Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN DIAGNOSA KLINIK VETERINER

PEMERIKSAAN ULAR

OLEH :

NAMA : Aditya Fernando

NIM : 15513010111080

KELAS :D

KELOMPOK : 10

ASISTEN Oleh:
: Desrizal W. A.

LABORATORIUM DIAGNOSA KLINIK VETERINER

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
PEMBAHASAN
SINGNALEMEN
Pemeriksaan dilakukan pada seekor Ular bernama Caramel yang
merupakan Ular yang tergolong jenis ular jali. Ular memiliki corak sisik yang
berwarna cokelat keabuan dengan garis berwarna hitam.
ANAMNESA
Sebelum dilakukan pemeriksaan pada ular akan dilakukan anmnesa
terlebih dahulu melalui kliennya. Adapun pertanyaan yang diajukan kepada klien
diantaranya adalah bagaimana nafsu makan dan minum, keadaan feses dan
urinasi. Klien menjawab bahwa nafsu makan dan minum Ular normal, keadaan
feses dan urinasi juga normal.
PEMERIKSAAN FISIK
Menurut Abror (2012) Sebelum melakukan pemeriksaan fisik kita harus
tau dulu apakah ular tersebut termasuk venomous atau tidak. Untuk
membedakanya kita lihat cir-ciri spesifik seperti, ular yang venomous memiliki
bentuk kepala segitiga, pupil berbentuk elips, mempunyai fangs dan sisik pada
sub caudal hanya terdiri dari 1 baris sedangkan ular non venomous bentuk
kepalanya bundar, pupil bundar, tidak memiliki fangs dan sisik pada bagian sub
caudal nya terdiri dari 2 baris.
Secara umum, nilai fisiologi pulsus normal ular berkisar antara 10 hingga
20 kali per menit. Sedangkan untuk frekuensi respirasi pada ular umumnya
berkisar 20 kali atau lebih per menit. Frekuensi pulsus dan respirasi ular dapat
bervariasi tergantung kondisi lingkungan, usia, spesies, dan status kesehatan.
(Nugent, 2005)

1. Kondisi Umum
Pada pemeriksaan umum dilakukan pengamatan sikap dan cara
berjalan Ular. Setelah dilakukan pengukuran dan pengamatan. sikap dan
cara berjalan Ular tergolong normal.
Ular jali belang memiliki panjang tubuh mencapai 3,7 m dengan
tubuh berbentuk bulat silindris serta gerakan yang cepat ketika berburu dan
menghindari predator. (Rembulan, 2009)
2. Kulit
Pada pemeriksaan kulit diamati apakah pada kulit terdapat lesi,
tumor ataupun ektoparasit. Pada saat dilakukan pemeriksaan tidak
ditemukan adanya lesi, tumor ataupun ektoparasit atau jamur pada kulit
Ular, sehingga dapat disimpulkan ular dalam keadaan normal.
Kulit Ular yang tidak sehat cenderung kering dengan turgor yang
jelel. Perhatikan adanya abnormalitas seperti kulit kering, melipat, sisik
mengelupas saat ecdysis,luka, bekas luka, benjolan bawah kulit dan
abnormalitas lainnya seperti abses dan tumor. Ektoparasit berukuran kecil
sering bersembunyi diantara sisik. (Abror, 2012)
3. Membran Mukosa
Mendeteksi dehidrasi pada reptil sangat mirip dengan cara
mendeteksi dehidrasi pada anjing dan kucing. Pemeriksaan yang pertama
adalah dengan memeriksa membrana mukosa. Namun perlu diperhatikan
dan diingat bahwa beberapa reptil terutama ular, memiliki membrane
mukosa dengan warna yang lebih pucat daripada warna mukosa mamalia
pada umumnya. Indikasi lain yang menandakan dehidrasi adalah kulit
yang mengkerut atau berkurang elastisitasnya. (Aswindra, 2015)
Setelah dilakukan pemeriksaan membrane mukosa, hasil yang
didapatkan menunjukkan warna membrane mukosa yang normal.
4. Kelenjar Limfa
Palpasi limfoglandula pada ular, dikarenakan truktur anatomi kulit
dan tubuhnya, biasanya parameter pemeriksaan ini tidak dilakukan secara
mendetail sehingga biasanya diabaikan. (Nugent, 2005)
5. Musculoskeletal
Pada pemeriksaan musculoskeletal dilakukan pengamatan pada
cara ular bergerak dan berjalan. Hasil yang didapatkan adalah normal.
Selain itu juga dilakukan pemeriksaan berupa palpasi pada tubuh ular.
Pada saat palpasi, tidak ditemukan tanda-tanda bahwa ektremitas Ular
mengalami gangguan sehingga dapat disimpulkan bahwa musculoskeletal
Ular dalam keadaan normal.
6. Sistem Sirkulasi
Secara umum, nilai fisiologi pulsus normal ular berkisar antara 10
hingga 20 kali per menit. Frekuensi pulsus dan respirasi ular dapat
bervariasi tergantung kondisi lingkungan, usia, spesies, dan status
kesehatan. (Nugent, 2005)
Setelah dilakukan pemeriksaan hasil yang didapat adalah tidak
terjadi aritmia, takikardia ataupum bradikardia pada Ular .

7. Sistem Respirasi
Lakukan inspeksi untuk melihat lubang hidung, glottis dan gerakan
paru-paru saat bernafas. Ular yang tidak sehat seringkali ditemukan adanya
leleran hidung atau dari glottos, batuk, bernafas dengan leher/kepala
mendongak ke atas dan membuka mulut (star gazing posture). Lakukan
auskultasi untuk mendengarkan suara paru-paru, ular yang normal
terdengar suara vesikuler. Suara abnormal terdengar suara bronchial, ronki
basah, ronki kering dan mendesis, bedakan suara mendesis yang sifatnya
patologis dan defensive. (Rembulan, 2009)
Pemeriksaan system respirasi dilakukan untuk mengetahui adanya
discharge nasal, dyspnea ataupun batuk. Setelah dilakukan pengamatan,
hasil yang didapatkan adalah system respirasi Ular berada dalam keadaan
normal.
8. Sistem digesti
Lakukan inspeksi mulut dan rongga mulut terhadap adanya
abnormalitas seperti luka, ptekie dan eksudat. Periksa juga gigi, lidah dan
glottis terhadap adanya tanda-tanda stomatitis. Adanya gigi yang tanggal
dan terjebak dalam kantung gigi sering menimbulkan masalah baru seperti
stomatitis. Palpasi rahang terhadap kemungkinan adanya kebengkakan,
tumor dan abnormalitas lainnya. Palpasi lambung dan usus mudah
dilakukan pada ular kecil. Palpasi kolon dan rectum normalnya berisi feses
lunak berair atau kosong (setelah defekasi). Padaularsakit, sfingter kloaka
biasanya lemah dan membuka. (Triaksono, 2008)
Setelah dilakukan pemeriksaan pada Ular , hasil yang didapatkan
adalah sistema digesti pasien berada dalam keadaan normal.
9. System Urogenital
Pemeriksaan sistem dilakukan dengan melihat frekuensi urinasi,
frekuensi minum pada ular, melihat kondisi urin, melihat kondisi kloaka.
Urin yang keluar dari tubuh ular bercampur dengan asam urat, yaitu seperti
pasta berwana putih kekuningan, karena reptil adalah hewan yang tidak
bisa melakukan metabolisme asam urat sehingga dikeluarkan bersama
urin. (Tasari, 2011)
Setelah dilakukan pemeriksaan pada Ular melalui pertanyaan yang
diajukan kepada pemilik dan melalui pemeriksaan langsung, hasil yang
didapatkan adalah sistem urogenital Ular berada dalam keadaan normal.
Kesimpulan ini diambil berdasarkan beberapa data yang didapat,
diantaranya nafsu minum dan urinasi yang lancar dan normal.
10. Mata & Telinga
pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi pada bagian mata, dan
terlihat kondisi dari Ular adalah normal. Biasanya jika terdapat gangguan
saat ecdysis (shedding/ganti kulit), akan terlihat sisik yang tertinggal di
bagian mata yang disebut dengan spectacle yang akan ikut berganti ketika
ular melakukan pergantian kulit (shedding). Pada Ular pergantian kulit
terjadi secara sempurna. Karena ular tidak memiliki pina auricula maka
pemeriksaan telinga bagian dalam tidak bisa dilakukan, karena struktur
telinga ular hanya memiliki organ telinga interna. Bagian luar ditutupi oleh
sisi bagian temporal. Proses mendengar ular yaitu mandibula menangkap
getaran yang ada di tanah dari lingkungan sekitar, yang nantinya
mandibula akan mengirimkan getaran tersebut ke tulang tulang
pendengaran dari ular dibagian interna (Tasari, 2011)
Setelah dilakukan pemeriksaan, dapat diambil kesimpulan bahwa
tidak ada gangguan pada mata dan telinga.

DIAGNOSIS
Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan kepada Ular, dapat diambil
kesimpulan bahwa Ular berada dalam keadaan sehat. Kesimpulan ini dapat
diambil berdasarkan data hasil pengamatan yang menunjukkan hasil normal.

PROGNOSIS : -

TERAPI : -
INCLUSION BODY DISEASE (IBD) PADA ULAR

IBD adalah salah satu penyakit paling berbahaya yang ditemui di ular
peliharaan. Biasanya dijumpai di jenis boa dan python terutama pada jenis
molurus dan boa constrictors. Tanda tanda berbeda pada tiap jenis tapi biasanya
melibatkan gangguan saraf , tumor dan penyakit lainnya. (WHA, 2013)
a. Etiologi
Pada awalnya IBD diperkirakan diakibatkan oleh virus family
Retroviridae. Meskipun retrovirus telah diisolasi dari ular yang terinfeksi namun
belum memberikan kepastian bahwa retrovirus adalah penyebab dari penyakit ini.
Penelitian terbaru telah menemukan arenavirus pada enam dari total delapan ular
yang didiagnosa IBD di Amerika Serikat dan delapan ular positif IBD di Belanda.
Penemuan ini membuta peneliti menyimpulkan bahwa arenavirus kemungkinan
menjadi agen penyebab dari IBD. (WHA, 2013)
b. Gejala Klinis
Pada boa, IBD merupakan penyakit yang berkembang lambat mencapai
beberapa bulan. Gejala klinis yang timbul pertama adalah regurgitasi, berlangsung
sekitar seminggu setelah pemberian makan, kemudian diikuti oleh anoreksia,
penurunan berat badan dan letargi. Pada akhirnya akan berkembang gejala
neurologis pada ular seperti tremor kepala, midriasis, inkoordinasi, opistotonus
dan kehilangan kemampuan respon yang benar. (WHA, 2013)
c. Diagnosa
Diagnosa dilakukan dengan memperhatikan gejala klinis. Biopsy dari
tonsil esophageal, hati dan ginjal dapat diperiksa untuk diagnose. Tes PCR untuk
mengetahui keberadaan arenavirus dapat dilakukan untuk diagnosa. (WHA, 2013)
d. Pengobatan
Sejauh ini belum ada metode pengobatan bagi penyakit ini, karena sampai
sekarang tingkat mortalitasnya adalah 100%. (WHA, 2013)
DAFTAR PUSTAKA

Abror, Imam, 2012. Pemeriksaan Umum Pada Reptil: Ular dan Kura-kura.
Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala

Aswindra, Luthzia Fauzan. 2015. Prosedur Pemeriksaan Klinis Pada Hewan


Eksotik Dan Burung. Bogor: FKH Institut Pertanian Bogor

Nugent, Jody. 2005. Reptiles: Performing a Physical Examination. Veterinary


Technician Vol 26, No 1

Rembulan, Octavia Kharisma. 2009. Prosedur Diagnosa dan Terapi Pada Reptil.
Bali: Universitas Udayana

Tasari, Afni. 2011. Pemeriksaan Klinis Pada Ular. Yogyakarta: Universitas


Gadjah Mada

Triaksono, Nusdianto. 2008. Penyakit Sistem Digesti Veteriner II. Surabaya: FKH
Universitas Airlangga

Wildlife Health Australia (WHA). 2013. Inclusion Body Disease In Australian


Snakes. Australia: WHA Fact Sheet