Anda di halaman 1dari 19

PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN EMPAT LANTAI SATU BASEMENT DI SURAKARTA DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL

Naskah Publikasi Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil

persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil Diajukan oleh: MUHAMMAD YANU UTOMO NIM: D 100 050

Diajukan oleh:

MUHAMMAD YANU UTOMO NIM: D 100 050 009 NIRM: 05 6 106 03010 50009

Kepada:

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

LEMBAR PENGESAHAN PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN EMPAT LANTAI SATU BASEMENT DI SURAKARTA DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL
LEMBAR PENGESAHAN
PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN EMPAT LANTAI
SATU BASEMENT DI SURAKARTA
DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL
Naskah Publikasi
Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran
Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji
Pada tanggal 27 Desember 2012
diajukan oleh :
MUHAMMAD YANU UTOMO
NIM: D 100 050 009
NIRM: 05 6 106 03010 50009
Susunan Dewan Penguji:
Pembimbing Utama
Pembimbing Pendamping
Ir. H Aliem Sudjatmiko, MT.
NIP: 131 683 033
Basuki, ST. MT.
NIK: 783
Anggota
H. Budi Setiawan, ST. MT.
NIK: 785
Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil
Surakarta,
Dekan Fakultas Teknik
Ketua Program Studi Teknik Sipil
Ir. Agus Riyanto, MT.
NIK : 483
Ir. H. Suhendro Trinugroho, MT.
NIK : 732

PERENCANAAN GEDUNG PERKULIAHAN EMPAT LANTAI

SATU BASEMENT DI SURAKARTA

DENGAN PRINSIP DAKTAIL PARSIAL

ABSTRAKSI

Tugas Akhir ini dimaksudkan untuk merencanakan struktur beton bertulang lima lantai, yang merupakan gedung perkuliahan di daerah Surakarta (wilayah gempa 3) yang berdiri di atas tanah keras dan berdasarkan pada SNI 1726-2002 dengan nilai faktor daktalitas (μ) = 3 sehingga termasuk pada daktail parsial. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk memperoleh suatu perbandingan atau efisiensi dari perencanaan struktur gedung berdasarkan tinjauan 3 dimensi, yang meliputi analisis mekanika struktur, distribusi beban geser/gempa dan kebutuhan tulangan.Pada perencanaan ini, digunakan mutu bahan : mutu beton (f c ’) 30 MPa, mutu baja (f y ) 400 MPa dan rangka atap baja digunakan mutu baja Bj 34. Peraturan-peraturan yang digunakan sebagai acuan meliputi PPIUG-1983, SNI 03-1729-2002, PPBBI-1984, PBI-1971, SNI 1726-2002, SNI 03-2847-2002. Analisis mekanika struktur gedung menggunakan program “SAP 2000” v.14. Perhitungan matematis agar mendapat hasil yang cepat dan akurat menggunakan program Microsoft Excel 2007”. Penggambaran menggunakan program AutoCAD 2007”. Hasil yang diperoleh dari perencanaan Tugas Akhir ini sebagai berikut: Struktur atap menggunakan kuda-kuda rangka baja profil ⎦⎣30.45.3, ketebalan plat tangga dan bordes 15 cm dengan tulangan pokok dan tulangan bagi dp10, plat lantai dengan tulangan pokok dan tulangan bagi dp10, balok menggunakan dimensi 450/600 dengan tulangan pokok D25 dan tulangan geser 2dp10. Kolom menggunakan dimensi 600/600 dengan tulangan pokok D25 dan tulangan geser 2dp10, pondasi menggunakan dimensi poer ukuran (3 x 3) m 2 setebal 100 cm dengan tulangan D25, sedangkan tiang pancang dimensi 400/400 mm sepanjang 6 m dengan tulangan pokok D25 dan tulangan geser 2dp10.

Kata kunci : Daktail parsial, Perencanaan, SAP 2000.

A.

PENDAHULUAN

Era globalisasi menuntut persaingan di berbagai bidang, salah satunya adalah mutu sumber daya manusia. Pendidikan adalah cara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menunjang peningkatan kemajuan pendidikan tersebut maka dibutuhkan sarana pendidikan. Surakarta adalah salah satu kota besar di Indonesia yang menjadi tujuan pendidikan. Banyak sekolah dan universitas berkualitas yang terdapat di Surakarta yang menarik minat sebagian besar pelajar dan mahasiswa di pulau jawa bahkan dari luar jawa. Universitas adalah jenjang pendidikan tertinggi dengan konsentrasi pendidikan yang beragam yang berperan menciptakan profesionalitas sumber daya manusia. Beragam konsentrasi tersebut menyerap banyak mahasiswa, untuk itulah dalam sebuah universitas dibutuhkan banyak fasilitas ruang kuliah yang ditata dalam bentuk gedung perkuliahan Menurut SNI 03-1726-2002, Surakarta termasuk pada wilayah gempa 3 yaitu merupakan daerah dengan kemungkinan terjadi gempa berskala cukup besar sehingga dalam merencanakan gedung bertingkat harus direncanakan dan didesain dengan matang agar dapat digunakan dengan nyaman dan aman terhadap bahaya gempa bagi pemakai. Untuk efisiensi tata guna lahan maka gedung perkuliahan direncanakan 4 lantai 1 basement menggunakan prinsip daktail parsial. Perencanaan gedung tersebut secara teoritis harus memenuhi persyaratan tertentu, baik dari segi struktur, kekakuan, kestabilan serta ekonomi. Berdasarkan permasalahan di atas, maka diambil suatu rumusan masalah sebagai acuan dalam perencanaan sebagai berikut:

1). Surakarta termasuk daerah yang berada pada wilayah gempa 3, maka diperlukan perencanaan struktur gedung tahan gempa. 2). Karena berkembangnya daerah Surakarta menjadi kota besar dan tata guna lahan yang semakin sempit, diperlukan perkembangan gedung bertingkat atau pembangunan secara vertikal. Tujuan perencanaan gedung perkuliahan 4 lantai 1 basement di Surakarta dengan prinsip daktail parsial ini adalah untuk mendapatkan hasil desain struktur

1

2

bangunan 4 lantai 1 basement di Surakarta yang tahan gempa sesuai dengan prinsip daktail parsial, serta peraturan-peraturan yang berlaku di Indonesia. Manfaat yang dapat diambil pada perencanaan ini adalah menambah pengetahuan di bidang perencanaan struktur dan sebagai referensi, khususnya dalam perencanaan struktur beton bertulang tahan gempa dengan prinsip daktail parsial.

Untuk menghindari melebarnya pembahasan, maka penyusunan laporan tugas akhir ini dibatasi masalah-masalah sebagai berikut:

Gedung yang direncanakan adalah gedung perkuliahan 4 lantai 1 basement di

Surakarta (wilayah gempa3). 2). Perhitungan struktur mencakup perhitungan struktur atap (kuda-kuda) dan

struktur beton bertulang (plat lantai, plat tangga, perhitungan balok, kolom dan pondasi tiang pancang). Spesifikasi material struktur yang digunakan adalah mutu beton f’ c = 30 MPa, mutu baja f y = 400 MPa untuk tulangan utama, dan f y = 300 MPa untuk tulangan geser.

B. TINJAUAN PUSTAKA

3).

1).

Menurut pasal 3.1.3.1 Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung SNI-1726-2002, daktilitas adalah kemampuan struktur suatu gedung untuk mengalami simpangan pasca-elastik yang besar secara

berulang kali dan bolak-balik akibat beban gempa di atas beban gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup, sehingga struktur gedung tersebut tetap berdiri walaupun sudah dalam kondisi sudah di ambang keruntuhan. Berdasarkan SNI-1726-2002 terdapat 3 tingkat daktilitas yaitu :

1). Elastik penuh Suatu tingkat daktilitas struktur gedung dimana nilai faktor daktilitasnya sebesar 1,0 (μ=1,0).

3

2).

Daktail parsial Seluruh tingkat daktilitas struktur gedung dengan nilai faktor daktilitas diantara untuk struktur gedung yang elastik penuh sebesar 1,0 (μ=1,0) dan

3).

untuk struktur gedung yang daktail penuh sebesar 5,3 (μ=5,3). Daktail penuh

Suatu tingkat daktilitas struktur gedung dimana strukturnya mampu mengalami simpangan pasca-elastik pada saat mencapai kondisi diambang keruntuhan yang paling besar yaitu dengan mencapai nilai faktor daktilitas sebesar 5,3 (μ=5,3). Dalam pasal 4.5 SNI-1726-2002 disebutkan bahwa struktur gedung harus memenuhi persyaratan “kolom kuat balok lemah”, artinya ketika struktur gedung memikul pengaruh gempa rencana, sendi-sendi plastis di dalam struktur gedung tersebut hanya boleh terjadi pada ujung-ujung balok dan pada kaki kolom dan kaki dinding geser saja. Pada perencanaan gedung dengan prinsip daktail parsial, direncanakan titik-titik yang berpotensi membentuk leleh lentur (sendi plastis) pada jarak tertentu sesuai pasal 23.10.4.2 dan pasal 23.10.4.5.1 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002 sebagai berikut:

1). Untuk balok, sendi plastis dipasang pada ujung kanan dan ujung kiri balok dengan jarak 2h dari muka kolom. 2). Untuk kolom, sendi plastis hanya boleh dipasang pada ujung bawah kolom lantai paling bawah. Lokasi sendi plastis kolom dipasang dengan jarak λ 0 dari ujung bawah kaki kolom. Jarak λ 0 ditentukan sebagai berikut:

a). λ 0 1/6 dari tinggi bersih kolom b).λ 0 dimensi terbesar kolom c). λ 0 500 mm

4

2h 2h
2h
2h

a.sendi plastis pada balok

4 2h 2h a.sendi plastis pada balok λ 0 b.sendi plastis kolom pada lantai paling bawah

λ 0

b.sendi plastis kolom pada lantai paling bawah

Gambar 1. Pemasangan sendi plastis Menurut pasal 11 SNI 03-2847-2002, struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kuat rencana minimum sama dengan kuat perlu yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya

terfaktor yang sesuai dengan ketentuan. Kombinasi-kombinasi beban terfaktor tersebut sebagai berikut (pasal 11.2. SNI 03-2847-2002):

1).

U = 1,4 D

(1a)

2).

U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R)

(1b)

3).

U = 1,2 D + 1,0 L ± 1,6 W + 0,5 (A atau R)

(1c)

U

= 0,9 D ± 1,6 W

(1d)

4).

U = 1,2 D + 1,0 L ± 1,0 E

(1e)

U

= 0,9 D ± 1,0 E

(1f)

Ketidakpastian kekuatan bahan terhadap pembebanan pada komponen struktur dianggap sebagai faktor reduksi kekuatan (ϕ), yang nilainya ditentukan

menurut pasal 11.3 SNI 03-2847-2002 sebagai berikut:

1). φ = 0,80 untuk beban lentur tanpa gaya aksial

2). φ = 0,65 untuk gaya aksial tekan, dan aksial tekan dengan lentur

3). φ = 0,65 untuk struktur dengan tulangan sengkang biasa

4). φ = 0,60 untuk gaya lintang dan torsi

5). φ = 0,70 untuk tumpuan pada beton Menurut Pasal 4.7.1 SNI-1726-2002, Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 wilayah gempa. Pembagian wilayah ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh gempa rencana dengan perioda ulang 500 tahun. Wilayah gempa 1 adalah wilayah kegempaan paling rendah, sedangkan wilayah gempa 6 adalah wilayah kegempaan paling tinggi.

5

5 Gambar 2. Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun

Gambar 2. Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan puncak batuan dasar dengan perioda ulang 500 tahun

C. LANDASAN TEORI

1. Perencanaan struktur atap rangka baja

Beban-beban yang diperhitungkan pada gording meliputi beban mati

(akibat berat sendiri gording dan beban penutup atap), beban hidup dan beban

angin. Baja profil yang digunakan untuk gording adalah profil Canal. Tegangan

yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan ijin.

Pemasangan sagrod dimaksudkan untuk mendukung beban yang searah

dengan sumbu miring atap. Penempatan sagrod dipasang pada tengah bentang

gording, yang terjadi momen maksimum.

Perencanaan kuda-kuda merupakan perencanaan konstruksi yang

mendukung berat atap kemudian meneruskannya ke kolom. Perencanaan kuda-

kuda harus mampu menahan berbagai beban baik dari dalam (berat sendiri)

maupun dari luar (beban hidup dan angin).

2. Perencanaan struktur plat atap, lantai dan tangga

Plat merupakan struktur bidang datar (tidak melengkung) yang jika

ditinjau secara visual 3 dimensi mempunyai tebal yang jauh lebih kecil dari pada

ukuran bidang plat. Untuk merencanakan plat beton bertulang perlu

dipertimbangkan tidak hanya pembebanan, tapi juga ukuran dan syarat-syarat

6

tumpuan pada tepi yang menentukan jenis perletakan dan jenis penghubung di

tempat tumpuan.

Tangga merupakan salah satu sarana penghubung dari dua tempat yang

berbeda ketinggiannya. Pada bangunan gedung bertingkat, biasanya tangga

digunakan sebagai sarana penghubung antara lantai tingkat yang satu dengan

lantai tingkat yang lain, khususnya bagi pejalan kaki. Agar anak tangga dapat

digunakan dengan mudah dan nyaman, maka ukuran anak tangga ditentukan

sebagai berikut :

2.T + I = (61 - 65 cm)

dengan: T =

tinggi bidang tanjakan (optrede) atau tinggi anak tangga, cm.

I = lebar bidang injakan (antrede) atau lebar anak tangga, cm.

I T/2 T
I
T/2
T

Gambar 3. Anatomi anak tangga

3. Perencanaan struktur balok

Pada perencanaan balok dilakukan analisa perhitungan meliputi tulangan

memanjang balok dan tulangan geser (begel) balok. Dimensi dan penulangan

bolok tidak hanya dihitung berdasarkan beban perlu yang bekerja, tetapi juga

harus memperhitungkan terjadinya leleh lentur atau sendi plastis pada ujung-

ujung balok (apabila terjadi gempa yang lebih besar daripada gempa rencana)

dengan jarak dua kali tinggi penampang balok dari muka kolom (Pasal 23.10.4.2.

TPSBUBG SNI 03-2847-2002). Keadaan ini dilaksanakan dengan cara

memberikan batasan beban perlu minimal pada ujung- ujung maupun pada tengah

bentang balok (Pasal 23.10.4.2. TPSBUBG SNI 03-2847-2002).

Menurut Pasal 13.6.1 SNI 03–2847–2002 pengaruh puntir dapat diabaikan

jika momen puntir terfaktor T u memenuhi syarat berikut :

T u

φ . ⎛ f' A c cp 2 . ⎜ ⎜ 12 ⎝ P cp
φ
.
f'
A
c
cp 2
.
12
P
cp

⎟ ⎞

⎟ ⎠

dengan φ = 0,75

(2)

7

A cp = luas penampang keseluruhan, termasuk rongga pada penampang berongga (lihat daerah yang diarsir), dalam (mm²). P cp = keliling penampang keseluruhan (keliling batas terluar daerah yang diarsir), dalam (mm).

4. Perencanaan struktur kolom

Pada perencanaan kolom dilakukan analisa perhitungan meliputi tulangan

memanjang kolom, tulangan geser (begel) kolom dan momen tersedia kolom.

Dimensi dan penulangan kolom juga dihitung berdasarkan beban perlu yang

bekerja dengan mempertimbangkan terbentuknya leleh lentur (sendi plastis)

sepanjang λ 0 dari ujung bawah kaki kolom (Pasal 23.10.5.1. TPSBUBG SNI 03-

2847-2002)

5. Perencanaan Pondasi

Secara umum, pondasi mempunyai tujuan untuk meneruskan beban-beban

struktur bangunan yang berada di atasnya untuk ditransfer/diteruskan kedalam

lapisan tanah pendukung.

D. METODE PERENCANAAN

Prosedur/tahapan pelaksanaan Tugas Akhir perencanan meliputi 6 tahap

utama, pelaksanaan tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut:

8

Mulai Tahap I Desain gambar rencana Menghitung struktur atap Menghitung tulangan plat dan tangga Tahap
Mulai
Tahap I
Desain gambar rencana
Menghitung struktur atap
Menghitung tulangan plat dan tangga
Tahap II
struktur atap Menghitung tulangan plat dan tangga Tahap II Asumsi dimensi awal balok dan kolom Analisa
struktur atap Menghitung tulangan plat dan tangga Tahap II Asumsi dimensi awal balok dan kolom Analisa
Asumsi dimensi awal balok dan kolom Analisa pembebanan Beban mati Beban hidup Beban gempa Analisa
Asumsi dimensi awal balok dan kolom
Analisa pembebanan
Beban mati
Beban hidup
Beban gempa
Analisa mekanika
Penentuan beban/gaya dalam perlu akibat kombinasi beban
Tahap III
Tidak
Kecukupan dimensi balok
Ya
Penulangan balok
Tidak
Kecukupan dimensi kolom
Ya Penulangan kolom Tahap IV Asumsi dimensi pondasi Tidak Kecukupan dimensi pondasi Ya Tahap V
Ya
Penulangan kolom
Tahap IV
Asumsi dimensi pondasi
Tidak
Kecukupan dimensi pondasi
Ya
Tahap V
Penulangan pondasi
Kecukupan dimensi pondasi Ya Tahap V Penulangan pondasi Membuat gambar detail Selesai Tahap VI Gambar 4.

Membuat gambar detail

pondasi Ya Tahap V Penulangan pondasi Membuat gambar detail Selesai Tahap VI Gambar 4. Bagan alir

Selesai

Tahap VI

Gambar 4. Bagan alir perencanaan

9

E. HASIL PERENCANAAN

1. Perencanaan Struktur Atap

Perencanaan Struktur atap menggunakan penutup atap dari genteng dengan rangka atap dari baja. Berdasarkan hasil perhitungan digunakan gording profil baja lip kanal 150.65.20.3,2 dan rangka kuda-kuda utama menggunakan

baja profil siku ⎦⎣30.45.3. Alat sambung menggunakan baut Ø ¼ inch dengan menggunakan plat kopel 4 mm dan plat buhul 6 mm. Rangka atap dapat dilihat seperti pada Gambar 5 sebagai berikut.

a6 a7 a5 a8 a4 v6 a9 d5 d6 a3 a10 d4 d7 v5 v7
a6
a7
a5
a8
a4
v6
a9
d5
d6
a3
a10
d4
d7
v5
v7
d3
d8
a2
v4
v8
a11
d2
d9
v3
v9
a1
d1
v2
v10
d10
a12
v1
v11
b1
b2
b3
b4
b5
b6
b7
b8
b9
b10
b11
b12
800
1200

Gambar 5. Rangka kuda-kuda utama

2. Perencanaan Plat

Perencanaan plat terdiri dari 2 jenis yaitu plat atap 10 cm dan plat lantai 12cm. Pembagian tipe dan hasil perhitungan tulangan plat dapat dilihat pada

gambar dan tabel berikut.

4800 800 400 800 800 800 800 400 400 800 B B A A A
4800
800
400
800
800
800
800
400
400
800
B
B
A A
A
A A
A
AA
A A
A
A
A A
A
A A
A
AA
A A
A
A
A A
A
A
A A
A
A
A A
A
A A
A
A
A A
A A
A
A A
A
A A
A
A
A A
A A
A
B
B
230230
800
800
800
2400

Gambar 6. Denah plat atap

10

Tabel 1. Tulangan plat atap

Momen perlu Tulangan Tulangan Momen tersedia Tipe plat (kN.m) pokok bagi (kN.m) M lx (+)
Momen perlu
Tulangan
Tulangan
Momen tersedia
Tipe plat
(kN.m)
pokok
bagi
(kN.m)
M lx (+) = 1,759
dp10-200
6,80
M
(+) = 1,759
dp10-200
5,86
A
ly
M tx (-) = 4,356
dp10-200
dp10-350
6,80
M ty (-) = 4,356
dp10-200
dp10-350
5,86
ly = 4 m
M lx (+) = 1,505
dp10-200
6,80
B
M
(+) = 0,818
dp10-200
5,86
ly
M tx (-) = 3,240
M ty (-) = 2,520
dp10-200
dp10-350
6,80
ly = 4 m
dp10-200
dp10-350
5,86
lx = 2,5 m
lx = 4 m
4800 800 400 800 800 800 800 400 400 800 D D GGGGGGGG A A
4800
800
400
800
800
800
800
400
400
800
D
D
GGGGGGGG
A A
A
A
A
A
A A
E
F F
E
A A
A
A
A
A AA
A
A
A A
A A
A
A A
A
A A
C
C
A A
A
A A
A
A A
BB
BB
A A
A
A
A
A A
A
A
A
A A
A A
A
A
A
A A
A
A
A
A A
D
D
230230
800
800
800
2400

Gambar 7. Denah plat lantai Tabel 2. Tulangan plat lantai

Momen perlu Tulangan Tulangan Momen tersedia Tipe plat (kN.m) pokok bagi (kN.m) (1) (2) (3)
Momen perlu
Tulangan
Tulangan
Momen tersedia
Tipe plat
(kN.m)
pokok
bagi
(kN.m)
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Ml x (+) = 2,856
dp10-150
11,5
Ml
(+) = 2,856
dp10-150
10,2
A
y
Mt x (-) = 7,072
Mt y (-) = 7,072
dp10-150
dp10-300
11,5
dp10-150
dp10-300
10,2
ly = 4 m
Ml x (+) = 2,372
dp10-150
11,5
B
Ml
(+) = 1,454
dp10-150
10,2
y
Mt x (-) = 5,279
Mt y (-) = 4,361
dp10-150
dp10-300
11,5
dp10-150
dp10-300
10,2
ly = 4 m
lx = 3 m
lx = 4 m

11

Tabel 2. lanjutan

(1)

 

(2)

(3)

(4)

(5)

lx = 2,5 m

C ly = 5 m
C
ly = 5 m

Ml x (+) = 2,922

Ml

Mt x (-) = 6,056

Mt y (-) = 4,144

(+) = 1,116

y

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-300

dp10-300

11,5

10,2

11,5

10,2

D ly = 4 m
D
ly = 4 m

lx = 2,5 m

Ml x (+) = 2,444

Ml

Mt x (-) = 5,259

Mt y (-) = 4,091

(+) = 1,328

y

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-300

dp10-300

11,5

10,2

11,5

10,2

E ly = 4 m
E
ly = 4 m

lx = 2 m

Ml x (+) = 1,394

Ml

Mt x (-) = 2,822

Mt y (-) = 1,938

(+) = 0,408

y

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-300

dp10-300

11,5

10,2

11,5

10,2

lx = 2 m

F ly = 3 m
F
ly = 3 m

Ml x (+) = 1,224

(+) = 0,578

Mt x (-) = 2,584 Mt y (-) = 1,938

Ml

y

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-300

dp10-300

11,5

10,2

11,5

10,2

lx = 2 m

G ly = 2 m
G
ly = 2 m

Ml x (+) = 0,714

Ml

Mt x (-) = 1,768 Mt y (-) = 1,768

(+) = 0,714

y

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-150

dp10-300

dp10-300

11,5

10,2

11,5

10,2

3. Perencanaan Tangga

Tangga direncanakan dengan desain melayang dengan ketebalan plat 15 cm, lebar injakan anak tangga 26 cm, dan tinggi tanjakan anak tangga 18 cm.

Desain dan hasil perhitungan tulangan dapat dilihat pada gambar dan tabel berikut.

-18,24 kN.m -50,65 kN.m -101,64 kN.m 8,54 kN.m -18,24 kN.m 8,54 kN.m 200 200
-18,24 kN.m
-50,65 kN.m
-101,64 kN.m
8,54 kN.m
-18,24 kN.m
8,54 kN.m
200
200

Gambar VI.4. Momen maksimal pada tangga

12

Tabel 3. Tulangan plat tangga

Bagian

 

Kiri

Lapangan

Kanan

Tulangan

Tul.

 

Tul.

 

Tul.

 

tangga

Pokok

Tul. Bagi

Pokok

Tul. Bagi

Pokok

Tul. Bagi

Badan

Atas

dp10-100

dp10-260

-

-

dp19-100

dp10-140

Bawah

Bawah

-

-

dp10-100

dp10-260

-

-

Bordes

Atas

dp19-100

dp10-140

dp19-100

dp10-140

dp19-100

dp10-140

Bawah

-

-

-

-

-

-

Badan

Atas

dp10-100

dp10-260

-

-

dp19-100

dp10-140

atas

Bawah

-

-

dp10-100

dp10-260

-

-

4. Perencanaan Struktur Balok Contoh perhitungan dilakukan pada balok B220 portal as-6 dan didapatkan

hasil penulangan seperti pada gambar berikut.

A B C 2dp12-90 2dp12-60 2dp12-100 2dp12-60 2dp12-200 2dp12-120 10 D25 2 D25 12 D25
A
B
C
2dp12-90
2dp12-60
2dp12-100
2dp12-60
2dp12-200
2dp12-120
10 D25
2
D25
12 D25
3 D25
4
D25
4 D25
B220
53,5
66,5
66,5
53,5
120
120
200
150
150
200
800
10
D25
2
D25
12
D25
4 D12
4 D12
4 D12
3
D25
4
D25
4
D25
450
450
450
POT - A
POT - B
POT - C
655065
600
655065
600
655065
600

Gambar 9. Penulangan balok B220 portal as-6

5. Perencanaan Struktur Kolom Contoh perhitungan dilakukan pada K47 (identik dengan K42) portal as-B

dan didapatkan hasil penulangan seperti pada gambar berikut.

dp10-200 dp10-100 65
dp10-200
dp10-100
65
16 D25 65 65 600 6565 600
16 D25
65
65
600
6565
600

Gambar 10. Penulangan kolom K47 portal as-B

13

6. Perencanaan Pondasi dan Sloof Hasil penulangan pondasi dan sloof dapat dilihat pada gambar berikut.

600 D16-80 A A D16-80 915 D25-80 85 D25-80 300 POT A-A 600 B B
600
D16-80
A
A
D16-80
915
D25-80
85
D25-80
300
POT A-A
600
B
B
400
4 D25
2dp10 - 160
300
DETAIL PENULANGAN PONDASI TIANG PANCANG
75
75
POT B-B
D16-80
400
D25-80
75
75
300

75

75

Gambar 11. Penulangan pondasi tiang pancang ABC 2dp10-250 75 75 75 75 75 75 75
Gambar 11. Penulangan pondasi tiang pancang
ABC
2dp10-250
75
75
75
75
75
75
75
75
2D25
2dp10-250
3D25
2dp10-250
2D25
2dp10-250
600
600
600
2D12
2D12
2D12
2D25
2D25
2D25
75
75
400
400
400

Gambar 12. Penulangan sloof

14

F. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Setelah melakukan analisis perhitungan perencanaan struktur beton bertulang untuk gedung perkuliahan 4 lantai 1 basement dengan prinsip daktail parsial di daerah Surakarta tinjauan 3 dimensi, dapat diambil kesimpulan bahwa perencanaan struktur beton bertulang ini direncanakan aman terhadap beban mati, beban hidup dan beban gempa rencana. Distribusi beban geser/gempa menggunakan analisis statik ekivalen sedangkan perhitungan analisis mekanika strukturnya menggunakan program bantu hitung SAP 2000 v.14. Dari hasil analisis didapat hasil sebagai berikut:

1).

Struktur atap menggunakan kuda-kuda rangka baja profil ⎦⎣30.45.3.

2).

Struktur plat ketebalan plat atap 10 cm dan plat lantai 12 cm dengan tulangan pokok dan tulangan bagi dp10.

3). Struktur tangga digunakan bentuk K dengan hasil perencanaan optrade (tinggi bidang tanjakan ) 18 cm dan antrade (lebar bidang injakan ) 26 cm. Untuk plat tangga dan bordes digunakan tebal 15 cm dengan tulangan pokok dan tulangan bagi dp10.

4).

a). Balok induk dengan dimensi 450/600 mm dan 300/500 mm dengan tulangan pokok D25 dan tulangan geser menggunakan 2dp10. b). Kolom dengan dimensi kolom 600/600 mm dengan tulangan pokok D25 dan tulangan geser menggunakan 2dp10. 5). Struktur pondasi menggunakan pondasi tiang pancang beton bertulang dan dipancang sampai tanah keras meliputi :

a). Plat poer pondasi menggunakan ukuran 3 x 3 m 2 setebal 1 m dengan

tulangan D25 dan jarak 80 mm. b). Kelompok tiang pancang berjumlah 9 tiang dengan dimensi tiang pancang 400/400 dengan tulangan pokok 4 D25 dan begel 2dp10 - 160.

Struktur portal gedung beton bertulang meliputi:

15

2. Saran Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan struktur beton bertulang untuk gedung bertingkat pada umumnya dan secara khusus pada Tugas Akhir ini penulis mencoba memberikan saran diantaranya sebagai berikut :

1). Jika dalam perencanaan menggunakan program bantu hitung untuk perhitungan analisa mekanika struktur seperti SAP 2000 v.14 atau yang lainnya hendaknya pemasukan data material, dimensi, dan pembebanan lebih teliti. 2). Jika dalam perhitungan torsi hasilnya momen torsi diabaikan, maka hanya perlu diberi tulangan tambahan (tulangan montase) dengan diameter minimal (½ diameter tulangan longitudinal). 3). Perhatikan penggambaran shop drawing karena hasil analisis dengan aplikasi lapangan kadang berbeda. 4). Dalam penggambaran hendaknya dibuat secara sederhana dan detail agar mudah dibaca oleh semua orang.

DAFTAR PUSTAKA Asroni, A., 2010. Balok dan Pelat Beton Bertulang , Graha Ilmu, Yogyakarta. Asroni,

DAFTAR PUSTAKA

Asroni, A., 2010. Balok dan Pelat Beton Bertulang, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Asroni, A., 2010. Kolom Fondasi & Balok T Beton Bertulang, Graha Ilmu, Yogyakarta.

Asroni, A., 2003. Struktur Beton lanjut, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

DPMB, 1971. Peraturan

Beton

Bertulang

Indonesia

N.I.-2,

Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.

Direktorat

DPPW, 2002. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung SNI 1726-2002, Departeman Permukiman dan Prasarana Wilayah, Bandung.

LPMB, 1983. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.

LPMB, 1984. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.

LPMB, 2002. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung SNI 03-2847-2002, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.