Anda di halaman 1dari 52

Multi Akad (Al-‘Uqûd Al-Murakkabah/Hybrid Contracts) Dalam Transaksi Syari’ah Kontemporer

Pada Lembaga Keuangan Syari’ah Di Indonesia:

Konsep dan Ketentuan (Dhawâbith) Dalam Perspektif Fiqh

A. Pendahuluan

Pertumbuhan dan perkembangan pesat aktivitas dan lembaga keuangan syari’ah (LKS) di Indonesia
saat ini, seperti perbankan syariah, asuransi syariah, pembiayaan syariah, obligasi syariah (sukûk al-
istitsmâr), dan lain sebagainya menuntut para praktisi, regulator, dan bahkan akademisi bidang
keuangan syariah untuk senantiasa aktif dan kreatif dalam rangka memberikan respon terhadap
perkembangan tersebut. Para praktisi dituntut melakukan penciptaan berbagai produk; regulator
membuat regulasi yang mengatur dan mengawasi produk yang ditawarkan dan laksanakan oleh
praktisi; dan akademisi pun dituntut memberikan pencerahan dan tuntunan agar produk maupun
regulasi benar-benar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syariah.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengembangkan industri atau bisnis praktisi
telah melakukan berbagai upaya untuk mecipatakan produk-produk baru atau bahkan –dan ini yang
paling banyak melakukan adaptasi dan ”syariatisasi” terhadap produk-produk lama (konvensional).
Untuk yang terakhir ini, mengingat fungsinya masih relavan dan dan diperlukan, nama produk lama
tetap dipertahankan, tentu saja dengan diberi label khusus untuk membedakannya dari produk
konvensional; misalnya diberi kata ”syariah” atau kini –untuk di lingkungan perbankan syariah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku—diberi label ”iB”. Sebagai contoh dapat
dikemukakan antara lain kartu kredit syariah, asuransi syariah, obligasi syariah, FX iB, dan –isu
(kabar) yang bergulir di akhir Mei 2009 lalu– Islamic Swap.

Salah satu parameter untuk menilai suatu produk apakah telah memenuhi prinsip syariah atau tidak
adalah dengan memperhatikan akad-akad dan berbagai ketentuannya yang digunakan dalam produk
tersebut. Produk-produk dalam kegiatan keuangan syariah, jika terhadapnya dilakukan al-takyîf al-
fiqhi, beberapa atau bahkan sebagian terbesar ternyata mengandung beberapa akad. Sebagai
contoh, dalam transaksi kartu kredit syariah terdapat akad ijarah, qardh, dan kafalah; obligasi
syariah mengandung sekurang-kurangnya akad mudharabah (atau ijarah) dan wakalah, serta
terkadang disertai kafalah atau wa’d; Islamic Swap mengandung beberapakali akad tawarruq, bai’,
wakalah, sharf dan terkadang atau selalau disertai wa’d. Dalam setiap transaksi, akad-akad tersebut
dilakukan secara bersamaan atau setidak-tidaknya setiap akad yang terdapat dalam suatu produk
tidak bisa ditinggalkan, karena kesemuanya merupakan satu kesatuan. Transaksi seperti itulah yang
dalam tulisan ini diistilahkan dengan ”Multi Akad” yang kini dalam peristilahan fikih muamalat
kontemporer (fiqh al-mu’amalat al-maliyah al-mu’ashirah) disebut dengan al-’uqud al-murakkabah.

Dengan banyaknya transaksi modern yang menggunakan multi akad sebagaimana disinggung di atas,
kini atau bahkan pada dasawarsa terakhir ini mulai ramai diperbincangkan para pakar fikih sekitar
keabsahan dari multi akad. Sejumlah tulisan, mulai tulisan berbentuk artikel sampai dengan tulisan
ilmiah serius seperti tesis dan disertasi, bermunculan. Penulis pun menulis disertasi dengan topik
Konsep dan Dhawabith Multi Akad dalam Fatwa DSN-MUI.

Perbincangan dan perdebatan mengenai keabsahan multi akad ini muncul bukan tanpa sebab.
Sejumlah hadis Nabi –sekurangnya tiga buah hadis—secara lahiriah (ma’na zhahir)—menunjukkan
larangan penggunaan multi akad. Misalnya, hadis tentang larangan untuk melakukan bai’ dan salaf,
larangan bai’ataini fi bai’atin, dan shafqataini fi shafqatin. Dengan adanya hadis-hadis tersebut
kiranya sangat wajar jika timbul pertanyaan, apakah produk-produk keuangan syariah yang
menggunakan multi akad dapat diapandang memenuhi prinsip syariah atau sebaliknya.

Tulisan sederhana ini tidak dimaksudkan untuk menganalisis secara lengkap dan tafshîl terhadap
produk-produk dimaksud melainkan hanya sekedar akan membincang apa dan bagaimana
sebenarnya konsep multi akad, multi akad seperti apa yang memenuhi prinsip syariah, dan tentu
saja apa yang dumaksudkan oleh Nabi dengan hadis-hadisnya tersebut, sebagai bahan diskusi.

B. Pengertian, Jenis, dan Model Multi Akad

Multi dalam bahasa Indonesia berarti (1) banyak; lebih dari satu; lebih dari dua; (2) berlipat
ganda.[1] Dengan demikian, multi akad dalam bahasa Indonesia berarti akad berganda atau akad
yang banyak, lebih dari satu.

Sedangkan menurut istilah fikih, kata multi akad merupakan terjemahan dari kata Arab yaitu al-
’uqûd al-murakkabah yang berarti akad ganda (rangkap). Al-’uqûd al-murakkabah terdiri dari dua
kata al-’uqûd (bentuk jamak dari ‘aqd) dan al-murakkabah. Kata ‘aqd secara etimologi artinya
mengokohkan, meratifikasi dan mengadakan perjanjian[2]. Sedangkan secara terminologi ‘aqd berarti
mengadakan perjanjian atau ikatan yang mengakibatkan munculnya kewajiban.[3]

Menurut Wahbah az-Zuhaili, ‘aqd adalah[4]: “Pertalian atau perikatan antara ijab dan qabul sesuai
dengan kehendak syariah yang menetapkan adanya akibat hukum pada objek perikatan”

Kata al-murakkabah (murakkab) secara etimologi berarti al-jam’u (mashdar), yang berarti
pengumpulan atau penghimpunan.[5] Kata murakkab sendiri berasal dari kata “rakkaba-yurakkibu-
tarkîban” yang mengandung arti meletakkan sesuatu pada sesuatu yang lain sehingga menumpuk,
ada yang di atas dan yang di bawah. Sedangkan murakkab menurut pengertian para ulama fikih
adalah sebagai berikut:

Himpunan beberapa hal sehingga disebut dengan satu nama. Seseorang menjadikan beberapa hal
menjadi satu hal (satu nama) dikatakan sebagai melakukan penggabungan (tarkîb)

1. Sesuatu yang dibuat dari dua atau beberapa bagian, sebagai kebalikan dari sesuatu yang
sederhana (tunggal/basîth) yang tidak memiliki bagian-bagian.

2. Meletakkan sesuatu di atas sesuatu lain atau menggabungkan sesuatu dengan yang lainnya

Ketiga pengertian ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk menjelaskan makna
persis dari istilah murakkab. Pengertian pertama lebih tepat untuk digunakan karena mengandung
dua hal sekaligus, yaitu terhimpunnya beberapa hal dan bersatunya beberapa hal itu yang kemudian
menjadi satu pengertian tertentu. Pengertian kedua tidak menjelaskan akibat dari terhimpunnya
beberapa hal itu. Meski pengertian kedua menyatakan adanya gabungan dua atau beberapa hal,
tetapi tidak menjelaskan apa dan bagaimana setelah terjadi penggabungan tersebut. Pengertian
terakhir lebih dekat kepada pengertian etimologis, tidak menjelaskan pengertian untuk suatu istilah
tertentu.
Dengan demikian pengertian pertama lebih dekat dan pas untuk menjelaskan maksud al-’uqûd al-
murakkabah dalam konteks fikih muamalah. Karena itu, akad murakkab menurut Nazih Hammad
adalah[6]:

“Kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu akad yang mengandung dua akad atau lebih –
seperti jual beli dengan sewa menyewa, hibah, wakalah, qardh, muzara’ah, sahraf (penukaran mata
uang), syirkah, mudharabah … dst.– sehingga semua akibat hukum akad-akad yang terhimpun
tersebut, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan
yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sebagaimana akibat hukum dari satu akad.”

Sedangkan menurut Al-‘Imrani, akad murakkab adalah:

“Himpunan beberapa akad kebendaan yang dikandung oleh sebuah akad –baik secara gabungan
maupun secara timbal balik– sehingga seluruh hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang
sebagai akibat hukum dari satu akad.”

C. Macam-macam Multi Akad

Al-‘Imrani membagi multi akad dalam lima macam, yaitu al-’uqûd al-mutaqâbilah, al-’uqûd al-
mujtami’ah, al-’uqûd al-mutanâqidhah wa al-mutadhâdah wa al-mutanâfiyah, al-’uqûd al-
mukhtalifah, al-’uqûd al-mutajânisah. Dari lima macam itu, menurutnya, dua macam yang pertama;
al-’uqûd al-mutaqâbilah, al-’uqûd al–mujtami’ah, adalah multi akad yang umum dipakai.[7]

1. Akad Bergantung/Akad Bersyarat (al-’Uqûd al-Mutaqâbilah)

Al-Mutaqâbilah menurut bahasa berarti berhadapan. Sesuatu dikatakan berhadapan jika keduanya
saling menghadapkan kepada yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan al-’uqûd al-mutaqâbilah
adalah multi akad dalam bentuk akad kedua merespon akad pertama, di mana kesempurnaan akad
pertama bergantung pada sempurnanya akad kedua melalui proses timbal balik. Dengan kata lain,
akad satu bergantung dengan akad lainnya.

2. Akad Terkumpul (al-’Uqûd al–Mujtami’ah)

Al-’uqûd al-mujtami’ah adalah multi akad yang terhimpun dalam satu akad. Dua atau lebih akad
terhimpun menjadi satu akad. Seperti contoh “Saya jual rumah ini kepadamu dan saya sewakan
rumah yang lain kepadamu selama satu bulan dengan harga lima ratus ribu”.

Multi akad yang mujtami’ah ini dapat terjadi dengan terhimpunnya dua akad yang memiliki akibat
hukum berbeda di dalam satu akad terhadap dua objek dengan satu harga, dua akad berbeda akibat
hukum dalam satu akad terhadap dua objek dengan dua harga, atau dua akad dalam satu akad yang
berbeda hukum atas satu objek dengan satu imbalan, baik dalam waktu yang sama atau waktu yang
berbeda.

3. Akad berlawanan (al-’Uqûd al-Mutanâqidhah wa al-Mutadhâdah wa al-Mutanâfiyah)

Ketiga istilah al-mutanâqidhah, al-mutadhâdah, al-mutanâfiyah memiliki kesamaan bahwa


ketiganya mengandung maksud adanya perbedaan. Tetapi ketiga istilah ini mengandung implikasi
yang berbeda.
Mutanâqidhah mengandung arti berlawanan, seperti pada contoh seseorang berkata sesuatu lalu
berkata sesuatu lagi yang berlawanan dengan yang pertama. Seseorang mengatakan bahwa sesuatu
benar, lalu berkata lagi sesuatu itu salah. Perkataan orang ini disebut mutanâqidhah, saling
berlawanan. Dikatakan mutanâqidhah karena antara satu dengan yang lainnya tidak saling
mendukung, melainkan mematahkan.

4. Akad berbeda (al-’Uqûd al-Mukhtalifah)

Yang dimaksud dengan multi akad yang mukhtalifah adalah terhimpunnya dua akad atau lebih yang
memiliki perbedaan semua akibat hukum di antara kedua akad itu atau sebagiannya. Seperti
perbedaan akibat hukum dalam akad jual beli dan sewa, dalam akad sewa diharuskan ada ketentuan
waktu, sedangkan dalam jual beli sebaliknya. Contoh lain, akad ijârah dan salam. Dalam salam,
harga salam harus diserahkan pada saat akad (fi al-majlis), sedangkan dalam ijârah, harga sewa tidak
harus diserahkan pada saat akad.

Perbedaan antara multi akad yang mukhtalifah dengan yang mutanâqidhah, mutadhâdah, dan
mutanâfiyah terletak pada keberadaan akad masing-masing. Meskipun kata mukhtalifah lebih
umum dan dapat meliputi ketiga jenis yang lainnya, namun dalam mukhtalifah meskipun berbeda
tetap dapat ditemukan menurut syariat. Sedangkan untuk kategori berbeda yang ketiga
mengandung adanya saling meniadakan di antara akad-akad yang membangunnya.Dari pendapat
ulama di atas disimpulkan bahwa multi akad yang mutanâqidhah, mutadhâdah, dan mutanâfiyah
adalah akad-akad yang tidak boleh dihimpun menjadi satu akad. Meski demikian pandangan ulama
terhadap tiga bentuk multi akad tersebut tidak seragam.

5. Akad sejenis (al-’Uqûd al-Mutajânisah)

Al-’uqûd al-murakkabah al-mutajânisah adalah akad-akad yang mungkin dihimpun dalam satu akad,
dengan tidak memengaruhi di dalam hukum dan akibat hukumnya. Multi akad jenis ini dapat terdiri
dari satu jenis akad seperti akad jual beli dan akad jual beli, atau dari beberapa jenis seperti akad jual
beli dan sewa menyewa. Multi akad jenis ini dapat pula terbentuk dari dua akad yang memiliki
hukum yang sama atau berbeda.

D. Hukum Multi Akad

Status hukum multi akad belum tentu sama dengan status hukum dari akad-akad yang
membangunnya. Seperti contoh akad bai’ dan salaf yang secara jelas dinyatakan keharamannya oleh
Nabi s.a.w.. Akan tetapi jika kedua akad itu berdiri sendiri-sendiri, maka baik akad bai’ maupun salaf
diperbolehkan. Begitu juga dengan menikahi dua wanita yang bersaudara sekaligus haram
hukumnya, tetapi jika dinikahi satu-satu (tidak dimadu) hukumnya boleh. Artinya, hukum multi akad
tidak bisa semata dilihat dari hukum akad-akad yang membangunnya. Bisa jadi akad-akad yang
membangunnya adalah boleh ketika berdiri sendiri, namun menjadi haram ketika akad-akad itu
terhimpun dalam satu transaksi. Dapat disimpulkan bahwa hukum dari multi akad belum tentu sama
dengan hukum dari akad-akad yang membangunnya. Dengan kata lain, hukum akad-akad yang
membangun tidak secara otomatis menjadi hukum dari multi akad.

Meski ada multi akad yang diharamkan, namun prinsip dari multi akad ini adalah boleh dan hukum
dari multi akad diqiyaskan dengan hukum akad yang membangunnya. Artinya setiap muamalat yang
menghimpun beberapa akad, hukumnya halal selama akad-akad yang membangunnya adalah boleh.
Ketentuan ini memberi peluang pada pembuatan model transaksi yang mengandung multi akad.

Mengenai status hukum multi akad, ulama berbeda pendapat terutama berkaitan dengan hukum
asalnya. Perbedaan ini menyangkut apakah multi akad sah dan diperbolehkan atau batal dan
dilarang untuk dipraktikkan. Mengenai hal ini ulama berada dalam dua pendapat tersebut;
membolehkan dan melarang.

Mayoritas ulama Hanâfiyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyah, dan Hanbali
berpendapat bahwa hukum multi akad sah dan diperbolehkan menurut syariat Islam. Bagi yang
membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak diharamkan dan
dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau membatalkannya.[8]

Menurut Ibnu Taimiyah, hukum asal dari segala muamalat di dunia adalah boleh kecuali yang
diharamkan Allah dan RasulNya, tiada yang haram kecuali yang diharamkan Allah, dan tidak ada
agama kecuali yang disyariatkan.

Hukum asal dari syara’ adalah bolehnya melakukan transaksi multi akad, selama setiap akad yang
membangunnya ketika dilakukan sendiri-sendiri hukumnya boleh dan tidak ada dalil yang
melarangnya. Ketika ada dalil yang melarang, maka dalil itu tidak diberlakukan secara umum, tetapi
mengecualikan pada kasus yang diharamkan menurut dalil itu. Karena itu, kasus itu dikatakan
sebagai pengecualian atas kaidah umum yang berlaku yaitu mengenai kebebasan melakukan akad
dan menjalankan perjanjian yang telah disepakati.

Demikian pula dengan Ibn al-Qayyim, ia berpendapat bahwa hukum asal dari akad dan syarat adalah
sah, kecuali yang dibatalkan atau dilarang oleh agama. Karena hukum asalnya adalah boleh, maka
setiap akad dan syarat yang belum dijelaskan keharamannya oleh Allah tidak bisa dinyatakan sebagai
haram. Allah telah menjelaskan yang haram secara rinci, karenanya setiap akad yang dinyatakan
haram harus jelas keharamannya seperti apa dan bagaimana. Tidaklah boleh mengharamkan yang
telah dihalalkan oleh Allah atau dimaafkan, begitu pula tidak boleh menghalalkan yang telah
diharamkan oleh-Nya.[9]

E. Batasan dan Standar Multi Akad

Para ulama yang membolehkan praktik multi akad bukan berarti membolehkan secara bebas, tetapi
ada batasan-batasan yang tidak boleh dilewati. Karena batasan ini akan menyebabkan multi akad
menjadi dilarang. Di kalangan ulama, batasan-batasan ini ada yang disepakati dan diperselisihkan.
Secara umum, batasan yang disepakati oleh para ulama adalah sebagai berikut:

1. Multi akad dilarang karena nash agama

Dalam hadis, Nabi secara jelas menyatakan tiga bentuk multi akad yang dilarang, yaitu multi akad
dalam jual beli (ba’i) dan pinjama, dua akad jual beli dalam satu akad jual beli dan dua transaksi
dalam satu transaksi Dalam sebuah hadis disebutkan.

‫نهى رسول هللا صلى هللا عليه و سلم عن بيع وسلف‬

“Rasulullah s.a.w. melarang jual beli dan pinjaman.” (HR AhmadDari Abu Hurairah r.a.,)
Suatu akad dinyatakan boleh selama objek, harga, dan waktunya diketahui oleh kedua belah pihak.
Jika salah satu di antaranya tidak jelas, maka hukum dari akad itu dilarang.

Imam asy-Syafi’i memberi contoh, jika seseorang hendak membeli rumah dengan harga seratus,
dengan syarat dia meminjamkan (salaf) kepadanya seratus, maka sebenarnya akad jual beli itu tidak
jelas apakah dibayar dengan seratus atau lebih. Sehingga harga dari akad jual beli itu tidak jelas,
karena seratus yang diterima adalah pinjaman (‘âriyah). Sehingga penggunaan manfaat dari seratus
tidak jelas; apakah dari jual beli atau pinjaman.

Ibnu Qayyim berpendapat bahwa Nabi melarang multi akad antara akad salaf (memberi
pinjaman/qardh) dan jual beli, meskipun kedua akad itu jika berlaku sendiri-sendiri hukumnya boleh.
Larangan menghimpun salaf dan jual beli dalam satu akad untuk menghindari terjurumus kepada
ribâ yang diharamkan. Hal itu terjadi karena seseorang meminjamkan (qardh) seribu, lalu menjual
barang yang bernilai delapan ratus dengan harga seribu. Dia seolah memberi seribu dan barang
seharga delapan ratus agar mendapatkan bayaran dua ribu. Di sini ia memperoleh kelebihan dua
ratus.

Selain multi akad antara salaf dan jual beli yang diharamkan, ulama juga sepakat melarang multi
akad antara berbagai jual beli dan qardh dalam satu transaksi. Semua akad yang mengandung unsur
jual beli dilarang untuk dihimpun dengan qardh dalam satu transaksi, seperti antara ijarâh dan
qardh, salam dan qardh, sharf dan qardh, dan sebagainya.

Meski penggabungan qardh dan jual beli ini dilarang, namun menurut al-‘Imrâni tidak selamanya
dilarang. Penghimpunan dua akad ini diperbolehkan apabila tidak ada syarat di dalamnya dan tidak
ada tujuan untuk melipatkan harga melalui qardh. Seperti seseorang yang memberikan pinjaman
kepada orang lain, lalu beberapa waktu kemudian ia menjual sesuatu kepadanya padahal ia masih
dalam rentang waktu qardh tersebut. Yang demikian hukumnya boleh. Sedangkan larangan
penghimpunan dua akad jual beli dalam satu akad jual beli didasarkan pada hadis Nabi yang
berbunyi: “Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah s.a.w. melarang dua jual beli dalam satu jual
beli”. (HR Malik)

2. Multi akad sebagai hîlah ribâwi

Multi akad yang menjadi hîlah ribawi dapat terjadi melalui kesepakatan jual beli ‘înah atau
sebaliknya dan hîlah ribâ fadhl.

a. Al-‘Înah

Contoh ‘inah yang dilarang adalah menjual sesuatu dengan harga seratus secara cicil dengan syarat
pembeli harus menjualnya kembali kepada penjual dengan harga delapan puluh secara tunai. Pada
transaksi ini seolah ada dua akad jual beli, padahal nyatanya merupakan hîlah ribâ dalam pinjaman
(qardh), karena objek akad semu dan tidak faktual dalam akad ini. Sehingga tujuan dan manfaat dari
jual beli yang ditentukan syariat tidak ditemukan dalam transaksi ini.

Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa agama menetapkan seseorang yang memberikan qardh
(pinjaman) agar tidak berharap dananya kembali kecuali sejumlah qardh yang diberikan, dan
dilarang menetapkan tambahan atas qardh baik dengan hîlah atau lainnya. Demikian pula dengan
jual beli disyariatkan bagi orang yang mengharapkan memberikan kepemilikan barang dan
mendapatkan harganya, dan dilarang bagi yang bertujuan ribâ fadhl atau ribâ nasa‘, bukan
bertujuan pada harga dan barang.[10]

Demikian pula dengan transaksi kebalikan ‘inah juga diharamkan. Seperti seseorang menjual
sesuatu dengan harga delapan puluh tunai dengan syarat ia membelinya kembali dengan harga
seratus tidak. Transaksi seperti ini telah menyebabkan adanya ribâ.

b. Hîlah ribâ fadhl

Hal ini terjadi apabila seseorang menjual sejumlah (misalnya 2 kg beras) harta ribawi dengan
sejumlah harga (misalnya Rp 10.000) dengan syarat bahwa ia – dengan harga yang sama (Rp
10.000)- harus membeli dari pembeli tadi sejumlah harta ribawi sejenis yang kadarnya lebih banyak
(misalnya 3 kilogram) atau lebih sedikit (misalnya 1 kilogram). Transaksi seperti ini adalah model
hîlah ribâ fadhl yang diharamkan.

Transaksi seperti ini dilarang didasarkan atas peristiwa pada zaman Nabi di mana para penduduk
Khaibar melakukan transaksi kurma kualitas sempurna satu kilo dengan kurma kualitas rendah dua
kilo, dua kilo dengan tiga kilo dan seterusnya. Praktik seperti ini dilarang Nabi s.a.w., dan beliau
mengatakan agar ketika menjual kurma kualitas rendah dibayar dengan harga sendiri, begitu pula
ketika membeli kurma kualitas sempurna juga dengan harga sendiri.

Maksud hadis di atas, menurut Ibn al-Qayyim, adalah akad jual beli pertama dengan kedua harus
dipisah. Jual beli kedua bukanlah menjadi syarat sempurnanya jual beli pertama, melainkan berdiri
sendiri. Hadis di atas ditujukan agar dua akad itu dipisah, tidak saling berhubungan, apalagi saling
bergantung satu dengan lainnya.

3. Multi akad menyebabkan jatuh ke ribâ

Setiap multi akad yang mengantarkan pada yang haram, seperti ribâ, hukumnya haram, meskipun
akad-akad yang membangunnya adalah boleh. Penghimpunan beberapa akad yang hukum asalnya
boleh namun membawanya kepada yang dilarang menyebabkan hukumnya menjadi dilarang. Hal ini
terjadi seperti pada contoh:

4. Multi akad antara akad salaf dan jual beli

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa Nabi melarang multi akad antara akad jual dan salaf.
Larangan ini disebabkan karena upaya mencegah (sadd adz-dzarî’ah) jatuh kepada yang diharamkan
berupa transaksi ribawi.

Jumhur ulama melarang praktik multi akad ini, yakni terjadinya penghimpunan akad jual beli
(mu’âwadhah) dengan pinjaman (qardh) apabila dipersyaratkan. Jika transaksi multi akad ini terjadi
secara tidak disengaja diperbolehkan karena tidak adanya rencana untuk melakukan qardh yang
mengandung ribâ.

5. Multi akad antara qardh dan hibah kepada pemberi pinjaman (muqridh)

Ulama sepakat mengharamkan qardh yang dibarengi dengan persyaratan imbalan lebih, berupa
hibah atau lainnya. Seperti contoh, seseorang meminjamkan (memberikan utang) suatu harta
kepada orang lain, dengan syarat ia menempati rumah penerima pinjaman (muqtaridh), atau
muqtaridh memberi hadiah kepada pemberi pinjaman, atau memberi tambahan kuantitas atau
kualitas objek qardh saat mengembalikan. Transaksi seperti ini dilarang karena mengandung unsur
ribâ.

Apabila transaksi pinjam meminjam ini kemudian disertai hadiah atau kelebihan, tetapi dilakukan
sendiri secara sukarela oleh orang yang diberi pinjaman, tanpa ada syarat dan kesepakatan
sebelumnya hukumnya halal, karena tidak mengandung unsur ribâ di dalamnya.

6. Multi akad terdiri dari akad-akad yang akibat hukumnya saling bertolak belakang atau
berlawanan

Kalangan ulama Malikiyah mengharamkan multi akad antara akad-akad yang berbeda ketentuan
hukumnya dan/atau akibat hukumnya saling berlawanan atau bertolak belakang. Larangan ini
didasari atas larangan Nabi menggabungkan akad salaf dan jual beli. Dua akad ini mengandung
hukum yang berbeda. Jual beli adalah kegiatan muamalah yang kental dengan nuansa dan upaya
perhitungan untung-rugi, sedangkan salaf adalah kegiatan sosial yang mengedepankan aspek
persaudaraan dan kasih sayang serta tujuan mulia. Karena itu, ulama Malikiyah melarang multi akad
dari akad-akad yang berbeda hukumnya, seperti antara jual beli dengan ju’âlah, sharf, musâqah,
syirkah, qirâdh, atau nikah.

Meski demikian, sebagian ulama Malikiyah dan mayoritas ulama non-Malikiyah membolehkan multi
akad jenis ini. Mereka beralasan perbedaan hukum dua akad tidak menyebabkan hilangnya
keabsahan akad. Dari dua pendapat ini, pendapat yang membolehkan multi akad jenis ini adalah
pendapat yang unggul.[11] Larangan multi akad ini karena penghimpunan dua akad yang berbeda
dalam syarat dan hukum menyebabkan tidak sinkronnya kewajiban dan hasil. Hal ini terjadi karena
dua akad untuk satu objek dan satu waktu, sementara hukumnya berbeda. Sebagai contoh
tergabungnya antara akad menghibahkan sesuatu dan menjualnya. Akad-akad yang berlawanan
(mutadhâdah) inilah yang dilarang dihimpun dalam satu transaksi.[12]

F. Penutup

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa keharaman multi akad pada dasarnya disebabkan
oleh tiga hal: dilarang agama atau hîlah karena dapat menimbulkan ketidakpastian (gharar) dan
ketidakjelasan (jahâlah), menjerumuskan ke praktik riba, dan multi akad yang menimbulkan akibat
hukum yang bertentangan pada objek yang sama. Dengan kata lain, multi akad yang memenuhi
prinsip syariah adalah multi akad yang memenuhi standar atau dhawâbith sebagaimana telah
dikemukakan.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Wallâhu A’lam.

Ciputat, 28 Mei 2009 M./3 Jumadil Akhir 1430 H.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Hasanudin, yang berjudul: Multi Akad Dalam Transaksi Syariah
Kontemporer Pada Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia, 28 Mei 2009, Ciputat: UIN Syahid, yang
juga dimuat dalam http://irham-anas.blogspot.com/2011/07/konsep-multi-akad-al-uqud-al-
murakkabah.html)
[1]
Tim Penyusun. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hal. 671.
[2]
Ahmad Warson Munawwir. 1997. Kamus Al-Munawwir Arab – Indonesia Terlengkap. Surabaya:
Pustaka Progresif. hal 953.
[3]
Louis Ma’luf. 1986. Al-Munjid Fil Lughah, Beirut, Libanon : Darul Masyruq. hal 519
[4]
Az-Zuhaili. 2004. Al-fiqh al-Islâmi …. Juz 4. hal 2918

[5]Munawwir. 1997. Kamus Al-Munawwir Arab …. hal 209


[6]
Hasanudin. 28 Mei 2009. Multi Akad Dalam Transaksi Syariah Kontemporer Pada Lembaga
Keuangan Syariah di Indonesia. Ciputat : UIN Syahid. Hal. 3
[7]
Ibid. Hal. 7.
[8]
Ibid. Hal. 13.
[9]
Ibid. Hal. 18.
[10]
Ibid. Hal. 21.
[11]
Ibid. Hal. 23.
[12]
Ibid. Hal. 24.

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan perbankan dan keuangan syariah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan
menghadapi tantangan yang makin kompleks. Perbankan dan lembaga keuangan syariah harus bisa
memenuhi kebutuhan bisnis modern dengan menyajikan produk-produk inovatif dan lebih variatif
serta pelayanan yang memuaskan. Tantangan ini menuntut para praktisi, regulator, konsultan,
dewan syariah dan akademisi bidang keuangan syariah untuk senantiasa aktif dan kreatif dalam
memberikan respon terhadap perkembangan tersebut. Para praktisi dituntut secara kreatif
melakukan inovasi produk; regulator membuat regulasi yang mengatur dan mengawasi produk yang
laksanakan oleh praktisi, Dewan syariah dituntut secara aktif dan kreatif mengeluarkan fatwa-fatwa
yang dibutuhkan industri sesuai tuntutan zaman, dan akademisi pun dituntut memberikan
pencerahan ilmiah dan tuntunan agar produk maupun regulasi mendukung kebutuhan modern dan
benar-benar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syariah.

Salah satu pilar penting untuk menciptakan produk perbankan dan keuangan syariah dalam
menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat modern adalah pengembangan hybrid contract (multi
akad). Bentuk akad tunggal sudah tidak mampu meresponi transaksi keuangan kontemporer.
Sehingga metode hybrid contract seharusnya menjadi unggulan dalam pengembangan produk.

Fakta menunjukkan, bahwa inovasi produk perbankan syariah di Indonesia masih kurang dan masih
jauh tertinggal. Produknya masih monoton dan bahkan terkesan kaku, tidak dinamis. Berdasarkan
kajian dari praktisi perbankan syariah dari Kuwaity Investment Company., Baljeet Kaur Grewal
(2007), Indonesia menduduki kluster ketiga dalam inovasi produk bank syariah dan pengembangan
pasar. Sedangkan kluster keempat yang merupakan kluster tertinggi adalah Malaysia, Uni Emirat
Arab dan Bahrain. Kluster keempat adalah negara yang paling inovatif dan variatif dalam
pengembangan produk. Sementara Indonesia, Brunei Darussalam dan Afrika Utara, Turkey dan
Qatar berada di bawah negara kluster keempat. Dengan demikian, negara-negara ini (Indonesia,
Brunei, Afrika Urata, Trurley dan Qatar), masih kalah jika dibandingkan dengan kluster keempat.

B. RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini akan dipaparkan tentang produk perbankan hybrid contract dengan mengacu
pada rumusan masalah antara lain menjelaskan tentang

1. Apa yang dimaksud dengan hybrid contract?

2. Bagaimana landasan hukum dari hybrid contract tersebut?

3. Apa saja produk hybrid contract tersebut?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Hybrid Contract

Terdapat hubungan yang kuat antara inovasi produk dengan pengembangan pasar bank syariah.
Artinya semakin inovatif bank syariah membuat produk, semakin cepat pula pasar berkembang.
Maka lemahnya inovasi produk bank syariah, bagaimanapun akan berimbas secara signifikan kepada
lambatnya pengembangan pasar (market expansion). Lemahnya inovasi produk dan pengembangan
pasar (market expansion) bank syariah harus segera di atasi, agar akselerasi pengembangan bank
syariah lebih cepat. Inovasi produk diperlukan agar bank syariah bisa lebih optimal dalam
menghadapi fenomena global. Karena itu harus melakukan inisiatif dalam pengembangan pasar dan
pengembangan produk.

Kurangnya inovasi produk antara lain, dikarenakan kemampuan SDM yang masih terbatas. Tahapan
untuk mengembangkan produk dengan kreatif dan inovatif terkendala karena saat ini kemampuan
SDM bank syariah yang masih terbatas ini masih dalam tahap untuk memahami konsep produk yang
sudah ada. Para officer bank syariah umumnya sudah memahami konsep dasar produk syariah yang
sudah ada, namun masih banyak officer bank syariah yang belum memahami dengan baik konsep
dan penerapan fatwa-fatwa Dewan Syarah Nasional yang jumlahnya sudah mencapai 73 fatwa.
Banyak fatwa DSN MUI yang belum diterapkan sebagian besar bank syariah, seperti pembiyaan
rekening koran, pembiayaan multi jasa, syirkah mutanaqishah, mudharabah musytarakah, ijarah
muwazy, hiwalah pada anjak piutang, dan lain-lain.

Dr. Mabid Al-Jarhi, mantan direktur IRTI IDB pernah mengatakan, kombinasi akad di zaman sekarang
adalah sebuah keniscayaan. Hambatannya terletak pada literatur ekonomi syariah yang ada di
Indonesia sudah lama mengembangkan teori bahwa syariah tidak membolehkan dua akad dalam
satu transaksi akad (two in one). Larangan ini belum dikaji kembali sehingga menyempitkan
pengembangan produk bank syariah. Sebetulnya syariah membolehkannya dalam ruang lingkup
yang sangat luas.

Dalam kajian fiqh, istilah yang digunakan untuk menyebut multi akad adalah al-‘uqûdu murakkabah,
yaitu akad-akad berganda yang terhimpun dan diletakkan pada sesuatu yang lain sehingga
menumpuk. Sedangkan dalam trend modern, istilah ‘uqudu murakkabah sering disebut dengan
istilah hybrid contract, pencangkokan sesuatu kepada sesuatu yang lain sehingga menjadi bagian
dari sesuatu. Atau dengan kata lain yang dimaksud hybrid contract adalah suatu kontrak yang
menghimpun beberapa kontrak dalam satu kontrak.

Buku-buku teks fikih muamalah kontemporer, menyebut istilah hybrid contract dengan istilah yang
beragam, seperti al-’uqûd al-murakkabah (akad-akad yang tersusun), al-’uqûd al-muta’addidah
(akad-akad yang berbilang), al-’uqûd al-mutaqâbilah (akad yang berhadapan-berpasangan), al-’uqûd
al-mujtami’ah (akad-akad yang berhimpun), dan al-’Ukud al-Mukhtalitah (akad-akad yang
bercampur), al-‘ukud al-mutakarrirah (akad-akad yang berulang), dan al-‘ukud al-mutadakhilah (akad
yang satu masuk kepada akad yang lain. Namun istilah yang paling populer ada dua macam, yaitu al-
ukud al-murakkabah dan al-ukud al mujtami’ah. Adapula menggunakan istialah al-ukud
almutajanisah (akad-akad yang sejenis).

Al-‘Imrani dalam buku Al-Ukud al-Maliyah al-Murakkabah dan Dr. Nazih Hammad dalam buku Al-
’uqûd al-Murakkabah fî al-Fiqh al-Islâmy (2005) mendefinisikan hybrid contract sebagai berikut

Kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu akad yang mengandung dua akad atau lebih,
seperti jual beli dengan sewa menyewa, hibah, wakalah, qardh, muzara’ah, sharaf (penukaran mata
uang), syirkah, mudharabah dst. sehingga semua akibat hukum akad-akad yang terhimpun tersebut,
serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak
dapat dipisah-pisahkan, sebagaimana akibat hukum dari satu akad.

Sementara itu Abdullah al-“Imrani mendefinisikan hybrid contract yaitu himpunan beberapa akad
kebendaan yang dikandung oleh sebuah akad baik secara gabungan maupun secara timbal balik,
sehingga seluruh hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai akibat hukum dari satu
akad.

Kedua definisi di atas tampaknya mirip dan tidak terdapat perbedaan. Hybrid contract itu dipandang
sebagai satu kesatuan akad dan semua akibat hukum akad-akad yang tergabung tersebut, serta
semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan, sebagaimana akibat hukum dari satu akad.

Menurut asy-Syatibi, penelitian terhadap hukum Islam menunjukkan bahwa dampak hukum dari
hybrid contract tidak sama seperti saat akad itu berdiri sendiri-sendiri. Akan tetapi harus dicatat,
meskipun sudah menjadi satu kesatuan, dalam pembuatan draft kontrak, akad-akad yang tergolong
hybrid tersebut ada yang dapat digabungkan dalam satu title kontrak dan ada pula yang dipisahkan.
Untuk musyarakah mutanaqishah, akad syirkah milk, dibuat terpisah dengan akad ijarah, demikian
pula akad pembiayaan take over, masing-masing akadnya dipisahkan, namun dipandang sebagai
satu kesatuan.

B. Landasan Fiqh dan Pendapat Ulama

Memang ada tiga buah hadits Nabi Saw yang menunjukkan larangan penggunaan hybrid contract.
Adapun hadits yang berkaitan dengan larangan dalam multi akad dalam transaksi antara lain

“Rasulullah Saw melarang dua akad dalam satu transaksi (Muslim 3/1565, Nasa’i 7/4674, Ibnu Majah
2/2477) karena di dalamnya terdapat suatu kesamaran, tipuan, kelaliman, aib, kerancuan pada
ungkapan penawaran dan besar kemungkinan terjadinya kecurangan.” Diriwayatkan Ahmad dalam
kitabnya Musnad, dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw melarang dua akad dalam satu
transaksi.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak halal dua syarat yang ada dalam jual beli”. (HR Abu Dawud dan
Tirmidzi). Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Mughni berkata, “Dilarang dua syarat dalam satu akad
jual beli”.
Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwaththa’ berkata, “Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik, ia
telah mendapat kabar bahwa Rasulullah Saw melarang dua jual beli dalam satu transaksi. (Shahih,
HR Tirmidzi No. 1231, Nasa’i No. 4632, Ahmad No. 9582 (2/432), Ibnu Hibban No. 4973 (11/347) dan
Al-Baihaqi No. 10.660 (5/343).

Ketiga hadits itu berisi tiga larangan, pertama larangan bai’ dan salaf, kedua, larangan bai’ataini fi
bai’atin, dan ketiga larangan shafqataini fi shafqatin. Ketiga hadits itulah yang selalu dijadikan
rujukan para ahli, konsultan dan banker syariah tentang larangan akad two in one dalam satu
transaksi. Namun harus dicatat, larangan itu hanya berlaku kepada beberapa kasus saja. Bahkan
hadits kedua dan ketiga maknanya sama, walaupun redaksinya berbeda. Maksud Hadits shafqataini
fi shafqatin adalah bai’ataini fi bai’atin (dua jual beli dalam satu jual beli).

Kasus pertama yang dilarang, adalah menggabungkan akad qardh dengan jual beli sesuai dengan
sabda Nabi Saw tentang hal tersebut. “Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan
pinjaman”. (HR. Ahmad)

Kasus Kedua, bai’al-‘inah, Pendapat ini dikutip dari pandangan Ibnu Qayyim yang menyatakan,
bahwa dari 14 penafsiran terhadap hadits bai’atain fi bai’atin (dua akad dalam satu transaksi),
penafsiran yang paling shahih adalah bai’ al-‘inah tersebut.

Kasus ketiga yang dilarang, adalah penjual menawarkan dua harga atau beberapa harga kepada
pembeli, misalnya, harga barang jika kontan Rp 10 juta, jika cicilan Rp 12 juta, kemudian pembeli
menerima (mengucapkan qabul), tanpa terlebih dahulu memilih salah satu harganya, Bentuk jual
beli ini dilarang karena tidak jelas harganya (gharar).

Itulah tiga kasus hybrid contract yang dilarang berdasarkan hadits Nabi Saw. Menurut pandangan
ulama, Aliudin Za’tary dalam buku Fiqh al-Muamalah al-Maliyah al-Muqaran mengatakan “Tidak ada
larangan dalam syariah tentang penggabungan dua akad dalam satu transaksi, baik akad
pertukaran (bisnis) maupun akad tabarru’. Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang
memerintahkan untuk memenuhi (wafa) syarat-syarat dan akad-akad” Dengan demikian, hukum
multi akad adalah boleh.

Mayoritas ulama Hanafiyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyah, dan Hanbali
berpendapat bahwa hukum hybrid contract adalah sah dan diperbolehkan menurut syariat Islam.
Ulama yang membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak
diharamkan dan dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau
membatalkannya. (Al-‘Imrâni, Al-’uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah). Kecuali menggabungkan dua
akad yang menimbulkan riba atau menyerupai riba, seperti menggabungkan qardh dengan akad
yang lain, karena adanya larangan hadits menggabungkan jual beli dan qardh. Demikian pula
menggabungkan jual beli cicilan dan jual beli cash dalam satu transaksi

Nazih Hammad dalam buku al-’Uqûd al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islâmy menuliskan, ”Hukum dasar
dalam syara’ adalah bolehnya melakukan transaksi hybrid contract, selama setiap akad yang
membangunnya ketika dilakukan sendiri-sendiri hukumnya boleh dan tidak ada dalil yang
melarangnya. Ketika ada dalil yang melarang, maka dalil itu tidak diberlakukan secara umum, tetapi
mengecualikan pada kasus yang diharamkan menurut dalil itu. Karena itu, kasus itu dikatakan
sebagai pengecualian atas kaidah umum yang berlaku yaitu mengenai kebebasan melakukan akad
dan menjalankan perjanjian yang telah disepakati. (Nazîh Hammâd, al-’uqûd al-Murakkabah fi al-
Fiqh al-Islâmy)

Demikian pula dengan Ibn al-Qayyim, ia berpendapat bahwa hukum asal dari akad dan syarat adalah
sah, kecuali yang dibatalkan atau dilarang oleh agama. (Ibn al-Qayyim, I’lâm al-Muwaqqi’în)

Asy-Syâtiby menjelaskan perbedaan antara hukum asal dari ibadat dan muamalat. Menurutnya,
hukum asal dari ibadat adalah melaksanakan (ta’abbud) apa yang diperintahkan dan tidak
melakukan penafsiran hukum. Sedangkan hukum asal dari muamalat adalah mendasarkan
substansinya bukan terletak pada praktiknya (iltifât ila ma’âny). Dalam hal ibadah tidak bisa
dilakukan penemuan atau perubahan atas apa yang telah ditentukan, sementara dalam bidang
muamalat terbuka lebar kesempatan untuk melakukan perubahan dan penemuan yang baru, karena
prinsip dasarnya adalah diperbolehkan (al-idzn) bukan melaksanakan (ta’abbud). (Asy-Syâtiby, al-
Muwâfaqât)

Pendapat ini didasarkan pada beberapa nash yang menunjukkan kebolehan multi akad dan akad
secara umum. Pertama firman Allah dalam surat al-Mâidah ayat 1 yang artinya: “Wahai orang-orang
yang beriman penuhilah olehmu akad-akad”. (QS. Al-Mâidah : 1)

C. Macam-macam Hybrid Contract

Pertama, hybrid contract yang mukhtalithah (bercampur) yang memunculkan nama baru, seperti
bai’ istighlal, bai’ tawarruq, musyarakah mutanaqishah dan bai’ wafa’.

a. Jual beli istighlal merupakan percampuran 3 akad, yaitu 2 akad jual beli dan ijarah, sehingga
bercampur 3 akad. Akad ini disebut juga three in one.

b. Jual Beli Tawarruq percampuran 2 akad jual beli. Jual Beli 1 dengan pihak pertama, Jual Beli
kedua dengan pihak ketiga.

c. Musyarakah Mutanaqishah (MMQ). Akad ini campuran akad syirkah milik dengan Ijarah yang
mutanaqishah atau jual beli yang disifati dengan mutanaqishah (decreasing). Percampuran
akad-akad ini melahirkan nama baru, yaitu musyarakah mutanaqishah (MMQ). Substansinya
hampir sama dengan IMBT (Ijarah Muntahiya bi Tamlik), karena pada akhir periode barang
menjadi milik nasabah, namun bentuk ijarahnya berbeda, karena transfer of title ini bukan
dengan janji hibah atau beli, tetapi karena transfer of tittle yang mutanaqishah, karena itu
sebutannya ijarah saja, bukan IMBT.

d. Bai’ wafa’ adalah percampuran (gabungan) 2 akad jual beli yang melahirkan nama baru.
Pada awal kelahirannya di abad 5 Hijriyah, akad ini merupakan multiakad (hybrid), tetapi
dalam proses sejarah menjadi 1 akad, dengan nama baru yaitu bai’ wafa’.

Kedua Hybrid Contract yang mujtami’ah/mukhtalitah dengan nama akad baru, tetapi menyebut
nama akad yang lama, seperti sewa beli (bai’ takjiri) lease and purchase. Contoh lain ialah
mudharabah musytarakah pada asuransi jiwa dan deposito bank syariah.
Contoh lainnya ialah menggabungkan wadiah dan mudharabah pada GIRO, yang bisa disebut
Tabungan dan Giro Automatic Transfer Mudharabah dan Wadiah. Nasabah mempunyai 2 rekening,
yakni tabungan dan giro sekaligus (2 rekening dlm 1 produk). Setiap rekening dapat pindah secara
otomatis jika salah satu rekening membutuhkan.

Contoh lain ialah sewa beli (lease and purchase). Menurut buku Fiqh Muamalah al-Mu’ashirah,
Usman Tsabir, sewa beli hukumnya boleh, tidak terdapat gharar padanya. Menurutnya,
“Sesungguhnya ulama berbeda pendapat tentang hukum menggabungkan dua akad; antara jual beli
dan ijarah. Sebagian ulama mengatakan boleh, yaitu ulama Malikiyah dan Imam asy-Syafi’iy dalam
salah satu pendapatnya, juga Qadhi dari Ulama Hanabilah Sebagian ulama lainnya mengatakan tidak
boleh”.

Selanjutnya Dr.Usman Tsbir mentarjih sebagai berikut, “Tetapi pendapat yang paling kuat adalah
pendangan yang membolehkan. Inilah pendapat yang paling nyata (realistis), karena barang (obyek)
yang dibeli dan jasa yang dilakukan, keduanya membutuhkan iwadh’, bisa berlaku masing-masing
dan bisa pula digabung sekaligus. Perbedaan sewa dan beli tidak merusak sahnya akad. Karena
perbedaan hukum (ketentuan) dua akad tidak mencegah sahnya akad. Di antara dalil yang
menguatkan pendapat yang membolehkan penggabungan akad jual beli dan ijarah (two in one),
adalah kaedah dasar dalam pertukaran, Tidak ada dalil yang mengharamkannya. Hukumnya boleh
karena dasar istishab”

Ketiga Hybrid Contract, yang akad-akadnya tidak bercampur dan tidak melahirkan nama akad baru.
tetapi nama akad dasarnya tetap ada dan dipraktikkan dalam suatu transaksi. Contohnya :

1. Kontrak akad pembiayaan take over pada alternatif 1 dan 4 pada fatwa DSN MUI No 31/2002

2. Kafalah wal ijarah serta qardh dan ijarah pada kartu kredit,

3. Wa’ad untuk wakalah murabahah, ijarah, musyarakah, dll pada pembiayaan rekening koran or
line facility

4. Murabahah wal wakalah pd pembiayaan murabahah basithah.

5. Wakalah bil ujrah pada L/C, RTGS, General Insurance, dan Factoring,

6. Kafalah wal Ijarah pada L/C, Bank Garansi, pembiayaan multi jasa / multi guna, kartu kredit.

7. Mudharabah wal murabahah/ijarah/istisna pada pembiayaan terhadap karyawan koperasi


instansi.

8. Hiwalah dan syirkah pada factoring.

9. Rahn wal ijarah pada REPO, SBI dan, SPN dan SBSN

10. Qardh, Rahn dan Ijarah pada produk gadai emas di bank syariah

11. Dalam transaksi pasar uang antar bank syariah yang menggunakan bursa komoditas dibutuhkan
5 akad, yaitu
a. Akad bai’ antara bank surplus (peserta komersial) dengan pedagang komoditas (peserta
komersial),

b. Akad murabahah antara bank surplus dengan bank deficit (konsumen komoditas),

c. Akad bai’ antara bank deficit dengan pedagang komoditas ’,

d. Wakalah antara bank deficit kepada agen atau Bursa Berjangka Jakarta,

e. Akad bai’ muqayadhah, antara sesama pedagang komodity.

Keempat, Hybrid Contract yang mutanaqidhah (akad-akadnya berlawanan). Bentuk ini dilarang
dalam syariah. Contohnya menggabungkan akad jual beli dan pinjaman (bai’ wa salaf). Contoh lain,
menggabungkan qardh wal ijarah dalam satu akad. Kedua contoh tersebut dilarang oleh nash (dalil)
syariah, yaitu hadits Rasulullah Saw. Contoh lainnya: menggabungkan qardh dengan janji hadiah.

Selain itu, ada pula hybrid contract yang mustatir (tersembunyi), Misalnya, tabungan mudharabah di
bank syariah. Akad yang digunakan pada saat transkasi hanyalah satu akad yakni mudharabah,
namun, sebenarnya dalam akad tersebut tidak cukup hanya satu akad, harus ada akad lain sebagai
tambahan, yaitu kafalah, karena ketika nasabah menarik dana di ATM bersama, bukan ATM bank
bersangkutan, diperlukan akad kafalah. Namun akad tersebut tidak disebutkan, melainkan
tersembunyi (mustatir) karena sudah menjadi ‘urf perbankan dimana setiap tabungan, dapat ditarik
di ATM tertentu (ATM bersama).

Dalam sukuk ijarah, sebenarnya terdapat tiga akad, yaitu akad bai’ (bai’ al-manfa’ah), akad ijarah dan
akad bai’ kembali. Namun, dalam penamaan biasanya disebut sukuk ijarah saja.

Dalam praktek legal (hukum) di lembaga keuangan syariah, ada hybrid contract, yang akad-akadnya
harus dipisahkan dan ada pula yang boleh disatukan dalam satu dokumen (satu materai). Akad
syirkah munataqishah, harus dipisahkan akad-akadnya, akad pertama ialah syirkah milik, dan akad
kedua adalah ijarah yang khusus. Semua ulama mengharuskan terpisahnya dua akad tersebut.

Dalam Gadai syariah terdapat tiga akad, yaitu rahn, qardh (dayn) dan ijarah. Akad rahn dan dain
(hutang), boleh disatukan, karena memang harus bersatu dalam satu kertas, sedangkan akad ijarah
sebaiknya dipisahkan, untuk menghindari kesan penafsiran ijarah itu atas dasar hutang (qardh).
Ijarah tidak terkait dengan qardh, melainkan terkait dengan penyewaaan tempat, keamanan, dsb.

Dalam kartu kredit terdapat dua akad, yaitu kafalah dan ijarah pada ketika pembelian barang di
merchant, dan kedua akad qardh dan ijarah, ketika penarikan uang.

Dalam pembiayaan take over banyak sekali alternative hybrid contract di dalamnya berdasarkan
fatwa DSN MUI No 31/2002. Antara lain, gabungan akad qardh, bai’ dan Ijarah Muntahiyah bit
Tamlik (IMBT) atau murabahah. Jika menggunakan akad murabahah, mirip dengan bai’ al-‘inah,
maka seharusnya dihindari. Akad bai’ dalam pembiyaan take over dapat dilakukan di bawah tangan
(secara fikih saja, tanpa notaris), karena hanya sebagai bridging of financing. Peran notaris hanyalah
ketika akad murabahah berlangsung.
Dalam praktik hedging (tahawwuth) melalui Islamic swap, akadnya juga hybrid, pertama dapat
menggunakan double qardh, kedua sharf biasa dan wa’ad, ketiga, tawarruq timbal balik (double
tawarruq).Semuanya adalah hybrid contract.

D. Hybrid Contract yang Dilarang

Dalam hadis, Nabi secara jelas menyatakan dua bentuk multi akad yang dilarang. (1) Multi akad
dalam jual beli (bai’) dan pinjaman (‫) بيع و سلف‬, (2) Dua akad jual beli dalam satu akad jual beli ( ‫بيعتين‬
‫) فى بيعة واحدة‬, dan (3) Dua akad dalam satu transaksi (‫) فى صفقة واحدة صفقتين‬

1. Menggabungkan akad Bai’ (jual beli ) dan Salaf dan (pinjaman)

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan pinjaman”.
(HR. Ahmad)

Misalnya Ali meminjamkan (qardh) sebesar 1000 dirham, lalu dikaitkan dengan penjualan barang
yang bernilai 900 dirham, tetapi harga penjualan itu tetap harga 1000 dirham.

Seolah-olah Ali memberi pinjaman 1000 dengan akad qardh, dan menjual barang seharga 900, agar
mendapatkan margin 100 dirham. Di sini Ali memperoleh kelebihan 100, karena harga penjualan
barang menjadi Rp 1000. Namun menurut Imrani, tidak selamanya diharamkan, karena jika harga
barang sesuai dengan harga pasar, maka tidak menjadi masalah hybrid contract antara qardh dan
jual beli.

Ibn Qayyim berpendapat bahwa Nabi melarang multi akad antara akad salaf (memberi
pinjaman/qardh) dan jual beli, untuk menghindari terjurumus kepada riba yang diharamkan. Namun,
jika kedua akad itu terpisah (tidak tergantung, muallaq) hukumnya boleh.

Penegasan : Larangan ini hendak menunjukkan bahwa qardh tidak boleh dikaitkan dengan akad
apapun, qardh adalah akad tabarru’, bukan akad bisnis.

2. Bai’atan fi Bay’ataini (dua akad jual beli dalam satu jual beli)

Larangan penghimpunan dua akad jual beli dalam satu akad jual beli didasarkan pada hadis Nabi
yang berbunyi:

“Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR. Malik)

Redaksi hadits yang mirip dengan hadits di atas, adalah shafqatain fi shafqatin wahidah (dua
transaksi dalam satu transaksi). Banyak tafsir tentang hadits ini Pendapat yang dipilih (râjih) adalah
pendapat yang mengatakan bahwa akad demikian menimbulkan ketidakjelasan harga dan
menjerumuskan ke riba.

Misalnya seorang penjual berkata kepada orang banyak di sebuah jamaah, ”Saudara-saudara, saya
menjual barang ini Rp 1 Juta, jika dibayar cash, dan Rp 1,2 juta jika cicilan setahun”. Lalu seorang
yang hadir berkata, “Saya beli”. Di sini telah terjadi ijab dan qabul, sementara harganya tidak jelas,
karena dipilihkan dua macam harga.
Ada pula yang menafsirkan: seseorang menjual suatu barang dengan cicilan, dengan syarat pembeli
harus menjual kembali kepada orang yang menjual itu dengan harga lebih rendah secara kontan.
Akad al-’Inah ini merupakan hîlah dari riba. Inilah yang disebut bai’ al’inah. Menurut Ibnu Qayyim,
penafsiran inilah yang paling kuat.

E. Ketentuan (Dhawabith) Hybrid Contract

Larangan Hybrid Contract disebabkan beberapa hal, diantaranya:

1. Dilarang karena Nash Agama

“Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR. Malik)

Larangan penghimpunan dua akad jual beli dalam satu akad jual beli didasarkan pada nash hadis,
“Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR. Malik).
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan pinjaman”.
(HR. Ahmad)

Selain perspektif nash agama, larangan ini sesungguhnya dikarenakan transaksi itu mengandung riba
dan gharar.

2. Dilarang karena Hilah kepada Riba

Contohnya ialah Jual Beli al-I’nah. Jual beli dilarang karena hilah kepada riba. Contoh berikutnya
ialah praktik tawarruq munazzam yang berputar dan bank surplus bertindak juga sebagai wakil
pembeli dalam menjual barang ke agen di bursa sebagaimana yang difatwakan ulama.

Contoh berikutnya menggabungkan akad tawarruq, wakalah dan wadi’ah untuk pembiyaaan multi
guna. Di mana pihak ketiga adalah anak perusahaan dari Bank Islam yang memberikan dana.

3. Multi Akad Menyebabkan Jatuh ke Riba.

Setiap multi akad yang mengantarkan pada yang haram, seperti riba, hukumnya haram, meskipun
akad-akad yang membangunnya adalah boleh, seperti menggabungkan qardh dengan janji hadiah.

Penghimpunan beberapa akad yang hukum asalnya boleh namun membawanya kepada yang
dilarang menyebabkan hukumnya menjadi dilarang. seperti: multi akad antara akad salaf dan jual
beli. Contoh, A meminjamkan uang kepada B sebesar Rp 1 juta, dengan ketentuan B harus membeli
hand phone A dengan harga sekian.

Multi akad dari gabungan qardh dan hibah/manfaat lain dilarang syariah. Ulama sepakat
mengharamkan qardh yang dibarengi dengan persyaratan imbalan lebih, berupa hibah atau lainnya.
Misalnya A meminjamkan uang kepada si B, dengan syarat A menempati rumah si B. Contoh lain C
meminjamkan kpd D uang Rp 200.000, tetapi C memakai motor D selama 3 hari. Termasuk dalam
kategori ini menggabungkan Qardh dgn Ijarah dalam satu transaksi, kecuali ijarahnya sebatas biaya
operasional, yaitu untuk menutupi riel cost.

Malikiyah melarang multi akad dari akad-akad yang berbeda hukumnya, seperti antara akad qardh
dengan ijarah.

4. Multi Akad Menyebabkan Jatuh ke Gharar.

Misalnya sebuah perusahaan multifinance menjual mobil kepada nasabah, dengan harga tertentu,
misalkan Rp 250 juta untuk masa 24 bulan, tanpa urbun di awal. Namun perusahaan itu
menawarkan beberapa alternatif besaran urbun, tanpa ditetapkan (dipilih) salah satu alkternatif
besaran urbunnya. Jika urbun dibayar bulan ke enam, harganya lebih murah, jika bulan ke 13 harga
urbunnya sekian, dst. Dengan beragamnya harga tersebut, maka tidak ada kepastian harga
pembelian barang tersebut.Inilah yang disebut dengan gharar.
BAB III

PENUTUP

Di perbankan syariah, sebuah produk yang ditawarkan akan senantiasa melekat dengan akad yang
menyertaianya. Hal ini didasarkan bahwa posisi akad dalam produk perbankan syariah menjadi
penentu keabsahan transaksi. Dengan kata lain, syah tidaknya sebuah transaksi akan sangat
ditentukan oleh akad yang menyertainya.

Pada awalnya, satu produk cukup satu akad. Namun pada perkembangannya, produk-produk yang
ditawarkan bank syariah tidak cukup menggunakan satu akad, tetapi diparalelkan dengan akad-akad
yang lain. Ketika suatu produk membutuhkan banyak akad, maka pada tahap inilah disebut hybrid
contract.

Fenomena hybrid contract di perbankan syariah merupakan gejala yang menarik untuk dikaji secara
akademik. Oleh karena itu, tulisan ini lebih memfokuskan pada bahasan mengenai pengertian hybrid
contract, prinsip, pola desain, dan kedudukan hukum hybrid contract.

Hybrid Contracts sebenarnya bukanlah teori baru dalam khazanah fiqih muamalah. Para ulama
klasik Islam sudah lama mendiskusikan topik ini berdasarkan dalil-dalil syara’ dan ijtihad yang shahih.
Namun, dalam kajian fiqih muamalah di pesantren bahkan di Perguruan Tinggi Islam, isu ini kurang
banyak dibahas, karena belum banyak bersentuhan dengan realita bisnis di masyarakat. Pada masa
kemajuan lembaga keuangan dan perbankan di masa sekarang, konsep dan topic hybrid contracts
kembali mengemuka dan menjadi teori dan konsep yang tak terelakkan. Sejumlah buku dan karya
ilmiah pun bermunculan membahas dan merumuskan teori al-‘ukud al-murakkabah (hybrid
contracts) ini, terutama karya-karya ilmiah dari Timur Tengah.

Tanpa memahami konsep dan teori hybrid contracts, maka seluruh stake holders ekonomi syariah
akan mengalami kesalahan dan kefatalan, sehingga dapat menimbulkan kemudhratan, kesulitan dan
kemunduran bagi industri keuangan dan perbankan syariah. Semua pihak yang berkepentingan
dengan ekonomi syariah, wajib memahami dan menerapkan konsep ini, mulai dari dirjen pajak,
regulator (BI dan OJK), bankers/praktisi LKS, DPS, notaris, auditor, akuntan, pengacara, hakim,
dosen (akademisi), dsb. Jadi semua pihak yang terkait dengan ekonomi dan keuangan syariah wajib
memahami teori dan praktek ini dengan tepat dan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Agustianto. Inovasi Produk Perbankan Syariah dari Aspek Pengembangan Fikih Muamalah. Makalah
tidak diterbitkan. Jakarta: IAEI.

Rivai, Veithzal, Abdul Hadi S, Tatik Mariyanti, Hanan Wihasto. Principle of Islamic Finance Dasar-
Dasar Keuangan Islam Saatnya Hijrah ke Sistem Keuangan Islam yang Telah Teruji Keampuhannya.
Yogyakarta: BPFE

Nikensari, Sri Indah. 2012. Perbankan Syariah Prinsip, Sejarah dan Aplikasinya. Semarang: PT Pustaka
Rizki Putra.

Hukum Multi Akad

MULTI AKAD

(AQAD MURAKKAB)

PENGERTIAN MULTI AKAD

Istilah Multi Akad adalah terjemahan bahasa Indonesia dari istilah-istilah aslinya dlm bahasa Arab,
yaitu :

(1) al ‘uqud al murakkabah

(2) al ‘uqud al maliyah al murakkabah

(3) al jam’u bayna al ‘uqud

(4) damju al ‘uqud

(1) Istilah al ‘uqud al murakkabah, digunakan oleh Nazih Hammad (Al-’Uqud Al-Murakkabah fi al-Fiqh
al-Islami, hal. 7)

(2) Istilah al ‘uqud al maliyah al murakkabah, digunakan oleh Abdullah al-’Imrani (Al-Uqud al-Maliyah
al-Murakkabah, hal. 46).

(3) Istilah al jam’u bayna al ‘uqud digunakan oleh AAOIFI (Al Maa’yir Al Syar’iyyah / Shariah
Standards, edisi 2010, hlm. 347).

(4) Istilah damju al ‘uqud digunakan oleh Ismail Syandi (Al Musyarakah Al Mutanaqishah, hlm. 17-
18).

Istilah Multi Akad menurut penggagasnya adalah kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan
suatu muamalah yang meliputi dua akad atau lebih, misalnya akad jual-beli dengan ijarah, akad
jual beli dengan hibah dst, sedemikian sehingga semua akibat hukum dari akad-akad gabungan
itu, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya, dianggap satu kesatuan yang tak dapat
dipisah-pisahkan, yang sama kedudukannya dengan akibat-akibat hukum dari satu akad.

(Lihat : Nazih Hammad, Al-’Uqud Al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islami, hal. 7; Abdullah al-’Imrani, Al-
Uqud al-Maliyah al-Murakkabah, hal. 46).

CONTOH APLIKATIF MULTI AKAD

Aplikasinya dalam bank syariah misalnya akad Murabahah lil Aamir bi asy-Syira` (Murabahah KPP
[Kepada Pemesan Pembelian]/Deferred Payment Sale).

Akad ini melibatkan tiga pihak, yaitu pembeli, lembaga keuangan, dan penjual.

Prosesnya :

(1) pembeli (nasabah) memohon lembaga keuangan membeli barang, mis sepeda motor

(2) lalu lembaga keuangan membeli barang dari penjual (dealer motor) secara kontan,

(3) lalu lembaga keuangan menjual lagi barang itu kepada pembeli dengan harga lebih tinggi, baik
secara kontan, angsuran, atau bertempo.

(Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, hal.107; Ayid Sya’rawi, Al-Masharif al-Islamiyah,
hal. 412).

Catatan :

Akad ini tidak sama persis dengan akad Murabahah yang asli, yaitu jual beli pada harga modal
(pokok) dengan tambahan keuntungan yang diketahui dan disepakati oleh penjual dan pembeli.

Jadi dalam Murabahah asli hanya ada 2 pihak, sedang Murabahah di bank syariah ada 3 pihak.

(Shalah Ash-Shawi & Abdullah Mushlih, Maa Laa Yasa'u At-Tajiru Jahlahu, hal. 77; Abdur Rouf
Hamzah, Al-Bai' fi Al-Fiqh Al-Islami, hal. 15; Ayid Sya’rawi, Al-Masharif al-Islamiyah, hal. 399 dst).

HUKUM MULTI AKAD

Terdapat khilafiyah (perbeda pendapat) di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya multi akad.

(1) Pendapat pertama, membolehkan.

Pendapat Imam Asy-hab (mazhab Maliki) (Hithab, Tahrirul Kalam fi Masail Al Iltizam, hlm. 353).

Pendapat Ibnu Taimiyah (mazhab Hambali) (Ibnu Taimiyah, Majmu’ul Fatawa, 29/132).

Pendapat At Tasuli, dalam Al Bahjah, 2/14).

1. Dalil pendapat pertama, antara lain kaidah fiqih :


‫األصل في المعامالت اإلباحة إال أن يدل دليل على تحريمها‬

“Hukum asal muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya.”

Berdasarkan kaidah ini, penggabungan dua akad atau lebih dibolehkan karena tidak dalil yang
melarangnya.

(2) Pendapat kedua, mengharamkannya. Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Pendapat para ulama mazhab Hanafi (lihat Imam Al Marghinani, Al Hidayah, 3/53)

Satu versi pendapat (riwayat) dari mazhab Maliki (Hithab, Tahrirul Kalam fi Masail Al Iltizam, hlm.
353).

Satu versi pendapat (riwayat) dari dua pendapat para ulama mazhab Hambali (Ibnu Muflih, Al-
Mubdi’, 5/54).

Dalil pendapat kedua : hadis-hadis yang melarang dua syarat/akad.

(1) Hadis Hakim bin Hizam RA, dia berkata :

‫ وربح ما‬،‫ وبيع ما ليس عندك‬،‫ وشرطين في بيع‬،‫ عن سلف وبيع‬: ‫ عن أربع خصال في البيع‬- ‫صلى هللا عليه وسلم‬- ‫نهاني رسول هللا‬
‫لم تضمن‬

”Nabi SAW telah melarangku dari empat macam jual beli, yaitu (1) menggabungkan salaf dan jual
beli, (2) dua syarat dalam satu jual beli, (3) menjual apa yang tidak ada di sisimu, (4) mengambil laba
dari apa yang kamu tak menjamin [kerugiannya]” (HR Thabrani)

(2) Hadis bahwa Nabi SAW :

‫نهى عن بيعتين في بيعة‬

”Nabi SAW telah melarang adanya dua jual beli dalam satu jual beli.” (HR Tirmidzi, hadis sahih)

(3) Hadis bahwa Nabi SAW bersabda :

‫ وال شرطان في بيع‬،‫ال يحل سلف وبيع‬

“Tidak halal menggabungkan salaf dan jual beli, juga tak halal adanya dua syarat dalam satu jual
beli.” (HR Abu Dawud, hadis hasan sahih)

(4) Hadis Ibnu Mas’ud RA bahwa :

‫نهى عن صفقتين في صفقة واحدة‬

”Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan [akad].” (HR Ahmad,
hadis sahih)

Hadis-hadis di atas telah melarang penggabungan (ijtima’) lebih dari satu akad ke dalam satu akad.
(Lihat : Ismail Syandi, Musyarakah Mutanaqishah, hlm. 19; Taqiyuddin Nabhani, Syakhshiyah
Islamiyah, 2/308).

TARJIH

Dari dua pendapat di atas, pendapat yang kuat (rajih) adalah pendapat kedua, yaitu yang
mengharamkan multi akad.

Alasan pentarjihan :

Pertama, dalil-dalil hadis yang ada dengan jelas telah melarang penggabungan dua akad atau lebih
ke dalam satu akad.

Di antaranya adalah hadis Ibnu Mas’ud RA :

‫نهى عن صفقتين في صفقة واحدة‬

”Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan [akad].” (HR Ahmad,
hadis sahih)

Imam Taqiyuddin An Nabhani, menjelaskan bahwa dua kesepakatan dalam satu kesepakatan
(shafqataini fi shafqah wahidah) dalam hadis itu, artinya adalah adanya dua akad dalam satu akad.
Misal menggabungkan dua akad jual beli menjadi satu akad, atau akad jual beli digabung dengan
akad ijarah. (al-Syakhshiyah al-Islamiyah, II/308).

Kedua, kaidah fiqih yang dipakai pendapat yang mengharamkan, yaitu al-ashlu fi al-muamalat al-
ibahah tidak tepat.

Karena ditinjau dari asal usul kaidah itu, kaidah fiqih tersebut sebenarnya cabang dari (atau lahir
dari) kaidah fiqih lain yaitu :

‫األصل في األشياء اإلباحة ما لم يرد دليل التحريم‬

“Hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama tak ada dalil yang mengharamkan.”

Padahal kaidah fiqih tersebut (al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah), hanya berlaku untuk benda
(materi), tidak dapat diberlakukan pada muamalah (sebab muamalah bukan benda, melainkan
aktivitas manusia).

Mengapa dikatakan bahwa kaidah tersebut hanya berlaku untuk benda?


Sebab nash-nash yang mendasari kaidah al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah (misal QS Al-Baqarah:29)
berbicara tentang hukum benda (materi), bukan tentang mu’amalah.

Ketiga, kaidah fiqih al ashlu fil muamalat al ibahah juga bertentangan dengan nash syara’ sehingga
tidak boleh diamalkan.

Nash syara’ yang dimaksud adalah hadits-hadis Nabi SAW yg menunjukkan bahwa para sahabat
selalu bertanya lebih dahulu kepada Rasulullah SAW dalam muamalah mereka.

Andaikata hukum asal muamalah itu boleh, tentu para shahabat akan lagsung beramal, dan TAK
PERLU bertanya kepada Rasulullah SAW.

Sebagai contoh, perhatikan hadits yg menunjukkan sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW dalam
masalah muamalah sbb :

ً ‫ فإذا اشتريت بيعا‬: ‫علي قال‬


َ ‫عن حكيم بن حزام رضي هللا عنه أنه قال قلت يا رسول هللا إني أشتري بيوعا ً فما يحل لي منها وما يحرم‬
‫فال تبعه حتى تقبضه‬

Dari Hakim bin Hizam RA, dia berkata,”Aku bertanya,’Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya aku
banyak melakukan jual beli, apa yang halal bagiku dan yang haram bagiku?’ Rasulullah SAW
menjawab,’Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu menjualnya lagi hingga kamu menerima
barang itu.” (HR Ahmad).

KESIMPULAN

(1) Multi akad merupakan masalah khilafiyah. Ada sebagian ulama membolehkannya, sedang
jumhur (mayoritas) ulama mengharamkannya.

(2) Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur ulama yang mengharamkan multi akad.

konvensional melalui - Duti Setem (Pengecualian) 1996; Duti Setem (Peremitan) (No 4) Perintah
1996; Duti Setem (Pengecualian) (No 6) 2003; Duti Setem (Pengecualian) (No 2) 2004; Duti Setem
(Pengecualian) (No 3) 2004; dan Duti Setem (Peremitan) 2004 (MIF, 2008). Pindaan juga dibuat pada
tahun 1985 melalui Akta Cukai Keuntungan Harta Tanah 1979 untuk mengelakkan cukai dua kali ke
atas urus niaga institusi perbankan dan kewangan Islam. Dalam perkembangan lain, cukai dikenakan
ke atas pajakan semua Islam atau pembiayaan Ijarah dan setanding dengan pajakan konvensional.
Isu pemilikan secara bersama yang dikekang oleng undang-undang pemilikan yang terbatas seperti
di Kelantan tanah mesti milik bumi. Bagaimana KFHMB sebagai entiti asing nak berkongsi dalam
pemilikan tersebut.

Perlu difahami bahawa melalui perbankan Islam setiap perjanjian dan kontrak jual beli membabitkan
perpindahan pemilikan secara penuh dan sempurna. Ini bermaksud perpindahan milik itu bukan
hanya sekadar pemilikan terbatas. Melalui kontrak Musyarakah Mutanaqisah, pemilikan secara
bersama ini akan menghadapi sedikit permasalahan dari sudut pemilikan bebas kerana terdapat
beberapa akta yang mengekangnya seperti Kanun Tanah Negara dan enakmen

enekmen negeri. Kes yang begitu terkenal berkaitan jual beli tanah ialah kes yang melibatkan Dato

Haji Nik Mahmud bin Daud lwn Bank Islam Malaysia Bhd ([1996] 4 MLJ 295 (Mahkamah
Tinggi):[1998] 3 MLJ 393).

Dalam kes ini, plaintif, Dato’

Nik Mahmud telah membuat dua perjanjian, iaitu perjanjian pembelian harta dan perjanjian harta
dijual dengan defendan, BIMB, pada 6 Mei 1984. Dalam kes ini, BIMB membeli tanah daripada Dato
Nik Mahmud dengan harga RM520, 000, dibayar serta-merta. Tanah sama kemudiannya dijual
semula oleh BIMB kepada Dato

Nik Mahmud dengan dengan harga RM629, 200 (termasuk murabahah) dan dibayar secara ansuran.
Kedua-dua perjanjian telah ditandatangani pada tarikh yang sama. Dua hari kemudian, peguam Dato

Nik Mahmud telah membuat dua pertuduhan ke atas tanah tersebut yang untuk
menjamin pembayaran harga jualan di bawah jualan kedua di mana BIMB dijual semula tanah
kembali kepada Dato

Nik Mahmud bagi pembayaran tangguh (BBA) berjumlah RM629, 200. Sepuluh tahun kemudian
pada tahun 1994, Dato

Nik Mahmud memohon perintah daripada mahkamah bahawa semua urusniaga di atas, iaitu caj,
perjanjian pembelian harta dan perjanjian penjualan harta, diisytiharkan batal, tidak sah dan tidak
berkuatkuasa. Dato


Nik Mahmud menegaskan bahawa pelaksanaan semua perjanjian menentang peruntukan Enakmen
Rezab Melayu Kelantan 1930 dan Kanun Tanah Negara 1965 (Seksyen 7 (i) Enakmen Rezab Melayu
Kelantan 1930). Dato

Nik Mahmud berhujah bahawa tanahnya yang telah dijual kepada BIMB adalah tanah Melayu
terpelihara dan BIMB bukan Melayu sebagaimana yang ditakrifkan dalam seksyen 3 dari Enakmen
(Enakmen Rezab Melayu Kelantan 1930), penjualan dan pemindahan tanah kepada BIMB melanggar
seksyen 7 dan 12 daripada Enakmen itu, dan menyebabkan perjanjian menjadi batal, tidak sah dan
tidak berkuatkuasa. Beliau juga berhujah bahawa, akibat pembatalan perjanjian jualan, caj yang
dikenakan pada tanah tersebut di bawah Kanun Tanah Negara juga tidak sah kerana caj di bawah
kanun ini hanya digunakan apabila menggunakan kaedah dan cara yang sah (Seksyen 340(2)(b) of
the Kanun Tanah Negara

. Mahkamah telah memutuskan untuk menolak permohonan oleh Dato

Nik Mahmud dan keputusan yang menyebelahi BIMB. Keputusan mahkamah dalam kes Dato

Nik Mahmud BIMB di atas menggambarkan beberapa perkara antaranya ialah terdapat konflik
antara urusniaga kewangan Islam dengan undang-undang am yang lain di negara ini seperti
enakmen negeri di atas tanah rizab orang Melayu dan undang-undang tanah, pemahaman cetek sifat
urus niaga kewangan Islam oleh pihak-pihak peguam dan mahkamah sendiri. Dalam hal ini, urus
niaga yang terlibat kontrak jualan, dalam undang-undang Islam perlu menghasilkan pemindahan dan
pemerolehan pemilikan (tamlik wa tamalluk). Ini tidak dipertimbangkan dalam kes tersebut. Hakim
seolah-olah memikirkan jualan hanya sebagai prosedur untuk memudahkan urus niaga perbankan
Islam, seolah-olah mereka tidak jualan sebenar, dan dengan itu, tidak ada undang-undang
pemindahan hak milik telah dilaksanakan (Engku Rabiah, 2008). Seharusnya keputusan kes tersebut
disemak semula dari sudut kesahihannya terutamanya berkaitan undang

undang Islam iaitu tujuan asal satu jual beli ialah berlaku perpindahan hakmilik (Nrhashimah, 2001).
Maka proses dua dokumen perjanjian iaitu

Property Purchase Agreement

(PPA) dan

Property Sale Agreement

(PSA) hanyalah proses

perpindahan tanah ’atas kertas’ yang sah disisi undang –


undang sivil dan bertentangan dengan prinsip syariah kerana tiada niat langsung untuk
memindahkan hak milik dari satu pihak kepada pihak lain. Oleh itu PPA dan PSA

hanyalah dijadikan sebagai satu alat untuk mengesahkan jual beli Bay’ Bithaman Ajil semata

-mata. Walaupun tiada lagi kes yang melibatkan Musyarakah Mutanaqissah di Malaysia, kes di atas
telah memberi satu signal kepada Musyarakah Mutanaqissah bahawa amalan perbankan Islam
sedikit sebanyak terganggu oleh undang

undang am di Malaysia. Oleh yang demikian, sudah tiba masanya kepada penggubal undang

undang untuk mengkaji semula undang

undang am sedia ada yang akan menjadi halangan kepada amalan perbankan Islam ini. Walaupun
tujuan enakmen (Enakmen Rezab Melayu Kelantan 1930) tersebut adalah baik namun dalam konteks
ini enekmen terbut tidak boleh terpakai bagi amalan perbankan Islam. Maka kertas ini menyokong
usaha Bank Negara Malaysia yang telah menubuhkan jawatankuasa kerja undang-undang untuk
mengenal pasti dan melihat kemungkinan menghapuskan halangan undang-undang lain yang
menghalang perbankan Islam dan operasi kewangan. Ini termasuk kajian semula Akta Syarikat 1965,
Kanun Tanah Negara, Akta Kontrak 1950 dan enakmen-enakmen negeri yang lain.

Kesimpulan

Muamalat Islam adalah salah satu aspek yang penting dalam kehidupan manusia. Ianya meliputi
elemen aqidah, syariah dan akhlak. Muamalat adalah berkaitan hubungan manusia dengan
Tuhannya, sesama manusia dan dengan alam. Muamalat antara manusia dengan manusia lain
merangkumi pelbagai bidang dan antaranya termasuklah bidang perniagaan yang melibatkan
pelbagai kontrak dan transaksi. Di sana ada kontrak muamalat Islam yang pelbagai yang telah sedia
terbentuk sejak dari zaman awal Islam bahkan sebelumnya. Di sana juga ada kontrak yang bersifat
kontemporari, bersifat hibrid dan sebagainya. Salah satu kontrak yang mengambil tempat dalam
produk perbankan Islam pada masa ini adalah musharakah mutanaqisah, satu kontrak hibrid dengan
gabungan beberapa kontrak muamalat di dalamnya. Dalam mengaplikasi sesuati kontrak muamalat
dalam produk, pelbagai isu dan cabaran yang memerlukan kepada analisis penyelesaian dan
penambaikkan. Isu-isu boleh jadi dari perspektif muamalat, dan boleh jadi dari undang-undang yang
sedia diamalkan di sesebuah negara seperti Malaysia ini. Oleh itu dalam penggunaan kontrak
muamalat yang pelbagai sifatnya pada masa ini, penelitian adalah amat perlu dalam memastikan
kontrak muamalat tersebut dinamik dan mampu bersaing dalam industri perbankan dan kewangan
Islam. Ini kerana produk yang baik dan menjadi pilihan pastinya dapat memberi manfaat dalam
usaha mengajak manusia menolak riba dan memilih sistem berteraskan Islam.
Rujukan

Al-

Qur’an

Abdul Latif Mirasa

et al

. (2007),

Al-

Qur’an Mushaf Malaysia dan Terjemahan

, c. 3, Shah Alam: Yayasan Restu. Abdul Rashid Haji Dail (1994),

Bank Islam

, c. 1, Selangor: Pustaka Rashfa dan Anak-Anak Sdn. Bhd., h. 140.

Ahmad Ibrahim, “

The Amendment to Article 121 of the Federal Constitution: Its’ Effect on Administration of

Islamic Law

” [1989] 2 MLJ.

Ahmad Shamsul Abdul Aziz (2003),

“Elemen Tawaran dan Penerimaan Dalam Pembentukan Kontrak

Jual Beli Dari Perspektif Undang-Undang Sivil dan Undang-

Undang Syariah”

Jurnal ‘Ulum Islamiyyah

, 2:1, 2003. Bank Negara Malaysia (2006),

Resolusi Syariah Dalam Kewangan Islam,

Kuala Lumpur: Bank Negara Malaysia, h. 22 BIMB Institute of Reseach and Training (2005),

Konsep Syariah Dalam Sistem Perbankan Islam,

Kuala Lumpur: BIRT. C. G. Weeramantry (2001),

Islamic Jurisprudence : An International Perspective


, Kuala Lumpur : The Others Press, h. 31. Enakmen Rezab Melayu Kelantan 1930 Engku Rabiah
Adawiah bt Engku Ali,

“Constraints And Opportunities In Harmonisation Of Civil Law And Shariah In The Islamic Financial
Services Industry”

[2008] 4 MLJ i. Engku Rabiah Adawiah bt Engku Ali,

“Constraints And Opportunities In Harmonisation Of Civil Law And Shariah

In T

he Islamic Financial Services Industry”

[2008] 4 MLJ i. Equity Home Financing

i, Garis Panduan BNM pada Skim Perbankan Tanpa Faedah (SPTF) bagi Bank Perdagangan, Julai
1993.
http://www.bankinginfo.com.my/03_discover_islamic_banking/0301_syariah_concepts/syariah_con
cepts.php?intPrefLangID=2& (27 Februari 2008)
http://www.bnm.gov.my/files/publication/fsps/bm/2007/cp03_rencana_02.pdf, h. 103. (7 Ogos
2008) http://www.rhbislamicbank.com.my/index.asp?fuseaction=financing.main (10 Julai 2008).
Pamphlet / Brosur

Share

RHB Islamic Berhad, Produk Pembiayaan Perumahan Ekuiti-i. http://www.takaful-


ikhlas.com.my/groupTakaful/gadaijanji.asp (13 Februari 2009).

Ibn Manzur (1990),

Lisan al-

‘Arab

, Qaherah: Dar al-


Ma‘arif, h. 2248.

Jadual Sembilan, Senarai Satu, Perlembagaan Persekutuan 1957 [1996] 4 MLJ 295 (Mahkamah
Tinggi); dan [1998] 3 MLJ 393 (Mahkamah Rayuan)

MIF Monthly: 2008 Legal Supplement

, (Art Printing Works, 2008) Mohd Murshidi Mohd Noor dan Ishak Suliaman (2008),

Siri Analisis Hadis Hukum :Al-Syarikah

, Kuala Lumpur : Book Pro Publishing.

Muhammad Anwar (2003), “

Islamicity of Banking and Modes of Islamic Banking”

Arab Law Quarterly

18: 1, 2003. Muhammad Ayub (2007),

Understanding Islamic Finance

, Chicester: John Wiley & Sons.

Muhammad Rawwas Qal‘ahji (2000),

al-

Mausu‘ah al

-Fiqhiyyah al-Muyassarah

, jil. 2, Beirut: Dar al-Nafais, h. 1137-1138.

Norhashimah Mohd Yasin, “

Islamic Banking in Malaysia: Legal hiccups and Suggested Remedies

” [2001] 9

IIUMLJ 1 Seksyen 124 BAFIA 1989 Sheikh Haji Muhammad Idris Abdul Rauf al-Marbawi (1990),

Kamus Idris al-Marbawi

, juz 1, Kuala Lumpur: Penerbit DARUlFIKIR, h. 320. Suruhanjaya Sekuriti (2006),

op. cit.

, h. 16. Muhammad Solah Muhammad al-Sawi (1990),

Musykilah al-Istithmar fi al-Bunuk al-Islamiyyah


, Qaherah: Dar al-

Wafa’, h. 619.

Temubual dengan Encik Muhd Ramadhan Fitri Ellias,

op. cit.

Temubual dengan Encik Norafzan Shamshi bin Nordin,

op. cit.

Temubual dengan Muhd Ramadhan Fitri Ellias, Head Advisory & Development, Syariah Unit, RHB
Islamic Bank Berhad (RHBIB), di Menara Yayasan Tun Razak, Jalan Bukit Bintang Kuala Lumpur pada 3
Mac 2009. Temubual dengan Norafzan Shamshi bin Nordin, Eksekutif Pemasaran RHB Islamic di RHB
Islamic Berhad cawangan UOA Centre, Jalan Pinang, Kuala Lumpur pada 14 Januari 2009. Wahbah al-
Zuhayli (1985),

al-Fiqh al-Islami wa al-Adillatuh

, Jilid 4, c. 2, Damsyik: Dar al-Fikr. Wahbah al-Zuhayli (2004),

al-Fiqh al-Islami wa al-Adillatuh

c. 4.,

Beirut: Dar al-Fikr al-

Mu‘asir.

Hybrid Contract dalam Keuangan Syariah

Posted on : 22-06-2013 | By : Agustianto | In : Artikel, Fikih Muamalah

60

Perkembangan perbankan dan keuangan syariah syariah mengalami kemajuan yang sangat pesat
dan menghadapi tantangan yang makin kompleks. Perbankan dan lembaga keuangan syariah harus
bisa memenuhi kebutuhan bisnis modern dengan menyajikan produk-produk inovatif dan lebih
variatif serta pelayanan yang memuaskan. Tantangan ini menuntut para praktisi, regulator,
konsultan, dewan syariah dan akademisi bidang keuangan syariah untuk senantiasa aktif dan kreatif
dalam memberikan respon terhadap perkembangan tersebut. Para praktisi dituntut secara kreatif
melakukan inovasi produk; regulator membuat regulasi yang mengatur dan mengawasi produk yang
laksanakan oleh praktisi, Dewan syariah dituntut secara aktif dan kreatif mengeluarkan fatwa-fatwa
yang dibutuhkan industri sesuai tuntutan zaman, dan akademisi pun dituntut memberikan
pencerahan ilmiah dan tuntunan agar produk maupun regulasi mendukung kebutuhan industry
modern dan benar-benar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip syariah.

Salah satu pilar penting untuk menciptakan produk perbankan dan keuangan syariah dalam
menyahuti tuntutan kebutuhan masyarakat modern, adalah pengembangan hibryd conctract (multi
akad). Bentuk akad tunggal sudah tidak mampu meresponi transaksi keuangan kontemporer.
Metode hybrid contracy seharusnya menjadi unggulan dalam pengembangan produk. Dr Mabid Al-
Jarhi, mantan direktur IRTI IDB pernah mengatakan, kombinasi akad di zaman sekarang adalah
sebuah keniscayaan. Cuma masalahnya, literatur ekonomi syariah yang ada di Indonesia sudah lama
mengembangkan teori bahwa syariah tidak membolehkan dua akad dalam satu transaksi akad (two
in one). Larangan ini ditafsirkan secara dangkal dan salah, sehingga menyempitkan pengembangan
produk bank syariah. Padahal syariah membolehkannya dalam ruang lingkup yang sangat luas.

Harus difahami, bahwa larangan two in one hanya terbatas dalam dua kasus saja sesuai dengan
sabda-sabda Nabi Muhammad SAW yang terkait dengan itu. Two in one tidak boleh diperluas
kepada masalah lain yang tidak relevan dan tidak pas konteksnya. Para dosen, ahli ekonomi syariah,
bankir syariah dan konsultan harus mempelajari secara mendalam pandangan ulama tentang akad
two in one dan al-ukud al-murakkabah, agar pemahaman terhadap design kontrak syariah, bisa lebih
komprehensif, dinamis dan tidak kaku. Kekakuan itu bisa terjadi karena kedangkalan metodologis
syariah dan kelangkaan litaratur yang sampai kepada kita.

Memang ada tiga buah hadits Nabi Saw yang menunjukkan larangan penggunaan hybrid contract.
Ketiga hadits itu berisi tiga larangan, pertama larangan bay’ dan salaf, larangan bai’ataini fi
bai’atin, dan larangan shafqataini fi shafqatin. Ketiga hadits itulah yang selalu dijadikan rujukan para
konsultan dan banker syariah tentang larangan two in one. Namun harus dicatat, larangan itu hanya
berlaku kepada dua kasus, karena maksud hadits kedua dan ketiga sama, walaupun redaksinya
berbeda. Telaah dan analisis atas ketiga hadits ini akan diuraikan pada paparan selanjutnya.

Pandangan Ulama

Aliudin Za’tary dalam buku Fiqh Muamalah Al-Maliyah al-Muqaran mengatakan “ Tidak ada
larangan dalam syariah tentang penggabungan dua akad dalam satu transaksi, baik
akad pertukaran (bisnis) maupun akad tabarru’. Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang
memerintahkan untuk memenuhi (wafa) syarat-syarat dan akad-akad”

Mayoritas ulama Hanafiyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyah, dan Hanbali
berpendapat bahwa hukum hybrid contract adalah sah dan diperbolehkan menurut syariat Islam.
Ulama yang membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak
diharamkan dan dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau
membatalkannya. (Al-‘Imrâni, Al-’uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, hal. 69). Kecuali menggabungkan
dua akad yang menimbulkan riba atau menyerupai riba, seperti menggabungkan qardh dengan akad
yang lain, karena adanya larangan hadits menggabungkan jual beli dan qardh. Demikian pula
menggabungkan jual beli cicilan dan jual beli cash dalam satu transaksi
Menurut Ibn Taimiyah, hukum asal dari segala muamalat di dunia adalah boleh kecuali yang
diharamkan Allah dan Rasulnya, tiada yang haram kecuali yang diharamkan Allah, dan tidak ada
agama kecuali yang disyariatkan.( Ibn Taimiyah, Jâmi’ al-Rasâil, j. 2, hal. 317)

Nazih Hammad dalam buku al-’Uqûd al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islâmy menuliskan, ”Hukum dasar
dalam syara’ adalah bolehnya melakukan transaksi hybrid contract , selama setiap akad yang
membangunnya ketika dilakukan sendiri-sendiri hukumnya boleh dan tidak ada dalil yang
melarangnya. Ketika ada dalil yang melarang, maka dalil itu tidak diberlakukan secara umum, tetapi
mengecualikan pada kasus yang diharamkan menurut dalil itu. Karena itu, kasus itu dikatakan
sebagai pengecualian atas kaidah umum yang berlaku yaitu mengenai kebebasan melakukan akad
dan menjalankan perjanjian yang telah disepakati. (Nazîh Hammâd, al-’uqûd al-Murakkabah fi al-
Fiqh al-Islâmy, hal.

Demikian pula dengan Ibn al-Qayyim, ia berpendapat bahwa hukum asal dari akad dan syarat adalah
sah, kecuali yang dibatalkan atau dilarang oleh agama.(Ibn al-Qayyim, I’lâm al-Muwaqqi’în, j. 1, hal.
344)

Al-Syâtiby menjelaskan perbedaan antara hukum asal dari ibadat dan muamalat. Menurutnya,
hukum asal dari ibadat adalah melaksanakan (ta’abbud) apa yang diperintahkan dan tidak
melakukan penafsiran hukum. Sedangkan hukum asal dari muamalat adalah mendasarkan
substansinya bukan terletak pada praktiknya (iltifât ila ma’âny). Dalam hal ibadah tidak bisa
dilakukan penemuan atau perubahan atas apa yang telah ditentukan, sementara dalam bidang
muamalat terbuka lebar kesempatan untuk melakukan perubahan dan penemuan yang baru, karena
prinsip dasarnya adalah diperbolehkan (al-idzn) bukan melaksanakan (ta’abbud).[1] ( Al-Syâtiby, al-
Muwâfaqât, j. 1, hal. 284)

Pendapat ini didasarkan pada beberapa nash yang menunjukkan kebolehan multi akad dan akad
secara umum. Pertama firman Allah dalam surat al-Mâidah ayat 1 yang artinya: “Wahai orang-orang
yang beriman penuhilah olehmu akad-akad”. (QS. Al-Mâidah : 1)

Istilah Hibrid Contract dan Pengertiannya .

Buku-buku teks fikih muamalah kontemporer, menyebut istilah hybrid contract dengan istilah yang
beragam, seperti al-’uqûd al-murakkabah, al-’uqûd al-muta’addidah , al-’uqûd al-mutaqâbilah,
al-’uqûd al-mujtami’ah, dan al-’Ukud al-Mukhtalitah, Namun istilah yang paling populer ada dua
macam , yaitu al-ukud al-murakkabah dan al-ukud al mujtami’ah.

Al-“Imrani dalam buku Al-Ukud al-Maliyah al-Murakkabah mendefinisikan hybrid contract yaitu
“Kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu akad yang mengandung dua akad atau lebih –
seperti jual beli dengan sewa menyewa, hibah, wakalah, qardh, muzara’ah, sahraf (penukaran mata
uang), syirkah, mudharabah … dst.– sehingga semua akibat hukum akad-akad yang terhimpun
tersebut, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan
yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sebagaimana akibat hukum dari satu akad.”

Macam-macam hybrid contract

Pertama, Multi Akad yang mukhtalithah (bercampur) yang memunculkan nama baru, seperti bay’
istighlal , bay’ tawarruq, musyarakah mutanaqishah dan bay wafa’.
 Jual beli istighlal merupakan percampuran 3 akad, yaitu 2 akad jual beli dan ijarah, sehingga
bercampur 3 akad. Akad ini disebut juga three in one

 Jual Beli Tawarruq percampuran 2 akad jual beli. Jual Beli 1 dengan pihak pertama, Jual Beli
kedua dengan pihak ketiga.

 Musyarakah Mutanaqishah (MMQ). Akad ini campuran akad syirkah milik


dengan Ijarah yang mutanaqishah atau jual beli yang disifati dengan mutanaqishah
(decreasing). Percampuran akad-akad ini melahirkan nama baru, yaitu musyarakah
mutanaqishah (MMQ). Substansinya hampir sama dengan IMBT, karena pada akhir periode
barang menjadi milik nasabah, namun bentuk ijarahnya berbeda, karena transfer of title ini
bukan dengan janji hibah atau beli, tetapi karena transfer of tittle yang mutanaqishah,
karena itu sebutannya ijarah saja, bukan IMBT.

 Bay’ wafa’ adalah percampuran (gabungan) 2 akad jual beli yang melahirkan nama baru.
Pada awal kelahirannya di abad 5 Hijriyah, akad ini merupakan multiakad (hybrid), tetapi
dalam proses sejarah menjadi 1 akad, dengan nama baru yaitu bay wafa’.

Kedua Hybrid Contract yang mujtami’ah/mukhtalitah dengan nama akad baru, tetapi menyebut
nama akad yang lama, seperti sewa beli (bay’ at-takjiry) Lease and purchase. Contoh lain ialah
mudharabah musytarakah pada life insurance dan deposito bank syariah.

Contoh lainnya yang cukup menarik ialah menggabungkan wadiah dan mudharabah pada GIRO,
yang biaa disebut Tabungan dan Giro Aotomatic Transfer Mudharabah dan Wadiah. Nasabah
mempunyai 2 rekening, yakni tabungan dan giro sekaligus.(2 rekening dlm 1 produk).Setiap
rekening dapat pindah secara otomatis jika salah rek membutuhkan.

Ketiga Hybrid contract, yang akad-akadnya tidak bercampur dan tidak melahirkan nama akad baru.
tetapi nama akad dasarnya tetap ada dan eksis dan dipraktekkan dalam suatu transaksi. Contohnya :

1. Kontrak akad pembiayaan take over pada alternatif 1 dan 4 pada fatwa DSN MUI No 31/2000

2. Kafalah wal ijarah pada kartu kredit,

3. Wa’ad untuk wakalah murabahah, ijarah, musyarakah, dll pada pembiayaan rekening koran or line
facility

5. Murabahah wal wakalah pd pembiayaan murabahah basithah.

6.Wakalah bil ujrah pada L/C, RTGS, General Insurance, Factoring,

7.Kafalah wal Ijarah pada LC, Bank Garansi, pembiayaan multi jasa / multi guna, kartu kredit.

8.Mudharabah wal murabahah/ijarah/istisna pada pembiayaan terhadap karyawan koperasi


instansi.

9. Hiwalah bil Ujrah pada factoring.

10. Rahn wal ijarah pada REPO SBI dan SBSN


11.Qardh, Rahn dan Ijarah pada produk gadai emas di bank syariah

Keempat, Hybrid Contract yang mutanaqidhah (akad-akadnya berlawanan). Bentuk ini dilarang
dalam syariah. Contohnya menggabungkan akad jual beli dan pinjaman (bay’ wa salaf). Contoh
lain, menggabungkan qardh wal ijarah dalam satu akad. Kedua contoh tersebut dilarang oleh nash
(dalil) syariah, yaitu hadits Rasulullah Saw. Contoh lainnya : menggabungkan qardh dengan janji
hadiah

Contoh-contoh penerapan hybrid contract di atas, masih perlu penjelasan luas dan memadai, namun
karena ruangan kolom yang terbatas, kajiannya besifat ringkas. Selain itu pembahasan tentang
konsep hybrid contract ini dan penerapannya dalam transaksi perbankan dan keuangan masih
membutuhkan kajian yang panjang. Namun demikian, para pembaca yag ingin mendalami hyibrid
contract dalam teori dan aplikasinya secara mendalam dapat mengikuti Training dan Workshop Fikih
Muamalah perbankan dan keuangan level advance yang digelar setiap bulan di kantor MES Pusat
Jakarta.

Oleh : Agustianto

Hybrid Contract (Multiple Akad), Kenapa dibolehkan?

Oleh: Kang Maul

Definisi: Hybrid contract adalah suatu kontrak yang menghimpun beberapa kontrak dalam satu
kontrak. Al-“Imrani dalam buku Al-Ukud al-Maliyah al-Murakkabah mendefinisikannya “Kesepakatan
dua pihak untuk melaksanakan suatu akad yang mengandung dua akad atau lebih –seperti jual beli
dengan sewa menyewa, hibah, wakalah, qardh, muzara’ah, sahraf (penukaran mata uang), syirkah,
mudharabah.– sehingga semua akibat hukum akad-akad tersebut, serta semua hak dan kewajiban
yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan,
sebagaimana akibat hukum dari satu akad.”

1. Kenapa Akad Hybrid dibolehkan?

Alasan pertama adalah karena DSN MUI selaku otoritas ulama di Indonesia membolehkan. Ada 3
hadits yang dengan jelas melarang transaksi seperti ini (ada dibawah), namun menurut Agustianto
salah satu anggota DSN MUI di blognya menuliskan bahwa larangan itu hanya berlaku kepada dua
kasus, karena maksud hadits kedua dan ketiga sama, walaupun redaksinya berbeda. Ulama yang
membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak diharamkan dan
dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau membatalkannya. (Al-‘Imrâni, Al-
’uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah).
Kecuali menggabungkan dua akad yang menimbulkan riba atau menyerupai riba, seperti
menggabungkan qardh dengan akad yang lain, karena adanya larangan hadits menggabungkan jual
beli dan qardh. Demikian pula menggabungkan jual beli cicilan dan jual beli cash dalam satu
transaksi Menurut Aliudin Za’tary dalam buku Fiqh al-Muamalah al-Maliyah al-Muqaran mengatakan
“Tidak ada larangan dalam syariah tentang penggabungan dua akad dalam satu transaksi, baik akad
pertukaran (bisnis) maupun akad tabarru’. Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang
memerintahkan untuk memenuhi (wafa) syarat-syarat dan akad-akad” Dengan demikian, hukum
multi akad adalah boleh.

2. Apakah Hybrid Contract Bisa Jatuh Dalam 2 Akad Dalam 1 Transaksi yang Dilarang?

Kontroversi tentang akad hybrid ada beberapa hadits yang dngan jelas melarangnya yaitu:
“Rasulullah Saw melarang dua akad dalam satu transaksi[1]. Hadist ini jelas bertentangan dengan
pendapat Aliudin Za’tary diatas. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak halal dua syarat yang ada dalam
jual beli”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Mughni berkata, “Dilarang
dua syarat dalam satu akad jual beli”.

Menurut hemat penulis, Praktek hybrid Contract lebih didorong oleh perkembangan teknologi
informasi dan semangat inovasi dalam produk keuangan syariah. Dan hal itu sangat rentan untuk
bisa jatuh ke dalam praktek yang dilarang seperti praktek jual beli istghlol dan tawarruq. Dan inovasi
ini terus berkembang. Namun idealnya dasar pengembangan inovasi tersebut bukan hanya sekedar
mencari akad yang sesuai dengan praktek perbakan umum, merubah nama kontrak konvensional
dengan akad berbahasa arab, atau hanya sekedar menghindari produk yang haram namun bila
prakteknya cenderung lebih dekat ke arah ghoror, tidak jelas transaksinya dan membuka peluang
prilaku tadlis maka ia harus tegas dikatakan sebagai haram, dengan mengacu pada asas kehat-hatian
saddu dzari’ah. Apalagi dalam hybrid kontrak akibat hokum dari akad-kad berbeda yang disatukan
itu menjadi satu kesatuan.

3. Contoh 2 Akad Dalam 1 Transaski yang jelas Dilarang.

Kasus pertama yang dilarang, adalah menggabungkan akad qardh dengan jual beli sesuai dengan
sabda Nabi Saw tentang hal tersebut. “Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan
pinjaman”. (HR. Ahmad)

Kasus Kedua, bai’al-‘inah, Pendapat ini dikutip dari pandangan Ibnu Qayyim yang menyatakan,
bahwa dari 14 penafsiran terhadap hadits bai’atain fi bai’atin (dua akad dalam satu transaksi),
penafsiran yang paling shahih adalah bai’ al-‘inah tersebut. Berdasarkan Imam Malik dalam kitabnya
Al-Muwaththa’ berkata, “Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik, ia telah mendapat kabar bahwa
Rasulullah Saw melarang dua jual beli dalam satu transaksi.).[2]
Kasus ketiga yang dilarang, adalah penjual menawarkan dua harga atau beberapa harga kepada
pembeli, misalnya, harga barang jika kontan Rp 10 juta, jika cicilan Rp 12 juta, kemudian pembeli
menerima (mengucapkan qabul), tanpa terlebih dahulu memilih salah satu harganya, Bentuk jual
beli ini dilarang karena tidak jelas harganya (gharar).

[1] (Muslim 3/1565, Nasa’i 7/4674, Ibnu Majah 2/2477)

[2] (Shahih, HR Tirmidzi No. 1231, Nasa’i No. 4632, Ahmad No. 9582 (2/432), Ibnu Hibban No. 4973
(11/347) dan Al-Baihaqi No. 10.660 (5/343

Agustiantocenter.com

Nevi Hasnita, M. Ag, Konsep dan Bentuk Multi Akad (Hybrid Contract) dalam Fatwa Dewan Syariah
Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) diakses 6 Juli 2015

ybrid Contract

HYBRID CONTRACT

CONTOH-CONTOH PENGEMBANGANPRODUK BANK SYARIAH

Berikut akan dipaparkan sebagian skim dan model inovasi produk bank-bank syariah, baik
produk financing, funding, jasa-jasa, maupun treasury products. Di antara produk yang bisa
dikembangkan di bank syariah adalah pembiayaan multi guna, KTA (Kredit Tanpa
Agunan), murabahah commodity untuk treasury product, Pembiayaan perkebunan sawit dengan
metode Margin During Contruction, bay’ wafa’ dan bay’ istighlal untuk usaha mikro, hedging
dengan forward dan swap, tawarruq emas berlandaskan istihsan dan maslahah, dsb.

Pembiayaan multiguna

Pembiayaan multi guna dapat menggunakan skim tawarruq emas atau bay wafa wal ijarah yang
disebut dengan bay’ istighlal (lihat Qanun Al-Majallah al-Ahkam al-‘adliyah). Skim tawarruq emas ini
diambil dari banyak buku fiqh, terutama buku, Tawarruq Mashrafi ‘an Thariq bay’ al-
ma’adin (Tawarruq di perbankan melalui jual beli emas). Mayoritas ulama menyetujuibay’ tawarruq,
Namun Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim memakruhkanya. Fatwa ulama OKI
hanya mengharamkan tawarruq munazzam yang banyak dilakukan sebagian bank syariah
Malaysia. Tawarruq munazzam tidak lain adalah bay al-‘inah itu sendiri, maka hukumnya dilarang.

Kalau kita mengambil pendapat mayoritas ulama, maka penerapan tawarruq, tidak menjadi
masalah, Namun jika kita mengambil pendapat Umar bin Abdul Aziz, Ibnu Taymiyah dan Ibnu
Qayyim, kemakruhannya dapat dihilangkan dengan metode istihsan, maslahah danmaqashid. Jika
kita menggunakan metode istihsan, maka harus bisa ditunjukkan bahwa tawarruq yang hendak
diterapkan di perbankan, harus berbeda karakternya dengan tawarruq yang dimakruhkan, sebagian
ulama. Pada tawarruq perbankan itu, harus ada syarat ketat dari bank syariah, yakni bahwa dana
tawarruq harus digunakan untuk sector riil ( yang produktif) dan officer perbankan harus mencek
kebenaran terwujudnya sektor riil di lapangan.

Jadi, untuk mewujudkan itu officer bank syariah dalam visibility study dan analisis pembiayaan harus
mensyaratkan bahwa penggunaan uang tawarruq memang untuk sector riel, seperti usaha mikro,
pertanian dan kegiatan usaha produktif lainnya, atau semi produktif seperti pendidikan, renovasi
rumah, dan sebagainya. Multi guna artinya penggunaan uang tersebut dapat digunakan untuk apa
saja, asalkan untuk sector riil yang sesuai syariah.

KTA (KREDIT TANPA AGUNAN) Syariah

Skim tawarruq emas juga dapat digunakan untuk pembiyaan KTA syariah. Produk KTA syariah harus
diluncurkan dan dikembangkan, mengingat saat ini bank-bank asing konvensional sangat gencar
menawarkan produk KTA konvensional. Potensi pasar KTA syariah mencapai 2000 triliun rupiah.
Jangan biarkan bank-bank asing menguasai pasar kita. Kalau bank syariah tidak masuk di pasar
tersebut, maka dominasi bank-bank asing konvensional, makin merajalela masuk ke UKM rakyat
Indonesia, padahal cukup banyak skim akad yang bisa digunakan untuk KTA Syariah tersebut, antara
lain dengan tawarruq (emas), atau bay wafa’ dan istighlal.

Bay’ wafa’ dan istighlal dapat pula digunakan untuk pembiayaan multi guna.
Mekanismenya, Pertama, nasabah menjual assetnya (rumah, perkebunan, atau mobil), ke bank
syariah dengan harga misalkan Rp 200 juta, dengan janji nasabah akan membeli (melunasi)
kembali rumah tersebut 2 tahun depan dengan harga yang sama, yakni Rp 200.juta. Dengan jual beli
ini, nasabah mendapatkan uang cash dari bank dan dengan demikian rumah menjadi milik
bank. Kedua, selanjutnya, bank menyewakan rumah itu kepada nasabah itu kembali dengan margin
tertentu.

Bank mendapatkan keuntungan (margin) dengan cara penyewaan tersebut. Besaran biaya sewa
bulanan dapat memilih dua alternatif, Pertama, biaya sewa bulanan dan margin disesuaikan dengan
besaran cicilan normal pembiayaan, misalnya Rp 10 juta per bulan.Ketika masa ijarah selesai, maka
rumah itu kembali dijual bank kepada nasabah dengan harga tertentu. Pilihan kedua, dalam
perjanjian itu disyaratkan nasabah untuk menyimpan sejumlah dana setiap bulan misalkan Rp 9,2
juta dan ketika jumlah simpanan mencapai Rp 200 juta, maka janji nasabah untuk membeli kembali
rumah tersebut diwujudkan. Syarat tersebut tidak dilarang dalam syariah, karena itu ia dibolehkan.

Inovasi produk yang bisa dikembangkan oleh bank-bank syariah. Salah satu produk yang bisa
dikembangkan di bank syariah adalah syirkah mutanaqishah. Syirkah mutanaqishah dapat digunakan
untuk pembiayaan properti, agar pricenya bisa kompetitif dengan konvensional. Hal ini dikarenakan
murabahah kurang tepat untuk pembiayan properti dengan tenor panjang, 7 sd 15 tahun.
Penerapan murabahah untuk properti dengan tenor jangka panjang tersebut, sudah dipandang kuno
dan lebih berisiko dalam menghadapi fluktuasi pasar. Maka solusinya adalah syirkah
mutanaqishah yang sudah difatwakan DSN melalui fatwa DSN No 73/2009. Namun fatwa inipun
sebenarnya masih kurang lengkap, karena hanya memfatwakan 1 model syirkah mutanaqishah.
Padahal menurut studi fiqh muamalah kontemporer yang lebih luas, setidaknya terdapat enam
model (bentuk) syirkah mutanaqisihah, Sayangnyanya, syirkah mutaqishah yang satu model ini pun
belum banyak dipahami para bankir syariah, apalagi untuk memahami penerapan enam model
syirkah mutanaqishah lainnya. Di sinilah diperlukan workshop dan traiining kpada para pejabat dan
bankir bank-bank syariah.

Design akad pembiayaan take over atau pengalihan hutang. Menurut fatwa DSN MUI No 31/Tahun
2002, ada empat alternatif kontrak, namun dalam praktiknya banyak bankir syariah yang tidak
memahami dengan baik konsep dan penerapannya, sehingga penerapannya di lapangan mengalami
penyimpangan. Hasil penelitian ilmiah di empat bank syariah di Jakarta, menunjukkan hampir 80 %
design akad pembiyaan take over tidak sesuai dengan syariah. Kesulitan memahami design akad ini
dikarenakan semua akadnya merupakan hybrid contract (al-‘ukud al-murakkabah).

Untuk pembiyaan take over properti, menurut fatwa DSN MUI, terdapat empat pilihan design akad
yang kesemuanya adalah kombinasi banyak akad (al-‘ukud al-murakkabah).Untuk memahami dan
menerapkan empat alternatif akad saja, para bankir banyak yang tidak mengerti, bagaimana pula
dengan inovasi produk yang lebih luas. Berdasarkan kajian yang lebih luas dan mendalam, design
kontrak pembiayaan take over sebenarnya ada tujuh alternatif, bukan empat alternatif, yakni
dengan tambahan syirkah mutanaqishah dan hiwalah itu sendiri.Syirkah mutanaqishah ini terbagi
lagi kepada 10 bentuk dan model kontrak. Dengan demikian, untuk pembiyaan take over properti
atau lainnya bisa memilih belasan alternatif akad.

produk funding yang ada di Indonesia hanyalah mudharabah dan wadiah,yang dikembangkan
menjadi tabungan depositi dan giro. Padahal setidaknya ada tujuh alternatif yang bisa dipilih untuk
dikembangkan, yaitu pertama, deposito wakalah bil ujrah, kedua, deposito musyarakah, ketiga,
kombinasi mudharabah dan wadiah, yaitu tabungan dan giro automatic transfer mudharabah dan
wadiah. Selanjutnya, yang keempat, kombinasi giro wadiah dan qardh, kelima, mudharabah
muqayyadah untuk murabahah dan keenam, mudharabah muqayyadah untuk murabahah
commodity. Dan terakhir (ketujuh) ialah mudharabah muthlaqah untuk tabungan biasa. Pilihan
ketujuh ini yang paling banyak diterapkan di Indonesia, selain giro wadiah.

Tak bisa dipungkiri, bahwa dalam pembiayaan, bank syariah banyak menerapkan konsep
murabahah, sebagai produk dominan. Padahal dalam jual beli dapat juga dikembangkan bay’
mustarsal, bai’ taqsith, bahkan bay wafa’, bai’ istighlal dan bai’ tawarruq. Kajian mendalam harus
dilakukan kepada bai’ tawarruq menurut para ulama, sehingga tidak secara gampang memutuskan
bentuk akad tawarruq ini dilarang. Banyak sekali literatur mu’tabar yang membolehkan bentuk akad
ini. Jumhur ulama juga membolehkannya. Sedangkan bay’ al-‘inah jelas sekali larangan tentangnya,
sehingga tidak bisa diterapkan. Malaysia yang banyak menerapkannya ternyata salah kaprah dalam
mengutip pendapat Imam asy-Syafi’iy dan Daud azh-Zhahiri. Untung saja beberapa tahun
belakangan ini mereka menyadari kekeliruannya dan berupaya keras mengurangi produk bai’ al-inah
secara drastis. Jadi Indonesia tidak bisa menerima konsep bai’ al-‘inah dalam pengembangan dan
inovasi produk perbankan syariah.

Model-model fiqh mumalah terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan lokasi
geografis. Bentuk-bentuk syirkah di zaman modern ini demikian banyak, seperti syirkah
mutanaqishah, syirkah muhashah, syirkah tadhamun, syirkah mushana’ah, syirkah muntahiyah
bittamlik, syirkah ta’awuniyah, syirkah musahamah, syirkah taushiyah, mudharabah musytarakah
dan lain-lain.

Bentuk-bentuk mudharabah juga sangat variatif dan terus berkembang. Jika di masa Nabi
Muhammad Saw, hanya terdapat 1 model mudharabah, tetapi di masa kini bentuk mudharabah
sudah menjadi lima macam, yaitu mudharabah bilateral, mudharabah multilateral, mudharabah
muwazi, mudharabah musytarakah dan Mudharabah Muntahiyah bi Tamlik.

Untuk pembiyaan pertanian, di benak para bankir pada umumnya hanya ada bay’ salam, yakni
salam paralel. Namun belum ada satu bank syariah pun yang memilih skim ini, meskipun sudah ada
fatwa DSN sejak tahun 2000. Bentuk skim salam paralel tidak realistis dan tidak sesuai dengan
kebutuhan masyarakat konsumen. Akibatnya, bank syariah tidak berani memasuki sektor
agribisnis atau pertanian, selain berisiko juga karena di benak mereka, hanya ada skim bai’ salam
saja. Bai’ salam yang ada di fatwa DSN dan buku-buku yang berkembang di Indonesia sangat sulit
terjadi dan kaku. Harusnya skim bai’ salam bisa dirancang berdasarkan prinsip syariah, bukan melalui
salam paralel sebagaimana dalam buku Muhammad Syafii Antonio dan Wahbah az-Zuhaili
dalam buku Fiqh Muamalah Mu’ashirah.Literatur itu tidak relevan dan tidak realistis. Seandainya
skim salam ditambah dengan bai’ muthlak, persoalannya sudah selesai. Penerapan bai’ salam dan
bai’ muthlak adalah pilihan skim yang realistis dan kecil risiko. Di berbagai negara, skim untuk
pertanian sangat variatif, sehingga memungkinkan bagi bank syariah untuk masuk ke sektor ini,
selain bai’ salam juga bisa kombinasi akad syirkah milik, ijarah an bai’.

Hybrid Contract.

Di era transkasi keuangan modern yang semakin kompleks, dibutuhkan design kontrak akad dalam
bentuk kombinasi beberapa akad yang disebut dengan hibryd contract (multiakad), atau biasa
disebut al-ukud al-murakkabah. Bentuk akad tunggal sudah tidak mampu meresponi transaksi
keuangan kontemporer.

Dr.Mabid al-Jarhi, mantan direktur IDB pernah mengatakan, kombinasi akad di zaman sekarang
adalah sebuah keniscayaan. Cuma masalahnya, literatur ekonomi syariah yang ada di Indonesia
sudah lama mengembangkan teori bahwa syariah tidak membolehkan dua akad dalam satu transaksi
akad (two in one). Padahal, larangan two in one terbatas dalam tiga kasus saja sesuai dengan sabda-
sabda Nabi Muhammad Saw yang terkait dengan itu. Two in one tidak boleh diperluas kepada
masalah lain yang tidak relevan dan tidak pas konteksnya. Para dosen, ahli ekonomi syariah, dan
bankir syariah harus mempelajari secara mendalam pandangan ulama tentang akad two in
one dan al-‘ukud al-murakkabah, agar pemahaman terhadap design kontrak syariah lebih
komprehensif, dinamis dan tidak kaku. Kekakuan itu bisa terjadi karena kedangkalan metodologis
syariah dan kelangkaan litaratur. Buku-buku fiqh muamalah kontemporer yang membahas
permasalahan hybrid contract (kombinasi akad) antara lain, Al-‘Ukud al-Murakkabah fi Fiqh al-
Islami, karya, Nazih Hammad, Damaskus 2005),juga buku al-‘Ukud al-Maliyah al-Murakkabah oleh
al-‘Imrani,

Cuma masalahnya, literatur ekonomi syariah yang ada di Indonesia sudah lama mengembangkan
teori bahwa syariah tidak membolehkan dua akad dalam satu transaksi (two in one). Artinya,
kontrak yang mengandung two in one terlarang dalam syariah. Larangan tersebut digenerasilisasi
untuk seluruh kontrak, sehingga setiap kontrak yang mengandung dua akad atau lebih dipandang
bertentangan dengan syariah. Di sinilah diperlukan ‘ulumul hadits dan ilmu mushtalahul hadits.
Sejumlah kitab syarah hadits juga harus dirujuk. Menurut studi yang komprehensif terhadap tiga
buah hadits yang melarang two in one, dapat disimpulkan bahwa syariah hanya membatasi larangan
itu untuk beberapa kasus saja dan membolehkannya dalam ruang lingkup yang sangat luas.

Jadi, selama ini, larangan ini ditafsirkan secara dangkal dan salah, sehingga menyempitkan
pengembangan kegiatan transaksi dan pengembangan produk bank dan keuangan syariah.
Terjadilah pelarangan terhadap sesuatu yang sesungguhnya tidak dilarang.

Para dosen, ahli ekonomi syariah, bankir syariah dan konsultan harus mempelajari secara mendalam
pandangan ulama tentang akad two in one dan al-ukud al-murakkabah, agar pemahaman terhadap
design kontrak syariah, bisa lebih komprehensif, dinamis dan tidak kaku. Kekakuan itu bisa terjadi
karena kedangkalan metodologis syariah dan kelangkaan litaratur yang sampai kepada kita.

Memang ada tiga buah hadits Nabi Saw yang menunjukkan larangan penggunaan hybrid contract.
Ketiga hadits itu berisi tiga larangan, pertama larangan bai’ dan salaf, kedua, larangan bai’ataini fi
bai’atin, dan ketiga larangan shafqataini fi shafqatin. Ketiga hadits itulah yang selalu dijadikan
rujukan para ahli, konsultan dan banker syariah tentang larangan akad two in one dalam satu
transaksi. Namun harus dicatat, larangan itu hanya berlaku kepada beberapa kasus saja. Bahkan
hadits kedua dan ketiga maknanya sama, walaupun redaksinya berbeda. Maksud Hadits shafqataini
fi shafqatin adalah bai’ataini fi bai’atin.

Kasus pertama yang dilarang, adalah menggabungkan akad qardh dengan jual beli sesuai dengan
sabda Nabi Saw tentang hal tersebut. “Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan
pinjaman”. (HR. Ahmad) [1] Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, j. 2, (Beirut: Dâr
al-Ihyâi al-Turâts al-’Araby, 1414 H), cet. ke-3, hal. 178

Kasus Kedua, bai’ al-‘inah, Pendapat ini dikutip dari pandangan Ibnu Qayyim yang menyatakan,
bahwa dari 14 penafsiran terhadap hadits bai’atain fi bai’atin (dua akad dalam satu transaksi),
penafsiran yang paling shahih adalah bai’ al-‘inah tersebut.

Kasus ketiga yang dilarang, adalah penjual menawarkan dua harga atau beberapa harga kepada
pembeli, misalnya, harga barang ini jika kontan Rp 10 juta, jika cicilan Rp 12 juta, selanjuthya,
pembeli menerima (mengucapkan qabul), tanpa terlebih dahulu memilih salah satu harganya,
Bentuk jual beli ini dilarang karena tidak jelas harganya (gharar).

Itulah tiga kasus hybrid contract yang dilarang berdasarkan hadits Nabi Saw. Untuk melengkapi
bentuk hybrid contract yang dilarang saya akan menguraikan pada uraian akhir tulisan ini
ketentuan-ketentuan (dhawabith) hybrid contract yang dilarang, seperti menggabungkan
akad qardh dengan hadiah atau janji hadiah, Larangan ini, karena hybrid contract itu mengandung
riba.

Pandangan Ulama

Aliudin Za’tary dalam buku Fiqh al-Muamalah al-Maliyah al-Muqaran mengatakan “ Tidak ada
larangan dalam syariah tentang penggabungan dua akad dalam satu transaksi, baik
akad pertukaran (bisnis) maupun akad tabarru’. Hal ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang
memerintahkan untuk memenuhi (wafa) syarat-syarat dan akad-akad” Dengan demikian, hukum
multi akad adalah boleh.

Mayoritas ulama Hanafiyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyah, dan Hanbali
berpendapat bahwa hukum hybrid contract adalah sah dan diperbolehkan menurut syariat Islam.
Ulama yang membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak
diharamkan dan dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau
membatalkannya. (Al-‘Imrâni, Al-’uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, hal. 69). Kecuali menggabungkan
dua akad yang menimbulkan riba atau menyerupai riba, seperti menggabungkan qardh dengan akad
yang lain, karena adanya larangan hadits menggabungkan jual beli dan qardh. Demikian pula
menggabungkan jual beli cicilan dan jual beli cash dalam satu transaksi

Menurut Ibn Taimiyah, hukum asal dari segala muamalat di dunia adalah boleh kecuali yang
diharamkan Allah dan Rasul-Nya, tiada yang haram kecuali yang diharamkan Allah, dan tidak ada
agama kecuali yang disyariatkan.( Ibn Taimiyah, Jâmi’ al-Rasâil, j. 2, hal. 317)

Nazih Hammad dalam buku al-’Uqûd al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islâmy menuliskan, ”Hukum dasar
dalam syara’ adalah bolehnya melakukan transaksi hybrid contract , selama setiap akad yang
membangunnya ketika dilakukan sendiri-sendiri hukumnya boleh dan tidak ada dalil yang
melarangnya. Ketika ada dalil yang melarang, maka dalil itu tidak diberlakukan secara umum, tetapi
mengecualikan pada kasus yang diharamkan menurut dalil itu. Karena itu, kasus itu dikatakan
sebagai pengecualian atas kaidah umum yang berlaku yaitu mengenai kebebasan melakukan akad
dan menjalankan perjanjian yang telah disepakati. (Nazîh Hammâd, al-’uqûd al-Murakkabah fi al-
Fiqh al-Islâmy, hal. 8)

Demikian pula dengan Ibn al-Qayyim, ia berpendapat bahwa hukum asal dari akad dan syarat adalah
sah, kecuali yang dibatalkan atau dilarang oleh agama.(Ibn al-Qayyim, I’lâm al-Muwaqqi’în, j. 1, hal.
344)

Asy-Syâtiby menjelaskan perbedaan antara hukum asal dari ibadat dan muamalat. Menurutnya,
hukum asal dari ibadat adalah melaksanakan (ta’abbud) apa yang diperintahkan dan tidak
melakukan penafsiran hukum. Sedangkan hukum asal dari muamalat adalah mendasarkan
substansinya bukan terletak pada praktiknya (iltifât ila ma’âny). Dalam hal ibadah tidak bisa
dilakukan penemuan atau perubahan atas apa yang telah ditentukan, sementara dalam bidang
muamalat terbuka lebar kesempatan untuk melakukan perubahan dan penemuan yang baru, karena
prinsip dasarnya adalah diperbolehkan (al-idzn) bukan melaksanakan (ta’abbud).[1] ( Asy-Syâtiby, al-
Muwâfaqât, j. 1, hal. 284)

Pendapat ini didasarkan pada beberapa nash yang menunjukkan kebolehan multi akad dan akad
secara umum. Pertama firman Allah dalam surat al-Mâidah ayat 1 yang artinya: “Wahai orang-orang
yang beriman penuhilah olehmu akad-akad”. (QS. Al-Mâidah : 1)

Buku-buku teks fikih muamalah kontemporer, menyebut istilah hybrid contract dengan istilah yang
beragam, seperti al-’uqûd al-murakkabah (akad-akad yang tersusun), al-’uqûd al-muta’addidah
(akad-akad yang berbilang) , al-’uqûd al-mutaqâbilah (akad yang berhadapan-berpasangan), al-
’uqûd al-mujtami’ah (akad-akad yang berhimpun) , dan al-’Ukud al-Mukhtalitah (akad-akad yang
bercampur),al-‘ukud al-mutakarrirah (akad-akad yang berulang), dan al-‘ukud al-mutadakhilah
(akad yang satu masuk kepada akad yang lain). Namun istilah yang paling populer ada dua macam ,
yaitu al-ukud al-murakkabah dan al-ukud al mujtami’ah. Adapula menggunakan istialah al-ukud
almutajanisah (akad-akad yang sejenis)

Dr. Nazih Hammad dalam buku Al-’uqûd al-Murakkabah fî al-Fiqh al-Islâmy, 2005), hlm. 7
mendefinisikan hybrid contract sebagai berikut, “

“Kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu akad yang mengandung dua akad atau lebih –
seperti jual beli dengan sewa menyewa, hibah, wakalah, qardh, muzara’ah, sharaf (penukaran mata
uang), syirkah, mudharabah … dst.– sehingga semua akibat hukum akad-akad yang terhimpun
tersebut, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan
yang tidak dapat dipisah-pisahkan, sebagaimana akibat hukum dari satu akad.”

Sementara itu Abdullah al-“Imrani dalam buku Al-Ukud al-Maliyah al-Murakkabah


mendefinisikan hybrid contract yaitu “Himpunan beberapa akad kebendaan yang dikandung oleh
sebuah akad –baik secara gabungan maupun secara timbal balik– sehingga seluruh hak dan
kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai akibat hukum dari satu akad”.

Kedua definisi di atas tampaknya mirip dan tidak terdapat perbedaan. Hybrid contract itu dipandang
sebagai satu kesatuan akad dan semua akibat hukum akad-akad yang tergabung tersebut, serta
semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan, sebagaimana akibat hukum dari satu akad. Menurut asy-Syatibi, penelitian
terhadap hukum Islam menunjukkan bahwa dampak hukum dari hybrid contract tidak sama seperti
saat akad itu berdiri sendiri-sendiri. [1] Asy-Syâtiby, al-Muwâfaqât, j. 3, hal. 144 – 146

Misalnya, musyarakah mutanaqishah, mudharabah musytarakah, bai’ wafa’ bai’ istighlal, bai’
tawarruq, bai’ takjiri (sewa beli), dan sebagainya. Akan tetapi harus dicatat, meskipun sudah menjadi
satu kesatuan, dalam pembuatan draft kontrak, akad-akad yang tergolong hybrid tersebut ada yang
dapat digabungkan dalam satu title kontrak dan ada pula yang dipisahkan. Untuk musyarakah
mutanaqishah, akad syirkah milk, dibuat terpisah dengan akad ijarah, demikian pula akad
pembiayaan take over, masing-masing akadnya dipisahkan,namun dipandang sebagai satu kesatuan.
Sedangkan akad bai’ wafa, bai istighlal, sewa beli, kartu kredit, dapat disatukan dalam satu
dokumen (materai).

Macam-macam hybrid contract

Pertama, hybrid contract yang mukhtalithah (bercampur) yang memunculkan nama baru, seperti
bai’ istighlal , bai’ tawarruq, musyarakah mutanaqishah dan bai’ wafa’.

• Jual beli istighlal merupakan percampuran 3 akad, yaitu 2 akad jual beli dan ijarah, sehingga
bercampur 3 akad. Akad ini disebut juga three in one.

• Jual Beli Tawarruq percampuran 2 akad jual beli. Jual Beli 1 dengan pihak pertama, Jual Beli kedua
dengan pihak ketiga.

• Musyarakah Mutanaqishah (MMQ). Akad ini campuran akad syirkah milik dengan Ijarah yang
mutanaqishah atau jual beli yang disifati dengan mutanaqishah (decreasing). Percampuran akad-
akad ini melahirkan nama baru, yaitu musyarakah mutanaqishah (MMQ). Substansinya hampir sama
dengan IMBT, karena pada akhir periode barang menjadi milik nasabah, namun bentuk ijarahnya
berbeda, karena transfer of title ini bukan dengan janji hibah atau beli, tetapi karena transfer of
tittle yang mutanaqishah, karena itu sebutannya ijarah saja, bukan IMBT.

• Bai’ wafa’ adalah percampuran (gabungan) 2 akad jual beli yang melahirkan nama baru. Pada awal
kelahirannya di abad 5 Hijriyah, akad ini merupakan multiakad (hybrid), tetapi dalam proses sejarah
menjadi 1 akad, dengan nama baru yaitu bai’ wafa’.

Kedua Hybrid Contract yang mujtami’ah/mukhtalitah dengan nama akad baru, tetapi menyebut
nama akad yang lama, seperti sewa beli (bai’ takjiri) Lease and purchase. Contoh lain ialah
mudharabah musytarakah pada life insurance dan deposito bank syariah.

Contoh lainnya yang cukup menarik ialah menggabungkan wadiah dan mudharabah pada GIRO,
yang bisa disebut Tabungan dan Giro Automatic Transfer Mudharabah dan Wadiah. Nasabah
mempunyai 2 rekening, yakni tabungan dan giro sekaligus.(2 rekening dlm 1 produk).Setiap
rekening dapat pindah secara otomatis jika salah satu rek membutuhkan.

Contoh lain ialah sewa beli (lease and purchase). Menurut buku Fiqh Muamalah al-Mu’ashirah,
Usman Tsabir, sewa beli hukumnya boleh, tidak terdapat gharar padanya. Menurutnya,
“Sesungguhnya ulama berbeda pendapat tentang hukum menggabungkan dua akad ; antara jual beli
dan ijarah. Sebagian ulama mengatakan boleh, yaitu ulama Malikiyah dan Imam asy-Syafi’iy dalam
salah satu pendapatnya, juga Qadhi dari Ulama Hanabilah Sebagian ulama mengatakan tidak boleh,
yaitu Hanafiyah, Zhahiriyah, mazhab Syafi’iy dan al-Kharqy dari Hanabilah”.

Selanjutnya Dr.Usman Tsbir mentarjih sebagai berikut, “Tetapi pendapat yang paling kuat adalah
pendangan yang membolehkan. Inilah pendapat yang paling nyata (realistis), karena barang (obyek)
yang dibeli dan jasa yang dilakukan, keduanya membutuhkan iwadh’, bisa berlaku masing-masing
dan bisa pula digabung sekaligus. Perbedaan sewa dan beli tidak merusak sahnya akad. Karena
perbedaan hukum (ketentuan) dua akad tidak mencegah sahnya akad. Di antara dalil yang
menguatkan pendapat yang membolehkan penggabungan akad jual beli dan ijarah (two in one),
adalah kaedah dasar dalam pertukaran, Tidak ada dalil yang mengharamkannya. Hukumnya boleh
karena dasar istishab”

Ketiga Hybrid contract, yang akad-akadnya tidak bercampur dan tidak melahirkan nama akad baru.
tetapi nama akad dasarnya tetap ada dan eksis dan dipraktikkan dalam suatu transaksi. Contohnya :

1. Kontrak akad pembiayaan take over pada alternatif 1 dan 4 pada fatwa DSN MUI No 31/2002

2. Kafalah wal ijarah serta qardh dan ijarah pada kartu kredit,

3. Wa’ad untuk wakalah murabahah, ijarah, musyarakah, dll pada pembiayaan rekening koran or line
facility

5. Murabahah wal wakalah pd pembiayaan murabahah basithah.

6. Wakalah bil ujrah pada L/C, RTGS, General Insurance, dan Factoring,

7.Kafalah wal Ijarah pada LC, Bank Garansi, pembiayaan multi jasa / multi guna, kartu kredit.
8.Mudharabah wal murabahah/ijarah/istisna pada pembiayaan terhadap karyawan koperasi
instansi.

9. Hiwalah dan syirkah pada factoring.

10. Rahn wal ijarah pada REPO, SBI dan, SPN dan SBSN

11.Qardh, Rahn dan Ijarah pada produk gadai emas di bank syariah

12. Dalam transaksi pasar uang antar bank syariah yang menggunakan bursa komoditas dibutuhkan
5 akad, yaitu 1. Akad bai’ antara bank surplus (peserta komersial) dengan pedagang komoditas
(peserta komersial), , 2. Akad murabahah antara bank surplus dengan bank deficit (konsumen
komoditas), 3. Akad bai’ antara bank deficit dengan pedagang komoditas ’, 4. Wakalah antara
bank deficit kepada agen atau Bursa Berjangka Jakarta, 5. Akad bai’ muqayadhah, antara sesama
pedagang komodity.

Keempat, Hybrid Contract yang mutanaqidhah (akad-akadnya berlawanan). Bentuk ini dilarang
dalam syariah. Contohnya menggabungkan akad jual beli dan pinjaman (bai’ wa salaf). Contoh
lain, menggabungkan qardh wal ijarah dalam satu akad. Kedua contoh tersebut dilarang oleh nash
(dalil) syariah, yaitu hadits Rasulullah Saw. Contoh lainnya : menggabungkan qardh dengan janji
hadiah

Selain itu, ada pula hybrid contract yang mustatir (tersembunyi), Misalnya, tabungan mudharabah di
bank syariah. Akad yang digunakan pada saat transkasi hanyalah satu akad yakni mudharabah,
namun, sebenarnya dalam akad tersebut tidak cukup hanya satu akad, harus ada akad lain sebagai
tambahan, yaitu kafalah, karena ketika nasabah menarik dana di ATM bersama, bukan ATM bank
bersangkutan, diperlukan akad kafalah. Namun akad tersebut tidak disebutkan, melainkan
tersembunyi (mustatir) karena sudah menjadi ‘urf perbankan dimana setiap tabungan, dapat ditarik
di ATM tertentu (ATM bersama).

Dalam sukuk ijarah, sebenarnya terdapat tiga akad, yaitu akad bai’ (bai’ al-manfa’ah), akad ijarah
dan akad bai’ kembali. Namun, dalam penamaan biasanya disebut sukuk ijarah saja.

Dalam praktek legal (hukum) di lembaga keuangan syariah, ada hybrid contract, yang akad-akadnya
harus dipisahkan dan ada pula yang boleh disatukan dalam satu dokumen (satu materai).
Akad syirkah munataqishah, harus dipisahkan akad-akadnya, akad pertama ialah syirkah milik, dan
akad kedua adalah ijarah yang khusus. Semua ulama mengharuskan terpisahnya dua akad tersebut.

Dalam Gadai syariah terdapat tiga akad, yaitu rahn, qardh (dayn) dan ijarah. Akad rahn dan dain
(hutang), boleh disatukan, karena memang harus bersatu dalam satu kertas, sedangkan akad ijarah
sebaiknya dipisahkan, untuk menghindari kesan penafsiran ijarah itu atas dasar hutang (qardh).
Ijarah tidak terkait dengan qardh, melainkan terkait dengan penyewaaan tempat, keamanan, dsb.

Dalam kartu kredit terdapat dua akad, yaitu kafalah dan ijarah pada ketika pembelian barang di
merchant, dan kedua akad qardh dan ijarah, ketika penarikan uang.

Dalam pembiayaan take over banyak sekali alternative hybrid contract di dalamnya berdasarkan
fatwa DSN MUI No 31/2002. Antara lain, gabungan akad qardh, bai’ dan Ijarah Muntahiyah bit
Tamlik (IMBT) atau murabahah. Jika menggunakan akad murabahah, mirip dengan bai’ al-‘inah,
maka seharusnya dihindari. Akad bai’ dalam pembiyaan take over dapat dilakukan di bawah tangan
(secara fikih saja, tanpa notaris), karena hanya sebagai bridging of financing. Peran notaris
hanyalah ketika akad murabahah berlangsung.

Dalam praktik hedging (tahawwuth) melalui Islamic swap, akadnya juga hybrid, pertama dapat
menggunakan double qardh, kedua sharf biasa dan wa’ad, ketiga, tawarruq timbal balik (double
tawarruq).Semuanya adalah hybrid contract.

Hybrid Contract yang dilarang

• Dalam hadis, Nabi secara jelas menyatakan dua bentuk multi akad yang dilarang,

• 1. Multi akad dalam jual beli (bai’) dan pinjaman ( ‫)بيع و سلف‬,

• 2. Dua akad jual beli dalam satu akad jual beli ( ‫) بيعتين فى بيعة واحدة‬, dan

(Dua akad dalam satu transaksi (‫)صفقتين فى صفقة واحدة‬

1.Menggabungkan akad Bai’ (jual beli ) dan Salaf dan (pinjaman)

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan
pinjaman”. (HR. Ahmad) [1] Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, j. 2, (Beirut: Dâr
al-Ihyâi al-Turâts al-’Araby, 1414 H), cet. ke-3, hal. 178

Contoh seseorang (Ali) meminjamkan (qardh) sebesar 1000 dirham, lalu dikaitkan dengan penjualan
barang yang bernilai 900 dirham,tetapi harga penjualan itu tetap harga 1000 dirham.

Seolah-olah Ali memberi pinjamani 1000 dengan akad qardh, dan menjual barang seharga 900, agar
mendapatkan margin 100 dirham. Di sini Ali memperoleh kelebihan 100, karena harga penjualan
barang menjadi Rp 1000.[1]. Namun menurut Imrani, tidak selamanya diharamkan, karena jika harga
barang sesuai dengan harga pasar, maka tidak menjadi masalah hybrid contract antara qardh dan
jual beli.

[1] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I’lâm al-Muwaqqi’în ‘an Rab al-‘Âlamîn, (Kairo: Maktabah Ibn Taimiyyah,
t.t.), j. 3, hal. 153

Ibn Qayyim berpendapat bahwa Nabi melarang multi akad antara akad salaf (memberi
pinjaman/qardh) dan jual beli, untuk menghindari terjurumus kepada riba yang
diharamkan. Namun, jika kedua akad itu terpisah (tidak tergantung,muallaq) hukumnya boleh.

Penegasan : Larangan ini hendak menunjukkan bahwa qardh tidak boleh dikaitkan dengan akad
apapun, qardh adalah akad tabarru’, bukan akad bisnis.

2. Bai’atan fi Bay’ataini

Larangan penghimpunan dua akad jual beli dalam satu akad jual beli didasarkan pada hadis Nabi
yang berbunyi:

“Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR. Malik)

[1] Imâm Mâlik ibn Anas, Al-Muwaththa’, j. 2, hal. 663


Redaksi hadits yang mirip dengan hadits di atas, adalah shafqatain fi shafqatin wahidah (dua
transaksi dalam satu transaksi).

Banyak tafsir tentang hadits ini Pendapat yang dipilih (râjih) adalah pendapat yang mengatakan
bahwa akad demikian menimbulkan ketidakjelasan harga dan menjerumuskan ke riba.

Misalnya seorang penjual berkata kepada orang banyak di sebuah jamaah, ”Saudara-saudara, saya
menjual barang ini Rp 1 Juta, jika dibayar cash, dan Rp 1,2 juta jika cicilan setahun”. Lalu seorang
yang hadir berkata, “Saya beli”. Di sini telah terjadi ijab dan qabul, sementara harganya tidak jelas,
karena dipilihkan dua macam harga.

Ada pula yang menafsirkan seperti ini : seseorang menjual suatu barang dengan cicilan, dengan
syarat pembeli harus menjual kembali kepada orang yang menjual itu dengan harga lebih rendah
secara kontan. Akad al-’Inah seperti ini merupakan hîlah dari riba. Inilah yang disebut bai’ al’inah.
Menurut Ibnu Qayyim, penafsiran inilah yang paling kuat.

Ketentuan (dhawabith) hybrid Contract

Larangan Hybrid Contract disebabkan beberapa hal :

1. Dilarang karena nash Agama

“Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR. Malik)

[1] Imâm Mâlik ibn Anas, Al-Muwaththa’, j. 2, hal. 663

Larangan penghimpunan dua akad jual beli dalam satu akad jual beli didasarkan pada nash hadis

“Dari Abu Hurairah, berkata: “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli”. (HR. Malik)

[1] Imâm Mâlik ibn Anas, Al-Muwaththa’, j. 2, hal. 663

Dalam sebuah hadis disebutkan:

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah melarang jual beli dan pinjaman”. (HR. Ahmad)

[1] Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, j. 2, (Beirut: Dâr al-Ihyâi al-Turâts al-
’Araby, 1414 H), cet. ke-3, hal. 178

Selain perspektif nash agama, larangan ini sesungguhnya dikarenakan transaksi itu mengandung riba
dan gharar.

2. Dilarang karena Hilah kepada Riba

• Contohnya ialah Jual Beli al-I’nah. Jual beli dilarang karena hilah kepada riba.

• Contoh berikutnya ialah praktik tawarruq munazzam yang berputar dan bank surplus bertindak
juga sebagai wakil pembeli dalam menjual barang ke agen di bursa sebagaimana yang difatwakan
ulama OKI.

• Contoh berikutnya menggabungkan akad tawarruq, wakalah dan wadi’ah untuk pembiyaaan multi
guna. Di mana pihak ketiga adalah anak perusahaan dari Bank Islam yang memberikan dana.
3. Multi akad menyebabkan jatuh ke riba.

• Setiap multi akad yang mengantarkan pada yang haram, seperti riba, hukumnya haram, meskipun
akad-akad yang membangunnya adalah boleh, seperti menggabungkan qardh dengan janji hadiah.

• Penghimpunan beberapa akad yang hukum asalnya boleh namun membawanya kepada yang
dilarang menyebabkan hukumnya menjadi dilarang. seperti : multi akad antara akad salaf dan jual
beli. Contoh, Saya meminjamkan uang kepada anda sebesar Rp 1 juta, dengan ketentuan anda harus
membeli Hand phone saya dengan harga sekian.

• Multi akad : Gabungan qardh dan hibah/manfaat lain dilarang syariah. Ulama sepakat
mengharamkan qardh yang dibarengi dengan persyaratan imbalan lebih, berupa hibah atau lainnya.
Contoh, seseorang, (misalnya Ahmad) meminjamkan uang kepada si B, dengan syarat Ahmad
menempati rumah si B. Contoh lain : Saya pinjamkan kpd anda uang Rp 200.000. tapi saya pakai
motor anda selama 3 hari. Termasuk dalam kategori ini menggabungkan Qardh dgn Ijarah dalam
satu transaksi, kecuali ijarahnya sebatas biaya operasional, yaitu untuk menutupi riel cost.

• Malikiyah melarang multi akad dari akad-akad yang berbeda hukumnya, seperti antara akad qardh
dengan ijarah., [1]
[1] Al-‘Imrâni, Al-’uqûd al-Mâliyah al-Murakkabah, hal. 181 – 182 .

4. Multi akad menyebabkan jatuh ke gharar. Misalnya sebuah perusahaan multifinance menjual
mobil kepada nasabah, dengan harga tertentu, misalkan Rp 250 juta untuk masa 24 bulan, tanpa
urbun di awal. Namun perusahaan itu menawarkan beberapa alternative besaran urbun, tanpa
ditetapkan (dipilih) salah satu alkternatif besaran urbunnya. Jika urbun dibayar bulan ke enam ,
harganya lebih murah, jika bulan ke 13 harga urbunnya sekian, dst. Dengan beragamnya harga
tersebut, maka tidak ada kepastian harga pembelian barang tersebut.Inilah yang disebut dengan
gharar.

Perbankan syariah, harus memperbaiki diri dalam peningkatan kualitas SDM-nya dengan
melaksanakan training dan workshop intensif mengenai inovasi produk. Selain itu, para bankir bank
syariah bisa mengikuti kuliah S2 (pascasarjana) ekonomi syariah konsentrasi perbankan syariah. Di
Jakarta, sudah dikembangkan S2 ekonomi Islam di banyak Perguruan Tinggi, seperti S2 Manajemen
Perbankan dan Keuangan Islam Universitas Paramadina, S2 Islamic Economics and Finance
Univertsitas Trisakti, S2 Ekonomi syariah Universitas Indonesia (UI), S2 Ekonomi Islam Universitas Az-
Zahra. Daerah lain seharusnya sudah melakukan kegiatan akademis yang sama. Minimal setiap
provinsi terdapat sebuah Perguruan Tinggi yang membuka program S2 ekonomi syariah yang
mengikuti perkembangan keuangan modern.

ontracts sebenarnya bukanlah teori baru dalam khazanah fiqih muamalah. Para ulama klasik Islam
sudah lama mendiskusikan topik ini berdasarkan dalil-dalil syara’ dan ijtihad yang shahih. Namun,
dalam kajian fiqih muamalah di pesantren bahkan di Perguruan Tinggi Islam, isu ini kurang banyak
dibahas, karena belum banyak bersentuhan dengan realita bisnis di masyarakat. Pada masa
kemajuan lembaga keuangan dan perbankan di masa sekarang, konsep dan topic hybrid
contracts kembali mengemuka dan menjadi teori dan konsep yang tak terelakkan. Sejumlah buku
dan karya ilmiah pun bermunculan membahas dan merumuskan teori al-‘ukud al-
murakkabah (hybrid contracts) ini, terutama karya-karya ilmiah dari Timur Tengah.
Tanpa memahami konsep dan teori hybrid contracts, maka seluruh stake holders ekonomi syariah
akan mengalami kesalahan dan kefatalan, sehingga dapat menimbulkan kemudhratan, kesulitan dan
kemunduran bagi industri keuangan dan perbankan syariah. Semua pihak yang berkepentingan
dengan ekonomi syariah, wajib memahami dan menerapkan konsep ini, mulai dari dirjen pajak,
regulator (BI dan OJK), bankers/praktisi LKS, DPS, notaris, auditor, akuntan, pengacara, hakim,
dosen (akademisi), dsb. Jadi semua pihak yang terkait dengan ekonomi dan keuangan syariah wajib
memahami teori dan praktek ini dengan tepat dan dengan baik.

Setidaknya terdapat 10 alasan utama mengapa teori dan praktek hybrid contracts, perlu dan wajib
diketahui terutama oleh praktisi keuangan/perbankan syariah, regulator, pejabat pajak, pakar
ekonomi Islam, DPS, akuntan, notaries, auditor dan praktisi hukum ekonomi syariah:

Pertama, karena hybrid contracts terkait dengan pajak. Banyak produk perbankan dan keuangan
syariah yang mengandung hybrid contracts, seperti Musyarakakah Mutanaqishah (MMq), Ijarah
Muntahiyah bit Tamlik (IMBT), pembiayaan take over, pembiayaan rekening koran, line facility,
pasar uang syariah dengan commodity syariah dan masih banyak lagi. Pejabat dirjen pajak harus
memahami teori hybrid contracts dengan tepat agar tidak salah dalam penagihan pajak.

Kedua, hybrid contracts terkait dengan akuntansi dan PSAK, karena dari sekian banyak akad dalam
sebuah produk pembiayaan, harus diketahui akad mana yang dicatatkan dalam pembukuan. Dalam
akad MMq misalnya, apakah akad ijarah atau musyarakah yang dicatatkan, demikian pula dalam
hybrid contracts lainnya, seperti kafalah bil ujrah pada L/C, hiwalah bil ujrah pada anjak piutang,
wakalah bil ujrah pada factoring, produk gadai yang mengandung tiga akad, rahn, qardh dan ijarah.
Apakah penerapan hybrid contracts membutuhkan PSAK baru yang lebih relevan dengan teori
hybrid contracts.

Ketiga, hybrid contracts sangat terkait dengan inovasi produk. Bank-bank syariah yang ingin
mengembangkan dan menginovasi produk harus memahami teori hybrid contracts agar bank syariah
bisa unggul dan dapat bersaing dengan konvensional. Dengan demikian, peranan hybrid contracts
sangat penting bagi industri perbankan dan keuangan. Jangan sampai terjadi banker syariah menolak
peluang yang halal karena kedangkalan keilmuan tentang teori-teori pengembangan akad-akad
syariah. Untuk itu teori hybrid contracts harus digunakan dan dipahami dgn baik agar bank syariah
bisa lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan produk-produknya. Selain itu hybrid contracts
terkait dengan manajemen risiko, termasuk risiko hukum, karena itu praktisi bank syariah mutlak
harus memahami teori dan prakteknya

Keempat, hybrid contracts terkait dengan regulasi. Para regulator (Bank Indonesia dan para direktur
lembaga keuangan syariah di OJK) harus memahami dengan baik teori dan praktek ini agar tidak
salah dalam membuat aturan. Kesalahan dalam membuat regulasi, akan berbahaya dan
mengganggu pengembangan bank syariah dan LKS.

Kelima, hybrid contracts terkait dengan putusan hakim di Pengadilan, putusan arbitrer di Basyarnas
dan terkait dengan risiko hukum. Para hakim yang menyelesaikan sengketa ekonomi syariah wajib
memahami ini. Berapa banyak putusan pengadilan yang salah, akibat tidak memahami teori hybrid
contracts, contoh kasus pembiayaan take over di Bukit Tinggi. Maka pengacara syariah juga harus
mengerti tentang teori dan praktik hybrid contracts agar tidak salah dalam melihat akad yang serba
hybrid, seperti musyarakah mutanaqishah, pembiayaan take over, novasi, IMBT, dll
Keenam, hybrid contracts terkait dgn struktur draft kontrak. Teori hybrid contracts akan memandu
(memberi pedoman) kepada legal officer dan notaris, akad-akad apa saja yang bisa disatukan dalam
satu draft perjanjian (kontrak) dan akad-akad apa saja yang harus dipisahkan. Bahkan sampai kepada
akad-akad apa saja yang harus dinotarilkan dan akad-akad apa saja yang dibuat di bawah tangan.

Ketujuh, hybrid contracts terkait dengan aspek syariah (syariah compliance). Apakah hybrid
contracts (multi akad) itu mengandung riba atau gharar, apakah hybrid itu mengandung ta’alluq
yang diharamkan, apakah hybrid contracts itu termasuk akad bay’atain fi bay’atin atau shafqatain fi
shafqah. Bagaimana penafsiran para ulama tentang hadits itu. Apa dan bagaimana dalil mereka?,
Pendapat mana yang paling rajih (kuat) dan paling maslahah. Bagaimana pula akad hybrid yang
muallaq), dsb. Semua pertanyaan itu dibahas secara tuntas dan mendalam dalam workshop hybrid
contracts.

Kedelapan, hybrid contracts terkait dengan biaya (cost) notaris. Kalau notaries tidak memahami
teori hybrid, maka semua akad-akad dalam satu produk, akan dikenakan biaya, semakin banyak akad
dalam satu produk, maka akan semakin banyak biayanya. Misalnya produk pembiayaan take over
terdiri dari 3 akad, MMq terdiri dari 4 akad, IMBT terdiri dari 2 akad ditambah wa’ad, kartu kredit
terdiri dari 3 akad, gadai (bisa) terdiri dari 3 akad, ijarah bertingkat (dua akad), begitu pula ijarah
multijasa. Bahkan pembiayaan murabahah bisa terdiri dari 3 akad, murabahah, wakalah dan
jaminan. Berhubung banyaknya akad dalam satu produk, maka teori hybrid contracts ini harus
dipahami notaries dan legal officer dengan baik.

Kesembilan, hybrid contracts terkait dengan hukum positif (harmonisasi) dgn hukum positif. Hal ini
termasuk masalah penting, karena banyak sekali notaries yang salah paham tentang akad-akad
syariah, karena tidak memahami teori syariah tentang hybrid contracts. Hybrid contracts dirumuskan
kadang sebagai makharij (jalan keluar) untuk mewujudkan sharia compliance yaitu agar kontraknya
halal dan sesuai syariah, karena itu semua akad itu harus dilaksanakan walaupun kelihatan seperti
berputar (berbelit), tetapi semua itu dimaksudkan untuk kepatuhan kepada syariah, Dalam
prakteknya, terkadang tidak semua akad-akad itu harus dinotarilkan sebagai akad otentik. Hal ini
terjadi misalnya dalam akad pembiayaan KPR melalui Musyarakah Mutanaqishah, termasuk
pembiayaan take over, instrument commodity syariah untuk pasar uang, pembiayaan multiguna
syariah, hedging dengan Islamic swap, dan sebagainya.

Kesepuluh, hybrid contracts terkait dengan ke-simple-an dan efisiensi. Tanpa memahami teori
hybrid contracts selalu terjadi pemborosan (tenaga dan kertas) dan pengulangan pasal-pasal
perjanjian yang tidak perlu. Seringkali terjadi format-format akad yang terlalu tebal, karena pasal-
pasalnya berulang-ulang di setiap judul akad, dan ini menimbulkan pemborosan tenaga, kertas, dan
biaya lainnya, seperti yang telah terjadi saat ini dimana praktisi perbankan memisahkan akad
Musyarakah Mutanaqishah dan ijarah, padahal keduanya bisa disatukan, sehingga lebih efisien dan
simple, Demikian pula pada pembiayaan take over, sindikasi dan lain-lain sebagainya. (sbb/dkw

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/10/39086/urgensi-teori-dan-praktik-hybrid-
contracts-dalam-pengembangan-produk-perbankan-dan-keuangan-syariah/#ixzz492EtU6RG
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook