Anda di halaman 1dari 5

Karakteristik Luka Tusuk

Pada luka tusuk, panjang luka pada kulit dapat sama, lebih kecil ataupun lebih besar
dibandingkan dengan lebar pisau. Kebanyakan luka tusuk akan menganga bukan
karena sifat benda yang masuk tetapi sebagai akibat elastisitas dari kulit. Pada bagian
tertentu pada tubuh, dimana terdapat dasar berupa tulang atau serat otot, luka itu
mungkin nampak berbentuk seperti kurva. Panjang luka penting diukur dengan cara
merapatkan kedua tepi luka sebab itu akan mewakili lebar alat. Panjang luka di
permukaan kulit tampak lebih kecil dari lebar alat, apalagi bila luka melintang
terhadap otot. Bila luka masuk dan keluar melalui alur yang sama maka lebar luka
sama dengan lebar alat. Tetapi sering yang terjadi lebar luka melebihi lebar alat
kerena tarikan ke samping waktu menusuk dan waktu menarik. Demikian juga bila
alat atau pisau yang masuk kejaringan dengan posisi yang miring.1
Bentuk dan ukuran dari luka tusuk di kulit tergantung pada jenis pisau, arah dorong,
gerakan pisau saat menusuk, pergerakan korban saat ditusuk, dan keadaan elastisitas
kulit. Ketajaman alat dapat menentukan batas luka, tepinya dapat tajam dan teratur,
kulit terkelupas, memar ataupun bergerigi. Perkiraan derajat pada luka tusuk,
diberikan keterangan sesuai dengan:1-4
a. Bagian dari tulang atau pengerasan tulang rawan
b. Ketajaman dari ujung pisau
c. Kecepatan datangnya pisau
d. Kulit yang elastis lebih mudah ditembus
e. Variasi ketebalan kulit terhadap pisau, kulit telapak kaki lebih tebal dari
bagian tubuh lain
f. Luka tembus yang disebabkan tusukan
Kasus pembunuhan yang ditemukan seringkali bukan hanya terdapat satu luka tusuk
saja, melainkan beberapa jumlah luka sekaligus. Luka tusuk yang hanya sekali saja
dilakukan biasanya terdapat pada korban yang lemah atau tertidur saat terjadi
serangan atau secara tiba-tiba bila korban terkena serangan di sekitar organ-organ
vital. Luka tusuk pada kasus pembunuhan yang dilakukan dengan menggunakan
pisau lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan. Luka yang
mematikan biasanya pada daerah leher, dada, dan pada daerah perut yang merupakan
letak organ-organ vital. 5
Luka tusukan pada kepala dan leher jarang terjadi. Luka tusuk pada leher dapat
menyebabkan kematian yang cepat oleh karena perdarahan, emboli udara atau
asfiksia yang disebabkan karena perdarahan jaringan lunak yang hebat dengan
tekanan kompresi di trakea dan pembuluh darah di leher.5
Luka tusukan yang paling bahaya terletak di daerah dada kiri. Seseorang akan
cenderung menusuk dada sebelah kiri. Selain itu, jika seseorang berniat untuk
membunuh maka orang tersebut akan menusuk pada dada sebelah kiri, hal ini karena
sebagaian besar jantung terletak di dada sebelah kiri sehingga orang tersebut berfikir
korban akan lebih cepat mati. Luka tusuk pada dada bisa melibatkan jantung yang
menyebabkan trauma pada miokardium, arteri koroner, struktur katup atau pembuluh
darah besar, yang bisa mendatangkan ancaman nyawa bagi korbannya. Luka tusukan
pada tulang belakang juga jarang ditemui. Seperti pada luka tusukan kepala, pisau
yang digunakan dapat pecah dan ditemukan pecahannya di tulang belakang. Cedera
pada medula spinalis dapat menyebabkan kelumpuhan.5
Luka tusuk pada bagian abdomen dapat menimbulkan kerusakan pada hepar, lien,
gaster, pankreas, renal, vesika urinaria, usus sehingga dapat menimbulkan perdarahan
yang cukup banyak. Luka tusuk lebih sering terjadi pada kuadran atas dari abdomen
dibandingkan dengan kuadran bawah. Kematian tidak terjadi secara langsung pada
luka tusuk di abdomen. Faktanya baru beberapa hari bahkan sampai beberapa minggu
luka tusuk dapat menyebabkan kematian.5
Gambar 4.1. luka tusuk pada dada kiri menembus tulang iga depan 3&4 kiri
hingga paru kiri bagian atas sedalam 1 cm6

Gambar 4.2. luka tusuk pada dada kanan menembus bilik kanan jantung sedalam
1 cm6
Gambar 4.3. luka tusuk pada dada kanan menembus hati sedalam 1 cm6

Daftar Pustaka:
1. DiMaio VJ, DiMaio D. Forensic Pathology (2nd ed.). London: CRC Press
LLC,
2001.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Mun’im TWA, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI,
1997.
3. Idries AM, Tjiptomartono A. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Proses Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto.
4. Ashari I. Luka Tembak (online). [cited 2014 Dec 11]. Available from:
Hyperlink http://www.irwanashari.com/lukatembak/
5. Referat Luka Tusuk (online). [cited 2014
Dec 11]. Available from: http://www.scribd.com/doc/236790233/
Referat-LUKA-TUSUK-ForensikEditan-Tice
6. Syarifah CM, Yudianto A. Temuan otopsi pada kasus kekerasan tajam.
Proceeding Annual Scientific Meeting 2017 [serial online]. 2017 [cited 2017
Nov 11]. Available from:
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=332518&val=1001&title
=POLA%20LUKA%20PADA%20KEMATIAN%20AKIBAT%20KEKERA
SAN%20TAJAM%20DI%20BAGIAN%20ILMU%20KEDOKTERAN%20F
ORENSIK%20DAN%20MEDIKOLEGAL%20RSUP%20PROF.%20DR.%2
0R.%20D.%20KANDOU%20MANADO%20PERIODE%202013