Anda di halaman 1dari 19

TREN KEWIRAUSAHAAN, MENGEMBANGKAN BISNIS, DAN

KEWIRAUSAHAAN DIGITAL

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
KEWIRAUSAHAAN
Yang dibina oleh Ibu Hanum

Oleh Kelompok 9 :

Bayu Dwi Nurcahyo 150413605653


Dhea Chita Krisdian 150413604169
Dian Fika Widyasari 150413605673
Diana Shery Krisdian 150413605429
Donnie Chrizandy 150413602586

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
FEBRUARI 2018
A. Mempelajari Cara Menumbuhkan Dan Mengakhiri Bisnis Serta Strategi Pengembangan
Usaha
a. Pilihan Strategi
b. Strategi Pengembangan Usaha
Pengertian Merger dan Akuisisi
Merger (Penggabungan)
Merger merupakan gabungan dari dua perusahaan sehingga menjadi satu, dimana
perusahaan yang melakukan merger sebagai pengambil atau pembeli semua assets
dan liabilities perusahaan yang dibeli atau di merger, sehingga perusahaan yang
melakukan merger atau pembeli paling tidak akan mendapatkan 50% saham dari
perusahaan yang di beli. Perusahaan yang di beli atau di merger akan berhenti
beroperasi dan pemegang sahamnya akan menerima sejumlah uang tunau atau
saham pada perusahaan yang baru (Brealey, Myers, & Marcus, 1999, p.598). Untuk
proses merger, secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

[Perusahaan A + Perusahaan B = Perusahaan A]

Contoh dari proses merger adalah bergabungnya CIMB Niaga dengan Lippo Bank
pada tahun 2008. Setelah melakukan proses merger tersebut, Lippo Bank tidak
melakukan operasi lagi atau berhenti beroperasi sebagai entitas tersendiri dan
menyatukan perusahaannya menjadi satu kesatuan dengan Bank CIMB Niaga.

Akuisisi (Pengambil Alihan)


Akuisisi merupakan pengambil alihan atau takeover dari sebuah perusahaan dengan
cara membeli saham ataupun asset dari perusahaan tersebut. Bedanya dengan
merger, pada akuisisi perusahaan yang telah dibeli akan tetap ada (Brealey, Myers, &
Marcus, 1999, p.598). Pada proses akusisi, secara sederhana skema nya akan
digambarkan sebagai berikut:

[Perusahaan A + Perusahaan B = Perusahaan (A+B)]

Contoh dari proses akuisisi yaitu Aqua yang diakuisisi oleh Danone, Pizza Hut yang
telah diakuisisi oleh Coca Cola, dan lain sebagainya.

Ciri-ciri Merger dan Akuisisi


c. Strategi Mengembangkan Bisnis dengan Cara Kerja Sama untuk Mencapai
Puncak
Salah satu cara untuk lebih mengembangkan sebuah bisnis yang sudah
besar adalah dengan cara mengembangkan pula skala organisasinya. Contohnya
apabila perusahaan kelapa sawit melakukan aliansi dengan perusahaan distribusi
minyak goreng dalam membuka lahan perkebunan biji jarak seluas sekian hektar
karena sedang menjadi tren. Ada beberapa strategi yang sering digunakan oleh
perusahaan dalam mengembangkan usahanya yaitu :
1. Membeli bisnis lain diluar industrinya
a. Mengakusisi dengan tujuan untuk membuat portofolio bisnis
b. Membeli sebagian saham kepemilikan di perusahaan lain dengan
tujuan untuk meningkatkan laba perusahaan dan pasarnya
c. Menjadi investor dengan membeli saham-saham yang likuid
(lancar) di pasar modal dengan tujuan untuk mendapatkan gain
atau keuntungan atas kepemilikan saham tersebut di masa datang
2. Menemukan bisnis baru dan memasukinya
Dalam usaha untuk mengembangkan bisnis, sebuah perusahaan perlu
melakukan sebuah riset guna untuk terus menemukan pembaharuan dalam
bisnisnya. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah melakukan dan
menemukan sebuah usaha baru diluar usaha yang telah dijalankannya.
Contohnya adalah sebuah perusahaan kelapa sawit melakukan pemekaran
usaha pada bidang minyak goreng atau bisnis bahan bakar biji jarak.
3. Melakukan aliansi strategis atau usaha patungan
Usaha patungan atau disebut dengan aliansi strategis untuk bersama-sama
mendirikan bisnis baru dengan perusahaan lain demi kepentingan
peningkatan laba bisnisnya. Ada 3 jenis aliansi strategis, yaitu :
1) Staregi Jaringan Laba-Laba (Spiderweb Strategy)
Strategi ini menekankan pada sebuah langkah bisnis yang
dilakukan oleh beberapa perusahaan kecil dengan mengadakan
sederetan usaha patungan untuk mendapatkan laba agar bisa
bertahan hidup. Misalkan sebuah perusahaan mendapatkan lisensi
pengeboran minyak dengan mengadakan joint operation atau
consorsium dengan perusahaan lain yang menunjang.
2) Strategi Berjalan Bersama-Berpisah (Go Together-split Strategy)
Yaitu beberapa perusahaan setuju untuk melakukan usaha patungan
untuk proyek tertentu saja. Setelah proyek yang disepakati selesai,
maka kedua atau beberapa perusahaan tidak terlibat kerjasama atau
berpisah.
3) Strategi Aliansi Secara Berurutan atau Peningkatan Aliansi
Yaitu perusahaan memulai kerja sama aliansinya di suatu
pekerjaan, bidang atau lapangan yang dirasa lemah dan bisa
dilanjutkan kea rah yang lebih serius lagi, yaitu merger. Dalam
kenyataannya usaha patungan merupakan tahapan awal sebelum
dilakukan peningkatan aliansi ke arah akuisisi, merger dan
penjualan saham. Contohnya sebuah perusahaan pengeboran
minyak dengan perusahaan peralatan pengeboran minyak
melakukan aliansi yang kemudian melakukan merger setelah
proyeknya sukses.

Melakukan Sinergisme (Kerja Sama Saling Menguatkan)


Sinergi dapat dikembangkan melalui ekspansi internal untuk
membesarkan organisasi. Sinergi terjadi bila kekuatan- kekuatan perusahaan yang
bersinergi dapat menutupi kelemahan-kelemahan yang terjadi. Contohnya, sebuah
perusahaan bahan makanan melakukan sinergi bisnis dengan perusahaan peralatan
dapur sehingga tercipta kekuatan baru dalam bersaing di pasar, bank dengan
asuransi, developer dengan Hyper Market. Ada beberapa jenis sinergi dalam
bisnis, yaitu :
1. Sinergisme penjualan
2. Sinergisme investasi
3. Sinergisme operasional
4. Sinergisme manajemen

d. Mengembangkan Bisnis Yang Sedang Stabil


Tidak banyak yang harus dilakukan bila bisnis sedang tumbuh dengan
stabil, namun dana yang ada dari pertunbuhan laba bisa digunakan untuk
keperluan lain sebagai berikut :
1. Melakukan efisiensi produksi agar pertumbuhan laba lebih baik lagi untuk
mempersiapkan strategi ekspansi bisnis yang lebih tepat
2. Melkaukan perencanaan strategi pemasaran yang kretaif dan inovatif
untuk memperkuat merek dan popularitas
3. Melakukan perbaikan organisasi yang bisa membuat perusahaan lebih
ramping, efisien dan efektif
4. Mempertahankan pangsa pasar dengan melakukan pembentukan
komunitas dan pertumbuhan bisnisnya
5. Menyempurnakan produk dengan keratif dan inovatif

e. Melakukan Penciutan Usaha (Exit Strategy)


Seperti yang telah dijelaskan pada posisi ‘dog’ atau daya saing rendah dan
pertumbuhan bisnis tidak tinggi, maka dibutuhkan strategi operasi pembenahan
atau disebut dengan business turn around. Kondisi ini bisa akan lebih baik bila
tidak ditunjang oleh keadaan ekonomi dan pasar yang resesi atau krisis. Krisis dan
resesi akan memaksa bisnis dilikuidasi. Pendekatan yang sering dilakukan oleh
wirausahawan dalam rangka penciutan usaha jika kondisinya sebgai berikut :
1. Produk di pasar dalam posisi decline atau menurun
2. Penjualan tidak stabil dan cenderung terus mengalami penurunan
3. Citra perusahaan buruk
4. pangsa pasar tidak berkembang dan terlalu kecil sehingga dibutuhkan dana
besar untuk meningkatkannya
5. presentase laba yang dikontribusikan tidak sebesar penjualannya
6. terdapat masalah dalam persediaan bahan baku dan mesin yang terlalu tua
untuk digunakan. Sedangkan untuk investasi kembali dibutuhkan dana
besar yang sulit untuk dipenuhi ole perusahaan
7. penambahan dana untuk mengembangkan bisnis tidak efektif karena bisa
disalurkan ke startegi lain yang lebih prospektif

Pendektan strategi bisnis dalam posisi pembenahan atau penciutan usaha


adalah sebagai berikut :
1. Startegi pengurangan biaya untuk mendorong keluar dari keadaan
Contoh : Pengurangan karyawan yang tidak produktif
Pengurangan biaya perawatan
Pengurangan biaya-biaya yang tidak prodyktif
2. Meningkatkan pendapatan
Contoh : Menempatkan dana investasi yang tepat guna
Memasarkan produk lebih gencar lagi
Mengembangkan produk ke beberapa kategori
3. Mengurangi asset yang tidak produktif
Contoh :
 Menjual asset tetap atau asset tidak bergerak yang tidak menunjang
pendapatan usaha
 Menjual asset tetap jangka panjang yang tidak berguna untuk
menambahkan dana modal kerja
 Alat-alat yang kapasitasnya tidak di atas titik produktivitas harus
dievaluasi lagi
 Menjual atau memanfaatkan kembali mesin-mesin yang lama tidak
digunakan
 Melepas kepemilikan atas tanah yang tidak produktif
4. Produk-produk yang tidak efektif dihentikan penjualannya
5. Bila alternatif-alternatif dia atas belum memberi hasil yang optimal, maka
menutup usaha dapat mempersiapkan segalanya perlu diantisipasi
Cara-cara diatas bisa digunakan sebgai strategi untuk keluar dari kritis dan
penurunan penjualan. Namun yang dibutuhkan adalah analisa yang cermat,
pilihan strategis yang tepat, dan bergerak dengan cepat. Terlalu lama mengambil
keputusan bisa berdampak fatal bagi bisnis yang mempunyai kondisi seperti ini.

17.1.6 Mengenal Franchising sebagai Alternatif Strategi Ekspansi Usaha


Jika seseorang yang baru lulus, bosan menjadi karyawan, atau ingin berbisnis untuk menjadi
“Boss” bagi dirinya sendiri dan mempunyai modal yang cukup, maka membeli franchise adalah salah
satu alternatif untuk bisa secepatnya mewujudkan impian seseorang menjadi wirausahawan.
Pernah mendengar nama-nama seperti McDonald, KFC, Pizza Hut, Es Teler77, Ayam Bakar
Wong Solo, Alfamart, Indomart? Itulah beberapa bisnis yang berkembang cepat sekali yang
menggunakan strategi pengembangan bisnis dengan merek, sistem, jaringan, dan standarisasi sistem
mutunya. Orang sering menyebutnya dengan franchising model (waralaba).
Pelan tetapi pasti, model franchise telah menjadi tren yang semakin lama semakin diminati baik
itu oleh wirausahawan dalam melakukan ekspansi bisnisnya maupun saat seseorang yang ingin menjadi
wirausahawan dengan tingkat keuntungan yang telah dijanjikan. Apa benar dan yakin dengan analisa dari
pemilik franchise tentang ramalan usaha yang dijual kepada calon investornya? Semua telah dibahas pada
bab sebelumnya, tetapi yang pasti baik itu calon investor (wirausahawan) yang ingin membeli franchise
dari pemilik franchise maupun pemilik franchise yang ingin mengembangkan bisnisnya perlu
mempelajari dan mempunyai pengetahuan tentang kewirausahaan untuk mewujudkannya.

Apa itu Franchise


Kata franchise berasal dari bahasa Prancis yang berarti free from servitude, Di masa lampau ada
individu atau kelompok tertentu yang diberi hak (right) dan keistimewaan (privilege) oleh raja-raja
Prancis untuk mewakili mereka dalam melakukan fungsi publik dan acara-acara khusus. Inilah cikal bakal
pemikiran tentang franchising business model. Kata franchising dimasukkan dalam kata bahasa Inggris
untuk menunjukkan sebuah strategi pengembangan bisnis dengan memberikan hak dan keistimewaan
kepada individu alau kelompok, badan hukum dalam menjalankan bisnisnya di lokasi tertentu, waktu
tertentu, dan aturan yang telah disepakati.
Secara internasional franchising adalah suatu hubungan yang berkelanjutan dari pemilik
(franchisor) untuk memberikan hak dan keistimewaan berlisensi untuk mengoperasikan bisnisnya
termasuk bantuan dalam pengorganisasian, pelatihan. penyediaan barang, dan manajemen sebagai
imbalan dari pembayaran yang telah disepakati oleh penerima franchising (fanchisee) (Franchise Manual,
From small Drops to Profit. Jakarta: International Franchise Business Management (IFBM), 2007).
Di Indonesia, kata franchising diartikan sebagai waralaba yang didasari oleh Peraturan Pemerintah RI No.
16 tahun 1997, tanggal 18 luni 1997 dan didukung oleh Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 12 / M-
DAGIPER / 3/2006 pasal 1 Ayat 1, tentang ketentuan dan tata cara edar surat tanda pendaftaran usaha
waralaba. Dalam arti maksud dan tata cara yang ditentukan dalam Peraturan Pemerintah tentang
waralaba, maka dapat disimpulkan waralaba di indonesia:
1. Ada ikatan hukum yang jelas antara pemberi waralaba (franchisor) dengan penerima waralaba
(franschisee)
2. Ada proses peralihan antara hak dan keistimewaan yang diberikan oleh pemberi waralaha dengan
jumlah uang tambahan sebagai syarat perjanjian
3. Penerima waralaba wajib memenuhi syarat yang telah disetujui dalam ikatan hukum.
4. Begitu juga para pemberi waralaba harus menyediakan dukungan dan pelatihan SDMnya.

Lalu, apa sebenarnya manfaat atau keunggulan bagi pemberi waralaba (franchisor) atas konsep waralaba?
Keunggulannya adalah sebagai berikut:
1. Kecepatan ekspansi dengan modal eksternal atau dari franchise. Berarti risiko tidak besar
2. Motivasi penerima waralaba (franchisee) untuk sukses jauh lebih baik dan tinggi dibanding dengan
wirausahawan yang memulai tidak dengan membeli franchise sebab franchise tersebut telah
meletakkan modalnya untuk membeli franchise sehingga semangatnya lebih tinggi untuk
menyukseskannya
3. Franchisor memiliki kemampuan membeli (buying power) yang tinggi kepada supplier karena
memiliki jaringan yang sudah terikat dengan hukum dan pasti. sehingga harga belinya murah untuk
bahan baku, peralatan, produk, dan lainnya dengan jumlah yang lebih besar (cost chain benefit).
4. Adanya shared advertising yang dapat meningkatkan brand awareness secara cepat, hemat, dan luas
5. Franchisee akan sangat membantu shared experience mengenai pengetahuan di lokasi, penguasaan
medan perilaku, dan bisa menjadi acuan bagi lokasi lainnya.
6. DM akan lebih mudah, efisien (karena tidak menanggung biaya pemutusan hubungan kerja, dan lain-
lain). Hampir seperti outsourcing tetapi tidak karena berdiri sendiri, melainkan ditanggung oleh
franchisee dan dikelola olehnya.
7. Franchisor mendapatkan pemasukan dari:
a. Franchise fee (imbalan franchise)
b. Royalty fee (imbalan royalti)
c. Biaya pelatihan dari franchisee
d. Efisiensi dari marketing training yang budget-nya bisa lebih besar dari kenyataannya
(realisasinya), karena faktor negosiasi atas besarnya jaringan yang dimilikinya

Begitu juga untuk sisi franchisee (penerima waralaba), ada keunggulan dan manfaatnya, yaitu:
1. Penerima waralaba bisa bukan seorang yang berani berbisnis dan punya bisnis dan langsung bisa
bisa memulai bisnisnya.
2. Tidak perlu adanya usaha yang telah dialami oleh franchisee pengalaman franchisor 5-10 tahun akan
sangat membantu sebagai mentor bagi franchisee.
3. Jaringan nama usaha yang sudah dikenal luas akan sangat membantu mempercepat pertumbuhan usaha
dengan masa-masa perkenalan yang singkat
4. Memperoleh bantuan khusus dalam menjalankan usaha. Untuk itu, pemilik waralaba perlu bantuan apa
yang diperoleh dari franchisor untuk memulai usaha
5. Jaminan pasokan barang dan dukungan lainnya.
6 Dengan harga bahan baku yang bisa lebih baik dan rendah dibanding dengan bisnis sendiri.

Umumnya konsep kerja sama antara pemilik merek dan pembeli merek ada 2 jenis, yaitu:
1. Kerja sama dengan sistem waralaba
Memberikan kesempatan untuk mandiri bagi pembeli franchise, dukungan menggunakan nama, dan
jaringannya. Bersifat lebih lebih kompleks.
2. Kerja sama dengan sistem business opportunity (BO).
Bentuknya mirip dengan franchise tetapi franchisee nya baru beroperasi di bawah 3 tahun, sehingga
belum terbukti menguntungkan Untuk itu sistem kerja samanya lebih fleksibel.

Namun, di balik semua itu ada juga beberapa kerugian dan kelemahan dari sstem waralaba, yaitu:
1. Sekalipun bisnis dimiliki sendiri, tetapi kebijakan-kebijakannya masih ditentukan oleh franchisor, tidak
fleksibel bila dibandingkan dengan berbisnis yang dirintis sendiri.
2. Kekakuan sistem franchise terkadang tidak bisa diterapkan untuk semua lokasi, tempat, keadaan, dan
perilaku pasarnya.
3. Proses kerja yang birokratis
4. Sistem pemasaran satu atap membuat franchisee harus menunggu untuk diizinkan melakukan iklan
secara individual.
Perbanding membeli franchise dengan membuka bisnis sendiri adalah sebagai berikut:

No. Uraian Membeli Franchise Membuka Usaha Sendiri

Merek dagang Merk dagang sudah dikenal Membutuhkan waktu untuk


1
memperkenalkan

Pemilik merek Milik franchisor dan hanya Milik sendiri selamanya


2
untuk waktu kontrak

Produk yang dijual Konsumen telah mengenalnya Konsumen butuh


dan tidak sembarang jenis kepercayaan untuk
3
produk mencobanya, bervariasi,dan
tidak di batasi

4 Lokasi Dibantu untuk memilih lokasi Bebas memilih lokasi

Pelatihan Mendapatkan bantuan Tidak mendapat bantuan


5 tetapi bisa meminta bantuan
konsultan

Kehandalan bisnis Telah teruji Masih perlu diuji dan di


6
pertahankan

7 Promosi Bersama dengan outlet lainnya Biasa leluasa sendiri

Sumber pemasok Diatur dengan ketat Bebas mencari dan


8
menawarkannya

Kepemilikan Franschise tidak bisa dijual, Setelah sukses bisa dijual


9 bisnis jadi terbatas dan menjadi milik sendiri
hasilnya
10 Membayar royalti Ya dan selama kontrak Tidak pernah membayar

(Sumber: Franchise Manual, From Small Drops to Profit. Jakarta: International Franchise Business
Management (IFBM),2017)

Adapun tahapan-tahapan membuka usaha franchise agar bisa berhasil di kemudian hari dibagi menjadi 4
tahap utama, yaitu:

1. Tahap pertama: evaluasi atau persiapan diri

Tahapan untuk mengadakan keputusan apakah memang benar-benar telah untuk memulai usaha.
Hal hal yang perlu diperhatikan:

a. Kapan waktu untuk memulai usaha waralaba.

b. Ingin dijalankan sendiri atau oleh orang kepercayaan.

c. Berapa dana yang telah disiapkan? Cukupkah untuk beberapa bulan atau tahun?

2. Seleksi bisnis dengan sitem waralaba

Strategi waralaba yang tepat dan sesuai dengan kondisi atau strategi wirausahawan dengan strategi
waralaba adalah strategi pengembangan bisnis yang ideal (tepat).

3. Memilih franchise sebagai sistem pengembangan bisnis atau sebagai pilihan untuk memulai
bisnisnya

Menentukan tahapan usaha bisa di-franchise-kan? Ada beberapa syarat yang menentukab agar calon
penerima franchise senang dan bisa berkembang, yaitu:

a. Usaha yang telah dibangun harus sukses terlebih dahulu. Masa suksesnya minimal 5 tahun.

b. Memastikan calon pembeli waralaba bisa berhasil memberikan keuntungan mendapatkannya

c. Bisnis bisa dioperasikan oleh franchise

d. Telah disusun franchise manual untuk semua operasi usaha.

e. Produk yang dijual punya daya tarik pasar dan pembeli dalam jangka waktu Yang Panjang
f. Bisa dijalankan di berbagai tempat dan lokasi di mana calon pembeli franchise akan
menjalankannya.

g. Mempunyai potensi pasar yang cukup agar bisa dinikmati oleh franchise.

h. Telah di trans namanya dan mereknya di HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

i. Franchisor memiliki SDM yang nenar-benar telahujud, mengetahui, dan ahli di bidangnya

4. Membuat standarisasi prosedur kerja

Membuat standarisasi prosedur kerja untuk mempersiapkan bisnisnya agar bisa dikembangkan ke arah
waralaba, yaitu:

a. Susunlah suatu panduan standarisasi yang dibukukan dengan SOP (Sistem Opening Procedure)
yang punya sifat sebagai berikut:

b. Ujilah SOP ini secara internal dalam perusahalan sebelum diluncurkan.

c. Monitor dan evaluasi, apakah solonya bisa dipakai dan di perusahaannya untuk memastikan
segala sesuatunya sudah bisa di luncurkan

d. Implementasi SOP kepada outlet yang sudah terbentuk secara internal, apakah ada yang sulit
sebelum diresmikan ke pihak luar (launching)

Jenis-jenis prosedur standarisasi operasional atau SOP yang sering dibuat oleh franchisor, yaitu:

1. Aspek operasional outlet

Contohnya:

 operasional harian

 Pemilihan bahan baku

 Penentuan sumber daya yang digunakan

 Penentuan tampilan fisik outlet

 Penggunaan nama merek, logo, dan atribut waralabanya


 Operasional penerimaan uang

 Operasional pelatihan

2. Aspek manajerial franschice

Contohnya:

 Menajemen seleksi bagi calon franchise

 Manajemen pemasaran

 Manajemen SDM

 Manajemen keuangan dan akuntansi

 Aturan fee yang harus dibayarkan

3. Aspek strategi dan pengembangannya

Contohnya:

 Fokuskan untuk meningkatkan keuntungan bersih

 Fokuskan untuk menekan total biaya investasi

 Fokus untuk berpikir inovatif dan kreatif

4. Aspek-aspek lainnya.
TREN KEWIRAUSAHAAN SEKARANG DAN DI MASA MENDATANG

Saat ini berbisnis sudah menjadi gaya hidup, berkelas, pilihan karir yang cepat untuk
meraih kesuksesan dan kaya di usia muda. Untuk itulah kewirausahaan (entrepreneurship) telah
berubah dari dulu hingga sekarang dan mengalami kecenderungan yang mengarah pada
technology based. Orang-orang muda yang bergelut di dunia digital dan teknologi informasi
mengalami fenomena yang luar biasa hingga mereka punya kekayaan jutaan dolar saat usianya
belum menginjak usia 30 tahun. Contohnya adalah :

 Bill Gates mendapatkan kontrak 1 juta USD di usia 24 tahun


 Jeff Bezos dengan Amazon.com
 Mark Elliot Zuckerberg kelahiran 14 Mei 1984 dengan Facebook-nya yang membuat ia kaya
raya karena penawaran Yahoo dengan harga 1 miliar USD di tahun 2006.

Oleh sebab itu, jenis entrepeneurship-nya bisa dikatakan sebagai economical


entrepeneurship atau entrepeneurship berbasis faktor ekonomi.

1. Entrepeneurship based on technology (technopreneur)


Dunia bisnis pasar, persaingan, prilaku konsumen berubah setelah aspek teknologi telah
mengubah segalanya baik dari sisi konsumen hingga proses produksinya. Teknologi telah
menjadi change driver dari kunci kesuksesan dunia usaha sehingga para entrepreneur telah
menempatkan sisi teknologi sebagai awal pijakan dalam bisnisnya.
Untuk itu jenis entrepreneur-nya disebut technopreneur atau entrepreneurship berbasis
teknologi atau engineering based sebagai keunggulan bersaingnya.

2. Entrepreneurship based on creativitiy (creativepreneur)


Perubahan faktor-faktor kunci kesuksesan bisnis yang bersumber dari aspek teknologfi
juga mengalami perkembangan. Untuk itu keunggulan bersaing sebuah bisnis tidak lagi
mengandalkan sebuah teknologi saja, tetapi ada faktor lain yang menjadi kunci sukses dalam
memulai sebuah bisnis dan dapat dijadikan sebuah peluang bisnis, yaitu kemampuan berpikir
kreatif serta pemikiran untuk menciptakan produk atau jasa yang kreatif agar bisnis yang baru
dimulai bisa berkembang.
Persaingan yang semakin ketat akan membuat perusahaan-perusahaan justru
meningkatkan anggaran belanja iklan dan segala hal yang menunjangnya. Disaat itulah secara
otomatis sector desain, perancang, pencipta dan pekerja yang kreatif.

Untuk membuat bisnis-bisnis yang membutuhkan konsep marketing yang kreatif agar
mereka tetap bertahan di pasar. Pebisnis yang kreatif dibutuhkan untuk menjadi rekan dan
penunjang kesuksesan perusahaan-perusahaan besar. Munculnya pengusaha muda yang kreatif
akan menciptakan model entrepreneur gaya baru, yaitu “creativepreneur”. Istilahnya adalah
wirausahawan yang menciptakan kreasi tiada henti sebagai inti bisnisnya.

1. Enterpreneurship based on digital technology (digitalpreneur)


Sebuah perubahan yang sangat cepat di dunia usaha yang dipengaruhi oleh
perkembangan teknologi sejak ditemukannya computer, CD, Iphod, Ithune, Iphone, Flash Disc
yang sekarang 8 giga, 16 giga dan terus melesat kapasitas penyimpanannya serta mulai tidak
terbednung lagi ketika BlackBerry muncul dipasar menjadi smartphone, yang sekarang telah
mengubah gaya hidup seseorang dari hanya menggunakan handphone untuk berkomunikasi
kemudian dokumentasi, berinternet ria, bahkan kini handphone bisa berfungsi sebagai televise
dan menjadi individual entretaiment.
Semua diawali dari munculnya teknologi digital dalam dunia informasi, telekomunikasi
dan kehidupan sosial seseorang. Dampaknya adalah banyaknya peluang-peluang bisnis baru
yang tumbuh sehingga pengusaha-pengusaha baru memanfaatkan perkembangan teknologi
digital sebagai kunci utama dalam care business-nya. Inilah yang menjadi tren saat ini dan
memunculkan peluang-peluang baru, yaitu munculnya digitalpreneur muda dengan mimpi-
mimpi yang tinggi dan akhirnya meraih kesuksesan.

2. Entrepreneurship based on community and social concept (socialpreneur)

Semakin hari semakin baik dalam konsep entrepreneurship atau strategi memasarkan
suatu produk. Perubahan gaya dan pola yang terjadi pada konsumen dalam kehidupan sosialnya
dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi, internet dan berkomunitas.
Situs-situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Friendster, dll membuat strategi
pemasaran berubah, dari strategi pemasaran vertical menjadi strategi pemasaran horizontal
(community marketing). Untuk itu, tren entrepeneurship yang muncul berbasis komunitas dan
cara individu bersosial disebut juga sebagai socialpreneur dalam menumbuhkan bisnisnya
dengan hati yang berkonsepkan sosial.

Membangun komunitas tersendiri dengan cara berorientasi pada lingkungan,


menciptakan UKM baru, dan meluncurkan konsep CSR (Corporate Social Responsibility).
wirausahawan yang berbasis komunitas mampu menciptakan wirausahawan-wirausahawan muda
sebagai visinya telah membuat sebuah perubahan dan tren dari seseorang dalam memulai
bisnisnya. Tren perubahan ini disebut sebagai social entrepreneur, yang tipe pengusahanya
disebut socialpreneur.

Inilah yang dibutuhkan oleh negara kita agar tingkat pengangguran terdidik bisa
dikurangi dengan menciptakan pengusaha-pengusaha berbasis komunitas dengan tujuan
utamanya dapat menciptakan rekan bisnis, mitra bisnis, dan plasma yang baru yang nantinya
akan memisahkan diri menjadi pengusaha-pengusaha didikannya.

Bisa dikatakan menciptakan entrepreneur yang bisa mentransformasikan skill,


pengetahuan, konsep, strategi dan wawasan bisnisnya kepada para pendukung bisnisnya agar
menjadi perusahaan yang kompeten untuk menjadikan usahanya semakin berkembang. Strategi
ini dibutuhkan oleh negara yang sedang berkembang dan pengusaha yang menginginkan
bisnisnya cepat berkembang dengan menggunakan konsep baru, yaitu enterpreneurship based on
community.
DIGITALPRNEUR, TIPS, TAKTIK DAN STRATEGI

Seiring dengan berkembangnya dunia internet, mobile phone dan munculnya smart phone
seperti xiaomi, telah membuat perubahan pasar seperti mimpi yang kemarin sore, yang kemarin
belum ada tiba-tiba muncul seperti kilat. Semuanya mengubah budaya, gaya, cara, dan kiat
dalam berwirausaha.

Peluang demi peluang menyeruak dan terbentang luas hingga membuat para wirausahawan
muda mulai melirik ke pasar yang baru terbentuk. Munculnya penggunaan internet untuk
berkomunikasi, melakukan relationship, memasarkan diri dan membentuk kelompok telah
menciptakan generasi baru yang berbasis budaya teknologi internet yang sering di sebut sebagai
‘Netizern’ Generasi Netizen inilah yang menjadi sebuah komunitas baru yang di bidik oleh para
wirausahawan yang bergerak di bidang teknologi digital. Adapun ciri-ciri generasi Netizen
adalah sebagai berikut.

1. kecanduan Internet
2. inbgin hidup bebas merdek
3. tidak ingin dikontrol kebebasannya
4. punya tingkat kepuasan yang sama

Untuk itulah para wirausahawan muda perlu mengetahuin ciri-ciri generasin Netizen yang
baru apabila ingin menjadi seorang Digitalpreneur. Adapun faktor-faktor yang memicu
digitalpreneurship adalah sebagai berikut.
1. Jumlah pelanggaran operator telepon seluler di negeri ini terus meningkat dari tahun
ke tahun
2. keterbatasan tenaga pengembang lokal yang mumpuni
3. dukungan pemerintah dan perbankan terhadap terhadap perkembangan dunia ICT
4. munculnya komunitas baru berarti munculnya cara pemasaran yang baru melalui
facebook di wall-nya
5. murahnya bahasa pemrograman, sederhana, canggih dan mudah di dapat
Dari informasi di atas, digitalpreneurship bisa muncul dari dalam diri masing-masing
individu. Faktor-faktor dari dalam individu yang bisa memunculkan berkembangnya
digitalpreneurship adalah sebagai berikut.

1. Hobi akan internet

2. Keterampilan yang dimilikinya tentang teknologi informasi, internet, dan komunikasi

3. Pengetahuan dan latar belakang pendidikan

4. lingkungan keluarganya yang kental dengan wawasan teknologi informnasi

5. kebutuhan pribadi