Anda di halaman 1dari 2

5.

Samudera Illahi

Allah telah berfirman dalamAl-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 216 :

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui,"

Ada seorang ulama yang mengatakan, untuk dapat lebih memahami maksud firman Allah tadi,
kita dapat merujuk pada pengalaman nabi Musa as. ketika ia berguru kepada Khidir as.
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, nabi Musa as pernah disuruh Tuhan berguru kepada
seorang hamba saleh yang bernama Khidhir. Persyaratan yang diajukan Khidhir kepada Musa sederhana
saja, yaitu Musa tidak boleh bertanya mengenai apa yang dilakukannya sebelum hal itu dijelaskan sendiri
oleh Khidhir. Diriwayatkan, suatu ketika mereka berdua pergi berlayar menumpang perahu seorang
saudagar yang baik hati. Ketika perahu merapat di pantai, tiba-tiba Khidhir mengamuk. Dikampaknya
perahu itu, sehingga perahu yang semula indah, kini tampak menjadi berantakan. Kontan saja nabi Musa
as yang terkenal temperamental menegurnya, "Mengapa ini kau lakukan, bukankah kita telah diberinya
tumpangan gratis? Engkau sungguh orang yang tidak tahu membalas budi!" Mendengar ini Khidhir hanya
menjawab pendek, "Bukankah engkau telah berjanji padaku tidak akan bertanya apapun yang aku
lakukan?"
Musa tertegun dan teringat akan janjinya, bahwa ia telah menyanggupi tidak akan bertanya
apapun yang dilakukan oleh Khidir.
Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang
anak kecil yang wajahnya tampan. Sekonyong-konyong Khidhir membunuh anak itu! Tentu saja nabi Musa
as. terkejut dan langsung menghardik Khidhir, "Betapa zalimnya engkau! Apa kesalahan anak ini sehingga
ia engkau bunuh dengan kejam?" Melihat kegusaran Musa, Khidir hanya tersenyum, lalu ia berkata,
"Bukankah sudah kukatakan padamu, bahwa engkau tidak akan sanggup mengikutiku tanpa boleh
bertanya atas apa yang aku lakukan?" Musa sekali lagi sadar akan janjinya, dan bermohon agar ia tetap
dibolehkan mengikutinya. Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan.
Di sebuah desa, karena kelaparan mereka meminta sesuap nasi. Tetapi penduduk desa itu tidak
ada yang peduli. Dengan perut yang keroncongan, mereka berjalan terus sampai akhirnya menemukan
sebuah dinding yang hampir roboh. Khidhir pun segera memperbaikinya. Musa yang rupanya masih
dongkol dengan sikap penduduk desa yang pelit itu, dengan jengkel berkata, "Mau-maunya kau
lakukan ini. Bukankah mereka tidak peduli dengan perut kita yang keroncongan?"
Kali ini Khidhir pun segera menjawab, "Rupanya inilah saatnya kita harus berpisah'. Engkau telah
tiga kali gagal menepati janjimu, yaitu untuk tidak bertanya atas apapun yang aku lakukan. Namun
sebelum kita berpisah, akan kuterangkan kepadamu maksud di balik semua tindakanku ini. Aku merusak
perahu yang kita tumpangi dahulu, karena raja ditempat kita berlabuh itu sangat senang dengan perahu
yang indah-indah. Bila perahu itu tidak kubuat cacat, niscaya raja yang zalim itu akan merampasnya.
Adapun anak kecil tampan yang aku bunuh itu, bapaknya adalah seorang ahli ibadah. Tetapi ia mempunyai
rasa sayang yang sangat berlebihan kepada anak itu, sehingga nat ini akan dapat merusak pengabdiannya
kepada Allah. Terakhir mengenai dinding ini. Di bawah dinding ini tersimpan harta warisan seorang saleh
untuk anaknya yang masih kecil-kecil. Kalau dinding ini sambai roboh, maka harta itu akan ditemukan oleh
orang lain. Tuhan menghendaki anak-anak yatim itu suatu saat kelak akan menemukan 'harta warisan dari
ayah mereka itu. Wahai Musa, mudah-mudahan sekarang engkau paham, bahwa semua yang kulakukan
ini demi kebaikan semata."
Mendengar penjelasan Khidir ini, Musa pun terdiam. la yang selama iniselalu merasa paling benar,
akhirnya mengakui bahwa ada tangan Tuhan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, mengatur semua
peristiwa di dunia ini agar selalu berjalan dengan harmonis.
Para hadirin khalifah Allah yang berbahagia, kisah ini memberi pelajaran kepada kita tentang
rahasia Ilahi. Betapa sering kita, seperti halnya Musa, protes kala merasakan ketidak-adilan. Kita menjadi
masygul manakala kesedihan dan kesulitan menimpa kita. dan terperangah bahagia kala tiba tiba meraih
kesenangan dan keuntungan. Padahal sebagaimana yang diajarkan Khidir, apa yang tampak oleh mata
kita, bisa saja bermakna sebaliknya. Kehidupan ibarat samudera Ilahi yang sangat luas dan dalam.
Terkadang akal saja tak cukup. Perlu mata hati untuk menembusnya. Bahkan seorang Musa pun, yang
pernah berdialog langsung dengan Allah, perlu belajar dari seorang bijak untuk mengasah mata hatinya
guna menyelami kedalaman samudera Ilahi tadi. Ada baiknya kita renungkan nasihat bijak yang diberikan
oleh seorang ahli hikmah, "Cukuplah kita pasrahkan hidup ini kepada kehendak Tuhan, sambil berupaya
semaksimal mungkin yang dapat kita lakukan,"
Demikianlah yang dapat disampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan kisah klasik Nabi
Musa dan Khidir as., dapat membuat hati kita bertambah yakin bahwa ada suatu rencana baik yang diatur
Tuhan untuk kita, yaitu sesuai dengan penegasan-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 216 :

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui,"
(Sumber tulisan : Buku Sentuhan Kalbu Melalui Kultum oleh : Ir.Permadi Alibasyah)