Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Dalam pengelolaan limbah B3, identifikasi dan karakteristik limbah B3 adalah hal
yang penting dan mendasar. Didalam pengelolaan limbah B3, prinsip pengelolaan tidak
sama dengan pengendalian pencemaran air dan udara yang upaya pencegahanna di poin
source sedangkan pengelolaan limbah B3 yaitu from cradle to grave. Yang dimaksud
dengan from cradle to grave adalah pencegahan pencemaran yang dilakukan dari sejak
dihasilkannya limbah B3 sampai dengan di timbun / dikubur (dihasilkan, dikemas,
digudangkan / penyimpanan, ditransportasikan, di daur ulang, diolah, dan ditimbun /
dikubur). Pada setiap fase pengelolaan limbah tersebut ditetapkan upaya pencegahan
pencemaran terhadap lingkungan dan yang menjadi penting adalah karakteristik limbah
B3 nya, hal ini karena setiap usaha pengelolaannya harus dilakukan sesuai dengan
karakteristiknya.
Menurut PP 18 Tahun 1999 tentang pengelolaan limbah B3, pengertian limbah B3
adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan / atau
beracun yang karena sifat dan / atau konsentrasinya dan / atau jumlahnya, baik secara
langsung dapat mencemarkan dan / atau merusak lingkungan hidup, dan / atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, keangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lainnya.
Dari definisi diatas, semua limbah yang sesuai dengan definisi tersebut dapat
dikatakan sebagai limbah B3 kecuali bila limbah tersebut dapat mentaati peraturan
tentang pengendalian air dan atau pencemaran udara. Misalnya limbah cair yang
mengandung logam berat tetapi dapat diolah dengan water treatment dan dapat
memenuhi standat effluent limbah yang dimaksud maka, limbah tersebut tidak dikatakan
sebagai limbah B3 tetapi dikategorikan limbah cair yang pengawasannya diatur oleh
Pemerintah.

II. Definisi
1. Limbah B3 adalah : Sisa suatu usaha dan atau kegiatan yg mengandung bahan
berbahaya dan atau beracun yg karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan
atau merusakkan LH, dan atau dapat membahayakan LH, kesehatan, kelangsungan
hidup manusia serta makhluk hidup lainBahan berbahaya adalah zat, bahan kimia dan
biologi, baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan

1
kesehatan dan lingkungan hidup secara langsung atau tidak langsung, yang
mempunyai sifat racun, karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi.
2. LDP (Lembar Data Pengaman) adalah lembar petunjuk yang berisi informasi tentang
sifat fisika, kimia dari bahan berbahaya, jenis bahaya yang dapar ditimbulkan, cara
penanganan dan tindakan khusus yang berhubungan dengan keadaan darurat di dalam
penangana.n bahan berbahaya.
3. Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usahaatau kegiatan yang
mengandung bahan berbahaya atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya dan
jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan
merusak lingkungan hidup, serta dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
4. Bahaya (hazard) adalah suatu keadaan yang berpotensi menimbulkan dampak
rnerugikan atau menimbulkan kerusakan.

III. Tujuan Panduan Bahan dan Limbah Berbahaya


1. Tujuan Umum
Sebagai pedoman pelaksanaan manajemen pengelolaan bahan dan limbah
berbahaya yang merupakan salah satu upaya rumah sakit dalam mencegah
pencemaran lingkungan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengelola material yang diketahui memiliki potensi membahayakan bagi manusia
maupun lingkungan.
b. Meminimalkan risiko bahaya maupun cedera.
c. Mengevaluasi risiko yang dapat mengancam hidup maupun kesehatan pasien,
pengunjung dan staf rumah sakit.
d. Mencegah terjadinya resiko terkena bahan dan limbah berbahaya pada petugas
kesehatan, pasien, keluarga dan masyarakat.
e. Sebagai panduan dalam meminimalisasi dampak buruk atau pencemaran
lingkungan

2
BAB II

RUANG LINGKUP

I. Ruang lingkup
1. Penggunaan manajemen linen diterapkan kepada semua ruangan yang
menghasilkan bahan dan limbah berbahaya.
2. Pelaksana Panduan ini adalah petugas kesehatan yang bertugas mengelola bahan
dan limbah berbahaya.

II. Pengertian Mengenai Insiden


1. Kecelakaan
Adalah suatu rangkaian kejadian yang dapat menirnbulkan cidera pada manusia,
kerusakan pada peralatan & lingkungan dan dapat mengakibatkan kehilangan
wakru jam kerja
a. Penggolongan Kecelakaan
 Hampir celaka
Adalah suatu kejadian hampir kecelakaan yang tidak menimbulkan cidera
pada manusia atau kerusakan pada peralatan, namun berpotensi mejadi
cidera ataupun kerusakan peralatan / lingkungan bila mana tidak segera
ditanggulangi.
 Ringan
Yang mendapat pertolongan pertama (first aid) tetapi tidak menimbulkan
kehilangan hari / waktu jam kerja.
 Sedang
Kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan diduga tidak
akar menimbulkan kehilangan hari kerja dan tidak akan menimbulkan
cacat jasmani atau rohani yang akan mengganggu tugas pekerjaannya.
 Berat
Kecelakaan yang menimbulkan kehilangan hari kerja dan diduga akan
menimbulkan cacatan jasmani dan rohani yang akan mengganggu tugas
pekerjaannya.
 Fatal
Kecelakaan yang mengakibatkan kematian segera atau dalam jangka
waktu 24 (dua puluh empat) jarn setelah terjadi kecelakaan.\

3
2. Kebakaran
Adalah suatu kejadian dan suatu proses oksidasi yang berlangsung secara cepat
dan suatu zat yang dapat terbakar dan tidak terkontrol, mengeluarkan energi dalam
bentuk panas dan cahaya
3. Pencemaran Lingkungan
Adalah suatu masuknya dan dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau
berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam,
sehingga kualitas lingkungan turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukkannya.
4. Pelaporan Insiden
Sistem pelaporan insiden adalah menggunakan formulir-formulir perusahaan yang
telah tersedia, seperti formulir laporan pendahuluan kecelakaan kerja, formulir
laporan kecelakaan, formulir hampir celaka, formulir laporan kebakaran dan
formulir laporan pencemaran lingkungan.
5. Laporan insiden diisi lengkap oleh pengawas yang berwenang dilapangan dengan
rangkap sesuai kebutuhan yang diperlukan ditambah satu lembar ke pemberi kerja
(owner). Laponan ditujukan kepada pengawas / kepala HSE.
6. Kejadian yang membutuhkan investigasi khusus dilaksanakan dengan membentuk
tim koordinasi antara owner dan pihak perusahaan.
7. Bahwa semua bahan kimia berbahaya dan beracun yang dapat menimbulkan
insiden dan cidera sementara maupun tetap pada manusia saat penyimpanan,
penggunaan dan pembuangan perlu diawasi, mudah diidentifikasi dan dikelola
dengan baik.

III. Dasar Hukum


1. UU No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. PP RI No.18 / 1999 Jo. PP No.85/ 1999 tentang pengelolaan limbah bahan
berbahaya dan beracun.
3. Kepdal 01/BAPEDAL/09/1995 tentang tata cara dan persyaratan teknik
penyimpanan dan pengumpulan limbah B3.
4. Kepdal 02/BAPEDAL/09/1995 Dokumen limbah B3.
5. Kepdal 03/BAPEDAL/09/1995 tentang Persyaratan teknis pengolahan limbah
B3.
6. Kepdal 04/BAPEDAL/09/1995 tentang tata cara penimbunan hasil pengolahan.
7. Kepdal 05/BAPEDAL/09/1995 tentang Simbol dan Label.
8. Kepdal 68/BAPEDAL/01/1998 tentang tata cara memperoleh izin pengelolaan
limbah B3.

4
9. Kepdal 02/BAPEDAL/01/1998 tentang tata laksana pengawasan pengelolaan
limbah B3.
10. Kepdal 03/BAPEDAL/01/1998 tentang program kendali B3.
11. Kepdal 04/BAPEDAL/01/1998 tentang penetapan prioritas daerah tingkat 1
program kendali B3.
12. Kepdal 255/BAPEDAL/08/1996 tentang tata cara dan persyaratan penyimpanan
dan pengumpulan minyak pelumasbekas.

5
BAB III
TATA LAKSANA

I. Pemasangan Label dan Tanda Pada Bahan Berbahaya


Pemasangan label dan tanda dengan memakai lambang atau tulisan peringatan
pada wadah atau tempat penyimpanan untuk bahan berbahaya adalah tindakan
pencegahan yang esensial. Tenaga kerja yang bekerja pada proses produksi atau
pengangkutan biasanya belum mengetahui sifat bahaya dari bahan kimia dalam
wadah/packingnya, demikian pula para konsumen dari barang tersebut, dalam hal
inilah pemberian label dan tanda menjadi sangat penting.

Peringatan tentang bahaya dengan label dan tanda merupakan syarat penting
dalam perlindungan keselamatan kerja, namun hal tersebut tidak dapat dianggap
sebagai perlindungan yang sudah lengkap, usaha perlindungan keselamatan lainnya
masih tetap diperlukan. Lambang yang umum dipakai untuk bahan kimia yang
memiliki sifat berbahaya adalah sebagai berikut:

Keterangan :
E = Dapat Meledak T = Beracun
F+ = Sangat Mudah Terbakar C = Korosif
F = Mudah Terbakar Xi = Iritasi
O = Pengoksidasi Xn = Berbahaya Jika Tertelan
T+ = Sangat Beracun N = Berbahaya Untuk Lingkungan

II. Kebijakan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)


1. Semua bahan kimia harus dilengkapi dengan label ataupun catalog yang
ditempatkan pada kontainer atau wadahnya yang berfungsi untuk mempermudah
identifikasi bahaya dan memberikan informasi tentang cara penyimpanan,
penanganan dan transportasinya.

6
2. Dalam penerimaan bahan kimia fungsi yang bertugas menerima barang agar
memeriksa kelengkapan label pada bahan tersebut (ada / terpasang pada kontainer
atau wadahnya) serta kelengkapan MSDS dari bahan kimia tersebut,

III. Identifikasi Limbah Bahan Berbahaya dan Baracun (B3)


1. Alasan diperlukannya identifikasi limbah B3 adalah:
a. mengklasifikasikan atau menggolongkan apakah limbah tersebut merupakan
limbah B3 atau bukan.
b. menentukan sifat limbah tersebut agar dapat ditentukan metode penanganan,
penyimpanan, pengolahan, pemanfaatan atau penimbunan.
c. menilai atau menganalisis potensi dampak yang ditimbulkan tehadap
lingkungan, atau kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya
2. Tahapan yang dilakukan dalam identifikasi limbah B3 adalah sebagai berikut:
a. Mencocokkan jenis limbah dengan daftar jenis limbah B3 sebagaimana
ditetapkan.
b. Apabila tidak termasuk dalam jenis limbah B3 seperti lampiran tersebut, maka
harus diperiksa apakah limbah tersebut memiliki karakteristik: mudah
meledak, mudah terbakar, beracun, bersifat reaktif, menyebabkan infeksi dan
atau bersifat infeksius.
c. Apabila kedua tahap telah dijalankan dan tidak termasuk dalam limbah B3,
maka dilakukan uji toksikologi.

IV. Penggolongan Bahan Kimia


Secara umum bahan kimia berbahaya diklarifikasikan menjadi beberapa golongan,
diantaranya:
1. Bahan kimia beracun (Toxic)
Adalah bahan kimia yang dapat menyebabkan bahaya terhadap kesehatan manusia
atau menyebabkan kematian apabila terserap kedalam tubuh karena tertelan, lewat
pernafasan atau kontak lewat kulit.
2. Bahan kimia korosif (Corrosives)
Adalah bahan kimia yang karena reaksi kimia dapat mengakibatkan kerusakan
apabila kontak dengan jaringan tubuh atau bahan lain.
3. Bahan mudah terbakar
Yaitu bahan kimia yang sangat mudah bereaksi dengan zat oksigen dan
menimbulkan bahaya kebakaran.
4. Bahan Peledak

7
Adalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang karena suatu reaksi
kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu
yang tinggi sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya,
5. Bahan kimia oksidator (Oxidation Agents)
Adalah suatu bahan kimia yang mungkin tidak mudah terbakar, tetapi dapat
menghasilkan oksigen yang dapat menyebabkan kebakaran bahan-bahan lainnya.
6. Bahan kimia reaktif terhadap air (Water sensitive substances)
Adalah bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan air dengan mengeluarkan
panas dan gas yang mudah terbakar.
7. Bahan kimia reaktif terhadap asam (Acid sensitive subtances)
Adalah bahan-bahan kimia yang amat mudah bereaksi dengan asam yang
menghasilkan panas dan gas yang mudah terbakar atau gas-gas yang beracun atau
korosif
8. Gas bertekanan (Compresed gases)
Adalah gas yang disirnpan dibawah tekanan, baik gas yang ditekan maupun gas
cair atau gas yang dilarutkan dalanm pelarut tekanan.
9. Bahan radioaktif (Radioactive subtance)
Adalah bahan kimia yang mempunyai kemampuan memancarkan sinai-sinar
radioaktif lebih besar dan 0.002 microcunie / gram.

V. Sifat Bahan Kimia


1. Sebelum suatu bahan kimia dipakai untuk pertarna kalinya, komposisi dan sifat
bahan kimia tersebut harus diketahui dan dievaluasi unruk menentukan potensi
bahaya terhadap manusia (pekerja).
2. Data lengkap tentang sifat fisik bahan dan bahaya kebakaran yang mungkin
timbul, harus diketahui oleh pekerja yang terkait yaitu tentang penyimpanan,
penanganan dan pengangkutan bahan kimia berbahaya tersebut, serta tantang jenis
peralatan pelindung yang sesuai yang harus dipakai serta sarana pertolongan
pertama yang diperlukan

VI. Penanganan Bahan Berbahaya dan beracun (B3)


1. Penanganan yang baik dan terkoordinasi harus dilakukan mulai dan perencanaan,
pembelian dan juga pemakaian sampai dengan pembuangan.
2. Pengadaan dilakukan berdasarkan kebutuhan akan B3 diunit pelayanan sesuai
dengan ketentuan RS
3. Setiap orang yang bekerja dengan pekerjaan penyimpanan, pengangkutan atau
penyaluran bahan-bahan kimia berbahaya dan orang yang melakukan
pengoperasian dan perbaikan peralatan yang berisi bahan kimia berbahaya harus

8
memahami tentang bahaya yang terkandung didalamnya serta cara pertolongan
pertama bila terjadi insiden.
4. Pengawasan yang ketat terhadap penanganan / penggunaan bahan kimia
berbahaya dan beracun harus diterapkan dengan sistem ijin kerja (permit system)
yang berlaku dan pihak pemberi kerja (owner).
5. Bahan mudah terbakar seperti alcohol , ditempatkan pada area yg jauh dari panas
dilakukan berdasarkan kebutuhan akan B3 di unit pelayanan
6. Bahan kimia ditempatkan di gudang medis di lemari B3
7. Bahan-bahan berbahaya yang tidak memiliki resiko terbakar ditempatkan dilemari
penyimpanan biasa
8. Penyimpanan di unit pelayanan: ruang perawatan menyimpan bahan yang dipakai
sesuai dengan kebutuhan dalam 1 minggu, yang disimpan di lemari penyimpanan
bahan berbahaya di gudang ruangan. Jumlah Bahan yang disimpan hanya untuk
memenuhi kebutuhan 1 minggu pengambilan B3 dilakukan setiap hari ke gudang
rumah sakit
9. Bejana atau bak penampung yang berisi bahan kimia berbahaya yang tidak
tertutup, harus dilengkapi dengan pagar pengaman atau alat lain untuk mencegah
agar orang tidak jatuh kedalamnya atau terkena percikan bahan tersebut. Jembatan
penghubung yang menyeberangi bejana atau bak penampung harus memiliki
pegangan (hand - rail. dan tapakan yang sekiranya kuat dan aman.
10. Setiap bahan kimia harus didaftar, dicatat dalam bentuk daftar (list) termasuk
lokasi penggunaannya sehingga mempermudah efektifitas pengendaliannya.
11. Jalur pipa berisi bahan kimia berbahaya dan korosi harus diproteksi sehingga bila
ada kebocoran tidak mengenai orang yang lewat.
12. Tanda peringatan harus dipasang untuk memberitahu pekerja bahwa unit atau
daerah itu mengandung bahan kimia berbahaya. Dianjurkan untuk menggunakan
tanda-tanda standar warna yang sudah ditentukan.

VII. Penyimpanan Bahan Berbahaya dan Beracun


Apabila diperlukan penampungan sementara untuk menampung limbah berbahaya
dan beracun, maka persyaratan bagi lokasi dan tempat penampungan sementara ini
harus mempunyai izin dari pemerintah dan juga mendapatkan persetujuan dari pihak
terkait agar nantinya lokasi untuk tempat penampungan sementara ini tidak
mengganggu lingkungan. Cara penyimpanannya sebagai berikut :
1. Bahan kimia harus disimpan secara terpisah dengan bahan lainnya dan hanya
orang atau pekerja yang diberi wewenang yang dibenarkan / diberi masuk ke
gudang tempat penyimpanan bahan kimia, tempat bahan kimia harus diberi label

9
yang menyatakan dengan jelas tentang isi, instruksi pabrik serta persyaratan
penyimpanan bahan kimia berbahaya didalamnya.
2. Bahan kimia yang dapat atau mudah bereaksi tidak boleh disimpan saling
berdekatan.
3. Rak-rak kaca tidak boleh dipakai sebagai tempat penyimpanan bahan kimia
berbahaya.

VIII. Pengangkutan
Metode pengangkutan yang digunakan harus memenuhi persyaratan kelayakan
dan peraturan tentang pengangkutan limbah beracun limbah berbahaya. Keselamatan
dan dampak pencemaran terhadap lingkungan dapat dicegah atau diminimalisir.
Distribusi bahan berbahaya (radiologi dan lab) diambil dari gudang rumah
sakit untuk dibawa ke unit pelayanan menggunakan troly dengan kemasan asli dari
produsen.

IX. Pembuangan Limbah Berbahaya


1. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dihancurkan ke incinerator oleh PT
Tenang Jaya Sejahtera.
2. Limbah farmasi: dibuang ke saluran IPAL untuk limbah cair dan ke incinerator
untuk limbah padat yang dibungkus dengan kantong plsatik warna merah dengan
tali rafia merah.
3. Limbah Infeksius dan benda tajam: dibungkus dengan kantong plastic kuning dan
dikumpulkan ke tempat penampungan sementara, sedangkan benda tajam
dikumpulkan dalam container dan dikumpulkan ke tempat penampungan
sementara kemudian dihancukan ke incenerator oleh pihak ketiga (PT Tenang
Jaya Sejahtera)
4. Limbah kimia: seperti gula, asam amino, garam tertentu dibuang ke saluran IPAL,
limbah kimia cair dari ruangan radiologi ditampung dalam jirigen tertutup yang
selanjutnya dikirim ke rekanan terkait untuk pemusnahannya.
5. Transportasi Limbah ke Tempat Pembuangan Limbah Sementara.
Berkaitan dengan jalur transportasi rutin pembuangan limbah yang sama
dengan jalur lalu lintas staf, pengunjung dan juga alat/ bahan bersih maka
ditentukan jadwal untuk waktu pembuangan limbah yang meminimalkan kontak
dengan hal diatas yaitu sehari 2 kali, pagi jam 06.00 WIB dan sore jam 14.00
WIB. Limbah infeksious dari ruangan menular dibungkus double dengan plastic
berwarna kuning bila berasal dari ruangan infectious pada saat transport ke tempat
pembuangan akhir di rumah sakit. Sampah yang telah terkumpul max dengan
volume 2/3 dari plastic penampung dan paling lama tersimpan selama 2 x 24 jam,

10
diikat dan dibawa ke penampungan akhir sampah di RS. Untuk limbah cair dari
instalasi sterilisasi, Gizi, Kamar operasi, Laboratorium, dan unit pelayanan pasien
masuk ke saluran IPAL Rumah sakit.
Untuk menjamin agar limbah cair medis yg dihasilkan Rumah sakit aman bagi
lingkungan maka dilakukan control melalui ikan yang ditempatkan di bak control
disamping juga dilakukan uji kualitas air dilakukan 1(satu) bulan sekali

KATEGORI KANTONG KETERANGAN


PLASTIK
Infeksius Merah Seharusnya kuning, tapi karena sulitnya
dengan tali mencari kantong plastik kuning disepakati
rafia kuning menggunakan kantong plastik merah yang
diikat tali rafia kuning. Kantong plastic
kuat, anti bocor.
Limbah kimia dan Merah tali Seharusnya coklat, tapi karena sulitnya
farmasi rafia merah mencari kantong plastik coklat disepakati
menggunakan kantong plastik merah yang
diikat tali rafia merah . Kantong plastic
kuat, anti bocor.
Non infeksius Hitam Kantong plastic kuat, anti bocor, yang
dengan tali diikat tali rafia hitam
rafia hitam

X. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan


Penanggulangan keadaan darurat bahan kimia berbahaya / senyawa timah hitam.
harus sesuai dengan prosedur / SOP dan juga sesuai dengan peraturan dan perundang-
undangan pemenintah yang ada, agar dalam penanganan dan penanggulangannya
dapat dilaksanakan dengan benar dan terkoordinasi dengan baik sehingga tidak
menimbulkan bahaya atau dampak negatif bagi pekerja/ manusia dan juga lingkungan
sekitar.
1. Prosedur emergency terhadap tumpahan dan kebocoran
Tumpahan dan kebocoran dalam jumlah besar membutuhkan penanganan
emergency-(mengacu pada penatalaksanaan kedaruratan/ bencana)
2. Fasilitas lapangan : shower dan eyewash harus dipasang didekat peralatan yang
berisi bahan kimia berbahaya dan berpotensi mengalami kebocoram Pekerja
disekitarnya harus memahami tata cara penggunannya

11
3. Perawatan jika terkena bahan kimia, baik pada mata ataupun tubuh make segera
dicuci / dibilas bagian tubuh yang terkena bahan kimia dengan menggunakan air
bersih lalu kemudian menghubungi bagian kesehatan untuk mendapatkan
perawatan selanjutnya.
4. Penanganan bila terkena B3 pada tubuh: semua B3 digunakan sesuai dengan
Material Safety Data Sheet (MSDS)
5. Penatalaksanaan tumpahan dengan peralatan dan prosedur perlindungan yang
sesuai : tangan, tissue/ koran untuk mengambil tumpahan, disemprotkan
desinfektan lalu di lap.
6. Tumpahan mercuri dengan menggunakan spill kit mercuri: sarung tangan, masker,
gaun dan topi; spuit 10 cc, serbuk belerang, spon, kuas, zip lock
7. Tumpahan citotocic dengan menggunakan: sarung tangan , masker N95, gaun,
topi, google, sepatu boot; cairan deterjen; lap absorband.

XI. Koordinasi dan Kewenangan


1. Direktur melalui Wadir Penunjang menerima laporan tim K3RS mengenai
pelaksanaan program pengendalian B3 dan memberikan dukungan untuk
memfasilitasi kelanjutan program dari segi pembiayaan maupun kebijakan
2. Tim K3RS melakukan pengelolaan terhadap B3 dan limbah berbahaya dengan
berkoordinasi dg Sub Bid. Kesehatan Lingkungan
3. Staf yang bertanggungjawab terhadap penggunaan B3 dan limbah berbahaya ini
bertanggungjawab untuk untuk menggunakan dan pengelolanya dengan aman
sesuai SPO

XII. Evaluasi
1. Tim K3RS menyusun program monitoring terhadap pengelolaan B3 dan limbah
berbahaya rumah sakit
2. Program monitoring menjadi satu dengan program inspeksi Penatalaksanaan
Fasilitas dan keselamatan RS
3. Menyusun perencanaan dari hasil monitoring
4. Menyusun laporan perkembangan dari hasil monitoring dengan analisis dan
rekomendasi untuk peningkatan pengelolaan B3 dan limbah yang aman bagi
lingkungan dan staf serta pasien dan pengunjung. Laporan yang dibuat secara
rutin setiap 6 bulan sekali kepada Direktur.
5. Hospital Hazardous and Waste Management Plan ini dievaluasi setiap 2 tahun
oleh tim K3RS

12
BAB IV

DOKUMENTASI

Pendokumentasian ada di rekam medis

13

Anda mungkin juga menyukai