
Dapat didahului gejala prodormal ringan seperti badan lemah. sakit kepala, dan sakit
tenggorokan. Tempat predileksi yaitu tersebar diseluruh tubuh terutama tempat yang
tertutup oleh pakaian. Efloresensi meliputi makula eritematosa anular dan solitar,
bentuk lonjong dengan tepi hampir tidak nyata dan bagian sentral bersisik, agak
berkeringat. Penyakit ini sering disangka jamur karena gambaran klinisnya mirip tinea
korporis yaitu terdapat eritema dan skuama dipinggir dan bentuknya anular.
Perbedaannya pada pitiriasis rosea gatalnya tidak begitu berat, skuamanya halus
sedangkan pada tinea korporis kasar. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk
membedakan dengan tinea korporis adalah pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH
10%, yang pada tinea akan memberikan hasil positif. 1,2
Penatalakasanaan untuk tinea korporis et kruris dilakukan secara
medikamentosa dan nonmedikamentosa. Terapi non medikamentosa adalah dengan
pemberian edukasi mengenai penyakit yang dialaminya dan pengobatannya,
menjelaskan bahwa penyakitnya adalah penyakit yang menular, menjelaskan
pentingnya menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan tempat tinggal, mencuci
pakaian, sprei tempat tidur, selimut, handuk dengan bilasan terakhir menggunakan air
panas, menggunakan pakaian menyerap keringat dan yang tidak ketat, sebaiknya
jangan menggaruk terlalu keras apabila gatal karena dapat menyebabkan luka dan
risiko infeksi, menjelaskan bahwa anggota keluarga yang menderita keluhan yang
sama segera diobati, menggunakan obat yang diberikan sesuai dengan anjuran dokter
secara rutin.2,3
Sedangkan terapi secara medikamentosa pada pasien ini dapat diberikan secara
sistemik dan topikal. Terapi sistemik yang diberikan dapat dipilih salah satu yakni
ketoconazole 1 x 200 mg/hari (ketokonazol tablet dosis 1 x 200 mg, diminum pagi hari
sesudah makan selama 14 hari), Itraconazole 1 x 100 mg/hari, Griseofulvin 500-1000 mg/hari
(10-20 mg/kg/hari), Cetrizine tablet dosis 1 x 10 mg.Terapi topikal dapat diberikan econazol 1
%, ketoconazol 2 %, clotrinazol 1%, miconazol 2% (krim Mikonazol Nitrat 2%, 2 kali sehari
selama 2 minggu, dioleskan tipis – tipis pada lesi.)3
Prognosis dari tinea korporis et kruris yang diderita pasien pada umumnya baik bila
diobati dengan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.2,5.
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 7. Cetakan Pertama. Badan
Penerbit FKUI; 2015. H. 137-40.
2. Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Edisi 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2013.
3. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine Eight Edition. Vol. 1 & 2. Penerbit:
Mc Graw Hill; 2012.
4. Goldust, Mohamad et al. Treatment of scabies: The topical ivermectin vs. permethrin
2.5% cream. Annals of Parasitology 2013, 59(2), 79–84.
5. Rushing ME. Tinea corporis. Online journal. 2006 June 29; available from;
http://www.emedicine.com/asp/tinea corporis/article/page type=Article.htm