Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah-
Nyalah buku saku dengan judul “Budidaya, Khasiat, dan produksi Teh BADAK (Bawang
Dayak) sebagai Tanaman Herbal” dapat diselesaikan.
Buku saku bawang dayak merupakan hasil dari luaran kegiatan pengabdian
masyarakat di kampung Bungaraya, kecamatan Bunga Raya di Kabupaten Siak. Buku ini
memuat pemaparan secara singkat mengenai sejarah penyebaran bawang dayak, morfologi
tanaman, budidaya, proses pemanfaatan dan kajian mengenai teori bawang bawang dayak.
Dengan selesainya buku saku bawang dayak kami haturkan terimakasih setulus-
tulusnya kepada:
 Bapak Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas
Riau atas disetujuinya kegiatan pengabdian ini.
 Bapak Bupati Kabupaten Siak, yang telah memberi izin dalam pelaksanaan kegiatan
ini.
 Bapak Penghulu dan sesepuh desa beserta kelompok ibu-ibu PKK, Budidaya TOGA
kampung Bungaraya, peserta KUKERTA – UR dan para petaniserta aktivis
lingkungan sekecamatan Bunga Raya.
Semoga kegiatan buku ini bermanfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah kabupaten Siak
pada khususnya dan bagi kita semua, amiin...

Pekanbaru, Oktober 2017

Penulis,

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. 1


Daftar Isi ............................................................................................................ 2
Bagian 1 Pengenalan Bawang Dayak ..............................................................
1.1 Sejarah penyebaran bawang dayak (Eleutherine americana Merr) ........ 3
1.2 Habitat ..................................................................................................... 3
Bagian 2 Morfologi Bawang Dayak ............................................................... 4
2.1 Batang .................................................................................................. 4
2.2 Daun ..................................................................................................... 4
2.3 Umbi ..................................................................................................... 4
2.4 Bunga ................................................................................................... 4
2.5 Akar ....................................................................................................... 5
Bagian 3 Budidaya Bawang Dayak ................................................................. 6
3.1 Prosedur Penanaman Bawang Dayak .................................................. 6
3.2 Proses Pemeliharaan Bawang Dayak .................................................... 8
3.3 Proses Pemanenan Bawang Dayak ....................................................... 9
Bagian 4 Pengolahan Bawang Dayak.............................................................. 10
Bagian 5 Khasiat Bawang Dayak ................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................... ......................... 12

2
BAGIAN 1
PENGENALAN BAWANG DAYAK

1.1 Sejarah penyebaran bawang dayak (Eleutherine americana Merr)


Bawang dayak (Eleutherine americana Merr) merupakan salah satu tanaman khas
Kalimantan Tengah dari suku Iridaceae (Ordo Liliales). Tanaman ini berasal dari daerah
tropis Amerika Selatan, terutama Brasil dan Bovilia lalu menyebar ke beberapa Negara,
termasuk ke Indonesia. Seorang pakar botani dari Amerika Serikat bernama Elmer Drew
Merrill yang memberikan nama Eleutherine americana Merr. Selain nama umum secara
ilmiah, tumbuhan ini juga memiliki beberapa nama daerah yaitu bawang dayak
(Palangkaraya, Samarinda), bawang hantu/kambe (Dayak),bawang sabrang; babawangan
beureum; bawang siyem (Sunda), brambang sabrang; luluwan sapi; teki sabrang (Jawa),
bawang sayup (Melayu) dan bawang lubak (Punan Lisum). Penyebaran bawang dayak tidak
hanya di Indonesia. Tumbuhan ini juga banyak ditemukan dan dibudidayakan di negara
Malaysia, Filipina, China (Pulau Hainan), Thailand bahkan di Negara Afrika.
Klasifikasi tanaman bawang dayak (Eleutherine americana Merr.)
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Sub Class : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Iridaceae
Genus : Eleutherine
Spesies : Eleutherine americana Merr. (Tjitrosoepomo, 2007)

1.2 Habitat
Bawang dayak memiliki habitat di tanah yang kaya akan belerang dengan PH antara
6-7. Banyak terdapat di daerah pegunungan antara 600 sampai 1500 m di atas permukaan
laut, misalnya di perkebunan-perkebunan teh, kina dan karet, serta di tepi-tepi jalan.
Tumbuhan ini juga menyukai tempat-tempat terbuka yang tanahnya kaya dengan humus dan
cukup lembab.

3
BAGIAN II

Morfologi Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.)

Bawang dayak mempunyai ciri spesifik yaitu umbi tanaman berwarna merah meyala
dengan permukaan yang sangat licin. Letak daun berpasangan dengan komposisi daun
bersirip ganda.

2.1 Batang bawang dayak


Tumbuhan ini berupa terna menahun yang merumpun sangat kuat, membentuk rumpun-
rumpun besar. Tingginya hanya mencapai 26 -50 cm. Batang bawang dayak tumbuh tegak
atau merunduk, basah dan berumbi.

2.2 Daun bawang dayak


Bawang dayak memiliki daun tunggal lonjong berujung runcing dengan pangkalan yang
tumpu, pertualangan menyirip, warna hijau (daun seperti tanaman anggrek tanah) dan
berbentuk pita sepanjang 15-20 cm, lebar 3-5 cm mirip palem. Letak daun berpasangan
dengan komposisi daun bersirip ganda. Tipe pertulangan daun sejajar dengan tepi daun licin
dan bentuk daun berbentuk pita berbentuk garis. Daunnya ada dua macam, yaitu yang
sempurna berbentuk pita dengan ujungnya runcing, sedang daun-daun lainnya berbentuk
menyerupai batang.
2.3 Umbi bawang dayak
Bagian bawang dayak yang paling banyak dimanfaatkan yaitu umbinya. Umbi pada
tumbuhan bawang dayak umumnya berbentuk lonjong, bulat telur, merah seperti bawang merah,
tidak berbau menyeng dan terdiri atas lapisan-lapisan. Umbi dapat dikonsumsi setelah usia 4-6
bulan, dengan tinggi 20-40 cm, lebar 1,5-3 cm. Rimpang umbi bawang dayak agak keras dan
agak rapuh disebabkan karena tingginya kandungan pati, protein, dan kandungan air.

2.4 Bunga bawang dayak


Bunganya berupa bunga tunggal, warnanya putih, berkelopak lima dan terdapat pada ketiak-
ketiak daun atas, dalam rumpun-rumpun bunga yang terdiri dari 4 sampai 10 bunga. Bunganya
mekar menjelang sore, jam 5 sampai jam 7 sore dan kemudian menutup kembali. Buah kotaknya
berbentuk jorong dengan bagian ujungnya berlekuk. Bila masak merekah menjadi 3 rongga yang
berisi banyak biji. Bentuk bijinya bundar telur atau hampir bujur sangkar.

4
2.5 Akar bawang dayak
Tanaman bawang dayak memiliki system perakaran serabut. Jika bawang di tanam dalam
wadah pot kecil bediameter 5 cm makan dalam waktu 45 hari pot akan dipenuhi oleh akar serabut
berbentuk melingkar.

a b

c d e

f g

5
h i

Sumber : Dokumentasi pribadi (06/11/2017)


Gambar 1. Morfologi bawang dayak (a) rumpun bawang dayak, (b) bawang dayak dewasa, (c)
bentuk daun , (d) panjang daun, (e) pangkal daun, (f) bunga saat mekar, (g) batang tegak, (h)
bentuk umbi, dan (i) akar serabut.

BAGIAN III
Budidaya Bawang Dayak

3.1 Prosedur Penanaman Bawang Dayak


Penanaman bawang dayak dapat dilakukan di tanah secara langsung jika untuk digunakan
sebagai obat. Hal ini dikarekan agar umbi dapat lebih mudah tumbuh dan berkembang. Selain
itu dapat juga ditanam di polibag atau di pot. Hal ini dikarekan umbi bawang dayak memiliki
bunga yang menarik dan dapat dijadikan sebagi penghias.
Berikut cara menanam umbi bawang dayak di dalam polibag atau pot :
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan seperti: polibag, pupuk kandang, tanah
humus, skop semen, dan bibit bawang dayak.
2. Buat media pembibitan bawang dayak dengan cara:
 Masukkan tanah kedalam polibag
 Tambahkan pupuk kandang (ayam, kambing, atau pun sapi) kemudian
diratakan dengan tanah humus.
 Lipat bagian atas polibag dan beri label sesuai perlakuan.
3. Pisahkan umbi bawang bawang yang berukuran besar dengan anakannya setelah
pembibitan dari bawang dayak sebelumnya.

6
4. Selanjutnya umbi yang anakan atau berukuran kecil, dipotong daunnya ± 15 cm
dari umbi untuk mengurangi penguapan dan angin kencang yang akan merusak
tanaman.
5. Kemudian masing-masing polibag ditanami umbi sebanyak umbi ± 30gr saja agar
umbi dapat berkembang dengan baik.
6. Lakukan hal yang sama pada setiap polibag yang disediakan.

a b

c d

e f

]]]

7
g h

Sumber : Dokumentasi pribadi (06/08/2017)


Gambar 2. Proses penanaman bawang dayak (a) penyediaan tanah humus, (b) penyediaan
polibag (c) pupuk kandang kambing , (d) penyediaan media tanam (tanah humus dan pupuk
kompos), (e) proses pemisahan umbi, (f) hasil umbi yang dipisahkan, (g) penimbangan umbi (±
30 gr), (h) penanaman di dalam polibag.

3.2 Proses Pemeliharaan Bawang Dayak


1. Penyiraman, dilakukan secara rutin pada pagi atau sore hari untuk menjaga
ketersediaan air dan kelembaban pada tanah.
2. Pembersihan gulma, dilakukan dengan mencabut rumput di sekitar polibag
tanaman.

Sumber : Dokumentasi pribadi (06/08/2017)


Gambar 3. Proses perawatan bawang dayak

8
3.3 Proses Pemanenan Bawang Dayak
Pemanenan bawang dayak dapat dilakukan sekurang-kurangnya 4 bulan setelah
penanaman. Pemanenan dilakukan dengan mencabut tanaman dan membersihkan tanah
yang ada pada umbi. Kemudian dipotong daun pada ujung umbi. Setelah itu umbi
ditimbang untuk mengetahui berat basah umbi.

a b c

Sumber : Dokumentasi pribadi (06/08/2017)


Gambar 4. Proses pemanenan bawang dayak (a) pemisahan tanah pada bawang dayak, (b)
bawang dayak yang sudah dipanen (c) penimbangan berat basah setelah dipanen.

9
BAGIAN IV

Pengolahan Bawang Dayak

Bawang dayak dapat dikonsumsi dalam bentuk persiapan segar , rebusan , infus ,
manisan , serta ekstrak capsulated. Untuk persiapan segar, mengambil 2 kali sehari , 4-5 umbi
. Hal ini disarankan untuk mengkonsumsi bawang dayak satu jam sebelum waktu makan
untuk penyerapan lambung maksimal . Orang yang memiliki gangguan lambung seperti maag
dianjurkan untuk mengambil 2 jam setelah waktu makan. Demikian juga orang-orang yang
memiliki tekanan darah rendah atau hipotensi tidak dianjurkan mengambil kecuali mereka
bawa bersama dengan minuman jahe .

Di bawah ini diagram teknik pengolahan bawang dayak menjadi teh celup secara
tradisonal.

Umbi bawang
Dayak
 Dicuci bersih
 Diiris tipis-tipis
 Dikeringkan
Irisan umbi 
bawang dayak
yang sudah
kering
 Dikemas menjadi teh celup

Teh Celup BADAK siap dipasarkan

1 2 3 4 5

Basah Kering

6 7

10
Basah Kering

Produk

8 9 10

11 12 13 14

15 16

Sumber : Dokumentasi pribadi (06/08/2017)


Gambar 5. Proses pengolahan bawang dayak (a) pemanenan bawang dayak, (b) pemilihan bawang
dayak yang berukuran besar (c) pembersihan bawang , (d) pencucian bawang, (e) bawang dayak yang
sudah dicuci, (f) bawang dayak diiris tipis, (g) bawang dayak diiris tipis, (h) bawang dayak (basah),
(i) bawang dayak (kering), (j) hasil Produk BADAK, (k) irisan bawang dayak di rebus, (l) rebusan
ditunggu beberapa menit, (m) hasil rebusan bawang dayak, (n) hasil rebusan di saring, (o) dan (p).
Perbandingan hasil rebusan bawang dayak (Basah dan Kering).

11
BAGIAN V

Khasiat Bawang Dayak


Bawang dayak memiliki kandungan berupa alisialisin. Senyawa ini yang bermanfaat
menurunkan tekanan darah dan menurunkan kekentalan darah. Selain itu, tumbuhan ini
secara turun temurun telah dipergunakan oleh masyarakat Dayak sebagai tumbuhan obat
yaitu obat berbagai jenis penyakit seperti kanker payudara, obat penurun darah tinggi
(hipertensi), penyakit kencing manis (diabetes mellitus), penurun kolesterol, obat jerawat dan
bisul, kanker usus, mencegah stroke, penyakit weil, disentri, disuria dan radang usus.

Penggunaan bawang tiwai atau bawang dayak dapat digunakan dalam bentuk segar,
simplisia, manisan dan dalam bentuk bubuk (powder). Naftokuinon dikenal sebagai
antimikroba, antifungal, antivirial dan antiparasitik. Selain itu, naftokuinon memiliki
bioaktivitas sebagai antikanker dan antioksidan yang biasanya terdapat di dalam sel vakuola
dalam bentuk glikosida. Kandungan senyawa kimia lain dari tumbuhan umbi bawang dayak
adalah flavonoid.

DAFTAR PUSTAKA

Galingging, R.Y. 2009. Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) Sebagai Obat
Multifungsi.( http://kalteng litbang deptan.go.id/bawang-dayak/pdf) . Diakses pada
tanggal 5 Oktober 2016.

Tjitrosoepomo, G. 2007. Taksonomi Tumbuhan (Spermatohyta). Gadjah Mada University


Press. Yogyakarta.

12